Semangat Hijrah VS F B I

Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah SAW. bersabda : ”Tidak ada Hijrah selepas Fathu Makkah, yang masih ada ialah niat dan jihad. Apabila kamu diminta pergi berjihad, maka lakukanlah”.

(HR. Bukhari – Muslim).

Ketika tulisan ini sampai ke tangan pembaca, tahun baru Hijrah telah berjalan 13 hari. Maka menyambung tulisan yang lalu, saya ingin ikut berpartisipasi di sekitar wacana mengenai tahun baru Islam ini.

Penanggalan Islam dibuat bukanlah karena kebetulan, latah atau ikut-ikutan umat lain yang telah terlebih dahulu memiliki sistem penanggalan, melainkan dengan tujuan yang besar yang ingin dicapai para pencetus ide di masa Khalifah Umar Bin Khattab. Khalifah Umar Bin Khattab-lah yang membidani sistem Kalender Islam dengan momen Hijrah sebagai titik awal tahun baru. Pemilihan momen Hijrah dan bukan tanggal kelahiran Nabi sebagai tahun baru mengguratkan suatu kepastian dan keyakinan serta tekad bahwa Hijrahlah yang merupakan api semangat titik balik untuk merubah kelemahan dan ketertindasan menjadi kekuatan dan kejayaan.

Sebab, meskipun hijrah secara fisik tidak ada lagi, namun hijrah secara prinsip dapat terus hidup dan selayaknya tetap dihidupkan dalam masyarakat muslim dalam bentuk tekad dan semangat serta keikhlasan untuk berjihad dalam upaya menegakkan kalimat Allah SWT..

Mengingat Sabda Rasulullah SAW. di atas, ”Tidak ada lagi Hijrah selepas pembebasan Kota Mekkah, yang masih ada ialah niat dan jihad. Apabila kamu diminta pergi berjihad, maka lakukanlah”. Maka niat dan jihad adalah dua institusi penting yang menopang tegaknya Islam. Niat mewakili tekad dan semangat untuk mencapai suatu tujuan dan cita-cita mulia.

Segala hal baik dan utama dalam Islam mestilah diawali dengan niat yang benar pula. Niat yang baik dan benar akan melahirkan semangat dalam merengkuh segala yang diniatkan. Ia adalah tekad yang kokoh yang menjadi landasan dari segala aktivitas seorang muslim. Setelah tekadnya kokoh, barulah kemudian ia mengerahkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menggapai tujuan mulia tersebut dalam kerangka jihaad fii sabiilillaah.

Niat bukanlah sekedar bisikan hati yang kosong dari upaya dan usaha. Sebab menurut pengertiannya dalam bahasa arab, niat tidaklah dikatakan niat, kehendak ataupun keinginan jika tidak diiringi upaya nyata untuk terwujudnya niat tersebut.

Itu sebabnya Rasulullah SAW. mensejajarkan niat dan jihad dalam satu kesatuan yang utuh yang satu sama lain tidak layak dipisahkan, dalam wacana hijrah sekalipun.

Hijrah kini bermakna jauh lebih  luas dibanding ketika dahulu Rasulullah SAW dan para sahabatnya hijrah ke Yatsrib (Madinah)

Hijrah kini bisa berbentuk apapun dalam upaya penegakan dien Allah bagi tiap-tiap muslim. Ia dapat berbentuk peninggalan terhadap kungkungan kebodohan dengan terus belajar tanpa henti, bisa berwujud upaya dan kerja halal untuk mengeliminir kefakiran dan kemiskinan, ia dapat berupa kesungguhan untuk meninggalkan pola hidup yang tidak Islami dan terutama Hijrah dari akhlaq yang buruk dan jahat menuju akhlaq agung, akhlaqulkarimah, yang dicontohkan Rasulullah SAW. serta Hijrah meninggalkan segala macam bentuk kekafiran dan kemusyrikan menuju tauhid yang murni kepada Allah SWT.

Maka hijrah masa kini kemudian memerlukan dua hal pokok yang disebutkan Rasulullah SAW. : yaitu niat dan tekad yang diikuti semangat yang membara dalam upaya pencapaiannya, dan kedua, jihad dan kesungguhan untuk melaksanakan semua prosedur dan tindakan yang diperlukan.

Jihad di sini, tidaklah melulu mengangkat senjata melawan musuh di medan tempur, seperti yang diuraikan dalam MADANI edisi 188 bahwa jihad adalah ”pengerahan segenap kemampuan seorang mukmin dengan segala kesulitan dan pengorbanan dengan menghadapi berbagai ujian untuk mencapai tujuan dengan semata-mata karena Allah SWT.”.

Jihad dalam rangka hijrah, yang ditopang niat dan semangat untuk mewujudkannya telah merupakan dua hal yang tidak dapat ditawar lagi. Kesungguhan secara maksimal untuk meninggalkan segala bentuk kekafiran dan kebejatan moral menjadi suatu keniscayaan.

Di Amerika Serikat, semangat hijrah dan jihad di jalan Allah akan merupakan suatu tindakan yang melahirkan pertanyaan dan interogasi dari FBI (Federal Bureau Investigation/Biro Penyelidik Federal). Tidak mengapa, karena itu adalah resiko dari sebuah perjuangan menuju yang lebih baik, seperti dahulu Rasulullah SAW. dihadapkan pada penentangan kafir Quraisy dan sekutunya.

Di Indonesia, semangat hijrah untuk bersungguh-sungguh meninggalkan segala macam maksiat dan dekadensi moral juga harus berhadapan dengan FBI (Fans Berat Inul). Bahkan pada kenyataannya kemudian, suara para pembela (maaf) bokong terdengar jauh lebih keras dari pada pendukung kehormatan wanita.

***

Hijrah Menuju Keutamaan Akhlaq

Seperti banyak dikatakan para da’i, bahwa krisis morallah yang meluluhlantakkan bangsa ini, maka dalam lebarnya jarak antara harapan dan kenyataan saya mengingatkan kembali kepada kita, bahwa keutamaan akhlaq lah yang menjadi tujuan utama kerasulan Muhammad SAW., seperti sabda beliau: ”Sesungguhnya aku dibangkitakan untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia”.

Seperti apakah akhlaq yang mulia itu ? Jawabannya ada dalam perilaku Rasulullah SAW.. Bahkan Allah SWT. sendiri yang yang menegaskan bahwa contoh akhlaq dan perilaku hidup yang benar yang kita harus hijrah ke arah itu ada pada Rasulullah SAW..

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”. (QS. Al-Ahzab : 21)

”Dan, sesungguhnya kamu (hai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam : 4)

Keutamaan Rasulullah juga banyak diakui para pencari kebenaran non muslim, yang banyak dikutip oleh Ahmed Deedat, dalam bukunya The Choice atau Muhammad the Greatest, seperti Thomas Carlyle, Lamartine, Jules Masserman atau Michael H. Hart.

Karena itu maka hijrah harus dimulai dari diri-diri pribadi muslim menuju keutamaan akhlaq, yang merupakan kunci bahagia bagi pemecahan berbagai persoalan besar di sekitar kita.

Dan pada akhirnya, hijrah terbesar adalah semangat dalam niat dan kesungguhan dalam tekad dan upaya  untuk menegakkan kalimat Tauhid, seperti perkataan Nabi Ibrahim a.s. yang direkam Al-Quran :

”Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : ”Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS. Mumtahanah : 4)

Nabi Ibrahim a.s. telah menghadapi dan menjalani resiko dalam niat dan jihad. Nabi Muhammad SAW. telah menghadapi dan menjalani resiko dalam niat dan jihad. Bagaimana dengan kita?  Sudahkah semangat hijrah membawa kita pada niat dan jihad untuk keluar dari ketertindasan dan perbudakan nafsu ammarah?

Wallahu a’lam

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: