Like or Dislike

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)


Saya ingin mengajak anda untuk menyimak sebuah kisah yang sering diceritakan kembali, untuk mengingatkan kita akan pentingnya sifat syukur dan qana’ah dengan apa yang telah kita nikmati dan tentang bagaimana semestinya kita bersikap mengenai hal-hal yang mungkin tidak kita sukai.

Alkisah seorang Tukang Batu. Dahulu kala, di masa hati manusia relatif masih bersih, tatkala kehidupan manusia belum “semeriah” saat ini, hiduplah seorang Tukang Batu. Setiap hari selepas subuh, ia berangkat menuju sungai di kaki gunung. Dengan peralatan yang amat sederhana, ia mulai bekerja menghancurkan batu-batu gunung yang besar-besar, menjadi serpihan-serpihan sebesar kepala manusia atau lebih kecil lagi. Tanpa kenal lelah ia terus menekuni pekerjaannya hingga ketika bayangan kepalanya tepat ada di kakinya, ia memandang ke langit, menghirup nafas dalam-dalam dan meletakkan peralatannya. Ia kepal-kepalkan jari-jari tangannya yang kaku, sambil melirik hasil kerjanya. Lumayan banyak. Ia duduk di atas sebuah batu yang cukup besar dan datar, mencuci tangan dengan air sungai yang ada di bawah kakinya, lalu mulai membuka dan melahap bekal ala kadarnya yang ia bawa dari rumah tadi pagi.

Jika hasilnya sudah cukup banyak, biasanya akan ada orang yang akan datang untuk membelinya atau menukarnya dengan sesuatu sesuai kesepakatan mereka. Demikian ia menjalani profesinya itu dari hari kehari, dan mencukupkan hidupnya dengan hasil yang didapatkannya itu, hingga suatu hari……

Ia berpapasan dengan sebuah rombongan saudagar. Saudagar itu terlihat sangat hebat. Pakaian yang dikenakannya sangat bagus, dagangannya banyak diangkut dengan pedati-pedati besar, yang ditarik kuda-kuda pilihan. Pengawalnya berbadan tegap segi empat dan pelayannya banyak dan cekatan.

Sang Tukang Batu pun bertanya kiri – kanan tentang hal ihwal si saudagar, hingga iapun kemudian berkesimpulan bahwa saudagar itu lebih, bahkan jauh lebih hebat darinya. Dan dari kesimpulannya itu iapun melihat dirinya, terasa kecil. Iapun akhirnya menetapkan hati bahwa ia tidak ingin lagi menjadi Tukang Batu. Ia ingin menjadi saudagar yang hebat itu. Lebih hebat dari tukang batu.

Kun. Jadilah ia seorang saudagar. Ia berkeliling negeri membawa dan menjual komoditinya. Makin hari keuntungan yang diperolehnya semakin besar. Para pengawalnya siap melindunginya dari berbagai ancaman bahaya yang datang dari orang-orang yang ingin senang di atas penderitaan orang lain. Para pelayannya senantiasa bekerja dengan giat dan setia. Orang-orang yang bersua dan berpapasan dengannya membungkuk tanda hormat dan segan kepadanya. Hebat. “Kini aku lebih hebat daripada aku yang dahulu” pikirnya. Dan ia pun berpikir bahwa ialah orang paling hebat di dunia ini……… sampai kemudian……

Di suatu hari yang cerah, tatkala ia tengah menikmati hasil jerih payahnya, datanglah sepasukan tentara kerajaan mengawal seorang utusan raja untuk memungut pajak darinya. Utusan raja itu membacakan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang yang harus dibayarnya sebagai kewajibannya kepada raja yang telah memberinya keleluasaan untuk berbisnis di wilayah itu. Jumlahnya sangat besar bahkan untuk ukuran seorang saudagar kaya seperti dia. Jika ia menolak membayar, maka harta kekayaannya akan disita. Para pengawalnyapun tidak berdaya untuk melawan pasukan kerajaan yang jumlahnya lebih banyak, lebih sakti dan lebih lengkap persenjataannya. Maka dengan berat hati iapun membayar tagihan pajaknya tanpa perlu mengisi Surat Setoran Pajak.

Sepeninggal utusan raja penagih pajak dan pasukan kerajaan yang mengawalnya, sang saudagar termenung…. Ternyata  ada yang lebih hebat dariku….. selama ini aku pikir akulah yang paling hebat karena dengan uangku, aku bisa mendapat apapun yang aku mau, tetapi ternyata aku tidak berdaya berhadapan dengan tukang pajak yang membawa pasukan itu… Pastilah raja yang mengutusnya lebih hebat lagi…. Kalu demikian, alangkah hebatnya jika aku bisa menjadi raja. Tidak perlu kerja keras, cukup mengutus orang untuk datang memungut pajak, dan kekayaanpun mengalir  ke pundi-pundinya…. Ah, seandainya aku bisa menjadi raja……

Kun. Jadilah ia seorang raja. Caranya, katakan saja ia memenangkan sayembara untuk membuat putri raja bisa tertawa, terus jadi menantu raja, terus raja lama mati, terus ia jadi raja menggantikan raja lama karena raja lama hanya punya seorang puteri yang ia kawini itu, dan hukum di negeri itu tidak memungkinkan seorang putri untuk menjadi raja. Anggaplah begitu.

Ia memerintah di kerajaannya dengan bangga, gagah dan otoriter. Semua titah raja adalah hukum. Ia menerapkan pajak yang tinggi kepada rakyat. Ia berlaku seperti tuhan untuk menentukan seseorang boleh terus hidup dan yang lain cukup lama untuk tetap hidup. Ia menentukan benar atau salah menurut apa yang ia kehendaki benar atau salah. Kekuasaannya semakin lama semakin luas dan besar, meliputi hampir seperempat daratan yang ada di bumi. Kini ia merasa yakin, bahwa dialah satu-satunya yang paling hebat di dunia ini….. hingga…

Musim kemarau berkepanjangan tiba…. Matahari bersinar dengan tanpa henti memancarkan panas yang tak terhingga. Pohon-pohon mengering dan mati. Hewan-hewan merana dan menjemput ajalnya. Tanah menjadi kering, retak dan membumbungkan lapisan debu ke udara. Bahkan di kala malam pun rasanya panas sinar matahari tetap terasa. Karena kemarau yang teramat hebat ini, akhirnya kerajaannya bangkrut dan sang raja termenung seorang diri….

“Ternyata aku, raja besar ini… tak kuasa melawan terik matahari…. Aku pikir selama ini tidak ada yang lebih hebat dariku… ternyata matahari dengan sinarnya itu lebih hebat dariku… Ah… seandainya aku bisa jadi matahari…..

Kun. Jadilah ia matahari….

Dengan kekuatan sinarnya yang amat panas, ia memancarkan kehebatannya. Menghanguskan apa saja yang dilaluinya. Bukan saja bumi yang ia kuasai dengan sinarnya itu, tetapi juga planet-planet lain di tata surya kini tunduk kepadanya. Ia kini yakin bahwa ia makhluk paling hebat…sampai segumpal awan menghalangi sinarnya.

Sang matahari mengerahkan segenap energinya untuk menembus lapisan awan yang ringan melayang-layang itu. Tetapi sang awan sama sekali tidak bergeming. Sang awan tetap dalam kelembutannya yang misterius menghalangi sinar matahari menyinari bumi. Sang matahari tak berdaya lagi dan terpaksa harus mengakui kenyataan bahwa awan lebih hebat darinya… iapun ingin jadi awan.

Maka jadilah ia awan. Dengan senyum kepuasan ia melayang-layang bebas diudara menghalangi sinar matahari dengan kelembutannya. Iapun boleh bangga bahwa ia semakin lama semakin besar karena banyak awan-awan lain yang bergabung dengannya membentuk lapisan awan yang sangat besar dan tebal. Kemudian, setelah semakin besar dan menghitam, sang awan menumpahkan isi yang dikandungnya ke bumi. Ia mencurahkan dirinya menjadi air hujan yang amat lebat. Ia sirami seluruh permukaan bumi dengan segenap kekuatannya. Air hujan itu kemudian bergabung kembali dalam suatu aliran yang sangat deras, menjadi air bah. Ia hanyutkan setiap yang dilaluinya, apatah itu pohon, rumah bahkan orok yang sedang dimandikan di sisi sebuah sungai. (Sungai itu kemudian jadi sungai Bahorok ? air bah menghanyutkan orok ?). Pokoknya ia menghanyutkan apapun…. Kecuali sebuah batu gunung yang amat besar di sebuah sungai…..

Seluruh kekuatan alirannya ia hempaskan untuk menghanyutkan batu itu, tetapi sia-sia saja usahanya. Batu gunung itu bergemingpun tidak. Ia tetap nagen, ajeg dan kukuh pada posisinya. Bahkan sampai akhir tenaga yang dimiliki habis, batu gunung itu tak pernah sedikitpun terpengaaruh kekuatannya. Sang awan yang kemudian menjadi hujan dan air bah pun menyerah dan mengakui batu itu lebih hebat darinya…

Kalau begitu lebih baik aku menjadi batu gunung, karena lebih hebat dan perkasa….

Oke. Jadilah ia Batu Gunung yang besaaar. Dengan congkak ia berdiri  menantang. Tidak ada kekuatan seperti kekuatan yang ia miliki. Sinar matahari tidak memberikan pengaruh apapun padanya, malah panasnya ia serap sebagai pelengkap kehebatannya. Air bah juga tidak mampu menggeser posisinya. Akhir kata kini ia benar-benar yakin akan dirinya yang paling hebat di dunia ini….sampai kemudian datanglah seorang Tukang Batu…….

Anda lihat, betapa kenyataan menunjukkan bahwa boleh jadi kita tidak suka dengan pekerjaan kita saat ini. Tidak cukup puas dengan penghasilan kita sekarang dan benci setengah mati terhadap nasib yang menimpa kita, namun jika kita terima dengan penuh kesadaran, Allah akan menunjukkan yang terbaik untuk kita.

Saya tidak mengajak anda untuk jumud dan tidak mau berusaha untuk maju dan lebih baik, saya hanya ingin kita menyadari bahwa semua proses usaha yang kita lakukan hendaknya hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT. Sebagai penentu kebijakan akhir. Allah SWT. tahu mana yang lebih baik untuk kita. Karena …“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)

Walaupun secara khusus ayat ini berkenaan dengan kewajiban berperang di jalan Allah, namun mengingat kaidah ushulfiqh bahwa  “Al-‘ibrah bi’umuumillafdzi, laa bikhusushissabab” maka potongan ayat ini dapat diterapkan dalam hal apapun menyangkut kehidupan ini..

Cerita di atas menyangkut kedudukan. Ada banyak hal lain yang juga bisa dijadikan contoh di kehidupan ini. Misalnya, ibu-ibu amat jijik dengan yang namanya cacing, namun kini sudah cukup banyak yang tahu bahwa beberapa jenis cacing merupakan campuran yang amat baik untuk kosmetika yang sangat disukai ibu-ibu. Malah yang namanya cacing kalung merupakan obat yang amat mujarab untuk sakit types atau gejala types.

Wallahu a’lam.

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: