[penampakan ketiga] Aku Se-Kacung Dirimu

Katanya ya… bangsaku adalah bangsa kacung.

Jadi kawan, aku ini sama kacungnya dengan dirimu.

Jika kamu mengaku berbangsa Endonesa juga.

Beda kita mungkin hanya sudut pandang saja.


Mental kacung kadang terasa boleh juga.

Tidak repot mikir hanya laksanakan tanpa banyak bicara.

Tidak perlu improvisasi aneh-aneh untuk dapat reward.

Ada perintah laksanakan, tak ada yang sudah tidur saja.


Beda manusianya terasa sama saja kekacungannya.

Hanya saja urutannya mungkin berbeda-beda.

Aku kacungmu, kamu kacung siapa.

Siapa kacung siapa yang berikutnya.


Kalau mental kacungku dibawa ke hadapan Allah

Rasanya boleh juga untuk dicoba.

Pura-puranya Allah adalah majikan.

Kalau dia perintahkan, aku nurut saja tanpa banyak tanya.


Kalau jadi kacung sesama manusia.

Balasannya juga datang dari manusia.

Kalau jadi kacung Allah.

Terserah Allah deh mau kasih apa.


Katanya ya… kacung itu profesi hina.

Aah, apa iya hina?

Apa iya disuruh-suruh dan dilarang-larang itu hina?

Kalau iya, berarti Allah dan Rasul menghina aku dong?


Nyatanya tidak juga.

Allah suruh-suruh aku ini dan itu. Setelah laksana malah jadi mulia.

Rasul suruh-suruh aku ini dan itu. Setelah laksana malah jadi bahagia.

Jadi aku pikir beda kita hanya di sudut pandang saja.


Jika aku se-kacung dirimu, pada siapa aku pantas mengkacungkan diriku?


Bekasi, Rabu, 7 July 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: