Ibarat Cinta

Ibarat Cinta
By: Ahmad Sopiani

“Cinta ibarat pasir, semakin kau genggam semakin sedikit yang kau dapat”. Kata-kata mutiara ini saya dapat dari seseorang bernama “Mutiara”, yang entah dari mana dia mendapatkannya. Sederhana tetapi dengan telak menghantam sisi kemanusiaan saya yang paling dalam. Entah bagaimana, ketika kali pertama membacanya saya langsung tertegun, terhenyak, seolah ada kebenaran baru yang merambahi sel-sel kelabu di balik tulang tengkorak saya. Khayal dan pikir saya langsung jauh mengembara ke berbagai situasi dan eksistensi ketika cinta mewujud dalam pentas kehidupan mayapada.

Saya membayangkan meraup tumpukan pasir dengan tangan, maka terlintas dalam pikiran semakin terbuka tangan saya, semakin banyak yang saya raup. Pun sebaliknya, ketika tangan dikepalkan, pasir dalam genggaman itu tercecer berhambur berjatuhan. Hanya menyisakan sedikit pasir saja di sisa genggaman. Ketika bayangan meraup pasir itu saya konversikan ke dalam drama pentas kemanusiaan, yang terbayang adalah kegagalan demi kegagalan para pencari cinta yang melulu ingin mendapatkan dan ingin memiliki. Ingin meraih, mengambil sebanyak-banyaknya untuk kepuasan diri dan egonya. Tak puas mendapat setitik, ingin sebelanga. Menuntut dan meminta tanpa kenal kata tak bisa. Harus kudu mendapatkan apa yang didamba. Menyisihkan dan memberangus kepentingan orang lain demi meraih apa yang dicinta oleh egonya. Ingin selalu menerima dan mendapatkan demi kepuasan dirinya. Hasil akhirnya, yang dia dapat melulu kekecewaan dan penderitaan. Kalau kata Kho Ping Ho, yang demikian itu sesungguhnya bukan cinta. Itu adalah nafsu dan ego rendah manusia.

Cinta sejati meniscayakan kebahagiaan dengan membuka tangan. Memberi, memberi dan memberi. Semakin cinta ia, semakin banyak yang diberikannya. Semakin cinta ia, semakin sedikit ruang bagi egonya. Semakin cinta ia, semakin menggebu ia bertanya apa lain hal yang bisa dilakukan untuk dambaannya. Cinta sejati meniscayakan apa yang dia berikan dan lakukan berbanding lurus dengan kebahagiaannya. Semakin besar dan banyak ia memberi, kian besar pula bahagia dalam hatinya. Para pecinta sejati tak pernah terpikir untuk memiliki. Jikapun memiliki, itu hanyalah landasan baru baginya untuk memberi lebih banyak lagi.

Bayangkanlah cinta seorang ayah pada anak dan ibu dari anaknya, selalu merupakan cinta dan pengorbanan untuk memberikan segala yang terbaik tiada kenal lelah sepanjang kisah. Lihatlah cinta sorang ibu pada anaknya yang demikian besar nuansa memberi tanpa pretensi untuk mendapat balasan kecuali rasa bahagia dapat menjalankan perannya sebagai ibu dengan baik dan benar disela keharusannya membaktikan cinta pada suaminya. Memberi dan memberi dengan tangan terbuka, memelihara cinta dalam keluarga. Ketika kata memberi itu kemudian dibubuhi kata saling, lengkaplah sudah kebahagiaan.

Bayangkanlah cinta seorang hamba pada rabb-nya, semestinya adalah dedikasi dari seluruh potensi kemanusiaan dalam upaya penghambaan yang tiada kenal akhir. Cinta tanpa syaratnya akan selalu merupakan ketaatan dan kepatuhan terhadap segala hal yang disuratkan dalam firman-Nya dan disiratkan di semesta-Nya. Membayangkan cinta ternyata membayangkan seluruh hidup dan kehidupan, meski seluruh kehidupan ini tak lebih dari sinyal-sinyal listrik di dalam otak manusia.

Sesungguhnya dahulu saya tidak terlalu suka menulis tentang cinta yang bagi saya rasanya terlalu cengeng untuk dituliskan atau dibaca. Paling banter saya jadi “penasihat” untuk orang yang sudah “ngejoprak” tak berdaya digerus erosi cinta. Bagi saya cinta terlalu biru. Terlalu melankolis. Terlalu banyak air mata. Terlalu banyak metafora. Terlalu emak-emak pecandu sinetron.

Akhirnya saya harus jujur, ibarat cinta dari Mutiara memberi ketegasan bahwa cinta terlalu penting untuk tidak dihiraukan karena persebarannya telah demikian universal dan menembus ruang dan waktu. Saya bahkan ingat pula, bahwa cinta yang sama lah yang telah melambungkan Rabiah al-Adawiyyah kepada maqam tertinggi yang bisa dicapainya.

Semoga cinta ini pulalah yang bisa mengangkat panji Islam menjulang tinggi di angkasa.

Bangkit Melawan atau Diam dan Tertindas Selamanya !!
Tetap Semangat !!
Bekasi, 18 Desember 2008.
Ahmad Sopiani
http://www.sopian73.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: