Archive for September, 2008

Lolos Dari Maut

September 10, 2008

Innaalillaahi wa innaa ilaihi roojiuun.

Turut berbelasungkawa untuk para korban, semoga mendapat rahmat dan ampunan Allah SWT. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa bersabar dalam menerima musibah.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (Q.S. Al-Ankabuut : 57)

Pagi ini, Pukul 6 pagi masih beberapa menit lagi. Sebuah mobil Koasi (Koperasi Angkutan Bekasi) di depan Koasi yang aku tumpangi, hanya berjarak sekitar 20 meter, dihantam kereta express dari arah karawang di perlintasan dekat Stasiun Cibitung, Bekasi. Diyakini, supir dan seluruh penumpang, kecuali dua penumpang yang aku lihat berhasil meloncat keluar di saat-saat terakhir, tewas. Koasi itu terseret dan jungkir balik hampir sekitar 100 meter. Semua yang menyaksikan terpana, menganga, dan akhirnya berteriak istighfar sambil meraba dada. Tubuhku bergetar sambil istighfar, baru kali ini aku menyaksikan sebuah tragedi secara langsung di depanku.

Aku turun, tetapi tidak ada yang dapat kami lakukan, tidak terpikir apa yang bisa dilakukan, serba bingung dan tak tahu harus berbuat apa. ”Ada korban Pak?” tanyaku pada salah seorang yang lolos dari maut karena berhasil melompat keluar dari koasi naas itu. ”Pasti ada paak…” sahutnya lemas sambil mengusap-ngusap dada. Supir koasi yang kutumpangi menyuruhku naik kembali dan melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa kali istighfar, aku terpikir menelpon polisi. Aku coba hubungi nomor Polres Bekasi di ponsel; nada sambung tapi tak ada yang mengangkat setelah sekian lama. Nomor Polsek Cibitung; ”telepon yang anda hubungi belum terpasang”… halah… Polisi MM2100, nyambung, minta tolong beritahu polsek atau polres… malah nyuruh aku coba telpon lagi sambil kasih nomor… halah… pas… aku ingat di depan ada Pos Polisi Pasar Induk, segera seturunnya dari Koasi aku ke sana, pintunya masih terkunci, aku ketuk… seorang enggota yang cukup senior… (tua maksudnya) membukakan pintu. ”Selamat pagi Pak!” ”Ya selamat pagi”. ”Mau melapor pak, ada Koasi tertabrak kereta di dekat stasiun Cibitung, terseret hampir 100 m”. ”kapan?” ”barusan pak!”. ”Baik..baik…” Sang petugas segera meraih HT… “Terima kasih Pak”, kataku menutup laporan sambil balik kanan dan melanjutkan perjalanan. Di depan pos polisi, nona Mega, seorang kenalan yang bekerja di PT. DongYang, menatap heran, aku cuma bisa tersenyum dan berlalu…

Sesampai kantor, bersama Oom Dede yang juga rupanya mengkhawatirkanku men-check tetangga-tetangga yang biasa berangkat di jam itu, alhamdulillah, semua tetangga bisa dikonfirmasi selamat, kecuali beberapa tetangga jauh yang belum diketahui nomor kontaknya… semoga mereka juga selamat… aamiin.

Bekasi, 10 September 2008

Rabu, 10/09/2008 12:10 WIB
4 Korban Tewas Angkot vs KA di Cibitung Dapat Santunan PT KA
Nograhany Widhi K – detikNews

Jakarta – 4 Korban tewas akibat tabrakan kereta api (KA) dan angkot Koperasi Angkutan Bekasi (Koasi) 36 jurusan Cibitung-Cikarang, diberi santunan oleh PT Kereta Api (KA). Masing-masing korban tewas mendapat santunan Rp 25 juta.

“Kami sudah menitipkan ke PT Jasa Raharja, untuk yang meninggal Rp 25 juta,” ujar Kepala Humas PT KA Daops I dan Divisi Jabodetabek Akhmad Sujadi ketika dihubungi detikcom, Rabu (10/9/2008).

Sedangkan untuk 2 orang luka berat besaran santunan masih dihitung.

Sujadi mengatakan kecelakaan KA Gumarang jurusan Surabaya-Jakarta itu terjadi pada pukul 05.47 WIB, di perlintasan 101, KM 36+4/5 antara Cibitung-Tambun. Koasi 36 yang tertabrak terseret sejauh 20 meter.

Perlintasan ini, imbuh Sujadi, tidak dijaga oleh petugas PT KA. “Palang pintu dulu pernah dibangun. Karena kesulitan penjaganya, gajinya kan harus seumur hidup, gajinya mahal,” imbuh pria berkumis ini.

Ada 2 versi kecelakaan dalam peristiwa ini, petugas Polsek Cibitung mengatakan Koasi 36 itu nyelonong palang pintu KA begitu saja pada perlintasan turun, saat KA Gumarang melintas.

Sedangkan saksi mata bernama Ahmad Sopiani yang berada di dalam angkot tepat di belakang Koasi 36, punya cerita berbeda.

“Seingat yang saya saksikan, bunyi alarm dan palang lintasan turun, setelah Koasi itu menempel rel. Dan jarak antara alarm, palang turun, dan tertabrak, hanya beberapa detik saja,” ujar Sopiani dalam surat elektronik pada detikcom.

Dia juga melihat 2 penumpang Koasi melompat turun sebelum Koasi naas itu tertabrak kereta.

“Sopir Koasi itu juga korban, kasihan kalau harus disalahkan juga, sementara belum pasti itu kesalahan dia,” kata Sopiani.

Ketika dikonfirmasi hal ini, Sujadi mengatakan informasi yang diterimanya Koasi itu nyelonong.

“Informasinya nyelonong, palang itu dijaga oleh (petugas) Pemda Bekasi,” jelas Sujadi.(nwk/nrl)

Menuju Khilafah

September 8, 2008

Saya belajar terus untuk mencintai siapapun di bumi dan alam semesta ini. Mencitai muslim, tentu saja, karena ia saudara saya, dasarnya adalah persamaan dua kalimat syahadat, Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasuulullaah. Kapanpun dan dimanapun, kepada orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat saya akan berusaha keras mencintainya. Mencintai sesama manusia, tentu saja, dasarnya adalah bahwa tiap manusia pada dasarnya adalah hamba Allah juga, tinggal di bumi Allah, di bawah naungan langit Allah. Entah dia muslim atau bukan, kalau dia manusia saya akan berusaha mencintainya. Mencintai sesama makhluk Allah, tentu saja, apakah itu malaikat, jin, hewan, tumbuhan, tanah, air, api, angin, planet, tata surya, galaksi, universum, selama itu adalah makhluk Allah akan berusaha saya cintai. Goal yang ingin saya capai adalah saya bisa pada akhirnya mencintai Allah dengan segala keterbatasan yang ada pada saya.

Namun belajar mencintai bukan tanpa rintangan, sebab setiap kali kita berusaha mencintai, maka kebencianpun akan berusaha keras menunjukkan eksistensinya pada diri kita. Semakin besar cinta kita pada sesuatu, semakin besar pula kebencian akan berusaha muncul terhadap sesuatu yang lain. Misalnya, semakin keras kita berusaha mencintai sesama muslim, semakin hebat rasa benci kita terhadap orang yang memusuhi saudara muslim kita. Pada akhirnya, cinta dan benci mengambil peranan yang sama besar dalam diri saya, sehingga hati saya tidak bisa benar-benar bersih, masih dikotori oleh kebencian dan amarah. Jadi saya berusaha untuk tidak memposisikan diri pada suatu pertentangan frontal jika masih bisa dihindari.

Hanya saja kenyataan, adalah banyak orang-orang yang menjadi perusak di bumi Allah ini. Kerusakan dan angkara murka menampakkan diri dengan leluasa dan kasat mata, dalam bentuk fisik apalagi dalam moral spiritual. Dalam hal ini, cinta dan benci saja sama sekali tidak bisa mencukupi untuk mendamaikan semua. Perlu kekuatan untuk mencegah kedzaliman suatu golongan atas golongan yang lain. Perlu kekuatan dan keberanian untuk melindungi yang lemah tak berdaya terhadap si kuat yang semena-mena. Perlu kebijaksanaan dan kekuasaan agar yang kuat tidak menindas yang lemah. Kekuatan-kekuatan baik harus disatukan untuk mencegah kekuatan-kekuatan jahat semakin merajalela. Islam adalah satu, dan Syaithon adalah satu, kapanpun dan dimanapun, Kekuatan Islam harus berhadapan dengan kekuatan Thagut, suka atau tidak, terpaksa ataupun sukarela. Islam tidak mengajarkan untuk membenci siapapun, bahkan sebaliknya, membawa cinta dan kedamaian untuk semua, tetapi manakala ada segolongan manusia yang menindas dengan sifat thagut dan syaiton terhadap manusia lain, maka Islam berdiri paling depan untuk menghadapi angkara murka itu. Bukan melenyapkan manusianya, tetapi menahan sifat thagut dan syaiton yang ada padanya.

Lalu bagaimana caranya membangun kekuatan itu ?

Kekuatan itu bukan tidak ada, tetapi masih merupakan kekuatan-keuatan kecil yang tersebar di seluruh permukaan bumi. Kekuatan-kekuatan kecil, betapapun banyaknya, tetaplah sebagai kekuatan kecil. Sebuah batu bata atau sebutir pasir bukan tidak memiliki kekuatan, hanya saja kekuatannya terlalu kecil untuk diperhitungkan. Kekuatan batu bata atau pasir itu baru akan dirasakan ketika banyak batu bata lain dan banyak butir-butir pasir yang lain disatukan oleh air dan semen menjadi sebuah tembok yang kukuh.

Jika Islam adalah sebuah bangunan yang PERNAH tegak kukuh kuat berdiri, dan lalu karena badai yang sangat besar, juga karena berbagai sebab bangunan itu runtuh, maka sama sekali tidak ada salahnya, bahkan seharusnya bangunan itu ditegakkan kembali untuk menaungi para penghuninya yang tercerai berai ke segala arah akibat robohnya bangunan tersebut. Untuk itu perlu kemauan, niat, motivasi, semangat, modal, tukang, bahan-bahan bangunan, dan SATU orang pimpinan proyek, agar pembangunan kembali itu bisa teratur, terarah, dan terencana. Sementara itu, semua orang harus ikut berpartisipasi sebesar kemampuannya untuk mengumpulkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menegakkan dan membangun kembali bangunan yang runtuh tersebut. Yang mampu menyumbang kayu, silahkan, batu bata, silahkan, besi, silahkan, pasir, semen, air, uang, tenaga, keahlian, saran, dan lain sebagainya, nanti pimpinan proyek yang akan tahu alokasi bahan-bahan dan tenaga tersebut. Bagaimana menentukan satu pimpinan proyek ? Tentu saja untuk tahap awal para penghuni yang tercerai berai itu harus berkomunikasi satu sama lain, berembuk bersama, saling sumbang saran, kritik dilandasi tujuan bersama yang satu. Insya Allah, pada akhirnya, jika tiap penghuni dalam komunikasi itu melempar jauh segala kehendak pribadi dengan jujur, dan bersama menuju satu tujuan, akan ada SATU orang yang akan pantas dan disepakai bersama untuk menjadi Pimpinan Proyek.

Bekasi, 10 Agustus 2007

Menutup Senyum Kapitalisme

September 3, 2008

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Dien (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) dien yang lurus; tetapi kebanya- kan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Ruum : 30)

Ramadhan terus menggelinding meninggalkan kita, dan Idul Fitri dengan segala haru birunya akan segera datang menyapa. Ibadah puasa tahun ini akan segera tuntas, meninggalkan kesedihan karena kita tidak dapat beribadah secara maksimal, mumpung pahala ibadah bulan ini berlipat amat besar, dan bulan ”Syawwal” segera menjelang menuntut ”Peningkatan” dari diri-diri pelaku puasa Ramadhan yang berpuasa dengan ”penuh warna”.

Mari kita ingat kembali tujuan Allah SWT memberikan ”hadiah puasa Ramadhan” bagi orang-orang beriman, yaitu ”agar kalian bertaqwa”.

Taqwa artinya melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya. Taqwa menuntut jihad dari tiap-tiap diri seorang mukmin untuk sungguh-sungguh seiring dan sejalan dengan ketentuan Allah SWT. Taqwa merepresentasikan kecintaan seorang mukmin sebagai hamba kepada Allah, khaliqnya. Taqwa bermakna seorang mukmin takut akan adzab Tuhannya dan berharap meraih ridha dan surga-Nya dengan jalan menerima segala ketentuan-Nya.

Allah SWT. tidak serta merta menuntut ketaqwaan seorang hamba tanpa memberikan cara dan jalan baginya. Karena itu Allah mewajibkan puasa Ramadhan sebagai salah satu cara meraih predikat taqwa tersebut. Jika demikian marilah masing-masing kita mengevaluasi laku puasa yang kita laksanakan. Tanyalah pada nurani kita, sudahkah puasa kita membawa kita menjadi manusia yang mengenakan pakaian taqwa ? dan jika jawabannya positif ”ya, tanyalah lebih lanjut apa ciri dan tandanya ?

Masing-masing kita dapat menilai diri sendiri tentang seberapa banyak laku puasa kita telah menjadikan kita manusia baru yang lebih cinta kepada melaksanakan ketentuan Allah, ketimbang perintah nafsu amarah kita. Seberapa besar kemampuan kita untuk meninggalkan larangan-Nya ketimbang menurutkan angkara murka. Dengan perenungan dan tafakkur beberapa menit saja kita dapat memperoleh jawabannya.

Jika tujuan puasa yang digariskan Allah SWT dapat dicapai, maka layaklah kita merayakan ”Ied al-fitri”, ”kembali kepada fitrah”. Fitrah manusia secara default, yaitu dien yang hanief, yang dengan fitrah itu Allah menciptakan manusia. Ketaatan, ketundukan dan kepatuhan, serta penyerahan diri secara total kepada rabb manusia. Rabb adalah ”pencipta, pendidik, pemelihara”, yang diakui secara azali oleh manusia tatkala ketika itu ”Aku persaksikan kepada mereka (eksistensi-Ku) atas diri mereka, Bukankah Aku ini rabb-mu?, dan manusia menjawab : benar (Engkaulah rabb kami)”.

Setiap manusia diciptakan dengan sebuah default, sebuah ketentuan dan ketetapan dasar, atas suatu fitrah, yaitu Tauhid kepada Allah SWT. Naluri utama setiap manusia adalah satu tuhan dan bertuhan, karena itu tidak heran dahulu kala ada orang komunis yang berkata ”only God can create a tree”.

Maka laku puasa Ramadhan kita hanyalah upaya pengembalian fitrah tersebut kepada masing-masing kita agar kita kembali mengukuhkan tauhid kita kepada Allah SWT., yang selama sebelas bulan di luar Ramadhan telah terkontaminasi oleh berbagai hal lain yang secara sengaja atau tidak telah kita pertuhankan, termasuk penuhanan kita terhadap materialisme kapitalisme.

So, cobalah telaah kembali diri kita, apa yang kita lakukan dengan hari-hari terakhir puasa kita, dari situ kita akan lebih mengerti layak tidaknya kita merayakan ’ied al-fitri:

1. Sebagian kita akan semakin pusing tujuh keliling karena belum cukup banyak uang di tangan untuk membeli segala macam dan berbagai hal berkenaan dengan lebaran. Setiap tindakan yang mungkin mendatangkan uang akan segera dilaksanakan. Keluhan-keluhan akan semakin banyak terlontar dari mulut kita, dan akhirnya setelah cukup uang terkumpul, termasuk dari THR yang didapat dari tempat bekerja, kita akan dapat sedikit tersenyum….

Di sisi lain…. Senyum kapitalisme merekah dan para pengusaha dapat tertawa puas menyaksikan komoditi mereka laku keras diserbu para pelaku puasa yang bersiap berhari raya… hayyaaaa… laku ee…. oe tambah kayaa.

Saya sama sekali tidak berpretensi untuk mencampuri urusan anda dengan uang anda. Saya hanya ingin katakan bahwa Rasulullah, percayalah, tidak memborong segala macam benda dan makanan secara berlebihan di akhir-akhir Ramadhan. Beliau tetap bersahaja dan seperlunya saja.

Jikapun tetap anda harus banyak belanja, belanjalah pada pengusaha muslim. Mungkin seribu atau duaribu lebih tinggi harganya, namun keuntungan yang mereka dapat, Insya Allah, akan kembali untuk umat Islam juga, sebab para pengusaha muslim itu menggunakan keuntungan usahanya untuk menyekolahkan anaknya yang juga muslim, mereka bersedekah dan membayar zakat kepada orang Islam, dan merekrut pekerja yang juga muslim.

Saya ingin mengajak anda, sesama muslim, dengan budaya konsumerisme yang mungkin ada pada kita, untuk memberdayakan ekonomi ummat dengan cara menjaga agar perputaran uang kaum muslim tetap pada orang Islam. Yakinlah ini bisa kita lakukan.

2. Sebagian kita sibuk mempersiapkan segala hal untuk dibawa mudik alias pulang ke kampung/kota kelahirannya. Dalam ’Ied al Fitri memang terkandung kata ’ied yang berarti ”kembali” dan fitr yang berarti ”penciptaan”. Hebat orang Indonesia, karena cuma di Indonesia ini iedul fitri berarti ”kembali ke asal pertama kali tercipta”, kembali ke kampung halaman.

Tahukah anda, bahwa Rasulullah SAW tidak mudik menjelang Idul Fitri. Beliau tetap di Madinah melaksanakan kewajiban-kewajibannya.

Tentu sangat indah sebuah silaturrahim, dan amat damai berkumpul dengan sanak kadang tercinta, dan sungguh nyaman menghirup udara segar kampung halaman, namun ingin saya ingatkan kembali, bahwa kewajiban menyambung tali silaturrhim tidak perlu menunggu lebaran, dan saling bermaafan tidak mesti menanti Idul Fitri. Silaturrahim harus disambung kapanpun dan dimanapun, dan memohon maaf atas kesalahan kita pada orang lain jangan ditunda-tunda, lakukan dengan segera, karena tidak ada yang bisa menjamin kita tetap hidup hingga lebaran tiba.

3. Sebagian kita akan mengintensifkan ibadahnya, memenuhi masjid-masjid untuk i’tikaaf, memperbanyak membaca, menelaah dan memahami Al-Qur’an, bersedekah sebanyak mungkin di samping membayar zakat yang memang wajib, dan segala hal yang menambah kedekatan kepada Allah SWT.

Ini baru anjuran dan Sunnah Rasulullah SAW. Hari-hari menjelang Idul Fitri, hari-hari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, lebih banyak dihabiskan Rasulullah di Masjid. Ber-i’tikaaf, membaca Al-Qura’an, shalat dan berdoa memohon ampunan Allah SWT. Mumpung masih Ramadhan, mumpung pahala ibadah kita berlipat ganda, mumpung pintu rahmat dan maghfirah dibuka lebar, mumpung Ramadhan belum meninggalkan kita.

Wallahu a’lam.

Raisa Adila Sopiani

September 1, 2008

Ada harapan besar dari nama yang kupilihkan untuk anak pertamaku ini. Aku ingin dia menjadi presiden Endonesa yang adil dan bisa membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat, serta mewujudkan Endonesa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Rais itu bahasa arab, adil juga bahasa arab.

Jerit tangisnya memecah udara Leuwiliang, Bogor untuk pertama kalinya pada hampir tengah malam, pukul 23.55 WIB di ruang praktek bidan Tati. Aku ingat saat itu tanggal 29 Oktober 1998. Padahal mimpipun tidak dia akan lahir pada hari itu. Pasalnya, ketika pulang kerja dari Jakarta, aku bingung, mengapa di rumah ramai sekali ? semuanya kumpul… ada apa?? Aku pikir ada sesuatu yang buruk… tak ada yang bicara. Aku masuk kamar dan mendapati istriku sedang diusap-usap perutnya yang buncit oleh Teh Titi… Kenapa Teh..? Ini… Dedenya mau keluar…! Heeeh….. ?? Loh… kok gak nelpon, ngasih tau…? Tidak apa-apa, masih lama kok keluarnya…. saat itu sekitar lepas ashar…

Bayi perempuan yang mungil. Berat lahirnya 3.2 kg. panjangnya 50 cm. Aku memilihkan sendiri namanya dari hasil kontemplasi beberapa hari; Raisa Adila Sopiani. Beberapa orang mengira ada hubungan nama itu dengan Pak Amien Rais yang tahun tersebut sedang tenar-tenarnya. Tetapi sesungguhnya tidak. Nama itu muncul lebih pada kerinduanku pada sosok pemimpin yang adil yang akan membawa Endonesa pada masa depan yang jauh lebih baik.

29 Oktober 2008 mendatang usianya menurut tahun syamsiah genap 10 tahun. itu artinya ia sudah masuk masa mumayyiz yang boleh dipukul kalau tidak mau shalat. Tapi Alhamdulillah, perkembangannya cukup baik. Tanda-tanda ia mau shalat tanpa dipaksa sudah amat jelas, walau masih sering disuruh dan diingatkan. Anak-anak kan memang seperti itu, harus selalu diingatkan untuk shalat.

Kecerdasannya juga menunjukkan tingkat yang lumayan. sudah bisa baca tulis sejak TK, bisa baca Al-Quran sejak kelas 2 SD, hampir selalu mendapat point tertinggi di kelasnya, cepat mengerti hal-hal baru, banyak bertanya untuk hal-hal yang belum ia ketahui, bisa menilai keadaan dan situasi, memberi respon bila ditanya atau mendapatkan jawaban, dan bawelnya minta ampun. Tapi anak-anak bawel menunjukkan otaknya terus bekerja bukan?

Yang suka bikin kheqhi, dia selalu ngeyel… kalo dinasehatin atau dikasih tahu, seringnya membantah, kalau dilarang, lebih galak dia, kalau disuruh, selalu menunda-nunda dan akhirnya gak dikerjain… sombongnya kadang suka menyeruak keluar… kalo disuruh belajar bilangnya “gak belajar aja bisa juara…” halaah.. cape deeh…

Bodynya yang tinggi lansing sangat jungkies, sama adiknya sering berantem tapi sering main bareng… ya.. namanya juga anak-anak… sulit sekali diajak berbahasa Sunda di rumah, suka nonton tipi, tapi aku larang nonton sinetron. Keras kepala dan egois tapi sering berbagi dengan adik-adik dan kawannya….