Raisa Adila Sopiani

Ada harapan besar dari nama yang kupilihkan untuk anak pertamaku ini. Aku ingin dia menjadi presiden Endonesa yang adil dan bisa membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat, serta mewujudkan Endonesa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Rais itu bahasa arab, adil juga bahasa arab.

Jerit tangisnya memecah udara Leuwiliang, Bogor untuk pertama kalinya pada hampir tengah malam, pukul 23.55 WIB di ruang praktek bidan Tati. Aku ingat saat itu tanggal 29 Oktober 1998. Padahal mimpipun tidak dia akan lahir pada hari itu. Pasalnya, ketika pulang kerja dari Jakarta, aku bingung, mengapa di rumah ramai sekali ? semuanya kumpul… ada apa?? Aku pikir ada sesuatu yang buruk… tak ada yang bicara. Aku masuk kamar dan mendapati istriku sedang diusap-usap perutnya yang buncit oleh Teh Titi… Kenapa Teh..? Ini… Dedenya mau keluar…! Heeeh….. ?? Loh… kok gak nelpon, ngasih tau…? Tidak apa-apa, masih lama kok keluarnya…. saat itu sekitar lepas ashar…

Bayi perempuan yang mungil. Berat lahirnya 3.2 kg. panjangnya 50 cm. Aku memilihkan sendiri namanya dari hasil kontemplasi beberapa hari; Raisa Adila Sopiani. Beberapa orang mengira ada hubungan nama itu dengan Pak Amien Rais yang tahun tersebut sedang tenar-tenarnya. Tetapi sesungguhnya tidak. Nama itu muncul lebih pada kerinduanku pada sosok pemimpin yang adil yang akan membawa Endonesa pada masa depan yang jauh lebih baik.

29 Oktober 2008 mendatang usianya menurut tahun syamsiah genap 10 tahun. itu artinya ia sudah masuk masa mumayyiz yang boleh dipukul kalau tidak mau shalat. Tapi Alhamdulillah, perkembangannya cukup baik. Tanda-tanda ia mau shalat tanpa dipaksa sudah amat jelas, walau masih sering disuruh dan diingatkan. Anak-anak kan memang seperti itu, harus selalu diingatkan untuk shalat.

Kecerdasannya juga menunjukkan tingkat yang lumayan. sudah bisa baca tulis sejak TK, bisa baca Al-Quran sejak kelas 2 SD, hampir selalu mendapat point tertinggi di kelasnya, cepat mengerti hal-hal baru, banyak bertanya untuk hal-hal yang belum ia ketahui, bisa menilai keadaan dan situasi, memberi respon bila ditanya atau mendapatkan jawaban, dan bawelnya minta ampun. Tapi anak-anak bawel menunjukkan otaknya terus bekerja bukan?

Yang suka bikin kheqhi, dia selalu ngeyel… kalo dinasehatin atau dikasih tahu, seringnya membantah, kalau dilarang, lebih galak dia, kalau disuruh, selalu menunda-nunda dan akhirnya gak dikerjain… sombongnya kadang suka menyeruak keluar… kalo disuruh belajar bilangnya “gak belajar aja bisa juara…” halaah.. cape deeh…

Bodynya yang tinggi lansing sangat jungkies, sama adiknya sering berantem tapi sering main bareng… ya.. namanya juga anak-anak… sulit sekali diajak berbahasa Sunda di rumah, suka nonton tipi, tapi aku larang nonton sinetron. Keras kepala dan egois tapi sering berbagi dengan adik-adik dan kawannya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: