Archive for August, 2008

Tanya Seputar Al-Quran

August 30, 2008

( Berikut ini adalah dialog dunia maya antara saya dan Mr. Daryono pada sekitar September 2007. saya merasa perlu untuk “mengabadikannya”. 🙂 ) SP: adalah saya, Sopian.

Tanya Al Quran

Posted by: “daryono daryono” ddaryono2006@yahoo.com ddaryono2006

Fri Sep 7, 2007 1:24 am (PST)

BEBERAPA PERTANYAAN TENTANG AL QURAN

Sp: Bismillaahirrahmaanirrahiim. Saya bermohon kepada Allah untuk memberi saya pemahaman yang benar tentang Kitab Nya, yang telah di-tabyin oleh Rasul Nya dan memberi saya kekuatan untuk dapat mengamalkannya, menjadi petunjuk dalam menjalani hidup saya yang singkat dan penuh senda gurau ini. Dan semoga Allah memberi kekuatan kepada kaum mu’min dalam menghadapi musuh-musuhNya.

Berikut ini adalah berbagai pertanyaan yang menyangkut tentang Al Quran yang pernah saya lontarkan ke milis ini atau yang lainnya namun saya belum mendapatkan jawaban yg memuaskan.

Sp: Bagus sekali Pak Daryono mau bertanya tentang Al-Quran, itu artinya punya perhatian untuk membaca dan memahaminya, sehingga timbullah pertanyaan itu. Alangkah buruk mereka yang tidak peduli lagi terhadap Al-Quran dan melupakannya.

Belum mendapatkan jawaban yang memuaskan juga sangat bagus, dengan demikian kita akan terus mencari dan belajar, dan itulah semangat Islam, bahwa semua orang harus selalu belajar dan belajar, tak henti kecuali jasad sudah terpuruk di liang lahat atau tubuh berderai kena bom amerika serikat.

Terlebih dahulu saya ingin sampaikan sedikit pedoman dalam mempelajari dan memahami Al-Quran, pertama, bahwa Al-Quran itu diturunkan Allah dalam Bahasa Arab yang nyata, karena itu setiap muslim sedapat mungkin mempelajari bahasa arab untuk tujuan memahami Al-Quran dalam bahasa aslinya, itu pula mengapa duuluuu sekali, penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa-bahasa bukan arab menjadi perdebatan sengit antara yang membolehkan dan yang mengharamkannya. Namun karena sesuatu dan lain hal, banyak sekali muslim, terutama dari bangsa ‘ajm, bukan arab yang tidak bisa memahami Al-Quran dari bahasa aslinya, padahal memahami Al-Quran sifatnya dharuri, sesuatu yang mendesak. Maka belakangan penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa bukan arab untuk membantu pemahaman ‘orang awam’ akhirnya diperbolehkan dengan catatan tidak menghapus keharusan mempelajari bahasa arab dan bahwa terjemah tersebut bukanlah Al-Quran, yang disebut Al-Quran tetaplah yang dalam bahasa arab. Ini berbeda dengan bible, yang dalam bahasa apapun tetap disebut bible.

Kedua, bahwa bahasa arab memiliki uslub; nahwu, sharaf, balaghoh, ma’any yang sangat kuat dan khas dan tidak dimiliki oleh bahasa lain. Pada saat Al-Quran diturunkan bahasa arab tengah berada pada pencapaian tertingginya, karena itu penerjemahannya ke dalam bahasa lain tidak bisa sama sekali semakna dengan bahasa arabnya. Atas dasar inilah, memahami Al-Quran tidak bisa secara leksikal, tetapi harus didukung oleh faktor faktor lain sebagai pendukung antara lain penguasaan seluk beluk bahasa arab dan pengetahuan tentang sunnah Rasulullah Muhammad SAW, atas dasar ini pula, penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa bukan arab tidak merupakan tarjamah harfiyyah, tetapi lebih merupakan tarjamah tafsiriyyah, melibatkan banyak orang yang berkompeten, termasuk penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia.

Ketiga, mempelajari Al-Quran harus dilandasi niat untuk memahami dan mengamalkannya karena ia kitab petunjuk hidup, bukan untuk hal lain, misalnya mencari celah untuk mempertanyakannya, yang mungkin saja bahwa mempertanyakannya hanya akan menyulitkan diri saja, kecuali memang pertanyaan itu diperlukan untuk memperkuat pemahaman dan memperbesar motivasi pengamalan. Dalam hal ini mungkin perlu diingat firman Allah dalam Q.S. Al-Maaidah (05) ayat 101, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”

Dalam menerangkan ayat ini, para guru saya biasanya memberi contoh tentang Bani Israel yang diperintah Allah lewat Nabi Musa AS untuk menyembelih baqoroh (sapi betina), yang sifatnya nakiroh, artinya mencakup semua jenis sapi betina yang mana saja. Namun saking bandel, bawel dan pelitnya, mereka selalu nanya yang bagaimana? Yang bagaimana? Yang bagaimana? Sehingga sapi betina yang tadinya boleh yang mana saja itu akhirnya mengerucut sangat lancip menjadi spesies sapi betina yang hampir-hampir tidak dapat mereka temukan dan tentu saja menyusahkan mereka sendiri. Silahkan lihat rekaman peristiwa ini dalam Al-Quran Surat Al-Baqoroh (02) ayat 67-71.

Keempat : Al_Quran sama sekali bukan kitab iptek atau kitab sejarah, ia adalah kitab petunjuk menjalani hidup yang baik agar cukup bekal kita menghadap Allah di akhirat, kalau kemudian ada kisah sejarah atau yang berkaitan dengan iptek, itupun tidak lain dalam kerangka yang sama, mengambil pelajaran dari hal tersebut untuk meningkatkan iman dan taqwa. Kalau kemudian bermanfaat secara historis atau secara science, ya Alhamdulillah.


I.Basmalah
Dari 114 surat di Al Quran 113 surat dimulai dengan kalimat Basmalah atau kalimat Bismillahirahmanirohim yang artinya “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,”

Pertanyaan : Kenapa tidak dimulai dengan “Katakanlah : “, sebab bisa diartikan bahwa Allah sedang mendoakan atas namanya sendiri ?
Sp: Allah tidak terikat oleh aturan siapapun, Allah boleh saja memulai sesuatu atas namanya sendiri, boleh pula bersumpah atas nama makhluk ciptaanNya, bebas berkehendak. Jika Allah terikat oleh sesuatu itu artinya Dia punya kelemahan, dan sesuatu yang punya kelemahan tidak layak sama sekali menjadi Tuhan.

Kalau mau dilogikakan, yang masuk akal adalah jika semua ayat menggunakan kata “qul/katakanlah”, karena semua ayat itu diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saja dengan perintah untuk disampaikan kepada ummatnya. Misalnya : “Katakanlah : Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa…dst…

Atau sama sekali tidak usah ada kata “qul” itu, karena “Qul” itu adalah perintah kepada Nabi Muhammad saja untuk menyampaikan kata-kata sesudah “qul” itu.

Tetapi Allah tidak melakukan itu, ada ayat yang memakai “qul”, lebih banyak lagi ayat yang tidak memakai kata “qul”, karena itu sesuai dengan kehendakNya.


Pertanyaan : Kenapa dari 114 surat , satu satunya surat yang tanpa dimulai dengan Basmalah adalah Surat At Taubah ? Apakah istimewanya sehingga Surat At Taubah ini berbeda dengan yang lainnya?

Sp: Sudah membaca tarjamah Surat At-Taubah? Bagaimana isinya sejak awal ? Keras, tegas, tanpa tedeng aling-aling, ancaman, peringatan, hukuman dan lain-lain yang ditujukan untuk kaum musyrik musuh-musuh Islam. Sebuah pernyataan perang secara terbuka, akan aneh jika di awali senyum-senyum manis terlebih dahulu. Bayangkan saja Anda mendatangai sekelompok orang, lalu dengan senyum manis penuh kasih sayang Anda menyatakan perang dan permusuhan dengan mereka. Anda akan ditertawakan. Anda boleh ibaratkan basmalah itu senyum manis penuh kasih sayang.

(OOT : tahukah Anda, kata “bismillaahirrahmaanirahiim” tetap 114, sesuai jumlah surat?, yang ke 114 itu ada dalam Surat An-Naml ayat 30).

II.Surat Al Aanfal (Anfaal)

8. 12. (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka

==cut==

Pertanyaan : Ayat 8.12 ini memerintahkan untuk memenggal kepala baru kemudian memotong jari tangan , apakah itu bukan hal yang kejam (penyiksaan thd mayat) ?
Sp: Aah.. itukan perasaan Pak Daryono saja. Kata ‘wa’ dalam Al-Quran kan tidak selalu berarti runtutan perintah atau kejadian, kalau ikut logika Pak Daryono ini, tentu kita harus membayar zakat setiap kali selesai sholat….. yang bener aja pak…

Ayat itu kan tengah menggambarkan situasi perang (perang badar kubro menurut banyak pendapat), memberi semangat kepada pasukan Islam agar tetap tabah dalam berperang, yang adakalanya berkesempatan membunuh musuh dengan memenggal kepalanya, adakalanya hanya mampu menangkis saja, dan menangkis yang bagus itu kalau bisa pada jari-jari musuh yang tengah mengayunkan pedangnya….


III.Dzulkarnain
Diceritakan tentang Dzulkarnain , seorang raja yang bijaksana, muslim, taat pada Allah. Ini terdapat pada surat Al Kahfi.

18. 83. Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah:
“Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”.
18. 84. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,
18. 85. maka diapun menempuh suatu jalan.
18. 86. Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat . Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.
18. 87. Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.
18. 88. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami”.
18. 89. Kemudian dia menempuh jalan (yang lain).
18. 90. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak
menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,
18. 91. demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.
18. 92. Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi).
18. 93. Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan .
18. 94. Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”
18. 95. Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,
18. 96. berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”.
18. 97. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.
18. 98. Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”.

Pertanyaan :
Kalau menunjuk pada ayat 18.83 maka saya mengambil kesimpulan bahwa cerita tentang Dzulkarnain benar benar telah terjadi:

Sp: kesimpulan yang lumayan bagus…. J
18.3.Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah:
“Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”. Nabi Muhammad diminta untuk menjelaskan atau menerangkan riwayatnya apabila ada orang yang menanyakannya(orang bertanya tentang sesuatu hal, pasti orang tsb telah mendapat informasi sebelumnya) . Lalu siapakah sebenarnya Dzulkarnain yang dimaksud ?
Ada yang menganggap bahwa Dzulkarnain adalah Alexander Agung dari Macedonia tapi sebenarnya tidak tepat karena Alexander itu penyembah berhala dan dia seorang bisex…….

Sp: Hati-hati Pak dalam melabeli seseorang tanpa ilmu yang cukup, apalagi orang tersebut sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, yang kita tidak jelas cerita sebenarnya tentang orang tersebut. Kalau benar tidak ada manfaatnya, kalau salah malah jadi fitnah dan dosa. Orang secerdas Pak Daryono saya pikir tidak perlu berlaku seperti itu dalam melabeli seseorang di rentang kurun awal sejarah. J

Dzulqarnain, kalau tidak salah artinya “yang mempunyai dua tanduk”. Hellboy hanya punya satu tanduk di jidat jadi jelas bukan Hellboy J. Ada pernah saya dengar itu adalah nama gelar yang bermakna ia memiliki kekuasaan yang amat luas meliputi timur dan barat, sehingga diasosiasikan dengan dua tanduk yang ada di dua sisi kepala, seperti timur dan barat yang ada di dua sisi bumi….itu sebabnya banyak dikaitkan dengan perjalanan hidup Alexander the Great/Iskandar Agung…. Siapapun dia, pentingnya apa selain mengambil pelajaran dari perihidupnya yang diceritakan Al-Quran ? Ahli sejarah mau menggali lebih dalam tentang dia lalu menerka-nerka siapa orangnya, silahkan saja, tetapi sebatas itulah yang diceritakan Al-Quran, itupun lebih dari cukup untuk diambil hikmah darinya. Kalau ada Mufassir yang menyebut nama Alexander The Great, tentu ada hujjahnya berdasarkan kajian sejarah, tak perlu dipatahkan dengan tuduhan bahwa ATG itu musyrik dan bisex… (btw, bisex itu apa ya? Punya jenis kelamin dua?? Hemaprodit doong..? apa AC/DC..? J)

Pertanyaan :

18. 86. Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat
matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat . Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.

Diayat ini digunakan kata ketempat , artinya menuju ke satu tempat (yaitu tempat matahari terbenam) , kalau begitu dimanakah tempatnya matahari terbenam ?

Pertanyaan :

Kenapa tidak digunakan saja kata “ ke arah “ ? kita biasanya menunjuk arah matahari terbit atau arah matahari terbenam. Bukan tempat terbit atau tempat terbenam.

Sp: kiiita? Kita siapa? Hehehe….

Pak Dar.. kata ‘Maghrib’ pada ayat tsb memang menunjuk ‘tempat’. Di dunia Kang Ouw, atau dunia persilatan, kalau orang berjalan ‘ke arah’ matahari terbit, baru 2 kilometer juga sudah dikatakan ia melakukannya. Kalau di katakan ‘ke tempat’ matahari terbit, ia tidak akan berhenti kecuali telah sampai di tempat tujuannya. Artinya, Dzulqarnain memang mempunyai tujuan perjalanan yang pasti. Para penakluk seperti saya memang selalu punya tujuan yang pasti, daerah mana yang akan ditaklukkan J.

Di percaturan peta dunia, yang terkenal sebagai daerah Masyrik adalah Maroko dan sekitarnya, sementara daerah Maghrib, kalau tidak salah adalah anak benua India dan sekitarnya. Secara logis, daerah maghrib adalah dimana ketika berada dipantainya, kita hanya dapat melihat matahari terbenam, tidak ketika terbitnya… sebaliknya dengan daerah maghrib…

Pertanyaan :

18. 96. berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalahDzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”.

Bagaimana caranya agar besi bisa sama rata dengan kedua gunung ?

Sp: Disambung-sambung aja pak…

Mungkinkah membuat dinding yang setinggi gunung ?

Sp: Kalau bicara mungkin, apa yang tidak mungkin di dunia ini…?

Mungkinkah dengan teknologi yang ada saat itu bisa membuat tembaga (dalam jumlah besar) mendidih ?

Sp: Mungkin saja, tidak ada yg mustahil….

Untuk tujuan apa diperlukan tembaga yang mendidih ?

Untuk melapisi dinding biar tidak gampang dijebol…

Catatan : tembaga meleleh pada sekitar 700 der C , tembaga mendidih diatas 2100 der C , besi meleleh pada
1200 der C .

Sp: Dari dulu orang buat berbagai peralatan tempur dari besi, bikin baju besi juga, juga bikin peralatan dari tembaga, kan dilelehkan dulu. Kalau besi bisa dengan mudah dilelehkan oleh mereka, tembaga apa susahnya?

IV.Gunung

16:15] Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,

31:10] Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.

Pertanyaan :

Kata menancapkan gunung , berarti gunung berasal dari luar bumi (contoh lain: menancapkan paku ke kayu, paku pasti berasal dari luar kayu) padahal gunung berasal dari bagian dalam bumi akibat desakan magma atau bisa juga akibat pergerakan kulit bumi. Di ayat tsb gunung berfungsi sebagai bandul atau peredam goyangan bumi (gempa) benarkah ?

Sp: Dari luar bumi?? Hehehe.. itu kan angan-angan Pak Dar saja… sudah saya bilang, tarjamah Arab ke Bahasa lain itu agak sulit mencari padanannya, yang ketemu kata “menancapkan”, ya itulah berarti yang paling mendekati kata arabnya., yang artinya kokoh kuat tak bergeming.

Tanyalah ahli geologi dan vulkanologi, apa jadinya jika seluruh gunung di bumi ini tiba-tiba lenyap.. hanya dalam hitungan hari atau minggu, bumi ini akan menuai keruntuhan karena tidak ada pasak yang menguatkannya.. percaya deh…

V. Dua istri nabi bersama sama minta cerai

[66:1] Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
66:2] Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
66:3] Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
66:4] Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu’min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
[66:5] Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang ta’at, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

Pertanyaan :

Apa yang menjadi pangkal persoalan ini sehingga dua istri nabi bersama sama minta cerai ? ( Persoalan suami istri biasanya : 1.Masalah ekonomi 2.Ada orang ketiga 3.Masalah sex)
Ada versi yang mengatakan Nabi main sex dengan budak perempuannya yang bernama Mariah di rumah Hafsah(istri Nabi,saat itu tidak ada dirumah,waktu pulang kepergok).Hafsah marah,nabi janji nggak akan main lagi asal Hafsah tutup mulut. Hafsah lalu cerita pada Aisyah. Aisyah marah dan mereka berdua ngambek minta cerai bareng bareng.
Kenapa Allah harus turun tangan dengan “mengancam” kedua istri nabi ?

Sp: Saya kutipkan saja apa yang ditulis Husein Haekal dalam “Sejarah Hidup Muhammad” :

Ibrahim lahir

Akan tetapi tidak lama ia mengalami kesedihan itu, dengan melalui Maria orang Kopti Tuhan telah memberi karunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim, nama yang diambil dari Ibrahim leluhur para nabi, para hunif yang patuh kepada Tuhan. Sejak Maria diberikan oleh Muqauqis kepada Nabi sampai pada waktu itu masih berstatus hamba sahaja. Oleh karena itu tempatnya tidak di samping mesjid seperti isteri-isteri Nabi Umm’l-Mukminin yang lain. Oleh Muhammad ia ditempatkan di ‘Alia, di bagian luar kota Medinah, di tempat yang sekarang diberi nama Masyraba Umm Ibrahim, dalam sebuah rumah di tengah-tengah kebun anggur. Ia sering berkunjung ke sana seperti biasanya orang mengunjungi hak-miliknya. Ia mengambilnya sebagai hadiah dari Muqauqis bersama-sama saudaranya yang perempuan, Sirin, dan Sirin ini diberikannya kepada Hassan b. Thabit. Sesudah Khadijah wafat, dari semua isterinya, baik yang muda remaja atau yang sudah setengah umur, yang dulu pernah memberikan keturunan, Muhammad tidak pernah menantikan mereka masih akan memberikan keturunan lagi, yang selama sepuluh tahun berturut-turut belum ada tanda-tanda kesuburan pada mereka.

Setelah ternyata Maria mengandung dan kemudian lahir Ibrahim – ketika itu usianya sudah lampau enampuluh tahun – sangat gembira sekali ia. Rasa sukacita telah memenuhi hati manusia besar ini. Dengan kelahirannya itu kedudukan Maria dalam pandangannya tampak lebih tinggi, dari tingkat bekas-bekas budak ke derajat isteri. Ini menambah ia lebih disenangi dan lebih dekat lagi.

Isteri-isteri Nabi cemburu

Wajar sekali hal ini akan menambah rasa iri hati di kalangan isteri-isterinya yang lain, lebih-lebih karena Maria ibu Ibrahim, sedang mereka semua tidak beroleh putera. Juga pandangan Nabi kepada bayi ini sehari ke sehari makin memperbesar kecemburuan mereka. Ia sangat menghormati Salma, isteri Abu Rafi’, yang bertindak sebagai bidan Maria. Ketika lahirnya itu ia memberikan sedekah uang dengan ukuran tiap seutas rambut kepada setiap fakir miskin, dan untuk menyusukannya telah diserahkan pula kepada Umm Saif disertai tujuh ekor kambing untuk dimanfaatkan air susunya buat si bayi. Setiap hari ia singgah ke rumah Maria sekadar ingin melihat Ibrahim, dan ia pun tambah gembira setiap melihat senyuman bayi yang masih suci dan bersih itu; makin senang hatinya setiap melihat pertumbuhan bayi bertambah indah. Apa lagikah yang akan lebih besar dari semua ini, akan menimbulkan rasa iri hati dalam diri isteri-isteri yang tidak mempunyai anak itu? Dan sampai di mana pula pengaruh iri hati itu pada mereka?

Hafsha dan Aisyah memperlihatkan sikap

Dengan penuh perasaan gembira pada suatu hari Nabi datang dengan memondong Ibrahim kepada Aisyah. Dipanggilnya Aisyah supaya melihat betapa besarnya persamaan Ibrahim dengan dirinya itu. Aisyah melihat kepada bayi itu, kemudian katanya, bahwa dia tidak melihat adanya persamaan itu. Setelah dilihatnya Nabi begitu gembira karena pertumbuhan bayi itu, ia tampak marah; semua bayi yang mendapat susu seperti Ibrahim, akan sama pertumbuhannya atau akan lebih baik. Isteri-isteri Nabi telah marah dan tidak suka hati karena kelahiran Ibrahim itu, yang akibatnya tidak terbatas hanya pada jawaban-jawaban yang kasar, bahkan sudah lebih dari itu, sampai-sampai dalam sejarah Muhammad dan dalam sejarah Islam telah meninggalkan pengaruh, sehingga karenanya datang pula wahyu dan disebutkan dalam Kitabullah

Dan wajar sekali pengaruh demikian ini akan timbul, Muhammad telah memberi tempat dan kedudukan kepada isteri-isterinya demikian rupa, suatu hal yang tidak pernah dikenal di kalangan Arab. Dalam suatu keterangan Umar bin’l-Khattab berkata, “Sungguh,” kata Umar, “kalau kami dalam zaman jahiliah, wanita-wanita tidak lagi kami hargai. Baru setelah Tuhan memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula hak kepada mereka.”

Dan katanya lagi, “Ketika saya sedang dalam suatu urusan tiba-tiba isteri saya berkata: ‘Coba kau berbuat begini atau begitu. Jawab saya, ‘Ada urusan apa engkau di sini, dan perlu apa engkau dengan urusan yang kuinginkan.’ Dia pun membalas, ‘Aneh sekali engkau, Umar. Engkau tidak mau ditentang, padahal puterimu menentang Rasulullah s.a.w. sehingga ia gusar sepanjang hari. Kata Umar selanjutnya: “Kuambil mantelku, lalu aku keluar, pergi menemui Hafsha. ‘Anakku,’ kataku kepadanya. ‘Engkau menentang Rasulullah s.a.w. sampai ia merasa gusar sepanjang hari?! Hafsha menjawabnya: ‘Memang kami menentangnya.’ ‘Engkau harus tahu,’ kataku. ‘Kuperingatkan engkau jangan teperdaya. Orang telah terpesona oleh kecantikannya sendiri dan mengira cinta Rasulullah s.a.w. hanya karenanya.’ Kemudian saya pergi menemui Umm Salama, karena kami masih berkerabat. Hal ini saya bicarakan dengan dia. Lalu kata Umm Salama kepadaku: ‘Aneh sekali engkau ini, Umar! Engkau sudah ikut campur dalam segala hal, sampai-sampai mau mencampuri urusan Rasulullah s.a.w. dengan rumahtangganya!’ Kata Umar lagi: ‘Kata-katanya mempengaruhi saya sehingga tidak jadi saya melakukan apa yang sudah saya rencanakan. Lalu saya pun pergi.”

Muslim dalam Shahih-nya melaporkan, bahwa Abu Bakr pernah meminta ijin kepada Nabi akan menemuinya dan setelah diijinkan iapun masuk, kemudian datang Umar meminta ijin dan masuk pula setelah diberi ijin. Dijumpainya Nabi sedang duduk dalam keadaan masygul di tengah-tengah para isterinya yang juga sedang masygul dan diam. Ketika itu Umar berkata: “Saya akan mengatakan sesuatu yang akan membuat Nabi s.a.w. tertawa. Lalu katanya: ‘Rasulullah, kalau tuan melihat Bint Kharija3 yang meminta belanja kepada saya maka saya bangun dan saya tinju lehernya. Maka Rasulullah pun tertawa seraya katanya: ‘Mereka itu sekarang di sekelilingku meminta belanja! Ketika itu Abu Bakr lalu menghampiri Aisyah dan ditinjunya lehernya, demikian juga Umar lalu menghampiri Hafsha dan meninjunya, sambil masing-masing berkata: ‘Kalian minta yang tidak ada pada Rasulullah s.a.w.! Mereka pun menjawab: ‘Demi Allah kami samasekali tidak minta kepada Rasullullah s.a.w. sesuatu yang tidak dipunyainya.”

Sebenarnya Abu Bakr dan Umar waktu itu menemui Nabi, karena Nabi a.s. tidak tampak keluar waktu sembahyang. Karena itu kaum Muslimin bertanya-tanya apa gerangan yang mengalanginya. Dalam peristiwa Abu Bakr dan Umar dengan Aisyah dan Hafsha inilah datang firman Tuhan: “Wahai Nabi! Katakan kepada isteri-isterimu: ‘Kalau kamu menghendaki kehidupan dan perhiasan dunia, marilah kemari, akan kuberikan semua itu dan akan kuceraikan kamu dengan cara yang baik. Tetapi kalau kamu menghendaki Allah dan Rasul serta kehidupan akhirat, maka Allah telah menyediakan pahala yang besar untuk orang-orang yang berbuat kebaikan dari kalangan kamu.” (Qur’an, 33: 28-29)

Cerita Maghafir

Kemudian isteri-isteri Nabi saling mengadakan sepakat. Biasanya lepas salat asar Nabi mengunjungi isteri-isterinya. Ketika itu ia sedang berkunjung kepada Hafsha menurut satu sumber – atau kepada Zainab bt. Jahsy menurut sumber yang lain – dan lama tidak keluar, lebih dari biasanya. Hal ini telah menimbulkan rasa iri hati pada isteri-isterinya yang lain. Aisyah mengatakan: ‘Lalu aku dan Hafsha bersepakat, bahwa bilamana Nabi s.a.w. datang kepada salah seorang dari kami hendaklah berkata bahwa aku mencium bau maghafir.4 Apa kau makan maghafir?” [Maghafir ialah sesuatu yang manis rasanya, berbau tidak sedap. Sedang Nabi tidak menyukai segala yang berbau tidak enak]. Ketika ia mendatangi salah seorang dari mereka ini, hal itu oleh yang seorang ditanyakan kepadanya.

“Saya hanya minum madu di rumah Zainab bt. Jahsy, dan tidak akan saya ulang lagi,” katanya.

Menurut laporan Sauda, yang juga sudah mengadakan persepakatan yang serupa dengan Aisyah, menceritakan, bahwa setelah Nabi berada di dekatnya, ditanyanya: “Kau makan maghafir?”

“Tidak,” jawabnya.

“Ini bau apa?”

“Hafsha menyugui aku minuman dari madu.”

“Yang lebahnya mengisap ‘urfut?”

Dan bila ia mendatangi Aisyah dikatakannya seperti yang dikatakan oleh Sauda. Juga Shafia ketika dijumpainya mengatakan seperti apa yang dikatakan mereka juga. Sejak itu ia lalu mengharamkan madu untuk dirinya.

Setelah melihat kenyataan ini Sauda berkata: “Maha suci Tuhan! Madu telah jadi haram buat kita!”

Ditatapnya ia oleh Aisyah dengan pandangan mata penuh arti seraya katanya: Diam!

Nabi yang telah memberi kedudukan kepada isteri-isterinya, sedang sebelum itu, seperti wanita-wanita Arab lainnya, mereka tidak pernah mendapat penghargaan orang, sudah wajar sekali apabila sikap mereka kini mau berlebih-lebihan dalam menggunakan kebebasan, suatu hal yang tidak pernah dialami oleh sesama kaum wanita, sampai-sampai ada di antara mereka itu yang menentang Nabi dan membuat Nabi gusar sepanjang hari. Ia sudah berusaha hendak menghindarkan diri dari mereka, meninggalkan mereka, supaya sikap kasih-sayang kepada mereka itu tidak sampai membuat tingkah laku mereka tambah melampaui batas, dan sampai ada dari mereka yang mengeluarkan rasa cemburunya dengan cara yang tidak layak. Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada isteri-isteri Nabi itu sudah melampaui sopan santun, sehingga ketika terjadi percakapan antara dia dengan Aisyah, Aisyah menolak menyatakan adanya persamaan rupa Ibrahim dengan Nabi itu, dan hampir-hampir pula menuduh Maria yang bukan-bukan, yang oleh Nabi dikenal bersih.

Pernah terjadi ketika pada suatu hari Hafsha pergi mengunjungi ayahnya dan bercakap-cakap di sana, Maria datang kepada Nabi tatkala ia sedang di rumah Hafsha dan agak lama. Bila kemudian Hafsha kembali pulang dan mengetahui ada Maria di rumahnya, ia menunggu keluarnya Maria dengan rasa cemburu yang sudah meluap. Makin lama ia menunggu, cemburunya pun makin menjadi. Bilamana kemudian Maria keluar, Hafsha masuk menjumpai Nabi.

“Saya sudah melihat siapa yang dengan kau tadi,” kata Hafsha. “Engkau sungguh telah menghinaku. Engkau tidak akan berbuat begitu kalau tidak kedudukanku yang rendah dalam pandanganmu.”

Muhammad segera menyadari bahwa rasa cemburulah yang telah mendorong Hafsha menyatakan apa yang telah disaksikannya itu serta membicarakannya kembali dengan Aisyah atau isteri-isterinya yang lain. Dengan maksud hendak menyenangkan perasaan Hafsha, ia bermaksud hendak bersumpah mengharamkan Maria buat dirinya kalau Hafsha tidak akan menceritakan apa yang telah disaksikannya itu. Hafsha berjanji akan melaksanakan. Tetapi rasa cemburu sudah begitu berkecamuk dalam hati, sehingga dia tidak lagi sanggup menyimpan apa yang ada dalam hatinya, dan ia pun menceritakan lagi hal itu kepada Aisyah. Aisyah memberi kesan kepada Nabi bahwa Hafsha tidak lagi dapat menyimpan rahasia. Barangkali masalahnya tidak hanya terhenti pada Hafsha dan pada Aisyah saja dari kalangan isteri Nabi. Barangkali mereka semua – yang sudah melihat bagaimana Nabi mengangkat kedudukan Maria – telah pula mengikuti Hafsha dan Aisyah ketika kedua mereka ini berterang-terang kepada Nabi sehubungan dengan Maria ini, meskipun cerita demikian sebenarnya tidak lebih daripada suatu kejadian biasa antara seorang suami dengan isterinya, atau antara seorang laki-laki dengan hamba sahaya yang sudah dihalalkan. Dan tidak perlu diributkan seperti yang dilakukan oleh kedua puteri Abu Bakr dan Umar itu, yang dari pihak mereka sendiri berusaha hendak membalas karena kecenderungan Nabi kepada Maria. Kita sudah melihat adanya semacam ketegangan dalam saat-saat tertentu antara Nabi dengan para isterinya karena soal belanja, karena soal madu Zainab, atau karena sebab-sebab lain, yang menunjukkan bahwa mereka melihat Nabi lebih mencintai Aisyah atau lebih mencintai Maria

Begitu memuncaknya keadaan mereka, sehingga pada suatu hari mereka mengutus Zainab bt. Jahsy kepada Nabi di rumah Aisyah dan dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia berlaku tidak adil terhadap para isterinya, dan karena cintanya kepada Aisyah ia telah merugikan yang lain. Bukankah setiap isteri mendapat bagian masing-masing sehari semalam? Kemudian juga Sauda; karena melihat Nabi menjauhinya dan tidak bermuka manis kepadanya, maka supaya Rasul merasa senang, ia telah mengorbankan waktu siang dan malamnya itu untuk Aisyah. Dalam berterusterang itu Zainab tidak hanya terbatas dengan mengatakan Nabi bersikap tidak adil di antara para isteri, bahkan juga ia telah mencerca Aisyah yang ketika itu sedang duduk-duduk, sehingga membuat Aisyah bersiap hendak membalasnya kalau tidak karena adanya isyarat dari Nabi, yang membuat dia jadi tenang kembali. Akan tetapi Zainab begitu bersikeras menyerangnya dan mencerca Aisyah melampaui batas, sehingga tak ada jalan lain buat Nabi kecuali membiarkan Aisyah membela diri. Ketika itu Aisyah membalas bicara dan membuat Zainab jadi terdiam. Dengan demikian Nabi merasa senang dan kagum sekali terhadap puteri Abu Bakr itu.

Pada waktu-waktu tertentu pertentangan isteri-isteri Nabi itu sudah begitu memuncak, sebab dia dianggap lebih mencintai yang seorang daripada yang lain, sehingga karenanya Nabi bermaksud hendak menceraikan mereka itu sebagian, kalau tidak karena mereka lalu memberikan kebebasan kepadanya mengenai siapa saja yang lebih disukainya. Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada mereka makin menjadi-jadi, lebih-lebih pada Aisyah. Dalam menghadapi kegigihan sikap mereka yang iri hati ini Muhammad – yang sudah mengangkat derajat mereka begitu tinggi – masih tetap lemah-lembut. Muhammad tidak punya waktu yang senggang untuk melayani sikap kegigihan serupa itu dan membiarkan dirinya dipermainkan oleh sang isteri. Mereka harus mendapat pelajaran dengan sikap yang tegas dan keras. Persoalan pada isteri-isteri itu harus dapat dikembalikan ke tempat semula. Dia harus kembali dalam ketenangannya berpikir, dalam menjalankan dakwah ajarannya, seperti yang sudah ditentukan Tuhan kepadanya itu. Dapat juga pelajaran itu berupa tindakan meninggalkan mereka atau mengancam mereka dengan perceraian. Kalau mereka mau kembali sadar, baiklah; kalau tidak, berikanlah bagiannya dan ceraikan mereka dengan cara yang baik.

Selama sebulan Nabi meninggalkan isterinya

Selama sebulan penuh akhirnya Nabi memisahkan diri dari mereka. Tiada orang yang diajaknya bicara mengenai mereka, juga orang pun tak ada yang berani memulai membicarakan masalah mereka itu. Dan selama sebulan itu ia memusatkan pikirannya pada apa yang harus dilakukannya, apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslimin dalam menjalankan dakwah Islam, serta menyebarkan agama itu keluar jazirah.

Dalam pada itu Abu Bakr dan Umar serta bapa-bapa mertua Nabi yang lain merasa gelisah sekali melihat nasib Umm’l-Mukminin (Ibu-ibu Orang-orang Beriman) serta apa yang akan terjadi karena kemarahan Rasulullah, dan karena kemarahan Rasul itu akan berakibat pula adanya kemurkaan Tuhan dan para malaikat. Bahkan sudah ada orang berkata, bahwa Nabi telah menceraikan Hafsha puteri Umar setelah ia membocorkan apa yang dijanjikannya akan dirahasiakan. Desas-desus pun beredar di kalangan Muslimin bahwa Nabi sudah menceraikan isteri-isterinya. Dalam pada itu isteri-isteri pun gelisah pula, menyesal, yang karena terdorong oleh rasa cemburu, sampai begitu jauh mereka menyakiti hati suami yang tadinya sangat lemah-lembut kepada mereka. Bagi mereka dia adalah saudara, bapa, anak dan segala yang ada dalam hidup dan di balik hidup ini.

Sekarang Muhammad sudah menghabiskan sebagian waktunya dalam sebuah bilik kecil. Dan selama ia dalam bilik itu pelayannya Rabah duduk menunggu di ambang pintu. Jalan masuk ke tempat itu melalui tangga dari batang kurma yang kasar sekali.

Sudah sebulan lamanya ia dalam bilik itu sesuai dengan niatnya hendak meninggalkan para isterinya itu samasekali. Ketika itu kaum Muslimin sedang berada dalam mesjid dalam keadaan menekur. Mereka berkata: Rasulullah s.a.w. telah menceraikan isteri-isterinya. Jelas sekali kesedihan yang mendalam itu membayang pada wajah mereka. Ketika itu Umar yang berada di tengah-tengah mereka lalu berdiri. Ia hendak pergi ke tempat Nabi dalam biliknya itu. Dipanggilnya Rabah si pelayan supaya dimintakan ijin ia hendak menemui Rasulullah. Ia melihat kepada Rabah dengan mengharapkan jawaban. Tapi rupanya Rabah tidak berkata apa-apa, yang berarti bahwa Nabi belum mengijinkan. Sekali lagi Umar mengulangi permintaan itu. Juga sekali lagi Rabah tidak memberikan jawaban. Sekali ini Umar berkata lagi dengan suara lebih keras.

Percakapan Umar dengan Nabi

“Rabah, mintakan aku ijin kepada Rasulullah s.a.w. Kukira dia sudah menduga kedatanganku ini ada hubungannnya dengan Hafsha. Sungguh, kalau dia menyuruh aku memenggal leher Hafsha, akan kupenggal.”

Sekali ini Nabi memberi ijin dan Umar pun masuk. Bila ia sudah duduk dan membuang pandang ke sekeliling tempat itu, ia menangis.

“Apa yang membuat engkau menangis, Ibn’l-Khattab?” tanya Muhammad.

Yang membuatnya menangis ialah melihat tikar tempat Nabi berbaring itu sampai membekas di rusuknya, dan bilik sempit yang tiada berisi apa-apa selain segenggam gandum, kacang-kacangan5 dan kulit yang digantungkan.

Setelah oleh Umar disebutkan apa yang telah menyebabkannya menangis itu dan Nabi mengatakan perlunya meninggalkan kehidupan duniawi, ia pun mulai kembali tenang.

Kemudian kata Umar: “Rasulullah, apa yang menyebabkan tuan tersinggung karena para isteri itu. Kalau mereka itu tuan ceraikan, niscaya Tuhan di sampingmu, demikian juga para malaikat – Jibril dan Mikail – juga saya, Abu Bakr, dan semua orang-orang beriman berada di pihakmu.”

Kemudian ia terus bicara dengan Nabi sehingga bayangan kemarahannya berangsur hilang dari wajahnya dan ia pun tertawa. Setelah Umar melihat hal ini lalu diceritakannya keadaan Muslimin yang di mesjid serta apa yang mereka katakan, bahwa Nabi telah menceraikan isteri-isterinya. Dengan adanya keterangan dari Nabi bahwa ia tidak menceraikan mereka, ia minta ijin akan mengumumkan hal ini kepada orang-orang yang sekarang masih tinggal di mesjid menunggu.

Surat At-Tahrim.

Ia pergi ke mesjid, dan dengan suara keras ia berkata kepada mereka: “Rasulullah – s.a.w. – tidak menceraikan isterinya.” Sehubungan dengan peristiwa inilah ayat-ayat suci ini turun: “Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang oleh Tuhan dihalalkan untukmu; hanya karena engkau ingin memenuhi segala yang disenangi para isterimu? Dan Allah jua Maha Pengampun dan Penyayang. Tuhan telah mewajibkan kamu melepaskan sumpah kamu itu. Dan Tuhan jua Pelindungmu, Dia mengetahui dan Bijaksana.”

Tatkala Nabi membisikkan cerita itu kepada salah seorang isterinya, maka bila ia (isteri) itu mengumumkan hal tersebut dan Tuhan mengungkapkan hal itu kepadanya, sebagian diterangkannya dan yang sebagian lagi tidak. Bila hal itu kemudian disampaikan kepada isterinya, ia bertanya: “Siapa yang mengatakan itu kepadamu?” Ia menjawab: “Yang mengatakan itu kepadaku Allah Yang Maha mengetahui. Kalau kamu berdua mau bertaubat kepada Allah maka hatimu sudah sudi menerima. Tetapi kalau kamu berdua bantu-membantu menyusahkannya, maka Tuhanlah Pelindungnya; demikian juga Jibril dan setiap orang baik-baik di kalangan orang-orang beriman; di samping itu para malaikat juga jadi penolongnya. Jika ia menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu – yang berserah diri, yang beriman, berbakti dan bertaubat, yang rendah hati beribadat dan berpuasa, janda-janda atau perawan.” (Qur’an, 66: 1-5)

Dengan demikian peristiwa itu selesai. Isteri-isteri Nabi kembali sadar, dan dia pun kembali kepada mereka setelah mereka benar-benar bertaubat, menjadi manusia yang rendah hati beribadat dan beriman. Kehidupan rumahtangganya sekarang kembali tenang, yang memang demikian diperlukan oleh setiap manusia yang sedang melaksanakan suatu beban besar yang ditugaskan kepadanya.

Apa yang sudah saya ceritakan tentang Muhammad yang sudah meninggalkan isteri-isterinya dan menyuruh mereka supaya memilih, peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah ditinggalkan serta beberapa kejadian yang sebelum itu dan akibatnya, menurut hemat saya itulah cerita yang sebenarnya mengenai sejarah kejadian ini. Cerita ini saling menguatkan satu sama lain, seperti yang ada dalam kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab hadis. Demikian juga adanya keterangan-keterangan di sana-sini mengenai diri Muhammad dan isteri-isterinya dalam pelbagai buku biografi itu. Sungguhpun begitu tiada sebuah juga buku-buku sejarah itu yang membawa peristiwa ini atau mengemukakan peristiwa-peristiwa sebelumnya serta kesimpulan-kesimpulan yang diambilnya seperti yang saya kemukakan dalam buku ini. Dalam menghadapi kejadian seperti ini oleh buku-buku sejarah Nabi itu kebanyakan dilewati begitu saja tanpa ditelaah lebih lanjut; seolah-olah ini dilihatnya sebagai barang yang kesat dipegang dan takut sekali mendekatinya. Ada lagi yang menelaah soal madu dan maghafir, tanpa sepatah kata juga menyebut-nyebut soal Hafsha dan Maria.

Sebaliknya oleh pihak Orientalis – soal Hafsha dan Maria, soal Hafsha yang membuka rahasia kepada Aisyah – hal yang dijanjikan kepada Nabi akan dirahasiakan – dijadikannya pangkal sebab semua kejadian itu. Dengan demikian mereka berusaha hendak menambah hal-hal baru untuk meyakinkan pembacanya tentang diri Nabi, bahwa dia laki-laki yang senang kepada wanita dengan cara yang tidak bersih. Menurut hemat saya, penulis-penulis sejarah dari kalangan Muslimin sendiri tidak punya alasan akan mengabaikan kejadian-kejadian ini dengan segala artinya yang sangat dalam itu seperti sudah sebagian kita kemukakan soalnya. Sedang pihak Orientalis, yang dalam hal ini sudah terpengaruh oleh nafsu ke-kristenannya, mereka sudah menyalahi cara-cara penelitian sejarah. Terhadap siapa pun lepas dari orang besar seperti Muhammad – kritik sejarah yang murni tidak dapat menerima bahwa pengungkapan Hafsha kepada Aisyah karena ia telah menemui suaminya dalam rumahnya dengan hamba sahayanya yang sudah menjadi haknya itu dan dengan demikian ia halal baginya – akan dijadikan suatu sebab kenapa Muhammad sampai meninggalkan semua isteri selama sebulan penuh, serta mengancam mereka semua akan diceraikan. Juga kritik sejarah yang murni tidak dapat menerima bahwa cerita madu itu telah juga dijadikan sebab adanya perpisahan dan ancaman itu.

Apabila orang itu orang besar seperti Muhammad, lemah-lembut seperti Muhammad, berlapang dada, tahan menderita, orang berwatak dengan segala sifat-sifat yang ada pada Muhammad, yang sudah sepakat diakui pula oleh semua penulis sejarah hidupnya, maka menggambarkan salah satu dari kedua peristiwa itu an sich sebagai sebab ia memisahkan diri dan mengancam hendak menceraikan isteri, adalah suatu hal yang kebalikannya, jauh daripada suatu cara kritik sejarah. Sebaliknya, kritik yang akan dapat diterima orang dan sejalan pula dengan logika sejarah ialah apabila peristiwa-peristiwa itu mengikuti jejak yang sebenarnya, yang akan membawa kepada kesimpulankesimpulan yang sudah pasti tidak bisa lain akan ke sana. Maka dengan demikian ia akan menjadi masalah biasa, masuk akal dan secara ilmiah dapat diterima. Dan apa yang sudah kita lakukan ini menurut hemat saya adalah langkah yang wajar dalam peristiwa itu, yakni yang sesuai dengan kebijaksanaan Muhammad, dengan segala kebesarannya, keteguhan hati serta pandangannya yang jauh.

Sp: Jadi Pak Dar, saya harap cukup jelaslah tentang istri-istri Nabi ini…

VI.Fungsi bintang

67. 5. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.

Pertanyaan :

Karena bintang dijadikan alat pelempar , tentunya bintang akan bergerak mengejar syaitan . Bintang massanya luar biasa besar sehingga bersifat lembam sementara syaitan bisa bermassa sangat kecil (bisa masuk ke urat darah kita).

Apakah ini masuk akal ?

Sp: Di Film hollywood saja, draculanya takut pada sinar matahari. Padahal Amerika biangnya rasionalisme.

Kapan kita bisa melihat bintang yang sedang mengejar syaitan ?

Sp: Rajin-rajin saja lihat-lihat Bintang setiap malam kalau pas langit cerah.

Letterlijk pak…

VII.Dua tempat terbit matahari

Lihat ayat Ar Rahman berikut ini:

55. AR RAHMAAN 17.
Tuhan memelihara kedua tempat terbit matahari dan memelihara kedua tempat terbenamnya.

Pertanyaan

Apa yang dimaksud dengan dua tempat terbit/terbenam matahari ?
Setahu saya matahari terbit dari timur dan terbenam di barat.

Sp: Tempat terbit matahari di timur itu, tidak selalu di satu titik, tetapi selalu bergeser dari satu titik ke titik lainnya, namun tidak pernah melewati rentang jarak antara dua titik, seperti jarak titik A ke titik B. Dua titik rentang jarak terbitnya matahari itulah “Masyriqaini”. Begitupun tempat terbenamnya, “Maghribaini”. Silahkan amati sendiri selama satu bulan.

Kenapa dipakai kata “tempat” bukan “arah” ?

Sp: Sudah dikomentari di atas. Hal tersebut menyangkut tempat kita manusia melihat hal tersebut.

VIII.Matahari dan bulan

Lihat ayat berikut ini :
36. 40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Pertanyaan :

Apakah ayat ini masih berlaku saat terjadi gerhana matahari total, dimana matahari dan bulan terlihat berimpit dan seolah olah matahari mendapatkan bulan ?

Sp: Itu sedang ngomongin siang dan malam tidak bisa saling mengejar dan bertumpuk, bukan tentang posisi planet-planet.

IX.Dihamparkan

79. 30. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

88. 20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan

Pertanyaan:

Biasanya benda dihamparkan di tempat yang datar, contoh menghamparkan tikar . Padahal bumi itu bulat . Apakah bumi menurut Al Quran itu datar ? Apakah menurut Al Quran bumi itu seperti tikar ?

Sp: Ada-ada saja…. Ayat Al-Quran yang itu turun untuk manusia, ngomongin apa yang dirasakan manusia terhadap bumi, bukan keadaan bumi di lihat dari planet yupiter…., coba Pak dar ke tanah kosong yang luas… lihat ke depan.. apa yang dilihat.. semuanya HAMPARAN…… itu rahmat Allah bahwa manusia merasakan bumi ini adalah hamparan, sehingga merasa lebih nyaman, bayangkan kalau manusia melihat bulatnya bumi ini…pusing kali pak… lihat dari sisi manusianya…

X. Harun

Di surat Maryam disinggung juga tentang nabi Harun :

19.28. Hai saudara perempuan Harun , ayahmu sekali-kali bukanlah
seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

Pertanyaan :

Apakah benar bahwa ayat ini menjelaskan adanya hubungan saudara antara Maryam dengan Nabi Harun ?

Sp: Sesama BANI ISRAIL tentu saja bersaudara. Tapi jumhur ulama berpendapat, ia dipanggil saudara Harun karena kesholehannya mirip Nabi Harun, dan ini diakui oleh orang-orang yang negur Maryam itu…

Apakah “saudara perempuan” itu berarti kakak/adik perempuan?

Sp: Tidak selalu.

Apakah itu berarti Nabi Harun itu satu ayah/satu ibu dengan Maryam ?

Sp: Tidak dalam arti dzahir. Kalau satu keturunan Israil ya…

XI.Proses perkembangan manusia

Ayat ayat berikut ini mencoba menjelaskan tentang penciptaan manusia dan proses dari awal sampai terbentuknya seorang manusia :

22. 5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
23. 12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
23. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
23. 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan
dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
23. 15. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.

40. 67. Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).

Pertanyaan :

Al Quran adalah kata kata Allah Yang Maha Sempurna, tentunya Al Quran adalah kitab yang sempurna juga ini diklaim sendiri oleh ayat berikut ini :
2. 2. Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
Namun demikian menurut saya penjelasan tentang perkembangan dan proses terciptanya manusia pada ayat diatas tidak lengkap. Tidak disinggung sama sekali
peran sel telur dari fihak ibu, hanya fihak ayah saja yang dianggap berperan. Padahal tidak mungkin menciptakan manusia tanpa sel telur. Secara teori bahkan mungkin untuk menciptakan manusia tanpa lewat air mani , yaitu dengan proses kloning. Jadi peran sel
telur lebih penting dibanding perannya air mani tapi kenapa tidak pernah disinggung ?

Sp: Pak Dar yang kurang gigih nyarinya kali… jauh-jauh hari Prof Ahmad Baiquni sudah mensinyalir dalam Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan, bahwa kata ‘turoob” dalam Al-Quran Surat Al-Hajj (22) ayat 5 di atas, yang selama ini diterjemahkan “tanah”, secara leksikal sebenarnya berarti debu atau jasad renik, sesuatu yang sangat amat kecil yang lebih merujuk ke “sel telur” dari pada “tanah”. Bahwa pengertian ini belum dicantumkan dalam tarjamah Indonesia yang resmi, mungkin tinggal menunggu waktu saja. Dulu kata “yasbahuun” pada Surat Yaa Siin ayat 40 diartikan “berenang”, karena itulah padanannya dalam bahasa Indonesia. Seiring waktu sekarang diartikan “beredar” : “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing BEREDAR pada garis edarnya. Jadi ya, sel telur Insya Allah sudah disinggung dengan layak…

XII.Kematian Nabi Sulaiman

Surat As Sabah ayat 14 berikut ini menjelaskan kematian nabi Sulaiman :

[14] Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya.
Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.

Pertanyaan

Nabi Sulaiman sebagai pengganti nabi Daud juga adalah seorang raja , tentunya sebagai seorang raja keberadaannya amatlah selalu dijaga oleh pembantu pembantunya . Namun menurut ayat tersebut tidak ada seorangpun yang tahu bahwa nabi Sulaiman telah meninggal sampai kemudian diketahui setelah tongkatnya dimakan rayap sehingga jenasahnya roboh.

Apakah hal itu masuk akal ?

Sp: Tidak, hal itu tidak masuk akal. Lalu kalau tidak masuk akal kenapa? Memangnya di dunia ini tidak ada yang tidak masuk akal ? lalu kalau tidak masuk akal mau bilang Allah bohong gitu?

Apakah jenasah nya tidak busuk dan berbau ?

Sp: Mayat para ahli ibadah saja banyak yang tidak busuk dan tidak bau dan tidak hancur setelah bertahun dikubur, apalagi para Nabi.

Mungkinkah jenasah bisa kaku diam tidak roboh?

Mungkin saja.

XIII.FIRAUN dan HAMAN

Firaun sering sekali disebut sebut dalam Al Quran, antara lain pada ayat ayat berikut ini :

– [28:6] dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu1114.
– [28:8] Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah
– [28:38] Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.
– [29:39] dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang
nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).
– [40:24] kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”.
[40:36] Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,

Pertanyaan

Firaun adalah nama gelar pemimpin tertinggi bangsa Mesir kuno (disebut juga Pharao), jumlahnya puluhan sejak kira kira 3000 tahun sebelum Masehi. Semua Firaun punya nama , contoh Cheops , Amenhotep , Ramses, Tutankamon , Meneptah dsb. Firaun yang dimaksud pada ayat tsb adalah jamannya Nabi Musa . Kenapa Al Quran tidak menyebut nama asli Firaun ? Lalu Firaun yang mana yang dimaksud dalam Al Quran itu ?

Sp: Di Indonesia jaman baheula, ketika seseorang sudah jadi PRABU, tidak boleh sembarang orang menyebut nama kecilnya, bisa dipancung karena tidak sopan. Fir’aun juga begitu, setelah dinobatkan jadi raja, maka semua orang harus menyebut gelar kebesarannya, “YANG MULIA”, bahkan ibu kandungnya pun harus melakukan hal yang sama jika di depan khalayak, kecuali kalau sedang cengkerama berdua saja di kamar. Istri Fir’aun sama sekali tidak boleh menyebut nama kecilnya. Cobalah pelajari tatakrama dalam istana raja-raja dan kerajaan, Insya Allah memang begitu. Al-Quran menggunakan bahasa tatakrama yang sama, karena dengan begitu yang mendengar dan membacanya bisa mengerti dan lebih nyambung. Tentang Fir’aun yang mana, silahkan yang punya kepentingan untuk itu untuk melakukan penyelidikan, bukankah di suruh oleh Al-Quran untuk menyelidik, jadilah sejarawan, kalau perlu arkeolog, dengan demikian berarti Al-Quran mendorong lahirnya profesi tertentu bagi ummat, tidak dicekoki saja, pakai tuh otak, lakukan kajian-kajian, selidiki peristiwa, biar lu pada jadi orang terkenal dan berhasil di bidang masing-masing… begitu kira-kira kata Allah dalam Al-Quran : “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan PERHATIKANLAH, (telitilah, kajilah) bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). Ali Imraan :137.

Pertanyaan

[40:36] Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,

Pada saat itu sudah ada bangunan yang sangat tinggi di Mesir , yaitu piramid Cheops di Giza yang tingginya 140 meter (bangunan ini tetap menjadi bangunan
tertinggi didunia s/d th 1800) . Apakah Firaun tidak tahu bahwa ada bangunan yang tinggi ?

Sp: Tahu kok, Fir’aun mau yang jauh lebih tinggi lagi…

Pertanyaan

Piramid dibangun dari susunan batu yang terbukti sangat kuat dan mampu bertahan ribuan tahun (piramid Cheops sudah berumur seribu tahun saat Nabi Musa lahir). Tapi Firaun kita malah minta dibuatkan bangunan dari tanah liat :

Sp: Firaun kita????????? Saya bukan pengikut Firaun, Naudzubillah…..

– [28:38] Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.

Apakah Firaun tidak tahu bahwa batu lebih kuat dari tanah liat ?

Sp: Yang begini lebih bagus kalau diterangkan arsitek… tunggu.. saya tanya teman yang arsitek dulu…..(after a few moment…)

Okeh, ini hasil wawancara saya dengan seorang teman yang arsitek :

Bahwa untuk bangunan yang sangat-sangat tinggi, pilihan kepada batu bata dari tanah liat yang dibakar sangat jauh lebih baik dari pada batu biasa (batu kali, batu gunung, batu meteor, batu granit, batu pualam, dlsbg) karena batu bata lebih ringan, efisien, penyediaan lebih cepat dan mudah, finishing yang lebih baik, lebih murah, lebih sedikit membebani pondasi, dan lebih mengikat terhadap semen atau perekat karena teksturnya yang kasar. Jadi Firaun tersebut, ternyata sangat cerdas sekali. Meski bangsa mesir bisa membuat piramid yang demikian tinggi dan luar biasa, tetapi ia tahu bahwa untuk bangunan yang lebih tinggi lagi akan lebih baik dan efisien menggunakan batu batu dari tanah liat yang dibakar. Dalam hal ini Pak Dar kalah cerdas oleh Firaun, satu kosong pak…. J

Pertanyaan

Pada ayat ayat tersebut disebut nama Haman yaitu staff nya Firaun , kenapa nama staff malah disebut sedangkan nama si boss nya tidak ?

Sp: Kalau staffnya disebut namanya tidak apa-apa, masih dalam batas kesopanan. Lagipula bisa menjadi petunjuk bagi peneliti sejarah, Firaun mana yang punya staff bernama Haman, berarti itu dia Firaun yang hidup pada jaman Nabi Musa tersebut. Di kantor saya, GM yang korea di panggil Bujangnim, tidak disebut namanya kecuali sangat perlu, sedangkan yang kepala group ke bawah di sebut Pak anu…. Pak anu…. Ikut tradisi raja-raja, hehehe… saya jadi rakyat jelatanya….. J

Terima kasih sebelumnya .

Sama-sama, semoga bermanfaat.
Wasalam,
Daryono

Wassalam, Sopian.

