REPRESENTASI SYUKUR

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur “(Q.S. As-Sajdah : 9)

Bahkan artis yang paling glamour pun dapat dengan mudah mengucapkan Syukur Alhamdulillah. Kendatipun ia  mengucapkan itu dengan fashion yang luar biasa minim dan dengan gaya hidup yang luar biasa western. Bagi yang nge-fans sama itu artis, ia akan tambah kagum karena artis kesayangannya tidak lupa Allah dan terkesan religius. Bagi yang mengerti ma’na Alhamdulillaah dalam kehidupan masyarakat muslim, akan mendapat kesan itu artis mencampurkan yang haq dengan yang bathil. Alhamdulillah itu haq,  sementara pakaian yang luar biasa minim adalah bathil. Cuma susahnya kesan yang terakhir ini kalau diomongin dibilang melanggar Hak Asasi Manusia alias HAM, kendati rasanya banyak juga pembela HAM sama sekali tidak mengerti Kewajiban Asasi Manusia (KAM).

Kata Alhamdulillaah adalah aktualisasi awal dari seseorang untuk menyatakan rasa syukurnya dari apa yang dianugerahkan oleh Allah atas dirinya. Dalam kasus artis tadi dapat kita pahami bahwa ia masih punya sedikit keyakinan bahwa juri terakhir untuk penghargaan yang diterimanya atau untuk segala rezeki yang dikantonginya adalah Allah SWT., terlepas dari kenyataan bahwa ia tidak sepenuhnya mema’nai kata Alhamdulillah dengan  pengertian yang utuh.

Sebagian terbesar kita mungkin baru teringat untuk mengucap Alhamdulillaah manakala datang kepada kita suatu ni’mat yang langsung terasa khasiatnya, sementara ni’mat yang inklusif ada pada kita sebagai muslim dan manusia seringkali terlupakan dan baru teringat kembali  ketika ada yang mengingatkan, dalam pengajian misalnya.

Ketika saya katakan di atas bahwa kata Alhamdulillaah adalah aktualisasi awal rasa syukur maka mestinya ada aktualisasi lain sebagai kelanjutan dari sekedar mengucap Alhamdulillaah tersebut. Kelanjutannya akan kita presentasikan dengan mengenal ma’na Alhamdulillaah secara lebih mendalam.

Kata Alhamdulillaah atau lengkapnya Alhamdulillaahi Rabbil’aalamiin, adalah ayat kedua Surat Al-Faatihah yang biasa diterjemahkan dengan : “Segala puji bagi Allah, Tuhan (rabb) semesta alam“.

***

Hamd artinya “pujian”. Sesuatu yang dipuji sehingga ia atau perbuatannya laik mendapat pujian mestilah memenuhi tiga hal; pertama, ia haruslah indah (baik), kedua, ia mesti berbuat secara sadar dan ketiga tidak terpaksa atau dipaksa. Penambahan al sebelum hamd berarti mencakup keseluruhan, bermakna segala. Al seperti ini disebut al lil-istighraaq.

Jika kita menggali Al-quran, akan kita dapati banyak ayat yang akan membawa kita pada kesimpulan bahwa Allah lah yang dengan sempurna memenuhi ketiga hal di atas;

“Dan itulah Dia Allah, Tuhan Pemeliharamu, pencipta segala sesuatu” (Ghaafir : 62).

“Dialah yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya” (As-Sajdah : 7).

“Mahasuci Allah, Dialah yang Mahaesa lagi Mahamampu (menjadi) Pemaksa Yang mengalahkan” (Az-Zumar : 4)

Karena itu maka segala perbuatan-Nya terpuji dan setiap yang terpuji merupakan perbuatan-Nya juga, sehingga “Segala puji tertuju dan hanya ditujukan pada Allah”. Alhamdu lillaah. Jika kita memuji seseorang karena kebaikannya atau kecantikannya, maka pujian itu pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah karena kebaikan dan kecantikan itu bersumber dari-Nya.

Maka tatkala mulut kita mengucap Alhamdu lillaah, semestinya hati kita turut memahatkan suatu keyakinan bahwa segala kebaikan yang kita terima pada hakikatnya adalah karunia Allah yang patut kita syukuri dengan cara mendayagunakan setiap hal yang kita terima sesuai dengan keinginan pemberinya. Ketika kita telah memiliki keyakinan bahwa segala hal yang ada pada kita adalah karunia Allah, maka semestinya kita mencari tahu apa yang diinginkan Allah untuk kita perbuat sehubungan dengan karunia-Nya itu, lalu berusaha keras untuk sejalan dengan kehendak-Nya. Dan sepantasnya kita malu jika apa yang telah diberikan Allah tidak kita gunakan sesuai tujuan yang digariskan oleh-Nya. Jika ada yang tidak mau mengikuti aturan Allah, silahkan, tetapi tolong jangan melakukan itu di bumi milik-Nya.

***

Kata Rabb memiliki ma’na antara lain ; pemelihara, pendidik, pencipta. Pengertian demikian memposisikan Allah sebagai satu-satunya dzat yang eksistensinya amat berkaitan dengan kelangsungan hidup seluruh alam semesta dan jagat raya. Ketika kata Allah menyiratkan suatu gambaran keseluruhan sifat-sifat Tuhan dalam benak kita, baik yang berkaitan dengan dzatnya maupun dengan makhluk-makhluknya (sifat perbuatan), maka kata rabb hanya menggambarkan Tuhan dengan segala sifat-sifat-Nya yang berkaitan dengan makhluk-Nya.

Mema’nai rabb dengan pemelihara artinya kita meyakini bahwa tanpa pemeliharaan dari Allah SWT, alam semesta ini tidaklah akan seteratur seperti yang kita saksikan. Kehidupan manusia akan penuh dengan kekacauan dan huru-hara yang memporak-porandakan sendi-sendi kemanusiaan, dan tugas pemelihara ini tidak pernah dan tidak akan pernah dapat dilakukan oleh selain-Nya. Diutusnya para rasul ke tengah kehidupan manusia ini juga adalah pemeliharaan dari Allah agar manusia tidak terlalu jauh menyimpang dari koridor yang digariskan oleh-Nya, dan agar manusia tetap eksis dengan nilai kemanusiaan yang seharusnya ada dalam dirinya.

Allah mendidik manusia secara khusus dan makhluknya secara umum agar kita senantiasa dapat dapat mengaktualisasikan diri di alam ini dengan nilai-nilai kehidupan yang selaras dan seimbang serta timbulnya kesadaran kehambaan secara penuh yang akan membawa manusia kepada nilai tertinggi kemanusiaannya, yaitu kesadaran setiap individu sebagai hamba di hadapan rabb-Nya.

Allah adalah rabb sang pencipta, dan ini berarti tidak ada manusia yang dapat mengklaim dengan bangga bahwa ia telah menciptakan sesuatu tanpa merusak tauhidnya. Setiap manusia hendaknya sadar bahwa pencipta itu hanya Allah. Apapun yang ia buat, betapapun bagusnya itu, hanya merupakan modifikasi dari apa yang telah Allah ciptakan. Dan modifikasi yang ia lakukan itupun menggunakan sarana yang bersumber dari Allah SWT. Ketika kita menggunakan anggota tubuh kita untuk membuat sesuatu, maka kita harus ingat bahwa anggota tubuh adalah karunia Allah. Tatkala kita mengerahkan daya akal kita untuk merekayasa sesuatu, maka akal yang kita gunakan itu adalah juga ciptaan Allah.

Kesadaran yang tinggi tentang ma’na rabb ini akan membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa Allah adalah satu-satunya dzat yang layak kita sembah tanpa perlu Allah repot-repot memerintahkan kita untuk menyembah-Nya. Dari sinilah akan lahir kesadaran akan adanya Tauhid Rububiyyah. Tauhid yang didasarkan pada kesadaran bahwa Allah adalah pencipta, pendidik dan pemelihara kita.

Dengan keyakinan dan kesadaran seperti itu akan timbul pula suatu kesadaran bahwa kita mesti mensyukuri demikian banyak karunia yang telah dilimpahkan Allah atas kita. Bersyukur artinya menggunakan segala sesuatu yang dianugerahkan Allah sesuai dengan tujuan penciptaan anugerah itu”. Jika demikian maka tiap-tiap diri mesti tahu dan mencari tahu untuk apa Allah menciptakan dan menganugerahkan sesuatu; untuk apa Allah menciptakan jin dan manusia; untuk apa Allah menganugerahkan mata, telinga, mulut, tubuh, akal dan hati; pencarian kesadaran seperti ini bisa dilakukan dengan menelaah dan merenungi petunjuk dari Allah yang disampaikan lewat rasulnya, dapat pula dicapai dengan perenungan yang mendalam mengenai alam ini. Alam yang makro dalam bentuk jagat raya, atau alam yang mikro dalam bentuk diri manusia.

Hasil tertinggi dari perenungan yang dilakukan akan sampai pada Tauhid Rububiyyah dan representasi pertama yang akan diaktualisasikan adalah ucapan Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Wallahu a’lam.

Jakarta, Desember 2005

Ahmad Sopiani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: