Archive for the ‘Anak-anak’ Category

Riksa Ajendiri Sopiani

November 1, 2008

Melupakan akar fundamental bagi seseorang sepertiku, rasanya tidak mungkin. Karena itu aku tidak bisa lupa bahwa aku ini bagaimanapun, secara ras, adalah Urang Sunda, salah satu suku bangsa yang cukup besar di Endonesa. Sejarah panjang Urang Sunda di Endonesa memberikan kecintaan yang besar pada kesundaan dalam diriku. Meski aku tidak menguasai budaya Sunda kecuali bahasanya, namun itu sudah cukup untuk membuatku ingin ikut andil dalam upaya “ngamumule budaya sorangan”, memelihara budaya sendiri. Itu sebabnya anak ketigaku aku beri nama dalam bahasa Sunda; Riksa Ajendiri Sopiani. Riksa artinya “jaga” atau “pelihara”. Ajendiri artinya “harga diri” atau “kehormatan diri”.

Ia lahir pada pkl. 06.05, 6 Ramadhan 1427H bertepatan dengan 14 Oktober 2006. 4.1 kg berat lahirnya, dengan tali ari-ari di lehernya, telah membuat kelahirannya adalah perjuangan berat bagi ibunya. Namun Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Kini, setelah usianya lebih dua tahun, ia telah menampakkan kesehatan, kelincahan, kecerdasan dan kesempurnaan anak manusia yang tidak kalah dengan kakak-kakaknya Dilla dan Aura. saat ini bicaranya sudah sangat lancar alias bawel, meski beberapa hurup belum bisa ia lapalkan sehingga beberapa kata agak sulit aku pahami sebelum minta diterjemahkan kepada ibunya.

Rambut keritingnya mewarisi rambut dari nenek moyangnya yang di bogor dari pihak ibu. Senyumnya mewakili klan Sopiani, hidungnya tetap ikut Leuwiliang 🙂

Riksa Ajendiri Sopiani, satu lagi harapan masa depan.

Rabiha Aurora Sopiani

October 27, 2008

Karena aku suka sekali baca buku cerita, baik bergambar seperti komik ataupun yang tidak bergambar, maka aku mengenal banyak sekali karakter cerita, dongeng dan komik serta kartun. Putri Aurora, putri tidur yang bisa bangun kembali berkat seorang pangeran tampan salah satunya. Putri itu terkenal cantik dan baik hati meski tidak sekaliber Cinderella. Waktu anak keduaku ternyata perempuan juga, aku berinisiatif menyisipkan nama Aurora pada Namanya. Jadilah ia kunamakan Rabiha Aurora Sopiani. Rabiha berasal dari kata arab ro-ba-ha yang variannya ada yang berarti “beruntung”. Keberuntungan itu perlu di dunia yang serba tidak menentu ini, meski aku percaya tidak ada yang namanya “keberuntungan” karena segala sesuatu pasti karena rahmat Allah SWT.

Penyakit Atsma yang dideritanya kerap membuat aktifitasnya terganggu. Lebih ruwet lagi, biasanya puncak kambuhnya pada malam-malam sunyi saat orang lain terlelap tidur. Ruwetnya lagi, aku tidak punya kendaraan untuk membawanya ke dokter untuk inhalasi. Jadi seringnya dia aku gendong ke dokter/klinik. Susahnya lagi, klinik dekat rumah seringkali inhalasinya tidak optimal sehingga tidak lama kemudian ia harus di bawa lagi ke RS yang lebih jauh untuk inhalasi yang memadai. Alhamdulillah, akhir-akhir ini atsmanya sudah jarang kambuh…
Ia lahir 4kg di bidan Tati, bidan yang sama yang menolong kelahiran Ceuceunya Dilla, hanya saja saat itu bidan Tati sudah pindah rumahnya ke seberang Sungai Cianten, tidak lagi di dekat Pasar Leuwiliang. Lahir pagi-pagi ketika matahari sepenggalah, tanggal 6 Ramadhan 1422H atau 21 November 2001. Konon Aurora berarti fajar pagi.
Meski sering sakit-sakitan dan panas tinggi di atas 40 derajat celcius, Alhamdulillah, kecerdasannya tidak terlalu terganggu walau memang tidak secepat ceuceunya dalam belajar. Aku juga berharap dia nantinya menjadi “eksekutor” yang baik, mendampingi ceuceunya yang “think tank”.

Raisa Adila Sopiani

September 1, 2008

Ada harapan besar dari nama yang kupilihkan untuk anak pertamaku ini. Aku ingin dia menjadi presiden Endonesa yang adil dan bisa membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat, serta mewujudkan Endonesa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Rais itu bahasa arab, adil juga bahasa arab.

Jerit tangisnya memecah udara Leuwiliang, Bogor untuk pertama kalinya pada hampir tengah malam, pukul 23.55 WIB di ruang praktek bidan Tati. Aku ingat saat itu tanggal 29 Oktober 1998. Padahal mimpipun tidak dia akan lahir pada hari itu. Pasalnya, ketika pulang kerja dari Jakarta, aku bingung, mengapa di rumah ramai sekali ? semuanya kumpul… ada apa?? Aku pikir ada sesuatu yang buruk… tak ada yang bicara. Aku masuk kamar dan mendapati istriku sedang diusap-usap perutnya yang buncit oleh Teh Titi… Kenapa Teh..? Ini… Dedenya mau keluar…! Heeeh….. ?? Loh… kok gak nelpon, ngasih tau…? Tidak apa-apa, masih lama kok keluarnya…. saat itu sekitar lepas ashar…

Bayi perempuan yang mungil. Berat lahirnya 3.2 kg. panjangnya 50 cm. Aku memilihkan sendiri namanya dari hasil kontemplasi beberapa hari; Raisa Adila Sopiani. Beberapa orang mengira ada hubungan nama itu dengan Pak Amien Rais yang tahun tersebut sedang tenar-tenarnya. Tetapi sesungguhnya tidak. Nama itu muncul lebih pada kerinduanku pada sosok pemimpin yang adil yang akan membawa Endonesa pada masa depan yang jauh lebih baik.

29 Oktober 2008 mendatang usianya menurut tahun syamsiah genap 10 tahun. itu artinya ia sudah masuk masa mumayyiz yang boleh dipukul kalau tidak mau shalat. Tapi Alhamdulillah, perkembangannya cukup baik. Tanda-tanda ia mau shalat tanpa dipaksa sudah amat jelas, walau masih sering disuruh dan diingatkan. Anak-anak kan memang seperti itu, harus selalu diingatkan untuk shalat.

Kecerdasannya juga menunjukkan tingkat yang lumayan. sudah bisa baca tulis sejak TK, bisa baca Al-Quran sejak kelas 2 SD, hampir selalu mendapat point tertinggi di kelasnya, cepat mengerti hal-hal baru, banyak bertanya untuk hal-hal yang belum ia ketahui, bisa menilai keadaan dan situasi, memberi respon bila ditanya atau mendapatkan jawaban, dan bawelnya minta ampun. Tapi anak-anak bawel menunjukkan otaknya terus bekerja bukan?

Yang suka bikin kheqhi, dia selalu ngeyel… kalo dinasehatin atau dikasih tahu, seringnya membantah, kalau dilarang, lebih galak dia, kalau disuruh, selalu menunda-nunda dan akhirnya gak dikerjain… sombongnya kadang suka menyeruak keluar… kalo disuruh belajar bilangnya “gak belajar aja bisa juara…” halaah.. cape deeh…

Bodynya yang tinggi lansing sangat jungkies, sama adiknya sering berantem tapi sering main bareng… ya.. namanya juga anak-anak… sulit sekali diajak berbahasa Sunda di rumah, suka nonton tipi, tapi aku larang nonton sinetron. Keras kepala dan egois tapi sering berbagi dengan adik-adik dan kawannya….