Bangsa Luar Biasa

Sedari dulu kala, entah itu sebelum menjadi negara bernama Endonesa ataupun sesudah bernama Endonesa, bangsa itu terkenal sangat hebat dan luar biasa. Hebat dalam berbagai hal dan luar biasa dalam berbagai bentuk. Seluruhnya bermuara pada pujian dan sanjungan sebagai bangsa besar.

Endonesa punya pelaut-pelaut ulung yang mengarungi tujuh samudera bak Sinbad layaknya, Malin Kondang hanya salah satunya. Indonesia punya arsitek-arsitek excellent yang mampu merajut batu gunung menjadi candi-candi yang menjulang tinggi yang sebagiannya dibangun hanya dalam waktu satu malam saja, Bandung Bindowiso diantaranya. Endonesa punya pengembara udara tanpa sayap dengan kumis melintangnya, yang namanya, Gatot Kuco, dijadikan nama sebuah jenis pesawat terbang oleh IIPTN (sekarang PTDII). Endonesa punya pengendali tanah yang bisa menerobos kedalaman bumi tanpa perlu mata bor di kakinya, Antereja namanya. Ilmu Antereja ini belakangan dipelajari secara keliru oleh PT LB di Sodoarjo, sehingga hasilnya tidak seperti harapan. Sebut bidang apa saja, maka Endonesa punya yang luar biasa padanya.

Endonesa bangsa yang sangat besar, tidak satupun berani membantah, ayo kita sebut satu persatu bidang-bidang kehidupan yang membuat bangsa itu demikian buesaar…

Bidang Ideologi, Endonesa itu gudangnya ideologi, yang lokal ataupun yang import ada di situ. Anda mau pakai ideologi apa?? Tinggal sebut saja, ada semua di situ lengkap dengan tutornya. Ada, Chaosisme, Liberalisme, Pluralisme, Leninisme, Marxisme, Komunisme, Kapitalisme, hedonisme, Narsisisme, Feminisme, Bencongisme, Jiplakisme, Idolisme, Karuhunisme, Animisme, Kadalisme, Vandalisme, Dinamisme, Dukunisme, Madatisme, Garongisme..(garong juga punya ideologi sendiri!!) de el el…dan hebatnya adalah, semua ideologi itu bisa sangat benar… paling tidak menurut penganutnya.

Bidang Politik, bidang ini malah jauh lebih luar biasa dari bidang apapun. Anda sebut satu hal, maka untuk itu ada politiknya, ada politik luar negeri, politik dalam negeri, politik dagang, politik belah bambu, politik praktis, parlemen jalanan, politik selingkuh, politik membajak, politik kaum proletar, politik urban, politik klinik… seperti kata iklan, semua ada politiknya….

Bidang Ekonomi, ini faktor paling menonjol di Endonesa karena berhubungan erat dengan duit. Sangat besar pengaruhnya pada kebesaran bangsa di bidang lain… ayo anda katakan hal apa di republik itu yang gak bisa di-duit-in? Ngurus surat? Nomong sembarangan? Salah nikung? Orang meleng? Aset perusahaan? Aset negara? Kemiskinan? Kebodohan? Penindasan? Sakit-sakitan? Urbanisasi…pokoknya apapun bisa di-duit-in.

Bidang Sosial, daripada jadi orang sok yang ujungnya dapat sial, lebih baik menjadi orang berjiwa sosial. Indonesia punya gerakan-gerakan sosial lebih banyak dari negara manapun di bumi ini. Entah itu yayasan, panti, LSM, NGO, RS, Rsing, RBor, badan, komisi, ikatan, paguyuban, gerakan rakyat untuk, gerakan nasional untuk, dompet, dan lain sebagainya. Semuanya bergerak serentak maju bersama mengharubirukan mayapada Endonesa. Benar-benar sial lah orang yang tidak ikut bersosial.

Bidang Budaya, wah, yang ini gak usah berdebat panjang, Endonesa adalah republik paling berbudaya di muka bumi, paling dikenal anti malu, anti kemapanan, anti antrian, anti kebersihan, anti keteraturan, anti larangan, anti anjuran, juga paling dikenal sebagai bangsa yang punya rasa memilliki sangat tinggi, sampai-sampai semua hal serasa milik sendiri; entah itu aset kantor, aset negara, hutan lindung, hutan mangrove, hutan belantara, lautan dalam, samudera, istri tetangga, dana nasabah, dana sumbangan bencana, dana konpensasi, beras miskin, dana likuiditas, dana proyek jalan….

Bidang Pertahanan, juga luar biasa, filosofinya pre emptive strike, bacok dulu, urusan belakangan. Bangsa paling pandai bertahan, bertahan dari hukum, dari nasihat, dari anjuran, dari pendapat lain, bertahan diam dihina bangsa lain, mempertahankan teguh koruptor dan manipulator, mempertahankan provokator, mempertahankan agresor, dan lain sebagainya. Pokoknya semua orang adalah pelaku bertahan yang paling yahud di sana.

Bidang Keamanan. Excellent. Seperti kata pepatah, sesama bus kota dilarang saling mendahului. Begitulah, hidup di Endonesa akan merasa sangat amat nyaman dan tenteram. Tahu sebabnya, karena rasa tidak aman itu kalau hidup di negara yang banyak penjahatnya. Anda akan aman-aman saja jika hidup di negara yang semuanya adalah penjahat, sesama penjahat dilarang saling menjahati.

Bidang Hak Asasi, ini malah jagonya. Hak apapun dilindungi di sana. Hak telanjang di muka umum, hak selingkuh di video, hak goyang pantat di TV nasional, hak buka dada di mana-mana.. ini dadaku.. mana dadamu…hak banci berkeliaran, hak punya laptop di penjara, hak nempati tanah kosong punya siapa saja, hak ngomong semaunya, hak bunuh orang yang gak disuka, dan hak-hak lain, yang dinegara lain tidak bisa di dapat, pindahlah ke Endonesa, niscaya didapatkan.

Endonesa itu bersahabat dengan banyak negara lain, di antaranya Kuria Selatan. Jauh berbeda dengan Endonesa, Kuria Selatan yang rakyatnya pemabuk shoju dan pemakan babi itu masih agak terbelakang kemajuannya. Paling tidak itu yang penulis rasakan ketika berkesempatan melihat langsung di sana. Disana tidak boleh bicara sembarangan nanti menyinggung orang lain, di sana rasa malu masih kental, malu kalau tidak antri, malu kalau buang sampah sembarangan (di ibukotanya sulit sekali mencari sampah, yang banyak tong sampah, itupun bersih), malu kalau telanjang sembarangan, malu kalau mengakui milik orang lain, masih perlu segera minta maaf kalau punya kesalahan, pemimpinnya langsung mundur kalau dia atau keluarganya ketahuan salah atau punya skandal, pemimpinnya malu kalau ada rakyatnya kelaparan, kota-kotanya sangat teratur, kalau demonstrasi berbaris rapi, kalau berdagang selalu senyum. Kalau mau telanjang di tempat tertutup, kalau mau mabok ditempat tertentu, kalau mau selingkuh gak dibikin video. Sebutlah hal-hal kampungan apa saja, di sana masih ada.

Waah.. singkong dikerok dikasih ragi.. jadi TAPE deh!!

(Mohon maaf jika ada kesamaan nama, istilah dan tempat)

Bekasi, 14 September 2007.

Tags:


%d bloggers like this: