Jenderal Hormat Pada Kopral

( oleh : Ahmad Sopiani )

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Innalhamda lillaah, shalli wa sallim ‘alaa rasuulillaah.

Tidak ada yang salah pada title tulisan ini. Memang demikianlah adanya. Seorang Jenderal sekalipun ada suatu waktu ketika ia harus hormat pada kopral atau bahkan kepada prajurit yang stratanya paling bawah sekalipun. Suatu waktu tersebut adalah ketika seorang kopral memberi hormat pada sang Jenderal… Peraturan Penghormatan Militer yang disingkat PPM, mengharuskan orang yang diberi hormat untuk membalas penghormatan tersebut. Jenderal yang baik sangat tahu peraturan ini dan dengan senang hati atau karena semata-mata kebiasaan sekalipun, ia pun akan angkat tangannya untuk menghormat balik pada sang kopral, atau minimal menganggukkan kepalanya… Jadilah Jenderal hormat pada Kopral.

Dalam istilah Al-Quran, penghormatan itu adalah “Tahiyyah”. Dan “Tahiyyah” direpresentasikan dengan ucapan “salaam”. ”Salaam” yang merupakan bahasa penghormatan penduduk surga, kemudian ditetapkan pula untuk diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari kaum muslim di buana panca tengah ini. Mungkin untuk simulasi kehidupan kaum muslim dalam surga di akhirat kelak…

“Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan pernghormatan mereka dalam syurga itu ialah “salaam”. (Q.S. Ibrahim [14] : 23).

“Do’a mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”. (Q.S. Yunus [10] : 10)

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan “salaam” di dalamnya”. (Q.S. Al-Furqaan [25] : 75).

“Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah “Salam”; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka”. (Q.S. Al-Ahzab [33] : 44).

Oleh sebab urusan penghormatan ini sepertinya penting sekali, karena merupakan salah satu watak dasar manusia untuk mendapatkan suatu penghormatan, maka Allah merasa perlu untuk memberi informasi dan petunjuk yang harus dilaksanakan ummat Islam dalam urusan yang satu ini. Dalam perkembangannya, wacana yang timbul adalah bahwa biarpun memberi penghormatan dalam bentuk “salaam” kepada orang lain hanya “Nadb” (anjuran) saja yang melahirkan hukum fiqh sunnah/sunat, tetapi membalas penghormatan itu menjadi “iijaab”(tuntutan) yang membuahkan hukum waajib dalam fiqh Islam..

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”. (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 86).

Ikhwan fillaah,..

Watak dasar manusia yang satu ini, yaitu keinginan untuk dihormati, betul-betul berlaku universal. Budaya dan bangsa yang non muslim sekalipun, yang atheis sekalipun, entah saya mendapatinya di media atau bersentuhan secara langsung, mengenal asas-asas penghormatan ini meski dengan tata laku yang berbeda. Ada yang dengan cara mengangkat tangan, ada yang dengan menundukkan kepala, ada yang secara badan dibungkukkan hingga hampir 90 derajat atau dengan ucapan semisal good pagi selamat morning. Bahkan ketika akan berantem adu jotos pun, ada diawali hormat terlebih dahulu.

Orang-orang Jepang dan Korea akan membungkukkan badan untuk menghormat, orang Eropah mungkin cukup menganggukkan kepalanya. Hitler dan tentaranya mungkin menghormat dengan mengangkat tangan kanan lurus kedepan naik 45 derajat dengan telapak tangan ke arah bawah, sementara para kawulo di Mojopait akan merapatkan dua telapak tangannya menjadi satu lalu meletakkannya di jidat naik sedikit… pokoknya macem-macemlah… Itu yang dalam bentuk gerakan. Kalau dalam bentuk ucapan beda-beda lagi sesuai bahasanya masing-masing. Kecuali untuk kaum muslim mungkin… bahasanya apapun, tahiyyahnya sudah dibakukakan dalam ucapan salaam; assalaamu’alaikum.

Sepertinya sederhana saja urusan penghormatan ini,… namun apa benar sesederhana itu? Rasanya tidak deh… Dari aslinya hanya urusan angkat-angkat atau angguk-angguk dan cuap-cuap, urusan penghormatan ini kemudian melesat lebih tinggi dan tinggi lagi dalam berbagai tataran budaya, bahkan pernah singgah ke istana Wakil Presiden Republik Indonesia, ketika ex Wapres JK menghitung ia pernah sampai 14 kali dihormati dalam sehari;

Tidak, urusan hormat ini tidak sederhana. Hormat mewakili banyak hal dalam kehidupan manusia. Ucapan atau gerak tahiyyah itu merepresentasikan sesuatu yang jauh lebih besar dan serius…dan hal itu lintas waktu, nilai, budaya dan negara. Hormat dalam pengertian tahiyyah atau greetings saja memiliki skala nilai yang tinggi dalm kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara karena ia menunjukkan tatanan moral kasih pada sesama, kerukunan hidup, kedekatan emosional, keramahan, kepedulian, dan lain sebagainya. Apatah lagi ”Hormat” dalam pengertian semantik dalam Bahasa Indonesia.

Kalau di Indonesia disebutkan ”Anak itu sangat hormat pada orangtuanya”, maka hal tersebut mengandung makna kepatuhan, rasa sayang, pengharapan, dan keberpihakan. Kalau disebutkan ”Siswa itu sangat hormat pada gurunya”, pun mengandung makna yang mendalam dalam kehidupan dan interaksi antara guru dan murid.

Ketika dikatakan ”Masyarakat Indonesia amat hormat pada hukum yang berlaku”, itu artinya tatanan masyarakat ideal telah terbentuk dan terbina, karena hormat pada hukum artinya adalah kepatuhan untuk bersama-sama menjaga tatanan sosial sesuai dengan hukum-hukum yang telah disepakati bersama, atau paling tidak disepakati oleh sebagian besar anggota masyarakat menurut system yang berlaku. Pun jika ada anggota masyarakat yang tidak patuh pada hukum, itu artinya menjadi kewajiban bagi anggota masyarakat yang lain untuk mengingatkan/mencegah orang tersebut, dan jika orang itu tetap membandel dan tetap melanggar hukum, maka para penegak hukum dapat memproses pelanggaran hukum tersebut dalam bingkai penghormatan pada hukum yang berlaku.

Tapi Kang Sop, hukum di Indonesia kan bukan hukum Islam, bukan hukum Allah, tapi hukum thagut, hukum yang dihasilkan manusia, hukum yang merupakan anak kandung sistem demokrasi yang mengakomodir mayoritas, bukan mengakomodir kebenaran dan keadilan, hukum yang bisa direkayasa, hukum yang bisa diperjualbelikan tergantung berapa banyak uang yang dimiliki? Apa hukum seperti itu yang harus kita hormati dan kita patuhi…? (Hehehee…. no komen lah.. biar yang ahli-ahli saja yang bahas…).

Saudaraku…

Kalau asas saling menghormati ini kita lakukan, katakanlah kita ucapkan tahiyyah salam seperti anjuran Rasuulullah SAW pada yang kita kenal ataupun tidak kita kenal, Insya Allah itu akan membuka jalan persaudaraan, akan melembutkan hati, akan mencairkan dan menghangatkan suasana, akan meredam amarah, akan mengakrabkan para pihak, dan lebih jauh akan membiasakan kita dengan suasana di surga.

Kalau semua orang sudah saling menghormati orang lain, sudah saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, sudah menghormati tata aturan yang berlaku, sudah saling menjaga kehormatan masing-masing, mungkin akan sampai pada keadaan ketika sang Jenderal hormat dengan setulus hati pada seorang Kopral….

Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Bekasi, 21 November 2009.

http://www.sopian73.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: