Menutup Senyum Kapitalisme

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Dien (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) dien yang lurus; tetapi kebanya- kan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Ruum : 30)

Ramadhan terus menggelinding meninggalkan kita, dan Idul Fitri dengan segala haru birunya akan segera datang menyapa. Ibadah puasa tahun ini akan segera tuntas, meninggalkan kesedihan karena kita tidak dapat beribadah secara maksimal, mumpung pahala ibadah bulan ini berlipat amat besar, dan bulan ”Syawwal” segera menjelang menuntut ”Peningkatan” dari diri-diri pelaku puasa Ramadhan yang berpuasa dengan ”penuh warna”.

Mari kita ingat kembali tujuan Allah SWT memberikan ”hadiah puasa Ramadhan” bagi orang-orang beriman, yaitu ”agar kalian bertaqwa”.

Taqwa artinya melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya. Taqwa menuntut jihad dari tiap-tiap diri seorang mukmin untuk sungguh-sungguh seiring dan sejalan dengan ketentuan Allah SWT. Taqwa merepresentasikan kecintaan seorang mukmin sebagai hamba kepada Allah, khaliqnya. Taqwa bermakna seorang mukmin takut akan adzab Tuhannya dan berharap meraih ridha dan surga-Nya dengan jalan menerima segala ketentuan-Nya.

Allah SWT. tidak serta merta menuntut ketaqwaan seorang hamba tanpa memberikan cara dan jalan baginya. Karena itu Allah mewajibkan puasa Ramadhan sebagai salah satu cara meraih predikat taqwa tersebut. Jika demikian marilah masing-masing kita mengevaluasi laku puasa yang kita laksanakan. Tanyalah pada nurani kita, sudahkah puasa kita membawa kita menjadi manusia yang mengenakan pakaian taqwa ? dan jika jawabannya positif ”ya, tanyalah lebih lanjut apa ciri dan tandanya ?

Masing-masing kita dapat menilai diri sendiri tentang seberapa banyak laku puasa kita telah menjadikan kita manusia baru yang lebih cinta kepada melaksanakan ketentuan Allah, ketimbang perintah nafsu amarah kita. Seberapa besar kemampuan kita untuk meninggalkan larangan-Nya ketimbang menurutkan angkara murka. Dengan perenungan dan tafakkur beberapa menit saja kita dapat memperoleh jawabannya.

Jika tujuan puasa yang digariskan Allah SWT dapat dicapai, maka layaklah kita merayakan ”Ied al-fitri”, ”kembali kepada fitrah”. Fitrah manusia secara default, yaitu dien yang hanief, yang dengan fitrah itu Allah menciptakan manusia. Ketaatan, ketundukan dan kepatuhan, serta penyerahan diri secara total kepada rabb manusia. Rabb adalah ”pencipta, pendidik, pemelihara”, yang diakui secara azali oleh manusia tatkala ketika itu ”Aku persaksikan kepada mereka (eksistensi-Ku) atas diri mereka, Bukankah Aku ini rabb-mu?, dan manusia menjawab : benar (Engkaulah rabb kami)”.

Setiap manusia diciptakan dengan sebuah default, sebuah ketentuan dan ketetapan dasar, atas suatu fitrah, yaitu Tauhid kepada Allah SWT. Naluri utama setiap manusia adalah satu tuhan dan bertuhan, karena itu tidak heran dahulu kala ada orang komunis yang berkata ”only God can create a tree”.

Maka laku puasa Ramadhan kita hanyalah upaya pengembalian fitrah tersebut kepada masing-masing kita agar kita kembali mengukuhkan tauhid kita kepada Allah SWT., yang selama sebelas bulan di luar Ramadhan telah terkontaminasi oleh berbagai hal lain yang secara sengaja atau tidak telah kita pertuhankan, termasuk penuhanan kita terhadap materialisme kapitalisme.

So, cobalah telaah kembali diri kita, apa yang kita lakukan dengan hari-hari terakhir puasa kita, dari situ kita akan lebih mengerti layak tidaknya kita merayakan ’ied al-fitri:

1. Sebagian kita akan semakin pusing tujuh keliling karena belum cukup banyak uang di tangan untuk membeli segala macam dan berbagai hal berkenaan dengan lebaran. Setiap tindakan yang mungkin mendatangkan uang akan segera dilaksanakan. Keluhan-keluhan akan semakin banyak terlontar dari mulut kita, dan akhirnya setelah cukup uang terkumpul, termasuk dari THR yang didapat dari tempat bekerja, kita akan dapat sedikit tersenyum….

Di sisi lain…. Senyum kapitalisme merekah dan para pengusaha dapat tertawa puas menyaksikan komoditi mereka laku keras diserbu para pelaku puasa yang bersiap berhari raya… hayyaaaa… laku ee…. oe tambah kayaa.

Saya sama sekali tidak berpretensi untuk mencampuri urusan anda dengan uang anda. Saya hanya ingin katakan bahwa Rasulullah, percayalah, tidak memborong segala macam benda dan makanan secara berlebihan di akhir-akhir Ramadhan. Beliau tetap bersahaja dan seperlunya saja.

Jikapun tetap anda harus banyak belanja, belanjalah pada pengusaha muslim. Mungkin seribu atau duaribu lebih tinggi harganya, namun keuntungan yang mereka dapat, Insya Allah, akan kembali untuk umat Islam juga, sebab para pengusaha muslim itu menggunakan keuntungan usahanya untuk menyekolahkan anaknya yang juga muslim, mereka bersedekah dan membayar zakat kepada orang Islam, dan merekrut pekerja yang juga muslim.

Saya ingin mengajak anda, sesama muslim, dengan budaya konsumerisme yang mungkin ada pada kita, untuk memberdayakan ekonomi ummat dengan cara menjaga agar perputaran uang kaum muslim tetap pada orang Islam. Yakinlah ini bisa kita lakukan.

2. Sebagian kita sibuk mempersiapkan segala hal untuk dibawa mudik alias pulang ke kampung/kota kelahirannya. Dalam ’Ied al Fitri memang terkandung kata ’ied yang berarti ”kembali” dan fitr yang berarti ”penciptaan”. Hebat orang Indonesia, karena cuma di Indonesia ini iedul fitri berarti ”kembali ke asal pertama kali tercipta”, kembali ke kampung halaman.

Tahukah anda, bahwa Rasulullah SAW tidak mudik menjelang Idul Fitri. Beliau tetap di Madinah melaksanakan kewajiban-kewajibannya.

Tentu sangat indah sebuah silaturrahim, dan amat damai berkumpul dengan sanak kadang tercinta, dan sungguh nyaman menghirup udara segar kampung halaman, namun ingin saya ingatkan kembali, bahwa kewajiban menyambung tali silaturrhim tidak perlu menunggu lebaran, dan saling bermaafan tidak mesti menanti Idul Fitri. Silaturrahim harus disambung kapanpun dan dimanapun, dan memohon maaf atas kesalahan kita pada orang lain jangan ditunda-tunda, lakukan dengan segera, karena tidak ada yang bisa menjamin kita tetap hidup hingga lebaran tiba.

3. Sebagian kita akan mengintensifkan ibadahnya, memenuhi masjid-masjid untuk i’tikaaf, memperbanyak membaca, menelaah dan memahami Al-Qur’an, bersedekah sebanyak mungkin di samping membayar zakat yang memang wajib, dan segala hal yang menambah kedekatan kepada Allah SWT.

Ini baru anjuran dan Sunnah Rasulullah SAW. Hari-hari menjelang Idul Fitri, hari-hari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, lebih banyak dihabiskan Rasulullah di Masjid. Ber-i’tikaaf, membaca Al-Qura’an, shalat dan berdoa memohon ampunan Allah SWT. Mumpung masih Ramadhan, mumpung pahala ibadah kita berlipat ganda, mumpung pintu rahmat dan maghfirah dibuka lebar, mumpung Ramadhan belum meninggalkan kita.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: