Rasul Penyejuk Kalbu

February 4, 2013

Adinda Lintang Pramita Namaku

Nabi Muhammad Rasulullah panutanku

Hingga laut dan langit tak lagi biru

Kan tetap ku turut teladanmu

 

Adinda Lintang Pramita namaku

Sampaikan Al-Quran tuk jadi pedomanku

Sampai saat si bisu bernyanyi lagu

Kan tetap ku ikut petunjukmu.

 

Adinda Lintang Pramita namaku

Tak ragu aku akan risalahmu

Engkaulah rasul penyejuk kalbu

Menghapus luka yang haru biru

 

Adinda Lintang Pramita namaku

Tanpa jemu ku turut sunnahmu

Berharap aku syafaatmu

Selamat ke surga bersamamu.

 

Bekasi, 28 Januari 2013.

Dibacakan dalam Maulid LABU 1434H/02-02-2013

Advertisements

Nabi Pemimpin Ummat

February 4, 2013

Belasan abad silam engkau lahir

Di tanah Arab di kota Mekkah

Berpagar tandusnya gurun pasir

Saat menyerangnya tentara bergajah

 

Usia empat puluh engkau diutus

Tanamkan iman kepada Allah

Meski diancam pedang terhunus

Tak gentar engkau tetap melangkah

 

Di kota Mekkah tak banyak harap

Allah perintahkan engkau hijrah

Walau musuh datang berderap

Tiada pernah engkau resah

 

Janji Allah menyertaimu

Kemenangan pasti akan diraih

Kami bangga menjadi ummatmu

Hanya engkau teladan terkasih.

 

Bekasi, 28 Januari 2013.

Dibacakan dalam Maulid LABU 1434H/02-02-2013

Gagap Jiwa Tanpa Makna

December 22, 2012

Mengarungi lautan kerinduan

Akan datangnya kemenangan

Menyibak pekatnya kegelapan

Hancurkan angkara keserakahan

 

Harapan indah tanpa tepi

Asa tinggi tak terdaki

Ingin hati tak terperi

Jiwa mati tanpa nurani

 

Angkara itu makin meraja

Menuju jiwa tanpa cahaya

Menabur api musnah segala

Gagap jiwa tanpa makna

 

Terpana aku gontai meragu

merendah asa meredup cahaya

Kuat nian angkara murka

membelenggu negeri tercinta

 

Bekasi, 22 Deseber 2012.

9. Istana Sang Raja

October 16, 2012

Sepeninggal Nabi Daud a.s yang wafat di usia tuanya, maka seluruh peninggalan Nabi Daud a.s diwariskan dan dipelihara di bawah pengawasan dan penguasaan putra terbaiknya Nabi Sulaiman yang menggantikan kedudukannya sebagai Nabi dan Raja di Ursyalim, Bumi Tengah..

Peninggalan-peninggalan Nabi Daud a.s amat sangat banyak karena ia seorang raja, tetapi yang paling penting diantaranya adalah; Katapel yang digunakan untuk membunuh raja Jalut (Goliath), sebuah Baju Besi yang terbaik yang ia buat dengan tangannya sendiri, dan Kitab Zabur wahyu dari Allah yang berisi syariat, hakikat dan ma’rifat.

Sejak kecil, Sulaiman telah terlihat kekuatan dan kecerdasannya. Melakukan berbagai laku dan latihan olah kanuragan dan menuntut berbagai macam ilmu lahir dan ilmu batin yang mendukung kekuatan fisiknya yang paripurna. Kesempurnaan ilmu dan fisiknya meliputi seluruh aspek manusia bahkan melebihi batasan-batasan manusia. Dengan ilmu yang dikaruniakan Allah dan berhasil disadapnya, Sulaiman bahkan dapat mengerti dan dapat berbicara dengan bahasa binatang sehingga binatang-binatangpun taat dan patuh kepada beliau. Bahkan lebih jauh lagi… ilmu yang dikuasai Sulaiman juga merambah ke dunia ghaib. Dengan Ilmunya Nabi Sulaiman juga dapat menaklukkan bangsa jin dan memerintah mereka di bawah kekuasaannya.

Kendaraan Nabi Sulaiman adalah kendaraan extraordinary, hanya beliau yang hingga kini dapat mengendarai angin tanpa bantuan alat apapun. Perjalanannya pada pagi hari dengan kendaraan angin itu, setara dengan perjalanan darat selama satu bulan, demikianpun perjalanan sore hari. Demikian Allah mempersiapkan Sulaiman untuk suatu tugas amat besar dan menyempurnakan tugasnya dengan mengangkatnya menjadi Nabi dan Rasul.

Salah satu contoh kecerdasan Nabi Sulaiman a.s adalah sebuah kisah tentang pemilik tanaman dan pemilik binatang ternak. Suatu hari, telah datang kepada Nabi Daud a.s dua orang yang mengadukan perkaranya. Pemilik tanaman mengadukan bahwa tanamannya hancur oleh binatang ternak tetangganya dan memohon keadilan, menggugat ganti rugi. Maka oleh Nabi Daud diberikanlah binatang ternak yang merusak itu kepada pemilik tanaman sebagai gantinya… namun… Nabi Sulaiman yang saat itu masih sangat muda dan hadir pada sidang itu mengusulkan sebuah penyelesaian yang lain kepada ayahnya :  “Wahai ayah, jika demikian adalah kurang adil karena si peternak akan bersedih kehilangan harta bendanya. Aku usulkan agar si peternak memberikan untuk sementara binatang ternaknya kepada pemilik tanaman untuk diambil manfaatnya. Dan sementara itu pemilik ternak harus mengganti tanaman-tanaman itu dengan tanaman yang baru. Apabila tanaman baru telah sampai pada keadaan ketika di rusak ternak itu, maka si pemilik ternak dapat mengambil kembali binatang ternaknya”. Dengan usul Sulaiman yang sangat cerdas ini, maka Nabi Daud a.s menyetujuinya, dan kedua orang yang mengadukan halnya tersebut menerima dengan sangat senang.

Berbekal ilmu dan kecerdasan yang sempurna, landasan mental dari Kitab Zabur, dan kekuatan dari Baju Besi Sakti buatan ayahnya Nabi Daus a.s yang tidak dapat tertembus jenis senjata  apapun,  maka Nabi Sulaiman mulai meluaskan wilayah da’wah dan sekaligus wilayah kekuasaanya. Ditaklukkannya kerajaan-kerajaan kecil di sekeliling Ursyalim yang masih pagan dengan dua opsi; masuk Islam dan taat kepada Allah & Nabi Sulaiman, atau tetap kafir dan diperangi sampai hancur lumat tanpa sisa. Itu karena perintah dalam Zabur sudah jelas, bahwa Paganisme tidak boleh dibiarkan bebas berkeliaran di bumi Allah. Hampir seluruh kerajaan kecil di sekeliling Ursyalim masuk Islam, dan sedikit yang tetap dalam paganisme dihancurkan oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya. Kerajaan Nabi Sulaimanpun menjadi kerajaan terbesar yang ada di Bumi Tengah, bahkan tidak pernah ada lagi kerajaan yang sebesar kerajaan Nabi Sulaiman sampai saat ini bahkan sampai dunia kiamat nanti.

Tentara kerajaan Nabi Sulaiman adalah tentara yang terkuat yang pernah ada di bumi. Tentaranya terdiri atas 3 unsur utama, yaitu tentara dari jenis manusia, tentara dari bangsa burung, dan tentara dari bangsa jin. Setiap saat selalu diadakan apel siaga dari para tentaranya. Mereka akan berbaris rapi dan siap setiap saat menerima perintah. Para komandannya sakti mandraguna dan siap meneruskan perintah-perintah Sang Raja. Tidak pernah barisan tentara Nabi Sulaiman pergi berperang, kecuali kemenangan ada di tangan.

Salah satu kebutuhan penting sebuah pasukan adalah air. Untuk hal ini, pasukan Nabi Sulaiman tidak usah hawatir, ada burung Hud-hud yang bisa mendeteksi sumber air. Burungnya kecil saja, tidak sampai sejengkal panjangnya dari paruh ke buntut. Perannyalah yang besar karena ia harus mencari sumber air untuk kebutuhan pasukan.

Nah, ceritanya si Hud-hud ini suatu ketika bertemu dengan seekor burung pengembara, yang menceritakan adanya sebuah negeri kaya raya subur ma’mur yang dipimpin oleh seorang ratu cantik menarik menawan hati masih single dan muda. Celakanya, penduduk negeri ini tidak menyembah Allah. Mereka menyembah Matahari. Berdasarkan pertimbangan yang matang akhirnya si Hud-hud memutuskan akan melihat kebenaran cerita ini dari dekat sebagai bahan laporan kepada Nabi Sulaiman. Terbanglah ia dengan diantar si burung pengembara menuju negeri tersebut. Dan benarlah seperti yang ia dengar sebelumnya dari rekan sesama burung tersebut tentang cerita negeri Saba yang menyembah matahari.

Saat si Hud-hud sedang menyelidik inilah Nabi Sulaiman mengadakan apel siaga, sehingga si Hud-hud tidak stand by di antara barisan para burung. Nabi Sulaiman marah dan mengancam akan menghukum berat si Hud-hud jika datang tanpa argumen yang dapat meringankannya. Cerita selanjutnya sudah seringkali kita dengar, baca atau malah nonton di Video CD/DVD yang banyak dijual bebas…

Mari kita lanjutkan ke scene setelah Ratu Balqis singsingkan anderoknya karena kolam air di bawah lantai istana Nabi Sulaiman yang berlapis kaca…

Betapa malu Ratu Balqis, sampai sampai ia berucap : “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (An-Naml : 44)

Sejak saat itu Ratu Balqis ta’luk jiwa raga kepada Nabi Sulaiman, masuk Islam dan hidup bersama Nabi Sulaiman sebagai suami isteri. Kerajaannya disatukan ke dalam persemakmuran Kerajaan Nabi Sulaiman. Keduanya tinggal di Istana berlantai kaca di atas kolam dan hidup bahagia until the death separate them.

Istana ini hanyalah salah satu dari banyak bangunan di dalam Kompleks Istana Raja Nabi Sulaiman. Bangunan lainnya antara lain Tembok beserta gerbangnya, Kuil Tempat Ibadah, tempat tinggal pimpinan Kuil, gedung security, pos penjaga, museum dan perpustakaan serta lainnya. Letaknya di sebuah bukit, sehingga pemandangan dari komplek Istana ini, terutama dari halaman Kuil Tempat Ibadah yang merupakan tempat tertingi di bukit itu, amat sangat indah asri menakjubkan.

Bukit ini menjadi pusat kerajaan Ursyalim pimpinan Nabi Sulaiman yang diwarisi dari ayahnya Nabi Daud. Dan kini, bukit itu lebih dikenal dengan nama Bukit Zion, tempat berdirinya kota Yerussalem, tempat Al-Aqsa berada. Itulah salah satu landasan Zionisme internasional mengklaim Palestina, di mana Yerusalem berada sebagai hak legacy mereka. Dan kini, meski Israel beribukota di Tel Aviv, namun zionis tetap mengklaim Yerusalem sebagai bagian dari Israel Raya, dan klaim ini didukung oleh para kroni Baratnya. Kalau di film trilogy The Matrix, akan kita lihat dengan jelas peta bangunan dan visi-misi zionisme yang ada sekarang ini.

Penguasaan Kompleks Istana Nabi Sulaiman, di mana yang sekarang paling terkenal adalah Kuil Sulaimannya, atau Solomon Temple, mutlak menjadi hal paling penting bagi Zionisme Internasional. Karena mereka yakin klaim mereka atas Bumi Tengah, khususnya sekarang adalah Palestina hanya bisa tercapai dengan penguasaan kompleks Istana ini.

Hanya yang perlu diingat oleh kita sekarang adalah realitas bahwa Zionisme dengan aqidah Kabbalah dan visi Novus Ordo Seclorumnya sama sekali tidak ada hubunganya dengan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Mereka sama sekali bukan keturunan Yahudi yang taat pada Allah dan para Rasul dari Bani Israil. Mereka yang ada kini adalah keturunan Yahudi lama yang tukang ma’siat yang kemudian dikutuk oleh Allah menjadi Kera dan Babi. Zionisme sekarang adalah anak keturunan para penentang Nabi Musa, para pengikut Samiri.

Nanti di akhir zaman, ketika Nabi Isa a.s turun kembali ke bumi, salah satu tugas beliau adalah membunuh Dajjal, yang merupakan pimpinan tertinggi zionisme saat itu dan membunuh Babi. Membunuh babi dalam pengertian tekstual sebagai binatang berkaki empat, mapun membunuh keturunan orang-orang yahudi yang dahulu dikutuk menjadi Babi dan Kera secara kontekstual.

Tentara Dajjal saat ini sudah banyak berkumpul di bukit Zion, lalu dimanakah nanti pasukan Imam Mahdi dan pasukan Nabi Isa berkumpul.. ? apakah kita, anak keturunan kita, siap bergabung dengan pasukan Imam Mahdi dan pasukan Nabi Isa memerangi Yahudi Zionis ataukah malah menjadi pembela mereka?

Pada akhirnya di bumi ini hanya akan ada dua pasukan tentara. Hizbullah, tentara Allah dan Hizbusysyaithoon, tentara Setan. Cobalah tengok siapa sekarang ini yang gemar membela Israel dan zionisme, serta siapa yang membela Allah dan Rasulnya. Maka kita akan lihat, dua macam pasukan ini sudah mulali terbentuk dan mengerucut… tinggal pilihan kita masing-masing, di pihak pasukan mana kita akan berdiri…

Wallahu a’lam. (Bekasi, 13 Oktober 2012)

Jejak Jiwa

October 16, 2012

Kutelusur jejak hati…
Ketika kalbu rasa sunyi…
Tafakkuri cipta ilahi…
Agung nian tak terperi…

Gundahmu perih hatiku…
Dukamu sayat kalbuku…
Rindumu surya terbitku…
Cintamu asa jiwaku…

Kupandang langit biru…
Ketika awan berarak maju…
Menepis segala ragu…
Tetap tegar di jalan Mu…

(Bekasi, 12.06.2012)

Kibarkan Nurani Sejati

August 28, 2012

Menanti yang akan tenggelam

Di tengah gulitanya malam

Seraya merunduk menggumam

Pasrah pada As-Salaam.

Nurani menjerit pilu

Saksi bisu sayatan di kalbu

Terpapar mata pada dirimu

Yang terkapar tiada dayamu

Tubuh-tubuh lemah bergelimpangan

Entah siapa kuasa menahan

Korban kebiadaban sesama insan

Yang mengaku cinta kedamaian

Nurani siapa tiada duka

Tentu ia dan Iblis bersaudara

Teriakan palsu ikut berduka

Penanda ia nifak semata

Kibarkan tinggi sejatinya nurani

Panjatkan doa memanjat langit ilahi

Bagi Arakan kita bersedih hati

Moga Allah selalu melindungi.

Bekasi, 28 Agustus 2012.

10 Syawwal 1433.

Sang Waktu

March 20, 2012

Gundah nian tatap matamu

menyirat luka menyayat kalbu

membersit galau di wajahmu

semburat misteri peri hidupmu

 

Lirih suaramu menembus cakrawala

Desis lembutmu mengarak mega

merangkak tertatih tiada daya

menghimpun rasa dalam jiwa

 

Kelam malam membentang

merobek sunyi kerinduan

meniti hari tanpa harapan

Bilakah masa itu kan datang

 

Tuhan…

Dalam kelam malam aku mengingatMu

Diterpa keheningan yang meragu

Menanti datang Sang Waktu

 

Selasa, 20/03/2012

Seakan Tiada Waktu

October 29, 2011

Kesekian kali matahari tenggelam
Tanpa tatapku mengantar temaram
Ketika kegelapan menggulung siang
Satu hari telah lagi kutinggalkan

Menatap langit yang hitam
Memandang cemas masa depan
Mengarungi hari-hari yang kian mendebarkan
Menyisa tanya bilakah hari penghabisan

Sibak nasibku gemuruh dukaku
Tatkala senandung alam mengiang
Menerobos telinga di pekat malam
Menanti malam diganti siang

Allah, kubersandar kupasrah jiwa
Tiada dayaku menyibak duka
Lumpuh ragaku menghalau derita
Hanya Kau sepercik kabar gembira

Bekasi, Sabtu, 29 Oktober 2011

The Catapult of Giant Killer [8]

April 21, 2011

Benda-benda Peninggalan Para Nabi & Rasul [bag.8]

8.      The Catapult of Giant Killer

Bani Israil… Beberapa kurun waktu setelah Nabi Musa wafat….

Pada mulanya ia hanya seorang penggembala domba biasa saja. Pagi hari membawa wedhus-wedhusnya ke padang rumput lalu kembali ke kandang pada sore harinya. Senyampang menjaga domba-dombanya, ia mengisi hari dan waktunya dengan latihan-latihan pisik olah kanuragan. Berlari, jungkir, merayap, jalan jongkok, push-up, sit-up, olah pernapasan dan tak lupa seringkali memandang alam raya dengan penuh tafakkur dan tadabbur. Demikian ia menghabiskan masa kecilnya sampai tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat perkasa hasil tempaan alam dan kehidupan. Untuk menjaga domba-domba dari serangan serigala, ia juga membuat sebuah katapel sebagai senjata sederhana berfungsi melontarkan batu kerikil dari jarak jauh untuk mengusir serigala yang mencoba menghampiri. Sampai saat demikian, ia tidak tahu bahwa Allah punya rencana besar dengan katapel dan dirinya itu.

Kisahnya bermula dari rekrutmen yang dilakukan oleh rajanya yang bernama Thalut terhadap para pemuda gagah untuk membentuk detasemen-detasemen lasykar reguler dan pasukan khusus yang akan dipersiapkan menghadapi seorang raja penjajah bernama Jalut yang oleh Orang Kulon disebut Goliath.

Raja Jalut ini sudah amat lama malang melintang di Middle Earth alias Bumi Tengah. Menghabisi tentara lokal, menteror dan membunuhi penduduk, memaksa dengan kekuatannya negeri demi negeri untuk menyerah atau mati untuk sebuah sebutan : Sang Penakluk atawa The Conqueror. Banyak sudah negeri yang telah jatuh dalam penaklukan Jalut. Namun meski bentangan kekuasaannya sudah sedemikian besar, ia tak pernah merasa cukup sebelum seluruh Middle Earth ditaklukkannya. Tentaranya segera diarahkan ke negeri lain yang belum ia taklukkan. Ia mengarah ke sebuah negeri Subur bernama Ursyalim…

Raja Thalut merekrut setiap pemuda untuk memenuhi panggilan tugas menjaga tanah air dari serbuan Raja Jalut. Dikirimnya perwira-perwira ke segenap pelosok negeri untuk rekrutment itu. Seorang perwira yang dikirim ke desa-desa sekitar tempat tinggal Daud muda tengah dalam perjalanan kembali dengan orang rekrutannya yang gagah-gagah ketika ia kemudian melewati sebuah padang rumput di tepi sebuah hutan. Ia yang berkuda paling depan tercengang, ketika melihat seorang pemuda anak gembala dengan katapelnya berhasil memecahkan kepala seekor serigala yang mendekati domba-dombanya. Padahal jarak antara gembala dan serigala itu terhitung jauh, dua pelemparan batu.

Sang Perwira mendekati Daud dan berkata : “Kulihat kau membunuh seekor serigala dengan katapelmu itu… sungguh luar biasa bagiku… siapa namamu?”

“Namaku Daud”, jawab sang pemuda gembala sambil memperhatikan sang perwira yang demikian gagah dengan baju zirah yang membalut tubuhnya.

“Negeri ini sebentar lagi akan diserang oleh Raja Kafir bernama Jalut, maukah kau membantu kami mempertahankan negeri ini dari serangannya?” tanya Sang Perwira.

“Oh, tentu saja.. aku senang bila bisa membantu mempertahankan negeri yang aku cintai ini”. Jawab Daud mantap.

Sang Perwira pun membawa Daud bergabung dengan lasykar paramiliter lainnya dan menempatkannya di pasukan khusus. Sang Perwira tidak memperdulikan komplain dari lasykar lain yang menganggap Daud masih terlalu muda dan tanpa pengalaman. Hanya akan menambah korban bagi tentara Jalut saja. Sang perwira hanya tersenyum dan berkata “kualitas seseorang tidak ditentukan oleh umurnya”. Mereka terdiam.

Lasykar dari seluruh negeri berkumpul di alun-alun utama langsung di bawah komando raja Thalut. Mereka dibagi-bagi ke beberapa divisi dan satuan-satuan dengan komandan dan lambang masing-masing kesatuan. Atas rekomendasi perwira yang merekrutnya, Daud ditempatkan pada sebuah unit khusus bersenjata jarak jauh. Tugas mereka adalah melindungi pasukan dari pinggir arena dan membunuh musuh sebanyak mungkin dari jarak jauh. Zaman sekarang kita menyebutnya “Sniper”. Daud mendapat tugas lebih khusus lagi. Ia, bagaimanapun keadaannya, harus fokus pada satu sasaran, yaitu biang tentara penjajah, Jalut.

Setelah seluruh wajib militer berkumpul dan mendapatkan pengarahan dari para komandan lapangan,..berangkatlah tentara Raja Thalut dalam barisan-barisan besar meninggalkan negeri Ursyalim untuk menyongsong tentara Goliath di luar tapal batas negeri. Karena jika Jalut dibiarkan masuk ke negeri Ursyalim, akan hancurlah segala bentuk kehidupan di dalam negeri.

Barisan tentara terus berjalan dalam siang yang panas terik dan gelap malam yang dingin selama beberapa hari. Lelah dan letih sudah merayapi wajah-wajah mereka. Bahkan banyak sekali yang sudah mulai mengeluh dan merengek karena terlalu terbiasa hidup enak di negeri mereka yang subur, sehingga mereka menjadi manja dan tanpa semangat. Keikutsertaan mereka kebanyakan bukan karena niat yang tulus, tetapi terpaksa oleh berbagai macam alasan. Berkali-kali mereka meminta istirahat sampai membuat murka para komandan. Raja Thalut hanya menarik nafas panjang dan mengelus dada menyaksikan tentaranya. Ia bermohon perlindungan pada Allah dari kelemahan mental tentaranya.

Setelah berhari-hari berjalan dalam terik matahari… para pendahulu pasukan menyampaikan kabar pada Thalut bahwa di depan sana ada sebuah sungai berair jernih… “waah.. masalah nih… padahal jarak kita dengan tentara Jalut sudah kian dekat… demikian pikir Sang Raja, lalu ia mengumpulkan para komandan dan akhirnya memberi perintah… “Baik, kita seberangi sungai itu. Tetapi sampaikan pada pasukan bahwa sesampainya di sungai itu, mereka tidak boleh meminum airnya kecuali secidukan tangan saja… yang meminum lebih dari itu bukan lagi pasukanku” para komandan mengangguk mengerti dan segera menyampaikan perintah ini kepada pasukan di masing-masing kesatuannya.

Apa terjadi..? sesampainya di sungai itu, kebanyakan lasykar “berpesta”. Mereka menyelami sungai untuk mandi dan minum sepuasnya sampai perutnya buncit… kecuali sebagian kecil dari pasukan yang imannya telah benar-benar mantap… mereka minum sedikit saja sekadar hilang dahaga.. lalu menyeberang sungai dan siap melanjutkan perjalanan jihad. Sementara kabanyakan tentara yang minum sampai buncit sedang menggelepar tak berdaya. Sebagian sudah tertidur dengan nyenyak di bantaran sungai. Mereka berkata : “Oooh… hari ini gak kuat deh.. lemes banget nih… gak sanggup deh kalau hari ini lanjutkan perjalanan melawan tentara Jalut…”. Thalut dan tentaranya yang setia dan beriman kuat hanya menggelengkan kepala, lalu menyerahkan urusannya pada Allah dan berkata : “Kita lanjutkan perjalanan tanpa mereka. Insya Allah kita akan menemui Allah di ujung perjalanan kita dan akan mendapat kemenangan. Ingatlah, betapa banyak kelompok yang jumlahnya sedikit dapat mengalahkan kelompok yang jumlahnya banyak dengan izin Allah.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah : 249; “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Thalut melanjutkan perjalanannya. Tentara anggota pasukannya hanya tinggal sedikit sekali. Tetapi tetap semangat dengan tekad bulat untuk menghancurkan kebathilan/kerusakan dari muka Bumi Tengah. Bagi mereka pilihannya hanya bangkit melawan atau diam dan tertindas selamanya. Maka..sore itu mereka sudah face to face dengan Jalut dan tentaranya. Jarak mereka hanya dipisahkan sebuah bulak panjang yang ditumbuhi rumput dan perdu.. Esok paginya pastilah pertempuran tak akan terhindarkan lagi.

Malam itu Raja Thalut dan para komandan lapangan mengatur strategi untuk menghadapi tentara Jalut yang jumlahnya menjadi puluhan kali lipat dari tentara mereka akibat desersi lasykar di sungai kemarin. Menghadapi Jalut dengan perang campuh dan terbuka akan berakibat kurang baik. Para penyelidik dan mata-mata sudah pula melaporkan bahwa Jalut dan tentaranya sudah siap dengan gelar perang Sapit Urang yang memang sangat menguntungkan karena jumlah mereka yang demikian banyak. “Baiklah, kita bersiap dengan gelar perang Dirada Meta. Namun ingat, di tengah belalai gelar ini adalah untuk mengawal Daud agar bisa mencapai pusat gelar perang Sapit Urang mereka dan Jalut bisa dijangkau oleh Daud. Bisa kalian laksanakan?” Tanya Thalut.

“Siap..!” para komandan serempak menjawab.

“Daud, kau mengerti tugasmu?”

“Siap, tugas saya hanya satu, membunuh Jalut agar seluruh tentaranya menyerah”.

“Bagus. Silahkan kalian kembali ke pasukan, malam ini semua pasukan harus Qiyaamullail dan berdoa pada Allah agar diberi kesabaran, ketetapan hati dan pertolonganNya. Yang tidak ikut qiyaamullail, ikat dia di tenda, jangan diajak perang esok hari karena akan melemahkan pasukan kita”

“Siap..!” para komandan kembali serempak menjawab, lalu kembali ke pasukan masing-masing.

Malam itu, Thalut dan seluruh pasukan Tahajjud seraya berdo’a : “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah : 250).

Fajar menjelang…. persiapan perang sampai ke tahap akhir…. gelar perang sudah dibentangkan di padang rumput… 2 pasukan berhadapan… Sapit Urang berhadapan dengan Dirada Meta.

…………………….

Matahari terbit tanpa bisa ditahan.. dua pasukan yang tidak seimbang berhadapan. Kavaleri di barisan terdepan, disusul barisan infanteri di belakangnya. Suasana sepi mencekam… aroma maut tercium amat tajam…

Dari arah pasukan Jalut… melompat seekor kuda dengan penunggangnya… seorang utusan. Thalut tidak mau mewakilkan.. ia sendiri mendera kudanya maju… keduanya bertemu di tengah-tengah antara 2 pasukan… keduanya mengangguk berhadapan.

“Wahai utusan tentara Thalut.. siapakah kamu..?” tanya utusan Jalut.

“Aku sendiri Thalut”. Sebutkanlah namamu..!

“Aku Jumawa bergelar Penghirup Sukma. Menyerahlah kalian dan tunduklah di bawah perintah Maharaja Jalut. Atau kalian akan musnah kami gilas… lihatlah betapa kecil pasukanmu. Tak mungkin kalian selamat jika melawan..!”

“Hmm… benar-benar kau jumawa.. bagi kami lebih baik mati dengan kehormatan kami daripada harus tunduk pada raja kafir macam Jalut. Pasukan kami memang kecil dan sedikit, tetapi kami yakin Allah akan memberikan kekuatan untuk menghancurkan kalian..! jawab Thalut dengan mantap.

Tergetar Jumawa di atas kudanya.

“Huahahaha.. baiklah, kalau kau memang mau kematian… akan kami antarkan..!” Jumawa menarik kekang kudanya, berbalik dan kembali ke induk pasukan Jalut.

Thalut pun segera kembali pula. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berteriak… ALLAAHU AKBAR..!!

ALLAAHU AKBAR…!! seluruh pasukan membalas pekikannya.

Dua pasukan bersiap… tangan kanan para komandan dengan pedang dan tombak diacungkan tinggi-tinggi… lalu serempak di tunjukkan ke arah musuh di hadapan….

ALLAAHU AKBAR…! pekik takbir mengiringi lompatan kuda-kuda kavaleri lasykar Thalut. Dengan hati mantap dan yakin akan pertolongan Allah mereka memacu kudanya ke arah pasukan Jalut yang juga tengah maju menyerbu diikuti pasukan infanteri.

Perang pun pecahlah… ujung belalai Dirada Meta segera bentrok dengan moncong gelar Sapit Urang. Gading-gadingnya berhadapan dengan dua sapit yang berusaha menekan dan menggilas pasukan Thalut. Dentang senjata beradu berpadu dengan terikan-teriakan maut. Kepala-kepala berjatuhan, seiring teriakan pasukan yang dadanya tertembus pedang. Darah memerahi padang rumput yang hijau.

Pasukan Thalut yang sedikit itu.. maju tanpa ngeri membabati pasukan kafir. Seolah kekuatan mereka berlipat ganda karena keyakinan dalam dada-dada mereka. Seolah mereka menjadi berlipat jumlahnya dalam pandangan tentara Jalut. Sehingga dengan perlahan tetapi pasti, Unit Khusus Daud mulai mendekati pusat pasukan musuh di mana Jalut yang bagai raksasa, dengan tombak dan pedang besarnya berdiri mengamati pertempuran…

Jalut memandang heran seorang pemuda dengan Katapel di tangan yang tiba-tiba melompat dari pasukan Thalut dan berdiri di hadapannya. Tingginya tidak lebih dari pangkal pahanya… anak muda itu pasti bisa digenggam remuk dengan tangannya yang besar.

“Hai anak muda… siapa kau? Dan apa yang kau lakukan ini? Sekecil kau menghadapi aku. Sekali sentil akan remuk tulang2mu. Hahahaha..” Pongah Jalut bergaya.

“Aku Daud… aku akan membunuhmu..!!”

“Hahaha… ini terima pedangku…!” Jalut mengayunkan pedang dengan jurus Halilintar Membelah Bumi, mengarah ubun-ubun Daud. Ia yakin Daud akan terbelah dua secara simetris oleh pedangnya itu dengan sekali tebas.

Kembali alangkah herannya ia. Pedangnya membentur tanah. Menembus tanah hingga gagangnya.Segera ia cabut pedangnya kembali.. ternyata Daud telah menghindar dengan gesit menggunakan jurus Kijang Ngibrit..! Sebuah kerikil tiba-tiba membentur jidat Jalut. Ternyata sambil menghindar, Daud telah melepaskan kerikil pertama dari Katapelnya.

“Hahahahaha… sebutir pasir tidak akan melukaiku anak muda… senjatamu itu tidak ada gunanya untukku. Kau bunuhlah dirimu agar darahmu tidak mengotori pedangku..hahahahahahahaha…”

Daud bergerak cepat…. kembali sebuah kerikil membentur tenggorokan Jalut. Tapi aneh, kerikil yang bisa membunuh seekor serigal itu seolah angin saja bagi jalut. “Pasti ada kelemahannya”.. Daud membatin sambil menghindari injakan kaki Jalut yang membuat tanah amblas…

“Hahaha… ayo, lekaslah bunuh diri..!” ujar Jalut makin pongah.. “Hahahaha..” sambil kakinya kembali diangkat siap Nge-gedig Daud.

Dalam tawa Jalut yang berkepanjangan itulah Daud melihat seleret sinar di langit-langit mulut Jalut..

Daud membidik sambil melompat menghindari injakan Jalut…

Kembali Jalut mengangkat kaki dan menginjak Daud.. “Mati Kau…! Hahahaha…SSLEBBB…..!! AAAAARRRGGGHHHH…… Jalut berteriak kesakitan… tangan mendekap kepalanya yang serasa pecah… serasa halilintar menghantam kepalanya… bintang-bintang bertaburan menutupi pandangannya… perlahan ia limbung.. bodynya yang raksasa itu berdebam gemuruh di atas tanah… langit-langit mulutnya, dimana terletak jimat pemberian raja setan yang membuatnya kebal senjata telah pecah ditembus batu kerikil dari Katapel Daud.. Raja kafir itu kejang-kejang menggelepar-gelepar menahan sakit… teriakan dan raungan sekaratnya membahana ke seluruh medan pertempuran… seluruh pasukan dari dua pihak terpana.. berdiri mematung tak bergerak.. dentang senjata beradu terhenti.. sunyi…pandangan mengarah ke raja Jalut yang menggelepar bergulingan sekarat… pemandangan yang mencekam. Raja Diraja Bumi Tengah, sedang mengelepar-gelepar di hadapan seorang anak muda…

Kheeerrrkkkkk… Raja kafir yang puluhan tahun malang melintang menaklukkan berbagai bangsa dan negara… melepaskan nafas terakhirnya di tangan seorang anak muda dengan Katapel di tangannya. MATI…!

ALLAHU AKBAR..! ALLAHU AKBAR..! ALLAHU AKBAR..!

Pekik kemenangan Thalut dan lasykarnya membahana di seluruh medan tempur. Tentara Jalut lemas tercengang menyaksikan raja yang selama ini mereka banggakan mati di tangan seorang anak muda anggota pasukan biasa saja. Semangat tempur mereka langsung sirna. Tidak ada lagi motivasi perang bagi mereka. Satu demi satu melemparkan pedang, gada, tombak dan senjata mereka lainnya… lalu terduduk tunduk dengan lesu… menyerah tanpa syarat..

Thalut dan tentaranya kembali ke Ursyalim dengan penuh syukur membawa kemenangan. Para desertir di sungai menatap mereka seakan tak percaya. Daud diarak keliling kota sebagai pahlawan besar dan mendapat penghargaan khusus dari Raja Thalut.

Sepeninggal Thalut yang mati karena usia tua.. Daud diangkat menjadi Raja, dan Allah mengangkatnya sebagai Nabi dan Rasul… Daud memerintah negerinya dengan adil sambil memberikan bimbingan pada rakyat berdasarkan wahyu yang diterimanya dan syariat dari Taurat peninggalan Nabi Musa a.s.

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (Q.S. Al-Baqarah : 251).

Katapelnya disimpan di ruang perbendaharaan istana sebagai benda bersejarah dan diwariskan pada Nabi Sulaiman sepeninggal Nabi Daud a.s. Setelah Nabi Sulaiman a.s. meningal dunia, keberadaan Katapel ini tidak lagi diketahui rimbanya. Namun cerita Katapel Daud tidak pernah pupus sepanjang sejarah. Katapel-katapel lain, dengan Ruh Katapel Daud, telah melontarkan jutaan batu dan kerikil anak-anak Palestina menghantami tank-tank dan tentara Israel La’natullah.

Sungguh ironis. Bangsa Israel yang dulu memenangkan perang melawan Jalut dengan Katapel Daud, kini harus menghadapi Katapel yang hampir sama dengan Katapel Daud dahulu. Dengan semangat spiritualitas yang sama, namun kini bangsa Israel lah yang menjadi “Jalut” dan anak-anak muda Palestina yang menjadi “Daud”.

“Ya Allah, berikanlah kemenangan kepada anak-anak Palestina terhadap penjajah Zionis Israel dan sekutunya..! seperti Engkau dahulu memberikan kemenangan kepada Daud alaihissalaam”.

 

Wallahu a’lam. (Bekasi, 18 April 2011)

Mengapa Memilih Islam

January 30, 2011

Mengapa Memilih Islam

By : Ahmad Sopiani, S.Ag.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Innalhamda lillaah, nahmaduhuu wa nasta’iinuhuu wa nastaghfiruh.

Na’uudzu billaahi min suruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa.

Man yahdihillaah, falaa mudhillalah. Wa man yudlilhu falaa haadiya lah.

Asyhadu an laailaaha illallaah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh..

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Ammaa Ba’du.

Ikhwan fillaah,

Bagi orang-orang yang dilahirkan dari keluarga muslim, mengenal Islam sejak lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kaum muslimin, pertanyaan “mengapa memilih Islam?” mungkin kurang relevan. Sejak kecil, bahkan sedari dalam kandungan, para orang tua muslim sudah menanamkan nilai-nilai Islam sebagai satu-satunya jalan kebenaran dan akhirnya mendarah daging menjadi keyakinan dan keimanan dalam bingkai aqidah Islam. Sungguh beruntung orang-orang seperti ini. Tinggallah ia seiring waktu memupuk keimanannya dan menambah kuat aqidahnya dengan lebih banyak mempelajari dan menghayati Islam.

Namun pertanyaan “mengapa memilih Islam” hampir pasti selalu diajukan pada saudara-saudara kita yang muallaf, orang-orang yang masuk Islam karena kesadaran spiritualnya menemukan Islam ketika telah dewasa. Orang-orang yang memilih Islam sebagai jalan baru. Orang-orang yang menjadi Muslim sebagai bentuk peralihan dari keyakinan sebelumnya. Orang-orang yang mendapatkan pencerahan akan keyakinan yang benar setelah lama terombang-ambing dalam keraguan akan eksistensi Tuhan. Akhir sebuah pencarian spiritual yang berat dan berliku. Untuk mereka inilah pertanyaan tersebut mendapat relevansinya.

Maka para muallaf lah, yang paling tahu jawaban atas pertanyaan itu. Para muallaf itulah yang paling berhak untuk ditanya mengapa memilih Islam? Para muallaflah yang akan memberikan dengan tepat jawaban atas pertanyaan tersebut, karena mereka ber-Islam melalui proses yang panjang dan berliku penuh dengan rangkaian kisah suka ataupun airmata. Dan mungkin, dari 10 muallaf yang kita tanya, kita akan mendapatkan 10 jawaban yang berbeda…

Namun tentu saja penting bagi kita untuk juga menyadari mengapa Islam layak dipilih sebagai way of life, sebagai jalan pencerahan, sebagai solusi kegersangan spiritual, sehingga dapat menjadi dasar bagi jawaban atas pertanyaan yang sama. Sebuah value yang dapat ditawarkan oleh kita pada pihak luar untuk menjadikan Islam sebagai sebuah pilihan yang tepat dalam kancah pertarungan keyakinan pada jiwa seseorang. Untuk meneguhkan yang percaya, untuk meyakinkan yang meragu, untuk mencerahkan jiwa-jiwa yang buram.

Tentu banyak sisi dari Islam yang dapat kita gali dan cermati sebagai hal yang dapat dijadikan value, dijadikan nilai untuk dapat kita tawarkan, kita hanya akan menyebutkan beberapa saja di antaranya;

Pertama, Rasionalitas.

Tuhan dalam Islam adalah sesuatu yang transenden, sesuatu yang beyond everything, sesuatu yang tak bisa dicapai panca indera. Tetapi itu bukan berarti sama sekali tidak masuk akal. Tuhan itu mestilah sesuatu yang secara nalar bisa kita tempatkan ke ruang rasionalitas. Tuhan yang bisa mati misalnya, adalah tuhan yang tidak bisa dirasionalisasikan. Tuhan yang penuh dendam, tentu patut diragukan. Sejatinya akal kita akan menempatkan Tuhan dalam bentuknya Yang Maha Atas segala sesuatu. Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Tunggal, Maha Adil, Maha Mengetahui, dan Maha-maha lainnya. Konsep sederhana dan rasional tentang Ketuhanan dapat kita lihat dalam Al-Quran Surat Al-Ikhlaash ayat 1-4 : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Atau dapat pula kita lihat dalam Al-Quran, Surat Al-Anbiyaa : 22 : ”Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya (langit & bumi) itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” dan banyak lagi ayat yang bertaburan dalam Al-Quran yang berisi konsep Ketuhanan dalam Islam yang amat sesuai dengan akal dan rasionalitas manusia; Q.S. 04:171, 17:40, 19:92, 23:91, 43:81, dll.

Islam pula yang dengan konsisten mengajak ummatnya dan ummat manusia untuk senantiasa menggunakan rasio dalam skala besar, hampir tak terbatas, untuk mendapatkan pencerahan dan pengetahuan serta pemahaman akan kebenaran. Islam menempatkan rasionalitas akal di posisi yang amat tinggi nilainya. Dan Islam menempatkan rasio dan akal pikiran sebagai titik sentral kemanusiaan seseorang; ” dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.”(Q.S. Al-Jaatsiyah[45] : 5). Dan banyak sekali ayat Al-Quran yang menerangkan tentang pentingnya akal pikiran; Q.S. 2:44, 3:65, 5:58, 26:28, dll.

Jejak pernghormatan terhadapa akal dan rasionalitas dalam peradaban Islam masih dapat kita telusuri semenjak zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya, hingga ke era posmodernisme yang kini kita jalani. Jadi ajaran Islam tidaklah melulu dalam koridor moralitas, namun adalah juga tradisi rasionalitas yang berjalan seiring dengan urgensi moralitas yang diembannya. Islam adalah sebuah way of life yang menempatkan akal sama pentingnya dengan keimanan.

Kedua, Prinsip Keseimbangan Hidup

Rasulullah Muhammad SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh ………… ”Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”. Dan Allah SWT telah dengan tegas berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Qashash [28] ayat 77 : ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”.

Demikian Allah dan RasulNya mengatur dan mengajarkan, bahwa manusia adalah makhluk jasmani dan makhluk rohani sekaligus. Manusia memiliki dua sisi kehidupan yang sama pentingnya. Manusia diberi visi yang jelas tentang makna hidupnya. Yaitu visi, bahwa manusia pada saatnya nanti, harus menjalani kehidupan lain di alam akhirat namun tidak harus melupakan arti penting hidup di alam dunia. Islam mengajarkan bahwa bentuk pengabdian pada Tuhan tidaklah dengan harus meninggalkan makan, minum dan hal lainnya secara mutlak. Juga jangan sampai karena dunia demikian indah dan penuh kesenangan lalu melupakan hari akhirat. Islam tidak menuntut ummatnya untuk menjadi rahib seumur hidupnya, namun juga tidak menghendaki ummatnya menjadi hedonis yang hanya mengejar kesenangan duniawi. Pada titik ini manusia diberi sebuah visi, visi kebahagiaan dunia dan lebih jauh visi kebahagiaan akhirat, surga, nirvana, eden, atau apapun namanya.

Ketiga, Prinsip Keadilan

Simaklah salah satu penggalan pidato Abu Bakr Shiddiq yang dikutip Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan Nihayah, ketika telah terpilih menjadi Khalifah, artinya saat itu beliau sudah menjadi Penguasa, bukan janji-janji muluk calon penguasa yang sedang kampanye; ”Sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya…”. Demikian Abu Bakr, seorang kader utama sahabat Nabi, orang yang mula-mula masuk Islam, menerapkan prinsip keadilan sebagai dasar dari kepemimpinannya.

Keadilan pula lah yang menjadi ruh, dasar dan pondasi ajaran Islam. Sebuah prinsip agar manusia menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan manusia haknya, dan menuntut manusia untuk melaksanakan kewajibannya. Keadilan yang universal. Keadilan untuk semua, sehingga Al-Quran memuat banyak sekali ayat-ayat tentang keadilan, seperti misalnya dapat kita lihat dalam Surat Al-Maaidah [5] ayat 8 : ”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Lihat juga Al-Quran : An-Nisaa [04]:135, Al-A’raaf [07]:29/159/181, An-Nahl [16]:76, Al-Hujuraat [49]:09, Al-Hadiid [57]:25, dan banyak lagi baik dengan kata ”adl”, maupun dengan kata ”qist”.

Prinsip-prinsip keadilan itu; bahwa setiap orang setara di hadapan hukum, bahwa yang kuat tidak boleh menindas yang lemah, bahwa penguasa harus mensejahterakan semua kalangan dan melindungi semua orang, bahwa setiap orang adalah sama kewajiban dan hak-hak sosialnya,  bahwa kekayaan alam suatu negeri untuk kesejahteraan rakyatnya, bahwa dilarang memerangi orang yang tidak menyerang, dan lain-lain, yang merupakan nilai-nilai universal, dalam Islam telah diakomodir sebagai ajaran pokok sejak lebih dari 14 abad yang lalu. Penerapan secara ketat prinsip-prinsip keadilan inilah sesungguhnya salah satu faktor utama mengapa Islam dapat menorehkan sejarah kejayaan yang demikian panjang, dan merupakan syarat mutlak yang harus kembali ditegakkan jika kaum muslim ingin Islam kembali meraih kejayaannya yang terenggut di masa yang akan datang.

Keempat, Universalitas

Islam bukanlah sekedar Religion, bukan sekedar agama. Islam adalah way of Life, Sebuah keyakinan dan sebuah jalan hidup sekaligus dalam pengertian yang sebenarnya. Islam tidak hanya berisi dogma-dogma dan keyakinan, bukan pula sekedar aturan-aturan yang berhubungan dengan masalah ketuhanan, bukan pula sekedar ajaran yang mengatur hidup suatu individu. Jauh lebih besar dari itu, Islam memiliki dan mengatur semua hal untuk semua orang. Tidak hanya memberikan dasar keyakinan yang kuat akan eksistensi Tuhan namun juga memberikan aturan-aturan dalam kehidupan sosial. Mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sekaligus mengatur bagaimana suatu negara harus dibina. Mulai dari hal-hal yang paling kecil seperti cara tidur dan cara masuk toilet, sampai dengan hal yang besar seperti mengatur negara dan hubungan antar bangsa dan golongan. Islam mengatur hubungan antar individu, hubungan individu dengan Allah, hubungan individu dengan masyarakat dan negara. Mengatur cara berjalan kaki dan cara berjual beli. Mengatur cara menikah dan berumah tangga, juga mengatur apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak. Semua itu, universalitas dalam ajaran Islam itu, seluruhnya ditujukan untuk kebaikan manusia. Manusialah yang mengambil manfaat dari semua itu, sebagai bentuk kasih sayang yang total dari Allah kepada makhluknya.

Universalitas juga mengandung arti dakwah, arti bahwa Islam memposisikan dirinya sebagai way of life untuk semua manusia kapanpun dan dimanapun. Islam tidak hanya milik orang arab, tidak pula hanya untuk suatu etnik tertentu. Islam memproklamirkan diri sebagai way of life untuk semua manusia. Islam mengajak semua manusia untuk masuk ke dalamnya dan menemukan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat di dalamnya. Sebagai Allah menyatakan tentang ini “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Q.S. Al-Anbiyaa [21] : 107. Bahkan Islam diturunkan bukan hanya untuk genus manusia, melainkan juga untuk bangsa Jin. Kita bisa lihat apa yang Al-Quran sebutkan tentang universalitas ini dalam Surat Al-Anbiyaa[21]:91, Al-Furqaan[25]:1, Shaad[38]:87, At-Takwiir[81]:27, dan lain-lain. Adakah yang memiliki universalitas melebihi Islam? Anda tahu jawabnya.

Empat hal di atas, hanyalah sebagian dari mengapa Islam layak dipilih sebagai jalan hidup. Layak menjadi pilihan solusi kehidupan, meski tentu 4 hal tersebut hanya dipaparkan secara global saja.  Kaum muslim, sudah selayaknya memahami hal di atas sehingga bisa menjadi duta penjelas bagi orang-orang yang mencari pencerahan, dan bagi non muslim bisa memahami Islam secara utuh sehingga mereka mendapat keyakinan pada dirinya bahwa mereka layak memilih Islam bukan hanya sebagai keyakinan dogmatis, tetapi sekaligus sebagai Way of Life.

Wallahu a’lam.

Bekasi, 15 Juni 2009