Archive for the ‘Celoteh2 Lama’ Category

Like or Dislike

June 19, 2009

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)


Saya ingin mengajak anda untuk menyimak sebuah kisah yang sering diceritakan kembali, untuk mengingatkan kita akan pentingnya sifat syukur dan qana’ah dengan apa yang telah kita nikmati dan tentang bagaimana semestinya kita bersikap mengenai hal-hal yang mungkin tidak kita sukai.

Alkisah seorang Tukang Batu. Dahulu kala, di masa hati manusia relatif masih bersih, tatkala kehidupan manusia belum “semeriah” saat ini, hiduplah seorang Tukang Batu. Setiap hari selepas subuh, ia berangkat menuju sungai di kaki gunung. Dengan peralatan yang amat sederhana, ia mulai bekerja menghancurkan batu-batu gunung yang besar-besar, menjadi serpihan-serpihan sebesar kepala manusia atau lebih kecil lagi. Tanpa kenal lelah ia terus menekuni pekerjaannya hingga ketika bayangan kepalanya tepat ada di kakinya, ia memandang ke langit, menghirup nafas dalam-dalam dan meletakkan peralatannya. Ia kepal-kepalkan jari-jari tangannya yang kaku, sambil melirik hasil kerjanya. Lumayan banyak. Ia duduk di atas sebuah batu yang cukup besar dan datar, mencuci tangan dengan air sungai yang ada di bawah kakinya, lalu mulai membuka dan melahap bekal ala kadarnya yang ia bawa dari rumah tadi pagi.

Jika hasilnya sudah cukup banyak, biasanya akan ada orang yang akan datang untuk membelinya atau menukarnya dengan sesuatu sesuai kesepakatan mereka. Demikian ia menjalani profesinya itu dari hari kehari, dan mencukupkan hidupnya dengan hasil yang didapatkannya itu, hingga suatu hari……

Ia berpapasan dengan sebuah rombongan saudagar. Saudagar itu terlihat sangat hebat. Pakaian yang dikenakannya sangat bagus, dagangannya banyak diangkut dengan pedati-pedati besar, yang ditarik kuda-kuda pilihan. Pengawalnya berbadan tegap segi empat dan pelayannya banyak dan cekatan.

Sang Tukang Batu pun bertanya kiri – kanan tentang hal ihwal si saudagar, hingga iapun kemudian berkesimpulan bahwa saudagar itu lebih, bahkan jauh lebih hebat darinya. Dan dari kesimpulannya itu iapun melihat dirinya, terasa kecil. Iapun akhirnya menetapkan hati bahwa ia tidak ingin lagi menjadi Tukang Batu. Ia ingin menjadi saudagar yang hebat itu. Lebih hebat dari tukang batu.

Kun. Jadilah ia seorang saudagar. Ia berkeliling negeri membawa dan menjual komoditinya. Makin hari keuntungan yang diperolehnya semakin besar. Para pengawalnya siap melindunginya dari berbagai ancaman bahaya yang datang dari orang-orang yang ingin senang di atas penderitaan orang lain. Para pelayannya senantiasa bekerja dengan giat dan setia. Orang-orang yang bersua dan berpapasan dengannya membungkuk tanda hormat dan segan kepadanya. Hebat. “Kini aku lebih hebat daripada aku yang dahulu” pikirnya. Dan ia pun berpikir bahwa ialah orang paling hebat di dunia ini……… sampai kemudian……

Di suatu hari yang cerah, tatkala ia tengah menikmati hasil jerih payahnya, datanglah sepasukan tentara kerajaan mengawal seorang utusan raja untuk memungut pajak darinya. Utusan raja itu membacakan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang yang harus dibayarnya sebagai kewajibannya kepada raja yang telah memberinya keleluasaan untuk berbisnis di wilayah itu. Jumlahnya sangat besar bahkan untuk ukuran seorang saudagar kaya seperti dia. Jika ia menolak membayar, maka harta kekayaannya akan disita. Para pengawalnyapun tidak berdaya untuk melawan pasukan kerajaan yang jumlahnya lebih banyak, lebih sakti dan lebih lengkap persenjataannya. Maka dengan berat hati iapun membayar tagihan pajaknya tanpa perlu mengisi Surat Setoran Pajak.

Sepeninggal utusan raja penagih pajak dan pasukan kerajaan yang mengawalnya, sang saudagar termenung…. Ternyata  ada yang lebih hebat dariku….. selama ini aku pikir akulah yang paling hebat karena dengan uangku, aku bisa mendapat apapun yang aku mau, tetapi ternyata aku tidak berdaya berhadapan dengan tukang pajak yang membawa pasukan itu… Pastilah raja yang mengutusnya lebih hebat lagi…. Kalu demikian, alangkah hebatnya jika aku bisa menjadi raja. Tidak perlu kerja keras, cukup mengutus orang untuk datang memungut pajak, dan kekayaanpun mengalir  ke pundi-pundinya…. Ah, seandainya aku bisa menjadi raja……

Kun. Jadilah ia seorang raja. Caranya, katakan saja ia memenangkan sayembara untuk membuat putri raja bisa tertawa, terus jadi menantu raja, terus raja lama mati, terus ia jadi raja menggantikan raja lama karena raja lama hanya punya seorang puteri yang ia kawini itu, dan hukum di negeri itu tidak memungkinkan seorang putri untuk menjadi raja. Anggaplah begitu.

Ia memerintah di kerajaannya dengan bangga, gagah dan otoriter. Semua titah raja adalah hukum. Ia menerapkan pajak yang tinggi kepada rakyat. Ia berlaku seperti tuhan untuk menentukan seseorang boleh terus hidup dan yang lain cukup lama untuk tetap hidup. Ia menentukan benar atau salah menurut apa yang ia kehendaki benar atau salah. Kekuasaannya semakin lama semakin luas dan besar, meliputi hampir seperempat daratan yang ada di bumi. Kini ia merasa yakin, bahwa dialah satu-satunya yang paling hebat di dunia ini….. hingga…

Musim kemarau berkepanjangan tiba…. Matahari bersinar dengan tanpa henti memancarkan panas yang tak terhingga. Pohon-pohon mengering dan mati. Hewan-hewan merana dan menjemput ajalnya. Tanah menjadi kering, retak dan membumbungkan lapisan debu ke udara. Bahkan di kala malam pun rasanya panas sinar matahari tetap terasa. Karena kemarau yang teramat hebat ini, akhirnya kerajaannya bangkrut dan sang raja termenung seorang diri….

“Ternyata aku, raja besar ini… tak kuasa melawan terik matahari…. Aku pikir selama ini tidak ada yang lebih hebat dariku… ternyata matahari dengan sinarnya itu lebih hebat dariku… Ah… seandainya aku bisa jadi matahari…..

Kun. Jadilah ia matahari….

Dengan kekuatan sinarnya yang amat panas, ia memancarkan kehebatannya. Menghanguskan apa saja yang dilaluinya. Bukan saja bumi yang ia kuasai dengan sinarnya itu, tetapi juga planet-planet lain di tata surya kini tunduk kepadanya. Ia kini yakin bahwa ia makhluk paling hebat…sampai segumpal awan menghalangi sinarnya.

Sang matahari mengerahkan segenap energinya untuk menembus lapisan awan yang ringan melayang-layang itu. Tetapi sang awan sama sekali tidak bergeming. Sang awan tetap dalam kelembutannya yang misterius menghalangi sinar matahari menyinari bumi. Sang matahari tak berdaya lagi dan terpaksa harus mengakui kenyataan bahwa awan lebih hebat darinya… iapun ingin jadi awan.

Maka jadilah ia awan. Dengan senyum kepuasan ia melayang-layang bebas diudara menghalangi sinar matahari dengan kelembutannya. Iapun boleh bangga bahwa ia semakin lama semakin besar karena banyak awan-awan lain yang bergabung dengannya membentuk lapisan awan yang sangat besar dan tebal. Kemudian, setelah semakin besar dan menghitam, sang awan menumpahkan isi yang dikandungnya ke bumi. Ia mencurahkan dirinya menjadi air hujan yang amat lebat. Ia sirami seluruh permukaan bumi dengan segenap kekuatannya. Air hujan itu kemudian bergabung kembali dalam suatu aliran yang sangat deras, menjadi air bah. Ia hanyutkan setiap yang dilaluinya, apatah itu pohon, rumah bahkan orok yang sedang dimandikan di sisi sebuah sungai. (Sungai itu kemudian jadi sungai Bahorok ? air bah menghanyutkan orok ?). Pokoknya ia menghanyutkan apapun…. Kecuali sebuah batu gunung yang amat besar di sebuah sungai…..

Seluruh kekuatan alirannya ia hempaskan untuk menghanyutkan batu itu, tetapi sia-sia saja usahanya. Batu gunung itu bergemingpun tidak. Ia tetap nagen, ajeg dan kukuh pada posisinya. Bahkan sampai akhir tenaga yang dimiliki habis, batu gunung itu tak pernah sedikitpun terpengaaruh kekuatannya. Sang awan yang kemudian menjadi hujan dan air bah pun menyerah dan mengakui batu itu lebih hebat darinya…

Kalau begitu lebih baik aku menjadi batu gunung, karena lebih hebat dan perkasa….

Oke. Jadilah ia Batu Gunung yang besaaar. Dengan congkak ia berdiri  menantang. Tidak ada kekuatan seperti kekuatan yang ia miliki. Sinar matahari tidak memberikan pengaruh apapun padanya, malah panasnya ia serap sebagai pelengkap kehebatannya. Air bah juga tidak mampu menggeser posisinya. Akhir kata kini ia benar-benar yakin akan dirinya yang paling hebat di dunia ini….sampai kemudian datanglah seorang Tukang Batu…….

Anda lihat, betapa kenyataan menunjukkan bahwa boleh jadi kita tidak suka dengan pekerjaan kita saat ini. Tidak cukup puas dengan penghasilan kita sekarang dan benci setengah mati terhadap nasib yang menimpa kita, namun jika kita terima dengan penuh kesadaran, Allah akan menunjukkan yang terbaik untuk kita.

Saya tidak mengajak anda untuk jumud dan tidak mau berusaha untuk maju dan lebih baik, saya hanya ingin kita menyadari bahwa semua proses usaha yang kita lakukan hendaknya hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT. Sebagai penentu kebijakan akhir. Allah SWT. tahu mana yang lebih baik untuk kita. Karena …“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)

Walaupun secara khusus ayat ini berkenaan dengan kewajiban berperang di jalan Allah, namun mengingat kaidah ushulfiqh bahwa  “Al-‘ibrah bi’umuumillafdzi, laa bikhusushissabab” maka potongan ayat ini dapat diterapkan dalam hal apapun menyangkut kehidupan ini..

Cerita di atas menyangkut kedudukan. Ada banyak hal lain yang juga bisa dijadikan contoh di kehidupan ini. Misalnya, ibu-ibu amat jijik dengan yang namanya cacing, namun kini sudah cukup banyak yang tahu bahwa beberapa jenis cacing merupakan campuran yang amat baik untuk kosmetika yang sangat disukai ibu-ibu. Malah yang namanya cacing kalung merupakan obat yang amat mujarab untuk sakit types atau gejala types.

Wallahu a’lam.

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Advertisements

Pergi Haji dengan Uang Rokok

June 19, 2009

“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. (Peringatan Pemerintah).

Masih hangat penyambutan jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Di desa saya ada tradisi untuk mengunjungi jamaah haji yang baru tiba, untuk mendengarkan secara langsung pengalaman mereka ketika beribadah haji, serta mengucapkan selamat datang kembali ke kampung halaman dengan tak kurang suatu apa, selain itu dapat bonus air zam-zam dan kurma. Belum pernah terdengar jamaah haji yang ceritanya seram tentang tanah suci. Semua cerita mereka membangkitkan emosi orang yang belum haji untuk bisa berangkat juga ke tanah suci, dan membangkitkan kenangan indah orang yang sudah pernah pergi haji untuk bisa kembali lagi beribadah di tanah haram. “Kapan saya bisa pergi haji…..”, demikian pikir yang berkunjung.

***

Dalam sebuah sesi ceramahnya, Aa Gym pernah secara berseloroh, tanpa kehilangan keseriusan, menghimbau agar para perokok, jika mau merokok di tempat umum, membawa plastik yang besar untuk menutup kepalanya, agar asap rokoknya  tidak terkena orang lain.

Himbauan semacam itu mungkin seperti bercanda dan  dianggap angin lalu bagi sebagian orang, namun bagi saya pribadi, apa yang dikatakan Aa Gym itu amat sangat sarat makna, karena rokok dan perokok merepresentasikan banyak hal dalam Islam. Entah itu yang disebutkan dalam Al-Quran ataupun banyak hal yang disebutkan dalam Sunnah.

Hampir seluruh kasus kecanduan rokok adalah “penyakit keturunan”. Seperti layaknya penyakit keturunan, adakalanya orang tua tidak menurunkan penyakitnya kepada anaknya, namun lebih sering yang menurunkan penyalit keturunan itu kepada anaknya. Artinya dalam hal ini adalah, orang tua yang perokok tidak dapat berharap banyak anaknya tidak kecanduan rokok.

Maka setiap orang tua dan calon orang tua berkepentingan untuk ikut serta dalam kampanye anti rokok demi mempersiapkan generasi muda yang lebih sehat dan bebas mulut berbau asbak.

Kandungan Rokok

Rokok adalah satu-satunya produk di dunia yang mengandung hampir semua jenis racun dan zat kimia berbahaya. Berpuluh jenis racun dan zat kimia berbahaya ada dalam rokok, semisal ; Carbon Monooxida, Carbon Dioxida, Timbal, Arsenik, Nicotine, Tar, dlsbg.

Kalau anda ingin keterangan yang lengkap tentang rokok, datanglah ke Palang Merah Indonesia, Puskesmas, Rumah Sakit dan banyak tempat lagi yang akan memberikan keterangan dengan cuma-cuma.

Dengan demikian banyaknya kandungan zat berbahaya dalam rokok, maka saya pikir tidak terlalu salah bila ayat 6 Surat At-Tahriem dalam Al-Quran ; “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…, juga ditujuan untuk hal yang satu ini, meskipun agak diluar konteks ayat.

Keuntungan Merokok

Saya tidak menutup mata, bahwa komoditas yang satu ini diminati banyak orang karena memberi keuntunggan bagi banyak pihak; pemerintah (cukai), masyarakat (penyerapan tenaga kerja), produsen, agen, penjual, bahkan pecandunya. Masing-masing punya sisi cerita yang berbeda dalam keterlibatannya, namun dalam lingkaran yang sama tentang air seni setan ini.

Maka agar cerita tentang rokok ini tidak terlalu tegang, saya akan mengutip tiga keuntungan merokok menurut Alm. Ayah dari isteri saya ;

1.  Rumahnya tidak akan dimasuki maling

Sebab tiap kali maling mau masuk, yang di dalam batuk, ohok..ohok… Si maling jadi mengurungkan niatnya untuk masuk, karena dia pikir yang punya rumah belum tidur. Biasanya maling menunggu yang punya rumah tidur baru masuk.

2.  Kain sarungnya selalu baru

Sebab tiap kali pakai sarung lalu merokok, bunga apinya kena kain, bolong. Kain bolong tidak sah untuk shalat, jadi beli lagi kain baru. Begitu terus. Jadi kain sarungnya baru terus.

3. Rambutnya tidak akan beruban

Soalnya, rambutnya belum beruban, ajal keburu datang. 🙂

Kerugian Merokok

Masih menurut ayah mertua saya (yang ini serius);

Pertama, Dokter dan tenaga kesehatan manapun akan mengatakan bahwa rokok sangat merugikan kesehatan. Itu juga diakui pemerintah dengan kewajiban mencantumkan kalimat : “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin” di setiap bungkus rokok kepada produsennya.

Jadi bagi pecandu rokok, bersiaplah, mungkin suatu saat ia akan lebih banyak bercinta dengan rokok daripada dengan istrinya karena impotensi. Lagi pula para istri akan malas bercinta dengan suami yang mulutnya bau asbak. Begitupun sebaliknya, suami enggan dekat dengan istrinya yang ngebul terusss.

Kedua, Dari segi agama hukumnya paling tidak makruh. Makruh secara harfiah artinya dibenci. Dibenci oleh manusia dan dibenci oleh Allah. Jika satu batang rokok satu kali dibenci, maka jika sehari sepuluh batang rokok,  maka seorang perokok dibenci sepuluh kali sehari oleh Allah dan manusia. Dibenci pacar sehari satu kali saja susahnya bukan main, ini dibenci Allah sepuluh kali sehari, coba bayangkan susahnya. Itu jika hitungan perbatang. Bagaimana jika hitungannya dibenci Allah dan manusia setiap hisapan dan hembusan, hitung sendiri jumlahnya.

Kata siapa gitu, sebetulnya rokok tidak berbahaya kalau tidak ada korek apinya. 🙂

Narkoba Berawal Dari Rokok

Pada banyak kasus kecanduan narkoba, terutama jenis ganja, yang saya ketahui, awalnya adalah kecanduan pada rokok. Karena ingin rokoknya lebih mantap atau alasan apapun, maka dicobalah “rokok lintingan” alias “nyimeng”. Jadi layak juga jika “GRANAT, Gerakan Nasional Anti Madat” mulai melirik jenis madat yang satu ini.

Bahaya Bagi Perokok Pasif

Perokok pasif adalah orang yang turut menghisap asap rokok dari orang yang merokok. Menurut para ahli kesehatan, perokok pasif menanggung bahaya yang amat lebih besar ketimbang penghisapnya. Ini berarti bahwa seorang yang menghisap rokok di dekat orang lain, maka ia telah berperan besar dalam menjerumuskan orang lain, bisa saja itu adalah keluarga terdekat yang dicintainya, ke dalam bahaya. Itu sebabnya jauh-jauh hari ketika “Rasulullah ditanya; apakah sifat seorang muslim yang paling baik, beliau menjawab: seseorang  yang menyelamatkan muslim lainnya dari lisannya dan perbuatan tangannya”. (H.R. Bukhari & Muslim, dari Abdullah bin Amr bin Ash)

Kita ta’wil-kan saja lisan sebagi penikmat rokok dan tangan yang memegangnya.

Hukum Merokok Dalam Islam

Sejak dulu hingga kini, apabila anda bertanya hukum merokok, maka anda akan mendapatkan jawaban makruh. Titik. Makruh itu jika ditinggalkan mendapat pahala, jika dilakukan tidak berdosa, tetapi dibenci.

Bagi saya sekarang rasanya itu tidak cukup. Dengan semakin banyaknya bahaya rokok yang dapat diketahui secara umum, mestinya hukum merokok ditingkatkan seiring peningkatan bahaya yang diketahui timbul darinya. Jika merokok di area publik diyakini mengancam kesehatan banyak orang, terutama perokok pasif, maka saya usulkan lewat tulisan ini agar MUI mengeluarkan fatwa haram merokok di tempat umum dan tempat tertentu, seperti di Angkot, Bis, RS, Sekolah, Kantor-kantor dsb.

***

Jika Anda setuju dengan apa yang saya tulis ini, alhamdulillah. Namun jika apa yang saya sampaikan ini tidak pembaca setujui, itu sepenuhnya hak anda yang layak saya hormati, namun paling tidak banyak orang yakin bahwa merokok termasuk tindakan tabziir, “dan janganlah bertindak mubazzir, karena sesunguhnya orang-orang yang berlaku mubazzir itu adalah saudara-saudara setan. Dan setan itu amat ingkar kepada Tuhannya.

(Q.S. Al-Israa : 26-27)

***

Kita sambung kembali ke awal tulisan. Jika Anda perokok dan dengan tulisan ini tergugah untuk berhenti, maka uang rokok Anda bisa untuk pergi haji. Begini ngitung-nya ;

Jika sehari anda habiskan sebungkus rokok, harganya katakanlah Rp. 5.000,- Jadi jika uang rokok dikumpulkan, dalam sebulan terkumpul kira-kira Rp. 150.000,- Dalam setahun terkumpul kira-kira Rp. 150.000 x 12 bulan = Rp. 1.800.000. Dalam Sepuluh tahun menjadi Rp. 18.000.000,- dan dalam 20 tahun menjadi 36.000.000,- (cukup untuk BPH, kurang-kurang dikit sih bisa cari tambahan).

Jika umur Anda sekarang 30 atau 35 tahun, maka anda bisa pergi haji dalam umur 50 atau 55 tahun. Umur 50 atau 55 adalah umur pada umumnya orang Indonesia pergi haji. Jangan bilang hal ini mustahil sebelum anda mencobanya, karena tidak ada yang mustahil jika Allah menghendaki. Jadi?? Mau pergi Haji?? Saya pribadi tidak bisa pergi haji dengan uang rokok karena saya tidak merokok.

Wallahu a’lam.

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Semangat Hijrah VS F B I

June 13, 2009

Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah SAW. bersabda : ”Tidak ada Hijrah selepas Fathu Makkah, yang masih ada ialah niat dan jihad. Apabila kamu diminta pergi berjihad, maka lakukanlah”.

(HR. Bukhari – Muslim).

Ketika tulisan ini sampai ke tangan pembaca, tahun baru Hijrah telah berjalan 13 hari. Maka menyambung tulisan yang lalu, saya ingin ikut berpartisipasi di sekitar wacana mengenai tahun baru Islam ini.

Penanggalan Islam dibuat bukanlah karena kebetulan, latah atau ikut-ikutan umat lain yang telah terlebih dahulu memiliki sistem penanggalan, melainkan dengan tujuan yang besar yang ingin dicapai para pencetus ide di masa Khalifah Umar Bin Khattab. Khalifah Umar Bin Khattab-lah yang membidani sistem Kalender Islam dengan momen Hijrah sebagai titik awal tahun baru. Pemilihan momen Hijrah dan bukan tanggal kelahiran Nabi sebagai tahun baru mengguratkan suatu kepastian dan keyakinan serta tekad bahwa Hijrahlah yang merupakan api semangat titik balik untuk merubah kelemahan dan ketertindasan menjadi kekuatan dan kejayaan.

Sebab, meskipun hijrah secara fisik tidak ada lagi, namun hijrah secara prinsip dapat terus hidup dan selayaknya tetap dihidupkan dalam masyarakat muslim dalam bentuk tekad dan semangat serta keikhlasan untuk berjihad dalam upaya menegakkan kalimat Allah SWT..

Mengingat Sabda Rasulullah SAW. di atas, ”Tidak ada lagi Hijrah selepas pembebasan Kota Mekkah, yang masih ada ialah niat dan jihad. Apabila kamu diminta pergi berjihad, maka lakukanlah”. Maka niat dan jihad adalah dua institusi penting yang menopang tegaknya Islam. Niat mewakili tekad dan semangat untuk mencapai suatu tujuan dan cita-cita mulia.

Segala hal baik dan utama dalam Islam mestilah diawali dengan niat yang benar pula. Niat yang baik dan benar akan melahirkan semangat dalam merengkuh segala yang diniatkan. Ia adalah tekad yang kokoh yang menjadi landasan dari segala aktivitas seorang muslim. Setelah tekadnya kokoh, barulah kemudian ia mengerahkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menggapai tujuan mulia tersebut dalam kerangka jihaad fii sabiilillaah.

Niat bukanlah sekedar bisikan hati yang kosong dari upaya dan usaha. Sebab menurut pengertiannya dalam bahasa arab, niat tidaklah dikatakan niat, kehendak ataupun keinginan jika tidak diiringi upaya nyata untuk terwujudnya niat tersebut.

Itu sebabnya Rasulullah SAW. mensejajarkan niat dan jihad dalam satu kesatuan yang utuh yang satu sama lain tidak layak dipisahkan, dalam wacana hijrah sekalipun.

Hijrah kini bermakna jauh lebih  luas dibanding ketika dahulu Rasulullah SAW dan para sahabatnya hijrah ke Yatsrib (Madinah)

Hijrah kini bisa berbentuk apapun dalam upaya penegakan dien Allah bagi tiap-tiap muslim. Ia dapat berbentuk peninggalan terhadap kungkungan kebodohan dengan terus belajar tanpa henti, bisa berwujud upaya dan kerja halal untuk mengeliminir kefakiran dan kemiskinan, ia dapat berupa kesungguhan untuk meninggalkan pola hidup yang tidak Islami dan terutama Hijrah dari akhlaq yang buruk dan jahat menuju akhlaq agung, akhlaqulkarimah, yang dicontohkan Rasulullah SAW. serta Hijrah meninggalkan segala macam bentuk kekafiran dan kemusyrikan menuju tauhid yang murni kepada Allah SWT.

Maka hijrah masa kini kemudian memerlukan dua hal pokok yang disebutkan Rasulullah SAW. : yaitu niat dan tekad yang diikuti semangat yang membara dalam upaya pencapaiannya, dan kedua, jihad dan kesungguhan untuk melaksanakan semua prosedur dan tindakan yang diperlukan.

Jihad di sini, tidaklah melulu mengangkat senjata melawan musuh di medan tempur, seperti yang diuraikan dalam MADANI edisi 188 bahwa jihad adalah ”pengerahan segenap kemampuan seorang mukmin dengan segala kesulitan dan pengorbanan dengan menghadapi berbagai ujian untuk mencapai tujuan dengan semata-mata karena Allah SWT.”.

Jihad dalam rangka hijrah, yang ditopang niat dan semangat untuk mewujudkannya telah merupakan dua hal yang tidak dapat ditawar lagi. Kesungguhan secara maksimal untuk meninggalkan segala bentuk kekafiran dan kebejatan moral menjadi suatu keniscayaan.

Di Amerika Serikat, semangat hijrah dan jihad di jalan Allah akan merupakan suatu tindakan yang melahirkan pertanyaan dan interogasi dari FBI (Federal Bureau Investigation/Biro Penyelidik Federal). Tidak mengapa, karena itu adalah resiko dari sebuah perjuangan menuju yang lebih baik, seperti dahulu Rasulullah SAW. dihadapkan pada penentangan kafir Quraisy dan sekutunya.

Di Indonesia, semangat hijrah untuk bersungguh-sungguh meninggalkan segala macam maksiat dan dekadensi moral juga harus berhadapan dengan FBI (Fans Berat Inul). Bahkan pada kenyataannya kemudian, suara para pembela (maaf) bokong terdengar jauh lebih keras dari pada pendukung kehormatan wanita.

***

Hijrah Menuju Keutamaan Akhlaq

Seperti banyak dikatakan para da’i, bahwa krisis morallah yang meluluhlantakkan bangsa ini, maka dalam lebarnya jarak antara harapan dan kenyataan saya mengingatkan kembali kepada kita, bahwa keutamaan akhlaq lah yang menjadi tujuan utama kerasulan Muhammad SAW., seperti sabda beliau: ”Sesungguhnya aku dibangkitakan untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia”.

Seperti apakah akhlaq yang mulia itu ? Jawabannya ada dalam perilaku Rasulullah SAW.. Bahkan Allah SWT. sendiri yang yang menegaskan bahwa contoh akhlaq dan perilaku hidup yang benar yang kita harus hijrah ke arah itu ada pada Rasulullah SAW..

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”. (QS. Al-Ahzab : 21)

”Dan, sesungguhnya kamu (hai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam : 4)

Keutamaan Rasulullah juga banyak diakui para pencari kebenaran non muslim, yang banyak dikutip oleh Ahmed Deedat, dalam bukunya The Choice atau Muhammad the Greatest, seperti Thomas Carlyle, Lamartine, Jules Masserman atau Michael H. Hart.

Karena itu maka hijrah harus dimulai dari diri-diri pribadi muslim menuju keutamaan akhlaq, yang merupakan kunci bahagia bagi pemecahan berbagai persoalan besar di sekitar kita.

Dan pada akhirnya, hijrah terbesar adalah semangat dalam niat dan kesungguhan dalam tekad dan upaya  untuk menegakkan kalimat Tauhid, seperti perkataan Nabi Ibrahim a.s. yang direkam Al-Quran :

”Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : ”Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS. Mumtahanah : 4)

Nabi Ibrahim a.s. telah menghadapi dan menjalani resiko dalam niat dan jihad. Nabi Muhammad SAW. telah menghadapi dan menjalani resiko dalam niat dan jihad. Bagaimana dengan kita?  Sudahkah semangat hijrah membawa kita pada niat dan jihad untuk keluar dari ketertindasan dan perbudakan nafsu ammarah?

Wallahu a’lam

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Mencintai Kematian

June 13, 2009

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.

(QS. Ali Imran : 169)

Salah satu fenomena yang meresahkan Zionis Israel pada khususnya dan musuh-musuh Islam pada umumnya, yang kini telah menjadi semacam tren jihad dengan senjata adalah keberanian para pemuda Islam di Timur Tengah khususnya untuk menjemput syahid, mati di medan laga, namun dengan membawa pula lebih banyak musuh untuk ikut mati dengan meledakkan diri di tengah musuh. Media Massa sekuler biasa menyebutnya dengan “Bom Bunuh Diri”.

Fenomena “Bom Bunuh Diri” amatlah menarik. Menarik karena metode perjuangan seperti ini beresiko tertinggi, yaitu kematian dan terhitung baru, mungkin diilhami oleh para penerbang jepang di masa Perang Dunia Kedua, dengan keberanian penuh mereka ber-kamikaze menab-rakkan pesawat tempur mereka ke obyek-obyek vital musuh. Juga amat menarik karena di saat ketika demikian banyak orang amat ketakutan bila memperbincangkan atau menghadapi maut, para syuhada ”Bom Bunuh Diri” justeru menjemput maut dengan amat sukacita dan penuh kebesaran jiwa.

Namun, sesungguhnya istilah “Bom Bunuh Diri” tidaklah terlalu tepat, karena istilah ini muncul bukan dari para pelakunya. Para Pelaku “Bom Bunuh Diri” dan para pendukung jihad pada umumnya yakin bahwa yang demikian itu adalah salah satu cara perjuangan untuk menghancurkan Zionis Israel dan para kolaborator dan sponsornya, karena itu sebutannya yang lebih tepat di kalangan mereka adalah “Bom Syahid”. Artinya dengan cara itu mereka yakin bahwa mereka mati dalam upaya Jihaad Fii Sabiilillaah, memerangi musuh Allah yang menindas dan memerangi kaum muslimin. Maka jika ajal menjemput, mereka Mati Syahid. Juga karena istilah Bom Bunuh Diri mengesankan bahwa mereka membunuh diri sendiri dan muslim manapun semestinya mafhum bahwa bunuh diri adalah perbuatan haram yang dilarang dengan tegas dalam  Al-Quran;

“Dan janganlah kamu bunuh dirimu, sesungguhnya Allah amat sayang kepadamu”.( QS An-Nisaa : 29)

Tentang Kematian

Kematian adalah sunnatullah yang merefleksikan kenyataan bahwa sebagai makhluk, kita tidak bisa sama dengan Pencipta. Adanya kematian disatu sisi mencerminkan adanya kehidupan di sisi lain. Ketika kita menyadari bahwa setiap makhluk pada akhirnya akan mati, haruslah disadari pula bahwa ada dzat yang maha hidup yang tidak akan pernah mati yang terus memberi kehidupan, yaitu Allah swt. Karena adanya kematian sudah merupakan ketetapan dari Allah swt. Dan kita tidak dapat menolaknya. “Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati…”(QS. Ali Imran : 185),  maka kini tinggallah bagaimana cara kita untuk menghadapinya.

Tiap orang mesti sadar, bahwa ia akan mati. Itu sudah satu kepastian. Kapan, dimana, dan bagaimana hanyalah persoalan waktu, tempat dan cara. Masalahnya  adalah bahwa setiap kita tidak ada yang tahu kapan kita akan menghadapi kematian. Dimana maut akan menjemput kita, dan bagaimana kita mati. Itu sebabnya, karena kita tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana kita mati, maka kita harus senantiasa siap untuk itu, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun. Ini kesadaran pertama.

Sesungguhnya, kesadaran ini saja cukup untuk membuat seorang muslim senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah swt. Bila ia sadar bahwa ia akan mati namun tidak tahu kapan dan dimana maut menjemput, maka tentu ia akan berusaha tetap dalam kondisi taqwa, sehingga tatkala ajal datang ia akan termasuk orang yang cerita hidupnya di dunia tamat dengan happy ending (khusnul khatimah );

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (QS. Ali Imran : 102).

Muslim artinya berserah diri kepada Allah, maka jika seseorang mati ketika ia bergantung atau berserah diri kepada selain Allah, dapatkah ia disebut muslim?

Kesadaran kedua adalah menyangkut keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Sebagai seorang mu’min, kita tidak akan beriman secara benar dan lengkap jika tidak memiliki keyakinan bahwa hari akhir, hari kiamat akan tiba dan tiap-tiap diri akan menerima akibat dari semua amal perbuatannya di dunia pada hari pembalasan. Orang mukmin yang shaleh akan mendapat keni’matan surga, orang mukmin yang kurang shaleh akan terlebih dahulu lama mendapat siksa neraka, dan orang-orang yang terjerumus dalam kekafiran akan kekal di dalam pedihnya adzab dan siksa neraka.

“…Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(QS. Ali Imran : 185)

Keyakinan tentang adanya akhirat ini mestinya menambah semangat seorang muslim untuk terus-menerus meningkatkan kadar keimanan dan etos kerja/amal shalehnya. Jika seorang mukmin tidak memiliki keyakinan adanya akhirat dan hari pembalasan, rasanya amat sulit untuk meminta ia meningkatkan taqwanya. Kesadaran seseorang akan tibanya hari pembalasan akan memacunya untuk selalu berusaha sekuat daya menegakkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan.

Indahnya Mati Syahid

Kesadaran tertinggi menyangkut kematian adalah keyakinan bahwa cara mati yang paling indah dan prospeknya bagus di akhirat adalah mati syahid, meskipun tubuh mungkin hancur berderai dan tak dapat dikenal lagi sebagai konsekuensinya.

Kesadaran macam inilah yang memicu semangat para martir Bom Syahid untuk tanpa ragu menjalani perjuangan membela Islam melawan Zionis Israel dan para sponsornya dengan resiko kematian yang pasti, namun juga dengan imbalan yang pasti pula yaitu surga jannatun na’im dan ia akan kekal di sisi Allah SWT.;

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki”. (QS. Ali Imran : 169).

Bagi kita di Indonesia, tidak perlu khawatir tidak dapat kesempatan mati syahid, mengingat bahwa orang yang mati syahid adalah orang yang berjihad fii sabiilillaah. Dan seperti sering kita bahas, bahwa jihad itu tidak melulu dengan menjadi satria di medan perang, cukup dengan sungguh-sungguh mengerahkan segenap potensi yang dimiliki untuk mencapai suatu tujuan dalam rangka menegakkan dien al-Islam.

Jika tiga kesadaran tentang kematian ini dapat menyatu dalam diri kita ; kesadaran bahwa tiap yang berjiwa pasti mati, kesadaran adanya kehidupan setelah kematian untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di dunia, dan kesadaran serta keyakinan bahwa mati syahid adalah cara kematian yang paling tinggi nilainya. Maka tentu kita tidak akan lagi takut mati, yang kata Rasulullah SAW. merupakan salah satu faktor kemunduran umat Islam, disamping hubbuddunya/cinta dunia. Sebaliknya kita akan menjemput kematian dengan bekal taqwa yang selalu siap dan pada akhirnya kita akan mencintai kematian sebagai suatu jalan untuk mendapat ridha Allah SWT.

Wallahu’a’lam.

Jakarta, Desember 2005

Ahmad Sopiani

REPRESENTASI SYUKUR

June 13, 2009

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur “(Q.S. As-Sajdah : 9)

Bahkan artis yang paling glamour pun dapat dengan mudah mengucapkan Syukur Alhamdulillah. Kendatipun ia  mengucapkan itu dengan fashion yang luar biasa minim dan dengan gaya hidup yang luar biasa western. Bagi yang nge-fans sama itu artis, ia akan tambah kagum karena artis kesayangannya tidak lupa Allah dan terkesan religius. Bagi yang mengerti ma’na Alhamdulillaah dalam kehidupan masyarakat muslim, akan mendapat kesan itu artis mencampurkan yang haq dengan yang bathil. Alhamdulillah itu haq,  sementara pakaian yang luar biasa minim adalah bathil. Cuma susahnya kesan yang terakhir ini kalau diomongin dibilang melanggar Hak Asasi Manusia alias HAM, kendati rasanya banyak juga pembela HAM sama sekali tidak mengerti Kewajiban Asasi Manusia (KAM).

Kata Alhamdulillaah adalah aktualisasi awal dari seseorang untuk menyatakan rasa syukurnya dari apa yang dianugerahkan oleh Allah atas dirinya. Dalam kasus artis tadi dapat kita pahami bahwa ia masih punya sedikit keyakinan bahwa juri terakhir untuk penghargaan yang diterimanya atau untuk segala rezeki yang dikantonginya adalah Allah SWT., terlepas dari kenyataan bahwa ia tidak sepenuhnya mema’nai kata Alhamdulillah dengan  pengertian yang utuh.

Sebagian terbesar kita mungkin baru teringat untuk mengucap Alhamdulillaah manakala datang kepada kita suatu ni’mat yang langsung terasa khasiatnya, sementara ni’mat yang inklusif ada pada kita sebagai muslim dan manusia seringkali terlupakan dan baru teringat kembali  ketika ada yang mengingatkan, dalam pengajian misalnya.

Ketika saya katakan di atas bahwa kata Alhamdulillaah adalah aktualisasi awal rasa syukur maka mestinya ada aktualisasi lain sebagai kelanjutan dari sekedar mengucap Alhamdulillaah tersebut. Kelanjutannya akan kita presentasikan dengan mengenal ma’na Alhamdulillaah secara lebih mendalam.

Kata Alhamdulillaah atau lengkapnya Alhamdulillaahi Rabbil’aalamiin, adalah ayat kedua Surat Al-Faatihah yang biasa diterjemahkan dengan : “Segala puji bagi Allah, Tuhan (rabb) semesta alam“.

***

Hamd artinya “pujian”. Sesuatu yang dipuji sehingga ia atau perbuatannya laik mendapat pujian mestilah memenuhi tiga hal; pertama, ia haruslah indah (baik), kedua, ia mesti berbuat secara sadar dan ketiga tidak terpaksa atau dipaksa. Penambahan al sebelum hamd berarti mencakup keseluruhan, bermakna segala. Al seperti ini disebut al lil-istighraaq.

Jika kita menggali Al-quran, akan kita dapati banyak ayat yang akan membawa kita pada kesimpulan bahwa Allah lah yang dengan sempurna memenuhi ketiga hal di atas;

“Dan itulah Dia Allah, Tuhan Pemeliharamu, pencipta segala sesuatu” (Ghaafir : 62).

“Dialah yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya” (As-Sajdah : 7).

“Mahasuci Allah, Dialah yang Mahaesa lagi Mahamampu (menjadi) Pemaksa Yang mengalahkan” (Az-Zumar : 4)

Karena itu maka segala perbuatan-Nya terpuji dan setiap yang terpuji merupakan perbuatan-Nya juga, sehingga “Segala puji tertuju dan hanya ditujukan pada Allah”. Alhamdu lillaah. Jika kita memuji seseorang karena kebaikannya atau kecantikannya, maka pujian itu pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah karena kebaikan dan kecantikan itu bersumber dari-Nya.

Maka tatkala mulut kita mengucap Alhamdu lillaah, semestinya hati kita turut memahatkan suatu keyakinan bahwa segala kebaikan yang kita terima pada hakikatnya adalah karunia Allah yang patut kita syukuri dengan cara mendayagunakan setiap hal yang kita terima sesuai dengan keinginan pemberinya. Ketika kita telah memiliki keyakinan bahwa segala hal yang ada pada kita adalah karunia Allah, maka semestinya kita mencari tahu apa yang diinginkan Allah untuk kita perbuat sehubungan dengan karunia-Nya itu, lalu berusaha keras untuk sejalan dengan kehendak-Nya. Dan sepantasnya kita malu jika apa yang telah diberikan Allah tidak kita gunakan sesuai tujuan yang digariskan oleh-Nya. Jika ada yang tidak mau mengikuti aturan Allah, silahkan, tetapi tolong jangan melakukan itu di bumi milik-Nya.

***

Kata Rabb memiliki ma’na antara lain ; pemelihara, pendidik, pencipta. Pengertian demikian memposisikan Allah sebagai satu-satunya dzat yang eksistensinya amat berkaitan dengan kelangsungan hidup seluruh alam semesta dan jagat raya. Ketika kata Allah menyiratkan suatu gambaran keseluruhan sifat-sifat Tuhan dalam benak kita, baik yang berkaitan dengan dzatnya maupun dengan makhluk-makhluknya (sifat perbuatan), maka kata rabb hanya menggambarkan Tuhan dengan segala sifat-sifat-Nya yang berkaitan dengan makhluk-Nya.

Mema’nai rabb dengan pemelihara artinya kita meyakini bahwa tanpa pemeliharaan dari Allah SWT, alam semesta ini tidaklah akan seteratur seperti yang kita saksikan. Kehidupan manusia akan penuh dengan kekacauan dan huru-hara yang memporak-porandakan sendi-sendi kemanusiaan, dan tugas pemelihara ini tidak pernah dan tidak akan pernah dapat dilakukan oleh selain-Nya. Diutusnya para rasul ke tengah kehidupan manusia ini juga adalah pemeliharaan dari Allah agar manusia tidak terlalu jauh menyimpang dari koridor yang digariskan oleh-Nya, dan agar manusia tetap eksis dengan nilai kemanusiaan yang seharusnya ada dalam dirinya.

Allah mendidik manusia secara khusus dan makhluknya secara umum agar kita senantiasa dapat dapat mengaktualisasikan diri di alam ini dengan nilai-nilai kehidupan yang selaras dan seimbang serta timbulnya kesadaran kehambaan secara penuh yang akan membawa manusia kepada nilai tertinggi kemanusiaannya, yaitu kesadaran setiap individu sebagai hamba di hadapan rabb-Nya.

Allah adalah rabb sang pencipta, dan ini berarti tidak ada manusia yang dapat mengklaim dengan bangga bahwa ia telah menciptakan sesuatu tanpa merusak tauhidnya. Setiap manusia hendaknya sadar bahwa pencipta itu hanya Allah. Apapun yang ia buat, betapapun bagusnya itu, hanya merupakan modifikasi dari apa yang telah Allah ciptakan. Dan modifikasi yang ia lakukan itupun menggunakan sarana yang bersumber dari Allah SWT. Ketika kita menggunakan anggota tubuh kita untuk membuat sesuatu, maka kita harus ingat bahwa anggota tubuh adalah karunia Allah. Tatkala kita mengerahkan daya akal kita untuk merekayasa sesuatu, maka akal yang kita gunakan itu adalah juga ciptaan Allah.

Kesadaran yang tinggi tentang ma’na rabb ini akan membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa Allah adalah satu-satunya dzat yang layak kita sembah tanpa perlu Allah repot-repot memerintahkan kita untuk menyembah-Nya. Dari sinilah akan lahir kesadaran akan adanya Tauhid Rububiyyah. Tauhid yang didasarkan pada kesadaran bahwa Allah adalah pencipta, pendidik dan pemelihara kita.

Dengan keyakinan dan kesadaran seperti itu akan timbul pula suatu kesadaran bahwa kita mesti mensyukuri demikian banyak karunia yang telah dilimpahkan Allah atas kita. Bersyukur artinya menggunakan segala sesuatu yang dianugerahkan Allah sesuai dengan tujuan penciptaan anugerah itu”. Jika demikian maka tiap-tiap diri mesti tahu dan mencari tahu untuk apa Allah menciptakan dan menganugerahkan sesuatu; untuk apa Allah menciptakan jin dan manusia; untuk apa Allah menganugerahkan mata, telinga, mulut, tubuh, akal dan hati; pencarian kesadaran seperti ini bisa dilakukan dengan menelaah dan merenungi petunjuk dari Allah yang disampaikan lewat rasulnya, dapat pula dicapai dengan perenungan yang mendalam mengenai alam ini. Alam yang makro dalam bentuk jagat raya, atau alam yang mikro dalam bentuk diri manusia.

Hasil tertinggi dari perenungan yang dilakukan akan sampai pada Tauhid Rububiyyah dan representasi pertama yang akan diaktualisasikan adalah ucapan Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Wallahu a’lam.

Jakarta, Desember 2005

Ahmad Sopiani

TATKALA KITA TERHEMPAS

June 13, 2009

”Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat).

Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.

Dan manusia bertanya : ”Mengapa bumi (jadi begini) ?”. (Q.S. Al-Zalzalah :1-3)

“Dan apabila lautan dijadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.

Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.”

(Q.S. Al-Infithaar : 3-5)

Ahad, 14 Dzulqa’dah 1425H, Minggu, 26 Desember 2004M, kita tiba-tiba saja terhenyak, tersentak, terhempas, terharu pilu, duka dan nestapa, bingung bertanya-tanya disusul air mata yang demikian deras mengalir dari detik ke detik. Kering sudah rasanya air mata kita menangisi tragedi yang terjadi, kepiluan yang menimpa, bencana yang melanda, sampai rasanya kita kehilangan kata-kata karena isak tangis yang kian keras. Kehilangan kata-kata karena kita tidak menemukan lagi kata-kata yang dapat menggambarkan nestapa yang mengiris-iris hati kita.

Meski yang terjadi jauh di ujung barat bumi persada tercinta, namun sebagai muslim dan manusia kita seakan ikut terhempas menyaksikan demikian banyak mayat bertaburan, sudah tak terkatakan lagi mirisnya hati dan jiwa kita, melihat demikian banyak anak-anak bergelimpangan kehilangan nyawa, apatah lagi bagi mereka yang benar-benar kehilangan anak-anak dan keluarganya hanya dalam hitungan detik. Pilu dan derita yang kita saksikan dan kita rasakan sudah amat demikian besar sehingga seluruh sisi kemanusiaan kita berguncang amat keras.

Amat sulit kita percaya, bagaimana demikian banyak peradaban, demikian banyak kota dan desa, demikian banyak jiwa-jiwa, tiba-tiba musnah, lenyap, rata dengan tanah. Hanya menyisakan onggokan puing dan mayat-mayat yang bergelimpangan dalam gelap dan kesunyian. Menyisakan tangis yang tiada henti dan duka yang kian mendalam.

Seorang kawan saya yang dari aceh, kehilangan hampir seluruh keluarganya, ia hanya bisa terdiam, menangis dan mengadu pada Allah tentang apa yang tengah terjadi. Kawan lain yang juga dari aceh bahkan belum bisa saya hubungi. Namun melihat Meulaboh, tempat kota kelahirannya yang porak poranda, hanya kuasa Allah jua lah yang dapat menyelamatkan anggota keluarganya.

Duka yang kita rasakan, tangis yang kita tumpahkan, bela sungkawa yang kita sampaikan, do’a-do’a dan harapan yang kita panjatkan, duka, derita dan nestapa yang kita saksikan dan segala macam perasaan, membalut seluruh rasa kemanusiaan kita dan rasa persaudaraan kita, kita sudah tidak dapat lagi membayangkan penderitaan saudara-saudara kita di aceh dan sumatra utara sana.

Semua orang berduka, semua orang meratapi, semua orang menangisi mayat-mayat yang berserakan. Semua orang bertanya apa dan mengapa ini terjadi? Telah terjadi ketentuan Allah atas bumi ini; ”Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.Dan manusia bertanya : ”Mengapa bumi (jadi begini) ?”. (Q.S. Al-Zalzalah :1-3) “Dan apabila lautan dijadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (Q.S. Al-Infithaar : 3-5)

Namun saudaraku, tangis kita tidak akan menghapus derita, duka kita tidak akan menghapus nestapa, pilu kita tidak akan mengubah bencana. Apa yang yang telah terjadi tidak mungkin kita hindari, kini kita menghadapi apa yang tengah terjadi dan mungkin akan terjadi jika kita hanya hanyut dalam kepedihan.

Cukup tangis itu, hapus air mata, singsingkan lengan, sisihkan rejeki yang diberikan Allah kepada kita, cepat, pasti tanpa ragu, sebesar mungkin kemampuan kita, bantu saudara-saudara kita yang dilanda bencana. Tidak ada kata cukup, tidak ada kata terlambat, saat ini juga kita turun harta, ulurkan tangan dan panjatkan do’a untuk memupuk kembali harapan bagi saudara-saudara kita yang tengah berduka, simaklah, pemulihan keadaan disana akan sangat lama dan perlu demikian banyak dana. Stop jajan kita, sumbangkan untuk mereka, stop ”dugem” kita, alihkan untuk membantu mereka. Stop segala macam potensi pemborosan kita, salurkan untuk saudara-saudara kita disana. Jangan ada kata sudah, jangan ada kata cukup, jangan berikan sisa, anggarkanlah secara serius, sesuai keadaan ekonomi kita masing-masing.

Allah Maha melihat isi hati kita dan segala amal kita. Allah-lah yang memberi kita status manusia, jika apa yang telah terjadi tidak mengusik rasa kemanusiaan kita, rasanya amat layak Allah mencabut status kita sebagai manusia.

Jangan takut sumbangsih kita tidak sampai di tujuan, jangan khawatir dana yang kita sisihkan akan disalahgunakan. Ketika kita memberikan kontribusi, titipkanlah itu kepada Allah untuk disampaikan kepada para korban bencana. Insya Allah , Dia akan menyampaikannya untuk mereka.

Apa yang kita berikan untuk para korban, adalah tabungan kita untuk masa depan. Berapapun besarnya yang kita sisihkan untuk disumbangkan, itu adalah investasi kita untuk menuai balasan yang amat besar yang Allah janjikan, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah : 261).

Menolong sesama adalah suatu kewajiban syariat yang tidak dapat kita berlepas tangan karenanya; ”…dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa…” (Q.S. Al-Maidah : 2)

Sebesar apapun yang kita berikan, Allah akan membalasnya; ”…dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”. (Q.S. An-Nisaa : 40). ”Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. (Q.S. Al-Zalzalah :7)

Jadikan petaka ini sebagai sarana jihad kita di jalan Allah, dengan mengerahkan segenap daya yang ada pada kita, saling bahu membahu mengatasi segala kesulitan dan penderitaan yang dialami para korban bencana dengan keimanan yang teguh dan niat ikhlas karena mengharap ridho Allah SWT.; Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. At-Taubah : 20).

Saudara-saudaraku, bencana ini adalah tetap sebuah musibah. Tidak perlu kita menambah penderitaan para korban dengan komentar yang menyudutkan para korban, dengan misalnya mengatakan; ”itulah akibatnya kalau orang aceh sering menjual ganja”, atau ”Ini akibat kesombongan manusia”, atau ”semua terjadi karena terlalu banyak orang yang melakukan dosa”. Itu seluruhnya tergantung pada masing-masing diri yang mengalaminya, tidak perlu kita memberi penilaian atas mereka. Bantu saja mereka, para korban bencana yang kini masih hidup dengan segenap kebersamaan kita dan segala daya yang ada pada kita, jangan sampai kita menambah jumlah yang mati akibat lambatnya uluran tangan dan bantuan dari kita saudaranya sebangsa dan seagama.

Untuk saudara-saudaraku yang tertimpa musibah, kami turut meraskan duka yang amat dalam dengan apa yang telah menimpa. Kendatipun tulisan ini tidak sampai kepada mereka, namun Allah akan menyampaikannya. Bersabarlah, pertolongan Allah pasti akan tiba; ”Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Q.S. Al-Baqarah : 155).

Wallahu a’lam.

Jakarta, Desember 2004

Ahmad Sopiani

PONDASI UTAMA BANGUNAN AMAL

June 13, 2009

“Maha suci Allah yang telah mengisra’kan hambanya pada suatu malam, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah diberkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kekuasaan kami….” (QS.Al-Isra’ :1)

Seringkali kita mendengar atau bahkan mengatakan dengan lidah kita sendiri, betapa niat merupakan pangkal, pondasi, pokok utama dari sebuah amal yang dilakukan anak manusia. Dalam Islam bahkan menjadi standar dasar sah tidaknya suatu amal ibadah, sehingga seringkali sabda Nabi Muhammad SAW. Tentang niat ini dikutip oleh para da’i dan utadz, bahkan dikutip oleh banyak orang yang terhitung biasa-biasa saja dalam percakapan sehari-hari. Dalam dunia “Buru Sergap”, mungkin niat ini setara dengan “Motif”. Ingat! Kejahatan terjadi bukan saja karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan”.

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan bagi tiap-tiap urusan akan didapat apa yang diniatkannya itu”…. (HR. Bukhari & Muslim).

Saya ingin mengajak Anda untuk menyimak sebuah kisah yang sering diceritakan kembali tentang betapa niat dan motivasi melahirkan dua hasil yang berbeda untuk satu amal yang sama.

***

Alkisah pada suatu ketika. Di sebuah negeri, terdapat sekelompok komunitas manusia yang hidup cukup aman, damai dan tenteram dalam suasana yang cukup heterogen anggota masyarakatnya. Rata-rata mereka adalah muslim yang kadar keislaman dan keimanannya beragam.  Ada yang bagus sekali dalam keislaman, ada yang sedang-sedang saja dan tidak sedikit yang kadar keimanannya sangat minim.

Sebagai suatu kewajiban dinas, maka setanpun datang ke negeri tersebut untuk melaksanakan tugasnya. Setelah menimbang dan memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat di negeri tersebut, dengan berpedoman pada “Panduan Dasar Teknik Penyesatan”, setanpun memutuskan untuk memasang strategi dengan mendiami sebuah pohon beringin besar dan sekali-sekali melakukan penampakan. Rupanya dalam analisa setan, penduduk setempat amat suka dengan hal-hal yang berbau klenik, mistik dan magic.

Setan menyebarkan isu dan desas desus – inipun amat disukai oleh penduduk – bahwa pohon beringin tersebut keramat dan angker dan bila mereka menjatuhkan pilihan kepada pohon beringin tersebut untuk dimintai tolong memecahkan masalah mereka, maka mereka akan mudah untuk mendapatkan pertolongan. Awalnya tidak ada yang percaya, hingga kemudian ada yang penasaran dan mencoba meminta, meski rada-rada iseng, agar ia mendapat jodoh minggu ini. Lakadalah…. Ternyata terkabul. Iapun bercerita kepada kawan-kawannya bahwa ia enteng jodoh waktu minta jodoh kepada penunggu pohon beringin besar tersebut. Kawan-kawannya yang mendengarpun jadi penasaran dan ingin mencoba juga.

Hasilnya luar biasa… Banyak sekali orang yang terkabul keinginannya dengan meminta pada penunggu pohon beringin besar tersebut, karena setan yang menunggu di situ mendapat dukungan dana dan sarana tak terbatas dari seluruh kekuatan kerajaan setan untuk kelancaran tugasnya, sehingga tidak perlu lama untuk mengumpulkan demikian banyak orang musyrik di negeri itu. Sukses Besar.

Kenyataan ini mengusik keimanan seorang pemuda. Ia tidak tahan melihat masyarakatnya tenggelam dalam kemusyrikan dengan adanya pohon keramat tersebut. Maka dengan niat dan tekad yang bulat untuk menyelamatkan umat dari lumpur kemusyrikan, suatu malam, dengan kapak terhunus, ia berjalan dengan tagap dan gagah menuju pohon beringin tersebut dengan maksud menebangnya hingga rata dengan tanah.

Tentu saja setan penunggu yang dinas di situ tidak tinggal diam. Ia menghadang di tengah jalan tidak jauh dari pohon itu dan berusaha mearingtangi si pemuda. Maka terjadilah pergulatan sengit antara keduanya. Skor akhirnya 1:0 untuk si pemuda, karena keimanan dan niatnya yang ikhlas karena Allah untuk memberantas kemusyrikan menjadi senjata yang ampuh untuk menaklukkan si setan.

Setanpun mengaku kalah dan mengajak berdamai; “tolong, please, jangan bunuh aku” kata setan, “Aku hanya menjalankan tugasku. Kita berdamai saja. Daripada kau cape-cape menebang pohon sebesar itu, lebih baik kau terima saja tawaranku. Aku akan memberikan sepuluh keping uang emas setiap pagi di bawah bantalmu. Dengan uang itu kau bisa membangun masjid, pesantren dan majlis ta’lim untuk mendidik masyarakatmu agar tidak mudak mudah terpedaya oleh godaanku. Dengan uang emas yang kau terima setiap hari itu, kaupun bisa bersedekah sebanyak yang kau mau kepada fakir miskin, sehingga  mereka tidak lagi meminta kekayaan kepada pohon tempat tinggalku. Bagaimana ? Adilkan tawaranku ?”, tegas si setan.

Setelah mengingat, memperhatikan dan menimbang, akhirnya si pemudapun menerima tawaran damai setan. Maka pulanglah ia. Dan seperti janji setan, keesokan harinya ia mendapati 10 keping uang emas di bawah bantalnya, lalu mulailah ia membangun kompleks ibadah, semacam islamic center gitu, untuk mendidik masyarakatnya agar lebih cerdas, rasional dan mengerti agama.

Setelah sekian lama, uang setan yang datang sudah lebih dari keperluan dan akhirnya iapun merasa tidak masalah jika ia menggunakannya untuk keperluan pribadi. Pada akhirnya iapun menjadi kaya raya dari uang damai setan tersebut, hingga suatu pagi…. Ia tidak lagi mendapati uang emas di bawah bantalnya. Ia pun marah besar karena setan mengingkari janjinya untuk memberi 10 keping uang emas setiap pagi sebagai konpensasi pohon tempat mangkalnya tidak ditebang. Iapun mengasah kembali kapak 212nya dan bertekad bahwa kali ini ia akan benar-benar menebang pohon beringin itu yang, meski tidak seramai sebelum ia mendirikan pesantren dan majlis ta’lim, tetap banyak dikunjungi banyak orang. Malam itu ia berangkat dengan kapak terhunus.

Beberapa meter sebelum ia tiba di pohon itu, sang setan telah menghadap berdiri tegak di jalan di depannya, merintangi maksudnya. Perkelahian sengit kembali terjadi, namun dalam beberapa gebrakan saja si pemuda terbujur tak berdaya dikalahkan si setan. Dengan nafas hampir putus ia bertanya; “Hai Setan ! Dulu aku dengan mudah dapat mengalahkanmu. Mengapa kini dengan mudah aku kau kalahkan ??!

“Karena dahulu kau bermaksud menebangnya dengan niat ikhlas karena Allah untuk memberantas kemusyrikan. Karena itu aku kalah. Adapun kini, kau bermaksud menebangnya karena kau tidak lagi kuberi uang emas seperti yang kujanjikan. Itulah sebabnya kau dengan mudah ku kalahkan karena kini niatmu bukan lagi ikhlas karena Allah”. Sang setan menjelaskan.

Sang setan menang dan tempat tinggalnya makin dikeramatkan serta makin ramai diunjungi orang. Sukses besar.

***

Bulan Rajab banyak dari kita memperingati peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Bagaimana kita menyikapi Isra’ dan Mi’raj, cara Nabi melakukannya, apakah itu lewat mimpi yang benar, ataukah dilakukan oleh rohnya saja, ataukah Nabi melakukannya dengan roh dan jasadnya, masih tetap menjadi suatu polemik yang tak berkesudahan. Maka tergantung kepada niat dan motivasi kita, untuk apa kita memperingatinya ? Apakah niatnya hanya sekadar ikut arus, ataukah berniat karena Allah untuk menyegarkan kembali ingatan kita, betapa Nabi SAW membawa oleh-oleh dan kenang-kenangan yang amat bernilai bagi setiap hamba Tuhan, bagi seorang mu’min, sepulangnya dari Isra’ dan Mi’raj, yaitu Shalat lima waktu. Dengan shalat kita dapat memahami bahwa shalat itulah satu-satunya cara tercepat seorang hamba berdialog langsung dengan Allah tanpa jarak. Dekat sekali. Setiap shalat kita adalah obrolan kita secara langsung dengan Allah SWT. Maka layaklah bahwa shalat itu disebut sebagai Mi’rajul mu’minin”.Jika niat untuk memperingati Isra’ dan Mi’raj ini sudah kita luruskan, maka tentu hasilnya adalah kita akan semakin tekun dalam shalat kita dan semakin dekat dengan Allah SWT. Pada akhirnya kemudian, seluruh pekerjaan dan aktivitas kita diniatkan karena Allah saja sehingga amal apapun akan bernilai ibadah.

Wallahu a’lam.

Jakarta, 21 Agustus 2004

Ahmad Sopiani

Dua Sisi Anggapan

April 2, 2009

DUA SISI ANGGAPAN

 

Oleh : Ahmad Sopiani, S.Ag.

=> ditulis 12 Desember 2005

 

 Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (Q.S. Al-Hujuraat{49} : 12).

 

 

Pada akhirnya sesuatu itu ditentukan oleh hal-hal yang inklusif terdapat pada sesuatu tersebut. Maksud saya adalah bahwa sesuatu hal dikatakan ini atau itu tergantung pada hakikat dan esensi yang ada padanya, bukan pada apa yang dikatakan orang tentangnya., jikapun seorang ahli astronomi yang genius memaparkan suatu teori tentang bintang misalnya, maka segala yang dikatakannya pastilah merupakan penjabaran dari esensi bintang yang menjadi objek teori yang dapat ia ketahui dengan pengamatan dan pengetahuannya, bukan apa yang ingin ia katakan tentang bintang tersebut.

Masalahnya adalah, suatu esensi yang terkandung pada benda atau manusia seringkali terhijab dan tidak muncul ke permukaan, sehingga tidak dapat dikenali dengan baik. Sebaliknya, yang dikenali dan kemudian menjadi aksioma adalah apa yang oleh pihak luar katakan dan anggapkan. Virus misalnya, yang dianggapkan oleh manusia secara umum adalah makhluk invisible yang tidak kasat mata saking kecilnya yang merupakan kata yang identik dengan penyakit dan sumber penderitaan. Namun bagi sekelompok manusia yang lain virus mungkin sama dengan tantangan karir dan bisnis yang amat menggiurkan. Betapa tidak, virus telah melahirkan berbagai proyek penelitian yang memancing kucuran dana tak terbatas dari sponsor bagi penelitinya dan menghasilkan berbagai jenis obat yang dijual dengan harga yang luar biasa mahalnya. Rasanya tidak ada sumber yang mengemukakan bagaimana para virus memandang diri mereka dan berkata : “kami ini hamba Allah juga yang keberadaan dan fungsi kami ya memang seperti ini. Coba hitung, berapa banyak manusia yang meraih sukses karena keberadaan kami. Kalau yang sakit karena kami kan tidak semata-mata salah kami, tetapi faktor manusianya juga, iya nggak?”

Dalam perjalanan hidup meniti hari-hari sering kali kita dihadapkan pada hal-hal yang memancing kita untuk menetapkan suatu anggapan atas sesuatu, entah itu dengan pengetahuan yang cukup tentang sesuatu tersebut atau mungkin hanya sebuah anggapan yang tak berdasar sekalipun.

Ambillah misalnya ketika kita melihat seorang anak kecil, kusam, kusut, kotor, tengah memainkan tambourine di atas bis kota, maka segera saja kita akan menetapkan suatu anggapan atas anak itu, sesuai dengan apa yang terbersit saat itu di benak kita. Di antara kita barangkali akan beranggapan bahwa anak itu adalah anak seorang miskin yang putus sekolah dan bersusah payah mencari setetes uang untuk menyambung kehidupannya. Adapula mungkin yang menganggap anak itu dieksploitasi orang dewasa di sekitarnya untuk mencari uang dengan mengandalkan belas kasih dari orang ramai yang skala belas kasihnya selalu turun naik. Atau bisa saja ada di antara kita yang beranggapan bahwa anak itu cukup tangguh menghadapi kerasnya kehidupan dan memilih hidup mandiri meskipun dengan jalan mengangsurkan bungkus permen atau amplop lusuh bertulisan tangan. Atau mungkin saja di antara kita ada yang beranggapan bahwa negara ini sudah sedemikian bangkrut sehingga anak jalanan kian hari kian bertambah saja dan beragam anggapan lain yang mungkin berbeda pada tiap orang, namun seluruhnya masih dapat dikategorikan sebagai satu sisi anggapan, yaitu sisi luar si anak kecil, kusam, kusut, kotor, yang tengah memainkan tambourine di atas bis kota tadi.

Adakah di antara kita yang mencoba memperkirakan, bagaimana anak pengamen tadi menetapkan suatu anggapan terhadap dirinya sendiri. Menetapkan suatu kepastian keadaan menyangkut dirinya sendiri dan apa yang ia lakukan ?

Anggapan yang pasti sesuai esensinya hanya ada pada tiap-tiap anak seperti itu dan takdir yang menuntunnya, bukan pada para pemerhati sosial yang so’ sosial, padahal sesungguhnya hanya menumpang tenar dengan mengemukakan dan mempublikasikan sebuah anggapan.

Ketika saya menulis tentang pemilihan umum beberapa masa yang lalu, saya dianggap seorang pembaca MADANI musyrik karena katanya esensi demokrasi adalah syirik besar, yang bukan berasal dari Allah dan tidak ada dalam Sunnah ataupun jejak Sahabat. Karena demokrasi berasal dari orang-orang musyrik, ateis-materialis, dan kafir yang ingin menggantikan sistem Islam buatan Allah dengan sistem yang dibuat manusia, atau sesuatu semacam itu. (Saya tersenyum sendiri memikirkan bahwa M. Amien Rais dan Hidayat Nur Wahid dianggap musyrik dengan alasan ini, atau berapa banyak sahabat Nabi angkatan Muawiyah bin Abu Sufyan yang mengganti sistem khilafah dengan sistem kerajaan). Namun itu tidak menjadi beban pikiran bagi saya karena saya punya anggapan bahwa hal itu adalah satu sisi anggapan yang sah-sah saja untuk dikemukan.

Waktu saya menulis sedikit tentang peringatan Isra’ Mi’raj, seorang pembaca MADANI juga mengirimkan e-mail tentang betapa peringatan semacam itu adalah bid’ah produk orang-orang kafir dan ahli kitab, yang jika kita menirunya, maka kita statusnya sama dengan mereka, kira-kira yaa.. kafir itu. Kalau tidak salah pembaca MADANI itu mengemukakan bahwa peringatan semacam itu tidak mempunyai landasan syariah yang mendukungnya, jadi kira-kira katanya bahwa seperti sabda Nabi SAW. : “Siapa yang meniru (perilaku) suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu”.

Jadi saya dianggap kafir karena memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebab peringatan semacam itu adalah produk orang kafir. Oke lah tidak apa-apa. Hal itu saya anggap sebagai satu sisi anggapan, tanpa perlu saya memberi anggapan balik terhadap orang yang demikian mudah menyebut orang lain kafir atau musyrik. (Kepada pembaca MADANI yang saya maksud, saya mohon maaf jika saya salah mengerti dan memahami atau salah mengutip maksud Anda).

Sejatinya saya hanya ingin mengingatkan kita bahwa segala apapun yang terjadi, apapun yang tampak di depan atau dibelakang kita, paling tidak memiliki dua sisi sudut pandang. Tiap sesuatu paling tidak memiliki dua paradigma yang boleh jadi berbeda dan saling bertentangan. Jika separuh bola hitam dan separuh bola putih kita gabungkan menjadi satu bola lalu diletakkan di atas meja, kemudian kita membawa dua orang dari arah yang berbeda dan masing-masing duduk menghadap bola tadi, satu orang di sisi hitam dan satu orang di sisi putih lalu kita tanya apa warna bola yang dilihatnya, maka yang duduk di sisi bola hitam akan berkata itu adalah bola hitam karena ia tidak dapat melihat sisi yang putih, demikian sebaliknya, orang yang duduk di sisi bola putih akan berkata itu bukan bola hitam melainkan bola putih. Keduanya akan bertahan pada pendiriannya sampai keduanya bertukar tempat duduk dan menyadari bahwa itu adalah bola hitam putih.

Dalam kehidupan ini kita banyak menjumpai hal-hal yang sepintas jelas sekali benar atau salah. Namun setelah kita pandang dari sudut yang berbeda, kita kemudian berubah pendapat, atau paling tidak sedikit bertoleransi pada perbedaan pendapat mengenai sesuatu. Bahkan tentang ayat Al-Qur’an pun sejak dulu para ulama sering berbeda pendapat mengenai pengertian dan makna serta tafsir suatu ayat. Namun diantara mereka, sepengetahuan saya, jarang sekali ada yang mengklaim pendapat mereka lah yang paling benar.

Yang mungkin terbaik bagi kita, dalam anggapan saya, jika ingin tetap menjadi manusia sejati yang sepenuhnya menyadari bahwa eksistensi kita adalah hamba Allah, tentu dengan memaknai apa yang dikatakan Allah tentang anggapan atau sangkaan ; “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang

(Q.S. Al-Hujuraat{49} : 12)

Wallahu a’lam.

Bangsa Luar Biasa

October 23, 2008

Sedari dulu kala, entah itu sebelum menjadi negara bernama Endonesa ataupun sesudah bernama Endonesa, bangsa itu terkenal sangat hebat dan luar biasa. Hebat dalam berbagai hal dan luar biasa dalam berbagai bentuk. Seluruhnya bermuara pada pujian dan sanjungan sebagai bangsa besar.

Endonesa punya pelaut-pelaut ulung yang mengarungi tujuh samudera bak Sinbad layaknya, Malin Kondang hanya salah satunya. Indonesia punya arsitek-arsitek excellent yang mampu merajut batu gunung menjadi candi-candi yang menjulang tinggi yang sebagiannya dibangun hanya dalam waktu satu malam saja, Bandung Bindowiso diantaranya. Endonesa punya pengembara udara tanpa sayap dengan kumis melintangnya, yang namanya, Gatot Kuco, dijadikan nama sebuah jenis pesawat terbang oleh IIPTN (sekarang PTDII). Endonesa punya pengendali tanah yang bisa menerobos kedalaman bumi tanpa perlu mata bor di kakinya, Antereja namanya. Ilmu Antereja ini belakangan dipelajari secara keliru oleh PT LB di Sodoarjo, sehingga hasilnya tidak seperti harapan. Sebut bidang apa saja, maka Endonesa punya yang luar biasa padanya.

Endonesa bangsa yang sangat besar, tidak satupun berani membantah, ayo kita sebut satu persatu bidang-bidang kehidupan yang membuat bangsa itu demikian buesaar…

Bidang Ideologi, Endonesa itu gudangnya ideologi, yang lokal ataupun yang import ada di situ. Anda mau pakai ideologi apa?? Tinggal sebut saja, ada semua di situ lengkap dengan tutornya. Ada, Chaosisme, Liberalisme, Pluralisme, Leninisme, Marxisme, Komunisme, Kapitalisme, hedonisme, Narsisisme, Feminisme, Bencongisme, Jiplakisme, Idolisme, Karuhunisme, Animisme, Kadalisme, Vandalisme, Dinamisme, Dukunisme, Madatisme, Garongisme..(garong juga punya ideologi sendiri!!) de el el…dan hebatnya adalah, semua ideologi itu bisa sangat benar… paling tidak menurut penganutnya.

Bidang Politik, bidang ini malah jauh lebih luar biasa dari bidang apapun. Anda sebut satu hal, maka untuk itu ada politiknya, ada politik luar negeri, politik dalam negeri, politik dagang, politik belah bambu, politik praktis, parlemen jalanan, politik selingkuh, politik membajak, politik kaum proletar, politik urban, politik klinik… seperti kata iklan, semua ada politiknya….

Bidang Ekonomi, ini faktor paling menonjol di Endonesa karena berhubungan erat dengan duit. Sangat besar pengaruhnya pada kebesaran bangsa di bidang lain… ayo anda katakan hal apa di republik itu yang gak bisa di-duit-in? Ngurus surat? Nomong sembarangan? Salah nikung? Orang meleng? Aset perusahaan? Aset negara? Kemiskinan? Kebodohan? Penindasan? Sakit-sakitan? Urbanisasi…pokoknya apapun bisa di-duit-in.

Bidang Sosial, daripada jadi orang sok yang ujungnya dapat sial, lebih baik menjadi orang berjiwa sosial. Indonesia punya gerakan-gerakan sosial lebih banyak dari negara manapun di bumi ini. Entah itu yayasan, panti, LSM, NGO, RS, Rsing, RBor, badan, komisi, ikatan, paguyuban, gerakan rakyat untuk, gerakan nasional untuk, dompet, dan lain sebagainya. Semuanya bergerak serentak maju bersama mengharubirukan mayapada Endonesa. Benar-benar sial lah orang yang tidak ikut bersosial.

Bidang Budaya, wah, yang ini gak usah berdebat panjang, Endonesa adalah republik paling berbudaya di muka bumi, paling dikenal anti malu, anti kemapanan, anti antrian, anti kebersihan, anti keteraturan, anti larangan, anti anjuran, juga paling dikenal sebagai bangsa yang punya rasa memilliki sangat tinggi, sampai-sampai semua hal serasa milik sendiri; entah itu aset kantor, aset negara, hutan lindung, hutan mangrove, hutan belantara, lautan dalam, samudera, istri tetangga, dana nasabah, dana sumbangan bencana, dana konpensasi, beras miskin, dana likuiditas, dana proyek jalan….

Bidang Pertahanan, juga luar biasa, filosofinya pre emptive strike, bacok dulu, urusan belakangan. Bangsa paling pandai bertahan, bertahan dari hukum, dari nasihat, dari anjuran, dari pendapat lain, bertahan diam dihina bangsa lain, mempertahankan teguh koruptor dan manipulator, mempertahankan provokator, mempertahankan agresor, dan lain sebagainya. Pokoknya semua orang adalah pelaku bertahan yang paling yahud di sana.

Bidang Keamanan. Excellent. Seperti kata pepatah, sesama bus kota dilarang saling mendahului. Begitulah, hidup di Endonesa akan merasa sangat amat nyaman dan tenteram. Tahu sebabnya, karena rasa tidak aman itu kalau hidup di negara yang banyak penjahatnya. Anda akan aman-aman saja jika hidup di negara yang semuanya adalah penjahat, sesama penjahat dilarang saling menjahati.

Bidang Hak Asasi, ini malah jagonya. Hak apapun dilindungi di sana. Hak telanjang di muka umum, hak selingkuh di video, hak goyang pantat di TV nasional, hak buka dada di mana-mana.. ini dadaku.. mana dadamu…hak banci berkeliaran, hak punya laptop di penjara, hak nempati tanah kosong punya siapa saja, hak ngomong semaunya, hak bunuh orang yang gak disuka, dan hak-hak lain, yang dinegara lain tidak bisa di dapat, pindahlah ke Endonesa, niscaya didapatkan.

Endonesa itu bersahabat dengan banyak negara lain, di antaranya Kuria Selatan. Jauh berbeda dengan Endonesa, Kuria Selatan yang rakyatnya pemabuk shoju dan pemakan babi itu masih agak terbelakang kemajuannya. Paling tidak itu yang penulis rasakan ketika berkesempatan melihat langsung di sana. Disana tidak boleh bicara sembarangan nanti menyinggung orang lain, di sana rasa malu masih kental, malu kalau tidak antri, malu kalau buang sampah sembarangan (di ibukotanya sulit sekali mencari sampah, yang banyak tong sampah, itupun bersih), malu kalau telanjang sembarangan, malu kalau mengakui milik orang lain, masih perlu segera minta maaf kalau punya kesalahan, pemimpinnya langsung mundur kalau dia atau keluarganya ketahuan salah atau punya skandal, pemimpinnya malu kalau ada rakyatnya kelaparan, kota-kotanya sangat teratur, kalau demonstrasi berbaris rapi, kalau berdagang selalu senyum. Kalau mau telanjang di tempat tertutup, kalau mau mabok ditempat tertentu, kalau mau selingkuh gak dibikin video. Sebutlah hal-hal kampungan apa saja, di sana masih ada.

Waah.. singkong dikerok dikasih ragi.. jadi TAPE deh!!

(Mohon maaf jika ada kesamaan nama, istilah dan tempat)

Bekasi, 14 September 2007.

Menutup Senyum Kapitalisme

September 3, 2008

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Dien (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) dien yang lurus; tetapi kebanya- kan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Ruum : 30)

Ramadhan terus menggelinding meninggalkan kita, dan Idul Fitri dengan segala haru birunya akan segera datang menyapa. Ibadah puasa tahun ini akan segera tuntas, meninggalkan kesedihan karena kita tidak dapat beribadah secara maksimal, mumpung pahala ibadah bulan ini berlipat amat besar, dan bulan ”Syawwal” segera menjelang menuntut ”Peningkatan” dari diri-diri pelaku puasa Ramadhan yang berpuasa dengan ”penuh warna”.

Mari kita ingat kembali tujuan Allah SWT memberikan ”hadiah puasa Ramadhan” bagi orang-orang beriman, yaitu ”agar kalian bertaqwa”.

Taqwa artinya melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya. Taqwa menuntut jihad dari tiap-tiap diri seorang mukmin untuk sungguh-sungguh seiring dan sejalan dengan ketentuan Allah SWT. Taqwa merepresentasikan kecintaan seorang mukmin sebagai hamba kepada Allah, khaliqnya. Taqwa bermakna seorang mukmin takut akan adzab Tuhannya dan berharap meraih ridha dan surga-Nya dengan jalan menerima segala ketentuan-Nya.

Allah SWT. tidak serta merta menuntut ketaqwaan seorang hamba tanpa memberikan cara dan jalan baginya. Karena itu Allah mewajibkan puasa Ramadhan sebagai salah satu cara meraih predikat taqwa tersebut. Jika demikian marilah masing-masing kita mengevaluasi laku puasa yang kita laksanakan. Tanyalah pada nurani kita, sudahkah puasa kita membawa kita menjadi manusia yang mengenakan pakaian taqwa ? dan jika jawabannya positif ”ya, tanyalah lebih lanjut apa ciri dan tandanya ?

Masing-masing kita dapat menilai diri sendiri tentang seberapa banyak laku puasa kita telah menjadikan kita manusia baru yang lebih cinta kepada melaksanakan ketentuan Allah, ketimbang perintah nafsu amarah kita. Seberapa besar kemampuan kita untuk meninggalkan larangan-Nya ketimbang menurutkan angkara murka. Dengan perenungan dan tafakkur beberapa menit saja kita dapat memperoleh jawabannya.

Jika tujuan puasa yang digariskan Allah SWT dapat dicapai, maka layaklah kita merayakan ”Ied al-fitri”, ”kembali kepada fitrah”. Fitrah manusia secara default, yaitu dien yang hanief, yang dengan fitrah itu Allah menciptakan manusia. Ketaatan, ketundukan dan kepatuhan, serta penyerahan diri secara total kepada rabb manusia. Rabb adalah ”pencipta, pendidik, pemelihara”, yang diakui secara azali oleh manusia tatkala ketika itu ”Aku persaksikan kepada mereka (eksistensi-Ku) atas diri mereka, Bukankah Aku ini rabb-mu?, dan manusia menjawab : benar (Engkaulah rabb kami)”.

Setiap manusia diciptakan dengan sebuah default, sebuah ketentuan dan ketetapan dasar, atas suatu fitrah, yaitu Tauhid kepada Allah SWT. Naluri utama setiap manusia adalah satu tuhan dan bertuhan, karena itu tidak heran dahulu kala ada orang komunis yang berkata ”only God can create a tree”.

Maka laku puasa Ramadhan kita hanyalah upaya pengembalian fitrah tersebut kepada masing-masing kita agar kita kembali mengukuhkan tauhid kita kepada Allah SWT., yang selama sebelas bulan di luar Ramadhan telah terkontaminasi oleh berbagai hal lain yang secara sengaja atau tidak telah kita pertuhankan, termasuk penuhanan kita terhadap materialisme kapitalisme.

So, cobalah telaah kembali diri kita, apa yang kita lakukan dengan hari-hari terakhir puasa kita, dari situ kita akan lebih mengerti layak tidaknya kita merayakan ’ied al-fitri:

1. Sebagian kita akan semakin pusing tujuh keliling karena belum cukup banyak uang di tangan untuk membeli segala macam dan berbagai hal berkenaan dengan lebaran. Setiap tindakan yang mungkin mendatangkan uang akan segera dilaksanakan. Keluhan-keluhan akan semakin banyak terlontar dari mulut kita, dan akhirnya setelah cukup uang terkumpul, termasuk dari THR yang didapat dari tempat bekerja, kita akan dapat sedikit tersenyum….

Di sisi lain…. Senyum kapitalisme merekah dan para pengusaha dapat tertawa puas menyaksikan komoditi mereka laku keras diserbu para pelaku puasa yang bersiap berhari raya… hayyaaaa… laku ee…. oe tambah kayaa.

Saya sama sekali tidak berpretensi untuk mencampuri urusan anda dengan uang anda. Saya hanya ingin katakan bahwa Rasulullah, percayalah, tidak memborong segala macam benda dan makanan secara berlebihan di akhir-akhir Ramadhan. Beliau tetap bersahaja dan seperlunya saja.

Jikapun tetap anda harus banyak belanja, belanjalah pada pengusaha muslim. Mungkin seribu atau duaribu lebih tinggi harganya, namun keuntungan yang mereka dapat, Insya Allah, akan kembali untuk umat Islam juga, sebab para pengusaha muslim itu menggunakan keuntungan usahanya untuk menyekolahkan anaknya yang juga muslim, mereka bersedekah dan membayar zakat kepada orang Islam, dan merekrut pekerja yang juga muslim.

Saya ingin mengajak anda, sesama muslim, dengan budaya konsumerisme yang mungkin ada pada kita, untuk memberdayakan ekonomi ummat dengan cara menjaga agar perputaran uang kaum muslim tetap pada orang Islam. Yakinlah ini bisa kita lakukan.

2. Sebagian kita sibuk mempersiapkan segala hal untuk dibawa mudik alias pulang ke kampung/kota kelahirannya. Dalam ’Ied al Fitri memang terkandung kata ’ied yang berarti ”kembali” dan fitr yang berarti ”penciptaan”. Hebat orang Indonesia, karena cuma di Indonesia ini iedul fitri berarti ”kembali ke asal pertama kali tercipta”, kembali ke kampung halaman.

Tahukah anda, bahwa Rasulullah SAW tidak mudik menjelang Idul Fitri. Beliau tetap di Madinah melaksanakan kewajiban-kewajibannya.

Tentu sangat indah sebuah silaturrahim, dan amat damai berkumpul dengan sanak kadang tercinta, dan sungguh nyaman menghirup udara segar kampung halaman, namun ingin saya ingatkan kembali, bahwa kewajiban menyambung tali silaturrhim tidak perlu menunggu lebaran, dan saling bermaafan tidak mesti menanti Idul Fitri. Silaturrahim harus disambung kapanpun dan dimanapun, dan memohon maaf atas kesalahan kita pada orang lain jangan ditunda-tunda, lakukan dengan segera, karena tidak ada yang bisa menjamin kita tetap hidup hingga lebaran tiba.

3. Sebagian kita akan mengintensifkan ibadahnya, memenuhi masjid-masjid untuk i’tikaaf, memperbanyak membaca, menelaah dan memahami Al-Qur’an, bersedekah sebanyak mungkin di samping membayar zakat yang memang wajib, dan segala hal yang menambah kedekatan kepada Allah SWT.

Ini baru anjuran dan Sunnah Rasulullah SAW. Hari-hari menjelang Idul Fitri, hari-hari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, lebih banyak dihabiskan Rasulullah di Masjid. Ber-i’tikaaf, membaca Al-Qura’an, shalat dan berdoa memohon ampunan Allah SWT. Mumpung masih Ramadhan, mumpung pahala ibadah kita berlipat ganda, mumpung pintu rahmat dan maghfirah dibuka lebar, mumpung Ramadhan belum meninggalkan kita.

Wallahu a’lam.