Refleksi Tahun Baru Seorang Buruh

By : Ahmad Sopiani (Buruh Pabrik di Cibitung, Bekasi)

“Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (KebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui”.

(Q.S. Yunus [10] : 5)

Bagi seorang buruh seperti saya, tahun baru, entah itu tahun baru Masehi, tahun baru Hijriyyah, atau Imlek sekalipun, menggariskan hal yang sama saja; sebuah rutinitas. Tidak lebih dari itu. Sebuah keniscayaan yang selalu terulang setiap tahun. Sambil menghitung mundur umur yang semakin berkurang, kami akan tersenyum jika angka merah di kalender itu jatuh pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis atau Jum’at, karena itu berarti ada harapan tambahan angka pada slip gaji jika pada tanggal tersebut kami diperintahkan kerja lembur. Atau kalau tidak ada perintah lembur, paling tidak kami bisa bersih-bersih kamar kontrakan, cuci baju celana, kongkow-kongkow sama yang punya kontrakan dan tetangga, main ke kontrakan kawan dan bisa menikmati suatu kemewahan waktu; tidur siang.

Sebelum itu, beberapa hari sebelum tanggal merah awal tahun baru itu, atau beberapa hari setelahnya, Ustadz yang didatangkan Pengurus Masjid ke pabrik di sore hari ba’da Ashar akan memberi kami motivasi untuk beramal lebih baik dari tahun yang lalu alias bekerja lebih giat lagi di tahun berikut dan meningkatkan produktivitas. Karena kata beliau amal sholeh, alias kerja yang baik/giat, adalah bukti dan tanda keimanan seorang muslim. Karena amal sholeh tidak hanya terbatas pada shalat, puasa, menunaikan zakat, baca Al-Quran atau pergi haji saja. Amal sholeh mencakup semua perbuatan baik, dengan niat yang baik, termasuk bekerja di pabrik dengan niat mencukupi nafkah anak dan isteri. Saya pribadi setuju saja dan tentu saja Management akan senang sekali pada Ustadz itu karena tidak perlu lagi mendatangkan trainer-trainer motivasi yang bayarannya puluhan juta.

Ustadz-ustadz yang datang itu juga menguraikan latar belakang penanggalan-penanggalan tersebut, history yang menjadi titik tolaknya, peristiwa yang melatarinya, dan menceritakan peristiwa-peristiwa menarik seperti kisah pertama kali penanggalan Islam dimulai oleh Khalifah Umar bin Khattab Al-Faruq, ketika menerima surat balasan dari seorang Penguasa negara lain dan disindir bahwa surat beliau itu tidak ada angka tahunnya. Ustadz juga akan memaparkan alasan-alasan mengapa moment Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 13 Kenabian dijadikan titik tolak ditetapkannya tahun 1 Penanggalan Hijriyyah Islam oleh Khalifah Umar Al-Faruq, di antara banyak moment penting lain seperti Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Perang Badar Kubro ataupun Peristiwa Pembebasan Kota Makkah alias Fathu Makkah.

Kami juga akan mendengarkan paparan para Ustadz tentang hikmah di balik adanya perhitungan tahun itu. Hikmah yang sama entah itu tahun Masehi ataupun tahun Hijri. Kata Ustadz pula, tahun Masehi pun adalah milik ummat Islam juga, karena baik penanggalan bulan, ataupun penanggalan matahari, sama-sama disebutkan dalam Al-Quran. Bisa dilihat misalnya pada ayat yang saya kutip di atas atau QS Al-Israa [17] :12 : “ Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas”. Juga pada ayat-ayat lain seperti QS Al-An’aam [6] ayat 96 dan QS Faathir [35] ayat 13.

Itu.., buat kami ya hampir sama saja setiap tahun. Perubahan angka itu, misalnya dari 1431H menjadi 1432H hampir tidak ada hubungannya dengan kehidupan real buruh pabrik kecuali tambahan umur, tambahan kerja lembur atau tambahan hari libur, atau kalau beruntung ada penyesuaian upah terhadap tingkat inflasi di awal tahun Masehi. Sebagian besar kami menerima itu dengan lapang dada… Alhamdulillah, terima kasih ya Allah untuk tanggal merah yang Engkau berikan.

Yang membuat kami terkadang jengkel, terutama urusan pergantian tahun Hijriyyah/Qomariah adalah tidak adanya “kekuatan” yang bisa menentukan dan menyatukan tanggal 1 di bumi pertiwi tercinta ini. Semua orang-orang Cerdas-Cendekia itu ngotot untuk menentukan sendiri tanggal 1 mereka. Dalihnya bisa macam-macam; bisa dengan dalih Hisab Wujudul Hilal, dapat berdalih dengan Ru’yah fi wilayatil hukmi, atau dalih Hisab Imkanurru’yah, Global Ru’yah, Hisab Jawa AsaponHisab Jawa Aboge, atau dalih Ittiba ilaa Makkah. What ever lah…! Hasilnya sama saja, membuat bingung buruh pabrik.

Kami buruh pabrik ini sudah cukup bingung mengatur anggaran dan budget rumah tangga setiap bulannya, dan itu dipaksa ditambah dengan kebingungan akibat para Cerdik-Cendekia itu tidak pernah sepakat tentang metode penetapan tanggal 1..! Pemerintah juga tidak punya “kekuatan” untuk penggunaan satu metode penetapan saja di Indonesia yang mereka cintai ini. Mungkin memang betul, menggantungkan harapan pada pemerintah hanya akan membuat sakit hati saja. Cabe rawit di atas piring. Makan satu tanpa Tahu. Cape mumet otak miring. Karena semua orang paling tahu tanggal satu!

Yang mengherankan, sepertinya bulan-bulan yang lain yang 9 bulan bisa sepakat tiada masalah, tetapi selalu “bunuh-bunuhan” untuk bulan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah. Saya pernah berandai-andai… “Andaikata saya jadi Presiden Republik ini, saya akan keluarkan dekrit untuk hanya menggunakan satu saja metode penetapan tanggal 1 bulan Hijri untuk semua warga negara dan ormas”. Sayang sekali berandai-andai itu kata Ustadz adalah celah bagi setan untuk menggoda manusia.

Ya okelah, kami diminta untuk mengikuti ketetapan tanggal 1 berdasarkan keyakinan masing-masing, karena semua itu sifatnya katanya Ijtihadiyyah, jadi tidak perlu saling menyalahkan (tentu tidak bisa saling membenarkan juga). Mereka, para Cerdas-Cendekia itu, pikir gampang mungkin ya mengikuti keyakinan masing-masing…! Pernah tidak mereka survey terhadap dampak “mengikuti keyakinan masing-masing itu” dalam kehidupan masyarakat secara sosial ataupun secara psikologis perindividu?

Apakah mereka tidak berpikiiir..? orang macam saya misalnya… biasa ikut saja apa kata MUI dan pemerintah yang saya yakin punya ilmu dan teknologi yang mumpuni.. tetapi tidak dengan Ibu Mertua saya dan anaknya yang serumah dengan saya. Beliau yakin untuk ikut apa kata PP Muhammadiyyah. Nah kalo sudah jatuh perbedaan begitu, dampak psikologisnya sangat terasa. Gak enak hati rasanya serumah tetapi Idul Fitri atau Idul Adhanya berbeda. Belum lagi berbeda dengan tetangga sebelah rumah yang biasa ikut Hisab Jawa Asapon. Pasti kejadian begini merata di seluruh tanah air.

Apakah tidak lebih baik kalau para Cerdas-Cendekia itu bersidang dan membuat kesepakatan bersama untuk menggunakan satu saja metode penetapan tanggal 1 ? Heran.. Bulan dan Matahari di langitnya itu-itu juga… tapi sepakat tanggal 1 hanya kalau kebetulan saja..!

akhir 2010/1431, awal 2011/1432

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: