Hutan, Mengais Tangis di Sela Isak

“Lomba Tulis YPHL” (oleh: Ahmad Sopiani*)
Hutan, Mengais Tangis Di Sela Isak
Sebuah harapan masa depan

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Purwadarminta yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, pengertian Hutan antara lain: “Tanah yang luas yang ditumbuhi pepohonan (biasanya tidak sengaja ditanam namun ada pula yang sengaja ditanam)” juga berarti “Liar/tidak dipelihara”. Pengertian ini tentu saja tidak menggambarkan sepenuhnya sebuah hutan, karena ekosistem hutan tidak melulu terdiri dari pohon-pohon, melainkan juga mencakup beribu jenis perdu, pakis, jamur, parasit, beraneka bunga dan anggrek, mollusca, serangga, mammalia, burung dan beragam hewan lainnya.
Peter Farb, dalam Pustaka Alam Life HUTAN; edisi kedua, yang diterbitkan Tira Pustaka Jakarta tahun 1982, halaman 10 menjelaskan “pepohonan hanyalah yang paling menonjol saja di antara anggota masyarakat hutan. Di samping pohon mungkin terdapat lebih dari 1.000 jenis perdu, tumbuhan merambat, paku, dan cendawan dalam tanah hutan yang kecil sekalipun. Tetumbuhan tadi hidup berdampingan dengan pohon, menggunakan pohon sebagai penopang, tumbuh dalam bayangannya dan tergantung pada kelembaban tinggi yang tetap akibat naungan atap dedaunannya. Tambahan pula dalam hutan terdapat banyak sekali serangga, mamalia, burung, reptilia dan binatang amfibi”.
Dengan demikian, bicara mengenai hutan pada hakikatnya adalah berbicara mengenai seluruh komunitas dan ekosistem yang ada dihutan tersebut dengan segala macam keterkaitan yang ada di dalamnya.
Lebih lanjut Peter Farb mengatakan bahwa “banyaknya segala jenis anggota masyarakat hutan ini sangat seimbang dan semuanya saling terikat oleh tali hubungan yang tak kasat mata, misalnya hubungan pangan, lingkungan hidup dan kerjasama. Masyarakat tersebut adalah hutan sebagaimana pepohonan itu sendiri. Begitu kait-mengaitnya hamparan kehidupan hutan itu sehingga jika ada satu saja tali hubungan penting yang terputus, apapun sebabnya, seluruh pola mungkin menjadi berantakan dan hutan sendiri akhirnya musnah”.
Putusnya suatu rantai sistem yang terdapat di hutan, yang berakibat pada musnahnya sebuah hutan dan segala yang ada di dalamnya, dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang ada di alam semisal bencana alam yang dahsyat, kekeringan yang terus menerus, kebakaran dan lain sebagainya. Namun di masa kontemporer, peran manusia dalam musnahnya banyak hutan di bumi jauh lebih dominan dan lebih besar dari faktor-faktor alamiah apapun yang pernah dikenal manusia. Itulah mengapa bicara tentang hutan dengan segala kerusakan ataupun kelestariannya secara faktual juga berbicara tentang manusia dan segala kerakusan dan kepeduliannya.
Seribu empat ratus tahun lalu, kitab suci ummat Islam, Al-Quran sudah mensinyalir tentang hal ini : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Q.S. Ar-Ruum :41
Hari ini bisa kita lihat betapa banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Entah itu di daratan ataupun di lautan. Hutan yang rusak dan musnah hanyalah salah satu macam kerusakan yang terjadi. Masih tak terhitung banyaknya kerusakan yang dilakukan manusia baik secara sadar atau tanpa disadarinya. Yang lebih tragis lagi, para perusak itu tidak menunjukkan sedikitpun rasa penyesalan. Alih-alih menyesali kerusakan yang mereka timbulkan, mereka malah merusak lebih banyak lagi demi keuntungan yang lebih besar lagi.
Sepanjang Agustus 2006 saja, data WALHI mengungkapkan belasan ribu kasus kebakaran hutan yang disinyalir sengaja dilakukan oleh orang-orang yang memetik keuntungan membuka hutan dengan cara dibakar dengan sengaja dan memusnahkan jutaan hektar hutan dan lahan (http://www.walhi.or.id/kampanye/bencana/bakarhutan). Kasus-kasus pembakaran hutan ini masih terus terjadi hingga hari ini dalam skala dan intensitas yang tidak jauh berbeda.
Hutan Kalimantan, hutan tropis yang amat sangat besar dan luas, yang diklaim sebagai paru-paru dunia, kini layaknya paru-paru manusia yang terserang penyakit tubercolusis sangat akut, yang jika tidak segera diupayakan “pengobatan”nya akan segera membawa dunia ini mati bersamanya. Perubahan Iklim yang mengancam kehidupan di bumi saat-saat sekarang ini, diakui atau tidak sangat erat kaitannya dengan semakin menipisnya jumlah hutan di dunia sehingga daya serap CO2 tidak sebanding dengan banyaknya CO2 yang dilepaskan ke udara.
Kita yang peduli, tentu menangis terguguk menyaksikan dahsyatnya kerusakan yang terjadi, meski para perusak tertawa terbahak bergelimang aneka keuntungan dari hutan-hutan yang dirusaknya. Tetapi tangis saja tidak cukup. Bahkan tidak akan pernah cukup untuk menghentikan kemusnahan hutan-hutan di dunia dan khususnya di Indonesia ini. Tangis dan serapah saja hanya akan membuat kita seperti dilantunkan Iwan Fals: “Oooo O Ooo Oo… Jelas kami kecewa, menatap rimba yang dulu perkasa, kini tinggal cerita, pengantar lelap si Buyung”.(Album: Celoteh2 Iwan Fals).
Tentu saja kita tidak menafikan bahwa pertambahan penduduk dunia yang demikian pesat telah meniscayakan meningkatnya kebutuhan akan lahan untuk pemukiman dan pertanian, juga untuk industri. Seringkali imajinasi saya melayang ke masa lalu, kenangan masa kecil di tanah kelahiran, sebuah kampung kecil di barat Tangerang. Kampung itu memiliki sebuah hutan kecil di sepanjang kali Sabi tempat kami bermain dan mencari kayu bakar. Pada akhirnya kami harus rela kehilangan hutan kecil itu karena datangnya industri. Hutan itu dibabat untuk membangun pabrik dan sungai kecil jernih itu dirubah menjadi sebuah parit besar tempat membuang limbah.
Itu hanya contoh yang sangat kecil. Kapanpun di manapun, manusia membuka (baca: memusnahkan) hutan dalam kerangka memperluas tanah pertanian, permukiman, menopang industri, ataupun memenuhi kebutuhan akan kayu. Hal-hal tersebut memang diperlukan di satu sisi namun tentu kita tidak ingin itu menjadi pemusnahan sistematis terhadap hutan karena adanya segelintir orang yang serakah dan membabati hutan untuk memenuhi nafsu keserakahannya atas harta dunia. Lebih tragis lagi, manakala keserakahan itu didukung secara membabi buta oleh para penguasa dengan mengeluarkan aturan-aturan yang sangat memungkinkan para perusak hutan membabatinya dengan leluasa untuk meraup lebih banyak keuntungan untuk dinikmati diri dan kroninya.
Sebenarnya, masalahnya sangat sederhana, yaitu bahwa belum ditemukan adanya planet lain yang bisa dijangkau manusia yang sama seperti planet bumi. Jika telah ada planet lain semisal bumi yang bisa diketahui, dijangkau dan ditinggali, tentu biar saja bumi ini gosong, hancur berderai, kita tinggal pindah ke planet lain itu. Hanya saja, karena yang seperti bumi ini tidak diketahui adanya, maka tentu kita hanya sebatas berharap bumi ini layak untuk dijadikan tempat tinggal lebih lama lagi, karena itu harus sama-sama kita pelihara supaya tetap layak untuk ditinggali.
Yang sudah jelas dan pasti adalah, bahwa kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi, termasuk hutan di dalamnya, entah disengaja ataupun dengan masuknya nafsu keserakahan dan ketidakpedulian, kian hari makin bertambah intensitas dan ekstensitasnya. Dengan tingkat percepatan kerusakan yang amat sangat mencengangkan, excellent, luar biasa, luar biasa parahnya. Seribu orang berteriak lantang tentang pemeliharaan hutan dan lingkungan, cukup satu orang dengan HPH yang membungkam mereka. Sejuta orang ingin ada pohon dan hutan yang perkasa, cukup satu orang pengusaha kayu tanpa HPH mementahkannya. Seratus negara berkonferensi soal kelestarian hutan, cukup satu pengusaha kayu kelas paus yang akan membuat mereka diam terpana. Banyak orang peduli, terlalu banyak yang langsung bertindak merusak. Plus bahwa orang banyak yang peduli itu, kebanyakan juga hanya bicara saja, tidak ambil tindakan nyata.
Secara teoritis, sebuah hutan yang dihabisi seluruh pohonnya dengan gergaji mesin, memang masih dapat berproses menjadi hutan kembali seperti semula dengan apa yang disebut Hutan Puncak. Hanya masalahnya, proses menjadi hutan kembali itu memerlukan waktu beberapa ratus tahun!! Dalam rentang waktu selama itu, beberapa generasi manusia sudah akan terlanjur menderita amat hebat.
Kini saatnya disusun langkah-langkah kongkret, bukan untuk meniadakan eksploitasi hutan dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia terhadap kayu dan hasil hutan lainnya, tetapi mengatur agar eksploitasi hutan itu tidak memusnahkan hutan secara total, dapat menumbuhkan hutan kembali dalam kurun beberapa puluh tahun, dan mewariskan rimba yang perkasa kepada generasi mendatang sehingga kita tidak mengais tangis di sela isak karena musnahnya hutan perkasa Indonesia.
Tanpa berpretensi untuk mendahului para pakar, saya ingin ikut sumbang saran untuk lestarinya hutan sehingga memberi secercah harapan untuk generasi mendatang;
1. Mendidik Keluarga untuk cinta lingkungan
Setelah keperkasaan hutan hanya tinggal cerita, setelah sungai-sungai, danau-danau dangkal dan penuh sampah, setelah bukit dan gunung longsor di mana-mana, setelah air tanah kering tak tersisa, setelah udara demikian sesak, pengap dan panas, setelah tanah sedemikian gersang, setelah laut mematikan bagi ikan untuk ditinggali, setelah hancur-hancuran seperti ini, mulailah berebut telunjuk saling menuding. Semua orang paling benar, aku paling peduli, aku yang paling innocent. Halaah, ya percuma juga kalau hanya di mulut saja !!!
Kerusakan kini, adalah tugas manusia saat ini untuk mengatasinya dengan penuh kepedulian dan kecintaan. Kerusakan yang akan datang adalah tugas manusia sekarang untuk mendidik generasi berikutnya mencintai lingkungan. Kecintaan pada lingkungan untuk selalu menjaga, merawat dan memelihara lingkungan agar senantiasa membuat bumi layak dan lebih baik untuk ditinggali. Bukan kecintaan meraup untung banyak dari isu lingkungan, apalagi cinta uang dan untung banyak dari merusak lingkungan, termasuk membabat hutan tanpa aturan.
Dan, seperti layaknya pendidikan, hal itu dimulai dari keluarga-keluarga sebagai unit terkecil namun penentu dari sebuah masyarakat, dan gabungan banyak masyarakat adalah komunitas besar bernama bangsa yang membentuk peradaban di muka bumi. Tugas keluargalah untuk mendidik tiap anggotanya untuk mencintai lingkungan, melakukan penghijauan, mempraktekkan penghematan air dan listrik, menjaga kebersihan air, tanah dan udara serta berperan aktif dalam setiap upaya melestarikan lingkungan.
Mari memulai di tiap keluarga dengan memproduksi sesedikit mungkin sampah, memisahkan sampah organik dan non organik, sedapat mungkin menghemat air dan listrik, pakai sepeda ontel atau jalan kaki saja, dan menanamkan kecintaan pada pohon dengan menanamnya. Mengapa menanam pohon? Karena rindang dan hijaunya pohon bisa membantu menurunkan kadar stress dan meningkatkan ketenangan jiwa, karena dengan pohon lebih banyak oksigen dihasilkan, lebih banyak CO2 diserap, udara menjadi sejuk dan segar. Karena dengan pohon, bila berbuah akan menambah gizi atau bahkan penghasilan, karena dengan pohon, air hujan bisa lebih banyak diserap tanah sebagai cara alami konservasi air tanah. Karena adanya pohon bisa menjadi tempat tinggal banyak penghuni bumi lain selain manusia, entah itu burung atau ulat dan kupu-kupu atau bahkan bunglon dan tokek sekalipun.
Dalam dunia pendidikan berbasis buku kita kenal “sebuah buku setetes ilmu”. Dalam pendidikan berbasis pohon kita tanamkan kesan “sebatang pohon, sejuta manfaat”. Walaupun keduanya baik, kalau disuruh memilih antara setetes dan sejuta, saya akan memilih yang sejuta.
2. Regulasi dan Perundangan dilaksanakan secara konsisten.
Dalam pikiran saya, sebenarnya hanya sebuah utopia jika kita berharap pemerintah bertindak secara tegas dan konsisten dalam melaksanakan tata peraturan perundangan tentang hutan dan lingkungan. Namun menutup harapan itu sama sekali juga bukan merupakan sesuatu yang bijaksana.
Paling tidak ada tiga instrumen perundangan yang mengakomodir dan mengatur sektor kehutanan, yaitu UU no. 41/1999 tentang kehutanan yang telah diubah berdasarkan UU No. 19 Tahun 2004 tentang Perpu No. 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU no.23/1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup dan UU no. 5/1992 tentang konservasi sumber daya alam.
Regulasi dan peraturannya sudah lebih dari cukup meski materinya dibeberapa hal masih nampak dirasakan adanya berbagai kekurangan menurut banyak kalangan ( http://dewagumay.wordpress.com/2007/05/16/ undang-undang-kehutanan-mandul, lihat juga di http://www.walhi.or.id/kampanye/hutan/shk/ 060402_analisaptsnmk/ ). Kekurangan pada materi perundangan bisa diperbaiki melalui mekanisme di legislatif dan eksekutif. Yang paling sulit adalah adanya kemauan yang kuat, terarah, simultan, menyeluruh dan kompak dari para pelaku penegakkan hukum. Kuncinya adalah konsistensi para penegak hukum dan para pelaksana Undang-undang untuk melaksanakannya secara murni dan konsekwen.
Apapun sebabnya, harus kita akui bahwa para penegak hukum di Indonesia, tidak hanya hukum dan Undang-undang tentang hutan, melainkan hampir seluruh perundangan yang ada, tidak dapat melakukan penegakkan hukum dengan optimal karena banyaknya celah yang dipakai para pelanggar hukum untuk berkelit. Hal ini memerlukan peran serta dan kepedulian seluruh anggota masyarakat untuk mendukung dan jika perlu mengevaluasi kinerja para penegak hukum dengan berbagai cara dan upaya ke arah itu. Bisa melalui media massa, LSM, atau unjuk rasa sekalipun. Diharapkan, dengan pengawasan dari masyarakat, para penegak hukum dapat bekerja lebih baik dan lebih optimal.
Jangan pernah berhenti berharap, karena tanpa harapan tidak akan ada upaya yang bisa dilakukan. Apa yang dilakukan sekarang, adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap generasi yang akan datang. Semoga Allah Yang Maha Memelihara berkenan menolong kita.
Bekasi, 22 Oktober 2008
(* bekerja di PT. LG Electronics Indonesia, Bekasi)

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: