Berlomba Menjadi Wali

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”.

(QS. Al-Maaidah : 51)

Oleh : Ahmad Sopiani

Jika Anda seorang yang telah menikah dan memiliki anak, maka Anda lah yang menjadi wali anak Anda bila ia telah sekolah. Kita menyebutnya Wali Murid. Namun peran Wali Murid tidaklah terbatas pada orang tua kandung si anak saja, bisa pula peran wali ini dimainkan oleh orang lain yang mengambil fungsi wali dari orang tua dan menanggung beban dan kewajiban atas si anak. Ini bisa terjadi manakala si anak sudah tidak memiliki orang tua, orang tuanya terpisah jauh darinya, atau orang tuanya tidak mampu dan ada orang lain yang bersedia mengambil peran wali bagi si anak, entah sudah menikah ataupun belum. Jadi gerangan apakah wali itu ?

Meskipun sekilas wacana wali di atas merupakan hal kecil, namun dalam khazanah ke-Islam-an ia memiliki tempat tersendiri yang tidak kalah dengan tema-tema besar lain dalam Islam. Pada kesempatan ini kita akan membahas soal wali ini pada tataran yang sedikit lebih luas -meski dalam kesempatan yang terbatas- daripada sekadar Wali Murid an sich, meskipun pada hakikatnya fungsi dan tugas seorang wali murid merepresentasikan fungsi dan tugas wali pada umumnya.

Wali Dalam Al-Quran

Kata wali dalam Al-Quran dalam berbagai bentuknya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan antara lain; pemimpin, penolong dan pelindung. Arti pemimpin antara lain dapat ditemukan dalam Surat Al-Maaidah ayat 51 di atas, An-Nahl : 63, 100; dan Al-Kahfi : 50.

Arti Penolong dapat kita lihat dalam Surat ‘Ali Imraan : 122; “Ketika dua golongan daripadamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal”. Juga dapat kita temukan dalam Surat Al-Maaidah : 55; At-Taubah : 71; Huud : 20; Al-Israa : 111; Al-Kahfi : 102; Al-Hajj : 13; dan Al-Jaatsiyah : 19.

Arti pelindung merupakan arti yang paling banyak kita temukan dalam Al-Qur’an, yang biasanya selalu bergandengan dengan kata nashier (penolong). Ini isyarat bahwa kata wali dan kata nashier merupakan kata yang setingkat dan semakna. Lihat misalnya dalam Surat Al-Baqarah : 107; “Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. Lihat juga dalam Surat Al-Baqarah : 120, 257; Ali Imran : 68; An-Nisa : 75, 89, 119, 123; Al-An’aam : 14, 51, 70, 127; Al-A’raaf : 30; Al-Anfaal : 40, 73, dan banyak lagi.

Wali merujuk kepada apapun atau siapapun yang dijadikan sandaran tempat berlindung, dijadikan penolong dan pemimpin oleh manusia, apakah ia mu’min ataupun kafir. Bentuk wali inipun bisa mengejawantah dalam rupa apapun yang diyakini memiliki pengaruh dan kekuatan untuk memimpin, menolong dan melindungi, meskipun terkadang, bahkan seringkali hanya diyakini saja bisa melindungi dan menolong serta memimpin, padahal pada kenyataannya malah melemparkan para pemohon pertolongan dan perlindungan itu ke jurang terdalam kemanusiaan. Dan yang dimaksud jurang terdalam kemanusiaan itu tiada lain adalah ketika manusia tidak lagi ingat dan sadar akan kedudukannya sebagai seorang hamba di hadapan Allah SWT.

Orang-orang kafir menjadikan thagut dan setan sebagai wali mereka, karena itu mereka hanya mendapat pemimpin, pelindung dan penolong yang hanya membawa mereka semakin dalam di kubangan pasir apung kekafiran; ” …. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah : 257).

Bagi orang mu’min, Allah telah memberi pernyataan yang amat tegas dalam Al-Qur’an bahwa wali mereka adalah Allah. Maka Allah menjadi wali bagi orang-orang mukmin; “Allah pelindung (wali) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). (Al-Baqarah : 257). Lalu bagaimana pengertian Wali Allah atau Wali yang biasa dinisbahkan kepada orang-orang shaleh tertentu yang berlaku dalam masyarakat? (Sementara kalangan NU bahkan ada yang menyebut Gus Dur sebagai wali).

Peran dan Fungsi Wali

Peran dan fungsi wali tentu tidak terlepas dari tiga pengertian wali yang kita paparkan di atas. Maka paling tidak ada tiga fungsi wali yang bisa kita kemukakan;

Pertama, fungsi kepemimpinan. Pemimpin tidak sama dengan penguasa atau pemegang suatu wewenang. Seseorang dapat disebut pemimpin jika ada yang menjadi pengikutnya, ia membawa pengikutnya kepada suatu tujuan bersama, ia menyediakan dan mengusahakan sarana untuk mencapai tujuan tersebut, dan ia mampu mengorganisasikan potensi-potensi yang ada untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai bersama. Pemimpin juga harus menyediakan suatu landasan keyakinan dan pada akhirnya harus dapat memberi kesejahteraan lahir dan bathin kepada pengikutnya.

Kedua, fungsi perlindungan. Wali bertanggung jawab untuk melindungi umatnya dari berbagai kemungkinan dan potensi bahaya yang mungkin timbul, baik bahaya yang datang secara langsung ataupun bahaya yang tidak langsung. Bahaya yang sifatnya lahir semacam serangan musuh bersenjata ataupun bahaya ruhani yang datang melalui penetresi kultur asing yang mengancam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Ketiga, fungsi pertolongan. Wali juga harus bisa memberikan pertolongan yang tepat dan segera atas segala macam ancaman yang mengancam keselamatan kehidupan umatnya. Ancaman tidak hanya bahaya yang terlihat secara lahir, namun juga bisa dalam bentuk keadaan yang membuat orang tidak berdaya dan lemah, seumpama kebodohan dan kemiskinan serta kesesatan dan keruntuhan moral.

Berdasarkan ketiga fungsi tadi, maka tidak ada yang dapat memenuhinya secara total kecuali Allah yang maha sempurna. Namun karena manusia adalah makhluk Allah yang paling suka dan sedapat mungkin bisa meniru sifat-sifat penciptanya, maka Allah memberi kesempatan pada manusia, khususnya orang-orang mu’min untuk melekatkan ketiga fungsi wali itu pada dirinya. Maka jika ketiga fungsi tadi ada pada Gus Dur misalnya, maka barulah Gus Dur layak disebut wali. Dengan demikian, siapapun yang dapat mereaslisasikan ketiga fungsi wali tadi pada dirinya, bolehlah ia disebut wali.

Memilih Wali

Menghadapi pemilu 2004, maka setiap muslim dihadapkan pada berbagai pilihan, manusia dan organisasi/partai yang mengatakan bahwa mereka adalah wali-wali yang akan menjadi pemimpin, penolong dan pelindung rakyat/umat. Klaim mereka sebagian besar tidak dapat kita iyakan namun juga tidak dapat kita sanggah, hingga kita benar-benar mengenal dan melihat apa yang mereka perbuat untuk umat. Jika ketiga fungsi wali di atas ada pada mereka, atau paling tidak mendekati, bolehlah kita memilih mereka. Karena itu, kenalilah para calon wali itu. Dengan pengamatan yang seksama kita akan tahu layak tidaknya orang tersebut menjadi wali kita, dan jangan lupa standar Islam dalam memilih wali, yaitu seperti disebutkan dalam Surat Al-Maaidah Ayat 51 di atas; “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”.

Jadi bagi kita umat Islam, pilihlah calon wali yang mu’min, benar-benar mu’min, dan memiliki atau paling tidak mendekati tiga fungsi wali di atas. Inilah saatnya kaum muslimin di Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan dengan memilih pemimpin yang sesuai standar Islam. Jika ini dilakukan dan kalimat Tauhid dapat tegak dan berkumandang di bumi pertiwi, maka kita telah menolong agama Allah, dien al-Islam. Jika usaha ini berhasil dan dinilai bagus oleh Allah, maka kita telah menjadi “Wali Allah”.

Untuk para calon wali, saya ingin mengutip pesan Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Umar;

“Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan bertanggung jawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang penjabat adalah pemimpin manusia dan ia akan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka. Manakala seorang istri pemimpin rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dia akan bertanggung jawab terhadap mereka. Seorang hamba adalah penjaga harta tuannya dan dia juga akan bertanggung jawab terhadap apa yang dijaganya. Ingatlah, kamu semua adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab terhadap apa yang kamu pimpin.

Wallahu a’lam.

Catatan penulis 2008 : Pemilu 2004 sama sekali jauh dari harapan, dan sepertinya menggantungkan harapan pada pemilu memang sesuatu yang tak berpijak pada kenyataan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: