Archive for the ‘Visi Yang Terkatung’ Category

Visi Yang Terkatung

August 26, 2008

Ada keinginan besar, paling tidak menurutku orang kampung yag lugu dan polos ini, hal itu besar. Yaitu aku ingin membangun sebuah pusat pelatihan ilmu dan keterampilan terpadu dengan pendalaman berbagai disiplin ilmu dan character building, semacam Pondok Pesantren Terpadu, yang khusus untuk anak-anak yang karena berbagai hal tidak mampu untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Di PPT itu mereka akan hanya belajar dan belajar serta berlatih berbagai macam ilmu dan keterampilan yang akan dapat mengangkat mereka ke tempat yang jauh lebih tinggi dalam bidang ilmu dan ekonomi sehingga mereka dapat memutus rantai kemiskinan struktural yang selama ini membelenggu mereka. Semuanya gratis, termasuk semua akomodasi dan keperluan hidup sehari-hari. Mereka hanya punya kewajiban moral, jika sudah menjadi orang pintar dan kaya nanti, mereka juga harus membantu sebanyak-banyaknya anak-anak di lingkungan mereka.

Visi itu aku canangkan sekitar 15 tahun lalu. Namun hingga kini rupanya Allah belum berkenan untuk mengabulkannya. Mungkin karena usahaku tidak maksimal. Mungkin karena penggalian sumberdayaku tidak cukup. Mungkin visiku terlalu tinggi untuk ukuran anak kampung yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..) atau mungkin juga karena kalau visi itu tercapai akan berakibat buruk untukku, misalnya membuatku menjadi orang yang sombong dlsbg.

Usaha ke arah itu bukan tidak ada sama sekali, namun gelombang hidup yang menerpaku saja sudah megap-megap aku mengatasinya. Namun paling tidak mimpi itu tetap aku punya; mimpi tentang jalanan yang bersih dari anak-anak, mimpi tentang kampung-kampung dan kota-kota yang rapi, aman dan bersih serta sejahtera, mimpi tentang anak-anak yang pergi tidur dengan senyum dan perut kenyang. Mimpi tentang kebahagiaan orang tua yang memandang anaknya tidur dengan damai, mimpi tentang sekolah-sekolah yang dipenuhi anak-anak cerdas, mimpi tentang anak-anak yang bisa tertawa setiap hari menikmati masa kecilnya yang indah.

Aku yakin seyakin-yakinnya. Allah mendengar mimpi-mimpiku. Jika tidak bisa aku, maka biarlah Allah menunjuk orang lain yang mewujudkannya. Mimpi tentang anak-anak akan selalu indah….

Tetap semangat !!
Bekasi, 26 Agustus 2008

Advertisements