Mencintai Kematian

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.

(QS. Ali Imran : 169)

Salah satu fenomena yang meresahkan Zionis Israel pada khususnya dan musuh-musuh Islam pada umumnya, yang kini telah menjadi semacam tren jihad dengan senjata adalah keberanian para pemuda Islam di Timur Tengah khususnya untuk menjemput syahid, mati di medan laga, namun dengan membawa pula lebih banyak musuh untuk ikut mati dengan meledakkan diri di tengah musuh. Media Massa sekuler biasa menyebutnya dengan “Bom Bunuh Diri”.

Fenomena “Bom Bunuh Diri” amatlah menarik. Menarik karena metode perjuangan seperti ini beresiko tertinggi, yaitu kematian dan terhitung baru, mungkin diilhami oleh para penerbang jepang di masa Perang Dunia Kedua, dengan keberanian penuh mereka ber-kamikaze menab-rakkan pesawat tempur mereka ke obyek-obyek vital musuh. Juga amat menarik karena di saat ketika demikian banyak orang amat ketakutan bila memperbincangkan atau menghadapi maut, para syuhada ”Bom Bunuh Diri” justeru menjemput maut dengan amat sukacita dan penuh kebesaran jiwa.

Namun, sesungguhnya istilah “Bom Bunuh Diri” tidaklah terlalu tepat, karena istilah ini muncul bukan dari para pelakunya. Para Pelaku “Bom Bunuh Diri” dan para pendukung jihad pada umumnya yakin bahwa yang demikian itu adalah salah satu cara perjuangan untuk menghancurkan Zionis Israel dan para kolaborator dan sponsornya, karena itu sebutannya yang lebih tepat di kalangan mereka adalah “Bom Syahid”. Artinya dengan cara itu mereka yakin bahwa mereka mati dalam upaya Jihaad Fii Sabiilillaah, memerangi musuh Allah yang menindas dan memerangi kaum muslimin. Maka jika ajal menjemput, mereka Mati Syahid. Juga karena istilah Bom Bunuh Diri mengesankan bahwa mereka membunuh diri sendiri dan muslim manapun semestinya mafhum bahwa bunuh diri adalah perbuatan haram yang dilarang dengan tegas dalam  Al-Quran;

“Dan janganlah kamu bunuh dirimu, sesungguhnya Allah amat sayang kepadamu”.( QS An-Nisaa : 29)

Tentang Kematian

Kematian adalah sunnatullah yang merefleksikan kenyataan bahwa sebagai makhluk, kita tidak bisa sama dengan Pencipta. Adanya kematian disatu sisi mencerminkan adanya kehidupan di sisi lain. Ketika kita menyadari bahwa setiap makhluk pada akhirnya akan mati, haruslah disadari pula bahwa ada dzat yang maha hidup yang tidak akan pernah mati yang terus memberi kehidupan, yaitu Allah swt. Karena adanya kematian sudah merupakan ketetapan dari Allah swt. Dan kita tidak dapat menolaknya. “Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati…”(QS. Ali Imran : 185),  maka kini tinggallah bagaimana cara kita untuk menghadapinya.

Tiap orang mesti sadar, bahwa ia akan mati. Itu sudah satu kepastian. Kapan, dimana, dan bagaimana hanyalah persoalan waktu, tempat dan cara. Masalahnya  adalah bahwa setiap kita tidak ada yang tahu kapan kita akan menghadapi kematian. Dimana maut akan menjemput kita, dan bagaimana kita mati. Itu sebabnya, karena kita tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana kita mati, maka kita harus senantiasa siap untuk itu, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun. Ini kesadaran pertama.

Sesungguhnya, kesadaran ini saja cukup untuk membuat seorang muslim senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah swt. Bila ia sadar bahwa ia akan mati namun tidak tahu kapan dan dimana maut menjemput, maka tentu ia akan berusaha tetap dalam kondisi taqwa, sehingga tatkala ajal datang ia akan termasuk orang yang cerita hidupnya di dunia tamat dengan happy ending (khusnul khatimah );

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (QS. Ali Imran : 102).

Muslim artinya berserah diri kepada Allah, maka jika seseorang mati ketika ia bergantung atau berserah diri kepada selain Allah, dapatkah ia disebut muslim?

Kesadaran kedua adalah menyangkut keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Sebagai seorang mu’min, kita tidak akan beriman secara benar dan lengkap jika tidak memiliki keyakinan bahwa hari akhir, hari kiamat akan tiba dan tiap-tiap diri akan menerima akibat dari semua amal perbuatannya di dunia pada hari pembalasan. Orang mukmin yang shaleh akan mendapat keni’matan surga, orang mukmin yang kurang shaleh akan terlebih dahulu lama mendapat siksa neraka, dan orang-orang yang terjerumus dalam kekafiran akan kekal di dalam pedihnya adzab dan siksa neraka.

“…Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(QS. Ali Imran : 185)

Keyakinan tentang adanya akhirat ini mestinya menambah semangat seorang muslim untuk terus-menerus meningkatkan kadar keimanan dan etos kerja/amal shalehnya. Jika seorang mukmin tidak memiliki keyakinan adanya akhirat dan hari pembalasan, rasanya amat sulit untuk meminta ia meningkatkan taqwanya. Kesadaran seseorang akan tibanya hari pembalasan akan memacunya untuk selalu berusaha sekuat daya menegakkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan.

Indahnya Mati Syahid

Kesadaran tertinggi menyangkut kematian adalah keyakinan bahwa cara mati yang paling indah dan prospeknya bagus di akhirat adalah mati syahid, meskipun tubuh mungkin hancur berderai dan tak dapat dikenal lagi sebagai konsekuensinya.

Kesadaran macam inilah yang memicu semangat para martir Bom Syahid untuk tanpa ragu menjalani perjuangan membela Islam melawan Zionis Israel dan para sponsornya dengan resiko kematian yang pasti, namun juga dengan imbalan yang pasti pula yaitu surga jannatun na’im dan ia akan kekal di sisi Allah SWT.;

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki”. (QS. Ali Imran : 169).

Bagi kita di Indonesia, tidak perlu khawatir tidak dapat kesempatan mati syahid, mengingat bahwa orang yang mati syahid adalah orang yang berjihad fii sabiilillaah. Dan seperti sering kita bahas, bahwa jihad itu tidak melulu dengan menjadi satria di medan perang, cukup dengan sungguh-sungguh mengerahkan segenap potensi yang dimiliki untuk mencapai suatu tujuan dalam rangka menegakkan dien al-Islam.

Jika tiga kesadaran tentang kematian ini dapat menyatu dalam diri kita ; kesadaran bahwa tiap yang berjiwa pasti mati, kesadaran adanya kehidupan setelah kematian untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di dunia, dan kesadaran serta keyakinan bahwa mati syahid adalah cara kematian yang paling tinggi nilainya. Maka tentu kita tidak akan lagi takut mati, yang kata Rasulullah SAW. merupakan salah satu faktor kemunduran umat Islam, disamping hubbuddunya/cinta dunia. Sebaliknya kita akan menjemput kematian dengan bekal taqwa yang selalu siap dan pada akhirnya kita akan mencintai kematian sebagai suatu jalan untuk mendapat ridha Allah SWT.

Wallahu’a’lam.

Jakarta, Desember 2005

Ahmad Sopiani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: