TATKALA KITA TERHEMPAS

”Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat).

Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.

Dan manusia bertanya : ”Mengapa bumi (jadi begini) ?”. (Q.S. Al-Zalzalah :1-3)

“Dan apabila lautan dijadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.

Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.”

(Q.S. Al-Infithaar : 3-5)

Ahad, 14 Dzulqa’dah 1425H, Minggu, 26 Desember 2004M, kita tiba-tiba saja terhenyak, tersentak, terhempas, terharu pilu, duka dan nestapa, bingung bertanya-tanya disusul air mata yang demikian deras mengalir dari detik ke detik. Kering sudah rasanya air mata kita menangisi tragedi yang terjadi, kepiluan yang menimpa, bencana yang melanda, sampai rasanya kita kehilangan kata-kata karena isak tangis yang kian keras. Kehilangan kata-kata karena kita tidak menemukan lagi kata-kata yang dapat menggambarkan nestapa yang mengiris-iris hati kita.

Meski yang terjadi jauh di ujung barat bumi persada tercinta, namun sebagai muslim dan manusia kita seakan ikut terhempas menyaksikan demikian banyak mayat bertaburan, sudah tak terkatakan lagi mirisnya hati dan jiwa kita, melihat demikian banyak anak-anak bergelimpangan kehilangan nyawa, apatah lagi bagi mereka yang benar-benar kehilangan anak-anak dan keluarganya hanya dalam hitungan detik. Pilu dan derita yang kita saksikan dan kita rasakan sudah amat demikian besar sehingga seluruh sisi kemanusiaan kita berguncang amat keras.

Amat sulit kita percaya, bagaimana demikian banyak peradaban, demikian banyak kota dan desa, demikian banyak jiwa-jiwa, tiba-tiba musnah, lenyap, rata dengan tanah. Hanya menyisakan onggokan puing dan mayat-mayat yang bergelimpangan dalam gelap dan kesunyian. Menyisakan tangis yang tiada henti dan duka yang kian mendalam.

Seorang kawan saya yang dari aceh, kehilangan hampir seluruh keluarganya, ia hanya bisa terdiam, menangis dan mengadu pada Allah tentang apa yang tengah terjadi. Kawan lain yang juga dari aceh bahkan belum bisa saya hubungi. Namun melihat Meulaboh, tempat kota kelahirannya yang porak poranda, hanya kuasa Allah jua lah yang dapat menyelamatkan anggota keluarganya.

Duka yang kita rasakan, tangis yang kita tumpahkan, bela sungkawa yang kita sampaikan, do’a-do’a dan harapan yang kita panjatkan, duka, derita dan nestapa yang kita saksikan dan segala macam perasaan, membalut seluruh rasa kemanusiaan kita dan rasa persaudaraan kita, kita sudah tidak dapat lagi membayangkan penderitaan saudara-saudara kita di aceh dan sumatra utara sana.

Semua orang berduka, semua orang meratapi, semua orang menangisi mayat-mayat yang berserakan. Semua orang bertanya apa dan mengapa ini terjadi? Telah terjadi ketentuan Allah atas bumi ini; ”Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.Dan manusia bertanya : ”Mengapa bumi (jadi begini) ?”. (Q.S. Al-Zalzalah :1-3) “Dan apabila lautan dijadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (Q.S. Al-Infithaar : 3-5)

Namun saudaraku, tangis kita tidak akan menghapus derita, duka kita tidak akan menghapus nestapa, pilu kita tidak akan mengubah bencana. Apa yang yang telah terjadi tidak mungkin kita hindari, kini kita menghadapi apa yang tengah terjadi dan mungkin akan terjadi jika kita hanya hanyut dalam kepedihan.

Cukup tangis itu, hapus air mata, singsingkan lengan, sisihkan rejeki yang diberikan Allah kepada kita, cepat, pasti tanpa ragu, sebesar mungkin kemampuan kita, bantu saudara-saudara kita yang dilanda bencana. Tidak ada kata cukup, tidak ada kata terlambat, saat ini juga kita turun harta, ulurkan tangan dan panjatkan do’a untuk memupuk kembali harapan bagi saudara-saudara kita yang tengah berduka, simaklah, pemulihan keadaan disana akan sangat lama dan perlu demikian banyak dana. Stop jajan kita, sumbangkan untuk mereka, stop ”dugem” kita, alihkan untuk membantu mereka. Stop segala macam potensi pemborosan kita, salurkan untuk saudara-saudara kita disana. Jangan ada kata sudah, jangan ada kata cukup, jangan berikan sisa, anggarkanlah secara serius, sesuai keadaan ekonomi kita masing-masing.

Allah Maha melihat isi hati kita dan segala amal kita. Allah-lah yang memberi kita status manusia, jika apa yang telah terjadi tidak mengusik rasa kemanusiaan kita, rasanya amat layak Allah mencabut status kita sebagai manusia.

Jangan takut sumbangsih kita tidak sampai di tujuan, jangan khawatir dana yang kita sisihkan akan disalahgunakan. Ketika kita memberikan kontribusi, titipkanlah itu kepada Allah untuk disampaikan kepada para korban bencana. Insya Allah , Dia akan menyampaikannya untuk mereka.

Apa yang kita berikan untuk para korban, adalah tabungan kita untuk masa depan. Berapapun besarnya yang kita sisihkan untuk disumbangkan, itu adalah investasi kita untuk menuai balasan yang amat besar yang Allah janjikan, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah : 261).

Menolong sesama adalah suatu kewajiban syariat yang tidak dapat kita berlepas tangan karenanya; ”…dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa…” (Q.S. Al-Maidah : 2)

Sebesar apapun yang kita berikan, Allah akan membalasnya; ”…dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”. (Q.S. An-Nisaa : 40). ”Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. (Q.S. Al-Zalzalah :7)

Jadikan petaka ini sebagai sarana jihad kita di jalan Allah, dengan mengerahkan segenap daya yang ada pada kita, saling bahu membahu mengatasi segala kesulitan dan penderitaan yang dialami para korban bencana dengan keimanan yang teguh dan niat ikhlas karena mengharap ridho Allah SWT.; Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. At-Taubah : 20).

Saudara-saudaraku, bencana ini adalah tetap sebuah musibah. Tidak perlu kita menambah penderitaan para korban dengan komentar yang menyudutkan para korban, dengan misalnya mengatakan; ”itulah akibatnya kalau orang aceh sering menjual ganja”, atau ”Ini akibat kesombongan manusia”, atau ”semua terjadi karena terlalu banyak orang yang melakukan dosa”. Itu seluruhnya tergantung pada masing-masing diri yang mengalaminya, tidak perlu kita memberi penilaian atas mereka. Bantu saja mereka, para korban bencana yang kini masih hidup dengan segenap kebersamaan kita dan segala daya yang ada pada kita, jangan sampai kita menambah jumlah yang mati akibat lambatnya uluran tangan dan bantuan dari kita saudaranya sebangsa dan seagama.

Untuk saudara-saudaraku yang tertimpa musibah, kami turut meraskan duka yang amat dalam dengan apa yang telah menimpa. Kendatipun tulisan ini tidak sampai kepada mereka, namun Allah akan menyampaikannya. Bersabarlah, pertolongan Allah pasti akan tiba; ”Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Q.S. Al-Baqarah : 155).

Wallahu a’lam.

Jakarta, Desember 2004

Ahmad Sopiani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: