Dua Sisi Anggapan

DUA SISI ANGGAPAN

 

Oleh : Ahmad Sopiani, S.Ag.

=> ditulis 12 Desember 2005

 

 Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (Q.S. Al-Hujuraat{49} : 12).

 

 

Pada akhirnya sesuatu itu ditentukan oleh hal-hal yang inklusif terdapat pada sesuatu tersebut. Maksud saya adalah bahwa sesuatu hal dikatakan ini atau itu tergantung pada hakikat dan esensi yang ada padanya, bukan pada apa yang dikatakan orang tentangnya., jikapun seorang ahli astronomi yang genius memaparkan suatu teori tentang bintang misalnya, maka segala yang dikatakannya pastilah merupakan penjabaran dari esensi bintang yang menjadi objek teori yang dapat ia ketahui dengan pengamatan dan pengetahuannya, bukan apa yang ingin ia katakan tentang bintang tersebut.

Masalahnya adalah, suatu esensi yang terkandung pada benda atau manusia seringkali terhijab dan tidak muncul ke permukaan, sehingga tidak dapat dikenali dengan baik. Sebaliknya, yang dikenali dan kemudian menjadi aksioma adalah apa yang oleh pihak luar katakan dan anggapkan. Virus misalnya, yang dianggapkan oleh manusia secara umum adalah makhluk invisible yang tidak kasat mata saking kecilnya yang merupakan kata yang identik dengan penyakit dan sumber penderitaan. Namun bagi sekelompok manusia yang lain virus mungkin sama dengan tantangan karir dan bisnis yang amat menggiurkan. Betapa tidak, virus telah melahirkan berbagai proyek penelitian yang memancing kucuran dana tak terbatas dari sponsor bagi penelitinya dan menghasilkan berbagai jenis obat yang dijual dengan harga yang luar biasa mahalnya. Rasanya tidak ada sumber yang mengemukakan bagaimana para virus memandang diri mereka dan berkata : “kami ini hamba Allah juga yang keberadaan dan fungsi kami ya memang seperti ini. Coba hitung, berapa banyak manusia yang meraih sukses karena keberadaan kami. Kalau yang sakit karena kami kan tidak semata-mata salah kami, tetapi faktor manusianya juga, iya nggak?”

Dalam perjalanan hidup meniti hari-hari sering kali kita dihadapkan pada hal-hal yang memancing kita untuk menetapkan suatu anggapan atas sesuatu, entah itu dengan pengetahuan yang cukup tentang sesuatu tersebut atau mungkin hanya sebuah anggapan yang tak berdasar sekalipun.

Ambillah misalnya ketika kita melihat seorang anak kecil, kusam, kusut, kotor, tengah memainkan tambourine di atas bis kota, maka segera saja kita akan menetapkan suatu anggapan atas anak itu, sesuai dengan apa yang terbersit saat itu di benak kita. Di antara kita barangkali akan beranggapan bahwa anak itu adalah anak seorang miskin yang putus sekolah dan bersusah payah mencari setetes uang untuk menyambung kehidupannya. Adapula mungkin yang menganggap anak itu dieksploitasi orang dewasa di sekitarnya untuk mencari uang dengan mengandalkan belas kasih dari orang ramai yang skala belas kasihnya selalu turun naik. Atau bisa saja ada di antara kita yang beranggapan bahwa anak itu cukup tangguh menghadapi kerasnya kehidupan dan memilih hidup mandiri meskipun dengan jalan mengangsurkan bungkus permen atau amplop lusuh bertulisan tangan. Atau mungkin saja di antara kita ada yang beranggapan bahwa negara ini sudah sedemikian bangkrut sehingga anak jalanan kian hari kian bertambah saja dan beragam anggapan lain yang mungkin berbeda pada tiap orang, namun seluruhnya masih dapat dikategorikan sebagai satu sisi anggapan, yaitu sisi luar si anak kecil, kusam, kusut, kotor, yang tengah memainkan tambourine di atas bis kota tadi.

Adakah di antara kita yang mencoba memperkirakan, bagaimana anak pengamen tadi menetapkan suatu anggapan terhadap dirinya sendiri. Menetapkan suatu kepastian keadaan menyangkut dirinya sendiri dan apa yang ia lakukan ?

Anggapan yang pasti sesuai esensinya hanya ada pada tiap-tiap anak seperti itu dan takdir yang menuntunnya, bukan pada para pemerhati sosial yang so’ sosial, padahal sesungguhnya hanya menumpang tenar dengan mengemukakan dan mempublikasikan sebuah anggapan.

Ketika saya menulis tentang pemilihan umum beberapa masa yang lalu, saya dianggap seorang pembaca MADANI musyrik karena katanya esensi demokrasi adalah syirik besar, yang bukan berasal dari Allah dan tidak ada dalam Sunnah ataupun jejak Sahabat. Karena demokrasi berasal dari orang-orang musyrik, ateis-materialis, dan kafir yang ingin menggantikan sistem Islam buatan Allah dengan sistem yang dibuat manusia, atau sesuatu semacam itu. (Saya tersenyum sendiri memikirkan bahwa M. Amien Rais dan Hidayat Nur Wahid dianggap musyrik dengan alasan ini, atau berapa banyak sahabat Nabi angkatan Muawiyah bin Abu Sufyan yang mengganti sistem khilafah dengan sistem kerajaan). Namun itu tidak menjadi beban pikiran bagi saya karena saya punya anggapan bahwa hal itu adalah satu sisi anggapan yang sah-sah saja untuk dikemukan.

Waktu saya menulis sedikit tentang peringatan Isra’ Mi’raj, seorang pembaca MADANI juga mengirimkan e-mail tentang betapa peringatan semacam itu adalah bid’ah produk orang-orang kafir dan ahli kitab, yang jika kita menirunya, maka kita statusnya sama dengan mereka, kira-kira yaa.. kafir itu. Kalau tidak salah pembaca MADANI itu mengemukakan bahwa peringatan semacam itu tidak mempunyai landasan syariah yang mendukungnya, jadi kira-kira katanya bahwa seperti sabda Nabi SAW. : “Siapa yang meniru (perilaku) suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu”.

Jadi saya dianggap kafir karena memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebab peringatan semacam itu adalah produk orang kafir. Oke lah tidak apa-apa. Hal itu saya anggap sebagai satu sisi anggapan, tanpa perlu saya memberi anggapan balik terhadap orang yang demikian mudah menyebut orang lain kafir atau musyrik. (Kepada pembaca MADANI yang saya maksud, saya mohon maaf jika saya salah mengerti dan memahami atau salah mengutip maksud Anda).

Sejatinya saya hanya ingin mengingatkan kita bahwa segala apapun yang terjadi, apapun yang tampak di depan atau dibelakang kita, paling tidak memiliki dua sisi sudut pandang. Tiap sesuatu paling tidak memiliki dua paradigma yang boleh jadi berbeda dan saling bertentangan. Jika separuh bola hitam dan separuh bola putih kita gabungkan menjadi satu bola lalu diletakkan di atas meja, kemudian kita membawa dua orang dari arah yang berbeda dan masing-masing duduk menghadap bola tadi, satu orang di sisi hitam dan satu orang di sisi putih lalu kita tanya apa warna bola yang dilihatnya, maka yang duduk di sisi bola hitam akan berkata itu adalah bola hitam karena ia tidak dapat melihat sisi yang putih, demikian sebaliknya, orang yang duduk di sisi bola putih akan berkata itu bukan bola hitam melainkan bola putih. Keduanya akan bertahan pada pendiriannya sampai keduanya bertukar tempat duduk dan menyadari bahwa itu adalah bola hitam putih.

Dalam kehidupan ini kita banyak menjumpai hal-hal yang sepintas jelas sekali benar atau salah. Namun setelah kita pandang dari sudut yang berbeda, kita kemudian berubah pendapat, atau paling tidak sedikit bertoleransi pada perbedaan pendapat mengenai sesuatu. Bahkan tentang ayat Al-Qur’an pun sejak dulu para ulama sering berbeda pendapat mengenai pengertian dan makna serta tafsir suatu ayat. Namun diantara mereka, sepengetahuan saya, jarang sekali ada yang mengklaim pendapat mereka lah yang paling benar.

Yang mungkin terbaik bagi kita, dalam anggapan saya, jika ingin tetap menjadi manusia sejati yang sepenuhnya menyadari bahwa eksistensi kita adalah hamba Allah, tentu dengan memaknai apa yang dikatakan Allah tentang anggapan atau sangkaan ; “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang

(Q.S. Al-Hujuraat{49} : 12)

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: