Archive for the ‘Aku, Anak-anak & Ibunya’ Category

Riksa Ajendiri Sopiani

November 1, 2008

Melupakan akar fundamental bagi seseorang sepertiku, rasanya tidak mungkin. Karena itu aku tidak bisa lupa bahwa aku ini bagaimanapun, secara ras, adalah Urang Sunda, salah satu suku bangsa yang cukup besar di Endonesa. Sejarah panjang Urang Sunda di Endonesa memberikan kecintaan yang besar pada kesundaan dalam diriku. Meski aku tidak menguasai budaya Sunda kecuali bahasanya, namun itu sudah cukup untuk membuatku ingin ikut andil dalam upaya “ngamumule budaya sorangan”, memelihara budaya sendiri. Itu sebabnya anak ketigaku aku beri nama dalam bahasa Sunda; Riksa Ajendiri Sopiani. Riksa artinya “jaga” atau “pelihara”. Ajendiri artinya “harga diri” atau “kehormatan diri”.

Ia lahir pada pkl. 06.05, 6 Ramadhan 1427H bertepatan dengan 14 Oktober 2006. 4.1 kg berat lahirnya, dengan tali ari-ari di lehernya, telah membuat kelahirannya adalah perjuangan berat bagi ibunya. Namun Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Kini, setelah usianya lebih dua tahun, ia telah menampakkan kesehatan, kelincahan, kecerdasan dan kesempurnaan anak manusia yang tidak kalah dengan kakak-kakaknya Dilla dan Aura. saat ini bicaranya sudah sangat lancar alias bawel, meski beberapa hurup belum bisa ia lapalkan sehingga beberapa kata agak sulit aku pahami sebelum minta diterjemahkan kepada ibunya.

Rambut keritingnya mewarisi rambut dari nenek moyangnya yang di bogor dari pihak ibu. Senyumnya mewakili klan Sopiani, hidungnya tetap ikut Leuwiliang 🙂

Riksa Ajendiri Sopiani, satu lagi harapan masa depan.

Rabiha Aurora Sopiani

October 27, 2008

Karena aku suka sekali baca buku cerita, baik bergambar seperti komik ataupun yang tidak bergambar, maka aku mengenal banyak sekali karakter cerita, dongeng dan komik serta kartun. Putri Aurora, putri tidur yang bisa bangun kembali berkat seorang pangeran tampan salah satunya. Putri itu terkenal cantik dan baik hati meski tidak sekaliber Cinderella. Waktu anak keduaku ternyata perempuan juga, aku berinisiatif menyisipkan nama Aurora pada Namanya. Jadilah ia kunamakan Rabiha Aurora Sopiani. Rabiha berasal dari kata arab ro-ba-ha yang variannya ada yang berarti “beruntung”. Keberuntungan itu perlu di dunia yang serba tidak menentu ini, meski aku percaya tidak ada yang namanya “keberuntungan” karena segala sesuatu pasti karena rahmat Allah SWT.

Penyakit Atsma yang dideritanya kerap membuat aktifitasnya terganggu. Lebih ruwet lagi, biasanya puncak kambuhnya pada malam-malam sunyi saat orang lain terlelap tidur. Ruwetnya lagi, aku tidak punya kendaraan untuk membawanya ke dokter untuk inhalasi. Jadi seringnya dia aku gendong ke dokter/klinik. Susahnya lagi, klinik dekat rumah seringkali inhalasinya tidak optimal sehingga tidak lama kemudian ia harus di bawa lagi ke RS yang lebih jauh untuk inhalasi yang memadai. Alhamdulillah, akhir-akhir ini atsmanya sudah jarang kambuh…
Ia lahir 4kg di bidan Tati, bidan yang sama yang menolong kelahiran Ceuceunya Dilla, hanya saja saat itu bidan Tati sudah pindah rumahnya ke seberang Sungai Cianten, tidak lagi di dekat Pasar Leuwiliang. Lahir pagi-pagi ketika matahari sepenggalah, tanggal 6 Ramadhan 1422H atau 21 November 2001. Konon Aurora berarti fajar pagi.
Meski sering sakit-sakitan dan panas tinggi di atas 40 derajat celcius, Alhamdulillah, kecerdasannya tidak terlalu terganggu walau memang tidak secepat ceuceunya dalam belajar. Aku juga berharap dia nantinya menjadi “eksekutor” yang baik, mendampingi ceuceunya yang “think tank”.

