Tanya Seputar Al-Quran

( Berikut ini adalah dialog dunia maya antara saya dan Mr. Daryono pada sekitar September 2007. saya merasa perlu untuk “mengabadikannya”.🙂 ) SP: adalah saya, Sopian.

Tanya Al Quran

Posted by: “daryono daryono” ddaryono2006@yahoo.com ddaryono2006

Fri Sep 7, 2007 1:24 am (PST)

BEBERAPA PERTANYAAN TENTANG AL QURAN

Sp: Bismillaahirrahmaanirrahiim. Saya bermohon kepada Allah untuk memberi saya pemahaman yang benar tentang Kitab Nya, yang telah di-tabyin oleh Rasul Nya dan memberi saya kekuatan untuk dapat mengamalkannya, menjadi petunjuk dalam menjalani hidup saya yang singkat dan penuh senda gurau ini. Dan semoga Allah memberi kekuatan kepada kaum mu’min dalam menghadapi musuh-musuhNya.

Berikut ini adalah berbagai pertanyaan yang menyangkut tentang Al Quran yang pernah saya lontarkan ke milis ini atau yang lainnya namun saya belum mendapatkan jawaban yg memuaskan.

Sp: Bagus sekali Pak Daryono mau bertanya tentang Al-Quran, itu artinya punya perhatian untuk membaca dan memahaminya, sehingga timbullah pertanyaan itu. Alangkah buruk mereka yang tidak peduli lagi terhadap Al-Quran dan melupakannya.

Belum mendapatkan jawaban yang memuaskan juga sangat bagus, dengan demikian kita akan terus mencari dan belajar, dan itulah semangat Islam, bahwa semua orang harus selalu belajar dan belajar, tak henti kecuali jasad sudah terpuruk di liang lahat atau tubuh berderai kena bom amerika serikat.

Terlebih dahulu saya ingin sampaikan sedikit pedoman dalam mempelajari dan memahami Al-Quran, pertama, bahwa Al-Quran itu diturunkan Allah dalam Bahasa Arab yang nyata, karena itu setiap muslim sedapat mungkin mempelajari bahasa arab untuk tujuan memahami Al-Quran dalam bahasa aslinya, itu pula mengapa duuluuu sekali, penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa-bahasa bukan arab menjadi perdebatan sengit antara yang membolehkan dan yang mengharamkannya. Namun karena sesuatu dan lain hal, banyak sekali muslim, terutama dari bangsa ‘ajm, bukan arab yang tidak bisa memahami Al-Quran dari bahasa aslinya, padahal memahami Al-Quran sifatnya dharuri, sesuatu yang mendesak. Maka belakangan penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa bukan arab untuk membantu pemahaman ‘orang awam’ akhirnya diperbolehkan dengan catatan tidak menghapus keharusan mempelajari bahasa arab dan bahwa terjemah tersebut bukanlah Al-Quran, yang disebut Al-Quran tetaplah yang dalam bahasa arab. Ini berbeda dengan bible, yang dalam bahasa apapun tetap disebut bible.

Kedua, bahwa bahasa arab memiliki uslub; nahwu, sharaf, balaghoh, ma’any yang sangat kuat dan khas dan tidak dimiliki oleh bahasa lain. Pada saat Al-Quran diturunkan bahasa arab tengah berada pada pencapaian tertingginya, karena itu penerjemahannya ke dalam bahasa lain tidak bisa sama sekali semakna dengan bahasa arabnya. Atas dasar inilah, memahami Al-Quran tidak bisa secara leksikal, tetapi harus didukung oleh faktor faktor lain sebagai pendukung antara lain penguasaan seluk beluk bahasa arab dan pengetahuan tentang sunnah Rasulullah Muhammad SAW, atas dasar ini pula, penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa bukan arab tidak merupakan tarjamah harfiyyah, tetapi lebih merupakan tarjamah tafsiriyyah, melibatkan banyak orang yang berkompeten, termasuk penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia.

Ketiga, mempelajari Al-Quran harus dilandasi niat untuk memahami dan mengamalkannya karena ia kitab petunjuk hidup, bukan untuk hal lain, misalnya mencari celah untuk mempertanyakannya, yang mungkin saja bahwa mempertanyakannya hanya akan menyulitkan diri saja, kecuali memang pertanyaan itu diperlukan untuk memperkuat pemahaman dan memperbesar motivasi pengamalan. Dalam hal ini mungkin perlu diingat firman Allah dalam Q.S. Al-Maaidah (05) ayat 101, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”

Dalam menerangkan ayat ini, para guru saya biasanya memberi contoh tentang Bani Israel yang diperintah Allah lewat Nabi Musa AS untuk menyembelih baqoroh (sapi betina), yang sifatnya nakiroh, artinya mencakup semua jenis sapi betina yang mana saja. Namun saking bandel, bawel dan pelitnya, mereka selalu nanya yang bagaimana? Yang bagaimana? Yang bagaimana? Sehingga sapi betina yang tadinya boleh yang mana saja itu akhirnya mengerucut sangat lancip menjadi spesies sapi betina yang hampir-hampir tidak dapat mereka temukan dan tentu saja menyusahkan mereka sendiri. Silahkan lihat rekaman peristiwa ini dalam Al-Quran Surat Al-Baqoroh (02) ayat 67-71.

Keempat : Al_Quran sama sekali bukan kitab iptek atau kitab sejarah, ia adalah kitab petunjuk menjalani hidup yang baik agar cukup bekal kita menghadap Allah di akhirat, kalau kemudian ada kisah sejarah atau yang berkaitan dengan iptek, itupun tidak lain dalam kerangka yang sama, mengambil pelajaran dari hal tersebut untuk meningkatkan iman dan taqwa. Kalau kemudian bermanfaat secara historis atau secara science, ya Alhamdulillah.


I.Basmalah
Dari 114 surat di Al Quran 113 surat dimulai dengan kalimat Basmalah atau kalimat Bismillahirahmanirohim yang artinya “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,”

Pertanyaan : Kenapa tidak dimulai dengan “Katakanlah : “, sebab bisa diartikan bahwa Allah sedang mendoakan atas namanya sendiri ?
Sp: Allah tidak terikat oleh aturan siapapun, Allah boleh saja memulai sesuatu atas namanya sendiri, boleh pula bersumpah atas nama makhluk ciptaanNya, bebas berkehendak. Jika Allah terikat oleh sesuatu itu artinya Dia punya kelemahan, dan sesuatu yang punya kelemahan tidak layak sama sekali menjadi Tuhan.

Kalau mau dilogikakan, yang masuk akal adalah jika semua ayat menggunakan kata “qul/katakanlah”, karena semua ayat itu diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saja dengan perintah untuk disampaikan kepada ummatnya. Misalnya : “Katakanlah : Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa…dst…

Atau sama sekali tidak usah ada kata “qul” itu, karena “Qul” itu adalah perintah kepada Nabi Muhammad saja untuk menyampaikan kata-kata sesudah “qul” itu.

Tetapi Allah tidak melakukan itu, ada ayat yang memakai “qul”, lebih banyak lagi ayat yang tidak memakai kata “qul”, karena itu sesuai dengan kehendakNya.


Pertanyaan : Kenapa dari 114 surat , satu satunya surat yang tanpa dimulai dengan Basmalah adalah Surat At Taubah ? Apakah istimewanya sehingga Surat At Taubah ini berbeda dengan yang lainnya?

Sp: Sudah membaca tarjamah Surat At-Taubah? Bagaimana isinya sejak awal ? Keras, tegas, tanpa tedeng aling-aling, ancaman, peringatan, hukuman dan lain-lain yang ditujukan untuk kaum musyrik musuh-musuh Islam. Sebuah pernyataan perang secara terbuka, akan aneh jika di awali senyum-senyum manis terlebih dahulu. Bayangkan saja Anda mendatangai sekelompok orang, lalu dengan senyum manis penuh kasih sayang Anda menyatakan perang dan permusuhan dengan mereka. Anda akan ditertawakan. Anda boleh ibaratkan basmalah itu senyum manis penuh kasih sayang.

(OOT : tahukah Anda, kata “bismillaahirrahmaanirahiim” tetap 114, sesuai jumlah surat?, yang ke 114 itu ada dalam Surat An-Naml ayat 30).

II.Surat Al Aanfal (Anfaal)

8. 12. (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka

==cut==

Pertanyaan : Ayat 8.12 ini memerintahkan untuk memenggal kepala baru kemudian memotong jari tangan , apakah itu bukan hal yang kejam (penyiksaan thd mayat) ?
Sp: Aah.. itukan perasaan Pak Daryono saja. Kata ‘wa’ dalam Al-Quran kan tidak selalu berarti runtutan perintah atau kejadian, kalau ikut logika Pak Daryono ini, tentu kita harus membayar zakat setiap kali selesai sholat….. yang bener aja pak…

Ayat itu kan tengah menggambarkan situasi perang (perang badar kubro menurut banyak pendapat), memberi semangat kepada pasukan Islam agar tetap tabah dalam berperang, yang adakalanya berkesempatan membunuh musuh dengan memenggal kepalanya, adakalanya hanya mampu menangkis saja, dan menangkis yang bagus itu kalau bisa pada jari-jari musuh yang tengah mengayunkan pedangnya….


III.Dzulkarnain
Diceritakan tentang Dzulkarnain , seorang raja yang bijaksana, muslim, taat pada Allah. Ini terdapat pada surat Al Kahfi.

18. 83. Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah:
“Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”.
18. 84. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,
18. 85. maka diapun menempuh suatu jalan.
18. 86. Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat . Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.
18. 87. Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.
18. 88. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami”.
18. 89. Kemudian dia menempuh jalan (yang lain).
18. 90. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak
menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,
18. 91. demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.
18. 92. Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi).
18. 93. Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan .
18. 94. Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”
18. 95. Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,
18. 96. berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”.
18. 97. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.
18. 98. Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”.

Pertanyaan :
Kalau menunjuk pada ayat 18.83 maka saya mengambil kesimpulan bahwa cerita tentang Dzulkarnain benar benar telah terjadi:

Sp: kesimpulan yang lumayan bagus…. J
18.3.Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah:
“Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”. Nabi Muhammad diminta untuk menjelaskan atau menerangkan riwayatnya apabila ada orang yang menanyakannya(orang bertanya tentang sesuatu hal, pasti orang tsb telah mendapat informasi sebelumnya) . Lalu siapakah sebenarnya Dzulkarnain yang dimaksud ?
Ada yang menganggap bahwa Dzulkarnain adalah Alexander Agung dari Macedonia tapi sebenarnya tidak tepat karena Alexander itu penyembah berhala dan dia seorang bisex…….

Sp: Hati-hati Pak dalam melabeli seseorang tanpa ilmu yang cukup, apalagi orang tersebut sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, yang kita tidak jelas cerita sebenarnya tentang orang tersebut. Kalau benar tidak ada manfaatnya, kalau salah malah jadi fitnah dan dosa. Orang secerdas Pak Daryono saya pikir tidak perlu berlaku seperti itu dalam melabeli seseorang di rentang kurun awal sejarah. J

Dzulqarnain, kalau tidak salah artinya “yang mempunyai dua tanduk”. Hellboy hanya punya satu tanduk di jidat jadi jelas bukan Hellboy J. Ada pernah saya dengar itu adalah nama gelar yang bermakna ia memiliki kekuasaan yang amat luas meliputi timur dan barat, sehingga diasosiasikan dengan dua tanduk yang ada di dua sisi kepala, seperti timur dan barat yang ada di dua sisi bumi….itu sebabnya banyak dikaitkan dengan perjalanan hidup Alexander the Great/Iskandar Agung…. Siapapun dia, pentingnya apa selain mengambil pelajaran dari perihidupnya yang diceritakan Al-Quran ? Ahli sejarah mau menggali lebih dalam tentang dia lalu menerka-nerka siapa orangnya, silahkan saja, tetapi sebatas itulah yang diceritakan Al-Quran, itupun lebih dari cukup untuk diambil hikmah darinya. Kalau ada Mufassir yang menyebut nama Alexander The Great, tentu ada hujjahnya berdasarkan kajian sejarah, tak perlu dipatahkan dengan tuduhan bahwa ATG itu musyrik dan bisex… (btw, bisex itu apa ya? Punya jenis kelamin dua?? Hemaprodit doong..? apa AC/DC..? J)

Pertanyaan :

18. 86. Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat
matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat . Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.

Diayat ini digunakan kata ketempat , artinya menuju ke satu tempat (yaitu tempat matahari terbenam) , kalau begitu dimanakah tempatnya matahari terbenam ?

Pertanyaan :

Kenapa tidak digunakan saja kata “ ke arah “ ? kita biasanya menunjuk arah matahari terbit atau arah matahari terbenam. Bukan tempat terbit atau tempat terbenam.

Sp: kiiita? Kita siapa? Hehehe….

Pak Dar.. kata ‘Maghrib’ pada ayat tsb memang menunjuk ‘tempat’. Di dunia Kang Ouw, atau dunia persilatan, kalau orang berjalan ‘ke arah’ matahari terbit, baru 2 kilometer juga sudah dikatakan ia melakukannya. Kalau di katakan ‘ke tempat’ matahari terbit, ia tidak akan berhenti kecuali telah sampai di tempat tujuannya. Artinya, Dzulqarnain memang mempunyai tujuan perjalanan yang pasti. Para penakluk seperti saya memang selalu punya tujuan yang pasti, daerah mana yang akan ditaklukkan J.

Di percaturan peta dunia, yang terkenal sebagai daerah Masyrik adalah Maroko dan sekitarnya, sementara daerah Maghrib, kalau tidak salah adalah anak benua India dan sekitarnya. Secara logis, daerah maghrib adalah dimana ketika berada dipantainya, kita hanya dapat melihat matahari terbenam, tidak ketika terbitnya… sebaliknya dengan daerah maghrib…

Pertanyaan :

18. 96. berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalahDzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”.

Bagaimana caranya agar besi bisa sama rata dengan kedua gunung ?

Sp: Disambung-sambung aja pak…

Mungkinkah membuat dinding yang setinggi gunung ?

Sp: Kalau bicara mungkin, apa yang tidak mungkin di dunia ini…?

Mungkinkah dengan teknologi yang ada saat itu bisa membuat tembaga (dalam jumlah besar) mendidih ?

Sp: Mungkin saja, tidak ada yg mustahil….

Untuk tujuan apa diperlukan tembaga yang mendidih ?

Untuk melapisi dinding biar tidak gampang dijebol…

Catatan : tembaga meleleh pada sekitar 700 der C , tembaga mendidih diatas 2100 der C , besi meleleh pada
1200 der C .

Sp: Dari dulu orang buat berbagai peralatan tempur dari besi, bikin baju besi juga, juga bikin peralatan dari tembaga, kan dilelehkan dulu. Kalau besi bisa dengan mudah dilelehkan oleh mereka, tembaga apa susahnya?

IV.Gunung

16:15] Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,

31:10] Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.

Pertanyaan :

Kata menancapkan gunung , berarti gunung berasal dari luar bumi (contoh lain: menancapkan paku ke kayu, paku pasti berasal dari luar kayu) padahal gunung berasal dari bagian dalam bumi akibat desakan magma atau bisa juga akibat pergerakan kulit bumi. Di ayat tsb gunung berfungsi sebagai bandul atau peredam goyangan bumi (gempa) benarkah ?

Sp: Dari luar bumi?? Hehehe.. itu kan angan-angan Pak Dar saja… sudah saya bilang, tarjamah Arab ke Bahasa lain itu agak sulit mencari padanannya, yang ketemu kata “menancapkan”, ya itulah berarti yang paling mendekati kata arabnya., yang artinya kokoh kuat tak bergeming.

Tanyalah ahli geologi dan vulkanologi, apa jadinya jika seluruh gunung di bumi ini tiba-tiba lenyap.. hanya dalam hitungan hari atau minggu, bumi ini akan menuai keruntuhan karena tidak ada pasak yang menguatkannya.. percaya deh…

V. Dua istri nabi bersama sama minta cerai

[66:1] Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
66:2] Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
66:3] Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
66:4] Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu’min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
[66:5] Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang ta’at, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

Pertanyaan :

Apa yang menjadi pangkal persoalan ini sehingga dua istri nabi bersama sama minta cerai ? ( Persoalan suami istri biasanya : 1.Masalah ekonomi 2.Ada orang ketiga 3.Masalah sex)
Ada versi yang mengatakan Nabi main sex dengan budak perempuannya yang bernama Mariah di rumah Hafsah(istri Nabi,saat itu tidak ada dirumah,waktu pulang kepergok).Hafsah marah,nabi janji nggak akan main lagi asal Hafsah tutup mulut. Hafsah lalu cerita pada Aisyah. Aisyah marah dan mereka berdua ngambek minta cerai bareng bareng.
Kenapa Allah harus turun tangan dengan “mengancam” kedua istri nabi ?

Sp: Saya kutipkan saja apa yang ditulis Husein Haekal dalam “Sejarah Hidup Muhammad” :

Ibrahim lahir

Akan tetapi tidak lama ia mengalami kesedihan itu, dengan melalui Maria orang Kopti Tuhan telah memberi karunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim, nama yang diambil dari Ibrahim leluhur para nabi, para hunif yang patuh kepada Tuhan. Sejak Maria diberikan oleh Muqauqis kepada Nabi sampai pada waktu itu masih berstatus hamba sahaja. Oleh karena itu tempatnya tidak di samping mesjid seperti isteri-isteri Nabi Umm’l-Mukminin yang lain. Oleh Muhammad ia ditempatkan di ‘Alia, di bagian luar kota Medinah, di tempat yang sekarang diberi nama Masyraba Umm Ibrahim, dalam sebuah rumah di tengah-tengah kebun anggur. Ia sering berkunjung ke sana seperti biasanya orang mengunjungi hak-miliknya. Ia mengambilnya sebagai hadiah dari Muqauqis bersama-sama saudaranya yang perempuan, Sirin, dan Sirin ini diberikannya kepada Hassan b. Thabit. Sesudah Khadijah wafat, dari semua isterinya, baik yang muda remaja atau yang sudah setengah umur, yang dulu pernah memberikan keturunan, Muhammad tidak pernah menantikan mereka masih akan memberikan keturunan lagi, yang selama sepuluh tahun berturut-turut belum ada tanda-tanda kesuburan pada mereka.

Setelah ternyata Maria mengandung dan kemudian lahir Ibrahim – ketika itu usianya sudah lampau enampuluh tahun – sangat gembira sekali ia. Rasa sukacita telah memenuhi hati manusia besar ini. Dengan kelahirannya itu kedudukan Maria dalam pandangannya tampak lebih tinggi, dari tingkat bekas-bekas budak ke derajat isteri. Ini menambah ia lebih disenangi dan lebih dekat lagi.

Isteri-isteri Nabi cemburu

Wajar sekali hal ini akan menambah rasa iri hati di kalangan isteri-isterinya yang lain, lebih-lebih karena Maria ibu Ibrahim, sedang mereka semua tidak beroleh putera. Juga pandangan Nabi kepada bayi ini sehari ke sehari makin memperbesar kecemburuan mereka. Ia sangat menghormati Salma, isteri Abu Rafi’, yang bertindak sebagai bidan Maria. Ketika lahirnya itu ia memberikan sedekah uang dengan ukuran tiap seutas rambut kepada setiap fakir miskin, dan untuk menyusukannya telah diserahkan pula kepada Umm Saif disertai tujuh ekor kambing untuk dimanfaatkan air susunya buat si bayi. Setiap hari ia singgah ke rumah Maria sekadar ingin melihat Ibrahim, dan ia pun tambah gembira setiap melihat senyuman bayi yang masih suci dan bersih itu; makin senang hatinya setiap melihat pertumbuhan bayi bertambah indah. Apa lagikah yang akan lebih besar dari semua ini, akan menimbulkan rasa iri hati dalam diri isteri-isteri yang tidak mempunyai anak itu? Dan sampai di mana pula pengaruh iri hati itu pada mereka?

Hafsha dan Aisyah memperlihatkan sikap

Dengan penuh perasaan gembira pada suatu hari Nabi datang dengan memondong Ibrahim kepada Aisyah. Dipanggilnya Aisyah supaya melihat betapa besarnya persamaan Ibrahim dengan dirinya itu. Aisyah melihat kepada bayi itu, kemudian katanya, bahwa dia tidak melihat adanya persamaan itu. Setelah dilihatnya Nabi begitu gembira karena pertumbuhan bayi itu, ia tampak marah; semua bayi yang mendapat susu seperti Ibrahim, akan sama pertumbuhannya atau akan lebih baik. Isteri-isteri Nabi telah marah dan tidak suka hati karena kelahiran Ibrahim itu, yang akibatnya tidak terbatas hanya pada jawaban-jawaban yang kasar, bahkan sudah lebih dari itu, sampai-sampai dalam sejarah Muhammad dan dalam sejarah Islam telah meninggalkan pengaruh, sehingga karenanya datang pula wahyu dan disebutkan dalam Kitabullah

Dan wajar sekali pengaruh demikian ini akan timbul, Muhammad telah memberi tempat dan kedudukan kepada isteri-isterinya demikian rupa, suatu hal yang tidak pernah dikenal di kalangan Arab. Dalam suatu keterangan Umar bin’l-Khattab berkata, “Sungguh,” kata Umar, “kalau kami dalam zaman jahiliah, wanita-wanita tidak lagi kami hargai. Baru setelah Tuhan memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula hak kepada mereka.”

Dan katanya lagi, “Ketika saya sedang dalam suatu urusan tiba-tiba isteri saya berkata: ‘Coba kau berbuat begini atau begitu. Jawab saya, ‘Ada urusan apa engkau di sini, dan perlu apa engkau dengan urusan yang kuinginkan.’ Dia pun membalas, ‘Aneh sekali engkau, Umar. Engkau tidak mau ditentang, padahal puterimu menentang Rasulullah s.a.w. sehingga ia gusar sepanjang hari. Kata Umar selanjutnya: “Kuambil mantelku, lalu aku keluar, pergi menemui Hafsha. ‘Anakku,’ kataku kepadanya. ‘Engkau menentang Rasulullah s.a.w. sampai ia merasa gusar sepanjang hari?! Hafsha menjawabnya: ‘Memang kami menentangnya.’ ‘Engkau harus tahu,’ kataku. ‘Kuperingatkan engkau jangan teperdaya. Orang telah terpesona oleh kecantikannya sendiri dan mengira cinta Rasulullah s.a.w. hanya karenanya.’ Kemudian saya pergi menemui Umm Salama, karena kami masih berkerabat. Hal ini saya bicarakan dengan dia. Lalu kata Umm Salama kepadaku: ‘Aneh sekali engkau ini, Umar! Engkau sudah ikut campur dalam segala hal, sampai-sampai mau mencampuri urusan Rasulullah s.a.w. dengan rumahtangganya!’ Kata Umar lagi: ‘Kata-katanya mempengaruhi saya sehingga tidak jadi saya melakukan apa yang sudah saya rencanakan. Lalu saya pun pergi.”

Muslim dalam Shahih-nya melaporkan, bahwa Abu Bakr pernah meminta ijin kepada Nabi akan menemuinya dan setelah diijinkan iapun masuk, kemudian datang Umar meminta ijin dan masuk pula setelah diberi ijin. Dijumpainya Nabi sedang duduk dalam keadaan masygul di tengah-tengah para isterinya yang juga sedang masygul dan diam. Ketika itu Umar berkata: “Saya akan mengatakan sesuatu yang akan membuat Nabi s.a.w. tertawa. Lalu katanya: ‘Rasulullah, kalau tuan melihat Bint Kharija3 yang meminta belanja kepada saya maka saya bangun dan saya tinju lehernya. Maka Rasulullah pun tertawa seraya katanya: ‘Mereka itu sekarang di sekelilingku meminta belanja! Ketika itu Abu Bakr lalu menghampiri Aisyah dan ditinjunya lehernya, demikian juga Umar lalu menghampiri Hafsha dan meninjunya, sambil masing-masing berkata: ‘Kalian minta yang tidak ada pada Rasulullah s.a.w.! Mereka pun menjawab: ‘Demi Allah kami samasekali tidak minta kepada Rasullullah s.a.w. sesuatu yang tidak dipunyainya.”

Sebenarnya Abu Bakr dan Umar waktu itu menemui Nabi, karena Nabi a.s. tidak tampak keluar waktu sembahyang. Karena itu kaum Muslimin bertanya-tanya apa gerangan yang mengalanginya. Dalam peristiwa Abu Bakr dan Umar dengan Aisyah dan Hafsha inilah datang firman Tuhan: “Wahai Nabi! Katakan kepada isteri-isterimu: ‘Kalau kamu menghendaki kehidupan dan perhiasan dunia, marilah kemari, akan kuberikan semua itu dan akan kuceraikan kamu dengan cara yang baik. Tetapi kalau kamu menghendaki Allah dan Rasul serta kehidupan akhirat, maka Allah telah menyediakan pahala yang besar untuk orang-orang yang berbuat kebaikan dari kalangan kamu.” (Qur’an, 33: 28-29)

Cerita Maghafir

Kemudian isteri-isteri Nabi saling mengadakan sepakat. Biasanya lepas salat asar Nabi mengunjungi isteri-isterinya. Ketika itu ia sedang berkunjung kepada Hafsha menurut satu sumber – atau kepada Zainab bt. Jahsy menurut sumber yang lain – dan lama tidak keluar, lebih dari biasanya. Hal ini telah menimbulkan rasa iri hati pada isteri-isterinya yang lain. Aisyah mengatakan: ‘Lalu aku dan Hafsha bersepakat, bahwa bilamana Nabi s.a.w. datang kepada salah seorang dari kami hendaklah berkata bahwa aku mencium bau maghafir.4 Apa kau makan maghafir?” [Maghafir ialah sesuatu yang manis rasanya, berbau tidak sedap. Sedang Nabi tidak menyukai segala yang berbau tidak enak]. Ketika ia mendatangi salah seorang dari mereka ini, hal itu oleh yang seorang ditanyakan kepadanya.

“Saya hanya minum madu di rumah Zainab bt. Jahsy, dan tidak akan saya ulang lagi,” katanya.

Menurut laporan Sauda, yang juga sudah mengadakan persepakatan yang serupa dengan Aisyah, menceritakan, bahwa setelah Nabi berada di dekatnya, ditanyanya: “Kau makan maghafir?”

“Tidak,” jawabnya.

“Ini bau apa?”

“Hafsha menyugui aku minuman dari madu.”

“Yang lebahnya mengisap ‘urfut?”

Dan bila ia mendatangi Aisyah dikatakannya seperti yang dikatakan oleh Sauda. Juga Shafia ketika dijumpainya mengatakan seperti apa yang dikatakan mereka juga. Sejak itu ia lalu mengharamkan madu untuk dirinya.

Setelah melihat kenyataan ini Sauda berkata: “Maha suci Tuhan! Madu telah jadi haram buat kita!”

Ditatapnya ia oleh Aisyah dengan pandangan mata penuh arti seraya katanya: Diam!

Nabi yang telah memberi kedudukan kepada isteri-isterinya, sedang sebelum itu, seperti wanita-wanita Arab lainnya, mereka tidak pernah mendapat penghargaan orang, sudah wajar sekali apabila sikap mereka kini mau berlebih-lebihan dalam menggunakan kebebasan, suatu hal yang tidak pernah dialami oleh sesama kaum wanita, sampai-sampai ada di antara mereka itu yang menentang Nabi dan membuat Nabi gusar sepanjang hari. Ia sudah berusaha hendak menghindarkan diri dari mereka, meninggalkan mereka, supaya sikap kasih-sayang kepada mereka itu tidak sampai membuat tingkah laku mereka tambah melampaui batas, dan sampai ada dari mereka yang mengeluarkan rasa cemburunya dengan cara yang tidak layak. Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada isteri-isteri Nabi itu sudah melampaui sopan santun, sehingga ketika terjadi percakapan antara dia dengan Aisyah, Aisyah menolak menyatakan adanya persamaan rupa Ibrahim dengan Nabi itu, dan hampir-hampir pula menuduh Maria yang bukan-bukan, yang oleh Nabi dikenal bersih.

Pernah terjadi ketika pada suatu hari Hafsha pergi mengunjungi ayahnya dan bercakap-cakap di sana, Maria datang kepada Nabi tatkala ia sedang di rumah Hafsha dan agak lama. Bila kemudian Hafsha kembali pulang dan mengetahui ada Maria di rumahnya, ia menunggu keluarnya Maria dengan rasa cemburu yang sudah meluap. Makin lama ia menunggu, cemburunya pun makin menjadi. Bilamana kemudian Maria keluar, Hafsha masuk menjumpai Nabi.

“Saya sudah melihat siapa yang dengan kau tadi,” kata Hafsha. “Engkau sungguh telah menghinaku. Engkau tidak akan berbuat begitu kalau tidak kedudukanku yang rendah dalam pandanganmu.”

Muhammad segera menyadari bahwa rasa cemburulah yang telah mendorong Hafsha menyatakan apa yang telah disaksikannya itu serta membicarakannya kembali dengan Aisyah atau isteri-isterinya yang lain. Dengan maksud hendak menyenangkan perasaan Hafsha, ia bermaksud hendak bersumpah mengharamkan Maria buat dirinya kalau Hafsha tidak akan menceritakan apa yang telah disaksikannya itu. Hafsha berjanji akan melaksanakan. Tetapi rasa cemburu sudah begitu berkecamuk dalam hati, sehingga dia tidak lagi sanggup menyimpan apa yang ada dalam hatinya, dan ia pun menceritakan lagi hal itu kepada Aisyah. Aisyah memberi kesan kepada Nabi bahwa Hafsha tidak lagi dapat menyimpan rahasia. Barangkali masalahnya tidak hanya terhenti pada Hafsha dan pada Aisyah saja dari kalangan isteri Nabi. Barangkali mereka semua – yang sudah melihat bagaimana Nabi mengangkat kedudukan Maria – telah pula mengikuti Hafsha dan Aisyah ketika kedua mereka ini berterang-terang kepada Nabi sehubungan dengan Maria ini, meskipun cerita demikian sebenarnya tidak lebih daripada suatu kejadian biasa antara seorang suami dengan isterinya, atau antara seorang laki-laki dengan hamba sahaya yang sudah dihalalkan. Dan tidak perlu diributkan seperti yang dilakukan oleh kedua puteri Abu Bakr dan Umar itu, yang dari pihak mereka sendiri berusaha hendak membalas karena kecenderungan Nabi kepada Maria. Kita sudah melihat adanya semacam ketegangan dalam saat-saat tertentu antara Nabi dengan para isterinya karena soal belanja, karena soal madu Zainab, atau karena sebab-sebab lain, yang menunjukkan bahwa mereka melihat Nabi lebih mencintai Aisyah atau lebih mencintai Maria

Begitu memuncaknya keadaan mereka, sehingga pada suatu hari mereka mengutus Zainab bt. Jahsy kepada Nabi di rumah Aisyah dan dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia berlaku tidak adil terhadap para isterinya, dan karena cintanya kepada Aisyah ia telah merugikan yang lain. Bukankah setiap isteri mendapat bagian masing-masing sehari semalam? Kemudian juga Sauda; karena melihat Nabi menjauhinya dan tidak bermuka manis kepadanya, maka supaya Rasul merasa senang, ia telah mengorbankan waktu siang dan malamnya itu untuk Aisyah. Dalam berterusterang itu Zainab tidak hanya terbatas dengan mengatakan Nabi bersikap tidak adil di antara para isteri, bahkan juga ia telah mencerca Aisyah yang ketika itu sedang duduk-duduk, sehingga membuat Aisyah bersiap hendak membalasnya kalau tidak karena adanya isyarat dari Nabi, yang membuat dia jadi tenang kembali. Akan tetapi Zainab begitu bersikeras menyerangnya dan mencerca Aisyah melampaui batas, sehingga tak ada jalan lain buat Nabi kecuali membiarkan Aisyah membela diri. Ketika itu Aisyah membalas bicara dan membuat Zainab jadi terdiam. Dengan demikian Nabi merasa senang dan kagum sekali terhadap puteri Abu Bakr itu.

Pada waktu-waktu tertentu pertentangan isteri-isteri Nabi itu sudah begitu memuncak, sebab dia dianggap lebih mencintai yang seorang daripada yang lain, sehingga karenanya Nabi bermaksud hendak menceraikan mereka itu sebagian, kalau tidak karena mereka lalu memberikan kebebasan kepadanya mengenai siapa saja yang lebih disukainya. Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada mereka makin menjadi-jadi, lebih-lebih pada Aisyah. Dalam menghadapi kegigihan sikap mereka yang iri hati ini Muhammad – yang sudah mengangkat derajat mereka begitu tinggi – masih tetap lemah-lembut. Muhammad tidak punya waktu yang senggang untuk melayani sikap kegigihan serupa itu dan membiarkan dirinya dipermainkan oleh sang isteri. Mereka harus mendapat pelajaran dengan sikap yang tegas dan keras. Persoalan pada isteri-isteri itu harus dapat dikembalikan ke tempat semula. Dia harus kembali dalam ketenangannya berpikir, dalam menjalankan dakwah ajarannya, seperti yang sudah ditentukan Tuhan kepadanya itu. Dapat juga pelajaran itu berupa tindakan meninggalkan mereka atau mengancam mereka dengan perceraian. Kalau mereka mau kembali sadar, baiklah; kalau tidak, berikanlah bagiannya dan ceraikan mereka dengan cara yang baik.

Selama sebulan Nabi meninggalkan isterinya

Selama sebulan penuh akhirnya Nabi memisahkan diri dari mereka. Tiada orang yang diajaknya bicara mengenai mereka, juga orang pun tak ada yang berani memulai membicarakan masalah mereka itu. Dan selama sebulan itu ia memusatkan pikirannya pada apa yang harus dilakukannya, apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslimin dalam menjalankan dakwah Islam, serta menyebarkan agama itu keluar jazirah.

Dalam pada itu Abu Bakr dan Umar serta bapa-bapa mertua Nabi yang lain merasa gelisah sekali melihat nasib Umm’l-Mukminin (Ibu-ibu Orang-orang Beriman) serta apa yang akan terjadi karena kemarahan Rasulullah, dan karena kemarahan Rasul itu akan berakibat pula adanya kemurkaan Tuhan dan para malaikat. Bahkan sudah ada orang berkata, bahwa Nabi telah menceraikan Hafsha puteri Umar setelah ia membocorkan apa yang dijanjikannya akan dirahasiakan. Desas-desus pun beredar di kalangan Muslimin bahwa Nabi sudah menceraikan isteri-isterinya. Dalam pada itu isteri-isteri pun gelisah pula, menyesal, yang karena terdorong oleh rasa cemburu, sampai begitu jauh mereka menyakiti hati suami yang tadinya sangat lemah-lembut kepada mereka. Bagi mereka dia adalah saudara, bapa, anak dan segala yang ada dalam hidup dan di balik hidup ini.

Sekarang Muhammad sudah menghabiskan sebagian waktunya dalam sebuah bilik kecil. Dan selama ia dalam bilik itu pelayannya Rabah duduk menunggu di ambang pintu. Jalan masuk ke tempat itu melalui tangga dari batang kurma yang kasar sekali.

Sudah sebulan lamanya ia dalam bilik itu sesuai dengan niatnya hendak meninggalkan para isterinya itu samasekali. Ketika itu kaum Muslimin sedang berada dalam mesjid dalam keadaan menekur. Mereka berkata: Rasulullah s.a.w. telah menceraikan isteri-isterinya. Jelas sekali kesedihan yang mendalam itu membayang pada wajah mereka. Ketika itu Umar yang berada di tengah-tengah mereka lalu berdiri. Ia hendak pergi ke tempat Nabi dalam biliknya itu. Dipanggilnya Rabah si pelayan supaya dimintakan ijin ia hendak menemui Rasulullah. Ia melihat kepada Rabah dengan mengharapkan jawaban. Tapi rupanya Rabah tidak berkata apa-apa, yang berarti bahwa Nabi belum mengijinkan. Sekali lagi Umar mengulangi permintaan itu. Juga sekali lagi Rabah tidak memberikan jawaban. Sekali ini Umar berkata lagi dengan suara lebih keras.

Percakapan Umar dengan Nabi

“Rabah, mintakan aku ijin kepada Rasulullah s.a.w. Kukira dia sudah menduga kedatanganku ini ada hubungannnya dengan Hafsha. Sungguh, kalau dia menyuruh aku memenggal leher Hafsha, akan kupenggal.”

Sekali ini Nabi memberi ijin dan Umar pun masuk. Bila ia sudah duduk dan membuang pandang ke sekeliling tempat itu, ia menangis.

“Apa yang membuat engkau menangis, Ibn’l-Khattab?” tanya Muhammad.

Yang membuatnya menangis ialah melihat tikar tempat Nabi berbaring itu sampai membekas di rusuknya, dan bilik sempit yang tiada berisi apa-apa selain segenggam gandum, kacang-kacangan5 dan kulit yang digantungkan.

Setelah oleh Umar disebutkan apa yang telah menyebabkannya menangis itu dan Nabi mengatakan perlunya meninggalkan kehidupan duniawi, ia pun mulai kembali tenang.

Kemudian kata Umar: “Rasulullah, apa yang menyebabkan tuan tersinggung karena para isteri itu. Kalau mereka itu tuan ceraikan, niscaya Tuhan di sampingmu, demikian juga para malaikat – Jibril dan Mikail – juga saya, Abu Bakr, dan semua orang-orang beriman berada di pihakmu.”

Kemudian ia terus bicara dengan Nabi sehingga bayangan kemarahannya berangsur hilang dari wajahnya dan ia pun tertawa. Setelah Umar melihat hal ini lalu diceritakannya keadaan Muslimin yang di mesjid serta apa yang mereka katakan, bahwa Nabi telah menceraikan isteri-isterinya. Dengan adanya keterangan dari Nabi bahwa ia tidak menceraikan mereka, ia minta ijin akan mengumumkan hal ini kepada orang-orang yang sekarang masih tinggal di mesjid menunggu.

Surat At-Tahrim.

Ia pergi ke mesjid, dan dengan suara keras ia berkata kepada mereka: “Rasulullah – s.a.w. – tidak menceraikan isterinya.” Sehubungan dengan peristiwa inilah ayat-ayat suci ini turun: “Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang oleh Tuhan dihalalkan untukmu; hanya karena engkau ingin memenuhi segala yang disenangi para isterimu? Dan Allah jua Maha Pengampun dan Penyayang. Tuhan telah mewajibkan kamu melepaskan sumpah kamu itu. Dan Tuhan jua Pelindungmu, Dia mengetahui dan Bijaksana.”

Tatkala Nabi membisikkan cerita itu kepada salah seorang isterinya, maka bila ia (isteri) itu mengumumkan hal tersebut dan Tuhan mengungkapkan hal itu kepadanya, sebagian diterangkannya dan yang sebagian lagi tidak. Bila hal itu kemudian disampaikan kepada isterinya, ia bertanya: “Siapa yang mengatakan itu kepadamu?” Ia menjawab: “Yang mengatakan itu kepadaku Allah Yang Maha mengetahui. Kalau kamu berdua mau bertaubat kepada Allah maka hatimu sudah sudi menerima. Tetapi kalau kamu berdua bantu-membantu menyusahkannya, maka Tuhanlah Pelindungnya; demikian juga Jibril dan setiap orang baik-baik di kalangan orang-orang beriman; di samping itu para malaikat juga jadi penolongnya. Jika ia menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu – yang berserah diri, yang beriman, berbakti dan bertaubat, yang rendah hati beribadat dan berpuasa, janda-janda atau perawan.” (Qur’an, 66: 1-5)

Dengan demikian peristiwa itu selesai. Isteri-isteri Nabi kembali sadar, dan dia pun kembali kepada mereka setelah mereka benar-benar bertaubat, menjadi manusia yang rendah hati beribadat dan beriman. Kehidupan rumahtangganya sekarang kembali tenang, yang memang demikian diperlukan oleh setiap manusia yang sedang melaksanakan suatu beban besar yang ditugaskan kepadanya.

Apa yang sudah saya ceritakan tentang Muhammad yang sudah meninggalkan isteri-isterinya dan menyuruh mereka supaya memilih, peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah ditinggalkan serta beberapa kejadian yang sebelum itu dan akibatnya, menurut hemat saya itulah cerita yang sebenarnya mengenai sejarah kejadian ini. Cerita ini saling menguatkan satu sama lain, seperti yang ada dalam kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab hadis. Demikian juga adanya keterangan-keterangan di sana-sini mengenai diri Muhammad dan isteri-isterinya dalam pelbagai buku biografi itu. Sungguhpun begitu tiada sebuah juga buku-buku sejarah itu yang membawa peristiwa ini atau mengemukakan peristiwa-peristiwa sebelumnya serta kesimpulan-kesimpulan yang diambilnya seperti yang saya kemukakan dalam buku ini. Dalam menghadapi kejadian seperti ini oleh buku-buku sejarah Nabi itu kebanyakan dilewati begitu saja tanpa ditelaah lebih lanjut; seolah-olah ini dilihatnya sebagai barang yang kesat dipegang dan takut sekali mendekatinya. Ada lagi yang menelaah soal madu dan maghafir, tanpa sepatah kata juga menyebut-nyebut soal Hafsha dan Maria.

Sebaliknya oleh pihak Orientalis – soal Hafsha dan Maria, soal Hafsha yang membuka rahasia kepada Aisyah – hal yang dijanjikan kepada Nabi akan dirahasiakan – dijadikannya pangkal sebab semua kejadian itu. Dengan demikian mereka berusaha hendak menambah hal-hal baru untuk meyakinkan pembacanya tentang diri Nabi, bahwa dia laki-laki yang senang kepada wanita dengan cara yang tidak bersih. Menurut hemat saya, penulis-penulis sejarah dari kalangan Muslimin sendiri tidak punya alasan akan mengabaikan kejadian-kejadian ini dengan segala artinya yang sangat dalam itu seperti sudah sebagian kita kemukakan soalnya. Sedang pihak Orientalis, yang dalam hal ini sudah terpengaruh oleh nafsu ke-kristenannya, mereka sudah menyalahi cara-cara penelitian sejarah. Terhadap siapa pun lepas dari orang besar seperti Muhammad – kritik sejarah yang murni tidak dapat menerima bahwa pengungkapan Hafsha kepada Aisyah karena ia telah menemui suaminya dalam rumahnya dengan hamba sahayanya yang sudah menjadi haknya itu dan dengan demikian ia halal baginya – akan dijadikan suatu sebab kenapa Muhammad sampai meninggalkan semua isteri selama sebulan penuh, serta mengancam mereka semua akan diceraikan. Juga kritik sejarah yang murni tidak dapat menerima bahwa cerita madu itu telah juga dijadikan sebab adanya perpisahan dan ancaman itu.

Apabila orang itu orang besar seperti Muhammad, lemah-lembut seperti Muhammad, berlapang dada, tahan menderita, orang berwatak dengan segala sifat-sifat yang ada pada Muhammad, yang sudah sepakat diakui pula oleh semua penulis sejarah hidupnya, maka menggambarkan salah satu dari kedua peristiwa itu an sich sebagai sebab ia memisahkan diri dan mengancam hendak menceraikan isteri, adalah suatu hal yang kebalikannya, jauh daripada suatu cara kritik sejarah. Sebaliknya, kritik yang akan dapat diterima orang dan sejalan pula dengan logika sejarah ialah apabila peristiwa-peristiwa itu mengikuti jejak yang sebenarnya, yang akan membawa kepada kesimpulankesimpulan yang sudah pasti tidak bisa lain akan ke sana. Maka dengan demikian ia akan menjadi masalah biasa, masuk akal dan secara ilmiah dapat diterima. Dan apa yang sudah kita lakukan ini menurut hemat saya adalah langkah yang wajar dalam peristiwa itu, yakni yang sesuai dengan kebijaksanaan Muhammad, dengan segala kebesarannya, keteguhan hati serta pandangannya yang jauh.

Sp: Jadi Pak Dar, saya harap cukup jelaslah tentang istri-istri Nabi ini…

VI.Fungsi bintang

67. 5. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.

Pertanyaan :

Karena bintang dijadikan alat pelempar , tentunya bintang akan bergerak mengejar syaitan . Bintang massanya luar biasa besar sehingga bersifat lembam sementara syaitan bisa bermassa sangat kecil (bisa masuk ke urat darah kita).

Apakah ini masuk akal ?

Sp: Di Film hollywood saja, draculanya takut pada sinar matahari. Padahal Amerika biangnya rasionalisme.

Kapan kita bisa melihat bintang yang sedang mengejar syaitan ?

Sp: Rajin-rajin saja lihat-lihat Bintang setiap malam kalau pas langit cerah.

Letterlijk pak…

VII.Dua tempat terbit matahari

Lihat ayat Ar Rahman berikut ini:

55. AR RAHMAAN 17.
Tuhan memelihara kedua tempat terbit matahari dan memelihara kedua tempat terbenamnya.

Pertanyaan

Apa yang dimaksud dengan dua tempat terbit/terbenam matahari ?
Setahu saya matahari terbit dari timur dan terbenam di barat.

Sp: Tempat terbit matahari di timur itu, tidak selalu di satu titik, tetapi selalu bergeser dari satu titik ke titik lainnya, namun tidak pernah melewati rentang jarak antara dua titik, seperti jarak titik A ke titik B. Dua titik rentang jarak terbitnya matahari itulah “Masyriqaini”. Begitupun tempat terbenamnya, “Maghribaini”. Silahkan amati sendiri selama satu bulan.

Kenapa dipakai kata “tempat” bukan “arah” ?

Sp: Sudah dikomentari di atas. Hal tersebut menyangkut tempat kita manusia melihat hal tersebut.

VIII.Matahari dan bulan

Lihat ayat berikut ini :
36. 40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Pertanyaan :

Apakah ayat ini masih berlaku saat terjadi gerhana matahari total, dimana matahari dan bulan terlihat berimpit dan seolah olah matahari mendapatkan bulan ?

Sp: Itu sedang ngomongin siang dan malam tidak bisa saling mengejar dan bertumpuk, bukan tentang posisi planet-planet.

IX.Dihamparkan

79. 30. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

88. 20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan

Pertanyaan:

Biasanya benda dihamparkan di tempat yang datar, contoh menghamparkan tikar . Padahal bumi itu bulat . Apakah bumi menurut Al Quran itu datar ? Apakah menurut Al Quran bumi itu seperti tikar ?

Sp: Ada-ada saja…. Ayat Al-Quran yang itu turun untuk manusia, ngomongin apa yang dirasakan manusia terhadap bumi, bukan keadaan bumi di lihat dari planet yupiter…., coba Pak dar ke tanah kosong yang luas… lihat ke depan.. apa yang dilihat.. semuanya HAMPARAN…… itu rahmat Allah bahwa manusia merasakan bumi ini adalah hamparan, sehingga merasa lebih nyaman, bayangkan kalau manusia melihat bulatnya bumi ini…pusing kali pak… lihat dari sisi manusianya…

X. Harun

Di surat Maryam disinggung juga tentang nabi Harun :

19.28. Hai saudara perempuan Harun , ayahmu sekali-kali bukanlah
seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

Pertanyaan :

Apakah benar bahwa ayat ini menjelaskan adanya hubungan saudara antara Maryam dengan Nabi Harun ?

Sp: Sesama BANI ISRAIL tentu saja bersaudara. Tapi jumhur ulama berpendapat, ia dipanggil saudara Harun karena kesholehannya mirip Nabi Harun, dan ini diakui oleh orang-orang yang negur Maryam itu…

Apakah “saudara perempuan” itu berarti kakak/adik perempuan?

Sp: Tidak selalu.

Apakah itu berarti Nabi Harun itu satu ayah/satu ibu dengan Maryam ?

Sp: Tidak dalam arti dzahir. Kalau satu keturunan Israil ya…

XI.Proses perkembangan manusia

Ayat ayat berikut ini mencoba menjelaskan tentang penciptaan manusia dan proses dari awal sampai terbentuknya seorang manusia :

22. 5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
23. 12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
23. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
23. 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan
dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
23. 15. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.

40. 67. Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).

Pertanyaan :

Al Quran adalah kata kata Allah Yang Maha Sempurna, tentunya Al Quran adalah kitab yang sempurna juga ini diklaim sendiri oleh ayat berikut ini :
2. 2. Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
Namun demikian menurut saya penjelasan tentang perkembangan dan proses terciptanya manusia pada ayat diatas tidak lengkap. Tidak disinggung sama sekali
peran sel telur dari fihak ibu, hanya fihak ayah saja yang dianggap berperan. Padahal tidak mungkin menciptakan manusia tanpa sel telur. Secara teori bahkan mungkin untuk menciptakan manusia tanpa lewat air mani , yaitu dengan proses kloning. Jadi peran sel
telur lebih penting dibanding perannya air mani tapi kenapa tidak pernah disinggung ?

Sp: Pak Dar yang kurang gigih nyarinya kali… jauh-jauh hari Prof Ahmad Baiquni sudah mensinyalir dalam Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan, bahwa kata ‘turoob” dalam Al-Quran Surat Al-Hajj (22) ayat 5 di atas, yang selama ini diterjemahkan “tanah”, secara leksikal sebenarnya berarti debu atau jasad renik, sesuatu yang sangat amat kecil yang lebih merujuk ke “sel telur” dari pada “tanah”. Bahwa pengertian ini belum dicantumkan dalam tarjamah Indonesia yang resmi, mungkin tinggal menunggu waktu saja. Dulu kata “yasbahuun” pada Surat Yaa Siin ayat 40 diartikan “berenang”, karena itulah padanannya dalam bahasa Indonesia. Seiring waktu sekarang diartikan “beredar” : “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing BEREDAR pada garis edarnya. Jadi ya, sel telur Insya Allah sudah disinggung dengan layak…

XII.Kematian Nabi Sulaiman

Surat As Sabah ayat 14 berikut ini menjelaskan kematian nabi Sulaiman :

[14] Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya.
Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.

Pertanyaan

Nabi Sulaiman sebagai pengganti nabi Daud juga adalah seorang raja , tentunya sebagai seorang raja keberadaannya amatlah selalu dijaga oleh pembantu pembantunya . Namun menurut ayat tersebut tidak ada seorangpun yang tahu bahwa nabi Sulaiman telah meninggal sampai kemudian diketahui setelah tongkatnya dimakan rayap sehingga jenasahnya roboh.

Apakah hal itu masuk akal ?

Sp: Tidak, hal itu tidak masuk akal. Lalu kalau tidak masuk akal kenapa? Memangnya di dunia ini tidak ada yang tidak masuk akal ? lalu kalau tidak masuk akal mau bilang Allah bohong gitu?

Apakah jenasah nya tidak busuk dan berbau ?

Sp: Mayat para ahli ibadah saja banyak yang tidak busuk dan tidak bau dan tidak hancur setelah bertahun dikubur, apalagi para Nabi.

Mungkinkah jenasah bisa kaku diam tidak roboh?

Mungkin saja.

XIII.FIRAUN dan HAMAN

Firaun sering sekali disebut sebut dalam Al Quran, antara lain pada ayat ayat berikut ini :

– [28:6] dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu1114.
– [28:8] Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah
– [28:38] Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.
– [29:39] dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang
nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).
– [40:24] kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”.
[40:36] Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,

Pertanyaan

Firaun adalah nama gelar pemimpin tertinggi bangsa Mesir kuno (disebut juga Pharao), jumlahnya puluhan sejak kira kira 3000 tahun sebelum Masehi. Semua Firaun punya nama , contoh Cheops , Amenhotep , Ramses, Tutankamon , Meneptah dsb. Firaun yang dimaksud pada ayat tsb adalah jamannya Nabi Musa . Kenapa Al Quran tidak menyebut nama asli Firaun ? Lalu Firaun yang mana yang dimaksud dalam Al Quran itu ?

Sp: Di Indonesia jaman baheula, ketika seseorang sudah jadi PRABU, tidak boleh sembarang orang menyebut nama kecilnya, bisa dipancung karena tidak sopan. Fir’aun juga begitu, setelah dinobatkan jadi raja, maka semua orang harus menyebut gelar kebesarannya, “YANG MULIA”, bahkan ibu kandungnya pun harus melakukan hal yang sama jika di depan khalayak, kecuali kalau sedang cengkerama berdua saja di kamar. Istri Fir’aun sama sekali tidak boleh menyebut nama kecilnya. Cobalah pelajari tatakrama dalam istana raja-raja dan kerajaan, Insya Allah memang begitu. Al-Quran menggunakan bahasa tatakrama yang sama, karena dengan begitu yang mendengar dan membacanya bisa mengerti dan lebih nyambung. Tentang Fir’aun yang mana, silahkan yang punya kepentingan untuk itu untuk melakukan penyelidikan, bukankah di suruh oleh Al-Quran untuk menyelidik, jadilah sejarawan, kalau perlu arkeolog, dengan demikian berarti Al-Quran mendorong lahirnya profesi tertentu bagi ummat, tidak dicekoki saja, pakai tuh otak, lakukan kajian-kajian, selidiki peristiwa, biar lu pada jadi orang terkenal dan berhasil di bidang masing-masing… begitu kira-kira kata Allah dalam Al-Quran : “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan PERHATIKANLAH, (telitilah, kajilah) bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). Ali Imraan :137.

Pertanyaan

[40:36] Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,

Pada saat itu sudah ada bangunan yang sangat tinggi di Mesir , yaitu piramid Cheops di Giza yang tingginya 140 meter (bangunan ini tetap menjadi bangunan
tertinggi didunia s/d th 1800) . Apakah Firaun tidak tahu bahwa ada bangunan yang tinggi ?

Sp: Tahu kok, Fir’aun mau yang jauh lebih tinggi lagi…

Pertanyaan

Piramid dibangun dari susunan batu yang terbukti sangat kuat dan mampu bertahan ribuan tahun (piramid Cheops sudah berumur seribu tahun saat Nabi Musa lahir). Tapi Firaun kita malah minta dibuatkan bangunan dari tanah liat :

Sp: Firaun kita????????? Saya bukan pengikut Firaun, Naudzubillah…..

– [28:38] Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.

Apakah Firaun tidak tahu bahwa batu lebih kuat dari tanah liat ?

Sp: Yang begini lebih bagus kalau diterangkan arsitek… tunggu.. saya tanya teman yang arsitek dulu…..(after a few moment…)

Okeh, ini hasil wawancara saya dengan seorang teman yang arsitek :

Bahwa untuk bangunan yang sangat-sangat tinggi, pilihan kepada batu bata dari tanah liat yang dibakar sangat jauh lebih baik dari pada batu biasa (batu kali, batu gunung, batu meteor, batu granit, batu pualam, dlsbg) karena batu bata lebih ringan, efisien, penyediaan lebih cepat dan mudah, finishing yang lebih baik, lebih murah, lebih sedikit membebani pondasi, dan lebih mengikat terhadap semen atau perekat karena teksturnya yang kasar. Jadi Firaun tersebut, ternyata sangat cerdas sekali. Meski bangsa mesir bisa membuat piramid yang demikian tinggi dan luar biasa, tetapi ia tahu bahwa untuk bangunan yang lebih tinggi lagi akan lebih baik dan efisien menggunakan batu batu dari tanah liat yang dibakar. Dalam hal ini Pak Dar kalah cerdas oleh Firaun, satu kosong pak…. J

Pertanyaan

Pada ayat ayat tersebut disebut nama Haman yaitu staff nya Firaun , kenapa nama staff malah disebut sedangkan nama si boss nya tidak ?

Sp: Kalau staffnya disebut namanya tidak apa-apa, masih dalam batas kesopanan. Lagipula bisa menjadi petunjuk bagi peneliti sejarah, Firaun mana yang punya staff bernama Haman, berarti itu dia Firaun yang hidup pada jaman Nabi Musa tersebut. Di kantor saya, GM yang korea di panggil Bujangnim, tidak disebut namanya kecuali sangat perlu, sedangkan yang kepala group ke bawah di sebut Pak anu…. Pak anu…. Ikut tradisi raja-raja, hehehe… saya jadi rakyat jelatanya….. J

Terima kasih sebelumnya .

Sama-sama, semoga bermanfaat.
Wasalam,
Daryono

Wassalam, Sopian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: