Ketahanan dan Wawasan Islam

Ketahanan dan Wawasan Islam ~ Refleksi Atas Berbagai Persoalan Ummat

Sesungguhnya, dari sisi Islam sendiri sebagai Ad-Dhien, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Islam, seumpama ia intan, akan tetap intan dimanapun ia berada. Hatta di dalam lumpur yang paling pekat sekalipun, ia akan tetap pada jati dirinya. Jadi sebagai dhien, Islam sudah sempurna, seperti halnya intan tidak mungkin kembali menjadi batuan carbon.

Dulu ada saya baca tentang pameo; “Orang Nasrani maju karena mencampakkan injil/biblenya, sementara Orang Islam mundur karena berlepas dari Al-Qur’an dan Sunnah”. Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber utama dalam Islam jelas tidak perlu dipertanyakan halnya kecuali mungkin bagi pluralis liberalis wa akhwatuha , bagi saya issu utamanya terletak pada ummat, bukan pada teks ad-dhien al-Islaam itu.

So, melihat demikian meruyaknya persoalan-persoalan ummat, rasanya sangat tidak bijaksana dan terlalu mengada-ada jika yang dibongkar adalah teks-teks dhien dalam Al-Quran dan Sunnah dan mencampakkannya ke dalam kubangan pluralisme dan liberalisme, atau menggantinya dengan keyakinan-keyakinan dan isme palsu buatan keparat-keparat thaghut pemuja dajjal dari kulon.

Jika fokus pada ummat, lalu menarik premis-premis yang bisa membuka jalan untuk berbagai persoalan ummat, ada baiknya kita kembali ke bangku sekolaan. Dulu, saya dapat pelajaran Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara, base pointnya adalah IPOLEKSOSBUDHANKAM. Ketahanan Nasional adalah kemampuan negara untuk mempertahankan eksistensi dan keutuhannya dari segala macam ancaman bahaya. Wawasan Nusantara adalah segala macam potensi yang ada di nusantara dari Sabang sampai Merauke untuk mewujudkan Ketahanan Nasional tersebut, baik dalam bentuk alam maupun manusianya.

Saya ingin bermain acak kata tentang Ummat Islam dengan berbasis pada pelajaran sekolaan tentang Ketahanan nasional dan Wawasan Nusantara tersebut.

Seumpama Islam dan Ummatnya ini adalah sebuah state, maka bangunan state itu tidak akan tahan guncangan dan terpaan badai jika salah satu dari base point IPOLEKSOSBUDHANKAMnya rapuh dan rusak. Masing-masing base point tersebut harus kuat dan sempurna dan itu memerlukan partisipasi semua untuk dapat mewujudkannya. Memerlukan semua potensi yang ada untuk mengukuhkan dan mempertahankan eksistensinya. Adalah mustahil satu orang muslim menguasai semuanya, perlu sebuah tim yang sangat besar untuk itu dan peran serta secara aktif dari semua komponen tim dalam kerjasama yang solid dan kompak. Tanpa itu, lebih baik pulang dan tidur saja, agar tidak terlalu merasa sakit ketika musuh menusuk dan membinasakan kita dan tidak perlu menyaksikan kehancuran total dengan mata terbuka.

Ideologi

Sungguhpun Islam bukan ideologi, tapi lebih merupakan jalan dan cara hidup yang mencakup semua sisi kehidupan, namun ijinkanlah, dalam acak kata ini, saya mengartikannya sebagaimana ideologi dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Toh yang kita bicarakan fokkus pada ummat bukan pada Islamnya.

Harus ada diantara ummat yang menjadi garda terdepan penjaga ideologi ummat. Jangan sampai ideologi Islam yang pondasi utamanya dua kalimat syahadat dirusak dan dinodai oleh musuh-musuh ummat yang mengintai setiap saat dan menyerang setiap kali kita berkedip. Musuh-musuh Islam secara frontal ataupun sporadis terus menerus melancarkan serangan agar ummat ragu terhadap kebenaran yang ditunjukkan oleh Allah dan Rasulnya. Musuh-musuh Islam senantiasa bahu membahu untuk meruntuhkan keyakinan ummat tentang kebenaran aqidah Islam. Selalu saja datang serangan untuk menjauhkan ummat dari keyakinan terhadap Allah dan Rasulullah. Setiap saat kita disodori keyakinan dan isme baru untuk menggantikan aqidah Islam, dan tak urung kita saksikan banyak saudara kita yang terjebak dan akhirnya menukar aqidahnya dengan segenggam isme yang ditempat asalnya tidak lain adalah sampah. Sialnya lagi, mereka tidak menyadari atau tidak mau peduli bahwa itu adalah sampah, lalu melemparkannya ke wajah-wajah lugu ummat dan mengatakan itu baik untuk mereka. Racun menyebar dengan cepatnya.

Harus bangkit dai-dai teladan yang mengajak ummat kembali mengokohkan aqidah dan keyakinan, dan meyakinkan dengan bijak dan dengan cara yang baik, bahwa ideologi Islam datang dari Allah, tidak akan tergantikan oleh kotoran-kotoran orang kulon para pemuja dajjal meski kotoran itu dibungkus dengan kemasan yang sangat menarik dan dipasarkan oleh tim marketing yang memukau. Sampah dan kotoran tetaplah sampah dan kotoran, tidak akan berubah menjadi nasi liwet meski dibungkus daun pisang yang paling mahal sekalipun.

Politik

Kemenangan “partai dakwah” dalam berbagai pilkadal mungkin bisa dikatakan reaktualisasi politik Islam di Endonesa Tanah Airku (tanah mahal air mahal). Setelah dahulu partai “Islam” menjadi barang terlarang untuk beberapa dasawarsa. Dalam persepsi saya, apapun warna ke-ummatan yang melekat pada diri seseorang, semestinya haruslah menjadikan kancah politik yang berhubungan langsung dengan penguasaan panggung kekuasaan tersebut sebagai jalan membina ummat yang sama pentingnya dengan khutbah di atas mimbar. Simpanlah dulu beberapa saat cap atas pelaku ber-partai sebagai orang yang tashabbuh bi sabiilitthaaghuut. Biarkanlah dulu, jangan dikafirkan dulu, saksikanlah dulu, siapa tahu ijtihad politik mereka itu ternyata mendapat point yang bagus dari Allah, dan tentu apresiasi ini kita berikan pada mereka yang benar-benar concern terhadap nilai-nilai dakwah dan kepentingan ummat dalam olah politiknya. Partai politik yang hanya mengatasnamakan ummat untuk kepuasan dahaga pribadi secara otomatis tidak akan laku meski dipasarkan dengan cara yang paling canggih sekalipun, seiring dengan meningkatnya kecerdasan ummat dalam kehidupan politik. (mudah-mudahan sih tambah cerdas.. J).

Kalau jalan mencegah kemunkaran yang terbaik dengan jalan kekuasaan, lalu mengapa menggapai kekuasaan untuk tujuan itu musti kita pertikaikan? Apakah khilafah bisa ujug-ujug terbentuk tanpa ada ancang-ancang? Apakah syariah bisa tiba-tiba tegak hanya dengan berteriak? Dulu ada tokoh yang bilang goyang ngeb** In** itu tidak ada hukum yang melarangnya… semua teriak mengumpat, esmosi, memaki bicara-bicara neraka, lalu membolak balik dalil naqli tentang keharamannya. Lah nyatanya memang tidak ada sepotong ayatpun Undang-Undang Negara Repulik Endonesa yang melarangnya kok… buat dulu undang-undang yang melarangnya, baru bilang itu tidak boleh… lalu siapa yang buat UU?, giliran diajukan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi, mentok dead lock jalan buntu gara-gara yang berhak bikin undang-undang mayoritas penikmat makshiat. Mau bilang apa sekarang? Ketika sudah ada UU nya pun, yang menjalankannya, yang mengontrolnya, masih para penikmat maksiat juga. Mentok LAGI.

Mungkin kalau si tokoh itu ditanya mengapa boleh goyang ngeb** ? dianya jawab… “Ya silahkan saja, lha wong saya GAK LIAT kok…!!”. gitu aja kok repot..!!

Kalau reaktualisasi nilai-nilai dakwah disalurkan lewat kancah politik dan dengan itu pelakunya jadi masuk neraka… mungkin giliran nerakanya yang bingung… “ni orang gak salah masuk”??

Ekonomi

Potensi ekonomi ummat Islam itu sesungguhnya yang terbesar di dunia. Sebagian besar minyak dan gas bumi ada di negara2 berpenduduk mayoritas muslim. Emas, perak, tembaga, nikel, timah, batubara, kekayaan laut, hutan, pangsa pasar yang besar, semuanya sebagian besar ada dinegara berpenduduk mayoritas muslim. Di Endonesa saja, kita bisa hitung sendiri potensi kekayaan negeri tercinta ini. Cuma ya itu… karena penguasanya, yang berhak mengelola kekayaan alam itu, sudah terbelenggu oleh tentakel-tentakel thagut bin dajjal, tersenyum doang waktu kekayaan negeri dijarah anak-anak asuhan luciver dari kulon. Dan tertawa ketika dikasih 10 prosen. Samalah kiranya ketika si Ujang yang punya kebun kelapa, hanya tersenyum dan bilang oke ketika ada orang memanen kelapanya, lalu bahagia waktu di kasih 10 prosen hasil kebun kelapanya itu. Ujaaang… Ujang…, cerdas sekali kamu Jang…!!

Kita tidak menafikan banyaknya anak-anak muslim yang berkubang dalam kemiskinan dan kefakiran. Dan mestinya itu jadi perhatian bersama untuk diminimalisir agar para penyandang gelar fakir itu tidak lalu menyandang gelar kafir. Kefakiran itu, kemiskinan itu, hadir secara sistematis dari berbagai program kapitalisme liberalisme yang memang diabadikan, berusaha dilanggengkan oleh para pemuja kapitalisme yang dengan cara itu kapitalisme bisa jumawa di berbagai pojokan dunia. Kemiskinan itu tidak semata-mata takdir, itu adalah upaya sistematis dari para dajjal untuk penguasaan dunia. Terserah kitanya, apakah akan BANGKIT MELAWAN atau DIAM DAN TERTINDAS SELAMANYA.

Jadi, para pegiat dakwah, sebagian harus ada yang mengambil rute perjalanan ke arah ini. Membenahi ekonomi ummat dengan memadukan segala macam potensi yang ada. Kumpulkan segenap kekuatan untuk memupuk ekonomi keummatan agar bisa bangkit melawan angkara kapitalisme. Mengikis habis kemiskinan struktural dan sistematis yang diciptakan para setan kapitalis. Kecebong-kecebong ekonomi ummat mulai menggeliat saat ini, harus didukung bersama agar kecebong-kecebong itu bisa terus tumbuh dan akhirnya bisa menjadi katak yang sempurna.

Sosial

Bicara sosial tentu bicara tentang komunitas secara menyeluruh. Bicara tentang elemen-elemen masyarakat, bicara tentang hubungan-hubungan antar komunitas, bicara tentang pendidikan, bicara tentang lembaga, bicara tentang tatanan dan aturan, bicara tentang rasa aman, bicara tentang penyakit masyarakat dan lain sebagainya. Biarlah ahlinya bicara soal ini. Saya tidak ingin menambah panjang daftar pengamat sosial.

Budaya

Apakah budaya itu? Adakah budaya Islam? Apakah kubah masjid yang bersinar gemerlap itu budaya Islam? Apakah bangunan megah dengan ornamen khas timur tengah itu budaya Islam. Apakah lukisan kalighrafi itu budaya Islam? Apakah Nasyid itu budaya Islam? Banyak paradigma soal ini, bahkan yang paling bikin kheki adalah klaim beberapa saudara kita bahwa Islam dan berbagai unsurnya, termasuk Al-Quran adalah juga produk budaya. Cappee deeh…!

Bagi saya, apapun budayanya, termasuk cara berpakaian, kalu itu tidak bersilangan dengan ketentuan Islam, bolehlah diklaim budaya Islami. Parameternya apa? Tentu Al-Quran dan Sunnah. “Tapi kan persepsi dan interpretasi orang atas Ayat dan Sunnah berbeda-beda..!” boleh jadi kata satu kelompok muslim itu Islami tapi kata kelompok yang lain itu tidak Islami”.. ya kalau mikirnya begitu gak selesai-selesai… ada hal-hal yang bisa disepakai sebagai Islami dan tidak Islami, berangkat dari situ saja dulu. Misalnya kita sepakat bahwa budaya berpakaian yang terlihat udel/puser itu tidak Islami, bahwa lukisan wanita telanjang, meskipun banyak yang suka, itu tidak Islami, bahwa situs porno itu tidak Islami, bahwa menuliskan pikiran dan ide di blog itu tidak dilarang Islam, dan lain sebagainya. Intinya mungkin, kita menyatukan persamaan dulu, jangan memperuncing perbedaan. Ini juga tugas dai untuk memberi warna pada budaya yang dihasilkan masyarakat. Dai yang budayawan, keren juga kok…

Pertahanan

Saya tidak terlalu mengerti logika kekuatan. Tetapi senjata dan kekuatan selalu diperlukan jika kita ingin musuh ngeper dan ngeri melihat kita dan berpikir seribu kali untuk menyerang. Sekarang ini, ummat Islam sangat lemah dan sangat dilemahkan dalam urusan pertahanan. Ya memang seperti itu kehendak para pemuja dajjal, yaitu jangan sampai ummat Islam memiliki kemampuan pertahanan yang bagus. Kalau sampai kemampuan pertahanan ummat Islam sedemikian minim, mudahlah dijadikan bulan-bulanan setan-setan tanpa perlawanan. Kita sudah sama-sama saksikan, berapa banyak negara berpenduduk muslim besar yang kemampuan pertahanannya amat bergantung kepada belas kasihan negara-negara kulon, sampai-sampai punya pesawat tempur tapi gak bisa terbang karena suku cadangnya diembargo, atau punya kapal perang tapi udah rongsokan karena di negara asalnya udah dibesituakan, lalu daripada dibuang sayang lebih baik tipu-tipu negara bloon untuk beli itu kapal dengan janji-janji palsu. Kalau mau kompak, potensi pertahanan negara-negara berpenduduk muslim besar sesungguhnya tidak kecil2 amat. Kemampuan rudal, jet, atau nuklir sekalipun sebenarnya mampu, hanya karena kadung jadi kacung negara tukang perang, gak pede buat sendiri. Sekeras apapun teriakan tentang jihad melawan zionis, akhirnya terbentur kenyataan pahit bahwa menumpas penjajah Israel yang hanya seujung buntut curut dibanding negara-negara Islam saja tidak bisa karena senjata yang ada tidak memadai, itupun hasil pasokan industri senjata negara pendukung zionis.

Anak-anak muslim sama cerdasnya dengan anak-anak dajjal, kalau mau dan didukung bersama, bisa membuat produk pertahanan yang baik… usaha ke arah itu bukan tidak ada, tapi sama sekali kurang memadai dibanding besarnya potensi yang ummat Islam miliki.

Keamanan

Tentu berkelindan dengan keadaan yang lain. Rasa aman tercipta dari tatanan yang baik, kondisi sosial yang bagus, ekonomi yang maju, ideologi yang mendukung. Misalnya, keamanan itu akan tetap jadi barang mahal di sistem ideologi kapitalis, karena sistem kapitalisme meniscayakan ketimpangan sosial ekonomi yang sangat tinggi, yang berakibat pada banyaknya orang yang frustasi menghadapi hidup dan memilih jalan pintas mencari penghidupan dengan mengacungkan ancaman ke leher orang lain.

Jadi sesungguhnya, pemecahan permasalahan ummat itu tidak bergantung pada mempersatukan persamaan-persamaan yang ada dalam tubuh ummat Islam, karena hal itu mustahil dilakukan, tetapi dengan me-manage perbedaan-perbedaan yang ada sehingga bisa bersinergi menjadi kekuatan yang dahsyat yang bahkan raja iblis pun akan berpikir sebiru kali untuk menyerang dan meruntuhkan bangunan ummat. Setiap diri, sesuai kapasitas dan kapabilitasnya harus mengambil peran secara aktif untuk ikut serta mensinergikan segala macam potensi yang dimiliki ummat agar menjadi suatu kekuatan yang utuh.

Penguatan aqidah, Ide tentang khilafah, penegakan syariah, pemberdayaan ekonomi ummat, menggali potensi zakat, memajukan budaya Islam, menguasai pentas politik kekuasaan, dan lain-lain dan lain-lain, harus senantiasa melandasi para juru dakwah untuk selalu berusaha menjadikannya potensi kekuatan yang akan menjadi sumber ketahanan the state of Islam. Ketahanan Islam dari berbagai penyerangan dari dalam dan dari luar, harus dihadapi dengan mengerahkan segenap potensi yang ada dalam Wawasan islam. Semuanya penting dan harus mengambil peran penting. Kalau anda tidak mengambil peran dalam persoalan ummat, minimal yang anda mampu, maka anda bukan orang penting buat ummat Islam.

Ahmad Sopiani
Senin, 14 April 2008
Belantara Kapitalisme
Bekasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: