Wahai Sahabat

Yang membuat dia istimewa, adalah tanggal lahirnya persis sama dengan istriku, 11 Januari 1974. Juga karena ada sifat feminis yang sangat kental dibalik penampilannya yang tomboy. Juga istimewa karena hanya pada dia istriku cemburu, tidak pada wanita lain yang istriku tahu aku suka dan berkirim surat cinta.
Dulu sering bersama mengembara di tepian-tepian waktu tak berujung, merenungi kegelapan tak bertepi, menyiasati pelajaran penuh arti… Main UNO menghabiskan masa… terjebak dalam ruang dan waktu. Semuanya tulus atas nama persahabatan… Namanya Khadijah M. Anwar Ibrahim.

Tapi hanya ibunya yang memanggilnya Khadijah, itupun jika sedang sangat serius. Panggilannya sehari-hari adalah Butet. Jadi ingat judul lagu batak yang mendayu-dayu yang dibawakan Hetty Koes Endang…πŸ™‚. Mungkin banyak juga kawan dia yang tidak tahu bahwa namanya Khadijah, karena dia biasa berkenalan dengan nama Butet itu. Panggilan sayang gadis muda batak ya? Memang ada darah batak mengalir di pembuluhnya. Dia ini hasil persilangan Batak Mandailing dan Palembang. Mungkin karena yang Palembang Bapaknya, sehingga ia tidak menyertakan Lubis dibelakang namanya.

Yang aku tak bisa lupa, adalah caranya masak mie goreng… dia akan merebus mie nya dulu, lalu ditiriskan… baru dia masak telornya secara ajaib… ajaib karena dia tidak membiarkan telornya utuh, tetapi memanipulasinya sedemikian rupa sehingga telor itu menjadi serpihan-serpihan kecil…

Dia suka lagu-lagu pop, termasuk Mariah Carey, dan merasa aneh namun tidak banyak komentar ketika aku beli Album Cikal Iwan Fals. Suka nonton film-film drama cinta dan persahabatan. Pernah dia dan Nunung ajak aku nonton Indescent Proposal-nya Demi Moore yang waktu itu gaya rambutnya ditiru habis gadis-gadis Endonesa. Film drama yang bagus ternyata asyik juga.

Aku terkagum-kagum pada koleksi perangkonya, luar biasa bagus dan dari berbagai negara. Sebut negara yang kita tahu, dia punya koleksi perangkonya. Juga punya koleksi jam tangan Benetton. Saking sukanya dia sama Benetton itu, sampai-sampai salah satu jam tangannya yang tercuri, secara ajaib bisa kembali lagi…πŸ™‚ Tak terpisahkan…

Pertama kali mendapat informasi akan ada murid baru dari Arab yang akan bergabung di Kelas 2 MAN 3 Ciputat, 1990, yang terpikir pertama kali olehku “ngomongnya pakai bahasa apa?”. Setelah bertemu dan melihat kesan lokal di balik kerudungnya yang “ngasal” tapi atraktif, baru aku tahu betapa lancar bahasa Indonesianya. Malah lengkap dengan bahasa gaul terbaru saat itu. Halaah, tadinya aku mau belajar bahasa arab sama dia, gak jadi deh.πŸ™‚

Prestasi akademiknya di MAN 3 biasa saja, walau tidak di bawah rata-rata. Bukan karena dia tidak cerdas, hanya kurang termotivasi saja. Terbukti kini, setelah 18 tahun, dia sudah menamatkan Fakultas Syariah Al-Azhar Mesir, sudah menamatkan S2 di Malaysia dan hampir mencapai gelar Doktor, juga di Malaysia. Sementara yang ranking 1 saat itu, gue, cuma sempat menamatkan S1 di IAIN Ciputat dan sekarang terdampar, tepatnya terkapar di belantara kapitalisme, mem-buruh di LG Electronics untuk menyambung hidup diri dan keluarga. Hidup memang penuh rahasia. Impian masa kecilku untuk menjadi Guru Besar Agama Islam kandas tak tersisa, sementara dia, Butet Anwar, yang cita-citanya tak pernah jelas bagiku, terus mendaki menara gading akademis hampir tanpa rintangan berarti. Melaju tanpa ragu menuju jenjang tertinggi. Congratulation sahabat, kau adalah salah satu berkah Tuhan untuk negeri yang penduduknya berdaya rusak amat besar ini. Semoga kehadiranmu di bumi pertiwi nanti bisa membasahi gersangnya tanah para pecinta dosa bernama Republik Indonesia.

(bersambung…)


%d bloggers like this: