Barang Usang Bernama Pahlawan

Tiap kebudayaan mengenal sosok pahlawannya masing-masing, kapanpun dan di manapun, menembus sekat-sekat ruang dan waktu, dalam skala lokal pun dalam scoup yang lebih besar. Masing-masing dengan standar dan kriterianya sesuai dengan kondisi subyektip(f) lembah budaya tersebut. Saya sebut kondisi subyektip(f), dan bukan kondisi obyektip(f) karena memang demikianlah adanya. Saya kemukakan satu contoh aktual dari koran yang saya baca hari ini yang saya pinjam dari kawan, bahwa bagi masyarakat dan GP Anshor, Bung Tomo dari Kota Buaya adalah sosok yang layak disebut pahlawan. Belakangan saya tahu, bagi pemerintah negara Endonesa Bung Tomo tidak standar untuk jadi pahlawan, terlalu usil, terlalu banyak cingcong sok nasihatin para pembesar, gak qualified/herofied/heroworship. Jadi memang standarnya berbeda.

Sewaktu masih awal-awal sekolah di SDN, saya tahu dua sosok pahlawan, Pertama dari Smallville, yang sehari-harinya dalm keadaan biasa namanya Clark, kalo sudah berseragam dengan CD di luar namanya Sufferman. Yang kedua Superpet, kalo dalam keadaan biasa namanya Petruk dari Karang Tumaritis. Keduanya saya anggap pahlawan karena berani, gagah, kuat, membela yang benar, menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, menolong orang yang membutuhkan pertolongan, tanpa pamrih apapun. Belakangan saya tahu, disamping sikap kepahlawanan yang ada itu, ternyata mereka berdua, terutama yang pertama, dieksploitir oleh produser untuk kepentingan kapitalistik, yang tidak peduli sama sekali soal hero-hero-an, yang penting menghasilkan banyak laba. Jadi memang standarnya berbeda.

Setelah agak-agak kelas lima atau enem esde lah gitu, wacana tentang pahlawan saya bertambah setelah mendapat pelajaran sejarah kemerdekaan. Mulailah saya tahu tentang Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol, Pattimura, Sisingamangaraja XI, Muhammad Toha, Dewi Sartika, Pangeran Diponegoro, Bung Karno, Bung Hatta, Muh. Roem, K.H. Agus Salim dan banyak lagi lainnya, yang konon katanya, mereka disebut pahlawan karena berani menentang kumpeni belanda, gagah dan kuat berperang membela kebenaran dan menegakkan keadilan demi meraih kemerdekaan, melindungi rakyat lemah dari penindasan kumpeni, menolong rakyat dari himpitan kesewenang-wenangan penjajah. Belakangan saya tahu, bahwa dari sisi kumpeni belanda, mereka itu bukan pahlawan, tetapi ekstrimi-ekstrimis pengacau dan pemberontak yang harus ditumpas habis. Jadi memang standarnya bebeda.

Setelah lebih besar, saya lihat sosok pahlawan itu pada guru-guru yang dengan kesal karena saya nakal sekali mendidik saya hari demi hari dan tahun demi tahun sampai saya bisa diterima di unipersitas negeri. Guru-guru saya itu berani, gagah dan kuat terus mengajar dan mendidik kami meski honor sebulannya hanya cukup untuk seminggu, mendidik kami untuk selalu membela yang benar, menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, menolong orang yang membutuhkan pertolongan, tanpa boleh dengan pamrih apapun. Para guru-saya itu saya anggap pahlawan dalam kehidupan saya. Belakangan saya tahu, bahwa bagi pusat pemerintahan, mereka itu tidak lebih dari pion-pion kecil di papan catur yang boleh dikorbankan bagi keleluasaan menteri untuk bergerak dan kemenangan ratu di akhir permainan. Jadi standarnya memang berbeda.

Lalu saya coba terapkan universalitas pahlawan dalam skala lokal, maka saya beroleh kesimpulan, bahwa ayah dan ibu sayapun adalah pahlawan-pahlawan yang tidak kurang berani, gagah, dan kuatnya. Berani, gagah dan kuat dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya yang banyak itu. Juga selalu membela dan menolong kami anak-anaknya dari segala macam kesulitan dan penderitaan. Akan sangat terasa pada saat musim paceklik panjang melanda desa kami, bagaimana ayah dan ibu lintang pukang berusaha agar kami tetap cukup makan di tengah gagal panen akibat kemarau panjang. Belakangan setelah jadi orang tua dari anak saya sendiri, saya pikir apa yang dilakukan oleh ayah dan ibu saya dahulu tidak lebih dari pemenuhan tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua. Jadi memang standarnya berbeda.

Lalu, terakhir sekali dalam pencarian pahlawan, saya menemukannya secara komplit dalam pribadi Muhammad. Bukan hanya karena ia adalah Nabi dan Rasul Allah, tetapi juga karena ia memenuhi standar apapun tentang pahlawan yang pernah saya tahu. Seluruh sisi hidupnya penuh dengan sifat dan sikap pahlawan, entah itu yang real ataupun yang fiksi, kecuali tidak disebutkan bahwa ia bisa terbang bak gatut koco. Ia datang mengangkat manusia dari kehancuran akibat paganisme dan dekadensi moral. Ia datang menyelamatkan manusia dari kesombongan dan keserakahan, Ia datang membebaskan manusia dari penindasan orang-orang yang kuat. Ia berani, kuat dan gagah menghadapi musuh-musuh yang memeranginya karena ia mengajak pada kebenaran. Ia menciptakan sistem masyarakat yang berbudaya tinggi, senang pada kemajuan, menghargai hak-hak manusia, menekankan manusia untuk melaksanakan kewajiban, jujur dan adil dalam segala urusan. Ia membawa manusia pada tingkat spiritualitas yang tinggi sambil tetap menekankan pentingnya kehidupan materi. Banyak musuhnya, lebih banyak lagi sahabatnya. Banyak yang menghina dan menghujatnya, lebih banyak lagi yang memuji dan mencintainya. Mampu merubah orientasi hidup sosial yang serba bobrok dalam masyarakat ke arah kehidupan masyarakat madani yang penuh dinamika  keharmonisan dan keseimbangan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Semakin banyak yang menyerangnya, semakin besar namanya dan semakin banyak orang yang mati-matian membelanya. Ia memberikan suatu sistem hidup bagi umat, tidak hanya untuk kehidupan dunia yang sesaat, tetapi juga sistem hidup yang akan membawa pengikutnya pada kehidupan abadi yang bahagia.

Kita dapat melihat, peri hidup Muhammad yang membebaskan dalam kerangka kebenaran dan keadilan itulah yang menjadi motivasi utama bagi banyak pahlawan-pahlawan nasional yang kita ketahui. Karena itu, apapun standarnya untuk disebut pahlawan, tentu akan kita temukan pada diri Muhammad Rasulullah. Walau tentu saja, bagi banyak orang yang memusuhinya, dulu hingga kini, Muhammad dilabeli teroris dan ancaman serius bagi kemanusiaan, karena setan-setan punya standar sendiri tentang pahlawan.

Selamat jalan para pahlawan Indonesiaku yang telah tiada. Jasadmu boleh hancur dan terkubur, namamu boleh usang karena terpaan jaman, tetapi jasamu akan tetap eksis dalam angan dan hidup kami yang kini terhimpit penindasan liberalisme, materialisme, kapitalisme dan penipuan berkedok demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Kini kami menantikan hadirnya pahlawan-pahlawan baru yang akan membebaskan kami dari penjajahan dan penindasan gaya baru yang telah membuat hancur seluruh sendi kemanusiaan kami.

Cibitung, Bekasi

10 November 2007

Ahmad Sopiani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: