Aliran kecil hidup

Sekolah di SD biasa saja bagiku, tiada yang terlalu penting, jadi belajar juga biasa saja, seperti layaknya anak kampung yang hobinya main Gundu dan Layangan atau main Saraduan di malam-malam bulan Puasa. Karenanya, ketika lulus SD dengan nilai lumayan tinggi, aku heran juga. Aku ada diposisi 2 setelah Ghazali. Ghazali itu memang sangat cerdas, meski salah satu matanya tidak sempurna. Jujur aku pikir dia itu sudah dewasa, dalam batin kecilku pernah komentar betapa Ghazali itu mestinya sudah SMP, tetapi mengapa malah lulus SD bareng aku? Posisi 3 ditempati Dian, agak gemuk tapi cantik… dia memang anak perempuan satu-satunya yang aku tahu sangat pintar. Kalau dia ternyata cuma di posisi 3, itu lebih karena nasib saja.

Seingatku aku ingin masuk pesantren selulus SD, mungkin masih terpengaruh cita-cita, tetapi entah bagaimana Abah kemudian memasukkan aku ke MTsN 1 Tangerang di Cikokol. 14 kilometer pulang pergi ke sekolah dengan sepeda tadinya, sampai di kelas dua lalu memutuskan untuk naik nagkot saja.

Yang aku ingat di MTsN 1 adalah ucapan Pak Syarifuddin, guru Bahasa Indonesia, guru senior, yang juga adalah ayahnya Eroh temanku, bahwa “nanti, saat kalian besar, tantangan kehidupan jauh lebih sulit dari yang kini kami alami…” Nyatanya memang benar begitu. Hal lain yang kuingat adalah Pak Abu Sang Kepala Sekolah, Ibu Fatmawati guru Matematika yang menawan dengan jilbab besarnya yang suka digoda sama anak-anak cowok sampai lari menangis, dan Ilmiah Idrus…. Aah.. nama yang satu itu membuat jantung tidak berdetak secara teratur… nama terakhir itu yang suka dijadikan bahan oleh istriku untuk menggodaku…🙂 Cinta kedua terlambat dikata…

Nama terakhir itu pula yang membuat aku hanyut ke Ciputat. Selulus MTsN dengan nilai NEM tertinggi, Ilmiah menyebut MAN 3 di Ciputat sebagai pilihan yang musti dipertimbangkan untuk melanjutkan sekolah, karena katanya dekat dengan IAIN. Tahu pun tidak apa itu IAIN, tetapi karena yang bicara Ilmiah Idrus, aku langsung minta rute ke MAN 3 Ciputat itu dan bersama kawanku Ahmad Farid (almarhum) mengunjunginya di suatu hari yang tak dapat kulupakan karena malu di hari pertama mengunjunginya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: