Archive for the ‘Celoteh Sang Pencari’ Category

Mengapa Memilih Islam

January 30, 2011

Mengapa Memilih Islam

By : Ahmad Sopiani, S.Ag.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Innalhamda lillaah, nahmaduhuu wa nasta’iinuhuu wa nastaghfiruh.

Na’uudzu billaahi min suruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa.

Man yahdihillaah, falaa mudhillalah. Wa man yudlilhu falaa haadiya lah.

Asyhadu an laailaaha illallaah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh..

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Ammaa Ba’du.

Ikhwan fillaah,

Bagi orang-orang yang dilahirkan dari keluarga muslim, mengenal Islam sejak lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kaum muslimin, pertanyaan “mengapa memilih Islam?” mungkin kurang relevan. Sejak kecil, bahkan sedari dalam kandungan, para orang tua muslim sudah menanamkan nilai-nilai Islam sebagai satu-satunya jalan kebenaran dan akhirnya mendarah daging menjadi keyakinan dan keimanan dalam bingkai aqidah Islam. Sungguh beruntung orang-orang seperti ini. Tinggallah ia seiring waktu memupuk keimanannya dan menambah kuat aqidahnya dengan lebih banyak mempelajari dan menghayati Islam.

Namun pertanyaan “mengapa memilih Islam” hampir pasti selalu diajukan pada saudara-saudara kita yang muallaf, orang-orang yang masuk Islam karena kesadaran spiritualnya menemukan Islam ketika telah dewasa. Orang-orang yang memilih Islam sebagai jalan baru. Orang-orang yang menjadi Muslim sebagai bentuk peralihan dari keyakinan sebelumnya. Orang-orang yang mendapatkan pencerahan akan keyakinan yang benar setelah lama terombang-ambing dalam keraguan akan eksistensi Tuhan. Akhir sebuah pencarian spiritual yang berat dan berliku. Untuk mereka inilah pertanyaan tersebut mendapat relevansinya.

Maka para muallaf lah, yang paling tahu jawaban atas pertanyaan itu. Para muallaf itulah yang paling berhak untuk ditanya mengapa memilih Islam? Para muallaflah yang akan memberikan dengan tepat jawaban atas pertanyaan tersebut, karena mereka ber-Islam melalui proses yang panjang dan berliku penuh dengan rangkaian kisah suka ataupun airmata. Dan mungkin, dari 10 muallaf yang kita tanya, kita akan mendapatkan 10 jawaban yang berbeda…

Namun tentu saja penting bagi kita untuk juga menyadari mengapa Islam layak dipilih sebagai way of life, sebagai jalan pencerahan, sebagai solusi kegersangan spiritual, sehingga dapat menjadi dasar bagi jawaban atas pertanyaan yang sama. Sebuah value yang dapat ditawarkan oleh kita pada pihak luar untuk menjadikan Islam sebagai sebuah pilihan yang tepat dalam kancah pertarungan keyakinan pada jiwa seseorang. Untuk meneguhkan yang percaya, untuk meyakinkan yang meragu, untuk mencerahkan jiwa-jiwa yang buram.

Tentu banyak sisi dari Islam yang dapat kita gali dan cermati sebagai hal yang dapat dijadikan value, dijadikan nilai untuk dapat kita tawarkan, kita hanya akan menyebutkan beberapa saja di antaranya;

Pertama, Rasionalitas.

Tuhan dalam Islam adalah sesuatu yang transenden, sesuatu yang beyond everything, sesuatu yang tak bisa dicapai panca indera. Tetapi itu bukan berarti sama sekali tidak masuk akal. Tuhan itu mestilah sesuatu yang secara nalar bisa kita tempatkan ke ruang rasionalitas. Tuhan yang bisa mati misalnya, adalah tuhan yang tidak bisa dirasionalisasikan. Tuhan yang penuh dendam, tentu patut diragukan. Sejatinya akal kita akan menempatkan Tuhan dalam bentuknya Yang Maha Atas segala sesuatu. Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Tunggal, Maha Adil, Maha Mengetahui, dan Maha-maha lainnya. Konsep sederhana dan rasional tentang Ketuhanan dapat kita lihat dalam Al-Quran Surat Al-Ikhlaash ayat 1-4 : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Atau dapat pula kita lihat dalam Al-Quran, Surat Al-Anbiyaa : 22 : ”Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya (langit & bumi) itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” dan banyak lagi ayat yang bertaburan dalam Al-Quran yang berisi konsep Ketuhanan dalam Islam yang amat sesuai dengan akal dan rasionalitas manusia; Q.S. 04:171, 17:40, 19:92, 23:91, 43:81, dll.

Islam pula yang dengan konsisten mengajak ummatnya dan ummat manusia untuk senantiasa menggunakan rasio dalam skala besar, hampir tak terbatas, untuk mendapatkan pencerahan dan pengetahuan serta pemahaman akan kebenaran. Islam menempatkan rasionalitas akal di posisi yang amat tinggi nilainya. Dan Islam menempatkan rasio dan akal pikiran sebagai titik sentral kemanusiaan seseorang; ” dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.”(Q.S. Al-Jaatsiyah[45] : 5). Dan banyak sekali ayat Al-Quran yang menerangkan tentang pentingnya akal pikiran; Q.S. 2:44, 3:65, 5:58, 26:28, dll.

Jejak pernghormatan terhadapa akal dan rasionalitas dalam peradaban Islam masih dapat kita telusuri semenjak zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya, hingga ke era posmodernisme yang kini kita jalani. Jadi ajaran Islam tidaklah melulu dalam koridor moralitas, namun adalah juga tradisi rasionalitas yang berjalan seiring dengan urgensi moralitas yang diembannya. Islam adalah sebuah way of life yang menempatkan akal sama pentingnya dengan keimanan.

Kedua, Prinsip Keseimbangan Hidup

Rasulullah Muhammad SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh ………… ”Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”. Dan Allah SWT telah dengan tegas berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Qashash [28] ayat 77 : ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”.

Demikian Allah dan RasulNya mengatur dan mengajarkan, bahwa manusia adalah makhluk jasmani dan makhluk rohani sekaligus. Manusia memiliki dua sisi kehidupan yang sama pentingnya. Manusia diberi visi yang jelas tentang makna hidupnya. Yaitu visi, bahwa manusia pada saatnya nanti, harus menjalani kehidupan lain di alam akhirat namun tidak harus melupakan arti penting hidup di alam dunia. Islam mengajarkan bahwa bentuk pengabdian pada Tuhan tidaklah dengan harus meninggalkan makan, minum dan hal lainnya secara mutlak. Juga jangan sampai karena dunia demikian indah dan penuh kesenangan lalu melupakan hari akhirat. Islam tidak menuntut ummatnya untuk menjadi rahib seumur hidupnya, namun juga tidak menghendaki ummatnya menjadi hedonis yang hanya mengejar kesenangan duniawi. Pada titik ini manusia diberi sebuah visi, visi kebahagiaan dunia dan lebih jauh visi kebahagiaan akhirat, surga, nirvana, eden, atau apapun namanya.

Ketiga, Prinsip Keadilan

Simaklah salah satu penggalan pidato Abu Bakr Shiddiq yang dikutip Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan Nihayah, ketika telah terpilih menjadi Khalifah, artinya saat itu beliau sudah menjadi Penguasa, bukan janji-janji muluk calon penguasa yang sedang kampanye; ”Sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya…”. Demikian Abu Bakr, seorang kader utama sahabat Nabi, orang yang mula-mula masuk Islam, menerapkan prinsip keadilan sebagai dasar dari kepemimpinannya.

Keadilan pula lah yang menjadi ruh, dasar dan pondasi ajaran Islam. Sebuah prinsip agar manusia menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan manusia haknya, dan menuntut manusia untuk melaksanakan kewajibannya. Keadilan yang universal. Keadilan untuk semua, sehingga Al-Quran memuat banyak sekali ayat-ayat tentang keadilan, seperti misalnya dapat kita lihat dalam Surat Al-Maaidah [5] ayat 8 : ”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Lihat juga Al-Quran : An-Nisaa [04]:135, Al-A’raaf [07]:29/159/181, An-Nahl [16]:76, Al-Hujuraat [49]:09, Al-Hadiid [57]:25, dan banyak lagi baik dengan kata ”adl”, maupun dengan kata ”qist”.

Prinsip-prinsip keadilan itu; bahwa setiap orang setara di hadapan hukum, bahwa yang kuat tidak boleh menindas yang lemah, bahwa penguasa harus mensejahterakan semua kalangan dan melindungi semua orang, bahwa setiap orang adalah sama kewajiban dan hak-hak sosialnya,  bahwa kekayaan alam suatu negeri untuk kesejahteraan rakyatnya, bahwa dilarang memerangi orang yang tidak menyerang, dan lain-lain, yang merupakan nilai-nilai universal, dalam Islam telah diakomodir sebagai ajaran pokok sejak lebih dari 14 abad yang lalu. Penerapan secara ketat prinsip-prinsip keadilan inilah sesungguhnya salah satu faktor utama mengapa Islam dapat menorehkan sejarah kejayaan yang demikian panjang, dan merupakan syarat mutlak yang harus kembali ditegakkan jika kaum muslim ingin Islam kembali meraih kejayaannya yang terenggut di masa yang akan datang.

Keempat, Universalitas

Islam bukanlah sekedar Religion, bukan sekedar agama. Islam adalah way of Life, Sebuah keyakinan dan sebuah jalan hidup sekaligus dalam pengertian yang sebenarnya. Islam tidak hanya berisi dogma-dogma dan keyakinan, bukan pula sekedar aturan-aturan yang berhubungan dengan masalah ketuhanan, bukan pula sekedar ajaran yang mengatur hidup suatu individu. Jauh lebih besar dari itu, Islam memiliki dan mengatur semua hal untuk semua orang. Tidak hanya memberikan dasar keyakinan yang kuat akan eksistensi Tuhan namun juga memberikan aturan-aturan dalam kehidupan sosial. Mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sekaligus mengatur bagaimana suatu negara harus dibina. Mulai dari hal-hal yang paling kecil seperti cara tidur dan cara masuk toilet, sampai dengan hal yang besar seperti mengatur negara dan hubungan antar bangsa dan golongan. Islam mengatur hubungan antar individu, hubungan individu dengan Allah, hubungan individu dengan masyarakat dan negara. Mengatur cara berjalan kaki dan cara berjual beli. Mengatur cara menikah dan berumah tangga, juga mengatur apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak. Semua itu, universalitas dalam ajaran Islam itu, seluruhnya ditujukan untuk kebaikan manusia. Manusialah yang mengambil manfaat dari semua itu, sebagai bentuk kasih sayang yang total dari Allah kepada makhluknya.

Universalitas juga mengandung arti dakwah, arti bahwa Islam memposisikan dirinya sebagai way of life untuk semua manusia kapanpun dan dimanapun. Islam tidak hanya milik orang arab, tidak pula hanya untuk suatu etnik tertentu. Islam memproklamirkan diri sebagai way of life untuk semua manusia. Islam mengajak semua manusia untuk masuk ke dalamnya dan menemukan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat di dalamnya. Sebagai Allah menyatakan tentang ini “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Q.S. Al-Anbiyaa [21] : 107. Bahkan Islam diturunkan bukan hanya untuk genus manusia, melainkan juga untuk bangsa Jin. Kita bisa lihat apa yang Al-Quran sebutkan tentang universalitas ini dalam Surat Al-Anbiyaa[21]:91, Al-Furqaan[25]:1, Shaad[38]:87, At-Takwiir[81]:27, dan lain-lain. Adakah yang memiliki universalitas melebihi Islam? Anda tahu jawabnya.

Empat hal di atas, hanyalah sebagian dari mengapa Islam layak dipilih sebagai jalan hidup. Layak menjadi pilihan solusi kehidupan, meski tentu 4 hal tersebut hanya dipaparkan secara global saja.  Kaum muslim, sudah selayaknya memahami hal di atas sehingga bisa menjadi duta penjelas bagi orang-orang yang mencari pencerahan, dan bagi non muslim bisa memahami Islam secara utuh sehingga mereka mendapat keyakinan pada dirinya bahwa mereka layak memilih Islam bukan hanya sebagai keyakinan dogmatis, tetapi sekaligus sebagai Way of Life.

Wallahu a’lam.

Bekasi, 15 Juni 2009

Advertisements

Refleksi Tahun Baru Seorang Buruh

January 24, 2011

By : Ahmad Sopiani (Buruh Pabrik di Cibitung, Bekasi)

“Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (KebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui”.

(Q.S. Yunus [10] : 5)

Bagi seorang buruh seperti saya, tahun baru, entah itu tahun baru Masehi, tahun baru Hijriyyah, atau Imlek sekalipun, menggariskan hal yang sama saja; sebuah rutinitas. Tidak lebih dari itu. Sebuah keniscayaan yang selalu terulang setiap tahun. Sambil menghitung mundur umur yang semakin berkurang, kami akan tersenyum jika angka merah di kalender itu jatuh pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis atau Jum’at, karena itu berarti ada harapan tambahan angka pada slip gaji jika pada tanggal tersebut kami diperintahkan kerja lembur. Atau kalau tidak ada perintah lembur, paling tidak kami bisa bersih-bersih kamar kontrakan, cuci baju celana, kongkow-kongkow sama yang punya kontrakan dan tetangga, main ke kontrakan kawan dan bisa menikmati suatu kemewahan waktu; tidur siang.

Sebelum itu, beberapa hari sebelum tanggal merah awal tahun baru itu, atau beberapa hari setelahnya, Ustadz yang didatangkan Pengurus Masjid ke pabrik di sore hari ba’da Ashar akan memberi kami motivasi untuk beramal lebih baik dari tahun yang lalu alias bekerja lebih giat lagi di tahun berikut dan meningkatkan produktivitas. Karena kata beliau amal sholeh, alias kerja yang baik/giat, adalah bukti dan tanda keimanan seorang muslim. Karena amal sholeh tidak hanya terbatas pada shalat, puasa, menunaikan zakat, baca Al-Quran atau pergi haji saja. Amal sholeh mencakup semua perbuatan baik, dengan niat yang baik, termasuk bekerja di pabrik dengan niat mencukupi nafkah anak dan isteri. Saya pribadi setuju saja dan tentu saja Management akan senang sekali pada Ustadz itu karena tidak perlu lagi mendatangkan trainer-trainer motivasi yang bayarannya puluhan juta.

Ustadz-ustadz yang datang itu juga menguraikan latar belakang penanggalan-penanggalan tersebut, history yang menjadi titik tolaknya, peristiwa yang melatarinya, dan menceritakan peristiwa-peristiwa menarik seperti kisah pertama kali penanggalan Islam dimulai oleh Khalifah Umar bin Khattab Al-Faruq, ketika menerima surat balasan dari seorang Penguasa negara lain dan disindir bahwa surat beliau itu tidak ada angka tahunnya. Ustadz juga akan memaparkan alasan-alasan mengapa moment Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 13 Kenabian dijadikan titik tolak ditetapkannya tahun 1 Penanggalan Hijriyyah Islam oleh Khalifah Umar Al-Faruq, di antara banyak moment penting lain seperti Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Perang Badar Kubro ataupun Peristiwa Pembebasan Kota Makkah alias Fathu Makkah.

Kami juga akan mendengarkan paparan para Ustadz tentang hikmah di balik adanya perhitungan tahun itu. Hikmah yang sama entah itu tahun Masehi ataupun tahun Hijri. Kata Ustadz pula, tahun Masehi pun adalah milik ummat Islam juga, karena baik penanggalan bulan, ataupun penanggalan matahari, sama-sama disebutkan dalam Al-Quran. Bisa dilihat misalnya pada ayat yang saya kutip di atas atau QS Al-Israa [17] :12 : “ Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas”. Juga pada ayat-ayat lain seperti QS Al-An’aam [6] ayat 96 dan QS Faathir [35] ayat 13.

Itu.., buat kami ya hampir sama saja setiap tahun. Perubahan angka itu, misalnya dari 1431H menjadi 1432H hampir tidak ada hubungannya dengan kehidupan real buruh pabrik kecuali tambahan umur, tambahan kerja lembur atau tambahan hari libur, atau kalau beruntung ada penyesuaian upah terhadap tingkat inflasi di awal tahun Masehi. Sebagian besar kami menerima itu dengan lapang dada… Alhamdulillah, terima kasih ya Allah untuk tanggal merah yang Engkau berikan.

Yang membuat kami terkadang jengkel, terutama urusan pergantian tahun Hijriyyah/Qomariah adalah tidak adanya “kekuatan” yang bisa menentukan dan menyatukan tanggal 1 di bumi pertiwi tercinta ini. Semua orang-orang Cerdas-Cendekia itu ngotot untuk menentukan sendiri tanggal 1 mereka. Dalihnya bisa macam-macam; bisa dengan dalih Hisab Wujudul Hilal, dapat berdalih dengan Ru’yah fi wilayatil hukmi, atau dalih Hisab Imkanurru’yah, Global Ru’yah, Hisab Jawa AsaponHisab Jawa Aboge, atau dalih Ittiba ilaa Makkah. What ever lah…! Hasilnya sama saja, membuat bingung buruh pabrik.

Kami buruh pabrik ini sudah cukup bingung mengatur anggaran dan budget rumah tangga setiap bulannya, dan itu dipaksa ditambah dengan kebingungan akibat para Cerdik-Cendekia itu tidak pernah sepakat tentang metode penetapan tanggal 1..! Pemerintah juga tidak punya “kekuatan” untuk penggunaan satu metode penetapan saja di Indonesia yang mereka cintai ini. Mungkin memang betul, menggantungkan harapan pada pemerintah hanya akan membuat sakit hati saja. Cabe rawit di atas piring. Makan satu tanpa Tahu. Cape mumet otak miring. Karena semua orang paling tahu tanggal satu!

Yang mengherankan, sepertinya bulan-bulan yang lain yang 9 bulan bisa sepakat tiada masalah, tetapi selalu “bunuh-bunuhan” untuk bulan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah. Saya pernah berandai-andai… “Andaikata saya jadi Presiden Republik ini, saya akan keluarkan dekrit untuk hanya menggunakan satu saja metode penetapan tanggal 1 bulan Hijri untuk semua warga negara dan ormas”. Sayang sekali berandai-andai itu kata Ustadz adalah celah bagi setan untuk menggoda manusia.

Ya okelah, kami diminta untuk mengikuti ketetapan tanggal 1 berdasarkan keyakinan masing-masing, karena semua itu sifatnya katanya Ijtihadiyyah, jadi tidak perlu saling menyalahkan (tentu tidak bisa saling membenarkan juga). Mereka, para Cerdas-Cendekia itu, pikir gampang mungkin ya mengikuti keyakinan masing-masing…! Pernah tidak mereka survey terhadap dampak “mengikuti keyakinan masing-masing itu” dalam kehidupan masyarakat secara sosial ataupun secara psikologis perindividu?

Apakah mereka tidak berpikiiir..? orang macam saya misalnya… biasa ikut saja apa kata MUI dan pemerintah yang saya yakin punya ilmu dan teknologi yang mumpuni.. tetapi tidak dengan Ibu Mertua saya dan anaknya yang serumah dengan saya. Beliau yakin untuk ikut apa kata PP Muhammadiyyah. Nah kalo sudah jatuh perbedaan begitu, dampak psikologisnya sangat terasa. Gak enak hati rasanya serumah tetapi Idul Fitri atau Idul Adhanya berbeda. Belum lagi berbeda dengan tetangga sebelah rumah yang biasa ikut Hisab Jawa Asapon. Pasti kejadian begini merata di seluruh tanah air.

Apakah tidak lebih baik kalau para Cerdas-Cendekia itu bersidang dan membuat kesepakatan bersama untuk menggunakan satu saja metode penetapan tanggal 1 ? Heran.. Bulan dan Matahari di langitnya itu-itu juga… tapi sepakat tanggal 1 hanya kalau kebetulan saja..!

akhir 2010/1431, awal 2011/1432

Jenderal Hormat Pada Kopral

November 21, 2009

( oleh : Ahmad Sopiani )

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Innalhamda lillaah, shalli wa sallim ‘alaa rasuulillaah.

Tidak ada yang salah pada title tulisan ini. Memang demikianlah adanya. Seorang Jenderal sekalipun ada suatu waktu ketika ia harus hormat pada kopral atau bahkan kepada prajurit yang stratanya paling bawah sekalipun. Suatu waktu tersebut adalah ketika seorang kopral memberi hormat pada sang Jenderal… Peraturan Penghormatan Militer yang disingkat PPM, mengharuskan orang yang diberi hormat untuk membalas penghormatan tersebut. Jenderal yang baik sangat tahu peraturan ini dan dengan senang hati atau karena semata-mata kebiasaan sekalipun, ia pun akan angkat tangannya untuk menghormat balik pada sang kopral, atau minimal menganggukkan kepalanya… Jadilah Jenderal hormat pada Kopral.

Dalam istilah Al-Quran, penghormatan itu adalah “Tahiyyah”. Dan “Tahiyyah” direpresentasikan dengan ucapan “salaam”. ”Salaam” yang merupakan bahasa penghormatan penduduk surga, kemudian ditetapkan pula untuk diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari kaum muslim di buana panca tengah ini. Mungkin untuk simulasi kehidupan kaum muslim dalam surga di akhirat kelak…

“Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan pernghormatan mereka dalam syurga itu ialah “salaam”. (Q.S. Ibrahim [14] : 23).

“Do’a mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”. (Q.S. Yunus [10] : 10)

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan “salaam” di dalamnya”. (Q.S. Al-Furqaan [25] : 75).

“Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah “Salam”; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka”. (Q.S. Al-Ahzab [33] : 44).

Oleh sebab urusan penghormatan ini sepertinya penting sekali, karena merupakan salah satu watak dasar manusia untuk mendapatkan suatu penghormatan, maka Allah merasa perlu untuk memberi informasi dan petunjuk yang harus dilaksanakan ummat Islam dalam urusan yang satu ini. Dalam perkembangannya, wacana yang timbul adalah bahwa biarpun memberi penghormatan dalam bentuk “salaam” kepada orang lain hanya “Nadb” (anjuran) saja yang melahirkan hukum fiqh sunnah/sunat, tetapi membalas penghormatan itu menjadi “iijaab”(tuntutan) yang membuahkan hukum waajib dalam fiqh Islam..

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”. (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 86).

Ikhwan fillaah,..

Watak dasar manusia yang satu ini, yaitu keinginan untuk dihormati, betul-betul berlaku universal. Budaya dan bangsa yang non muslim sekalipun, yang atheis sekalipun, entah saya mendapatinya di media atau bersentuhan secara langsung, mengenal asas-asas penghormatan ini meski dengan tata laku yang berbeda. Ada yang dengan cara mengangkat tangan, ada yang dengan menundukkan kepala, ada yang secara badan dibungkukkan hingga hampir 90 derajat atau dengan ucapan semisal good pagi selamat morning. Bahkan ketika akan berantem adu jotos pun, ada diawali hormat terlebih dahulu.

Orang-orang Jepang dan Korea akan membungkukkan badan untuk menghormat, orang Eropah mungkin cukup menganggukkan kepalanya. Hitler dan tentaranya mungkin menghormat dengan mengangkat tangan kanan lurus kedepan naik 45 derajat dengan telapak tangan ke arah bawah, sementara para kawulo di Mojopait akan merapatkan dua telapak tangannya menjadi satu lalu meletakkannya di jidat naik sedikit… pokoknya macem-macemlah… Itu yang dalam bentuk gerakan. Kalau dalam bentuk ucapan beda-beda lagi sesuai bahasanya masing-masing. Kecuali untuk kaum muslim mungkin… bahasanya apapun, tahiyyahnya sudah dibakukakan dalam ucapan salaam; assalaamu’alaikum.

Sepertinya sederhana saja urusan penghormatan ini,… namun apa benar sesederhana itu? Rasanya tidak deh… Dari aslinya hanya urusan angkat-angkat atau angguk-angguk dan cuap-cuap, urusan penghormatan ini kemudian melesat lebih tinggi dan tinggi lagi dalam berbagai tataran budaya, bahkan pernah singgah ke istana Wakil Presiden Republik Indonesia, ketika ex Wapres JK menghitung ia pernah sampai 14 kali dihormati dalam sehari;

Tidak, urusan hormat ini tidak sederhana. Hormat mewakili banyak hal dalam kehidupan manusia. Ucapan atau gerak tahiyyah itu merepresentasikan sesuatu yang jauh lebih besar dan serius…dan hal itu lintas waktu, nilai, budaya dan negara. Hormat dalam pengertian tahiyyah atau greetings saja memiliki skala nilai yang tinggi dalm kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara karena ia menunjukkan tatanan moral kasih pada sesama, kerukunan hidup, kedekatan emosional, keramahan, kepedulian, dan lain sebagainya. Apatah lagi ”Hormat” dalam pengertian semantik dalam Bahasa Indonesia.

Kalau di Indonesia disebutkan ”Anak itu sangat hormat pada orangtuanya”, maka hal tersebut mengandung makna kepatuhan, rasa sayang, pengharapan, dan keberpihakan. Kalau disebutkan ”Siswa itu sangat hormat pada gurunya”, pun mengandung makna yang mendalam dalam kehidupan dan interaksi antara guru dan murid.

Ketika dikatakan ”Masyarakat Indonesia amat hormat pada hukum yang berlaku”, itu artinya tatanan masyarakat ideal telah terbentuk dan terbina, karena hormat pada hukum artinya adalah kepatuhan untuk bersama-sama menjaga tatanan sosial sesuai dengan hukum-hukum yang telah disepakati bersama, atau paling tidak disepakati oleh sebagian besar anggota masyarakat menurut system yang berlaku. Pun jika ada anggota masyarakat yang tidak patuh pada hukum, itu artinya menjadi kewajiban bagi anggota masyarakat yang lain untuk mengingatkan/mencegah orang tersebut, dan jika orang itu tetap membandel dan tetap melanggar hukum, maka para penegak hukum dapat memproses pelanggaran hukum tersebut dalam bingkai penghormatan pada hukum yang berlaku.

Tapi Kang Sop, hukum di Indonesia kan bukan hukum Islam, bukan hukum Allah, tapi hukum thagut, hukum yang dihasilkan manusia, hukum yang merupakan anak kandung sistem demokrasi yang mengakomodir mayoritas, bukan mengakomodir kebenaran dan keadilan, hukum yang bisa direkayasa, hukum yang bisa diperjualbelikan tergantung berapa banyak uang yang dimiliki? Apa hukum seperti itu yang harus kita hormati dan kita patuhi…? (Hehehee…. no komen lah.. biar yang ahli-ahli saja yang bahas…).

Saudaraku…

Kalau asas saling menghormati ini kita lakukan, katakanlah kita ucapkan tahiyyah salam seperti anjuran Rasuulullah SAW pada yang kita kenal ataupun tidak kita kenal, Insya Allah itu akan membuka jalan persaudaraan, akan melembutkan hati, akan mencairkan dan menghangatkan suasana, akan meredam amarah, akan mengakrabkan para pihak, dan lebih jauh akan membiasakan kita dengan suasana di surga.

Kalau semua orang sudah saling menghormati orang lain, sudah saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, sudah menghormati tata aturan yang berlaku, sudah saling menjaga kehormatan masing-masing, mungkin akan sampai pada keadaan ketika sang Jenderal hormat dengan setulus hati pada seorang Kopral….

Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Bekasi, 21 November 2009.

http://www.sopian73.wordpress.com

Yang Layak Diperjuangkan

October 25, 2009

“Mereka terus bergerak maju tanpa kenal menyerah karena mereka memiliki keyakinan”.

“Apa yang mereka yakini”

“Mereka yakin ada kebaikan yang masih tersisa, dan itu layak diperjuangkan”.

(Samwise Gamgee & Frodo Baggins ; LOTR2; The Two Tower)

Kebaikan itu memang masih ada, dapat kita jumpai dalam geliat kehidupan sehari-hari, jadi ya, hidup ini masih layak diperjuangkan. Bukan sekadar hidup  bernafas dan beranak pinak, namun hidup yang bermakna. Hidup yang berguna, paling tidak hidup yang tidak membuat orang lain menjadi susah. Tidak menjadi beban orang lain dan mampu untuk, kalau bisa, membuat hidup orang lain menjadi lebih mudah.

Caranya bagaimana?

Mana saya taaau.. memangnya saya mama Loreng yang bisa “katanya” membantu “mengubah hidup anda”. caranya cari tahu saja masing-masing…

Jurus Gerak Kilat

September 24, 2009

38. Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

39. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

(Q.S. An-Naml : 38-40)

 

Orangpun datang dan akan kembali

Kehidupan kan jadi satu

Di kehidupan yang kedua

Akan menjadi lebih indah

 

Siapakah yang dapat melaksanakan

Sekarang berusaha mewujudkannya

 

Cahaya cinta perlahan menyilaukan

Itulah mimpi kehidupan kedua

Mimpi itu dari mana datangnya

 

Jawabnya ada di ujung langit

Kita kesana dengan seorang anak

Anak yang tangkas dan juga pemberani

 

Bertarunglah Dragon Ball

Dengan segala kemampuan yang ada

Bila kembali dari langit

Semoga hidup kan jadi lebih baik

 

Tugas yang berat dilaksanakan

Berjuang agar lebih baik

Siapa yang dapat melaksanakannya

Dan berusaha mewujudkan

Semua ini demi hidup yang baik

Hanya dia yang mampu melaksankannya.

 

(Dragon Ball Theme song-Indosiar)

 

Hidup adalah gerak, gerak adalah hidup, meski tidak semua yang bergerak adalah makhluk hidup, meski tidak semua makhluk hidup bisa bergerak. Hidup dan gerak seringkali disatukan dalam satu frase “gerak hidup” untuk menunjukkan saling keterkaitan yang erat antara keduanya.

Saya agak sulit memahami gerak ini, bukan karena saya bukan ahli fisika, bukan pula karena saya tidak bisa bergerak, tetapi ada demikian banyak gerak yang sepertinya mirip dalam hal berpindah dari satu titik ke titik lain, namun memiliki demikian banyak ragam dan variasi yang mencengangkan… seperti tercengangnya para penelusur jejak kehidupan melihat teramat banyaknya gerak kehidupan yang tiba-tiba meruyak pada era Kambrium, yang dikenal dengan “Ledakan Kambria”.

Contahlah gerak sel sperma yang tumpah di tuba fallopi, gerakannya gesit, cepat, dan pasti menuju satu titik dimana sel telur berada. Kalau dalam perjalanan banyak yang tidak tahan dan mati, itu adalah resiko perjuangan. Padahal sel sperma belum punya pikiran ataupun hasrat yang menuntunnya pada tugas membuahi sel telur. Gerak sel sperma sepertinya telah diatur demikian sejak design dan prototype pertamanya diciptakan. Gerak yang luar biasa mencengangkan mulai dari kecepatan, ketepatan sampai pada sisi aerodinamikanya, tanpa sel sperma tersebut tahu ia telah terikat pernikahan atau tidak. Pokoknya kalau sudah diluncurkan, lansung tancap gas saja menuju sasaran dengan kecepatan maksimal.

Contoh gerak yang lain adalah gerak gigitan semut Dacetine atau Semut Pemburu. Luar biasa hebat. Kecepatan kedipan mata kita sangat lambat jika dibandingkan dengan kecepatan gigitan semut ini ketika menjebak mangsanya. Kelopak mata kita membuka dan menutup dalam sepertiga detik; rahang semut Odontomachus bawi bekerja 100 kali lebih cepat. Gigitan tercepat yang teramati memakan waktu 0,33 milidetik (Harun Yahya, Keajaiban Semut).

                Tadinya saya pikir akan mudah saja menulis tentag gerak ini, tetapi setelah dilakoni, kenyataannya malah lebih banyak diam tak bergerak karena tidak terpikir apa yang akan membuat jari-jari ini bergerak mengetik. Bahkan bagaimana jari-jari bergerak dengan pas menurut keinginan hati (atau otak?) di atas tuts-tuts kibot pun tidak terpikir bagaimana prosesnya. Ternyata diri ini bodoh sekali, bahkan memahami gerakan tubuh sendiri pun tidak bisa.

                Kalau begini caranya, bagaimana bisa memahami bahwa ketika kita berjalan, bukan tubuh kita yang berpindah tempat, melainkan bumi di bawah kita yang kita pijaklah yang berpindah… Kalau begini caranya, bagaimana bisa memahami mengapa seekor bebek menyeberang jalan… padahal kata Jupe, bebek itu menyeberang jalan karena ada sang jantan di seberang sana…uuhh..tambah kacau…

                Intinya begini,… berdasarkan ayat 39 dan 40 Surat An-Naml yang saya kutip di atas, akhirnya saya yakin bahwa dalam kehidupan dunia yang dilingkupi ruang dan waktu ini, pada orang tertentu dan pada kondisi tertentu, ruang dan waktu itu dapat ditembus dan dimanipulir sedemikian rupa sehingga orang tersebut dapat terbebas dari kungkungan ruang dan waktu untuk melalukan sesuatu lalu ketika selesai kembali lagi ke lingkup ruang waktu tersebut. Jadi dari sisi manusia yang melakukannya, bisa jadi hal tersebut memerlukan waktu yang lama, namun dari sisi manusia yang menyaksikan disekitarnya hal tersebut hanya beberapa detik atau beberapa saat saja, bahkan tidak sampai sekedipan mata. Atau bisa pula sebaliknya, si pelaku merasa sebentar saja, sehari atau setengah hari, tetapi sesungguhnya itu berdurasi ratusan tahun (Check; Al-Baqarah : 259, Al-Kahfi : 19 & 25).

                Dengan keyakinan bahwa menembus ruang dan waktu adalah hal yang bisa terjadi, maka saya dapat memahami dan meyakini bahwa perjalanan Isra dan Mi’raj Rasulullah SAW dilakukan dengan jasad dan ruh beliau sekaligus, bukan hanya sekedar mimpi yang benar atau sekedar ruhnya saja. Masih mendingan Rasulullah yang tidak membawa benda apapun yang jadi beban ketika pulang, di banding anak buah Nabi Sulaiman as. yang pulangnya sambil memanggul Kursi Besar punya Ratu Bilqis. Tambahan lagi, tak mungkin hanya Abu Bakr yang mendapat gelar As-Shiddiq kalau hanya mempercayai mimpi Rasulullah.

                Yang menjadi pertanyaan saya kemudian adalah, dapatkan kondisi menembus ruang dan waktu itu dihadirkan kembali dengan mempelajarinya? Dapatkah kita, zaman sekarang ini bergerak dan berpindah, misalnya, dari Bekasi ke Bandung lalu kembali lagi ke Bekasi dalam hitungan nol koma sekian detik sambil bawa Peuyeum sebagai bukti baru balik dari Bandung? Atau dapatkah kita kembali ke seratus tahun lalu dan kembali ke mas kini tanpa menjadi tua? Dapatkah?

Memangnya, kalau bisa menembus ruang dan waktu mau ngapain?

                Hehehe… mau apa ya… supaya kalau punya mertua delapan gampang ngaturnya? Ah… gak juga, bukan itu.. Atau supaya bisa ngangkut emas di Port Knox ke Cibitung…? gak juga deh… atau supaya bisa ngacak-ngacak kekuasaan ratu beatrix dan ratu elisabeth…? bukan juga… paling-paling juga ingin kembali ke lima belas atau duapuluh tahun lalu, mengunjungi diriku sendiri, lalu aku tendang-tendangin dan gaplokin diriku di masa lalu itu supaya aktipitasnya tidak hanya tidur dan main-main saja…supaya dia banyak ibadah, kerja keras, belajar dengan tekun dan giat, banyak membaca dan menghapal Al-Quran dan berhenti dari segala macam kedunguan… hehehe…

                Sebenarnya sudah ada satu tokoh yang bisa melakukan itu di masa kini, dia bisa menembus ruang dan waktu dan bisa bergerak dengan kecepatan yang extraordinary sehingga bisa berpindah tempat bahkan berpindah antar planet dan antar galaksi hanya dalam hitungan kejapan mata, bahkan bisa sambil membawa barang atau orang lain bersamanya. Dia bisa melakukan itu karena mempelajarinya dengan tekun. Bahkan ilmu itu dia beri nama; Jurus Gerak Kilat. Dia adalah Son Go Ku, tokoh utama film animasi Dragon Ball yang theme songnya saya kutip di atas.

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.

Jadi, ilmu menembus ruang dan waktu dalam sekejap mata Insya Allah dapat dipelajari dan diaplikasikan jika kondisi yang sesuai dapat dihadirkan kembali dalam kehidupan kekinian. Orang dulu, zaman Nabi Sulaiman, yang belum ada teori quantum saja bisa, mengapa sekarang tidak?  Dan sekejap mata ya, bukan hanya mempersingkat waktu tempuh Bekasi-Bandung dari 4 jam menjadi 2 jam. Kalau mempersingkat waktu tempuh dari 4 jam menjadi 2 jam sih, PT. Jasa Marga juga bisa….

 

Bekasi, 24 September 2009/5 Syawwal 1430H.

Ahmad Sopiani

Barang Usang Bernama Pahlawan

June 13, 2009

Tiap kebudayaan mengenal sosok pahlawannya masing-masing, kapanpun dan di manapun, menembus sekat-sekat ruang dan waktu, dalam skala lokal pun dalam scoup yang lebih besar. Masing-masing dengan standar dan kriterianya sesuai dengan kondisi subyektip(f) lembah budaya tersebut. Saya sebut kondisi subyektip(f), dan bukan kondisi obyektip(f) karena memang demikianlah adanya. Saya kemukakan satu contoh aktual dari koran yang saya baca hari ini yang saya pinjam dari kawan, bahwa bagi masyarakat dan GP Anshor, Bung Tomo dari Kota Buaya adalah sosok yang layak disebut pahlawan. Belakangan saya tahu, bagi pemerintah negara Endonesa Bung Tomo tidak standar untuk jadi pahlawan, terlalu usil, terlalu banyak cingcong sok nasihatin para pembesar, gak qualified/herofied/heroworship. Jadi memang standarnya berbeda.

Sewaktu masih awal-awal sekolah di SDN, saya tahu dua sosok pahlawan, Pertama dari Smallville, yang sehari-harinya dalm keadaan biasa namanya Clark, kalo sudah berseragam dengan CD di luar namanya Sufferman. Yang kedua Superpet, kalo dalam keadaan biasa namanya Petruk dari Karang Tumaritis. Keduanya saya anggap pahlawan karena berani, gagah, kuat, membela yang benar, menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, menolong orang yang membutuhkan pertolongan, tanpa pamrih apapun. Belakangan saya tahu, disamping sikap kepahlawanan yang ada itu, ternyata mereka berdua, terutama yang pertama, dieksploitir oleh produser untuk kepentingan kapitalistik, yang tidak peduli sama sekali soal hero-hero-an, yang penting menghasilkan banyak laba. Jadi memang standarnya berbeda.

Setelah agak-agak kelas lima atau enem esde lah gitu, wacana tentang pahlawan saya bertambah setelah mendapat pelajaran sejarah kemerdekaan. Mulailah saya tahu tentang Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol, Pattimura, Sisingamangaraja XI, Muhammad Toha, Dewi Sartika, Pangeran Diponegoro, Bung Karno, Bung Hatta, Muh. Roem, K.H. Agus Salim dan banyak lagi lainnya, yang konon katanya, mereka disebut pahlawan karena berani menentang kumpeni belanda, gagah dan kuat berperang membela kebenaran dan menegakkan keadilan demi meraih kemerdekaan, melindungi rakyat lemah dari penindasan kumpeni, menolong rakyat dari himpitan kesewenang-wenangan penjajah. Belakangan saya tahu, bahwa dari sisi kumpeni belanda, mereka itu bukan pahlawan, tetapi ekstrimi-ekstrimis pengacau dan pemberontak yang harus ditumpas habis. Jadi memang standarnya bebeda.

Setelah lebih besar, saya lihat sosok pahlawan itu pada guru-guru yang dengan kesal karena saya nakal sekali mendidik saya hari demi hari dan tahun demi tahun sampai saya bisa diterima di unipersitas negeri. Guru-guru saya itu berani, gagah dan kuat terus mengajar dan mendidik kami meski honor sebulannya hanya cukup untuk seminggu, mendidik kami untuk selalu membela yang benar, menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, menolong orang yang membutuhkan pertolongan, tanpa boleh dengan pamrih apapun. Para guru-saya itu saya anggap pahlawan dalam kehidupan saya. Belakangan saya tahu, bahwa bagi pusat pemerintahan, mereka itu tidak lebih dari pion-pion kecil di papan catur yang boleh dikorbankan bagi keleluasaan menteri untuk bergerak dan kemenangan ratu di akhir permainan. Jadi standarnya memang berbeda.

Lalu saya coba terapkan universalitas pahlawan dalam skala lokal, maka saya beroleh kesimpulan, bahwa ayah dan ibu sayapun adalah pahlawan-pahlawan yang tidak kurang berani, gagah, dan kuatnya. Berani, gagah dan kuat dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya yang banyak itu. Juga selalu membela dan menolong kami anak-anaknya dari segala macam kesulitan dan penderitaan. Akan sangat terasa pada saat musim paceklik panjang melanda desa kami, bagaimana ayah dan ibu lintang pukang berusaha agar kami tetap cukup makan di tengah gagal panen akibat kemarau panjang. Belakangan setelah jadi orang tua dari anak saya sendiri, saya pikir apa yang dilakukan oleh ayah dan ibu saya dahulu tidak lebih dari pemenuhan tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua. Jadi memang standarnya berbeda.

Lalu, terakhir sekali dalam pencarian pahlawan, saya menemukannya secara komplit dalam pribadi Muhammad. Bukan hanya karena ia adalah Nabi dan Rasul Allah, tetapi juga karena ia memenuhi standar apapun tentang pahlawan yang pernah saya tahu. Seluruh sisi hidupnya penuh dengan sifat dan sikap pahlawan, entah itu yang real ataupun yang fiksi, kecuali tidak disebutkan bahwa ia bisa terbang bak gatut koco. Ia datang mengangkat manusia dari kehancuran akibat paganisme dan dekadensi moral. Ia datang menyelamatkan manusia dari kesombongan dan keserakahan, Ia datang membebaskan manusia dari penindasan orang-orang yang kuat. Ia berani, kuat dan gagah menghadapi musuh-musuh yang memeranginya karena ia mengajak pada kebenaran. Ia menciptakan sistem masyarakat yang berbudaya tinggi, senang pada kemajuan, menghargai hak-hak manusia, menekankan manusia untuk melaksanakan kewajiban, jujur dan adil dalam segala urusan. Ia membawa manusia pada tingkat spiritualitas yang tinggi sambil tetap menekankan pentingnya kehidupan materi. Banyak musuhnya, lebih banyak lagi sahabatnya. Banyak yang menghina dan menghujatnya, lebih banyak lagi yang memuji dan mencintainya. Mampu merubah orientasi hidup sosial yang serba bobrok dalam masyarakat ke arah kehidupan masyarakat madani yang penuh dinamika  keharmonisan dan keseimbangan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Semakin banyak yang menyerangnya, semakin besar namanya dan semakin banyak orang yang mati-matian membelanya. Ia memberikan suatu sistem hidup bagi umat, tidak hanya untuk kehidupan dunia yang sesaat, tetapi juga sistem hidup yang akan membawa pengikutnya pada kehidupan abadi yang bahagia.

Kita dapat melihat, peri hidup Muhammad yang membebaskan dalam kerangka kebenaran dan keadilan itulah yang menjadi motivasi utama bagi banyak pahlawan-pahlawan nasional yang kita ketahui. Karena itu, apapun standarnya untuk disebut pahlawan, tentu akan kita temukan pada diri Muhammad Rasulullah. Walau tentu saja, bagi banyak orang yang memusuhinya, dulu hingga kini, Muhammad dilabeli teroris dan ancaman serius bagi kemanusiaan, karena setan-setan punya standar sendiri tentang pahlawan.

Selamat jalan para pahlawan Indonesiaku yang telah tiada. Jasadmu boleh hancur dan terkubur, namamu boleh usang karena terpaan jaman, tetapi jasamu akan tetap eksis dalam angan dan hidup kami yang kini terhimpit penindasan liberalisme, materialisme, kapitalisme dan penipuan berkedok demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Kini kami menantikan hadirnya pahlawan-pahlawan baru yang akan membebaskan kami dari penjajahan dan penindasan gaya baru yang telah membuat hancur seluruh sendi kemanusiaan kami.

Cibitung, Bekasi

10 November 2007

Ahmad Sopiani

Potensi Diri Manusia

February 15, 2009

Potensi Diri Manusia
(by : Ahmad Sopiani)

Agak lama merenung bertanya dalam hati, aku harus memulai dari mana menulis tentang potensi manusia ini ? Buka-buka halaman Wikipedia dapat sedikit pengertian tentang potensi diri sebagai : kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal. (Jadi ingat pelajaran di esde tentang energi potensial). Plus keterangan klasifikasinya pada Kemampuan Dasar, Etos Kerja dan Kepribadian. Jadi aku berkesimpulan, potensi diri manusia itu adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang dengan potensi itu manusia mampu untuk memaksimalkan kemanusiannya (etos kerja) dan tujuan penciptaan manusia (kepribadian).
Jadi kira-kira, ketika Allah menciptakan manusia dengan tujuan utama untuk menjadi pribadi-pribadi “’abdun/’abiid”, maka Allah melekatkan potensi-potensi agar manusia itu bisa berhasil menjadi “abdun” atau “abiid” alias hamba yang sebenarnya. Secara logis, kalau namanya hamba, maka tidak ada pilihan kecuali taat pada tuannya. Menjadi abdun itu diraih dengan modal dasar berupa potensi-potensi yang telah Allah lekatkan secara inklusif pada manusia dan jin. Tentu saja orang atheis darwinis tidak akan mau dengan pengertian ini. Tapi biarlah, itu urusan mereka dan tanggung jawab mereka.
AlQuran menyebut tujuan penciptaan manusia tersebut dalam Surat Adz-Dzaariyaat : 56 yang terjemahnya “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah/mengabdi kepada-Ku.”.
Konsekuensi dari keselarasan dengan tujuan penciptaan tersebut adalah janji Allah atas surgaNya. Dan itu dapat dicapai hanya dengan memaksimalkan penggunaan potensi-potensi yang lekat secara spiritual. Kalau saya tentu saja berharap semua manusia (dan jin) bisa berkumpul bareng di surga, biar meriah dan suasana menjadi hangat. Tetapi kenyataannya ternyata tidak demikian, kerena banyak manusia dan jin diberitakan oleh Allah akan menjadi penghuni tungku panas api neraka.
Kalau demikian pasti ada sesuatu yang salah pada manusia dan jinnya, karena tidak mungkin lah yang salah Allahnya. Apakah yang salah pada manusia dan jin itu sehingga banyak yang jadi penghuni neraka? Hal ini pun sudah diberitakan Allah dalam Al-Quran, Surat Al-A’raaf : 179 yang terjemahnya : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Jadi ternyata menurut Allah, kesalahan itu terletak pada manusia dan jin yang tidak menggunakan potensi yang lekat pada mereka secara maksimal dalam koridor spiritual. Yang salah itu jin dan manusianya yang tidak menggunakan hati untuk “memahami”, tidak menggunakan mata untuk “melihat” dan tidak menggunakan telinga untuk “mendengar”. Contohlah itu Abu Jahal atau Abu Lahab, yang seringkali mendengar lantunan ayat-ayat Al-Quran, melihat peri kehidupan Muhammad SAW setiap hari, tetapi hati tetap ingkar pada kebenaran Islam yang di bawa Rasulullah. Mereka itu melihat dan mendengar hanya sekadar melihat dan mendengar saja, tidak sampai pada ”mendengar dan melihat” secara spiritual. Hatinya sekeras batu. Bahkan batu tidak keras-keras amat.
Contoh yang masih hangat, yang membuat saya hampir titik air mata menyaksikannya adalah kemeriahan manusia-manusia yang diberitakan berkumpul, ribuan jumlahnya, bukan untuk istighosah, tetapi untuk meminta tuah pada batu yang digenggam si kecil Ponari. Ya Allah, Astaghfirullah, kemarin malah mungkin puncak kesedihan dan kemarahan hati, melihat orang-orang itu mengaduk-aduk got Ponari dan meminum air dari selokan itu. Sembuh kagak, tebese iya. Ini yang bodoh siapa? Rakyat jelata yang hidupnya sudah gak karu-karuan itu? Ataukah para pemimpin, ulama dan da’i yang tidak bisa memberi pencerahan dan kehidupan yang lebih baik? Pikir-pikir, terlepas dari unsur syiriknya, kalau betul si Ponari bisa menyembuhkan dengan air yang dicelup batu, mengapakah si Ponari itu tidak mencelupkan batu itu ke danau-danau dan sungai-sungai supaya orang-orang itu tidak perlu mati berdesakan atau tebese karena minum air comberan. Jadi siapa yang bodoh dan jahil? Rakyat jelata yang hidupnya sudah gak karu-karuan itu? Ataukah para pemimpin dan ulama serta para da’i yang tidak bisa memberi pencerahan dan membawa manusia-manusia itu pada kehidupan atau kematian yang lebih baik?
Sesal kemudian tidak berguna, maka tidak bergunalah penyesalan para penghuni neraka yang mengatakan “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Al-Mulk : 10).

Pertanggungjawaban (Al-Mas’uliyyah)
Akhii, potensi-potensi dasar yang Allah berikan itu, berupa “pendengaran, penglihatan dan hati” tidak geratis. Tidak free. Itu harus kita bayar dengan cara melaksanakan amanat yang Allah berikan pada kita. Apakah amanat Allah itu? Tidak lain adalah “khilafah”. Setiap manusia yang tercipta, maka lekatlah dengannya amanat ke”khalifah”an untuk memakmurkan bumi ini sesuai dengan tuntunan dan tuntutan Allah. “Dan Ingatlah ketika Rabb mu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi..” (Q. S. Al-Baqarah : 30)
Amanat berupa “khilafah” dari Allah ini paling tidak memiliki tiga konsekuensi yang harus kita pahami dan kita laksanakan; pertama, kepemilikan yang ada pada kita bukanlah dalam arti yang sesungguhnya. Artinya, apapun yang kita miliki hakikatnya bukanlah milik kita. Semuanya hanya titipan dari Allah SWT. Apapun itu; rumah mewah, kuda gagah, kapal pesiar, hatta bulu-bulu dipermukaan kulit kita. Karena semuanya titipan, maka kita berkewajiban menjaganya. Itu sebabnya bunuh diri termasuk kejahatan besar yang dilarang, karena tubuh dan jiwa ini, serapuh dan sejelek apapun, bukan milik kita, tetapi titipan Allah SWT yang harus dijaga dan dipelihara. (jadi ingat yang merusak tubuh dengan asap… )
Konsekuensi kedua dari amanat khilafah adalah bahwa apapun yang kita lakukan haruslah sesuai dengan misi yang diamanatkan oleh pemberi khilafah. Mencari nafkah, harus cocok dengan ketentuan Allah. Menginfaqkan harta, harus sesuai pedoman dari Allah. Menjalani hidup harus sejalan dengan tuntunan Allah. Apapun itu, perkataan perbuatan, sudah ada ketentuan how nya dari Allah, dan Allah sudah memberikan uswah teladan untuk jadi standard/rujukan, yaitu perihidup Rasulullah SAW.
Karena semua yang kita miliki adalah titipan, karena segala yang kita lakukan harus sesuai dengan misi yang diberikan oleh pemberi khilafah, maka konsekuensi ketiga adanya amanat khilafah adalah bahwa kita tidak boleh menyimpang dari batasan-batasan, ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT. Batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan serta hukum-hukum itu Allah tetapkan bukan karena ingin mengekang manusia dalam kerangkeng, bukan karena Allah takut disaingi, tetapi karena kasih sayang Allah yang besar pada manusia. Contoh kecil, banyak orangtua yang membatasi anaknya main game di komputer, bukan apa-apa, itu karena orang tua sayang sama anak, takut mata anaknya rusak dan lagipula listrik kan mahal.
Begitupun, Allah memberi batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan serta hukum-hukum pada manusia adalah untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia itu sendiri, yang pada akhirnya manusia dapat menjadi khalifah di bumi ini sesuai dengan standard kekhalifahan dari Allah dan nanti di Hari Akhir bisa menikmati indah dan ni’matnya surga; ketika batasan-batasan, hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan tersebut dilanggar, jangan salahkan Allah jika di Hari Akhir nanti dapat jatah neraka karena; (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.(Q.S. An-Nisaa :13-14).

Kawan, jika tiga konsekuensi amanat Allah di atas tidak kita laksanakan, itu artinya kita berdiri di hadapan Allah vis a vis dengan amanat tersebut, yang dapat kita sebut yang demikian itu khianat”. Tidak pandai menjaga dan melaksanakan amanat adalah khianat sudah menjadi bahasa kita sehari-hari. Orang yang ber-khianat itu diumpamakan:
Seperti Binatang ternak, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raaf : 179)
Seperti Anjing, “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al-A’raaf : 176)
Seperti Monyet alias Kera, “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”.(Q.S. Al-Baqarah : 65) dan “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina”. (Q.S. Al-A’raaf : 166).
Seperti Kayu yang tersandar, “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (Q.S. Al-Munaafiquun : 4)
Seperti Babi, “Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Q.S. Al-Maaidah : 60)
Seperti Batu, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Baqarah : 74)
Seperti Laba-laba, ”Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”.(Q.S. Al-’Ankabuut : 41)
Seperti Keledai, ”Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (Q.S. Luqman ; 19) dan “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim”. (Q.S. Al-Jumu’ah : 5).

Memang sulit kawan, menjadi abdun yang baik, yang mengerahkan seluruh potensinya untuk mengemban amanat dan tidak ber-khianat, tetapi itu bukan mustahil, itu bisa diusahakan, sedikit-demi sedikit, setetes dua tetes, yang penting kita mau berusaha berproses ke arah itu, biarlah Allah yang menilai hasil akhirnya. Contoh abdun yang paling sukses tentu saja Rasulullah SAW, tapi tentu level kita tidak akan pernah bisa se-level dengan Rasulullah, paling tidak kita berusaha ke arah itu. Semoga sukses!!
Wallaahu a’lam.

Wassalamu’alaikum wr.wb.
Bekasi, 15 Februari 2009.
Sopian, Ahmad Sopiani
(disarikan dari presentasi Al-Ustaadz Muhammad Zaenal Muttaqien, Lc)

Potensi diri
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Potensi diri merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal.
Klasifikasi
Secara umum, potensi dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
• Kemampuan dasar, seperti tingkat intelegensi, kemampuan abstraksi, logika dan daya tangkap.
• Etos kerja, seperti ketekunan, ketelitian, efisiensi kerja dan daya tahan terhadap tekanan.
• Kepribadian, yaitu pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan, serta kebiasaan seseorang, baik jasmaniah, rohaniah, emosional maupun sosial yang ditata dalam cara khas di bawah aneka pengaruh luar.
Menurut Howard Gardner, potensi yang terpenting adalah intelegensi, yaitu sebagai berikut.
1. Intelegensi linguistik, intelegensi yang menggunakan dan mengolah kata-kata, baik lisan maupun tulisan, secara efektif. Intelegensi ini antara lain dimiliki oleh para sastrawan, editor, dan jurnalis.
2. Intelegensi matematis-logis, kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan pada kepekaan pola logika dan perhitungan.
3. Intelegensi ruang, kemampuan yang berkenaan dengan kepekaan mengenal bentuk dan benda secara tepat serta kemampuan menangkap dunia visual secara cepat. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh para arsitek, dekorator dan pemburu.
4. Intelegensi kinestetik-badani, kemampuan menggunakan gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Kemampuan ini dimiliki leh aktor, penari, pemahat, atlet dan ahli bedah.
5. Intelegensi musikal, kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara. Kemampuan ini terdapat pada pencipta lagu dan penyanyi.
6. Intelegensi interpersonal, kemampuan seseorang untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, motivasi, dan watak temperamen orang lain seperti yang dimiliki oleh seserang motivator dan fasilitator.
7. Intelegensi intrapersonal, kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri. Kemampuan ini berkaitan dengan kemampuan berefleksi(merenung) dan keseimbangan diri.
8. Intelegensi naturalis, kemampuan seseorang untuk mengenal alam, flora dan fauna dengan baik.
9. Intelegensi eksistensial, kemampuan seseorang menyangkut kepekaan menjawab persoalan-persoalan terdalam keberadaan manusia, seperti apa makna hidup, mengapa manusia harus diciptakan dan mengapa kita hidup dan akhirnya mati.
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Potensi_diri”
Kategori: Artikel yang perlu dirapikan

Ibarat Cinta

December 18, 2008

Ibarat Cinta
By: Ahmad Sopiani

“Cinta ibarat pasir, semakin kau genggam semakin sedikit yang kau dapat”. Kata-kata mutiara ini saya dapat dari seseorang bernama “Mutiara”, yang entah dari mana dia mendapatkannya. Sederhana tetapi dengan telak menghantam sisi kemanusiaan saya yang paling dalam. Entah bagaimana, ketika kali pertama membacanya saya langsung tertegun, terhenyak, seolah ada kebenaran baru yang merambahi sel-sel kelabu di balik tulang tengkorak saya. Khayal dan pikir saya langsung jauh mengembara ke berbagai situasi dan eksistensi ketika cinta mewujud dalam pentas kehidupan mayapada.

Saya membayangkan meraup tumpukan pasir dengan tangan, maka terlintas dalam pikiran semakin terbuka tangan saya, semakin banyak yang saya raup. Pun sebaliknya, ketika tangan dikepalkan, pasir dalam genggaman itu tercecer berhambur berjatuhan. Hanya menyisakan sedikit pasir saja di sisa genggaman. Ketika bayangan meraup pasir itu saya konversikan ke dalam drama pentas kemanusiaan, yang terbayang adalah kegagalan demi kegagalan para pencari cinta yang melulu ingin mendapatkan dan ingin memiliki. Ingin meraih, mengambil sebanyak-banyaknya untuk kepuasan diri dan egonya. Tak puas mendapat setitik, ingin sebelanga. Menuntut dan meminta tanpa kenal kata tak bisa. Harus kudu mendapatkan apa yang didamba. Menyisihkan dan memberangus kepentingan orang lain demi meraih apa yang dicinta oleh egonya. Ingin selalu menerima dan mendapatkan demi kepuasan dirinya. Hasil akhirnya, yang dia dapat melulu kekecewaan dan penderitaan. Kalau kata Kho Ping Ho, yang demikian itu sesungguhnya bukan cinta. Itu adalah nafsu dan ego rendah manusia.

Cinta sejati meniscayakan kebahagiaan dengan membuka tangan. Memberi, memberi dan memberi. Semakin cinta ia, semakin banyak yang diberikannya. Semakin cinta ia, semakin sedikit ruang bagi egonya. Semakin cinta ia, semakin menggebu ia bertanya apa lain hal yang bisa dilakukan untuk dambaannya. Cinta sejati meniscayakan apa yang dia berikan dan lakukan berbanding lurus dengan kebahagiaannya. Semakin besar dan banyak ia memberi, kian besar pula bahagia dalam hatinya. Para pecinta sejati tak pernah terpikir untuk memiliki. Jikapun memiliki, itu hanyalah landasan baru baginya untuk memberi lebih banyak lagi.

Bayangkanlah cinta seorang ayah pada anak dan ibu dari anaknya, selalu merupakan cinta dan pengorbanan untuk memberikan segala yang terbaik tiada kenal lelah sepanjang kisah. Lihatlah cinta sorang ibu pada anaknya yang demikian besar nuansa memberi tanpa pretensi untuk mendapat balasan kecuali rasa bahagia dapat menjalankan perannya sebagai ibu dengan baik dan benar disela keharusannya membaktikan cinta pada suaminya. Memberi dan memberi dengan tangan terbuka, memelihara cinta dalam keluarga. Ketika kata memberi itu kemudian dibubuhi kata saling, lengkaplah sudah kebahagiaan.

Bayangkanlah cinta seorang hamba pada rabb-nya, semestinya adalah dedikasi dari seluruh potensi kemanusiaan dalam upaya penghambaan yang tiada kenal akhir. Cinta tanpa syaratnya akan selalu merupakan ketaatan dan kepatuhan terhadap segala hal yang disuratkan dalam firman-Nya dan disiratkan di semesta-Nya. Membayangkan cinta ternyata membayangkan seluruh hidup dan kehidupan, meski seluruh kehidupan ini tak lebih dari sinyal-sinyal listrik di dalam otak manusia.

Sesungguhnya dahulu saya tidak terlalu suka menulis tentang cinta yang bagi saya rasanya terlalu cengeng untuk dituliskan atau dibaca. Paling banter saya jadi “penasihat” untuk orang yang sudah “ngejoprak” tak berdaya digerus erosi cinta. Bagi saya cinta terlalu biru. Terlalu melankolis. Terlalu banyak air mata. Terlalu banyak metafora. Terlalu emak-emak pecandu sinetron.

Akhirnya saya harus jujur, ibarat cinta dari Mutiara memberi ketegasan bahwa cinta terlalu penting untuk tidak dihiraukan karena persebarannya telah demikian universal dan menembus ruang dan waktu. Saya bahkan ingat pula, bahwa cinta yang sama lah yang telah melambungkan Rabiah al-Adawiyyah kepada maqam tertinggi yang bisa dicapainya.

Semoga cinta ini pulalah yang bisa mengangkat panji Islam menjulang tinggi di angkasa.

Bangkit Melawan atau Diam dan Tertindas Selamanya !!
Tetap Semangat !!
Bekasi, 18 Desember 2008.
Ahmad Sopiani
http://www.sopian73.wordpress.com

Hutan, Mengais Tangis di Sela Isak

October 27, 2008

“Lomba Tulis YPHL” (oleh: Ahmad Sopiani*)
Hutan, Mengais Tangis Di Sela Isak
Sebuah harapan masa depan

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Purwadarminta yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, pengertian Hutan antara lain: “Tanah yang luas yang ditumbuhi pepohonan (biasanya tidak sengaja ditanam namun ada pula yang sengaja ditanam)” juga berarti “Liar/tidak dipelihara”. Pengertian ini tentu saja tidak menggambarkan sepenuhnya sebuah hutan, karena ekosistem hutan tidak melulu terdiri dari pohon-pohon, melainkan juga mencakup beribu jenis perdu, pakis, jamur, parasit, beraneka bunga dan anggrek, mollusca, serangga, mammalia, burung dan beragam hewan lainnya.
Peter Farb, dalam Pustaka Alam Life HUTAN; edisi kedua, yang diterbitkan Tira Pustaka Jakarta tahun 1982, halaman 10 menjelaskan “pepohonan hanyalah yang paling menonjol saja di antara anggota masyarakat hutan. Di samping pohon mungkin terdapat lebih dari 1.000 jenis perdu, tumbuhan merambat, paku, dan cendawan dalam tanah hutan yang kecil sekalipun. Tetumbuhan tadi hidup berdampingan dengan pohon, menggunakan pohon sebagai penopang, tumbuh dalam bayangannya dan tergantung pada kelembaban tinggi yang tetap akibat naungan atap dedaunannya. Tambahan pula dalam hutan terdapat banyak sekali serangga, mamalia, burung, reptilia dan binatang amfibi”.
Dengan demikian, bicara mengenai hutan pada hakikatnya adalah berbicara mengenai seluruh komunitas dan ekosistem yang ada dihutan tersebut dengan segala macam keterkaitan yang ada di dalamnya.
Lebih lanjut Peter Farb mengatakan bahwa “banyaknya segala jenis anggota masyarakat hutan ini sangat seimbang dan semuanya saling terikat oleh tali hubungan yang tak kasat mata, misalnya hubungan pangan, lingkungan hidup dan kerjasama. Masyarakat tersebut adalah hutan sebagaimana pepohonan itu sendiri. Begitu kait-mengaitnya hamparan kehidupan hutan itu sehingga jika ada satu saja tali hubungan penting yang terputus, apapun sebabnya, seluruh pola mungkin menjadi berantakan dan hutan sendiri akhirnya musnah”.
Putusnya suatu rantai sistem yang terdapat di hutan, yang berakibat pada musnahnya sebuah hutan dan segala yang ada di dalamnya, dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang ada di alam semisal bencana alam yang dahsyat, kekeringan yang terus menerus, kebakaran dan lain sebagainya. Namun di masa kontemporer, peran manusia dalam musnahnya banyak hutan di bumi jauh lebih dominan dan lebih besar dari faktor-faktor alamiah apapun yang pernah dikenal manusia. Itulah mengapa bicara tentang hutan dengan segala kerusakan ataupun kelestariannya secara faktual juga berbicara tentang manusia dan segala kerakusan dan kepeduliannya.
Seribu empat ratus tahun lalu, kitab suci ummat Islam, Al-Quran sudah mensinyalir tentang hal ini : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Q.S. Ar-Ruum :41
Hari ini bisa kita lihat betapa banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Entah itu di daratan ataupun di lautan. Hutan yang rusak dan musnah hanyalah salah satu macam kerusakan yang terjadi. Masih tak terhitung banyaknya kerusakan yang dilakukan manusia baik secara sadar atau tanpa disadarinya. Yang lebih tragis lagi, para perusak itu tidak menunjukkan sedikitpun rasa penyesalan. Alih-alih menyesali kerusakan yang mereka timbulkan, mereka malah merusak lebih banyak lagi demi keuntungan yang lebih besar lagi.
Sepanjang Agustus 2006 saja, data WALHI mengungkapkan belasan ribu kasus kebakaran hutan yang disinyalir sengaja dilakukan oleh orang-orang yang memetik keuntungan membuka hutan dengan cara dibakar dengan sengaja dan memusnahkan jutaan hektar hutan dan lahan (http://www.walhi.or.id/kampanye/bencana/bakarhutan). Kasus-kasus pembakaran hutan ini masih terus terjadi hingga hari ini dalam skala dan intensitas yang tidak jauh berbeda.
Hutan Kalimantan, hutan tropis yang amat sangat besar dan luas, yang diklaim sebagai paru-paru dunia, kini layaknya paru-paru manusia yang terserang penyakit tubercolusis sangat akut, yang jika tidak segera diupayakan “pengobatan”nya akan segera membawa dunia ini mati bersamanya. Perubahan Iklim yang mengancam kehidupan di bumi saat-saat sekarang ini, diakui atau tidak sangat erat kaitannya dengan semakin menipisnya jumlah hutan di dunia sehingga daya serap CO2 tidak sebanding dengan banyaknya CO2 yang dilepaskan ke udara.
Kita yang peduli, tentu menangis terguguk menyaksikan dahsyatnya kerusakan yang terjadi, meski para perusak tertawa terbahak bergelimang aneka keuntungan dari hutan-hutan yang dirusaknya. Tetapi tangis saja tidak cukup. Bahkan tidak akan pernah cukup untuk menghentikan kemusnahan hutan-hutan di dunia dan khususnya di Indonesia ini. Tangis dan serapah saja hanya akan membuat kita seperti dilantunkan Iwan Fals: “Oooo O Ooo Oo… Jelas kami kecewa, menatap rimba yang dulu perkasa, kini tinggal cerita, pengantar lelap si Buyung”.(Album: Celoteh2 Iwan Fals).
Tentu saja kita tidak menafikan bahwa pertambahan penduduk dunia yang demikian pesat telah meniscayakan meningkatnya kebutuhan akan lahan untuk pemukiman dan pertanian, juga untuk industri. Seringkali imajinasi saya melayang ke masa lalu, kenangan masa kecil di tanah kelahiran, sebuah kampung kecil di barat Tangerang. Kampung itu memiliki sebuah hutan kecil di sepanjang kali Sabi tempat kami bermain dan mencari kayu bakar. Pada akhirnya kami harus rela kehilangan hutan kecil itu karena datangnya industri. Hutan itu dibabat untuk membangun pabrik dan sungai kecil jernih itu dirubah menjadi sebuah parit besar tempat membuang limbah.
Itu hanya contoh yang sangat kecil. Kapanpun di manapun, manusia membuka (baca: memusnahkan) hutan dalam kerangka memperluas tanah pertanian, permukiman, menopang industri, ataupun memenuhi kebutuhan akan kayu. Hal-hal tersebut memang diperlukan di satu sisi namun tentu kita tidak ingin itu menjadi pemusnahan sistematis terhadap hutan karena adanya segelintir orang yang serakah dan membabati hutan untuk memenuhi nafsu keserakahannya atas harta dunia. Lebih tragis lagi, manakala keserakahan itu didukung secara membabi buta oleh para penguasa dengan mengeluarkan aturan-aturan yang sangat memungkinkan para perusak hutan membabatinya dengan leluasa untuk meraup lebih banyak keuntungan untuk dinikmati diri dan kroninya.
Sebenarnya, masalahnya sangat sederhana, yaitu bahwa belum ditemukan adanya planet lain yang bisa dijangkau manusia yang sama seperti planet bumi. Jika telah ada planet lain semisal bumi yang bisa diketahui, dijangkau dan ditinggali, tentu biar saja bumi ini gosong, hancur berderai, kita tinggal pindah ke planet lain itu. Hanya saja, karena yang seperti bumi ini tidak diketahui adanya, maka tentu kita hanya sebatas berharap bumi ini layak untuk dijadikan tempat tinggal lebih lama lagi, karena itu harus sama-sama kita pelihara supaya tetap layak untuk ditinggali.
Yang sudah jelas dan pasti adalah, bahwa kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi, termasuk hutan di dalamnya, entah disengaja ataupun dengan masuknya nafsu keserakahan dan ketidakpedulian, kian hari makin bertambah intensitas dan ekstensitasnya. Dengan tingkat percepatan kerusakan yang amat sangat mencengangkan, excellent, luar biasa, luar biasa parahnya. Seribu orang berteriak lantang tentang pemeliharaan hutan dan lingkungan, cukup satu orang dengan HPH yang membungkam mereka. Sejuta orang ingin ada pohon dan hutan yang perkasa, cukup satu orang pengusaha kayu tanpa HPH mementahkannya. Seratus negara berkonferensi soal kelestarian hutan, cukup satu pengusaha kayu kelas paus yang akan membuat mereka diam terpana. Banyak orang peduli, terlalu banyak yang langsung bertindak merusak. Plus bahwa orang banyak yang peduli itu, kebanyakan juga hanya bicara saja, tidak ambil tindakan nyata.
Secara teoritis, sebuah hutan yang dihabisi seluruh pohonnya dengan gergaji mesin, memang masih dapat berproses menjadi hutan kembali seperti semula dengan apa yang disebut Hutan Puncak. Hanya masalahnya, proses menjadi hutan kembali itu memerlukan waktu beberapa ratus tahun!! Dalam rentang waktu selama itu, beberapa generasi manusia sudah akan terlanjur menderita amat hebat.
Kini saatnya disusun langkah-langkah kongkret, bukan untuk meniadakan eksploitasi hutan dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia terhadap kayu dan hasil hutan lainnya, tetapi mengatur agar eksploitasi hutan itu tidak memusnahkan hutan secara total, dapat menumbuhkan hutan kembali dalam kurun beberapa puluh tahun, dan mewariskan rimba yang perkasa kepada generasi mendatang sehingga kita tidak mengais tangis di sela isak karena musnahnya hutan perkasa Indonesia.
Tanpa berpretensi untuk mendahului para pakar, saya ingin ikut sumbang saran untuk lestarinya hutan sehingga memberi secercah harapan untuk generasi mendatang;
1. Mendidik Keluarga untuk cinta lingkungan
Setelah keperkasaan hutan hanya tinggal cerita, setelah sungai-sungai, danau-danau dangkal dan penuh sampah, setelah bukit dan gunung longsor di mana-mana, setelah air tanah kering tak tersisa, setelah udara demikian sesak, pengap dan panas, setelah tanah sedemikian gersang, setelah laut mematikan bagi ikan untuk ditinggali, setelah hancur-hancuran seperti ini, mulailah berebut telunjuk saling menuding. Semua orang paling benar, aku paling peduli, aku yang paling innocent. Halaah, ya percuma juga kalau hanya di mulut saja !!!
Kerusakan kini, adalah tugas manusia saat ini untuk mengatasinya dengan penuh kepedulian dan kecintaan. Kerusakan yang akan datang adalah tugas manusia sekarang untuk mendidik generasi berikutnya mencintai lingkungan. Kecintaan pada lingkungan untuk selalu menjaga, merawat dan memelihara lingkungan agar senantiasa membuat bumi layak dan lebih baik untuk ditinggali. Bukan kecintaan meraup untung banyak dari isu lingkungan, apalagi cinta uang dan untung banyak dari merusak lingkungan, termasuk membabat hutan tanpa aturan.
Dan, seperti layaknya pendidikan, hal itu dimulai dari keluarga-keluarga sebagai unit terkecil namun penentu dari sebuah masyarakat, dan gabungan banyak masyarakat adalah komunitas besar bernama bangsa yang membentuk peradaban di muka bumi. Tugas keluargalah untuk mendidik tiap anggotanya untuk mencintai lingkungan, melakukan penghijauan, mempraktekkan penghematan air dan listrik, menjaga kebersihan air, tanah dan udara serta berperan aktif dalam setiap upaya melestarikan lingkungan.
Mari memulai di tiap keluarga dengan memproduksi sesedikit mungkin sampah, memisahkan sampah organik dan non organik, sedapat mungkin menghemat air dan listrik, pakai sepeda ontel atau jalan kaki saja, dan menanamkan kecintaan pada pohon dengan menanamnya. Mengapa menanam pohon? Karena rindang dan hijaunya pohon bisa membantu menurunkan kadar stress dan meningkatkan ketenangan jiwa, karena dengan pohon lebih banyak oksigen dihasilkan, lebih banyak CO2 diserap, udara menjadi sejuk dan segar. Karena dengan pohon, bila berbuah akan menambah gizi atau bahkan penghasilan, karena dengan pohon, air hujan bisa lebih banyak diserap tanah sebagai cara alami konservasi air tanah. Karena adanya pohon bisa menjadi tempat tinggal banyak penghuni bumi lain selain manusia, entah itu burung atau ulat dan kupu-kupu atau bahkan bunglon dan tokek sekalipun.
Dalam dunia pendidikan berbasis buku kita kenal “sebuah buku setetes ilmu”. Dalam pendidikan berbasis pohon kita tanamkan kesan “sebatang pohon, sejuta manfaat”. Walaupun keduanya baik, kalau disuruh memilih antara setetes dan sejuta, saya akan memilih yang sejuta.
2. Regulasi dan Perundangan dilaksanakan secara konsisten.
Dalam pikiran saya, sebenarnya hanya sebuah utopia jika kita berharap pemerintah bertindak secara tegas dan konsisten dalam melaksanakan tata peraturan perundangan tentang hutan dan lingkungan. Namun menutup harapan itu sama sekali juga bukan merupakan sesuatu yang bijaksana.
Paling tidak ada tiga instrumen perundangan yang mengakomodir dan mengatur sektor kehutanan, yaitu UU no. 41/1999 tentang kehutanan yang telah diubah berdasarkan UU No. 19 Tahun 2004 tentang Perpu No. 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU no.23/1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup dan UU no. 5/1992 tentang konservasi sumber daya alam.
Regulasi dan peraturannya sudah lebih dari cukup meski materinya dibeberapa hal masih nampak dirasakan adanya berbagai kekurangan menurut banyak kalangan ( http://dewagumay.wordpress.com/2007/05/16/ undang-undang-kehutanan-mandul, lihat juga di http://www.walhi.or.id/kampanye/hutan/shk/ 060402_analisaptsnmk/ ). Kekurangan pada materi perundangan bisa diperbaiki melalui mekanisme di legislatif dan eksekutif. Yang paling sulit adalah adanya kemauan yang kuat, terarah, simultan, menyeluruh dan kompak dari para pelaku penegakkan hukum. Kuncinya adalah konsistensi para penegak hukum dan para pelaksana Undang-undang untuk melaksanakannya secara murni dan konsekwen.
Apapun sebabnya, harus kita akui bahwa para penegak hukum di Indonesia, tidak hanya hukum dan Undang-undang tentang hutan, melainkan hampir seluruh perundangan yang ada, tidak dapat melakukan penegakkan hukum dengan optimal karena banyaknya celah yang dipakai para pelanggar hukum untuk berkelit. Hal ini memerlukan peran serta dan kepedulian seluruh anggota masyarakat untuk mendukung dan jika perlu mengevaluasi kinerja para penegak hukum dengan berbagai cara dan upaya ke arah itu. Bisa melalui media massa, LSM, atau unjuk rasa sekalipun. Diharapkan, dengan pengawasan dari masyarakat, para penegak hukum dapat bekerja lebih baik dan lebih optimal.
Jangan pernah berhenti berharap, karena tanpa harapan tidak akan ada upaya yang bisa dilakukan. Apa yang dilakukan sekarang, adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap generasi yang akan datang. Semoga Allah Yang Maha Memelihara berkenan menolong kita.
Bekasi, 22 Oktober 2008
(* bekerja di PT. LG Electronics Indonesia, Bekasi)

Tentang Investasi

October 20, 2008

From: Milist-GP@yahoogroups.com [mailto:Milist-GP@yahoogroups.com] On Behalf Of Ahmad Sopiani
Sent: Thursday, October 16, 2008 6:16 AM
To: ‘tauziyah’
Cc: ‘Dana Abadi Umat’; Milist-GP@yahoogroups.com; mechav@googlegroups.com; ‘Rumah Ilmu Indonesia’
Subject: [Milist-GP] Tentang Investasi

Assalamu’alaikum

Jujur saja, saya lumayan muak dengan segala macam keributan soal investasi belakangan ini. Ribut tentang investasi yang aman, yang berhasil, yang berkembang, yang menguntungkan dan lain sebagainya.

Ramai-ramailah ngomongin saham, reksadana, obligasi, SUN, porto polio, emas, properti…. Semuanya berlomba untuk investasi. Bukan saya melarang orang investasi, tetapi saya muak karena :

  1. Saya dan mungkin banyak orang lain seperti saya, atau bahkan banyak sekali orang yang tidak seberuntung saya yang masih bisa menikmati indahnya akhir bulan, jangankan untuk investasi, untuk keperluan bertahan hidup sehari-hari saja sudah harus berjibaku dengan harga-harga kebutuhan pokok yang selalu membuat gaji sebulan akan menguap dalam dua minggu jika tidak hati-hati.
  2. dalam persepsi saya, investasi itu adalah menyimpan dan menumpuk harta kekayaan agar menjadi banyak dan menggunung. Lalu setalah banyak dan menggunung buat apa? Kapan menikmati/menggunakannyanya? Memangnya ada jaminan saya masih hidup ketika harta saya sudah banyak menggunung?
  3. dalam ingatan saya, pekerjaan menumpuk-numpuk harta itu tradisi alyahuud.
  4. selalu saja investasi itu konotasinya harta benda dalam bentuk saham, obligasi, emas, properti dlsbg. Mengapa Masjid, Pondok Pesantren, Daerah dan orang-orang miskin, pedalaman Papua, orang-orang sakit tiada daya biaya, pendidikan anak yatim, tidak dimasukkan ke dalam bentuk investasi yang paling nyata dan prospektif????
  5. 1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, 2. sampai kamu masuk ke dalam kubur. 3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 7. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin 8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At-Takaatsur : 1-8)

Permisi, saya mau pulang dan tidur…

Wassalamu’alaikum.

Sopian.


From: Dana_Abadi@yahoogroups.com [mailto:Dana_Abadi@yahoogroups.com] On Behalf Of Morry Infra
Sent: Thursday, October 16, 2008 10:41 AM
To: Ahmad Sopiani
Cc: tauziyah; Dana Abadi Umat
Subject: Re: [Dana_Abadi] Tentang Investasi

Wa’alaykum Salam Wr.Wb.,

Terima kasih tulisannya Pak Sopian….

Bener banget…!!!

Wassalam,

Morry Infra

+966-533214840


From: Dana_Abadi@yahoogroups.com [mailto:Dana_Abadi@yahoogroups.com] On Behalf Of Aboe Hanifa
Sent: Thursday, October 16, 2008 2:18 PM
To: Ahmad Sopiani; Morry Infra
Cc: tauziyah; Dana Abadi Umat
Subject: Re: [Dana_Abadi] Tentang Investasi

Alhamdulillah akhie Sopiani ,biarkan mereka2 yg sedang mengejar keuntungan riba dibalas sama ALLAH SWT langsung di dunianya dan dinanti diakheratnya juga.

Ana wa enta alhamdulillah termasuk yg masih di lindungi ALLAH SWT hidup pas2an ,lebih tenang nggak keder sama ”duniawi”.

Aboe Hanifa.


From: mechav@googlegroups.com [mailto:mechav@googlegroups.com] On Behalf Of dody
Sent: Thursday, October 16, 2008 2:28 PM
To: mechav@googlegroups.com; ‘tauziyah’; ‘AHMAD SOPIANI’
Cc: ‘Dana Abadi Umat’; Milist-GP@yahoogroups.com; ‘Rumah Ilmu Indonesia’
Subject: [mechav:959] Re: Tentang Investasi

Wallaikum Salam,

Sekedar informasi:

Investasi di Bank-bank Syariah juga ada kok?

Salah satu: Contohnya: http://www.muamalatbank.com/produk/depo_ful.asp

Produk bagi Penyimpan Dana (Shahibul Maal)
Merupakan pilihan investasi dalam mata uang rupiah maupun USD dengan jangka waktu 6 dan 12 bulan yang ditujukan bagi Anda yang ingin berinvestasi secara halal, murni sesuai syariah. Deposito ini dilengkapi dengan fasilitas asuransi jiwa.”

Masak menabung uang dilarang? Kalo ada kebutuhan mendadak, nga ada tabugan/invest? Gimana donk, mo jual motor/ rumah, trus kita pakai apa?

Kemana kita minjem? Investasi itu khan ibarat sedia payung sebelum hujan. Musibah banjir payungnya bendungan, saluran irigasi

kalo masalah keuangan lagi krisis Payungnya khan tabungan/investasi.

Jadi tabungan/ investasi ngak dilarang juga khan. Asalkan tujuannya baik & sdh bayar kewajiban: zakat, shodaqoh, infaq dll yg tiap bulannya anggap saja 10% dari pendapatan bersih kita.

Sisanya 10% bisa kita invest khan, anggap saja 10%*2jt=200rb.Org ada yg suka invest di sektor real maupun sektor perbankan syariah yg menawarkan asuransi, investasi syariah dll

Bagi yg mau invest ke sektor perbankan uang 200rb disimpan di bank syariah dlm bentuk deposito & tentu dapat bagi hasil keuntungan, ada reksadana syariah, uangnya dikumpulin oleh manajer investasi: misal : 10.000org x 100rb= 1M. Uang ini khan dipakai modal usaha oleh manajer investasi/yg ahli dalam dunia usaha & keuntungannya di bagi ke para penanam modal. Kalo bertahun2 khan usahanya bisa semakin besar & untungnya dibagi lg ke penanam modalnya. Ini jg salah satu contoh investasi.

Yg suka ke sektor real uang 200 rb ini bisa kita buat modal usaha kecil, contohnya jual baju muslim, sarung, dll. Asal kita ulet bisa berkembang uang invest kita ini.

Contoh: Koperasi itu khan juga inestasi karyawan karena kita dapat SHU.

Kalo ngak salah di dekat pabrik semen cibinong ada POM bensin bertuliskan: MILIK KOPERASI KARYAWAN PT. SEMEN …..” Mantap dech koperasi ini bisa punya pom bensin.

POM bensin ini selalu penuh dengan mobil2 Truk besar yg mengisi BBM karena posisinya: Pas pintu masuk-keluar Tol.

Coba bandingin dgn hasil SHU koperasi yg cuman jualan teh botol, rokok, mini mart mengharapkan hasil invest besar…mimpi kali yee.

Andai saja para Karyawan di kawasan MM2100 iuran uang tiap bulan: Rp50rb*50rb karyawan=2500jt=2.5M/bln utk modal usaha, trus uangnya digunakan membuka POM bensin, Warung Makan-Kantin, Bus jemputan, Mobil yg disewa perusahaan, Jasa Catering dibawah Bendera KOPERASI KARYAWAN INDUSTRI MM2100, pasti koperasi ini berkembang pesat, SHU nya besar, asalkan diberi hak2 istimewa utk mengelola usaha2 tersebut. Para Pengurus Koperasi bisa merekrut manajer2, karyawan yg handal dlm pengelolannya. Pasti karyawan ada tambahan pemasukan & sejahtera. Cuman sayangnya: wilayah2 bisnis strategis (istilahnya basah) tersebut sdh dikuasai oleh beberapa org & mereka tdk mau posisinya tergeres. Bukankah ini contoh investasi juga.

[CATHAR] Tentang Investasi

Posted by: “ais efa” arista.kristiawan@yahoo.com arista.kristiawan

Thu Oct 16, 2008 8:46 pm (PDT)

Sepertinya Bung Ahmad melihat Investasi dgn pola pandang negatif yaa…
pikir saya kita harus melihat dgn sudut pandang positif.

1 Investasi sesungguhnya adalah yang dapat membawa kebaikan dunia hingga ke akherat kelak. Yup…, contohnya ZIS itu membawa dampak bagi saudara kita yg berhak menerima dan PASTI invest itu brguna di akherat, terlepas dari ruh amalnya. Investasi nilainya gak harus besar, boleh jadi kecil di mata manusia tp besar di sisi Allah swt. Saya pun berpenghasilan yg pas2an tp saya berusaha utk bisa investasi dr penghasilan saya minimal ZIS.

2. Investasi memang menyimpan dan mengembangkan uang, tapi bila niatnya utk keperluan keluarga, saya ingin memberikan kehidupan keluarga yg lebih baik dengan mengajarkan keluarga saya ttg kedermawanan, membantu saudara yg lain, bukannya tgn diatas lebih mulia drpd tgn dibawah. Kalo menumpuk harta utk tujuan gak jelas or just for fun aja itu urusan dia sama Allah swt, bukannya segala harta kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Gak ada jaminan kita hidup berapa lama, setidaknya kita bisa meninggalkan ajaran nilai2 mulia kepada keluarga kita yg kita tinggalkan ttg investasi yg sebenarnya. Investasi Harta/uang adalah jangka menengah utk keperluan mendadak bila anak sakit, pendidikan/sekolah, gak mau kan minta-minta?!

3. Menumpuk harta jgn jadi pekerjaan dong… harta hrs berkah mo banyak or sedikit yg penting bisa membawa diri lebih dekat kepada Allah swt. Bgaimana dgn Nabi Sulaiman as apakah hina dgn hartanya? beberapa sahabat nabi saw yg kaya pun ada tp apakah hina dgn hartanya? yg menjadi hina bila ia menyangka bahwa harta ini milik dirinya seutuhnya, semua atas kerja kerasnya, tdk mau membantu saudara yg memerlukannya, tdk zis, dsb. yg paling para adalah hartanya sedikit tp ngedumel mulu gak pernah bersyukur malah su’udzon nyalahin orang kaya.

4. Konotasi harta dgn saham, obligasi dll adalah pandangan yg salah, maka harus diluruskan. saya setuju dgn Bung Ahmad, bahwa sedekah pembangunan masjid, pesantren, menolong orang adalah investasi sesungguhnya.

Luruskan makna investasi bgi kita semua bahwa Investasi sebenarnya adalah yg membawa kebaikan didunia dan bernilai di akherat, membawa keberkahan yg membuat diri semakin taat kepada Allah swt.

Ais

Re: [Dana_Abadi] Tentang Investasi

Posted by: “Achmad Rizani” Achmad.Rizani@jobppej-pps.com

Wed Oct 15, 2008 11:26 pm (PDT)

Assalamu’alaikumsalamWrWb,

Mudah2an saja orang-orang yang berinvestasi tsb tidak lupa dengan kewajibannya untuk membayar Zakat.

Wassalamu’alaikumWrWb.

arz

Re: Tentang Investasi

Posted by: “MasGagah” alva80@indo.net.id alvath_okeh

Wed Oct 15, 2008 11:51 pm (PDT)

Ivestasi…?

Bagaimana kalau investasi dalam bentuk sedekah. Bukankah semakin banyak kita memberi semakin banyak kita akan menerima!
——-

WYSIWYG (What You Share Is What You Get)

Apa yang Anda Berikan adalah Yang Anda Dapatkan

Share is Giving, Berbagi adalah Memberi. Coba hitung berapa banyak usaha kita untuk membahagiakan orang lain. Dengan sedekah? Dengan memberikan pinjaman uang/barang kepada saudara, teman atau sahabat kita yang benar-benar membutuhkan? Atau dengan menjadi orangtua asuh bagi anak-anak yang butuh bantuan untuk sekolahnya?

Apa yang Anda harapkan dari semua itu? Kebahagiaan. Untuk siapa.?

Saat memberi sesungguhnya Anda sedang memberi diri Anda sendiri. Saat Anda membahagiakan orang lain, sesungguhnya Anda membahagiakan diri Anda sendiri, sekarang dan nanti. Semuanya hanya untuk Anda.

Mengapa.? Karena melalui Andalah kebahagiaan dari Alloh Ta’ala itu datang. Sebesar apa kebahagiaan yang Anda berikan kepada orang lain, sebesar itu pula kebahagiaan yg Anda dapat. Bahkan lebih, karena Alloh yang Maha Agung lebih besar kasih sayangnya dari kasih sayang Anda kepada orang yg Anda bahagiakan.

Investasi? Mengapa tidak kita ganti menjadi Sedekah.

Salam dan Senyum,

.:MasGagah:.

http://www.masgagah80.blogspot.com/
YM: masgagah80

Bls: [Tauziyah] Tentang Investasi

Posted by: “nadhira naura” nadhiranaura@yahoo.co.id nadhiranaura

Wed Oct 15, 2008 11:27 pm (PDT)

setuju banget pak sopian…

Tentang Investasi

Posted by: “Okki” okkiewi@hotpop.com okkilogan

Thu Oct 16, 2008 8:41 pm (PDT)

memang ada benarnya juga sih, tapi bagi kalangan menengah seperti saya sangat sulit membangun hidup yang wajar tanpa berinvestasi dari sekarang. Lagi pula, apakah menabung adalah perbuatan haram ? kita tidak tahu apa yang terjadi esok, Iman saya juga belum sekuat Rasulullah SAW yang dijamin oleh ALLAH SWT, apalagi adalah kewajiban saya untuk memenuhi nafkah bagi Istri dan anak saya, yang kalo hanya mengandalkan gaji yang saya dapat, sulit dibayangkan melihat kebutuhan hidup saat ini. Intinya bahwa Investasi di Dunia juga penting disamping Investasi Akhirat, karena bukankah Rasulullah pernah berkata : “Beribadahlah engkau seolah-olah engkau akan mati besok dan bekerjalah seolah-olah engkau akan hidup selamamnya” ??

Re: Tentang Investasi

Posted by: “Agus Wahyu Sudarmaji” aguswahyu@transtv.co.id agusman_1981

Thu Oct 16, 2008 9:17 pm (PDT)

“Beribadahlah engkau seolah-olah engkau akan mati besok dan bekerjalah
seolah-olah engkau akan hidup selamamnya” ??

Merujuk pada hadits tersebut, saya pernah mendengar dalam sebuah kajian
bahwa hadits tersebut dhoif…
Tetapi unruk rincian jelasnya, saya kurang mengetahui,,,
Cmiiw,

Re: Tentang Investasi

Posted by: “PD-DE làmþdá” pd_03@sami.co.id

Thu Oct 16, 2008 9:22 pm (PDT)

Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh

sedikit sharing dari saya

saya ingin sekali berinvestasi..dalam artian yang halal…misal beternak, dagang dll.
dengan harapan bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sekarang dan InsyaAllah saya bisa lebih bersujud kepada ALLAH dengan jalan bersedekah kepada anak yatim piatu , fakir dan miskin, bisa menikah, naik haji dll
sehingga bisa sukses dunia-akherat..semoga dengan niat dan tujuan hidup yang baik akan diberi jalan yang tak terduga dari ALLAH
mohon doanya dari rekan2 milis sekalian.

menurut saya, apabila kita bisa membantu orang, kita bisa lebih mudah mengajak orang yang kita bantu menuju ke arah yang lebih baik.

Wassalamu’alaykum wr. wb.
heri