Merubah Paradigma Memiliki

Merubah Paradigma Memiliki

(To Change Paradigm of Belonging)

By : Ahmad Sopiani

”Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (Q.S. Al-Lail : 17~21)

Apa sesungguhnya yang kita miliki di dunia ini? Yang ada pada kita, yang selalu bersama dan menyertai kita kapanpun dan dimanapun kita berada? Apa sesungguhnya yang patut kita banggakan dalam menyelami eksistensi keberadaan di buana panca tengah ini? Wajah tampan inikah? Body aduhhai itukah? Properti menjulang inikah? Uang dan harta yang tak terhinggakah? Atau apa?

Bahkan yang paling dekat dari kita yang kita saksikan dan gunakan setiap hari, yaitu tubuh kita sendiri, tidak layak untuk kita akui sebagai milik kita. Lebih jauh lagi, bahkan tubuh kita, harta benda kita, anak-istri kita, merujuk kepada uraian Harun Yahya tentang hakikat di balik materi, tidak lebih dari sekedar sinyal-sinyal listrik yang disampaikan oleh jaringan syaraf ke otak kita.

Sesuatu yang benar-benar melekat pada kita, yang dapat kita katakan sebagai pemberian atau titipan Allah kepada kita, yang membuat kita hidup dan menikmati kehidupan, tiada lain adalah jiwa-jiwa kita, ruh-ruh kita. Hakikat materi yang sesungguhnya adalah ruh ini, yang akan menentukan merah birunya kehidupan kita. Manakala ruh kita baik, sehat dan kuat, maka akan baik seluruh kehidupan. Pun sebaliknya, seketika akan hancur kualitas kehidupan, ketika ruh itu tidak terjaga dan menjadi kotor, layu dan lemah.

Orang-orang yang punya keinginan kuat untuk menjadikan ruh sebagai pusat rotasi kehidupan, selalu berusaha untuk menjaga ruhnya tetap suci, bersih, sehat dan kuat. Sehingga ia selalu menjadikan apapun yang ada untuk penyucian dan penguatan ruh ini, termasuk harta ”milik”nya. Dan itulah mengapa, ketika kita bicara tentang zakat, yang salah satu maknanya berarti suci/mensucikan, sesungguhnya kita tengah bicara kesucian dalam paradigma ruhani. Orang yang memberikan hartanya di jalan Allah, wabilkhusus menunaikan zakat, sesungguhnya tengah mensucikan jiwa dan ruhnya dari kotoran-kotoran yang menodai kesuciannya. Kotoran jiwa itu bisa saja dalam bentuk sifat bakhil, tamak dan serakah, sikap tidak peduli pada sesama, pembangkangan pada perintah Allah dan lain sebagainya.

Maka sungguh beruntung orang yang menunaikan zakat, karena zakat itu adalah salah satu yang nanti di akhirat akan dapat diklaim olehnya sebagai miliknya. Yaitu kesucian jiwa dan ketaatan pada Allah Tuhannya, sebagai bekal untuk menjalani kehidupan akhirat yang lebih baik dan  kekal.

” Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Q.S. Al-A’laa : 14~17).

Bekasi, 11 Mei 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: