Atas Nama Waktu

Artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. dan orang-orang yang saling menasihati tentang/dengan Kebenaran dan orang-orang yang saling menasihati tentang/dengan kesabaran”

(QS. Al-’Ashr : 1-3)

Oleh : Ahmad Sopiani

Seakan sebuah keniscayaan bahwa segala sisi kehidupan manusia di seantero bumi ini selalu diukur dalam skala untung dan rugi. Segala hal dipikirkan dan ditimbang untung dan ruginya, tak peduli apakah dia seorang saudagar, politikus, negarawan, pengacara, pemutus perkara alias hakim, entertainer, ibu rumah tangga, pengedar narkoba, bahkan Pekerja Seks Komersial sekalipun. Seluruhnya berpikir tentang keuntungan dan berharap jangan sampai dia berada dalam posisi rugi atau dirugikan, hingga banyak yang tak peduli lagi kalaupun ia merugikan pihak lain.

Al-Qur’an merekam kenyataan yang kasat mata ini dengan pernyataan tegas yang diawali sumpah Allah SWT atas nama waktu, karena pertimbangan untung rugi sesosok manusia senantiasa terkait dengan waktu dan kepiawaian manusia tersebut dalam me-manage waktu dalam pentas kehidupannya. Hingga lahirlah sebuah slogan dari kulon; Time is money.

Kenyataan bahwa Allah SWT bersumpah atas nama waktu dan dilanjutkan dengan penegasan kerugian yang diderita manusia menunjukkan kepada kita betapa pentingnya peran dan posisi waktu dalam kehidupan manusia sehubungan dengan skala untung dan rugi yang dikemukakan di awal tadi. Dan sesungguhnya manusia itu senantiasa berada dalam kerugian. Siapapun ia, kapanpun ia melata di atas bumi, ia akan selalu mengeluhkan kerugian yang menderanya, termasuk di dalamnya umat Islam, dan Tuhan menyaksikan itu.

Terkadang, seseorang bahkan berbohong bahwa ia mengalami kerugian, padahal tidak, untuk memancing keuntungan yang lebih besar lagi, seperti perkataan seorang pedagang; “wah segitu sih saya rugi, neng ! Tambah lima ribu lagi deh ! Kerugian semu semacam ini, dengan mengorbankan kejujuran, adalah juga dalam skala menarik keuntungan dan menepis kerugian.

Namun Al-qur’an menegaskan bahwa manusia itu selalu dalam kerugian, kecuali; saya sering berkata kepada kawan bahwa segala sesuatu ada kecualinya, bahkan tuhan sekalipun, seperti perkataan kita : tidak ada tuhan kecuali Allah. (walau terjemah ini tidak tepat untuk kalimat tahlil).

Pengecualian kerugian dalam Al-Qur’an ini juga merupakan dorongan agar umat Islam tidak berada dalam kerugian dan senantiasa dalam posisi beruntung, yaitu :

1. Orang – orang yang beriman. Yaitu orang – orang yang teguh dalam keimanannya kepada Allah SWT, dan hal-hal yang wajib diimani. Tidak dicampur-baurkan dengan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan bahwa rejeki manusia dipengaruhi oleh jimat yang ia miliki, yang ia peroleh dari “mbah Peteng dari lembah Mongkleng”.

Orang-orang yang beriman tidak akan gundah menghadapi beratnya hidup. Orang-orang beriman tidak akan mudah menyerah dan berputus asa. Orang-orang beriman akan senantiasa giat, gigih dan ulet dalam menjalani peran hidupnya. Orang-orang beriman tidak akan menggantungkan hidupnya pada akar yang lapuk. Iman adalah landasan dalam hidup, karena itu orang-orang beriman akan menemukan jalan untuk tinggal landas sekaligus keluar dari kerugian.

2. Dan orang-orang yang beramal shaleh.

Amal shaleh tidaklah melulu dalam pemahaman ibadah yang bersifat rituil dan rohani. Tidak hanya sebatas perilaku-perilaku yang telah diatur tata-caranya dalam Islam. Bukan hanya shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah, dan dzikir. Amal shaleh lebih merupakan sebuah etos kerja. Islam mengistilahkan etos kerja dengan amal shaleh. Mungkin itu sebabnya sebuah organisasi ke-islam-an terbesar kedua di tanah air kita menamakan segala aktivitasnya dengan istilah amal-usaha.

Amal shaleh mencakup segala macam aktivitas, jasmani maupun rohani, yang membawa manfaat bagi hidup dan kehidupan dunia dan akhirat. Seorang yang tekun shalat, ia beramal shaleh. Seorang yang bekerja menafkahi keluarga, ia beramal shaleh. Seorang hakim memutus perkara dengan adil, ia beramal shaleh, seorang yang pergi haji karena Allah, ia beramal shaleh. Siapapun yang melaksanakan sesuatu yang membawa kemaslahatan bagi umat, maka ia beramal shaleh, baik itu berorientasi dunia ataupun akhirat.

3. Dan orang-orang yang saling menasihati dengan/tentang kebenaran.

Menasihati seorang pelaku kriminal tentang bagaimana cara agar tindak kriminalnya bermetode dan berhasil baik, tentu tidak termasuk pengecualian dari kerugian kategori ketiga ini, meskipun di dunia kejahatan ada umpamanya “cara merampok dengan benar”.

Saling menasihati lebih dititikberatkan pada sebuah interaksi sosial dalam sebuah masyarakat madani, yang pranata sosialnya telah mapan. Kata saling sangat ditekankan karena sebuah tatanan sosial yang baik harus terdiri dari individu-individu yang telah sadar akan hak dan kewajibannya sebagai seorang anggota komunitas.

Kebenaran dalam isi nasihat juga harus balance dengan cara memberi nasihat yang benar. Sering terjadi isi sebuah nasihat yang benar dan diakui kebenarannya menjadi sia-sia karena disampaikan dengan cara yang tidak benar. Kebenaran dimaksud juga tidaklah kebenaran subyektif menurut pola pikir orang yang menyampaikan atau dimintai nasihat saja, tetapi hendaklah memiliki standar mutu kebenaran. Dalam Islam, kebenaran itu datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah menjadi orang-orang yang ragu.

Itulah sebabnya, para ustadz senantiasa menyandarkan apa yang disampaikannya kepada Al-Qur’an sebagai standar mutu kebenaran dalam Islam plus Sunnah Rasul sebagai satu-satunya interpretasi yang diakui Al-Qur’an; “Demikianlah kami turunkan Al-Qur’an kepadamu agar kamu jelaskan kepada mereka”.

4. Dan orang-orang yang saling menasihati dengan/tentang kesabaran.

Dalam suatu komunitas sosial, menyampaikan kebenaran harus dengan sabar dan bijaksana. Bila dilakukan dengan emosi meluap dan tanpa kesabaran, maka bisa jadi kebenaran dimaksud malah tidak membumi.

Kesabaran orang ada batasnya, betul. Kesabaran dibatasi oleh maut. Artinya kesabaran seseorang telah sampai pada batasnya tatkala maut menjemput.

Ketika seseorang dikaruniai harta yang berlimpah, ia harus sabar untuk tidak berlaku sombong, sabar supaya tidak melecehkan orang lain dengan hartanya, sabar agar tidak menggunakan hartanya di jalan sesat. Kesabaran semacam ini amat berat, sehingga bila ia bertahan untuk sabar me-manage hartanya di jalan Allah hingga maut menjemput, maka ia dijanjikan pahala yang ratusan kali lipat di sisi Allah SWT.

Demikian pula sebaliknya, jika ada orang yang dirundung kemiskinan, namun ia tetap sabar menjalani garis hidupnya, sambil tetap sabar berusaha untuk mendapat kehidupan yang lebih baik tanpa menyimpang dari jalan Allah dengan jalan munjung atau muja misalnya, hingga kemudian ajal mendatanginya, maka ia akan mendapat pahala yang besar di sisi Allah SWT.

Pada akhirnya, atas nama waktu, orang yang paling banyak menjalani empat pengecualian inilah yang benar-benar akan beruntung dan keluar dari keniscayaan manusia yang selalu merugi. Dan sungguh beruntung umat Islam karena memiliki pedoman hidup yang tidak ada duanya di muka bumi ini, Al-Qur’an.

Wallahu “a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: