Menuju Khilafah

Saya belajar terus untuk mencintai siapapun di bumi dan alam semesta ini. Mencitai muslim, tentu saja, karena ia saudara saya, dasarnya adalah persamaan dua kalimat syahadat, Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasuulullaah. Kapanpun dan dimanapun, kepada orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat saya akan berusaha keras mencintainya. Mencintai sesama manusia, tentu saja, dasarnya adalah bahwa tiap manusia pada dasarnya adalah hamba Allah juga, tinggal di bumi Allah, di bawah naungan langit Allah. Entah dia muslim atau bukan, kalau dia manusia saya akan berusaha mencintainya. Mencintai sesama makhluk Allah, tentu saja, apakah itu malaikat, jin, hewan, tumbuhan, tanah, air, api, angin, planet, tata surya, galaksi, universum, selama itu adalah makhluk Allah akan berusaha saya cintai. Goal yang ingin saya capai adalah saya bisa pada akhirnya mencintai Allah dengan segala keterbatasan yang ada pada saya.

Namun belajar mencintai bukan tanpa rintangan, sebab setiap kali kita berusaha mencintai, maka kebencianpun akan berusaha keras menunjukkan eksistensinya pada diri kita. Semakin besar cinta kita pada sesuatu, semakin besar pula kebencian akan berusaha muncul terhadap sesuatu yang lain. Misalnya, semakin keras kita berusaha mencintai sesama muslim, semakin hebat rasa benci kita terhadap orang yang memusuhi saudara muslim kita. Pada akhirnya, cinta dan benci mengambil peranan yang sama besar dalam diri saya, sehingga hati saya tidak bisa benar-benar bersih, masih dikotori oleh kebencian dan amarah. Jadi saya berusaha untuk tidak memposisikan diri pada suatu pertentangan frontal jika masih bisa dihindari.

Hanya saja kenyataan, adalah banyak orang-orang yang menjadi perusak di bumi Allah ini. Kerusakan dan angkara murka menampakkan diri dengan leluasa dan kasat mata, dalam bentuk fisik apalagi dalam moral spiritual. Dalam hal ini, cinta dan benci saja sama sekali tidak bisa mencukupi untuk mendamaikan semua. Perlu kekuatan untuk mencegah kedzaliman suatu golongan atas golongan yang lain. Perlu kekuatan dan keberanian untuk melindungi yang lemah tak berdaya terhadap si kuat yang semena-mena. Perlu kebijaksanaan dan kekuasaan agar yang kuat tidak menindas yang lemah. Kekuatan-kekuatan baik harus disatukan untuk mencegah kekuatan-kekuatan jahat semakin merajalela. Islam adalah satu, dan Syaithon adalah satu, kapanpun dan dimanapun, Kekuatan Islam harus berhadapan dengan kekuatan Thagut, suka atau tidak, terpaksa ataupun sukarela. Islam tidak mengajarkan untuk membenci siapapun, bahkan sebaliknya, membawa cinta dan kedamaian untuk semua, tetapi manakala ada segolongan manusia yang menindas dengan sifat thagut dan syaiton terhadap manusia lain, maka Islam berdiri paling depan untuk menghadapi angkara murka itu. Bukan melenyapkan manusianya, tetapi menahan sifat thagut dan syaiton yang ada padanya.

Lalu bagaimana caranya membangun kekuatan itu ?

Kekuatan itu bukan tidak ada, tetapi masih merupakan kekuatan-keuatan kecil yang tersebar di seluruh permukaan bumi. Kekuatan-kekuatan kecil, betapapun banyaknya, tetaplah sebagai kekuatan kecil. Sebuah batu bata atau sebutir pasir bukan tidak memiliki kekuatan, hanya saja kekuatannya terlalu kecil untuk diperhitungkan. Kekuatan batu bata atau pasir itu baru akan dirasakan ketika banyak batu bata lain dan banyak butir-butir pasir yang lain disatukan oleh air dan semen menjadi sebuah tembok yang kukuh.

Jika Islam adalah sebuah bangunan yang PERNAH tegak kukuh kuat berdiri, dan lalu karena badai yang sangat besar, juga karena berbagai sebab bangunan itu runtuh, maka sama sekali tidak ada salahnya, bahkan seharusnya bangunan itu ditegakkan kembali untuk menaungi para penghuninya yang tercerai berai ke segala arah akibat robohnya bangunan tersebut. Untuk itu perlu kemauan, niat, motivasi, semangat, modal, tukang, bahan-bahan bangunan, dan SATU orang pimpinan proyek, agar pembangunan kembali itu bisa teratur, terarah, dan terencana. Sementara itu, semua orang harus ikut berpartisipasi sebesar kemampuannya untuk mengumpulkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menegakkan dan membangun kembali bangunan yang runtuh tersebut. Yang mampu menyumbang kayu, silahkan, batu bata, silahkan, besi, silahkan, pasir, semen, air, uang, tenaga, keahlian, saran, dan lain sebagainya, nanti pimpinan proyek yang akan tahu alokasi bahan-bahan dan tenaga tersebut. Bagaimana menentukan satu pimpinan proyek ? Tentu saja untuk tahap awal para penghuni yang tercerai berai itu harus berkomunikasi satu sama lain, berembuk bersama, saling sumbang saran, kritik dilandasi tujuan bersama yang satu. Insya Allah, pada akhirnya, jika tiap penghuni dalam komunikasi itu melempar jauh segala kehendak pribadi dengan jujur, dan bersama menuju satu tujuan, akan ada SATU orang yang akan pantas dan disepakai bersama untuk menjadi Pimpinan Proyek.

Bekasi, 10 Agustus 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: