Archive for the ‘Ibunya Anak-anak’ Category

Kemang ~ Martabak Telor

August 26, 2008

Kemang itu bisa saja nama tempat di Jakarta, dimana ada kafe-kafe yang terkenal atau amoy-amoy yang aduhai… Tapi bukan itu. Kemang yang aku maksud adalah nama buah yang bentuknya bulat agak memanjang, besarnya kira-kira sebesar kepalan tangan. Tanganku tentu saja, bukan tangan Mike Tyson atau tangan Ucok Baba. Warnanya coklat muda bertotol-totol, daging buahnya putih agak kuning. rasanya assemmmm… Memakannya lebih enak jika di rujak petis sambel gula jawa atau di cocol garam.

Buah itu, buah Kemang itu, yang rasanya asem itu, yang daunnya biasa untuk lalapan urang sunda itu, yang nilai gizinya juga gak jelas itu, adalah salah satu buah favorit istriku untuk “ngarujak”. Ketika di Bogor dulu, seringkali ia beli di Pasar Leuwiliang, dan menikmatinya dengan penuh perasaan. Tapi setelah pindah ke Cibitung, Bekasi, akses ke buah Kemang menjadi sulit. So, Kemang, jadilah kau seringkali terlupakan. Kalah saing oleh bahan rujak yang lain karena ketiadaanmu.

Berbeda dengan Kemang, Martabak Telor dapat kita jumpai hampir dimanapun di Jabodetabek. Yang sulit dijumpai adalah anggaran belanja untuk Martabak telor itu… πŸ™‚ soalnya Martabak telor yang mencapai kesempurnaan paling tidak harus merogoh kocek agak ke bagian tengah, dan itu bersinggungan langsung dengan mata anggaran rumah tangga yang lain. Jadi, walaupun lumayan sangat suka dengan Martabak Telor, istriku harus cukup bersabar untuk tidak sering-sering bersua dengannya. Lagipula, makanan favorit akan lebih jauh terasa enaknya kalau ketemunya jarang-jarang saja… (hehehe.. pembelaan ketidakmampuan yang lumayan jitu…)

Advertisements

Eestreeqoo

August 6, 2008

Namanya Rida Zuraida binti H. Asep Matien, BA. Lahir di Paraji atau Bidan, aku tidak tahu, yang jelas menurut data yang aku tahu dia lahir di Bogor tanggl 11 Januari 1974. Perawakan; berat sekitar 60kg ditopang oleh tinggi badan yang 160-an cm. Kalau sedang tersenyum dengan wajahnya yang agak bulat, lumayan juga… tapi kalau pas lagi cemberut, hiii….taakkuuttt… πŸ™‚ Kulitnya sawo matang agak kuning cenderung putih, itu kalau siang atau sedang terang… kalau malam pas mati lampu… beda lagi… πŸ™‚

Masa kecilnya… entahlah… Lagipun, masa kecil kadang menyimpan kenangan yang lebih baik jika aku tidak tahu. Tapi sedikitnya aku tahu istriku menghabiskan pendidikan Sekolah Dasarnya di SDN Leuwiliang, lalu melanjutkan pencarian ilmu di Madrasah Muallimien Muhammadiyyah yang juga di Leuwiliang. Selulus Madrasah Muallimien ia kuliah di IAIN Ciputat, tempat dimana pertama kalinya ia bentrok denganku…. πŸ™‚

Pertemuannya denganku lebih karena takdir yang menuntun kami untuk sama-sama berhabitat di Ciputat. Kalau kata orang Jawa mah “witing tresno jalaran soko kulino”. Mun ceuk urang Sunda mah “ci karacak ninggang batu, lila-lila jadi legok”>teuing naon hubunganana nya.. :-). Karena tiap hari melihatku, belajar bareng, ngutang makan bareng di Ibu Kost, ke perpust bareng, kuliah dan pulang bareng… lama-lama terpikir olehnya…”Ni cowok lumayan juga… πŸ™‚ Hehehe… jadi karena udah sering bareng.. yooo sekalian hidup bareng ajaaa… πŸ™‚ Kalau urusan mati, bareng gaknya terserah takdir lah… πŸ™‚

Jadi ceritanya di suatu waktu, aku mendatangi Bapaknya dan mencoba peruntungan untuk diijinkan sekamar dengan anaknya itu. Eeh, ternyata diterima, tapi nyuruh orang tuaku datang. Ya udah deh, aku bawa deh keluarga Abah dan Ibuku dari Tangerang ke Leuwiliang, Bogor, lamaran… ternyata diterima… itu tahun 1997 akhir. Waktu bawa duit “sumbangan” buat hajatan, aku bilang : “Pak, kalau bisa sih pengen akad bulan ini, ngambil berkah Ramadhan…” Calon mertua cuma bilang… “Nanti saja, seperti tidak ada bulan syawal aja…. :-)” Okeh, jadilah bulan Syawal… 8 Februari 1998 ia berseteru dengan nasib. Pas dengan targetku untuk menikah umur 25.

Istriku “nge-fans” banget sama kecoa, kalau ketemu itu yang namanya cucunguk, pasti melonjak-lonjat dan berteriak sampai orang yang disampingnya akan terkaget-kaget… jadinya di rumah harus rajin bersih-bersih supaya tidak ada kecoa yang show. Tapi ya susah juga, sesekali walau tidak ada panitia penyelenggaranya, para kecoa itu pasti tampil…. walau tidak setiap kali cucunguk itu tampil istriku nonton.

Aku sendiri heran, mengapa menceritakan istriku ini yang kuingat paling cepet adalah kecoa, padahal masih banyak hal lain yang bisa disebut… πŸ™‚ contohnya… nnggngng.. misalnya…. eeee… apa ya…? anu.. hmm… itu… aaah.. apa ya…? πŸ™‚

Sebenarnya kasihan juga istriku ini, menikah denganku pas Endonesa di puncak krisis moneter, jangankan cari kerja, yang udah kerja aja pada di PHK. Mau sekolah S2 Tidak ada biaya. Mau masuk PNS, susahnya seperti menggapai langit. Mau bisnis, gak tau jualan apa. Benar-benar suaminya gak bisa diandalkan, jadi kebutuhan sehari-hari masih disubsidi sama orang tuanya. Tapi mendinganlah, setelah menikah denganku kalau tidur tidak hanya memeluk boneka monyet… πŸ™‚

Kini, setelah 10 tahun lebih mengadu kesaktian denganku, posisi kami masih imbang, draw. Kedudukan masih satu : satu. Yang berubah adalah komposisinya. Ia kini telah melahirkan tiga puteriku, dan jadi tulang punggung pendidikan anak-anak di rumah. Pilihannya menjadi Ibu Rumah Tangga terkait erat dengan komitmenku untuk menjadikannya pendidik terbaik untuk anak-anak kami. Meski menjalani hidup yang serba ala kadarnya, namun syukur kami kepada Allah telah menguatkan sendi-sendi keluarga dalam niat istiqhamah untuk berseteru dengan nasib (baca: berumah tangga).