The Catapult of Giant Killer [8]

Benda-benda Peninggalan Para Nabi & Rasul [bag.8]

8.      The Catapult of Giant Killer

Bani Israil… Beberapa kurun waktu setelah Nabi Musa wafat….

Pada mulanya ia hanya seorang penggembala domba biasa saja. Pagi hari membawa wedhus-wedhusnya ke padang rumput lalu kembali ke kandang pada sore harinya. Senyampang menjaga domba-dombanya, ia mengisi hari dan waktunya dengan latihan-latihan pisik olah kanuragan. Berlari, jungkir, merayap, jalan jongkok, push-up, sit-up, olah pernapasan dan tak lupa seringkali memandang alam raya dengan penuh tafakkur dan tadabbur. Demikian ia menghabiskan masa kecilnya sampai tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat perkasa hasil tempaan alam dan kehidupan. Untuk menjaga domba-domba dari serangan serigala, ia juga membuat sebuah katapel sebagai senjata sederhana berfungsi melontarkan batu kerikil dari jarak jauh untuk mengusir serigala yang mencoba menghampiri. Sampai saat demikian, ia tidak tahu bahwa Allah punya rencana besar dengan katapel dan dirinya itu.

Kisahnya bermula dari rekrutmen yang dilakukan oleh rajanya yang bernama Thalut terhadap para pemuda gagah untuk membentuk detasemen-detasemen lasykar reguler dan pasukan khusus yang akan dipersiapkan menghadapi seorang raja penjajah bernama Jalut yang oleh Orang Kulon disebut Goliath.

Raja Jalut ini sudah amat lama malang melintang di Middle Earth alias Bumi Tengah. Menghabisi tentara lokal, menteror dan membunuhi penduduk, memaksa dengan kekuatannya negeri demi negeri untuk menyerah atau mati untuk sebuah sebutan : Sang Penakluk atawa The Conqueror. Banyak sudah negeri yang telah jatuh dalam penaklukan Jalut. Namun meski bentangan kekuasaannya sudah sedemikian besar, ia tak pernah merasa cukup sebelum seluruh Middle Earth ditaklukkannya. Tentaranya segera diarahkan ke negeri lain yang belum ia taklukkan. Ia mengarah ke sebuah negeri Subur bernama Ursyalim…

Raja Thalut merekrut setiap pemuda untuk memenuhi panggilan tugas menjaga tanah air dari serbuan Raja Jalut. Dikirimnya perwira-perwira ke segenap pelosok negeri untuk rekrutment itu. Seorang perwira yang dikirim ke desa-desa sekitar tempat tinggal Daud muda tengah dalam perjalanan kembali dengan orang rekrutannya yang gagah-gagah ketika ia kemudian melewati sebuah padang rumput di tepi sebuah hutan. Ia yang berkuda paling depan tercengang, ketika melihat seorang pemuda anak gembala dengan katapelnya berhasil memecahkan kepala seekor serigala yang mendekati domba-dombanya. Padahal jarak antara gembala dan serigala itu terhitung jauh, dua pelemparan batu.

Sang Perwira mendekati Daud dan berkata : “Kulihat kau membunuh seekor serigala dengan katapelmu itu… sungguh luar biasa bagiku… siapa namamu?”

“Namaku Daud”, jawab sang pemuda gembala sambil memperhatikan sang perwira yang demikian gagah dengan baju zirah yang membalut tubuhnya.

“Negeri ini sebentar lagi akan diserang oleh Raja Kafir bernama Jalut, maukah kau membantu kami mempertahankan negeri ini dari serangannya?” tanya Sang Perwira.

“Oh, tentu saja.. aku senang bila bisa membantu mempertahankan negeri yang aku cintai ini”. Jawab Daud mantap.

Sang Perwira pun membawa Daud bergabung dengan lasykar paramiliter lainnya dan menempatkannya di pasukan khusus. Sang Perwira tidak memperdulikan komplain dari lasykar lain yang menganggap Daud masih terlalu muda dan tanpa pengalaman. Hanya akan menambah korban bagi tentara Jalut saja. Sang perwira hanya tersenyum dan berkata “kualitas seseorang tidak ditentukan oleh umurnya”. Mereka terdiam.

Lasykar dari seluruh negeri berkumpul di alun-alun utama langsung di bawah komando raja Thalut. Mereka dibagi-bagi ke beberapa divisi dan satuan-satuan dengan komandan dan lambang masing-masing kesatuan. Atas rekomendasi perwira yang merekrutnya, Daud ditempatkan pada sebuah unit khusus bersenjata jarak jauh. Tugas mereka adalah melindungi pasukan dari pinggir arena dan membunuh musuh sebanyak mungkin dari jarak jauh. Zaman sekarang kita menyebutnya “Sniper”. Daud mendapat tugas lebih khusus lagi. Ia, bagaimanapun keadaannya, harus fokus pada satu sasaran, yaitu biang tentara penjajah, Jalut.

Setelah seluruh wajib militer berkumpul dan mendapatkan pengarahan dari para komandan lapangan,..berangkatlah tentara Raja Thalut dalam barisan-barisan besar meninggalkan negeri Ursyalim untuk menyongsong tentara Goliath di luar tapal batas negeri. Karena jika Jalut dibiarkan masuk ke negeri Ursyalim, akan hancurlah segala bentuk kehidupan di dalam negeri.

Barisan tentara terus berjalan dalam siang yang panas terik dan gelap malam yang dingin selama beberapa hari. Lelah dan letih sudah merayapi wajah-wajah mereka. Bahkan banyak sekali yang sudah mulai mengeluh dan merengek karena terlalu terbiasa hidup enak di negeri mereka yang subur, sehingga mereka menjadi manja dan tanpa semangat. Keikutsertaan mereka kebanyakan bukan karena niat yang tulus, tetapi terpaksa oleh berbagai macam alasan. Berkali-kali mereka meminta istirahat sampai membuat murka para komandan. Raja Thalut hanya menarik nafas panjang dan mengelus dada menyaksikan tentaranya. Ia bermohon perlindungan pada Allah dari kelemahan mental tentaranya.

Setelah berhari-hari berjalan dalam terik matahari… para pendahulu pasukan menyampaikan kabar pada Thalut bahwa di depan sana ada sebuah sungai berair jernih… “waah.. masalah nih… padahal jarak kita dengan tentara Jalut sudah kian dekat… demikian pikir Sang Raja, lalu ia mengumpulkan para komandan dan akhirnya memberi perintah… “Baik, kita seberangi sungai itu. Tetapi sampaikan pada pasukan bahwa sesampainya di sungai itu, mereka tidak boleh meminum airnya kecuali secidukan tangan saja… yang meminum lebih dari itu bukan lagi pasukanku” para komandan mengangguk mengerti dan segera menyampaikan perintah ini kepada pasukan di masing-masing kesatuannya.

Apa terjadi..? sesampainya di sungai itu, kebanyakan lasykar “berpesta”. Mereka menyelami sungai untuk mandi dan minum sepuasnya sampai perutnya buncit… kecuali sebagian kecil dari pasukan yang imannya telah benar-benar mantap… mereka minum sedikit saja sekadar hilang dahaga.. lalu menyeberang sungai dan siap melanjutkan perjalanan jihad. Sementara kabanyakan tentara yang minum sampai buncit sedang menggelepar tak berdaya. Sebagian sudah tertidur dengan nyenyak di bantaran sungai. Mereka berkata : “Oooh… hari ini gak kuat deh.. lemes banget nih… gak sanggup deh kalau hari ini lanjutkan perjalanan melawan tentara Jalut…”. Thalut dan tentaranya yang setia dan beriman kuat hanya menggelengkan kepala, lalu menyerahkan urusannya pada Allah dan berkata : “Kita lanjutkan perjalanan tanpa mereka. Insya Allah kita akan menemui Allah di ujung perjalanan kita dan akan mendapat kemenangan. Ingatlah, betapa banyak kelompok yang jumlahnya sedikit dapat mengalahkan kelompok yang jumlahnya banyak dengan izin Allah.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah : 249; “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Thalut melanjutkan perjalanannya. Tentara anggota pasukannya hanya tinggal sedikit sekali. Tetapi tetap semangat dengan tekad bulat untuk menghancurkan kebathilan/kerusakan dari muka Bumi Tengah. Bagi mereka pilihannya hanya bangkit melawan atau diam dan tertindas selamanya. Maka..sore itu mereka sudah face to face dengan Jalut dan tentaranya. Jarak mereka hanya dipisahkan sebuah bulak panjang yang ditumbuhi rumput dan perdu.. Esok paginya pastilah pertempuran tak akan terhindarkan lagi.

Malam itu Raja Thalut dan para komandan lapangan mengatur strategi untuk menghadapi tentara Jalut yang jumlahnya menjadi puluhan kali lipat dari tentara mereka akibat desersi lasykar di sungai kemarin. Menghadapi Jalut dengan perang campuh dan terbuka akan berakibat kurang baik. Para penyelidik dan mata-mata sudah pula melaporkan bahwa Jalut dan tentaranya sudah siap dengan gelar perang Sapit Urang yang memang sangat menguntungkan karena jumlah mereka yang demikian banyak. “Baiklah, kita bersiap dengan gelar perang Dirada Meta. Namun ingat, di tengah belalai gelar ini adalah untuk mengawal Daud agar bisa mencapai pusat gelar perang Sapit Urang mereka dan Jalut bisa dijangkau oleh Daud. Bisa kalian laksanakan?” Tanya Thalut.

“Siap..!” para komandan serempak menjawab.

“Daud, kau mengerti tugasmu?”

“Siap, tugas saya hanya satu, membunuh Jalut agar seluruh tentaranya menyerah”.

“Bagus. Silahkan kalian kembali ke pasukan, malam ini semua pasukan harus Qiyaamullail dan berdoa pada Allah agar diberi kesabaran, ketetapan hati dan pertolonganNya. Yang tidak ikut qiyaamullail, ikat dia di tenda, jangan diajak perang esok hari karena akan melemahkan pasukan kita”

“Siap..!” para komandan kembali serempak menjawab, lalu kembali ke pasukan masing-masing.

Malam itu, Thalut dan seluruh pasukan Tahajjud seraya berdo’a : “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah : 250).

Fajar menjelang…. persiapan perang sampai ke tahap akhir…. gelar perang sudah dibentangkan di padang rumput… 2 pasukan berhadapan… Sapit Urang berhadapan dengan Dirada Meta.

…………………….

Matahari terbit tanpa bisa ditahan.. dua pasukan yang tidak seimbang berhadapan. Kavaleri di barisan terdepan, disusul barisan infanteri di belakangnya. Suasana sepi mencekam… aroma maut tercium amat tajam…

Dari arah pasukan Jalut… melompat seekor kuda dengan penunggangnya… seorang utusan. Thalut tidak mau mewakilkan.. ia sendiri mendera kudanya maju… keduanya bertemu di tengah-tengah antara 2 pasukan… keduanya mengangguk berhadapan.

“Wahai utusan tentara Thalut.. siapakah kamu..?” tanya utusan Jalut.

“Aku sendiri Thalut”. Sebutkanlah namamu..!

“Aku Jumawa bergelar Penghirup Sukma. Menyerahlah kalian dan tunduklah di bawah perintah Maharaja Jalut. Atau kalian akan musnah kami gilas… lihatlah betapa kecil pasukanmu. Tak mungkin kalian selamat jika melawan..!”

“Hmm… benar-benar kau jumawa.. bagi kami lebih baik mati dengan kehormatan kami daripada harus tunduk pada raja kafir macam Jalut. Pasukan kami memang kecil dan sedikit, tetapi kami yakin Allah akan memberikan kekuatan untuk menghancurkan kalian..! jawab Thalut dengan mantap.

Tergetar Jumawa di atas kudanya.

“Huahahaha.. baiklah, kalau kau memang mau kematian… akan kami antarkan..!” Jumawa menarik kekang kudanya, berbalik dan kembali ke induk pasukan Jalut.

Thalut pun segera kembali pula. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berteriak… ALLAAHU AKBAR..!!

ALLAAHU AKBAR…!! seluruh pasukan membalas pekikannya.

Dua pasukan bersiap… tangan kanan para komandan dengan pedang dan tombak diacungkan tinggi-tinggi… lalu serempak di tunjukkan ke arah musuh di hadapan….

ALLAAHU AKBAR…! pekik takbir mengiringi lompatan kuda-kuda kavaleri lasykar Thalut. Dengan hati mantap dan yakin akan pertolongan Allah mereka memacu kudanya ke arah pasukan Jalut yang juga tengah maju menyerbu diikuti pasukan infanteri.

Perang pun pecahlah… ujung belalai Dirada Meta segera bentrok dengan moncong gelar Sapit Urang. Gading-gadingnya berhadapan dengan dua sapit yang berusaha menekan dan menggilas pasukan Thalut. Dentang senjata beradu berpadu dengan terikan-teriakan maut. Kepala-kepala berjatuhan, seiring teriakan pasukan yang dadanya tertembus pedang. Darah memerahi padang rumput yang hijau.

Pasukan Thalut yang sedikit itu.. maju tanpa ngeri membabati pasukan kafir. Seolah kekuatan mereka berlipat ganda karena keyakinan dalam dada-dada mereka. Seolah mereka menjadi berlipat jumlahnya dalam pandangan tentara Jalut. Sehingga dengan perlahan tetapi pasti, Unit Khusus Daud mulai mendekati pusat pasukan musuh di mana Jalut yang bagai raksasa, dengan tombak dan pedang besarnya berdiri mengamati pertempuran…

Jalut memandang heran seorang pemuda dengan Katapel di tangan yang tiba-tiba melompat dari pasukan Thalut dan berdiri di hadapannya. Tingginya tidak lebih dari pangkal pahanya… anak muda itu pasti bisa digenggam remuk dengan tangannya yang besar.

“Hai anak muda… siapa kau? Dan apa yang kau lakukan ini? Sekecil kau menghadapi aku. Sekali sentil akan remuk tulang2mu. Hahahaha..” Pongah Jalut bergaya.

“Aku Daud… aku akan membunuhmu..!!”

“Hahaha… ini terima pedangku…!” Jalut mengayunkan pedang dengan jurus Halilintar Membelah Bumi, mengarah ubun-ubun Daud. Ia yakin Daud akan terbelah dua secara simetris oleh pedangnya itu dengan sekali tebas.

Kembali alangkah herannya ia. Pedangnya membentur tanah. Menembus tanah hingga gagangnya.Segera ia cabut pedangnya kembali.. ternyata Daud telah menghindar dengan gesit menggunakan jurus Kijang Ngibrit..! Sebuah kerikil tiba-tiba membentur jidat Jalut. Ternyata sambil menghindar, Daud telah melepaskan kerikil pertama dari Katapelnya.

“Hahahahaha… sebutir pasir tidak akan melukaiku anak muda… senjatamu itu tidak ada gunanya untukku. Kau bunuhlah dirimu agar darahmu tidak mengotori pedangku..hahahahahahahaha…”

Daud bergerak cepat…. kembali sebuah kerikil membentur tenggorokan Jalut. Tapi aneh, kerikil yang bisa membunuh seekor serigal itu seolah angin saja bagi jalut. “Pasti ada kelemahannya”.. Daud membatin sambil menghindari injakan kaki Jalut yang membuat tanah amblas…

“Hahaha… ayo, lekaslah bunuh diri..!” ujar Jalut makin pongah.. “Hahahaha..” sambil kakinya kembali diangkat siap Nge-gedig Daud.

Dalam tawa Jalut yang berkepanjangan itulah Daud melihat seleret sinar di langit-langit mulut Jalut..

Daud membidik sambil melompat menghindari injakan Jalut…

Kembali Jalut mengangkat kaki dan menginjak Daud.. “Mati Kau…! Hahahaha…SSLEBBB…..!! AAAAARRRGGGHHHH…… Jalut berteriak kesakitan… tangan mendekap kepalanya yang serasa pecah… serasa halilintar menghantam kepalanya… bintang-bintang bertaburan menutupi pandangannya… perlahan ia limbung.. bodynya yang raksasa itu berdebam gemuruh di atas tanah… langit-langit mulutnya, dimana terletak jimat pemberian raja setan yang membuatnya kebal senjata telah pecah ditembus batu kerikil dari Katapel Daud.. Raja kafir itu kejang-kejang menggelepar-gelepar menahan sakit… teriakan dan raungan sekaratnya membahana ke seluruh medan pertempuran… seluruh pasukan dari dua pihak terpana.. berdiri mematung tak bergerak.. dentang senjata beradu terhenti.. sunyi…pandangan mengarah ke raja Jalut yang menggelepar bergulingan sekarat… pemandangan yang mencekam. Raja Diraja Bumi Tengah, sedang mengelepar-gelepar di hadapan seorang anak muda…

Kheeerrrkkkkk… Raja kafir yang puluhan tahun malang melintang menaklukkan berbagai bangsa dan negara… melepaskan nafas terakhirnya di tangan seorang anak muda dengan Katapel di tangannya. MATI…!

ALLAHU AKBAR..! ALLAHU AKBAR..! ALLAHU AKBAR..!

Pekik kemenangan Thalut dan lasykarnya membahana di seluruh medan tempur. Tentara Jalut lemas tercengang menyaksikan raja yang selama ini mereka banggakan mati di tangan seorang anak muda anggota pasukan biasa saja. Semangat tempur mereka langsung sirna. Tidak ada lagi motivasi perang bagi mereka. Satu demi satu melemparkan pedang, gada, tombak dan senjata mereka lainnya… lalu terduduk tunduk dengan lesu… menyerah tanpa syarat..

Thalut dan tentaranya kembali ke Ursyalim dengan penuh syukur membawa kemenangan. Para desertir di sungai menatap mereka seakan tak percaya. Daud diarak keliling kota sebagai pahlawan besar dan mendapat penghargaan khusus dari Raja Thalut.

Sepeninggal Thalut yang mati karena usia tua.. Daud diangkat menjadi Raja, dan Allah mengangkatnya sebagai Nabi dan Rasul… Daud memerintah negerinya dengan adil sambil memberikan bimbingan pada rakyat berdasarkan wahyu yang diterimanya dan syariat dari Taurat peninggalan Nabi Musa a.s.

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (Q.S. Al-Baqarah : 251).

Katapelnya disimpan di ruang perbendaharaan istana sebagai benda bersejarah dan diwariskan pada Nabi Sulaiman sepeninggal Nabi Daud a.s. Setelah Nabi Sulaiman a.s. meningal dunia, keberadaan Katapel ini tidak lagi diketahui rimbanya. Namun cerita Katapel Daud tidak pernah pupus sepanjang sejarah. Katapel-katapel lain, dengan Ruh Katapel Daud, telah melontarkan jutaan batu dan kerikil anak-anak Palestina menghantami tank-tank dan tentara Israel La’natullah.

Sungguh ironis. Bangsa Israel yang dulu memenangkan perang melawan Jalut dengan Katapel Daud, kini harus menghadapi Katapel yang hampir sama dengan Katapel Daud dahulu. Dengan semangat spiritualitas yang sama, namun kini bangsa Israel lah yang menjadi “Jalut” dan anak-anak muda Palestina yang menjadi “Daud”.

“Ya Allah, berikanlah kemenangan kepada anak-anak Palestina terhadap penjajah Zionis Israel dan sekutunya..! seperti Engkau dahulu memberikan kemenangan kepada Daud alaihissalaam”.

 

Wallahu a’lam. (Bekasi, 18 April 2011)

2 Responses to “The Catapult of Giant Killer [8]”

  1. pingin tahu Says:

    admin
    Nabi Daud A.S itu kan orang Israel dan saat itu perang melawan Palestina….
    cari tau deh sejarahnya

    • sopian73 Says:

      ooh iya..memang Nabi Daud dari Bani Israel..tapi waktu itu zionis blm ada..and kalau Jalut orang palestina mah saya blm pernah nemu literaturnya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: