Archive for the ‘Aku’ Category

Gedegan Sisabi

October 5, 2008

We call it Gedegan.

In my village, when I was a kid, “go to Gedegan” mean “swimming”. Perhaps Gedegan is Sunda language for Bendungan in Indonesian or dike/dam in English. Village Jati, my village, separated by a river from Uwung village. That river calls Sabi River or Kali Sabi in Indonesian or we, Sundanese community around that river, call it Sisabi. That “Gedegan” is in this Sisabi.

Like a lot of other civilizations who live around a river like Nile in Egypt, Yangtse in China, Eufrat in Iraq, or Gangga in India, Sisabi, eventhought only in a little part, also create many civilizations of Sundanese community; village Jati, Uwung, Rawacana.

Almost everyday Jati’s children and civilian go to Sisabi. Swimming, fishing, washing clothes/house equipment, or looking for shrimp. Sisabi cannot separated from our life. It’s part of village Jati’s life. Sisabi surrounding by trees as far as it flow. Sisabi’s water is clear, and more clear in summer. In the midde of summer, when the water debit is decresing, all people go to Sisabi to catch fish, shrimp, eel and shell.

“Go to Gedegan” mean “swimming” because almost everyday we were swimming in that river. So if any friend ask us to go to Sisabi, it’s mean he ask us to swim there. All village Jati kids can swim by learn to swim in Sisabi including me. In the first time, little kid like me when 7 years old, only allow to swim at border’s river with “Gaya Batu” or “Stone style”. Our senior teach us how to be a good swimmer. Than, after a while time step by step we can swim to middle of Sisabi. Moreover, we can climb a tree than jump to the river until our foot touch the bottom of river. We call it “Seblugan”, because the sound when we fall from tree to water is “blugg…” This is my favorite moment when I was a kid.

That is before 1985….

Everything is change when industry come to our village. Factories are build around Sisabi and throw their waste to Sisabi. Moreover, they change Sisabi from circle form to straight form. All trees and old Sisabi are elliminated. Than Sisabi change from a little river to only a big drain. Water color change everyday depend to kind of material waste color. There is no fish can live, no shrimp can find, no shell can enjoy… I’m very sad, but can do nothing……

Malu itu

August 20, 2008

Heranku tentang seragam siswa cowok di MTsN 1 Tangerang itu, membuahkan satu peristiwa yang tak bisa kulupa hingga kini, setelah 16 tahun berlalu. Mengapa sebuah Madrasah Tsanawiyah, yang nota bene adalah sebuah lembaga pendidikan Islam, mengharuskan murid-muridnya untuk membuka aurat?, bercelana pendek jauh di atas lutut? Tapi secara aku adalah anak kampung baru lulus SD yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..) jadi heranku itu aku simpan saja sendiri dalam hati. Bagi para ortu juga mungkin tidak masalah karena anak-anaknya tokh belum baligh sekalian buat berhemat juga. Celana panjang kan mahal…
Kelas tiga, ketika bulu-bulu disekujur tubuhku mulai merekah-rekah, aku sudah hampir tak tahan, berangkat dari rumah aku pakai celana panjang, di sekolah aku copot, masukkan tas. Ketika pulang aku pakai lagi… begitu setiap hari sambil menunggu ada keajaiban perubahan peraturan, tapi tak kunjung perubahan itu datang. Secara aku adalah anak kampung yang tidak banyak protes, yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..) aku diam saja soal tak datangnya perubahan peraturan itu…
Baru beberapa tahun kemudian aku menyadari betapa tak mungkinnya perubahan itu karena Endonesa ternyata negara sekuler, dan MTsN 1 itu adalah sebuah sekolah negeri yang harus mengikuti aturan sekularisme, sekalian buat menghemat kain dan sabun colek.
Di akhir kelas tiga, malu itu menerpa dahsyat. Ceritanya, setelah pengumuman kelulusan, dimana aku ternyata lulus dengan NEM tertinggi (gak bisa disebut narsis karena rata-ratanya hanya 6 sekian…hiks… bayangkan betapa… bagaimana yang lain…hiks..) aku otomatis mencari sekolah untuk melanjutkan belajar. Maka atas rekomendasi YOU KNOW WHO di cerita Aliran Kecil Hidup, aku dan Farid berangkat, menumpang Bis Pusaka dari Cikokol langsung menuju Ciputat. Sesampai di Pasar Ciputat, tanya punya tanya arah MAN 3 Jakarta, kami ditunjukkan satu arah, “dekat” katanya, “di Komp. IAIN” (apa juga itu IAIN, gak ngerti lah…) jadi aku dan Farid jalan kaki saja. Dekat kok, katanya…. Setelah berkeringat-keringat berjalan di panas terik selama 20 menitan, baru deh tuh terlihat plang MAN 3 Jakarta dan Madrasah Pembangunan. Masuk komplek yang asing itu, lalu sua MAN 3 itu, lalu daftar.. hanya aku yang daftar, Farid ingin tetap sekolah di Kotif Tangerang…
Selesai daftar kami beranjak, bermaksud shalat dzuhur. Tanya satpam di gerbang Komp. IAIN, kamipun menuju sebuah masjid. Sesampainya di masjid, (belakangan aku tahu namanya Masjid Fathullah) kami binun… Farid pakai celana pendek! seragam sialan itu! Farid memang body nya agak kecil dan tidak berbulu, jadi masih kelihatan belum baligh dan cocok sekali dengan celana pendek di atas lutut itu…. ”Duh, Rid, kamu sholatnya gimana? Gak ada yang kenal di sini yang bisa dipinjam sarungnya…!!” ”Ya kamu sholat duluan aja lah, nanti saya pinjam celana panjang kamu kalau kamu sudah selesai”. Oke deh kaka… Sholatlah aku… Sesaat kemudian tibalah GILIRAN Farid shalat… Aku buka gesperku…. Aku buka kancing kait celanaku….Aku turunkan ristleting celanaku… kupelorotkan celanaku… ketika sebatas lutut… seseorang menepuk pundakku….seraya berkata..”MAS, JANGAN BUKA CELANA DI SINI! BANYAK PEREMPUAN…” Towawwawwaw…, mukaku mungkin semerah udang rebus saat itu, cuma karena kulitku sawo kematengan sajalah merah wajahku tidak terlalu kentara… Suerr.. malu… mungkin aku bunuh diri saja kalau saat itu ada YOU KNOW WHO… malu karena kebodohan diri sendiri, buka-buka aurat berbulu di tengah masjid yang banyak jamaah perempuannya, yang belakangan aku tahu rata-rata mahasiswi… secara aku adalah anak kampung baru lulus MTsN yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..). Mudah-mudahan si YOU KNOW WHO tidak tahu cerita ini. 🙂

Aliran kecil hidup

August 8, 2008

Sekolah di SD biasa saja bagiku, tiada yang terlalu penting, jadi belajar juga biasa saja, seperti layaknya anak kampung yang hobinya main Gundu dan Layangan atau main Saraduan di malam-malam bulan Puasa. Karenanya, ketika lulus SD dengan nilai lumayan tinggi, aku heran juga. Aku ada diposisi 2 setelah Ghazali. Ghazali itu memang sangat cerdas, meski salah satu matanya tidak sempurna. Jujur aku pikir dia itu sudah dewasa, dalam batin kecilku pernah komentar betapa Ghazali itu mestinya sudah SMP, tetapi mengapa malah lulus SD bareng aku? Posisi 3 ditempati Dian, agak gemuk tapi cantik… dia memang anak perempuan satu-satunya yang aku tahu sangat pintar. Kalau dia ternyata cuma di posisi 3, itu lebih karena nasib saja.

Seingatku aku ingin masuk pesantren selulus SD, mungkin masih terpengaruh cita-cita, tetapi entah bagaimana Abah kemudian memasukkan aku ke MTsN 1 Tangerang di Cikokol. 14 kilometer pulang pergi ke sekolah dengan sepeda tadinya, sampai di kelas dua lalu memutuskan untuk naik nagkot saja.

Yang aku ingat di MTsN 1 adalah ucapan Pak Syarifuddin, guru Bahasa Indonesia, guru senior, yang juga adalah ayahnya Eroh temanku, bahwa “nanti, saat kalian besar, tantangan kehidupan jauh lebih sulit dari yang kini kami alami…” Nyatanya memang benar begitu. Hal lain yang kuingat adalah Pak Abu Sang Kepala Sekolah, Ibu Fatmawati guru Matematika yang menawan dengan jilbab besarnya yang suka digoda sama anak-anak cowok sampai lari menangis, dan Ilmiah Idrus…. Aah.. nama yang satu itu membuat jantung tidak berdetak secara teratur… nama terakhir itu yang suka dijadikan bahan oleh istriku untuk menggodaku… 🙂 Cinta kedua terlambat dikata…

Nama terakhir itu pula yang membuat aku hanyut ke Ciputat. Selulus MTsN dengan nilai NEM tertinggi, Ilmiah menyebut MAN 3 di Ciputat sebagai pilihan yang musti dipertimbangkan untuk melanjutkan sekolah, karena katanya dekat dengan IAIN. Tahu pun tidak apa itu IAIN, tetapi karena yang bicara Ilmiah Idrus, aku langsung minta rute ke MAN 3 Ciputat itu dan bersama kawanku Ahmad Farid (almarhum) mengunjunginya di suatu hari yang tak dapat kulupakan karena malu di hari pertama mengunjunginya.

Diri Ini

August 8, 2008

Selasa, 23 Maret 2004, Aku memulai babak baru samudera kehidupan ketika Allah yang Maha Mengetahui Semua Rahasia mendamparkan aku di sebuah Pulau Besar bernama LG Electronics. Tak pernah ku sangka tiada ku kira, nyatanya LG Electronics adalah sebuah Global Company yang subsidiary nya ada di hampir seluruh permukaan bumi. Alhamdulillah, ternyata kehidupan menghanyutkan aku ke sebuah pulau yang layak untuk kujadikan tempat berlabuh.

Yang aku ingat, ketika kecil dulu, ketika menuliskan cita-cita di Pengajian anak-anak di Musholla At-Taqwa, aku ingin menjadi Guru Besar Agama Islam… Cita-cita yang sangat biasa untuk seorang anak yang dibesarkan dilingkungan NU yang pagi sekolah SD, siang sekolah di MI dan malam Mengaji di Musholla. Karena cita-cita ini, atau mungkin karena hal lain, aku rajin sekali mengaji dan sekolah di MI meski kemudian MInya bangkrut kurang murid dan sisa muridnya dipindahkan ke MI lain, termasuk aku. Yang masih kuingat di MI itu hanya Bu Guru Yayah binti H. Kamil yang senyumnya membuat semua anak lupa pada korengnya masing-masing yang dikerubungi lalat.

Pergi sekolah pagi hari bertelanjang kaki, dengan satu buah buku diselipkan pada celana di punggungku tidak mengurangi semangatku untuk menuntut ilmu atau mungkin untuk berkumpul dengan kawan-kawan. Nyeker tak mengapa, karena saat itu yang sekolah pakai sepatu bisa dihitung. Sepatu dan buku bukan hal penting saat itu, banyak hal lain yang lebih penting, karena Kampung Jati di Desa Jatiuwung, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang pada tahun 1980 itu tidak banyak dihuni orang-orang kaya. Jadi Sepatu itu tidak penting, seperti juga tidak pentingnya mencatat dengan standar orang kota tanggal lahir dari anak-anak.

Aku ingat, ketika harus mengisi formulir tanggal lahir, Abah hanya ingat aku lahir tanggal 25 bulan Puasa tahun 1973. Akhirnya dikutak-katik kira-kira tanggal berapa jatuhnya 25 bulan puasa itu di kalender nasional. Ketemunya 25 September 1973. Jadilah itu tanggal lahir resmiku sampai sekarang, meski belakangan aku yakin, tanggal itu pastilah salah… 🙂

Entah karena cita-cita atau karena arus saja, selulus SD aku sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Tangerang di Cikokol, sekitar 7 kilometer dari tempat tinggalku. Saat itu ekonomi Abah sudah agak bagus, dan beliau sudah bisa membelikan aku sepeda mini. Dengan sepeda itu aku pergi sekolah hampir setiap hari. Kalau pas lagi apes, ban sepeda kempes dan dituntun pulang berkilo-kilometer. Yang sekarang terasa aneh sekolah di MTsN saat itu adalah karena murid laki-laki memakai seragam celana pendek jauh di atas lutut, yang dikemudian hari membuat aku menanggung malu pada hari pertama di Ciputat.

(To be continue…)