Mengapa Memilih Islam

Mengapa Memilih Islam

By : Ahmad Sopiani, S.Ag.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Innalhamda lillaah, nahmaduhuu wa nasta’iinuhuu wa nastaghfiruh.

Na’uudzu billaahi min suruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa.

Man yahdihillaah, falaa mudhillalah. Wa man yudlilhu falaa haadiya lah.

Asyhadu an laailaaha illallaah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh..

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Ammaa Ba’du.

Ikhwan fillaah,

Bagi orang-orang yang dilahirkan dari keluarga muslim, mengenal Islam sejak lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kaum muslimin, pertanyaan “mengapa memilih Islam?” mungkin kurang relevan. Sejak kecil, bahkan sedari dalam kandungan, para orang tua muslim sudah menanamkan nilai-nilai Islam sebagai satu-satunya jalan kebenaran dan akhirnya mendarah daging menjadi keyakinan dan keimanan dalam bingkai aqidah Islam. Sungguh beruntung orang-orang seperti ini. Tinggallah ia seiring waktu memupuk keimanannya dan menambah kuat aqidahnya dengan lebih banyak mempelajari dan menghayati Islam.

Namun pertanyaan “mengapa memilih Islam” hampir pasti selalu diajukan pada saudara-saudara kita yang muallaf, orang-orang yang masuk Islam karena kesadaran spiritualnya menemukan Islam ketika telah dewasa. Orang-orang yang memilih Islam sebagai jalan baru. Orang-orang yang menjadi Muslim sebagai bentuk peralihan dari keyakinan sebelumnya. Orang-orang yang mendapatkan pencerahan akan keyakinan yang benar setelah lama terombang-ambing dalam keraguan akan eksistensi Tuhan. Akhir sebuah pencarian spiritual yang berat dan berliku. Untuk mereka inilah pertanyaan tersebut mendapat relevansinya.

Maka para muallaf lah, yang paling tahu jawaban atas pertanyaan itu. Para muallaf itulah yang paling berhak untuk ditanya mengapa memilih Islam? Para muallaflah yang akan memberikan dengan tepat jawaban atas pertanyaan tersebut, karena mereka ber-Islam melalui proses yang panjang dan berliku penuh dengan rangkaian kisah suka ataupun airmata. Dan mungkin, dari 10 muallaf yang kita tanya, kita akan mendapatkan 10 jawaban yang berbeda…

Namun tentu saja penting bagi kita untuk juga menyadari mengapa Islam layak dipilih sebagai way of life, sebagai jalan pencerahan, sebagai solusi kegersangan spiritual, sehingga dapat menjadi dasar bagi jawaban atas pertanyaan yang sama. Sebuah value yang dapat ditawarkan oleh kita pada pihak luar untuk menjadikan Islam sebagai sebuah pilihan yang tepat dalam kancah pertarungan keyakinan pada jiwa seseorang. Untuk meneguhkan yang percaya, untuk meyakinkan yang meragu, untuk mencerahkan jiwa-jiwa yang buram.

Tentu banyak sisi dari Islam yang dapat kita gali dan cermati sebagai hal yang dapat dijadikan value, dijadikan nilai untuk dapat kita tawarkan, kita hanya akan menyebutkan beberapa saja di antaranya;

Pertama, Rasionalitas.

Tuhan dalam Islam adalah sesuatu yang transenden, sesuatu yang beyond everything, sesuatu yang tak bisa dicapai panca indera. Tetapi itu bukan berarti sama sekali tidak masuk akal. Tuhan itu mestilah sesuatu yang secara nalar bisa kita tempatkan ke ruang rasionalitas. Tuhan yang bisa mati misalnya, adalah tuhan yang tidak bisa dirasionalisasikan. Tuhan yang penuh dendam, tentu patut diragukan. Sejatinya akal kita akan menempatkan Tuhan dalam bentuknya Yang Maha Atas segala sesuatu. Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Tunggal, Maha Adil, Maha Mengetahui, dan Maha-maha lainnya. Konsep sederhana dan rasional tentang Ketuhanan dapat kita lihat dalam Al-Quran Surat Al-Ikhlaash ayat 1-4 : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Atau dapat pula kita lihat dalam Al-Quran, Surat Al-Anbiyaa : 22 : ”Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya (langit & bumi) itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” dan banyak lagi ayat yang bertaburan dalam Al-Quran yang berisi konsep Ketuhanan dalam Islam yang amat sesuai dengan akal dan rasionalitas manusia; Q.S. 04:171, 17:40, 19:92, 23:91, 43:81, dll.

Islam pula yang dengan konsisten mengajak ummatnya dan ummat manusia untuk senantiasa menggunakan rasio dalam skala besar, hampir tak terbatas, untuk mendapatkan pencerahan dan pengetahuan serta pemahaman akan kebenaran. Islam menempatkan rasionalitas akal di posisi yang amat tinggi nilainya. Dan Islam menempatkan rasio dan akal pikiran sebagai titik sentral kemanusiaan seseorang; ” dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.”(Q.S. Al-Jaatsiyah[45] : 5). Dan banyak sekali ayat Al-Quran yang menerangkan tentang pentingnya akal pikiran; Q.S. 2:44, 3:65, 5:58, 26:28, dll.

Jejak pernghormatan terhadapa akal dan rasionalitas dalam peradaban Islam masih dapat kita telusuri semenjak zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya, hingga ke era posmodernisme yang kini kita jalani. Jadi ajaran Islam tidaklah melulu dalam koridor moralitas, namun adalah juga tradisi rasionalitas yang berjalan seiring dengan urgensi moralitas yang diembannya. Islam adalah sebuah way of life yang menempatkan akal sama pentingnya dengan keimanan.

Kedua, Prinsip Keseimbangan Hidup

Rasulullah Muhammad SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh ………… ”Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”. Dan Allah SWT telah dengan tegas berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Qashash [28] ayat 77 : ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”.

Demikian Allah dan RasulNya mengatur dan mengajarkan, bahwa manusia adalah makhluk jasmani dan makhluk rohani sekaligus. Manusia memiliki dua sisi kehidupan yang sama pentingnya. Manusia diberi visi yang jelas tentang makna hidupnya. Yaitu visi, bahwa manusia pada saatnya nanti, harus menjalani kehidupan lain di alam akhirat namun tidak harus melupakan arti penting hidup di alam dunia. Islam mengajarkan bahwa bentuk pengabdian pada Tuhan tidaklah dengan harus meninggalkan makan, minum dan hal lainnya secara mutlak. Juga jangan sampai karena dunia demikian indah dan penuh kesenangan lalu melupakan hari akhirat. Islam tidak menuntut ummatnya untuk menjadi rahib seumur hidupnya, namun juga tidak menghendaki ummatnya menjadi hedonis yang hanya mengejar kesenangan duniawi. Pada titik ini manusia diberi sebuah visi, visi kebahagiaan dunia dan lebih jauh visi kebahagiaan akhirat, surga, nirvana, eden, atau apapun namanya.

Ketiga, Prinsip Keadilan

Simaklah salah satu penggalan pidato Abu Bakr Shiddiq yang dikutip Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan Nihayah, ketika telah terpilih menjadi Khalifah, artinya saat itu beliau sudah menjadi Penguasa, bukan janji-janji muluk calon penguasa yang sedang kampanye; ”Sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya…”. Demikian Abu Bakr, seorang kader utama sahabat Nabi, orang yang mula-mula masuk Islam, menerapkan prinsip keadilan sebagai dasar dari kepemimpinannya.

Keadilan pula lah yang menjadi ruh, dasar dan pondasi ajaran Islam. Sebuah prinsip agar manusia menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan manusia haknya, dan menuntut manusia untuk melaksanakan kewajibannya. Keadilan yang universal. Keadilan untuk semua, sehingga Al-Quran memuat banyak sekali ayat-ayat tentang keadilan, seperti misalnya dapat kita lihat dalam Surat Al-Maaidah [5] ayat 8 : ”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Lihat juga Al-Quran : An-Nisaa [04]:135, Al-A’raaf [07]:29/159/181, An-Nahl [16]:76, Al-Hujuraat [49]:09, Al-Hadiid [57]:25, dan banyak lagi baik dengan kata ”adl”, maupun dengan kata ”qist”.

Prinsip-prinsip keadilan itu; bahwa setiap orang setara di hadapan hukum, bahwa yang kuat tidak boleh menindas yang lemah, bahwa penguasa harus mensejahterakan semua kalangan dan melindungi semua orang, bahwa setiap orang adalah sama kewajiban dan hak-hak sosialnya,  bahwa kekayaan alam suatu negeri untuk kesejahteraan rakyatnya, bahwa dilarang memerangi orang yang tidak menyerang, dan lain-lain, yang merupakan nilai-nilai universal, dalam Islam telah diakomodir sebagai ajaran pokok sejak lebih dari 14 abad yang lalu. Penerapan secara ketat prinsip-prinsip keadilan inilah sesungguhnya salah satu faktor utama mengapa Islam dapat menorehkan sejarah kejayaan yang demikian panjang, dan merupakan syarat mutlak yang harus kembali ditegakkan jika kaum muslim ingin Islam kembali meraih kejayaannya yang terenggut di masa yang akan datang.

Keempat, Universalitas

Islam bukanlah sekedar Religion, bukan sekedar agama. Islam adalah way of Life, Sebuah keyakinan dan sebuah jalan hidup sekaligus dalam pengertian yang sebenarnya. Islam tidak hanya berisi dogma-dogma dan keyakinan, bukan pula sekedar aturan-aturan yang berhubungan dengan masalah ketuhanan, bukan pula sekedar ajaran yang mengatur hidup suatu individu. Jauh lebih besar dari itu, Islam memiliki dan mengatur semua hal untuk semua orang. Tidak hanya memberikan dasar keyakinan yang kuat akan eksistensi Tuhan namun juga memberikan aturan-aturan dalam kehidupan sosial. Mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sekaligus mengatur bagaimana suatu negara harus dibina. Mulai dari hal-hal yang paling kecil seperti cara tidur dan cara masuk toilet, sampai dengan hal yang besar seperti mengatur negara dan hubungan antar bangsa dan golongan. Islam mengatur hubungan antar individu, hubungan individu dengan Allah, hubungan individu dengan masyarakat dan negara. Mengatur cara berjalan kaki dan cara berjual beli. Mengatur cara menikah dan berumah tangga, juga mengatur apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak. Semua itu, universalitas dalam ajaran Islam itu, seluruhnya ditujukan untuk kebaikan manusia. Manusialah yang mengambil manfaat dari semua itu, sebagai bentuk kasih sayang yang total dari Allah kepada makhluknya.

Universalitas juga mengandung arti dakwah, arti bahwa Islam memposisikan dirinya sebagai way of life untuk semua manusia kapanpun dan dimanapun. Islam tidak hanya milik orang arab, tidak pula hanya untuk suatu etnik tertentu. Islam memproklamirkan diri sebagai way of life untuk semua manusia. Islam mengajak semua manusia untuk masuk ke dalamnya dan menemukan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat di dalamnya. Sebagai Allah menyatakan tentang ini “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Q.S. Al-Anbiyaa [21] : 107. Bahkan Islam diturunkan bukan hanya untuk genus manusia, melainkan juga untuk bangsa Jin. Kita bisa lihat apa yang Al-Quran sebutkan tentang universalitas ini dalam Surat Al-Anbiyaa[21]:91, Al-Furqaan[25]:1, Shaad[38]:87, At-Takwiir[81]:27, dan lain-lain. Adakah yang memiliki universalitas melebihi Islam? Anda tahu jawabnya.

Empat hal di atas, hanyalah sebagian dari mengapa Islam layak dipilih sebagai jalan hidup. Layak menjadi pilihan solusi kehidupan, meski tentu 4 hal tersebut hanya dipaparkan secara global saja.  Kaum muslim, sudah selayaknya memahami hal di atas sehingga bisa menjadi duta penjelas bagi orang-orang yang mencari pencerahan, dan bagi non muslim bisa memahami Islam secara utuh sehingga mereka mendapat keyakinan pada dirinya bahwa mereka layak memilih Islam bukan hanya sebagai keyakinan dogmatis, tetapi sekaligus sebagai Way of Life.

Wallahu a’lam.

Bekasi, 15 Juni 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: