Archive for January, 2011

Mengapa Memilih Islam

January 30, 2011

Mengapa Memilih Islam

By : Ahmad Sopiani, S.Ag.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Innalhamda lillaah, nahmaduhuu wa nasta’iinuhuu wa nastaghfiruh.

Na’uudzu billaahi min suruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa.

Man yahdihillaah, falaa mudhillalah. Wa man yudlilhu falaa haadiya lah.

Asyhadu an laailaaha illallaah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh..

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Ammaa Ba’du.

Ikhwan fillaah,

Bagi orang-orang yang dilahirkan dari keluarga muslim, mengenal Islam sejak lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kaum muslimin, pertanyaan “mengapa memilih Islam?” mungkin kurang relevan. Sejak kecil, bahkan sedari dalam kandungan, para orang tua muslim sudah menanamkan nilai-nilai Islam sebagai satu-satunya jalan kebenaran dan akhirnya mendarah daging menjadi keyakinan dan keimanan dalam bingkai aqidah Islam. Sungguh beruntung orang-orang seperti ini. Tinggallah ia seiring waktu memupuk keimanannya dan menambah kuat aqidahnya dengan lebih banyak mempelajari dan menghayati Islam.

Namun pertanyaan “mengapa memilih Islam” hampir pasti selalu diajukan pada saudara-saudara kita yang muallaf, orang-orang yang masuk Islam karena kesadaran spiritualnya menemukan Islam ketika telah dewasa. Orang-orang yang memilih Islam sebagai jalan baru. Orang-orang yang menjadi Muslim sebagai bentuk peralihan dari keyakinan sebelumnya. Orang-orang yang mendapatkan pencerahan akan keyakinan yang benar setelah lama terombang-ambing dalam keraguan akan eksistensi Tuhan. Akhir sebuah pencarian spiritual yang berat dan berliku. Untuk mereka inilah pertanyaan tersebut mendapat relevansinya.

Maka para muallaf lah, yang paling tahu jawaban atas pertanyaan itu. Para muallaf itulah yang paling berhak untuk ditanya mengapa memilih Islam? Para muallaflah yang akan memberikan dengan tepat jawaban atas pertanyaan tersebut, karena mereka ber-Islam melalui proses yang panjang dan berliku penuh dengan rangkaian kisah suka ataupun airmata. Dan mungkin, dari 10 muallaf yang kita tanya, kita akan mendapatkan 10 jawaban yang berbeda…

Namun tentu saja penting bagi kita untuk juga menyadari mengapa Islam layak dipilih sebagai way of life, sebagai jalan pencerahan, sebagai solusi kegersangan spiritual, sehingga dapat menjadi dasar bagi jawaban atas pertanyaan yang sama. Sebuah value yang dapat ditawarkan oleh kita pada pihak luar untuk menjadikan Islam sebagai sebuah pilihan yang tepat dalam kancah pertarungan keyakinan pada jiwa seseorang. Untuk meneguhkan yang percaya, untuk meyakinkan yang meragu, untuk mencerahkan jiwa-jiwa yang buram.

Tentu banyak sisi dari Islam yang dapat kita gali dan cermati sebagai hal yang dapat dijadikan value, dijadikan nilai untuk dapat kita tawarkan, kita hanya akan menyebutkan beberapa saja di antaranya;

Pertama, Rasionalitas.

Tuhan dalam Islam adalah sesuatu yang transenden, sesuatu yang beyond everything, sesuatu yang tak bisa dicapai panca indera. Tetapi itu bukan berarti sama sekali tidak masuk akal. Tuhan itu mestilah sesuatu yang secara nalar bisa kita tempatkan ke ruang rasionalitas. Tuhan yang bisa mati misalnya, adalah tuhan yang tidak bisa dirasionalisasikan. Tuhan yang penuh dendam, tentu patut diragukan. Sejatinya akal kita akan menempatkan Tuhan dalam bentuknya Yang Maha Atas segala sesuatu. Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Tunggal, Maha Adil, Maha Mengetahui, dan Maha-maha lainnya. Konsep sederhana dan rasional tentang Ketuhanan dapat kita lihat dalam Al-Quran Surat Al-Ikhlaash ayat 1-4 : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Atau dapat pula kita lihat dalam Al-Quran, Surat Al-Anbiyaa : 22 : ”Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya (langit & bumi) itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” dan banyak lagi ayat yang bertaburan dalam Al-Quran yang berisi konsep Ketuhanan dalam Islam yang amat sesuai dengan akal dan rasionalitas manusia; Q.S. 04:171, 17:40, 19:92, 23:91, 43:81, dll.

Islam pula yang dengan konsisten mengajak ummatnya dan ummat manusia untuk senantiasa menggunakan rasio dalam skala besar, hampir tak terbatas, untuk mendapatkan pencerahan dan pengetahuan serta pemahaman akan kebenaran. Islam menempatkan rasionalitas akal di posisi yang amat tinggi nilainya. Dan Islam menempatkan rasio dan akal pikiran sebagai titik sentral kemanusiaan seseorang; ” dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.”(Q.S. Al-Jaatsiyah[45] : 5). Dan banyak sekali ayat Al-Quran yang menerangkan tentang pentingnya akal pikiran; Q.S. 2:44, 3:65, 5:58, 26:28, dll.

Jejak pernghormatan terhadapa akal dan rasionalitas dalam peradaban Islam masih dapat kita telusuri semenjak zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya, hingga ke era posmodernisme yang kini kita jalani. Jadi ajaran Islam tidaklah melulu dalam koridor moralitas, namun adalah juga tradisi rasionalitas yang berjalan seiring dengan urgensi moralitas yang diembannya. Islam adalah sebuah way of life yang menempatkan akal sama pentingnya dengan keimanan.

Kedua, Prinsip Keseimbangan Hidup

Rasulullah Muhammad SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh ………… ”Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”. Dan Allah SWT telah dengan tegas berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Qashash [28] ayat 77 : ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”.

Demikian Allah dan RasulNya mengatur dan mengajarkan, bahwa manusia adalah makhluk jasmani dan makhluk rohani sekaligus. Manusia memiliki dua sisi kehidupan yang sama pentingnya. Manusia diberi visi yang jelas tentang makna hidupnya. Yaitu visi, bahwa manusia pada saatnya nanti, harus menjalani kehidupan lain di alam akhirat namun tidak harus melupakan arti penting hidup di alam dunia. Islam mengajarkan bahwa bentuk pengabdian pada Tuhan tidaklah dengan harus meninggalkan makan, minum dan hal lainnya secara mutlak. Juga jangan sampai karena dunia demikian indah dan penuh kesenangan lalu melupakan hari akhirat. Islam tidak menuntut ummatnya untuk menjadi rahib seumur hidupnya, namun juga tidak menghendaki ummatnya menjadi hedonis yang hanya mengejar kesenangan duniawi. Pada titik ini manusia diberi sebuah visi, visi kebahagiaan dunia dan lebih jauh visi kebahagiaan akhirat, surga, nirvana, eden, atau apapun namanya.

Ketiga, Prinsip Keadilan

Simaklah salah satu penggalan pidato Abu Bakr Shiddiq yang dikutip Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan Nihayah, ketika telah terpilih menjadi Khalifah, artinya saat itu beliau sudah menjadi Penguasa, bukan janji-janji muluk calon penguasa yang sedang kampanye; ”Sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya…”. Demikian Abu Bakr, seorang kader utama sahabat Nabi, orang yang mula-mula masuk Islam, menerapkan prinsip keadilan sebagai dasar dari kepemimpinannya.

Keadilan pula lah yang menjadi ruh, dasar dan pondasi ajaran Islam. Sebuah prinsip agar manusia menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan manusia haknya, dan menuntut manusia untuk melaksanakan kewajibannya. Keadilan yang universal. Keadilan untuk semua, sehingga Al-Quran memuat banyak sekali ayat-ayat tentang keadilan, seperti misalnya dapat kita lihat dalam Surat Al-Maaidah [5] ayat 8 : ”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Lihat juga Al-Quran : An-Nisaa [04]:135, Al-A’raaf [07]:29/159/181, An-Nahl [16]:76, Al-Hujuraat [49]:09, Al-Hadiid [57]:25, dan banyak lagi baik dengan kata ”adl”, maupun dengan kata ”qist”.

Prinsip-prinsip keadilan itu; bahwa setiap orang setara di hadapan hukum, bahwa yang kuat tidak boleh menindas yang lemah, bahwa penguasa harus mensejahterakan semua kalangan dan melindungi semua orang, bahwa setiap orang adalah sama kewajiban dan hak-hak sosialnya,  bahwa kekayaan alam suatu negeri untuk kesejahteraan rakyatnya, bahwa dilarang memerangi orang yang tidak menyerang, dan lain-lain, yang merupakan nilai-nilai universal, dalam Islam telah diakomodir sebagai ajaran pokok sejak lebih dari 14 abad yang lalu. Penerapan secara ketat prinsip-prinsip keadilan inilah sesungguhnya salah satu faktor utama mengapa Islam dapat menorehkan sejarah kejayaan yang demikian panjang, dan merupakan syarat mutlak yang harus kembali ditegakkan jika kaum muslim ingin Islam kembali meraih kejayaannya yang terenggut di masa yang akan datang.

Keempat, Universalitas

Islam bukanlah sekedar Religion, bukan sekedar agama. Islam adalah way of Life, Sebuah keyakinan dan sebuah jalan hidup sekaligus dalam pengertian yang sebenarnya. Islam tidak hanya berisi dogma-dogma dan keyakinan, bukan pula sekedar aturan-aturan yang berhubungan dengan masalah ketuhanan, bukan pula sekedar ajaran yang mengatur hidup suatu individu. Jauh lebih besar dari itu, Islam memiliki dan mengatur semua hal untuk semua orang. Tidak hanya memberikan dasar keyakinan yang kuat akan eksistensi Tuhan namun juga memberikan aturan-aturan dalam kehidupan sosial. Mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sekaligus mengatur bagaimana suatu negara harus dibina. Mulai dari hal-hal yang paling kecil seperti cara tidur dan cara masuk toilet, sampai dengan hal yang besar seperti mengatur negara dan hubungan antar bangsa dan golongan. Islam mengatur hubungan antar individu, hubungan individu dengan Allah, hubungan individu dengan masyarakat dan negara. Mengatur cara berjalan kaki dan cara berjual beli. Mengatur cara menikah dan berumah tangga, juga mengatur apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak. Semua itu, universalitas dalam ajaran Islam itu, seluruhnya ditujukan untuk kebaikan manusia. Manusialah yang mengambil manfaat dari semua itu, sebagai bentuk kasih sayang yang total dari Allah kepada makhluknya.

Universalitas juga mengandung arti dakwah, arti bahwa Islam memposisikan dirinya sebagai way of life untuk semua manusia kapanpun dan dimanapun. Islam tidak hanya milik orang arab, tidak pula hanya untuk suatu etnik tertentu. Islam memproklamirkan diri sebagai way of life untuk semua manusia. Islam mengajak semua manusia untuk masuk ke dalamnya dan menemukan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat di dalamnya. Sebagai Allah menyatakan tentang ini “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Q.S. Al-Anbiyaa [21] : 107. Bahkan Islam diturunkan bukan hanya untuk genus manusia, melainkan juga untuk bangsa Jin. Kita bisa lihat apa yang Al-Quran sebutkan tentang universalitas ini dalam Surat Al-Anbiyaa[21]:91, Al-Furqaan[25]:1, Shaad[38]:87, At-Takwiir[81]:27, dan lain-lain. Adakah yang memiliki universalitas melebihi Islam? Anda tahu jawabnya.

Empat hal di atas, hanyalah sebagian dari mengapa Islam layak dipilih sebagai jalan hidup. Layak menjadi pilihan solusi kehidupan, meski tentu 4 hal tersebut hanya dipaparkan secara global saja.  Kaum muslim, sudah selayaknya memahami hal di atas sehingga bisa menjadi duta penjelas bagi orang-orang yang mencari pencerahan, dan bagi non muslim bisa memahami Islam secara utuh sehingga mereka mendapat keyakinan pada dirinya bahwa mereka layak memilih Islam bukan hanya sebagai keyakinan dogmatis, tetapi sekaligus sebagai Way of Life.

Wallahu a’lam.

Bekasi, 15 Juni 2009

Refleksi Tahun Baru Seorang Buruh

January 24, 2011

By : Ahmad Sopiani (Buruh Pabrik di Cibitung, Bekasi)

“Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (KebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui”.

(Q.S. Yunus [10] : 5)

Bagi seorang buruh seperti saya, tahun baru, entah itu tahun baru Masehi, tahun baru Hijriyyah, atau Imlek sekalipun, menggariskan hal yang sama saja; sebuah rutinitas. Tidak lebih dari itu. Sebuah keniscayaan yang selalu terulang setiap tahun. Sambil menghitung mundur umur yang semakin berkurang, kami akan tersenyum jika angka merah di kalender itu jatuh pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis atau Jum’at, karena itu berarti ada harapan tambahan angka pada slip gaji jika pada tanggal tersebut kami diperintahkan kerja lembur. Atau kalau tidak ada perintah lembur, paling tidak kami bisa bersih-bersih kamar kontrakan, cuci baju celana, kongkow-kongkow sama yang punya kontrakan dan tetangga, main ke kontrakan kawan dan bisa menikmati suatu kemewahan waktu; tidur siang.

Sebelum itu, beberapa hari sebelum tanggal merah awal tahun baru itu, atau beberapa hari setelahnya, Ustadz yang didatangkan Pengurus Masjid ke pabrik di sore hari ba’da Ashar akan memberi kami motivasi untuk beramal lebih baik dari tahun yang lalu alias bekerja lebih giat lagi di tahun berikut dan meningkatkan produktivitas. Karena kata beliau amal sholeh, alias kerja yang baik/giat, adalah bukti dan tanda keimanan seorang muslim. Karena amal sholeh tidak hanya terbatas pada shalat, puasa, menunaikan zakat, baca Al-Quran atau pergi haji saja. Amal sholeh mencakup semua perbuatan baik, dengan niat yang baik, termasuk bekerja di pabrik dengan niat mencukupi nafkah anak dan isteri. Saya pribadi setuju saja dan tentu saja Management akan senang sekali pada Ustadz itu karena tidak perlu lagi mendatangkan trainer-trainer motivasi yang bayarannya puluhan juta.

Ustadz-ustadz yang datang itu juga menguraikan latar belakang penanggalan-penanggalan tersebut, history yang menjadi titik tolaknya, peristiwa yang melatarinya, dan menceritakan peristiwa-peristiwa menarik seperti kisah pertama kali penanggalan Islam dimulai oleh Khalifah Umar bin Khattab Al-Faruq, ketika menerima surat balasan dari seorang Penguasa negara lain dan disindir bahwa surat beliau itu tidak ada angka tahunnya. Ustadz juga akan memaparkan alasan-alasan mengapa moment Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 13 Kenabian dijadikan titik tolak ditetapkannya tahun 1 Penanggalan Hijriyyah Islam oleh Khalifah Umar Al-Faruq, di antara banyak moment penting lain seperti Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Perang Badar Kubro ataupun Peristiwa Pembebasan Kota Makkah alias Fathu Makkah.

Kami juga akan mendengarkan paparan para Ustadz tentang hikmah di balik adanya perhitungan tahun itu. Hikmah yang sama entah itu tahun Masehi ataupun tahun Hijri. Kata Ustadz pula, tahun Masehi pun adalah milik ummat Islam juga, karena baik penanggalan bulan, ataupun penanggalan matahari, sama-sama disebutkan dalam Al-Quran. Bisa dilihat misalnya pada ayat yang saya kutip di atas atau QS Al-Israa [17] :12 : “ Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas”. Juga pada ayat-ayat lain seperti QS Al-An’aam [6] ayat 96 dan QS Faathir [35] ayat 13.

Itu.., buat kami ya hampir sama saja setiap tahun. Perubahan angka itu, misalnya dari 1431H menjadi 1432H hampir tidak ada hubungannya dengan kehidupan real buruh pabrik kecuali tambahan umur, tambahan kerja lembur atau tambahan hari libur, atau kalau beruntung ada penyesuaian upah terhadap tingkat inflasi di awal tahun Masehi. Sebagian besar kami menerima itu dengan lapang dada… Alhamdulillah, terima kasih ya Allah untuk tanggal merah yang Engkau berikan.

Yang membuat kami terkadang jengkel, terutama urusan pergantian tahun Hijriyyah/Qomariah adalah tidak adanya “kekuatan” yang bisa menentukan dan menyatukan tanggal 1 di bumi pertiwi tercinta ini. Semua orang-orang Cerdas-Cendekia itu ngotot untuk menentukan sendiri tanggal 1 mereka. Dalihnya bisa macam-macam; bisa dengan dalih Hisab Wujudul Hilal, dapat berdalih dengan Ru’yah fi wilayatil hukmi, atau dalih Hisab Imkanurru’yah, Global Ru’yah, Hisab Jawa AsaponHisab Jawa Aboge, atau dalih Ittiba ilaa Makkah. What ever lah…! Hasilnya sama saja, membuat bingung buruh pabrik.

Kami buruh pabrik ini sudah cukup bingung mengatur anggaran dan budget rumah tangga setiap bulannya, dan itu dipaksa ditambah dengan kebingungan akibat para Cerdik-Cendekia itu tidak pernah sepakat tentang metode penetapan tanggal 1..! Pemerintah juga tidak punya “kekuatan” untuk penggunaan satu metode penetapan saja di Indonesia yang mereka cintai ini. Mungkin memang betul, menggantungkan harapan pada pemerintah hanya akan membuat sakit hati saja. Cabe rawit di atas piring. Makan satu tanpa Tahu. Cape mumet otak miring. Karena semua orang paling tahu tanggal satu!

Yang mengherankan, sepertinya bulan-bulan yang lain yang 9 bulan bisa sepakat tiada masalah, tetapi selalu “bunuh-bunuhan” untuk bulan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah. Saya pernah berandai-andai… “Andaikata saya jadi Presiden Republik ini, saya akan keluarkan dekrit untuk hanya menggunakan satu saja metode penetapan tanggal 1 bulan Hijri untuk semua warga negara dan ormas”. Sayang sekali berandai-andai itu kata Ustadz adalah celah bagi setan untuk menggoda manusia.

Ya okelah, kami diminta untuk mengikuti ketetapan tanggal 1 berdasarkan keyakinan masing-masing, karena semua itu sifatnya katanya Ijtihadiyyah, jadi tidak perlu saling menyalahkan (tentu tidak bisa saling membenarkan juga). Mereka, para Cerdas-Cendekia itu, pikir gampang mungkin ya mengikuti keyakinan masing-masing…! Pernah tidak mereka survey terhadap dampak “mengikuti keyakinan masing-masing itu” dalam kehidupan masyarakat secara sosial ataupun secara psikologis perindividu?

Apakah mereka tidak berpikiiir..? orang macam saya misalnya… biasa ikut saja apa kata MUI dan pemerintah yang saya yakin punya ilmu dan teknologi yang mumpuni.. tetapi tidak dengan Ibu Mertua saya dan anaknya yang serumah dengan saya. Beliau yakin untuk ikut apa kata PP Muhammadiyyah. Nah kalo sudah jatuh perbedaan begitu, dampak psikologisnya sangat terasa. Gak enak hati rasanya serumah tetapi Idul Fitri atau Idul Adhanya berbeda. Belum lagi berbeda dengan tetangga sebelah rumah yang biasa ikut Hisab Jawa Asapon. Pasti kejadian begini merata di seluruh tanah air.

Apakah tidak lebih baik kalau para Cerdas-Cendekia itu bersidang dan membuat kesepakatan bersama untuk menggunakan satu saja metode penetapan tanggal 1 ? Heran.. Bulan dan Matahari di langitnya itu-itu juga… tapi sepakat tanggal 1 hanya kalau kebetulan saja..!

akhir 2010/1431, awal 2011/1432

Tongkat Sakti [7]

January 15, 2011

Anda boleh bandingkan, mana yang lebih sakti : Tongkat Sun Go Kong si Kera Sakti, Tongkat Son Go Ku The Dragon Ball yang bisa menghubungkan Menara Karin dengan Kuil Dewa, Tongkat Mak Lampir; Nenek Sakti dari Gunung Merapi, Tongkat Badra Mandrawata Si Buta Dari Goa Hantu, Tongkat Dare Devil Si Buta dari New York, Tongkat Harry Potter, Tongkat Gandalf The White dalam LoTR, Atau Tongkat Panji Tengkorak. Atau terserah, tongkat manapun boleh Anda pilih, terserah jagoannya siapa. Juga terserah yang sakti tongkatnya atau orangnya. Lalu check yang mana yang paling sakti.

Ketahuilah, tak satupun tongkat di dunia ini, siapapun jagoan atau penjahat yang menggunakannya, bisa melebihi kesaktian Tongkat Nabi Musa A.S. Sebabnya yang pertama adalah karena Jagoan yang menggunakannya berstatus Nabi dan Rasul, ini level manusia sakti yang paling tinggi. Sebab kedua karena inilah satu-satunya tongkat yang paling banyak disebutkan dalam banyak ayat Al-Quran. Padahal sesuatu itu kalau disebutkan Al-Quran sekali saja, pasti ia istimewa, apalagi berkali-kali. Sebab ketiga adalah karena kesaktian tongkat ini “diisi” langsung oleh Maha Guru Semesta Alam, Allah SWT. Dzat Yang Maha Sakti.

Pada mulanya Tongkat Nabi Musa A.S adalah tongkat biasa, yang beliau gunakan untuk keperluan bertelekan, mengambil daun untuk kambing, mengusir binatang buas, dan lain-lain… Namun setelah beliau bertemu dengan Maha Gurunya di sebuah lembah bernama Thuwaa, tongkat itu berubah menjadi Tongkat paling sakti yang pernah ada di mayapada. Maha Guru Nabi Musa, yaitu Allah SWT, mengisi tongkat itu dengan kesaktian yang amat tinggi, bahkan kesaktian tertinggi di alam semesta, karena Nabi Musa akan berhadapan dengan musuh yang amat kuat, yaitu Fir’aun dan para ahli sihirnya. Kalau kesaktian Nabi Musa hanya ecek-ecek, bisa masalah besar ketika berhadapan dengan Fir’aun dan begundal-begundalnya yang rata-rata ahli sihir kenamaan saat itu… Sementara untuk Nabi Musa sendiri, Allah mengisi hatinyanya dengan dasar-dasar aqidah yang benar lagi kokoh. Kalau phisik sudah terlatih sejak kecil di istana Fir’aun.

Jadi pelajarannya, memiliki sebuah tongkat sakti akan tidak berguna atau akan amat berbahaya manakala pemegangnya tidak memiliki bekal aqidah dan keimanan yang kokoh. Kalau disalahgunakan malah akan mengancam kehidupan dan kelestarian bumi. Contoh tongkat sakti yang berisi tinta di tangan menteri kehutanan… kalau menteri itu gak kuat iman dan gak kokoh aqidahnya, dia bisa tandatangani SK yang berbahaya buat ekosistem hutan…

Kembali ke Nabi Musa.. jadi ceritanya, saat Nabi Musa hidup itu, ilmu sihir hitam atawa Blek Mejik adalah lumrah dipelajari dan diamalkan, meski orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi ahli. Orang-orang yang expert di bidang ini mendapat penghargaan tinggi dan bisa jadi partner atawa penasihat penguasa. Tingkat tertingginya adalah jika sudah bisa membuat tongkat atau tali menjadi ular yang bisa hidup merayap cepat atau menari-nari…

Nah, waktu Nabi Musa dituduh sebagai ahli sihir oleh Fir’aun dan dipertandingkan dengan ahli-ahli sihir Fir’aun.. maka ahli-ahli sihir Fir’aun merapal ajian sihir tertinggi mereka… yang saat itu tak ada tandingnya yang lebih tinggi… mereka lalu melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat dan…syiuuutt… tongkat-tongkat dan tali-tali mereka berubah jadi ular-ular amat banyak merayap menggelosor menyerbu mengarah Nabi Musa A.S. Mulanya Nabi Musa keder juga… beringsut hampir lari.. tapi lalu beliau mendengar suara Maha Guru ; “lempar tongkatmu…!”. Nabi Musa lemparkan tongkatnya, lalu seketika berubah menjadi ular amat besar… yang menelan semua ular-ular hasil sihir para tukang sihir Fir’aun… plesss.. semua ular sihir itu habis dimakan ular penjelmaan tongkat Nabi Musa..  Seketika.. para ahli sihir Fir’aun sadar… ini jelas bukan sihir.. Ular yang berasal dari tongkat Nabi Musa itu aseli.. pasti aseli… karena mereka tahu persis ular sihir tidak bisa makan ular sihir lain.. pastilah Musa benar-benar seorang Rasul dari Tuhan semesta alam. Maka mereka pun bersujud dan menyatakan keimanannya pada Allah, Tuhan Nabi Musa dan harun alaiihimassalaam.

Di kesempatan lain, kesaktian tongkat ini terbukti ketika Nabi Musa dan Bani Israil dikejar Fir’aun dan tersudut di tepi laut merah.. lalu Maha Guru perintahkan Nabi Musa A.S. untuk memukul laut merah dengan tongkat itu… PYAARR…! maka lautpun terbelah dua… memunculkan jalan untuk 12 suku Bani Israil, yang kemudian menyeberangi laut dengan selamat, sementara Firaun dan tentaranya tenggelam ketika mencoba menyusuri jalan yang sama di dasar laut itu…

Menilik kesaktiannya, saya menduga tongkat itu terbuat dari bahan metal yang bukan berasal dari bumi dan bisa tahan sampai penghujung zaman. Bagi yang ingin tahu cerita lengkapnya dalam Al-Qur’an, silahkan baca sendiri antara lain di Surat Al-A’raaf, Al-Israa, Thaa Haa, An-Naml, Asy-Syu’araa dan Al-Qashash.

Itulah Tongkat Sakti, senjata pamungkas Nabi Musa A.S. Seorang Nabi yang phisiknya amat kuat, yang bisa menewaskan orang dengan sekali pukulan tangan, yang kesabarannya sangat tinggi dan keimanannya amat kuat. Belum saya temukan riwayat selanjutnya dari tongkat ini sepeninggal Nabi Musa.. Mungkin saja tongkat ini adalah salah satu benda dalam Tabut peninggalan Nabi Musa yang dimiliki raja Thalut, dan bisa jadi setelah beberapa lama tongkat ini jatuh ke tangan Nabi Dawud lalu diwariskan pada Nabi Sulaeman, lalu diamankan Nabi Khidr, dan terakhir dipegang Sayyidina Ali bin Abi Thalib.. Nantinya mungkin akan muncul kembali dan menjadi salah satu senjata utama Imam Mahdi dalam Perang Akhir Zaman, dan keberadaannya kini masih tidak jelas diselubungi mistery. Namun itu hanya dugaan yang tidak ada riwayatnya.

Al-Bait Al-‘Atiiq [6]

January 15, 2011

Tidak ada bangunan di dunia ini yang lebih sering dikunjungi oleh manusia selain bangunan ini. Gak tanggung-tanggung yang berkunjung bisa jutaan orang dalam waktu yang sama. Satu orang kadang tak cukup sekali dua berkunjung ke bangunan ini, meski melewati jarak ribuan mil.. ada yang sampai lebih dari tujuh kali.. malah konon katanya ada yang tiap tahun.. kalo setahun gak ke sana, hidup terasa hampa katanya :-), dah cinta banget..! (duitnya banyak banget..!)

Bentuknya kubus, sehari-hari selalu diselubungi kiswah… sayang saya belum ditakdirkan melihatnya secara langsung meski setiap hari berdiri menghadap ke arah sana. Kalau lihat di gambar atau di tipi sih pernah. Pernah juga dengar ceritanya dari ayah, paman, tetangga, guru atau teman yang pernah pergi ke sana. Kata mereka… dengan menatapnya saja dapat membuat kita berurai air mata. Kata mereka, berada di dekatnya hati terasa damai sejahtera. Kata mereka dunia terasa demikian kecil ketika kita menyentuhnya. Berat hati meninggalkannya. Ada kerinduan membuncah bagi yang pernah ke sana. Belum pernah ada laporan orang yang pernah ke sana berkali-kali merasa bosan. Yang ada, yang pernah ke sana ingin terus ke sana lagi.. terus… terus.. dan terus… Ka’bah memang luar biasa.

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran [3] : 96-97)

Pembangunan pertamanya dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimassalaam. Diperuntukkan sebagai rumah untuk menyembah Allah SWT. Yang beragama Islam, kalau shalat wajib menghadap ke arah sana. Kalo sholat di dalamnya, bolehlah menghadap mana saja. Letaknya ada di dalam Masjid Al-Haraam di Kota Makkah. Orang-orang musyrik, jangankan berada di dalamnya, berada di Masjid Al-Haramnya pun sudah terlarang.. harooom. Bukan apa-apa ya.. karena dalam pandangan Islam, orang musyrik itu najis, gak boleh masuk Masjid Al-Haram. (Yang susah, pelaku demokrasi, kan ada yang bilang musyrik tuh.. kalo gitu gak boleh pergi haji ke Ka’bah dong ya..? lah terus selama ini bg mana?? Au ah. Pusingg..!)

Ada yang bilangin saya, Ka’bah itu adalah pusat poros bumi.. apa iya? Ada juga berita atau apalah, katanya dari ka’bah terus ke atas sampai ujungnya tiada terhingga, ada semacam radiasi apa gitu… semacam jalur penghubung antara bumi dan kawasan langit… J. Ya bener kali.. saya bukan ahlinya sih… Yang jelas, inilah salah satu peninggalan para Nabi dan Rasul jaman dulu yang masih eksis hingga kini. Meski telah beberapa kali direnovasi, tetapi tidak menghilangkan keasliannya. Pengaruhnya terus menerus terasa ke dalam dada orang-orang muslim dulu dan sekarang. Musuh-musuh Islam berhasrat menghancurkannya karena menjadi potensi amat besar untuk mempersatukan ummat Islam sedunia, karena setiap tahun jutaan ummat Islam berkumpul dan makan bersama sebagaimana layaknya saudara di sana.

Di dekat ka’bah itu juga ada peninggalan lain dari Nabi Ibrahim, yaitu Maqom Ibrahim dan The Black Stone alias Hajar Aswad, alias Batu Hitam. Maqom Ibrahim di Endonesa suka disalahartikan sebagai kuburan Nabi Ibrahim, soalnya di endonesa makam=kuburan, padahal bukan… Maqom artinya Tempat Berdiri, jadi konon kabarnya, itulah tempat dulu Nabi Ibrahim berdiri lama ketika membangun Ka’bah, sampai telapak kakinya mblesek ke tanah dan meninggalkan jejak.. itulah Maqom Ibrahim… disunnahkan shalat di Maqom Ibrahim ini bagi muslim yang pergi ke sana. Menurut riwayat, dijadikannya Maqom Ibrahim sebagai tempat sholat adalah atas usul Umar bin Khaattab r.a.

Sementara The Black Stone, alias Hajar Aswad, alias Batu Hitam (banyak alias gini gawat nih kalau terendus Semen, bisa dikira Teh Roris), konon riwayatnya dulu, itu adalah batu dari surga yang warnanya putih cemerlang.. (kalo digabung dengan daun surga pasti tambah mantepp..!) makin lama makin hitam karena menyerap dosa-dosa manusia. Orang Islam yang thawaf disunnahkan mencium batu hitam ini, yang letaknya di salah satu sudut Ka’bah. Batunya sendiri kalo gak salah sudah gak utuh lagi, tetapi sudah pecah dan pecahan-pecahannya itu ditanam di batu lain yang lebih besar. Kalau musim haji… mau nyium batu ini katanya susahnya minta ampun, hanya takdir dan niat yang mantap yang ada jodoh bisa mencium batu ini.

Paman saya pernah cerita, ia ingin sekali mencium Hajar Aswad walau hanya sekali lalu berdoa pada Allah agar bisa mencium Hajar Aswad. Secara teoritis, itu mustahil, karena bodynya standar endonesa yang tinggi plus minus 160 berat 55-an… sambil thawaf, dekati aja susah dihantami orang-orang hitam besar… tetapi ku kersaning gusti Allah SWT, sekonyong-konyong body paman yang ceking itu terdorong-dorong dan telempar lalu berhenti persis di hadapan Hajar Aswad… Udah gitu… biasanya kan berebut tuh.. baru nempel dah ditarik orang. Ini gak.. di sekeliling dia dijagain orang-orang yang buessarr… jadi bisa dengan leluasa cium-cium Hajar Aswad sepuasnya. Karena doanya ”walau hanya sekali”.. ya sekali itu sajalah beliau dapat kesempatan cium Hajar Aswad, setelah itu gak ada pernah kesempatan lagi sampai kembali ke tanah air dan menceritakan kisahnya.

Pernah juga dapat cerita berbeda, yang ini orang yang bilang ” lah, cuma batu aja, gak nyium juga ga pa pa…” beneran..! Tu orang dari datang sampai pulang… berkali-kali thawaf di Baitullah, biarpun dah deket banget ke tempat Hajar Aswad… tahu-tahu mental terlempar menjauh lagi… gak pernah bisa nyium Hajar Aswad… jadi kalo kata Ayah saya, ”Hati-hati dengan ucapan kita di tanah suci, meski hanya dalam hati”.

Demikian Ka’bah, betapa rinduku. Peninggalan suci Nabi Ibrahim A.S. Bapake para Nabi dan Rasul. Rahmat Allah atasnya..

Camel of The Rock [5]

January 15, 2011

Katakanlah kita ingin membangun sebuah rumah di suatu bukit.. maka yang terbayang pada pikiran kita adalah membawa kayu, batu bata, semen, pasir, paku, atap dan lain-lain ke bukit tersebut dan dibuatlah sebuah rumah di bukit itu… jika persepsi anda seperti itu, maka itu adalah persepsi hampir semua orang..itu tidak salah persepsi..

Tetapi persepsi itu sama sekali salah jika diterapkan pada kaum ini…Kaum ini  cukup membawa palu, pahat, sekop dan pengki jika ingin membuat rumah di bukit atau gunung.. that’s all. Karena kaum ini, jika mengatakan bahwa mereka membuat rumah di bukit, maka yang mereka lakukan adalah memahat bukit batu itu menjadi rumah..! mungkin lengkap dengan jacuzzinya.

Ya, itulah kaum Tsamud, yang hidup beberapa masa setelah kehancuran kaum ’Aad… tingkat kemajuan arsitektur mereka telah demikian tinggi.. mereka memahat gunung-gunung dan bukit-bukit batu menjadi bentuk-bentuk apapun yang mereka suka, terutama memahatnya menjadi rumah-rumah dan gedung-gedung pencakat langit di mana mereka tinggal dengan aman. Mereka oleh Al-Qur’an di sebut Ashaabul-Hijr, penduduk Al-Hijr, sebuah kawasan yang dikonfirmasi terletak di Wadil Quro, sebuah tempat antara Madinah dan Syiria [lihat Q.S. Al-Hijr : 80].

Mereka, sayangnya, tidak mau menyembah Allah, melakukan kerusakan di muka bumi dengan menyembah selain Allah, berlaku sombang dan keras kepala. Maka Allah mengutus Shaleh A.S untuk menyeru mereka agar menyembah Allah, bertaubat dan taqwa kepada-Nya dan taat kepada Rasul Allah.

Hasilnya.. bukannya nurut, malah makin menjadi-jadi gilanya.. keras sekali penentangannya kepada Nabi Shaleh A.S. Mereka dustakan Nabi Shaleh dan tidak mau taat kepadanya. Bilang Nabi Shaleh gila lah, bilang agama Nabi Shaleh meragukan lah.. dan sebagainya… Ujung-ujungnya mereka minta bukti kebenaran Nabi Shaleh… mereka bilang bahwa mereka telah bikin segala macam di bukit batu kecuali sesuatu yang hidup.. maka kalau Nabi Shaleh benar, mereka nantangin Nabi Shaleh untuk mengeluarkan UNTA BETINA keluar dari batu di sebuah bukit…

Nabi Shaleh gemes dan marah juga atas permintaan mereka… “tapi oke lah, aku akan minta pada Allah untuk itu” kata Nabi Shaleh.. Maka atas ijin Allah, Nabi shaleh mengajak kaumnya ke sebuah bukit batu… lalu.. sraaatt..! Nabi Shaleh menarik keluar seekor unta betina..!

Kata Nabi Shaleh : “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” Lihat cerita lengkapnya antara lain di Surat Al-A’raaf [7] ayat : 73 – 79.

Tapi.. dasar kaum Tsamud hatinya terbuat dari batu seperti rumahnya… bukannya beriman setelah bukti kebenaran di depan mata… malah tambah gila.. mereka malah bikin sayembara, siapa yang mau bunuh itu unta betina akan dapat hadiah gadis cuantiiqq… ya jelas aja ada yang nyaut… aku mau..! aku mau….! akhirnya 2 orang berangkat.. mereka tangkap itu unta, lalu mereka sembelih.. abis itu lapor, lalu pesta-pesta sama gadis cuantiq..

Nabi Shaleh dah lepas tangan deh.. mereka diberi waktu 3 hari sampai datang adzab Allah… Belum 3 hari dah pada datang nantangin.. mana adzab itu..? dah cepetan aja tuh adzab datangin… siapa takut… paling juga cuma bluffing aja… huhh…! Nabi Shaleh geleng-geleng kepala, istighfar, usap-usap dada. Bener-bener nih manusia-manusia…

Hari ketiga agak sore dari yang dijanjikan… gelap mendung mulai menggayut… angin berhembus lebih kencang dari biasanya… kaum Tsamud mulai rada keder juga… akhirnya pada ngumpet di rumah batunya masing-masing.. tutup pintu rapat-rapat dan yakin tidak ada yang bisa menerobos ke dalam rumah mereka yang aseli gunung batu…

Ya jelas gak mungkin lah mereka bisa menghindar dari Adzab Allah.. dah diberi waktu untuk tobat 3 hari, gak dimanfaatkan, malah nambah dosa nantangin Allah dan Rasulnya.. maka hari ke empat.. guntur menggegar… gelombang suaranya menghancurkan rumah-rumah mereka, memecahkan gendang telinga mereka, merontokkan jantung-jantung mereka, memutuskan urat-urat syaraf mereka… mereka pun mati seluruhnya.. bergelimpangan di rumah-rumah mereka yang mereka banggakan itu..

 

Look… dengan suara menggelegar mereka mati. Mengapa pakai suara..? mungkin itu yang paling cocok buat mengadzab dan mematikan orang yang lagi ngumpet di perut gunung… mereka pikir aman, ternyata mereka kecele.. mati seluruhnya kecuali Nabi shaleh dan orang-orang yang beriman bersamanya..

Seandainya saja unta betina itu tidak dibunuh, tentu unta betina itu bisa bunting dan ras keturunan unta itu dapat kita temukan pada saat ini… Bibit unta terbaik yang pernah ada, karena unta itu unta mu’jizat, unta yang extraordinary… memang dasar bodoh itu kaum tsamud.. sayang tidak ada keterangan tentang unta itu setelah dibunuh.. mungkin kalo bsa ditemukan fosilnya, lalu masih ada selnya yang aktif, bisa dibuat klonnya.. 🙂

The Power of ‘Aad [4]

January 15, 2011

Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.

Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.

[Q.S. Fushshilat [41] : 15-16

 

Kaum “Aad dalam riwayat disebutkan adalah Kaum yang teramat sangat kuat tenaganya, badannya besar dan tinggi, berbody raksasa. Hidup tidak terlalu lama dari banjir besar jaman Nabi Nuh.. namun demikian mereka sepertinya melupakan adzab pada ummat Nabi Nuh, mulai kembali ke sisi gelap manusia, membuat kerusakan di bumi dengan menyembah patung-patung dan menyombongkan diri. Mereka mengklaim sebagai Yang Terkuat di muka bumi. Ada cerita bahwa mereka bisa menumbangkan pohon besar dengan tangan mereka, juga bisa jadi dapat mengangkat unta betina sedang bunting hanya dengan satu tangan..

Allah mengutus Nabi Huud A.S. ke tengah-tengah kaum ‘Aad untuk memberi peringatan agar jangan sombong dan hanya menyembah Allah saja. Tetapi mereka mendustakan Nabi Huud A.S dan tetap dalam kesombongan dan kekafiran. Akhirnya Allah memusnahkan mereka dengan angin kencang lagi dingin membekukan selama tujuh malam delapan hari terus menerus..dan mereka seluruhnya mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, sama sekali musnah dan tak ada yang tersisa. Puing-puing tempat tinggal mereka pun akhirnya rata dengan tanah, menyisakan pekerjaan untuk arkeolog-arkeolog modern.

Pencarian terhadap sisa-sisa perkampungan dan fosil kaum ‘Aad masih terus dilakukan, untuk membuktikan cerita bahwa kaum ‘Aad adalah kaum berbody raksasa dengan kekuatan super, namun musnah oleh unsur yang paling lembut di bumi ini, angin. Terbukti, kesombongan berbody besar dan kuat, tak berguna hanya sekedar menghadapi angin…apakah mereka berkehendak menentang Allah yang Maha Kuat dan Maha Besar..?

Nabi Huud a.s memang tidak meninggalkan benda yang bisa kita jadikan koleksi, tetapi beliau meninggalkan sebuah kisah yang seharusnya membuat manusia berpikir kembali tentang akibat dari kesombongannya di muka bumi.

Ataukah para kolektor mau mengoleksi tengkorak kaum ‘Aad yang diduga berukuran raksasa? Pernah ada berita ditemukannya The Skull of ‘Aad, tetapi dikonfirmasi hanya Hoax saja. Jadi.. silahkan lanjutkan pencarian fosil kaum ‘Aad, dan koleksi tenkorak besarnya. Tetapi ingat jugalah apa yang menghancurkan dan memusnahkan mereka.. 😦

Bahtera Nabi Nuh A.S. [3]

January 12, 2011

”Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (Q.S. Huud [11] : 37)

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (Q.S. Huud [11] : 38)

~~

Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Huud [11] : 44)

 

Seluruh manusia yang kini hadir di bumi adalah keturunan langsung dari orang-orang yang diselamatkan Allah melalui Kapal yang dibuat oleh Nabi Nuh A.S. ini. Wajar jika semua manusia di bumi yang sekarang ini hidup memiliki kenangan di alam bawah sadarnya tentang kapal ini. Kenangan tentang kapal ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara genetis. Kenangan alam bawah sadar tentang kapal ini akan muncul ke permukaan manakala manusia berhadapan dengan air yang volumenya amat besar.. Orang-orang yang sering kena banjir macam orang Jakarta yang paling banyak merasakan munculnya kenangan ini. Setiap kali banjir datang, banyak yang ingat kembali bahtera Nabi Nuh..

Inilah kapal paling sempurna yang pernah dibuat oleh manusia. Inilah bahtera paling fenomenal yang pernah ada di bumi. Inilah bahtera penyelamat yang sesungguhnya. Sampai sekarang manusia masih terus mencoba membuat tiruannya namun tak pernah berhasil. Pernah ada Titanic, yang langsung tenggelam di pelayaran pertamanya. Pernah ada Tampomas, yang menyisakan tangis pilu sisa-sisa penumpang dan keluarga korbannya. Bahkan USS Roosevelt pun tidak bisa menyamai kesempurnaan Bahtera Nabi Nuh A.S. Sampai yang terakhir, sebuah tiruan ide Bahtera Nabi Nuh telah difiksikan dalam film 2012 yang hasilnya sebuah kebingungan besar saja.

Paling tidak ada tiga hal yang menyebabkan manusia tidak berhasil meniru kapal Nabi Nuh ini;

Pertama, Project Leader pembuatan kapal ini adalah MANUSIA SEMPURNA, karena Nuh seorang Nabi dan Rasul. Tidak ada manusia yang lebih sempurna dari seorang Nabi dan Rasul Allah SWT.

Kedua, Supervisor pembuatan kapal ini adalah YANG MAHA SEMPURNA. Detil terkecilpun tidak akan luput dari pengawasan-Nya. Dan Petunjuk pembuatannya adalah petunjuk terbaik yang tidak akan ada duanya. Dan Allah tidak melakukan pengawasan dan petunjuk pembuatan kapal lagi setelah kapal ini.

Hal yang ketiga adalah KESEMPURNAAN TUJUAN. Tujuan pembuatan kapal Nabi Nuh jelas amat sempurna, yaitu untuk menyelamatkan orang-orang beriman yang masih tersisa di muka bumi. Iman satu orang itu harganya jauh lebih besar dari bumi langit dan alam semesta ini, jikapun bumi ini seluruhnya terbuat dari emas, niscaya tidak akan dapat melebihi nilai iman di dalam dada seorang manusia. [ Q.S. Ali Imran : 91 : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” ]

Setelah terombang-ambing gelombang banjir besar sekian lamanya, orang-orang kafir sudah tewas seluruhnya, lalu langit berhenti turun airnya, dan bumi menelan air di permukaannya, maka bahtera Nabi nuh A.S pun berlabuh di Bukit Judiy, dikonfirmasi terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia. Para arkeolog sudah memetakan situs ini dan fosil kapal itu masih utuh berbentuk bahtera.

Zionisme internasional sudah sejak lama menguasai situs ini dan melakukan berbagai penelitian dan percobaan terhadapnya. Entah apa maunya mereka. Mungkin mereka pikir bisa selamat di hari kiamat nanti dengan berada di situs ini.. ;-0

Terompah Nabi Idris [2]

January 12, 2011

By : Ahmad Sopiani

Nabi Idris A.S. dikenal amat shaleh, sabar dan paling shiddiq/membenarkan. Bisa dirujuk Al-Qur’an antaranya Surat Maryam : 56-57 dan Al-Anbiyaa : 85-86. Beliau suatu saat diundang Allah untuk melihat-lihat surga, namun dengan syarat harus mati terlebih dahulu. Nabi Idris setuju. Maka setelah dimatikan, Nabi Idrispun diizinkan Allah untuk masuk melihat-lihat surga tetapi hanya sementara, setelah itu harus keluar. Boleh tinggal di surga selamanya nanti, yaitu setelah masuk surga untuk kedua kalinya. Setelah dirasa cukup, maka Nabi Idris pun dipersilahkan untuk keluar dari surga. Setelah berada di luar surga, Nabi Idris berseru : “Ya Allah, aku lupa, terompahku tertinggal di dalam surga, izinkan aku masuk kembali untuk mengambilnya”. Allah pun mengizinkan, maka masuklah kembali Nabi Idris ke dalam surga untuk mengambil terompahnya yang tertinggal di dalam surga.

Tunggu punya tunggu, Nabi Idris tidak keluar juga, maka malaikat yang tadi mengantar keluar, masuk kembali untuk mencari beliau. Ternyata Nabi Idris sedang bersenang-senang di dalam surga. Malaikat mengajaknya keluar, tetapi Nabi Idris tidak mau. Maka malaikat melapor pada Allah.. Kata Allah : “Ya Idris, mengapa engkau tidak mau keluar?” Nabi Idris menjawab : “Ya Allah, bukankah Engkau telah mengatakan bahwa aku boleh tinggal di surga selamanya jika telah masuk surga untuk kedua kalinya? Bukankah aku masuk surga kali kedua ketika aku mengambil terompahku yang tertinggal ?. Allah tertawa dan memuji Nabi Idris A.S.

Terompah Nabi Idris ini tentu saja tidak dapat kita temukan sekarang ini di bumi, karena telah berada di surga sejak saat itu. Jadi tidak bisa kita miliki. Yang bisa kita lakukan, kalau penasaran ingin melihat macam mana terompah Nabi Idris itu, ayo kita berusaha mendapat rahmat dan maghfirah Allah, sehingga kita dimasukkan ke dalam surga-Nya dan diberi kesempatan untuk melihat seperti apa terompah Nabi Idris a.s. tersebut.

Yang dapat saya pahami, sebuah terompah tetaplah terompah.. entah itu sepatu atau sendal, tidak akan memasukkan pemiliknya ke dalam surga. Yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga adalah rahmat Allah SWT. Namun jangan salah… terompah juga bisa menjadi indikasi, juga dapat menjadi sebab ridho ilahi.. misal menjadi indikasi, seperti Aa Gym bilang… Terompah itu tempatkan di kaki jangan di hati. Kalau ditempatkan di hati, terompah bagus membuat tinggi hati, lihat terompah orang lain lebih bagus jadi iri hati dan jika terompah bagusnya hilang jadi sakit hati lalu maki-maki setengah mati…

Kalau terompah jadi sebab ridho ilahi adalah kisah seorang wanita jalang yang memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan dengan cara turun sumur, lalu mengisi terompahnya dengan air, lalu menggigitnya, lalu naik, lalu memberi minum anjing itu dengan air di terompah tersebut… terompah wanita ini juga menjadi buruan kolektor, tetapi nilainya di bawah terompah Nabi Idris A.S. 😉

Wallahu a’lam.

Daun-Daun Surga [1]

January 12, 2011

By : Ahmad Sopiani

Alhamdulillaah, Shalli wa sallim ‘alaa Rasuulillah. Ammaa ba’du.

Kehidupan di bumi ini telah memperdaya banyak sekali manusia. Kehidupan yang singkat, penuh senda gurau dan main-main, layaknya game yang dimainkan anak saya yang umur 4 tahun. Entah apa yang dicari manusia-manusia itu. Seluruh umurnya dihabiskan untuk memperturutkan nafsu amarahnya. Seluruh waktunya dihabiskan untuk menumpuk kekayaan yang pasti akan ditinggalkannya. Seluruh masa mudanya dihabiskan untuk mencari kesenangan semu seciprat dua ciprat lalu sakit-sakitan di hari tuanya.

Ada suami yang setiap hari memukuli istrinya, namun tetap menggaulinya. Ada istri yang setiap hari mencakari dan mencacimaki suaminya, padahal suaminya itu yang dulu ia kejar-kejar sampai ke lubang semut. Ada orang yang banting tulang siang malam mencari harta, lalu anaknya memanggil dia Oom karena hampir tak pernah bertemu bapaknya. Ada istri yang ngotot bekerja dengan alasan nafkah suaminya tidak cukup untuk menutup obsesinya terhadap kata “cukup”. Apakah gerangan yang kau cari wahai manusia?? Esok atau lusa kalian akan mati dan kalian akan diminta tanggungjawab tentang hidup yang kalian jalani.. Apakah mereka tidak berpikiiir..?  harta yang mereka tumpuk-tumpuk itu, dengan alasan untuk masa depan itu, bisa sekejap habis karena kangker… bisa ditinggalkan seketika karena tewas kena peluru nyasar anggota Semen dan tinggallah ahli warisnya bunuh-bunuhan berebut harta warisan.

Tetapi Allah tetap sayang pada manusia, meski manusia ini adalah ciptaannya yang paling ngeyel… paling suka ngelawan… paling gak tau diri… Paling dzolim… paling bodoh… paling malas… paling suka mengeluh, semaunya sendiri…

Karena sayang, Allah utuslah kepada manusia-manusia itu para Nabi dan Rasul, supaya manusia-manusia itu ingat.. tahu diri… taat… cerdas… dan layak masuk surga kelak… Syariat para Nabi itulah yang telah dan terus menyelamatkan banyak manusia dari jurang neraka. Mengembalikan manusia kepada kesejatian penciptaan, yaitu penyembahan hanya kepada Allah SWT saja. Syariat para Nabi dan Rasul itu, sejak awal Kenabian Nabi Adam, sampai akhir kenabian Nabi Muhammad SAW, namanya Islam.

Selain Syariat, para Nabi dan Rasul itu ada pula yang memiliki peninggalan yang mungkin berguna jika kita bisa ambil pelajaran dari penginggalan mereka. Syukur-syukur bendanya bisa kita temukan untuk kita jadikan koleksi yang tak ternilai harganya :

  1. Daun-daun Surga

“Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Q.S. Al-A’raaf [7] : 22.

Inilah benda surga yang paling banyak diburu manusia. Karena daun-daun inilah representasi paling akurat mengenai keberadaan surga yang kekal yang pernah ada di permukaan bumi. Daun-daun ini masih dipakai Nabi Adam A.S dan isteri ketika mereka berdua diturunkan Allah ke Mayapada. Dalam Kitab Tafsir ada disebutkan daun-daun ini berasal dari pohon At-Thiin. Daun-daun ini, karena berasal dari surga, maka tidak pernah mengering, tetap segar abadi sepanjang masa. Daun-daun ini kemudian disimpan oleh Nabi Adam dan isteri dan diwariskan turun temurun kepada anak keturunannya yang paling shaleh dan terpercaya. Orang yang bisa mendapatkan daun-daun ini atau salah satunya, dan meminum air rendamannya, akan berumur sangat panjang dan sehat tak pernah sakit sampai tibanya  waktu Allah mematikan dia. Dari zaman ke zaman, millenium ke millenium, daun-daun ini dirahasiakan keberadaannya karena amat berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah. Ada kemungkinan Samiri di zaman Nabi Musa mendapatkan salah satu dari daun-daun ini, sehingga setelah diusir Nabi Musa ia pergi berkelana di muka bumi tanpa pernah mati dan akan muncul kembali di akhir zaman sebagai Dajjal dan hanya bisa mati jika dibunuh oleh Nabi Isa A.S. Mengapa Nabi Isa? Karena hanya Nabi Isa yang mendapat izin Allah menghidupkan orang mati, sehingga Nabi Isa pula yang diberi Allah kekuatan untuk membunuh Dajjal.

Tabut peninggalan Nabi Musa, juga mungkin salah satu isinya adalah daun-daun surga peninggalan Nabi Adam A.S. Itu sebabnya orang-orang Yahudi sampai sekarang masih terus berusaha mendeteksi keberadaan Tabut ini. Pemuka-pemuka zionis Israel macam Ben Gurion juga sangat terobsesi oleh daun-daun surga karena dengan memiliki daun-daun ini mereka yakin klaim mereka sebagai pewaris bumi ini dapat ditegakkan dan mereka dapat memberlakukan hukum-hukum buatan mereka yang semena-mena. Arkeolog-arkeolog dan banyak sejarawan telah dikerahkan untuk pencarian ini, namun belum ada kita dengar mereka menemukannya.

Apakah mungkin Allah memberitahukan keberadaan daun-daun ini kepada Rasulullah Muhamad SAW?. Namun, jikapun mungkin, pengetahuan itu cukup untuk beliau sendiri karena tidak ada manfaat jika ummat mengetahuinya. Jadi, karena bagi kita pencarian terhadap daun-daun surga peninggalan Nabi Adam A.S ini hampir mustahil, maka jalan lain yang dapat ditempuh adalah dengan berusaha sekuat daya agar kelak di akhirat bisa masuk surga. Dengan demikian, bukan hanya daun-daun surga yang bisa kita dapat, tetapi seluruh fasilitas di surga bisa pula kita nikmati secara kekal abadi.

[Ada pertanyaan; Adakah indikasi dari ayat Qur’an atou hadist nabi yang Shohih bahwa si SAMIRI itu adalah sosok BAKAL DAJJAAL yang kelak akan dibunuh oleh Nabi Isa Alaihi salaam?] katanya supaya ke depan bisa menjadi diskusi ilmiyyah…

Hmm… bagaimana ya… itu cerita di atas jelas2 tidak disebutkan sumbernya alias tidak ada catatan kaki atau foot notenya… jadi jelas-jelas bukan karya ilmiyyah, hanya coretan-coretan sebelum tidur siang… 🙂 Apakah bisa dikategorikan dusta jika cerita seperti itu dirilis…? mungkin ya.. mungkin juga tidak… mungkin tidak karena penulis tidak menyebut itu suatu kepastian, hanya sebuah kemungkinan. Jika sebuah kemungkinan dibuktikan sebaliknya oleh sebuah fakta bahwa kemungkinan tersebut mustahil, maka gugurlah teori kemungkinan itu.

Dalam hal ini, jelas tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjabarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah.. itu tugas Mufassir. Kalau ada terjemah ayat di kutip, itu hanya latar cerita saja supaya agak nyambung.. dan tidak dimaksudkan untuk merendahkan nilai ayat-ayat. Jadi jelas ini hanya bacaan ringan sebelum tidur siang, tidak perlu ditanggapi terlalu serius.. Jikalau tiada disukai, saya mohon maaf…

Namun untuk wawasan lebih jauh tentang asal-usul Samiri dan hubungannya dengan kemunculan Dajjal, rasanya ada sebuah buku, kalau tidak salah karangan Isa Dawud, tentang “Dajjal akan muncul dari Segi Tiga Bermuda”. [terima kasih]

[Ada pertanyaan lain; “asalnya dari mana ya….?” cerita tentang daun-daun surga yang tetap segar dan bisa bikin sehat berumur panjang itu..?] hmm.. yang jelas itu berasal dari sel-sel kelabu di balik tulang tengkorak saya… 🙂  kalau ada yang keberatan dengan karangan tersebut… ya counter write saja atuh.. 🙂