Archive for October, 2008

Hutan, Mengais Tangis di Sela Isak

October 27, 2008

“Lomba Tulis YPHL” (oleh: Ahmad Sopiani*)
Hutan, Mengais Tangis Di Sela Isak
Sebuah harapan masa depan

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Purwadarminta yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, pengertian Hutan antara lain: “Tanah yang luas yang ditumbuhi pepohonan (biasanya tidak sengaja ditanam namun ada pula yang sengaja ditanam)” juga berarti “Liar/tidak dipelihara”. Pengertian ini tentu saja tidak menggambarkan sepenuhnya sebuah hutan, karena ekosistem hutan tidak melulu terdiri dari pohon-pohon, melainkan juga mencakup beribu jenis perdu, pakis, jamur, parasit, beraneka bunga dan anggrek, mollusca, serangga, mammalia, burung dan beragam hewan lainnya.
Peter Farb, dalam Pustaka Alam Life HUTAN; edisi kedua, yang diterbitkan Tira Pustaka Jakarta tahun 1982, halaman 10 menjelaskan “pepohonan hanyalah yang paling menonjol saja di antara anggota masyarakat hutan. Di samping pohon mungkin terdapat lebih dari 1.000 jenis perdu, tumbuhan merambat, paku, dan cendawan dalam tanah hutan yang kecil sekalipun. Tetumbuhan tadi hidup berdampingan dengan pohon, menggunakan pohon sebagai penopang, tumbuh dalam bayangannya dan tergantung pada kelembaban tinggi yang tetap akibat naungan atap dedaunannya. Tambahan pula dalam hutan terdapat banyak sekali serangga, mamalia, burung, reptilia dan binatang amfibi”.
Dengan demikian, bicara mengenai hutan pada hakikatnya adalah berbicara mengenai seluruh komunitas dan ekosistem yang ada dihutan tersebut dengan segala macam keterkaitan yang ada di dalamnya.
Lebih lanjut Peter Farb mengatakan bahwa “banyaknya segala jenis anggota masyarakat hutan ini sangat seimbang dan semuanya saling terikat oleh tali hubungan yang tak kasat mata, misalnya hubungan pangan, lingkungan hidup dan kerjasama. Masyarakat tersebut adalah hutan sebagaimana pepohonan itu sendiri. Begitu kait-mengaitnya hamparan kehidupan hutan itu sehingga jika ada satu saja tali hubungan penting yang terputus, apapun sebabnya, seluruh pola mungkin menjadi berantakan dan hutan sendiri akhirnya musnah”.
Putusnya suatu rantai sistem yang terdapat di hutan, yang berakibat pada musnahnya sebuah hutan dan segala yang ada di dalamnya, dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang ada di alam semisal bencana alam yang dahsyat, kekeringan yang terus menerus, kebakaran dan lain sebagainya. Namun di masa kontemporer, peran manusia dalam musnahnya banyak hutan di bumi jauh lebih dominan dan lebih besar dari faktor-faktor alamiah apapun yang pernah dikenal manusia. Itulah mengapa bicara tentang hutan dengan segala kerusakan ataupun kelestariannya secara faktual juga berbicara tentang manusia dan segala kerakusan dan kepeduliannya.
Seribu empat ratus tahun lalu, kitab suci ummat Islam, Al-Quran sudah mensinyalir tentang hal ini : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Q.S. Ar-Ruum :41
Hari ini bisa kita lihat betapa banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Entah itu di daratan ataupun di lautan. Hutan yang rusak dan musnah hanyalah salah satu macam kerusakan yang terjadi. Masih tak terhitung banyaknya kerusakan yang dilakukan manusia baik secara sadar atau tanpa disadarinya. Yang lebih tragis lagi, para perusak itu tidak menunjukkan sedikitpun rasa penyesalan. Alih-alih menyesali kerusakan yang mereka timbulkan, mereka malah merusak lebih banyak lagi demi keuntungan yang lebih besar lagi.
Sepanjang Agustus 2006 saja, data WALHI mengungkapkan belasan ribu kasus kebakaran hutan yang disinyalir sengaja dilakukan oleh orang-orang yang memetik keuntungan membuka hutan dengan cara dibakar dengan sengaja dan memusnahkan jutaan hektar hutan dan lahan (http://www.walhi.or.id/kampanye/bencana/bakarhutan). Kasus-kasus pembakaran hutan ini masih terus terjadi hingga hari ini dalam skala dan intensitas yang tidak jauh berbeda.
Hutan Kalimantan, hutan tropis yang amat sangat besar dan luas, yang diklaim sebagai paru-paru dunia, kini layaknya paru-paru manusia yang terserang penyakit tubercolusis sangat akut, yang jika tidak segera diupayakan “pengobatan”nya akan segera membawa dunia ini mati bersamanya. Perubahan Iklim yang mengancam kehidupan di bumi saat-saat sekarang ini, diakui atau tidak sangat erat kaitannya dengan semakin menipisnya jumlah hutan di dunia sehingga daya serap CO2 tidak sebanding dengan banyaknya CO2 yang dilepaskan ke udara.
Kita yang peduli, tentu menangis terguguk menyaksikan dahsyatnya kerusakan yang terjadi, meski para perusak tertawa terbahak bergelimang aneka keuntungan dari hutan-hutan yang dirusaknya. Tetapi tangis saja tidak cukup. Bahkan tidak akan pernah cukup untuk menghentikan kemusnahan hutan-hutan di dunia dan khususnya di Indonesia ini. Tangis dan serapah saja hanya akan membuat kita seperti dilantunkan Iwan Fals: “Oooo O Ooo Oo… Jelas kami kecewa, menatap rimba yang dulu perkasa, kini tinggal cerita, pengantar lelap si Buyung”.(Album: Celoteh2 Iwan Fals).
Tentu saja kita tidak menafikan bahwa pertambahan penduduk dunia yang demikian pesat telah meniscayakan meningkatnya kebutuhan akan lahan untuk pemukiman dan pertanian, juga untuk industri. Seringkali imajinasi saya melayang ke masa lalu, kenangan masa kecil di tanah kelahiran, sebuah kampung kecil di barat Tangerang. Kampung itu memiliki sebuah hutan kecil di sepanjang kali Sabi tempat kami bermain dan mencari kayu bakar. Pada akhirnya kami harus rela kehilangan hutan kecil itu karena datangnya industri. Hutan itu dibabat untuk membangun pabrik dan sungai kecil jernih itu dirubah menjadi sebuah parit besar tempat membuang limbah.
Itu hanya contoh yang sangat kecil. Kapanpun di manapun, manusia membuka (baca: memusnahkan) hutan dalam kerangka memperluas tanah pertanian, permukiman, menopang industri, ataupun memenuhi kebutuhan akan kayu. Hal-hal tersebut memang diperlukan di satu sisi namun tentu kita tidak ingin itu menjadi pemusnahan sistematis terhadap hutan karena adanya segelintir orang yang serakah dan membabati hutan untuk memenuhi nafsu keserakahannya atas harta dunia. Lebih tragis lagi, manakala keserakahan itu didukung secara membabi buta oleh para penguasa dengan mengeluarkan aturan-aturan yang sangat memungkinkan para perusak hutan membabatinya dengan leluasa untuk meraup lebih banyak keuntungan untuk dinikmati diri dan kroninya.
Sebenarnya, masalahnya sangat sederhana, yaitu bahwa belum ditemukan adanya planet lain yang bisa dijangkau manusia yang sama seperti planet bumi. Jika telah ada planet lain semisal bumi yang bisa diketahui, dijangkau dan ditinggali, tentu biar saja bumi ini gosong, hancur berderai, kita tinggal pindah ke planet lain itu. Hanya saja, karena yang seperti bumi ini tidak diketahui adanya, maka tentu kita hanya sebatas berharap bumi ini layak untuk dijadikan tempat tinggal lebih lama lagi, karena itu harus sama-sama kita pelihara supaya tetap layak untuk ditinggali.
Yang sudah jelas dan pasti adalah, bahwa kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi, termasuk hutan di dalamnya, entah disengaja ataupun dengan masuknya nafsu keserakahan dan ketidakpedulian, kian hari makin bertambah intensitas dan ekstensitasnya. Dengan tingkat percepatan kerusakan yang amat sangat mencengangkan, excellent, luar biasa, luar biasa parahnya. Seribu orang berteriak lantang tentang pemeliharaan hutan dan lingkungan, cukup satu orang dengan HPH yang membungkam mereka. Sejuta orang ingin ada pohon dan hutan yang perkasa, cukup satu orang pengusaha kayu tanpa HPH mementahkannya. Seratus negara berkonferensi soal kelestarian hutan, cukup satu pengusaha kayu kelas paus yang akan membuat mereka diam terpana. Banyak orang peduli, terlalu banyak yang langsung bertindak merusak. Plus bahwa orang banyak yang peduli itu, kebanyakan juga hanya bicara saja, tidak ambil tindakan nyata.
Secara teoritis, sebuah hutan yang dihabisi seluruh pohonnya dengan gergaji mesin, memang masih dapat berproses menjadi hutan kembali seperti semula dengan apa yang disebut Hutan Puncak. Hanya masalahnya, proses menjadi hutan kembali itu memerlukan waktu beberapa ratus tahun!! Dalam rentang waktu selama itu, beberapa generasi manusia sudah akan terlanjur menderita amat hebat.
Kini saatnya disusun langkah-langkah kongkret, bukan untuk meniadakan eksploitasi hutan dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia terhadap kayu dan hasil hutan lainnya, tetapi mengatur agar eksploitasi hutan itu tidak memusnahkan hutan secara total, dapat menumbuhkan hutan kembali dalam kurun beberapa puluh tahun, dan mewariskan rimba yang perkasa kepada generasi mendatang sehingga kita tidak mengais tangis di sela isak karena musnahnya hutan perkasa Indonesia.
Tanpa berpretensi untuk mendahului para pakar, saya ingin ikut sumbang saran untuk lestarinya hutan sehingga memberi secercah harapan untuk generasi mendatang;
1. Mendidik Keluarga untuk cinta lingkungan
Setelah keperkasaan hutan hanya tinggal cerita, setelah sungai-sungai, danau-danau dangkal dan penuh sampah, setelah bukit dan gunung longsor di mana-mana, setelah air tanah kering tak tersisa, setelah udara demikian sesak, pengap dan panas, setelah tanah sedemikian gersang, setelah laut mematikan bagi ikan untuk ditinggali, setelah hancur-hancuran seperti ini, mulailah berebut telunjuk saling menuding. Semua orang paling benar, aku paling peduli, aku yang paling innocent. Halaah, ya percuma juga kalau hanya di mulut saja !!!
Kerusakan kini, adalah tugas manusia saat ini untuk mengatasinya dengan penuh kepedulian dan kecintaan. Kerusakan yang akan datang adalah tugas manusia sekarang untuk mendidik generasi berikutnya mencintai lingkungan. Kecintaan pada lingkungan untuk selalu menjaga, merawat dan memelihara lingkungan agar senantiasa membuat bumi layak dan lebih baik untuk ditinggali. Bukan kecintaan meraup untung banyak dari isu lingkungan, apalagi cinta uang dan untung banyak dari merusak lingkungan, termasuk membabat hutan tanpa aturan.
Dan, seperti layaknya pendidikan, hal itu dimulai dari keluarga-keluarga sebagai unit terkecil namun penentu dari sebuah masyarakat, dan gabungan banyak masyarakat adalah komunitas besar bernama bangsa yang membentuk peradaban di muka bumi. Tugas keluargalah untuk mendidik tiap anggotanya untuk mencintai lingkungan, melakukan penghijauan, mempraktekkan penghematan air dan listrik, menjaga kebersihan air, tanah dan udara serta berperan aktif dalam setiap upaya melestarikan lingkungan.
Mari memulai di tiap keluarga dengan memproduksi sesedikit mungkin sampah, memisahkan sampah organik dan non organik, sedapat mungkin menghemat air dan listrik, pakai sepeda ontel atau jalan kaki saja, dan menanamkan kecintaan pada pohon dengan menanamnya. Mengapa menanam pohon? Karena rindang dan hijaunya pohon bisa membantu menurunkan kadar stress dan meningkatkan ketenangan jiwa, karena dengan pohon lebih banyak oksigen dihasilkan, lebih banyak CO2 diserap, udara menjadi sejuk dan segar. Karena dengan pohon, bila berbuah akan menambah gizi atau bahkan penghasilan, karena dengan pohon, air hujan bisa lebih banyak diserap tanah sebagai cara alami konservasi air tanah. Karena adanya pohon bisa menjadi tempat tinggal banyak penghuni bumi lain selain manusia, entah itu burung atau ulat dan kupu-kupu atau bahkan bunglon dan tokek sekalipun.
Dalam dunia pendidikan berbasis buku kita kenal “sebuah buku setetes ilmu”. Dalam pendidikan berbasis pohon kita tanamkan kesan “sebatang pohon, sejuta manfaat”. Walaupun keduanya baik, kalau disuruh memilih antara setetes dan sejuta, saya akan memilih yang sejuta.
2. Regulasi dan Perundangan dilaksanakan secara konsisten.
Dalam pikiran saya, sebenarnya hanya sebuah utopia jika kita berharap pemerintah bertindak secara tegas dan konsisten dalam melaksanakan tata peraturan perundangan tentang hutan dan lingkungan. Namun menutup harapan itu sama sekali juga bukan merupakan sesuatu yang bijaksana.
Paling tidak ada tiga instrumen perundangan yang mengakomodir dan mengatur sektor kehutanan, yaitu UU no. 41/1999 tentang kehutanan yang telah diubah berdasarkan UU No. 19 Tahun 2004 tentang Perpu No. 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU no.23/1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup dan UU no. 5/1992 tentang konservasi sumber daya alam.
Regulasi dan peraturannya sudah lebih dari cukup meski materinya dibeberapa hal masih nampak dirasakan adanya berbagai kekurangan menurut banyak kalangan ( http://dewagumay.wordpress.com/2007/05/16/ undang-undang-kehutanan-mandul, lihat juga di http://www.walhi.or.id/kampanye/hutan/shk/ 060402_analisaptsnmk/ ). Kekurangan pada materi perundangan bisa diperbaiki melalui mekanisme di legislatif dan eksekutif. Yang paling sulit adalah adanya kemauan yang kuat, terarah, simultan, menyeluruh dan kompak dari para pelaku penegakkan hukum. Kuncinya adalah konsistensi para penegak hukum dan para pelaksana Undang-undang untuk melaksanakannya secara murni dan konsekwen.
Apapun sebabnya, harus kita akui bahwa para penegak hukum di Indonesia, tidak hanya hukum dan Undang-undang tentang hutan, melainkan hampir seluruh perundangan yang ada, tidak dapat melakukan penegakkan hukum dengan optimal karena banyaknya celah yang dipakai para pelanggar hukum untuk berkelit. Hal ini memerlukan peran serta dan kepedulian seluruh anggota masyarakat untuk mendukung dan jika perlu mengevaluasi kinerja para penegak hukum dengan berbagai cara dan upaya ke arah itu. Bisa melalui media massa, LSM, atau unjuk rasa sekalipun. Diharapkan, dengan pengawasan dari masyarakat, para penegak hukum dapat bekerja lebih baik dan lebih optimal.
Jangan pernah berhenti berharap, karena tanpa harapan tidak akan ada upaya yang bisa dilakukan. Apa yang dilakukan sekarang, adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap generasi yang akan datang. Semoga Allah Yang Maha Memelihara berkenan menolong kita.
Bekasi, 22 Oktober 2008
(* bekerja di PT. LG Electronics Indonesia, Bekasi)

Advertisements

Rabiha Aurora Sopiani

October 27, 2008

Karena aku suka sekali baca buku cerita, baik bergambar seperti komik ataupun yang tidak bergambar, maka aku mengenal banyak sekali karakter cerita, dongeng dan komik serta kartun. Putri Aurora, putri tidur yang bisa bangun kembali berkat seorang pangeran tampan salah satunya. Putri itu terkenal cantik dan baik hati meski tidak sekaliber Cinderella. Waktu anak keduaku ternyata perempuan juga, aku berinisiatif menyisipkan nama Aurora pada Namanya. Jadilah ia kunamakan Rabiha Aurora Sopiani. Rabiha berasal dari kata arab ro-ba-ha yang variannya ada yang berarti “beruntung”. Keberuntungan itu perlu di dunia yang serba tidak menentu ini, meski aku percaya tidak ada yang namanya “keberuntungan” karena segala sesuatu pasti karena rahmat Allah SWT.

Penyakit Atsma yang dideritanya kerap membuat aktifitasnya terganggu. Lebih ruwet lagi, biasanya puncak kambuhnya pada malam-malam sunyi saat orang lain terlelap tidur. Ruwetnya lagi, aku tidak punya kendaraan untuk membawanya ke dokter untuk inhalasi. Jadi seringnya dia aku gendong ke dokter/klinik. Susahnya lagi, klinik dekat rumah seringkali inhalasinya tidak optimal sehingga tidak lama kemudian ia harus di bawa lagi ke RS yang lebih jauh untuk inhalasi yang memadai. Alhamdulillah, akhir-akhir ini atsmanya sudah jarang kambuh…
Ia lahir 4kg di bidan Tati, bidan yang sama yang menolong kelahiran Ceuceunya Dilla, hanya saja saat itu bidan Tati sudah pindah rumahnya ke seberang Sungai Cianten, tidak lagi di dekat Pasar Leuwiliang. Lahir pagi-pagi ketika matahari sepenggalah, tanggal 6 Ramadhan 1422H atau 21 November 2001. Konon Aurora berarti fajar pagi.
Meski sering sakit-sakitan dan panas tinggi di atas 40 derajat celcius, Alhamdulillah, kecerdasannya tidak terlalu terganggu walau memang tidak secepat ceuceunya dalam belajar. Aku juga berharap dia nantinya menjadi “eksekutor” yang baik, mendampingi ceuceunya yang “think tank”.

Bangsa Luar Biasa

October 23, 2008

Sedari dulu kala, entah itu sebelum menjadi negara bernama Endonesa ataupun sesudah bernama Endonesa, bangsa itu terkenal sangat hebat dan luar biasa. Hebat dalam berbagai hal dan luar biasa dalam berbagai bentuk. Seluruhnya bermuara pada pujian dan sanjungan sebagai bangsa besar.

Endonesa punya pelaut-pelaut ulung yang mengarungi tujuh samudera bak Sinbad layaknya, Malin Kondang hanya salah satunya. Indonesia punya arsitek-arsitek excellent yang mampu merajut batu gunung menjadi candi-candi yang menjulang tinggi yang sebagiannya dibangun hanya dalam waktu satu malam saja, Bandung Bindowiso diantaranya. Endonesa punya pengembara udara tanpa sayap dengan kumis melintangnya, yang namanya, Gatot Kuco, dijadikan nama sebuah jenis pesawat terbang oleh IIPTN (sekarang PTDII). Endonesa punya pengendali tanah yang bisa menerobos kedalaman bumi tanpa perlu mata bor di kakinya, Antereja namanya. Ilmu Antereja ini belakangan dipelajari secara keliru oleh PT LB di Sodoarjo, sehingga hasilnya tidak seperti harapan. Sebut bidang apa saja, maka Endonesa punya yang luar biasa padanya.

Endonesa bangsa yang sangat besar, tidak satupun berani membantah, ayo kita sebut satu persatu bidang-bidang kehidupan yang membuat bangsa itu demikian buesaar…

Bidang Ideologi, Endonesa itu gudangnya ideologi, yang lokal ataupun yang import ada di situ. Anda mau pakai ideologi apa?? Tinggal sebut saja, ada semua di situ lengkap dengan tutornya. Ada, Chaosisme, Liberalisme, Pluralisme, Leninisme, Marxisme, Komunisme, Kapitalisme, hedonisme, Narsisisme, Feminisme, Bencongisme, Jiplakisme, Idolisme, Karuhunisme, Animisme, Kadalisme, Vandalisme, Dinamisme, Dukunisme, Madatisme, Garongisme..(garong juga punya ideologi sendiri!!) de el el…dan hebatnya adalah, semua ideologi itu bisa sangat benar… paling tidak menurut penganutnya.

Bidang Politik, bidang ini malah jauh lebih luar biasa dari bidang apapun. Anda sebut satu hal, maka untuk itu ada politiknya, ada politik luar negeri, politik dalam negeri, politik dagang, politik belah bambu, politik praktis, parlemen jalanan, politik selingkuh, politik membajak, politik kaum proletar, politik urban, politik klinik… seperti kata iklan, semua ada politiknya….

Bidang Ekonomi, ini faktor paling menonjol di Endonesa karena berhubungan erat dengan duit. Sangat besar pengaruhnya pada kebesaran bangsa di bidang lain… ayo anda katakan hal apa di republik itu yang gak bisa di-duit-in? Ngurus surat? Nomong sembarangan? Salah nikung? Orang meleng? Aset perusahaan? Aset negara? Kemiskinan? Kebodohan? Penindasan? Sakit-sakitan? Urbanisasi…pokoknya apapun bisa di-duit-in.

Bidang Sosial, daripada jadi orang sok yang ujungnya dapat sial, lebih baik menjadi orang berjiwa sosial. Indonesia punya gerakan-gerakan sosial lebih banyak dari negara manapun di bumi ini. Entah itu yayasan, panti, LSM, NGO, RS, Rsing, RBor, badan, komisi, ikatan, paguyuban, gerakan rakyat untuk, gerakan nasional untuk, dompet, dan lain sebagainya. Semuanya bergerak serentak maju bersama mengharubirukan mayapada Endonesa. Benar-benar sial lah orang yang tidak ikut bersosial.

Bidang Budaya, wah, yang ini gak usah berdebat panjang, Endonesa adalah republik paling berbudaya di muka bumi, paling dikenal anti malu, anti kemapanan, anti antrian, anti kebersihan, anti keteraturan, anti larangan, anti anjuran, juga paling dikenal sebagai bangsa yang punya rasa memilliki sangat tinggi, sampai-sampai semua hal serasa milik sendiri; entah itu aset kantor, aset negara, hutan lindung, hutan mangrove, hutan belantara, lautan dalam, samudera, istri tetangga, dana nasabah, dana sumbangan bencana, dana konpensasi, beras miskin, dana likuiditas, dana proyek jalan….

Bidang Pertahanan, juga luar biasa, filosofinya pre emptive strike, bacok dulu, urusan belakangan. Bangsa paling pandai bertahan, bertahan dari hukum, dari nasihat, dari anjuran, dari pendapat lain, bertahan diam dihina bangsa lain, mempertahankan teguh koruptor dan manipulator, mempertahankan provokator, mempertahankan agresor, dan lain sebagainya. Pokoknya semua orang adalah pelaku bertahan yang paling yahud di sana.

Bidang Keamanan. Excellent. Seperti kata pepatah, sesama bus kota dilarang saling mendahului. Begitulah, hidup di Endonesa akan merasa sangat amat nyaman dan tenteram. Tahu sebabnya, karena rasa tidak aman itu kalau hidup di negara yang banyak penjahatnya. Anda akan aman-aman saja jika hidup di negara yang semuanya adalah penjahat, sesama penjahat dilarang saling menjahati.

Bidang Hak Asasi, ini malah jagonya. Hak apapun dilindungi di sana. Hak telanjang di muka umum, hak selingkuh di video, hak goyang pantat di TV nasional, hak buka dada di mana-mana.. ini dadaku.. mana dadamu…hak banci berkeliaran, hak punya laptop di penjara, hak nempati tanah kosong punya siapa saja, hak ngomong semaunya, hak bunuh orang yang gak disuka, dan hak-hak lain, yang dinegara lain tidak bisa di dapat, pindahlah ke Endonesa, niscaya didapatkan.

Endonesa itu bersahabat dengan banyak negara lain, di antaranya Kuria Selatan. Jauh berbeda dengan Endonesa, Kuria Selatan yang rakyatnya pemabuk shoju dan pemakan babi itu masih agak terbelakang kemajuannya. Paling tidak itu yang penulis rasakan ketika berkesempatan melihat langsung di sana. Disana tidak boleh bicara sembarangan nanti menyinggung orang lain, di sana rasa malu masih kental, malu kalau tidak antri, malu kalau buang sampah sembarangan (di ibukotanya sulit sekali mencari sampah, yang banyak tong sampah, itupun bersih), malu kalau telanjang sembarangan, malu kalau mengakui milik orang lain, masih perlu segera minta maaf kalau punya kesalahan, pemimpinnya langsung mundur kalau dia atau keluarganya ketahuan salah atau punya skandal, pemimpinnya malu kalau ada rakyatnya kelaparan, kota-kotanya sangat teratur, kalau demonstrasi berbaris rapi, kalau berdagang selalu senyum. Kalau mau telanjang di tempat tertutup, kalau mau mabok ditempat tertentu, kalau mau selingkuh gak dibikin video. Sebutlah hal-hal kampungan apa saja, di sana masih ada.

Waah.. singkong dikerok dikasih ragi.. jadi TAPE deh!!

(Mohon maaf jika ada kesamaan nama, istilah dan tempat)

Bekasi, 14 September 2007.

Tentang Investasi

October 20, 2008

From: Milist-GP@yahoogroups.com [mailto:Milist-GP@yahoogroups.com] On Behalf Of Ahmad Sopiani
Sent: Thursday, October 16, 2008 6:16 AM
To: ‘tauziyah’
Cc: ‘Dana Abadi Umat’; Milist-GP@yahoogroups.com; mechav@googlegroups.com; ‘Rumah Ilmu Indonesia’
Subject: [Milist-GP] Tentang Investasi

Assalamu’alaikum

Jujur saja, saya lumayan muak dengan segala macam keributan soal investasi belakangan ini. Ribut tentang investasi yang aman, yang berhasil, yang berkembang, yang menguntungkan dan lain sebagainya.

Ramai-ramailah ngomongin saham, reksadana, obligasi, SUN, porto polio, emas, properti…. Semuanya berlomba untuk investasi. Bukan saya melarang orang investasi, tetapi saya muak karena :

  1. Saya dan mungkin banyak orang lain seperti saya, atau bahkan banyak sekali orang yang tidak seberuntung saya yang masih bisa menikmati indahnya akhir bulan, jangankan untuk investasi, untuk keperluan bertahan hidup sehari-hari saja sudah harus berjibaku dengan harga-harga kebutuhan pokok yang selalu membuat gaji sebulan akan menguap dalam dua minggu jika tidak hati-hati.
  2. dalam persepsi saya, investasi itu adalah menyimpan dan menumpuk harta kekayaan agar menjadi banyak dan menggunung. Lalu setalah banyak dan menggunung buat apa? Kapan menikmati/menggunakannyanya? Memangnya ada jaminan saya masih hidup ketika harta saya sudah banyak menggunung?
  3. dalam ingatan saya, pekerjaan menumpuk-numpuk harta itu tradisi alyahuud.
  4. selalu saja investasi itu konotasinya harta benda dalam bentuk saham, obligasi, emas, properti dlsbg. Mengapa Masjid, Pondok Pesantren, Daerah dan orang-orang miskin, pedalaman Papua, orang-orang sakit tiada daya biaya, pendidikan anak yatim, tidak dimasukkan ke dalam bentuk investasi yang paling nyata dan prospektif????
  5. 1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, 2. sampai kamu masuk ke dalam kubur. 3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 7. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin 8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At-Takaatsur : 1-8)

Permisi, saya mau pulang dan tidur…

Wassalamu’alaikum.

Sopian.


From: Dana_Abadi@yahoogroups.com [mailto:Dana_Abadi@yahoogroups.com] On Behalf Of Morry Infra
Sent: Thursday, October 16, 2008 10:41 AM
To: Ahmad Sopiani
Cc: tauziyah; Dana Abadi Umat
Subject: Re: [Dana_Abadi] Tentang Investasi

Wa’alaykum Salam Wr.Wb.,

Terima kasih tulisannya Pak Sopian….

Bener banget…!!!

Wassalam,

Morry Infra

+966-533214840


From: Dana_Abadi@yahoogroups.com [mailto:Dana_Abadi@yahoogroups.com] On Behalf Of Aboe Hanifa
Sent: Thursday, October 16, 2008 2:18 PM
To: Ahmad Sopiani; Morry Infra
Cc: tauziyah; Dana Abadi Umat
Subject: Re: [Dana_Abadi] Tentang Investasi

Alhamdulillah akhie Sopiani ,biarkan mereka2 yg sedang mengejar keuntungan riba dibalas sama ALLAH SWT langsung di dunianya dan dinanti diakheratnya juga.

Ana wa enta alhamdulillah termasuk yg masih di lindungi ALLAH SWT hidup pas2an ,lebih tenang nggak keder sama ”duniawi”.

Aboe Hanifa.


From: mechav@googlegroups.com [mailto:mechav@googlegroups.com] On Behalf Of dody
Sent: Thursday, October 16, 2008 2:28 PM
To: mechav@googlegroups.com; ‘tauziyah’; ‘AHMAD SOPIANI’
Cc: ‘Dana Abadi Umat’; Milist-GP@yahoogroups.com; ‘Rumah Ilmu Indonesia’
Subject: [mechav:959] Re: Tentang Investasi

Wallaikum Salam,

Sekedar informasi:

Investasi di Bank-bank Syariah juga ada kok?

Salah satu: Contohnya: http://www.muamalatbank.com/produk/depo_ful.asp

Produk bagi Penyimpan Dana (Shahibul Maal)
Merupakan pilihan investasi dalam mata uang rupiah maupun USD dengan jangka waktu 6 dan 12 bulan yang ditujukan bagi Anda yang ingin berinvestasi secara halal, murni sesuai syariah. Deposito ini dilengkapi dengan fasilitas asuransi jiwa.”

Masak menabung uang dilarang? Kalo ada kebutuhan mendadak, nga ada tabugan/invest? Gimana donk, mo jual motor/ rumah, trus kita pakai apa?

Kemana kita minjem? Investasi itu khan ibarat sedia payung sebelum hujan. Musibah banjir payungnya bendungan, saluran irigasi

kalo masalah keuangan lagi krisis Payungnya khan tabungan/investasi.

Jadi tabungan/ investasi ngak dilarang juga khan. Asalkan tujuannya baik & sdh bayar kewajiban: zakat, shodaqoh, infaq dll yg tiap bulannya anggap saja 10% dari pendapatan bersih kita.

Sisanya 10% bisa kita invest khan, anggap saja 10%*2jt=200rb.Org ada yg suka invest di sektor real maupun sektor perbankan syariah yg menawarkan asuransi, investasi syariah dll

Bagi yg mau invest ke sektor perbankan uang 200rb disimpan di bank syariah dlm bentuk deposito & tentu dapat bagi hasil keuntungan, ada reksadana syariah, uangnya dikumpulin oleh manajer investasi: misal : 10.000org x 100rb= 1M. Uang ini khan dipakai modal usaha oleh manajer investasi/yg ahli dalam dunia usaha & keuntungannya di bagi ke para penanam modal. Kalo bertahun2 khan usahanya bisa semakin besar & untungnya dibagi lg ke penanam modalnya. Ini jg salah satu contoh investasi.

Yg suka ke sektor real uang 200 rb ini bisa kita buat modal usaha kecil, contohnya jual baju muslim, sarung, dll. Asal kita ulet bisa berkembang uang invest kita ini.

Contoh: Koperasi itu khan juga inestasi karyawan karena kita dapat SHU.

Kalo ngak salah di dekat pabrik semen cibinong ada POM bensin bertuliskan: MILIK KOPERASI KARYAWAN PT. SEMEN …..” Mantap dech koperasi ini bisa punya pom bensin.

POM bensin ini selalu penuh dengan mobil2 Truk besar yg mengisi BBM karena posisinya: Pas pintu masuk-keluar Tol.

Coba bandingin dgn hasil SHU koperasi yg cuman jualan teh botol, rokok, mini mart mengharapkan hasil invest besar…mimpi kali yee.

Andai saja para Karyawan di kawasan MM2100 iuran uang tiap bulan: Rp50rb*50rb karyawan=2500jt=2.5M/bln utk modal usaha, trus uangnya digunakan membuka POM bensin, Warung Makan-Kantin, Bus jemputan, Mobil yg disewa perusahaan, Jasa Catering dibawah Bendera KOPERASI KARYAWAN INDUSTRI MM2100, pasti koperasi ini berkembang pesat, SHU nya besar, asalkan diberi hak2 istimewa utk mengelola usaha2 tersebut. Para Pengurus Koperasi bisa merekrut manajer2, karyawan yg handal dlm pengelolannya. Pasti karyawan ada tambahan pemasukan & sejahtera. Cuman sayangnya: wilayah2 bisnis strategis (istilahnya basah) tersebut sdh dikuasai oleh beberapa org & mereka tdk mau posisinya tergeres. Bukankah ini contoh investasi juga.

[CATHAR] Tentang Investasi

Posted by: “ais efa” arista.kristiawan@yahoo.com arista.kristiawan

Thu Oct 16, 2008 8:46 pm (PDT)

Sepertinya Bung Ahmad melihat Investasi dgn pola pandang negatif yaa…
pikir saya kita harus melihat dgn sudut pandang positif.

1 Investasi sesungguhnya adalah yang dapat membawa kebaikan dunia hingga ke akherat kelak. Yup…, contohnya ZIS itu membawa dampak bagi saudara kita yg berhak menerima dan PASTI invest itu brguna di akherat, terlepas dari ruh amalnya. Investasi nilainya gak harus besar, boleh jadi kecil di mata manusia tp besar di sisi Allah swt. Saya pun berpenghasilan yg pas2an tp saya berusaha utk bisa investasi dr penghasilan saya minimal ZIS.

2. Investasi memang menyimpan dan mengembangkan uang, tapi bila niatnya utk keperluan keluarga, saya ingin memberikan kehidupan keluarga yg lebih baik dengan mengajarkan keluarga saya ttg kedermawanan, membantu saudara yg lain, bukannya tgn diatas lebih mulia drpd tgn dibawah. Kalo menumpuk harta utk tujuan gak jelas or just for fun aja itu urusan dia sama Allah swt, bukannya segala harta kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Gak ada jaminan kita hidup berapa lama, setidaknya kita bisa meninggalkan ajaran nilai2 mulia kepada keluarga kita yg kita tinggalkan ttg investasi yg sebenarnya. Investasi Harta/uang adalah jangka menengah utk keperluan mendadak bila anak sakit, pendidikan/sekolah, gak mau kan minta-minta?!

3. Menumpuk harta jgn jadi pekerjaan dong… harta hrs berkah mo banyak or sedikit yg penting bisa membawa diri lebih dekat kepada Allah swt. Bgaimana dgn Nabi Sulaiman as apakah hina dgn hartanya? beberapa sahabat nabi saw yg kaya pun ada tp apakah hina dgn hartanya? yg menjadi hina bila ia menyangka bahwa harta ini milik dirinya seutuhnya, semua atas kerja kerasnya, tdk mau membantu saudara yg memerlukannya, tdk zis, dsb. yg paling para adalah hartanya sedikit tp ngedumel mulu gak pernah bersyukur malah su’udzon nyalahin orang kaya.

4. Konotasi harta dgn saham, obligasi dll adalah pandangan yg salah, maka harus diluruskan. saya setuju dgn Bung Ahmad, bahwa sedekah pembangunan masjid, pesantren, menolong orang adalah investasi sesungguhnya.

Luruskan makna investasi bgi kita semua bahwa Investasi sebenarnya adalah yg membawa kebaikan didunia dan bernilai di akherat, membawa keberkahan yg membuat diri semakin taat kepada Allah swt.

Ais

Re: [Dana_Abadi] Tentang Investasi

Posted by: “Achmad Rizani” Achmad.Rizani@jobppej-pps.com

Wed Oct 15, 2008 11:26 pm (PDT)

Assalamu’alaikumsalamWrWb,

Mudah2an saja orang-orang yang berinvestasi tsb tidak lupa dengan kewajibannya untuk membayar Zakat.

Wassalamu’alaikumWrWb.

arz

Re: Tentang Investasi

Posted by: “MasGagah” alva80@indo.net.id alvath_okeh

Wed Oct 15, 2008 11:51 pm (PDT)

Ivestasi…?

Bagaimana kalau investasi dalam bentuk sedekah. Bukankah semakin banyak kita memberi semakin banyak kita akan menerima!
——-

WYSIWYG (What You Share Is What You Get)

Apa yang Anda Berikan adalah Yang Anda Dapatkan

Share is Giving, Berbagi adalah Memberi. Coba hitung berapa banyak usaha kita untuk membahagiakan orang lain. Dengan sedekah? Dengan memberikan pinjaman uang/barang kepada saudara, teman atau sahabat kita yang benar-benar membutuhkan? Atau dengan menjadi orangtua asuh bagi anak-anak yang butuh bantuan untuk sekolahnya?

Apa yang Anda harapkan dari semua itu? Kebahagiaan. Untuk siapa.?

Saat memberi sesungguhnya Anda sedang memberi diri Anda sendiri. Saat Anda membahagiakan orang lain, sesungguhnya Anda membahagiakan diri Anda sendiri, sekarang dan nanti. Semuanya hanya untuk Anda.

Mengapa.? Karena melalui Andalah kebahagiaan dari Alloh Ta’ala itu datang. Sebesar apa kebahagiaan yang Anda berikan kepada orang lain, sebesar itu pula kebahagiaan yg Anda dapat. Bahkan lebih, karena Alloh yang Maha Agung lebih besar kasih sayangnya dari kasih sayang Anda kepada orang yg Anda bahagiakan.

Investasi? Mengapa tidak kita ganti menjadi Sedekah.

Salam dan Senyum,

.:MasGagah:.

http://www.masgagah80.blogspot.com/
YM: masgagah80

Bls: [Tauziyah] Tentang Investasi

Posted by: “nadhira naura” nadhiranaura@yahoo.co.id nadhiranaura

Wed Oct 15, 2008 11:27 pm (PDT)

setuju banget pak sopian…

Tentang Investasi

Posted by: “Okki” okkiewi@hotpop.com okkilogan

Thu Oct 16, 2008 8:41 pm (PDT)

memang ada benarnya juga sih, tapi bagi kalangan menengah seperti saya sangat sulit membangun hidup yang wajar tanpa berinvestasi dari sekarang. Lagi pula, apakah menabung adalah perbuatan haram ? kita tidak tahu apa yang terjadi esok, Iman saya juga belum sekuat Rasulullah SAW yang dijamin oleh ALLAH SWT, apalagi adalah kewajiban saya untuk memenuhi nafkah bagi Istri dan anak saya, yang kalo hanya mengandalkan gaji yang saya dapat, sulit dibayangkan melihat kebutuhan hidup saat ini. Intinya bahwa Investasi di Dunia juga penting disamping Investasi Akhirat, karena bukankah Rasulullah pernah berkata : “Beribadahlah engkau seolah-olah engkau akan mati besok dan bekerjalah seolah-olah engkau akan hidup selamamnya” ??

Re: Tentang Investasi

Posted by: “Agus Wahyu Sudarmaji” aguswahyu@transtv.co.id agusman_1981

Thu Oct 16, 2008 9:17 pm (PDT)

“Beribadahlah engkau seolah-olah engkau akan mati besok dan bekerjalah
seolah-olah engkau akan hidup selamamnya” ??

Merujuk pada hadits tersebut, saya pernah mendengar dalam sebuah kajian
bahwa hadits tersebut dhoif…
Tetapi unruk rincian jelasnya, saya kurang mengetahui,,,
Cmiiw,

Re: Tentang Investasi

Posted by: “PD-DE làmþdá” pd_03@sami.co.id

Thu Oct 16, 2008 9:22 pm (PDT)

Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh

sedikit sharing dari saya

saya ingin sekali berinvestasi..dalam artian yang halal…misal beternak, dagang dll.
dengan harapan bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sekarang dan InsyaAllah saya bisa lebih bersujud kepada ALLAH dengan jalan bersedekah kepada anak yatim piatu , fakir dan miskin, bisa menikah, naik haji dll
sehingga bisa sukses dunia-akherat..semoga dengan niat dan tujuan hidup yang baik akan diberi jalan yang tak terduga dari ALLAH
mohon doanya dari rekan2 milis sekalian.

menurut saya, apabila kita bisa membantu orang, kita bisa lebih mudah mengajak orang yang kita bantu menuju ke arah yang lebih baik.

Wassalamu’alaykum wr. wb.
heri

Gadis Tersesat

October 14, 2008

Gadis Tersesat ~ grass rock

Ada seorang gadis Cantik dan malu-malu

Merenung dalam sepi Seperti mengharapkan

Keajaiban akan datang padanya

Gadis manis terlena Impian kotor juga

Datang kawan baginya Badai topan seakan melanda

Kawan datang membawa bencana

*Tanpa ragu-ragu Gadis manis melangkah

Menuju pintu keluar Dan siap untuk terbang

Terang sangat terang Matamu memandang

Kenyataan hidup Ternyata menusuk pinggang

Coba engkau dengarkan Para ahli berkicau

Beli nasehat jitu Agar jalanmu tetap tenang

Ramai di sekitarmu Bingung dan juga pusing

Ada apa disitu Gadis manis terlena dalam

Genggaman Arjuna bertaring drakula

Bangunpun kesiangan Telat untuk belajar

Tak apa-apa… Apa!!

Ragam kejujuran berganti dengan

Gemerlapnya kebodohan……

*

Gedegan Sisabi

October 5, 2008

We call it Gedegan.

In my village, when I was a kid, “go to Gedegan” mean “swimming”. Perhaps Gedegan is Sunda language for Bendungan in Indonesian or dike/dam in English. Village Jati, my village, separated by a river from Uwung village. That river calls Sabi River or Kali Sabi in Indonesian or we, Sundanese community around that river, call it Sisabi. That “Gedegan” is in this Sisabi.

Like a lot of other civilizations who live around a river like Nile in Egypt, Yangtse in China, Eufrat in Iraq, or Gangga in India, Sisabi, eventhought only in a little part, also create many civilizations of Sundanese community; village Jati, Uwung, Rawacana.

Almost everyday Jati’s children and civilian go to Sisabi. Swimming, fishing, washing clothes/house equipment, or looking for shrimp. Sisabi cannot separated from our life. It’s part of village Jati’s life. Sisabi surrounding by trees as far as it flow. Sisabi’s water is clear, and more clear in summer. In the midde of summer, when the water debit is decresing, all people go to Sisabi to catch fish, shrimp, eel and shell.

“Go to Gedegan” mean “swimming” because almost everyday we were swimming in that river. So if any friend ask us to go to Sisabi, it’s mean he ask us to swim there. All village Jati kids can swim by learn to swim in Sisabi including me. In the first time, little kid like me when 7 years old, only allow to swim at border’s river with “Gaya Batu” or “Stone style”. Our senior teach us how to be a good swimmer. Than, after a while time step by step we can swim to middle of Sisabi. Moreover, we can climb a tree than jump to the river until our foot touch the bottom of river. We call it “Seblugan”, because the sound when we fall from tree to water is “blugg…” This is my favorite moment when I was a kid.

That is before 1985….

Everything is change when industry come to our village. Factories are build around Sisabi and throw their waste to Sisabi. Moreover, they change Sisabi from circle form to straight form. All trees and old Sisabi are elliminated. Than Sisabi change from a little river to only a big drain. Water color change everyday depend to kind of material waste color. There is no fish can live, no shrimp can find, no shell can enjoy… I’m very sad, but can do nothing……