Gedegan Sisabi

October 5, 2008

We call it Gedegan.

In my village, when I was a kid, “go to Gedegan” mean “swimming”. Perhaps Gedegan is Sunda language for Bendungan in Indonesian or dike/dam in English. Village Jati, my village, separated by a river from Uwung village. That river calls Sabi River or Kali Sabi in Indonesian or we, Sundanese community around that river, call it Sisabi. That “Gedegan” is in this Sisabi.

Like a lot of other civilizations who live around a river like Nile in Egypt, Yangtse in China, Eufrat in Iraq, or Gangga in India, Sisabi, eventhought only in a little part, also create many civilizations of Sundanese community; village Jati, Uwung, Rawacana.

Almost everyday Jati’s children and civilian go to Sisabi. Swimming, fishing, washing clothes/house equipment, or looking for shrimp. Sisabi cannot separated from our life. It’s part of village Jati’s life. Sisabi surrounding by trees as far as it flow. Sisabi’s water is clear, and more clear in summer. In the midde of summer, when the water debit is decresing, all people go to Sisabi to catch fish, shrimp, eel and shell.

“Go to Gedegan” mean “swimming” because almost everyday we were swimming in that river. So if any friend ask us to go to Sisabi, it’s mean he ask us to swim there. All village Jati kids can swim by learn to swim in Sisabi including me. In the first time, little kid like me when 7 years old, only allow to swim at border’s river with “Gaya Batu” or “Stone style”. Our senior teach us how to be a good swimmer. Than, after a while time step by step we can swim to middle of Sisabi. Moreover, we can climb a tree than jump to the river until our foot touch the bottom of river. We call it “Seblugan”, because the sound when we fall from tree to water is “blugg…” This is my favorite moment when I was a kid.

That is before 1985….

Everything is change when industry come to our village. Factories are build around Sisabi and throw their waste to Sisabi. Moreover, they change Sisabi from circle form to straight form. All trees and old Sisabi are elliminated. Than Sisabi change from a little river to only a big drain. Water color change everyday depend to kind of material waste color. There is no fish can live, no shrimp can find, no shell can enjoy… I’m very sad, but can do nothing……

Raisa Adila Sopiani

September 1, 2008

Ada harapan besar dari nama yang kupilihkan untuk anak pertamaku ini. Aku ingin dia menjadi presiden Endonesa yang adil dan bisa membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat, serta mewujudkan Endonesa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Rais itu bahasa arab, adil juga bahasa arab.

Jerit tangisnya memecah udara Leuwiliang, Bogor untuk pertama kalinya pada hampir tengah malam, pukul 23.55 WIB di ruang praktek bidan Tati. Aku ingat saat itu tanggal 29 Oktober 1998. Padahal mimpipun tidak dia akan lahir pada hari itu. Pasalnya, ketika pulang kerja dari Jakarta, aku bingung, mengapa di rumah ramai sekali ? semuanya kumpul… ada apa?? Aku pikir ada sesuatu yang buruk… tak ada yang bicara. Aku masuk kamar dan mendapati istriku sedang diusap-usap perutnya yang buncit oleh Teh Titi… Kenapa Teh..? Ini… Dedenya mau keluar…! Heeeh….. ?? Loh… kok gak nelpon, ngasih tau…? Tidak apa-apa, masih lama kok keluarnya…. saat itu sekitar lepas ashar…

Bayi perempuan yang mungil. Berat lahirnya 3.2 kg. panjangnya 50 cm. Aku memilihkan sendiri namanya dari hasil kontemplasi beberapa hari; Raisa Adila Sopiani. Beberapa orang mengira ada hubungan nama itu dengan Pak Amien Rais yang tahun tersebut sedang tenar-tenarnya. Tetapi sesungguhnya tidak. Nama itu muncul lebih pada kerinduanku pada sosok pemimpin yang adil yang akan membawa Endonesa pada masa depan yang jauh lebih baik.

29 Oktober 2008 mendatang usianya menurut tahun syamsiah genap 10 tahun. itu artinya ia sudah masuk masa mumayyiz yang boleh dipukul kalau tidak mau shalat. Tapi Alhamdulillah, perkembangannya cukup baik. Tanda-tanda ia mau shalat tanpa dipaksa sudah amat jelas, walau masih sering disuruh dan diingatkan. Anak-anak kan memang seperti itu, harus selalu diingatkan untuk shalat.

Kecerdasannya juga menunjukkan tingkat yang lumayan. sudah bisa baca tulis sejak TK, bisa baca Al-Quran sejak kelas 2 SD, hampir selalu mendapat point tertinggi di kelasnya, cepat mengerti hal-hal baru, banyak bertanya untuk hal-hal yang belum ia ketahui, bisa menilai keadaan dan situasi, memberi respon bila ditanya atau mendapatkan jawaban, dan bawelnya minta ampun. Tapi anak-anak bawel menunjukkan otaknya terus bekerja bukan?

Yang suka bikin kheqhi, dia selalu ngeyel… kalo dinasehatin atau dikasih tahu, seringnya membantah, kalau dilarang, lebih galak dia, kalau disuruh, selalu menunda-nunda dan akhirnya gak dikerjain… sombongnya kadang suka menyeruak keluar… kalo disuruh belajar bilangnya “gak belajar aja bisa juara…” halaah.. cape deeh…

Bodynya yang tinggi lansing sangat jungkies, sama adiknya sering berantem tapi sering main bareng… ya.. namanya juga anak-anak… sulit sekali diajak berbahasa Sunda di rumah, suka nonton tipi, tapi aku larang nonton sinetron. Keras kepala dan egois tapi sering berbagi dengan adik-adik dan kawannya….

Kemang ~ Martabak Telor

August 26, 2008

Kemang itu bisa saja nama tempat di Jakarta, dimana ada kafe-kafe yang terkenal atau amoy-amoy yang aduhai… Tapi bukan itu. Kemang yang aku maksud adalah nama buah yang bentuknya bulat agak memanjang, besarnya kira-kira sebesar kepalan tangan. Tanganku tentu saja, bukan tangan Mike Tyson atau tangan Ucok Baba. Warnanya coklat muda bertotol-totol, daging buahnya putih agak kuning. rasanya assemmmm… Memakannya lebih enak jika di rujak petis sambel gula jawa atau di cocol garam.

Buah itu, buah Kemang itu, yang rasanya asem itu, yang daunnya biasa untuk lalapan urang sunda itu, yang nilai gizinya juga gak jelas itu, adalah salah satu buah favorit istriku untuk “ngarujak”. Ketika di Bogor dulu, seringkali ia beli di Pasar Leuwiliang, dan menikmatinya dengan penuh perasaan. Tapi setelah pindah ke Cibitung, Bekasi, akses ke buah Kemang menjadi sulit. So, Kemang, jadilah kau seringkali terlupakan. Kalah saing oleh bahan rujak yang lain karena ketiadaanmu.

Berbeda dengan Kemang, Martabak Telor dapat kita jumpai hampir dimanapun di Jabodetabek. Yang sulit dijumpai adalah anggaran belanja untuk Martabak telor itu… 🙂 soalnya Martabak telor yang mencapai kesempurnaan paling tidak harus merogoh kocek agak ke bagian tengah, dan itu bersinggungan langsung dengan mata anggaran rumah tangga yang lain. Jadi, walaupun lumayan sangat suka dengan Martabak Telor, istriku harus cukup bersabar untuk tidak sering-sering bersua dengannya. Lagipula, makanan favorit akan lebih jauh terasa enaknya kalau ketemunya jarang-jarang saja… (hehehe.. pembelaan ketidakmampuan yang lumayan jitu…)

Malu itu

August 20, 2008

Heranku tentang seragam siswa cowok di MTsN 1 Tangerang itu, membuahkan satu peristiwa yang tak bisa kulupa hingga kini, setelah 16 tahun berlalu. Mengapa sebuah Madrasah Tsanawiyah, yang nota bene adalah sebuah lembaga pendidikan Islam, mengharuskan murid-muridnya untuk membuka aurat?, bercelana pendek jauh di atas lutut? Tapi secara aku adalah anak kampung baru lulus SD yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..) jadi heranku itu aku simpan saja sendiri dalam hati. Bagi para ortu juga mungkin tidak masalah karena anak-anaknya tokh belum baligh sekalian buat berhemat juga. Celana panjang kan mahal…
Kelas tiga, ketika bulu-bulu disekujur tubuhku mulai merekah-rekah, aku sudah hampir tak tahan, berangkat dari rumah aku pakai celana panjang, di sekolah aku copot, masukkan tas. Ketika pulang aku pakai lagi… begitu setiap hari sambil menunggu ada keajaiban perubahan peraturan, tapi tak kunjung perubahan itu datang. Secara aku adalah anak kampung yang tidak banyak protes, yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..) aku diam saja soal tak datangnya perubahan peraturan itu…
Baru beberapa tahun kemudian aku menyadari betapa tak mungkinnya perubahan itu karena Endonesa ternyata negara sekuler, dan MTsN 1 itu adalah sebuah sekolah negeri yang harus mengikuti aturan sekularisme, sekalian buat menghemat kain dan sabun colek.
Di akhir kelas tiga, malu itu menerpa dahsyat. Ceritanya, setelah pengumuman kelulusan, dimana aku ternyata lulus dengan NEM tertinggi (gak bisa disebut narsis karena rata-ratanya hanya 6 sekian…hiks… bayangkan betapa… bagaimana yang lain…hiks..) aku otomatis mencari sekolah untuk melanjutkan belajar. Maka atas rekomendasi YOU KNOW WHO di cerita Aliran Kecil Hidup, aku dan Farid berangkat, menumpang Bis Pusaka dari Cikokol langsung menuju Ciputat. Sesampai di Pasar Ciputat, tanya punya tanya arah MAN 3 Jakarta, kami ditunjukkan satu arah, “dekat” katanya, “di Komp. IAIN” (apa juga itu IAIN, gak ngerti lah…) jadi aku dan Farid jalan kaki saja. Dekat kok, katanya…. Setelah berkeringat-keringat berjalan di panas terik selama 20 menitan, baru deh tuh terlihat plang MAN 3 Jakarta dan Madrasah Pembangunan. Masuk komplek yang asing itu, lalu sua MAN 3 itu, lalu daftar.. hanya aku yang daftar, Farid ingin tetap sekolah di Kotif Tangerang…
Selesai daftar kami beranjak, bermaksud shalat dzuhur. Tanya satpam di gerbang Komp. IAIN, kamipun menuju sebuah masjid. Sesampainya di masjid, (belakangan aku tahu namanya Masjid Fathullah) kami binun… Farid pakai celana pendek! seragam sialan itu! Farid memang body nya agak kecil dan tidak berbulu, jadi masih kelihatan belum baligh dan cocok sekali dengan celana pendek di atas lutut itu…. ”Duh, Rid, kamu sholatnya gimana? Gak ada yang kenal di sini yang bisa dipinjam sarungnya…!!” ”Ya kamu sholat duluan aja lah, nanti saya pinjam celana panjang kamu kalau kamu sudah selesai”. Oke deh kaka… Sholatlah aku… Sesaat kemudian tibalah GILIRAN Farid shalat… Aku buka gesperku…. Aku buka kancing kait celanaku….Aku turunkan ristleting celanaku… kupelorotkan celanaku… ketika sebatas lutut… seseorang menepuk pundakku….seraya berkata..”MAS, JANGAN BUKA CELANA DI SINI! BANYAK PEREMPUAN…” Towawwawwaw…, mukaku mungkin semerah udang rebus saat itu, cuma karena kulitku sawo kematengan sajalah merah wajahku tidak terlalu kentara… Suerr.. malu… mungkin aku bunuh diri saja kalau saat itu ada YOU KNOW WHO… malu karena kebodohan diri sendiri, buka-buka aurat berbulu di tengah masjid yang banyak jamaah perempuannya, yang belakangan aku tahu rata-rata mahasiswi… secara aku adalah anak kampung baru lulus MTsN yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..). Mudah-mudahan si YOU KNOW WHO tidak tahu cerita ini. 🙂

Aliran kecil hidup

August 8, 2008

Sekolah di SD biasa saja bagiku, tiada yang terlalu penting, jadi belajar juga biasa saja, seperti layaknya anak kampung yang hobinya main Gundu dan Layangan atau main Saraduan di malam-malam bulan Puasa. Karenanya, ketika lulus SD dengan nilai lumayan tinggi, aku heran juga. Aku ada diposisi 2 setelah Ghazali. Ghazali itu memang sangat cerdas, meski salah satu matanya tidak sempurna. Jujur aku pikir dia itu sudah dewasa, dalam batin kecilku pernah komentar betapa Ghazali itu mestinya sudah SMP, tetapi mengapa malah lulus SD bareng aku? Posisi 3 ditempati Dian, agak gemuk tapi cantik… dia memang anak perempuan satu-satunya yang aku tahu sangat pintar. Kalau dia ternyata cuma di posisi 3, itu lebih karena nasib saja.

Seingatku aku ingin masuk pesantren selulus SD, mungkin masih terpengaruh cita-cita, tetapi entah bagaimana Abah kemudian memasukkan aku ke MTsN 1 Tangerang di Cikokol. 14 kilometer pulang pergi ke sekolah dengan sepeda tadinya, sampai di kelas dua lalu memutuskan untuk naik nagkot saja.

Yang aku ingat di MTsN 1 adalah ucapan Pak Syarifuddin, guru Bahasa Indonesia, guru senior, yang juga adalah ayahnya Eroh temanku, bahwa “nanti, saat kalian besar, tantangan kehidupan jauh lebih sulit dari yang kini kami alami…” Nyatanya memang benar begitu. Hal lain yang kuingat adalah Pak Abu Sang Kepala Sekolah, Ibu Fatmawati guru Matematika yang menawan dengan jilbab besarnya yang suka digoda sama anak-anak cowok sampai lari menangis, dan Ilmiah Idrus…. Aah.. nama yang satu itu membuat jantung tidak berdetak secara teratur… nama terakhir itu yang suka dijadikan bahan oleh istriku untuk menggodaku… 🙂 Cinta kedua terlambat dikata…

Nama terakhir itu pula yang membuat aku hanyut ke Ciputat. Selulus MTsN dengan nilai NEM tertinggi, Ilmiah menyebut MAN 3 di Ciputat sebagai pilihan yang musti dipertimbangkan untuk melanjutkan sekolah, karena katanya dekat dengan IAIN. Tahu pun tidak apa itu IAIN, tetapi karena yang bicara Ilmiah Idrus, aku langsung minta rute ke MAN 3 Ciputat itu dan bersama kawanku Ahmad Farid (almarhum) mengunjunginya di suatu hari yang tak dapat kulupakan karena malu di hari pertama mengunjunginya.

Diri Ini

August 8, 2008

Selasa, 23 Maret 2004, Aku memulai babak baru samudera kehidupan ketika Allah yang Maha Mengetahui Semua Rahasia mendamparkan aku di sebuah Pulau Besar bernama LG Electronics. Tak pernah ku sangka tiada ku kira, nyatanya LG Electronics adalah sebuah Global Company yang subsidiary nya ada di hampir seluruh permukaan bumi. Alhamdulillah, ternyata kehidupan menghanyutkan aku ke sebuah pulau yang layak untuk kujadikan tempat berlabuh.

Yang aku ingat, ketika kecil dulu, ketika menuliskan cita-cita di Pengajian anak-anak di Musholla At-Taqwa, aku ingin menjadi Guru Besar Agama Islam… Cita-cita yang sangat biasa untuk seorang anak yang dibesarkan dilingkungan NU yang pagi sekolah SD, siang sekolah di MI dan malam Mengaji di Musholla. Karena cita-cita ini, atau mungkin karena hal lain, aku rajin sekali mengaji dan sekolah di MI meski kemudian MInya bangkrut kurang murid dan sisa muridnya dipindahkan ke MI lain, termasuk aku. Yang masih kuingat di MI itu hanya Bu Guru Yayah binti H. Kamil yang senyumnya membuat semua anak lupa pada korengnya masing-masing yang dikerubungi lalat.

Pergi sekolah pagi hari bertelanjang kaki, dengan satu buah buku diselipkan pada celana di punggungku tidak mengurangi semangatku untuk menuntut ilmu atau mungkin untuk berkumpul dengan kawan-kawan. Nyeker tak mengapa, karena saat itu yang sekolah pakai sepatu bisa dihitung. Sepatu dan buku bukan hal penting saat itu, banyak hal lain yang lebih penting, karena Kampung Jati di Desa Jatiuwung, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang pada tahun 1980 itu tidak banyak dihuni orang-orang kaya. Jadi Sepatu itu tidak penting, seperti juga tidak pentingnya mencatat dengan standar orang kota tanggal lahir dari anak-anak.

Aku ingat, ketika harus mengisi formulir tanggal lahir, Abah hanya ingat aku lahir tanggal 25 bulan Puasa tahun 1973. Akhirnya dikutak-katik kira-kira tanggal berapa jatuhnya 25 bulan puasa itu di kalender nasional. Ketemunya 25 September 1973. Jadilah itu tanggal lahir resmiku sampai sekarang, meski belakangan aku yakin, tanggal itu pastilah salah… 🙂

Entah karena cita-cita atau karena arus saja, selulus SD aku sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Tangerang di Cikokol, sekitar 7 kilometer dari tempat tinggalku. Saat itu ekonomi Abah sudah agak bagus, dan beliau sudah bisa membelikan aku sepeda mini. Dengan sepeda itu aku pergi sekolah hampir setiap hari. Kalau pas lagi apes, ban sepeda kempes dan dituntun pulang berkilo-kilometer. Yang sekarang terasa aneh sekolah di MTsN saat itu adalah karena murid laki-laki memakai seragam celana pendek jauh di atas lutut, yang dikemudian hari membuat aku menanggung malu pada hari pertama di Ciputat.

(To be continue…)

Eestreeqoo

August 6, 2008

Namanya Rida Zuraida binti H. Asep Matien, BA. Lahir di Paraji atau Bidan, aku tidak tahu, yang jelas menurut data yang aku tahu dia lahir di Bogor tanggl 11 Januari 1974. Perawakan; berat sekitar 60kg ditopang oleh tinggi badan yang 160-an cm. Kalau sedang tersenyum dengan wajahnya yang agak bulat, lumayan juga… tapi kalau pas lagi cemberut, hiii….taakkuuttt… 🙂 Kulitnya sawo matang agak kuning cenderung putih, itu kalau siang atau sedang terang… kalau malam pas mati lampu… beda lagi… 🙂

Masa kecilnya… entahlah… Lagipun, masa kecil kadang menyimpan kenangan yang lebih baik jika aku tidak tahu. Tapi sedikitnya aku tahu istriku menghabiskan pendidikan Sekolah Dasarnya di SDN Leuwiliang, lalu melanjutkan pencarian ilmu di Madrasah Muallimien Muhammadiyyah yang juga di Leuwiliang. Selulus Madrasah Muallimien ia kuliah di IAIN Ciputat, tempat dimana pertama kalinya ia bentrok denganku…. 🙂

Pertemuannya denganku lebih karena takdir yang menuntun kami untuk sama-sama berhabitat di Ciputat. Kalau kata orang Jawa mah “witing tresno jalaran soko kulino”. Mun ceuk urang Sunda mah “ci karacak ninggang batu, lila-lila jadi legok”>teuing naon hubunganana nya.. :-). Karena tiap hari melihatku, belajar bareng, ngutang makan bareng di Ibu Kost, ke perpust bareng, kuliah dan pulang bareng… lama-lama terpikir olehnya…”Ni cowok lumayan juga… 🙂 Hehehe… jadi karena udah sering bareng.. yooo sekalian hidup bareng ajaaa… 🙂 Kalau urusan mati, bareng gaknya terserah takdir lah… 🙂

Jadi ceritanya di suatu waktu, aku mendatangi Bapaknya dan mencoba peruntungan untuk diijinkan sekamar dengan anaknya itu. Eeh, ternyata diterima, tapi nyuruh orang tuaku datang. Ya udah deh, aku bawa deh keluarga Abah dan Ibuku dari Tangerang ke Leuwiliang, Bogor, lamaran… ternyata diterima… itu tahun 1997 akhir. Waktu bawa duit “sumbangan” buat hajatan, aku bilang : “Pak, kalau bisa sih pengen akad bulan ini, ngambil berkah Ramadhan…” Calon mertua cuma bilang… “Nanti saja, seperti tidak ada bulan syawal aja…. :-)” Okeh, jadilah bulan Syawal… 8 Februari 1998 ia berseteru dengan nasib. Pas dengan targetku untuk menikah umur 25.

Istriku “nge-fans” banget sama kecoa, kalau ketemu itu yang namanya cucunguk, pasti melonjak-lonjat dan berteriak sampai orang yang disampingnya akan terkaget-kaget… jadinya di rumah harus rajin bersih-bersih supaya tidak ada kecoa yang show. Tapi ya susah juga, sesekali walau tidak ada panitia penyelenggaranya, para kecoa itu pasti tampil…. walau tidak setiap kali cucunguk itu tampil istriku nonton.

Aku sendiri heran, mengapa menceritakan istriku ini yang kuingat paling cepet adalah kecoa, padahal masih banyak hal lain yang bisa disebut… 🙂 contohnya… nnggngng.. misalnya…. eeee… apa ya…? anu.. hmm… itu… aaah.. apa ya…? 🙂

Sebenarnya kasihan juga istriku ini, menikah denganku pas Endonesa di puncak krisis moneter, jangankan cari kerja, yang udah kerja aja pada di PHK. Mau sekolah S2 Tidak ada biaya. Mau masuk PNS, susahnya seperti menggapai langit. Mau bisnis, gak tau jualan apa. Benar-benar suaminya gak bisa diandalkan, jadi kebutuhan sehari-hari masih disubsidi sama orang tuanya. Tapi mendinganlah, setelah menikah denganku kalau tidur tidak hanya memeluk boneka monyet… 🙂

Kini, setelah 10 tahun lebih mengadu kesaktian denganku, posisi kami masih imbang, draw. Kedudukan masih satu : satu. Yang berubah adalah komposisinya. Ia kini telah melahirkan tiga puteriku, dan jadi tulang punggung pendidikan anak-anak di rumah. Pilihannya menjadi Ibu Rumah Tangga terkait erat dengan komitmenku untuk menjadikannya pendidik terbaik untuk anak-anak kami. Meski menjalani hidup yang serba ala kadarnya, namun syukur kami kepada Allah telah menguatkan sendi-sendi keluarga dalam niat istiqhamah untuk berseteru dengan nasib (baca: berumah tangga).