Advertisements

Kendala Penegakan Syariah

August 29, 2008

Usaha-usaha penegakan syariah di Indonesia telah cukup banyak dilakukan, termasuk pada kali pertama kemerdekaan Indonesia akan diproklamirkan, yang dituangkan dalam Piagam Jakarta yang sejatinya akan dibacakan dalam proklamasi dan masuk ke dalam Mukaddimah UUD. Namun kemudian ditelikung dan dikhianati di tengah jalan, sehingga kita lihat kenyataan sekarang ini 7 kata dalam Piagam jakarta “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” tidak bisa dijumpai dalam Lembaran negara. Usaha itu terus dilakukan hingga kini meski dalam banyak kesulitan dan rintangan yang banyaknya tak kepalang, diantaranya yaitu :

  1. Untuk merubah konstitusi negara, harus dilakukan oleh lembaga tertinggi negara. Lembaga tertinggi negara dipilih oleh rakyat lewat Pemilihan umum, Pemilu itu sistem demokrasi ala barat yang diharamkan oleh banyak kalangan, sehingga yang memilih dan terpilih dalam pemilu adalah mereka-mereka yang tidak mengharamkannya yang bagian terbesarnya adalah orang yang tidak peduli bahkan anti pada penegakan syariah. Memang ada sejumlah kalangan pro penegakkan syariah yang masuk ke sistem politik nasional, tetapi mereka ini kekuatannya tidak terlalu ceegneepeekaan, sehingga lebih “bermain halus”.
  2. Penegakkan syariah, hampir tidak mungkin disetujui oleh para pengambil keputusan tingkat tinggi, karena dampak syariahnya akan mengena, berbalik pada sebagaian besar mereka sendiri. Sebagaian besar mereka lah yang nantinya harus dirajam/didera, dipotong tangan, diqishas, atau dipotong leher atau sebagian hartanya disita karena tidak bayar zakat.
  3. Masyarakat umum alias ummat juga punya problem psikologis yang cukup besar. Banyak rasa ketakutan ditanamkan oleh musuh-musuh Islam kepada benak umat Islam, sehingga para penentang penegakkan syariah justeru datang dari kalangan “umat Islam” sendiri. Jadinya Al-Islaam mahjuubun bil muslimiin.
  4. Islam Indonesia memiliki potensi lebih besar dari banyak negara-negara Islam disatukan, karena itu musuh-musuh Islam senantiasa gigih giat berjuang untuk membuat Islam di Indonesia selalu dalam keadaan tak berdaya dengan banyak hal sehingga tidak sempat lagi berpikir untuk membangun Islam. Dibuatlah itu alira-aliran sesat yang banyak menguras energi umat. Dibuatlah itu banyak organisasi dan partai yang bikin umat tidak pernah bersatu. Dibuatlah itu label dan sebutan seram terhadap Islam; teroris lah, fundamentalis lah, ekstreem lah… dikirimlah itu pengacau-pengacau yang bikin dan ledakkan bom, yang seolah-olah itu dilakukan oleh umat Islam. Dibuatlah itu skenario supaya Islam bentrok dan kelahi dengan kristen di banyak daerah…
  5. Pembodohan massal terhadap umat Islam, lewat media massa; koran, tabloid, majalah, radio, televisi, sehingga umat Islam terlena dalam sinetron-sinetron cinta, tenggelam dalam tayangan ghaib yang menyesatkan, dan terpukau oleh indahnya kulit dan bentuk perempuan (yang masih muda loh….usia antara 17 s/d 30 lah gitu… 🙂).
  6. Umat Islam di Indonesia dicekoki dan digempur oleh berbagai kemusyrikan, perdukunan, sihir dan sebagainya.

Jadi rasanya tidak lah aneh jika Indonesia ini tenggelam ke dasar samudera, atau tertutup lava pijar dan debu vulkanik, atau amblass ke dalam bumi, atau mental ke matahari diterjang angin badai, atau ditimbun lumpur dari dasar bumi, atau sekalian terhapus dari peta bumi.

Pilihan yang agak rasional adalah revolusi, tetapi jelas itupun sulitnya tak terkira.

Wallahulmuwaffiq.

6 November 2007
Sopian

Kemang ~ Martabak Telor

August 26, 2008

Kemang itu bisa saja nama tempat di Jakarta, dimana ada kafe-kafe yang terkenal atau amoy-amoy yang aduhai… Tapi bukan itu. Kemang yang aku maksud adalah nama buah yang bentuknya bulat agak memanjang, besarnya kira-kira sebesar kepalan tangan. Tanganku tentu saja, bukan tangan Mike Tyson atau tangan Ucok Baba. Warnanya coklat muda bertotol-totol, daging buahnya putih agak kuning. rasanya assemmmm… Memakannya lebih enak jika di rujak petis sambel gula jawa atau di cocol garam.

Buah itu, buah Kemang itu, yang rasanya asem itu, yang daunnya biasa untuk lalapan urang sunda itu, yang nilai gizinya juga gak jelas itu, adalah salah satu buah favorit istriku untuk “ngarujak”. Ketika di Bogor dulu, seringkali ia beli di Pasar Leuwiliang, dan menikmatinya dengan penuh perasaan. Tapi setelah pindah ke Cibitung, Bekasi, akses ke buah Kemang menjadi sulit. So, Kemang, jadilah kau seringkali terlupakan. Kalah saing oleh bahan rujak yang lain karena ketiadaanmu.

Berbeda dengan Kemang, Martabak Telor dapat kita jumpai hampir dimanapun di Jabodetabek. Yang sulit dijumpai adalah anggaran belanja untuk Martabak telor itu… 🙂 soalnya Martabak telor yang mencapai kesempurnaan paling tidak harus merogoh kocek agak ke bagian tengah, dan itu bersinggungan langsung dengan mata anggaran rumah tangga yang lain. Jadi, walaupun lumayan sangat suka dengan Martabak Telor, istriku harus cukup bersabar untuk tidak sering-sering bersua dengannya. Lagipula, makanan favorit akan lebih jauh terasa enaknya kalau ketemunya jarang-jarang saja… (hehehe.. pembelaan ketidakmampuan yang lumayan jitu…)

Visi Yang Terkatung

August 26, 2008

Ada keinginan besar, paling tidak menurutku orang kampung yag lugu dan polos ini, hal itu besar. Yaitu aku ingin membangun sebuah pusat pelatihan ilmu dan keterampilan terpadu dengan pendalaman berbagai disiplin ilmu dan character building, semacam Pondok Pesantren Terpadu, yang khusus untuk anak-anak yang karena berbagai hal tidak mampu untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Di PPT itu mereka akan hanya belajar dan belajar serta berlatih berbagai macam ilmu dan keterampilan yang akan dapat mengangkat mereka ke tempat yang jauh lebih tinggi dalam bidang ilmu dan ekonomi sehingga mereka dapat memutus rantai kemiskinan struktural yang selama ini membelenggu mereka. Semuanya gratis, termasuk semua akomodasi dan keperluan hidup sehari-hari. Mereka hanya punya kewajiban moral, jika sudah menjadi orang pintar dan kaya nanti, mereka juga harus membantu sebanyak-banyaknya anak-anak di lingkungan mereka.

Visi itu aku canangkan sekitar 15 tahun lalu. Namun hingga kini rupanya Allah belum berkenan untuk mengabulkannya. Mungkin karena usahaku tidak maksimal. Mungkin karena penggalian sumberdayaku tidak cukup. Mungkin visiku terlalu tinggi untuk ukuran anak kampung yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..) atau mungkin juga karena kalau visi itu tercapai akan berakibat buruk untukku, misalnya membuatku menjadi orang yang sombong dlsbg.

Usaha ke arah itu bukan tidak ada sama sekali, namun gelombang hidup yang menerpaku saja sudah megap-megap aku mengatasinya. Namun paling tidak mimpi itu tetap aku punya; mimpi tentang jalanan yang bersih dari anak-anak, mimpi tentang kampung-kampung dan kota-kota yang rapi, aman dan bersih serta sejahtera, mimpi tentang anak-anak yang pergi tidur dengan senyum dan perut kenyang. Mimpi tentang kebahagiaan orang tua yang memandang anaknya tidur dengan damai, mimpi tentang sekolah-sekolah yang dipenuhi anak-anak cerdas, mimpi tentang anak-anak yang bisa tertawa setiap hari menikmati masa kecilnya yang indah.

Aku yakin seyakin-yakinnya. Allah mendengar mimpi-mimpiku. Jika tidak bisa aku, maka biarlah Allah menunjuk orang lain yang mewujudkannya. Mimpi tentang anak-anak akan selalu indah….

Tetap semangat !!
Bekasi, 26 Agustus 2008

Hadiah Yang Amat Berharga

August 22, 2008

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada yang mereka dapatkan dari puasanya, kecuali lapar & haus.

(H.R Ahmad)

Tiada kerinduan yang paling mendalam bagi seorang mukmin kecuali kerinduannya kepada Allah SWT. Betapa besar keinginannya untuk selalu didampingi, dilindungi dan dikasihi oleh-Nya. Berbagai cara ditempuh dan dijalani agar semakin dekat dan semakin “menyatu” dengan-Nya. Keimanannya yang tulus ikhlas membawanya terus melangkah untuk mendapat ridha-Nya di dunia dan akhirat. Karena bagi seorang mukmin, tiada lain tujuan hidupnya, apapun amal dan tindakannya, kecuali dalam upaya mencari keridhaan-Nya.

Maka seorang mukmin akan sangat bersyukur manakala Ramadhan kembali menyapanya. Menghampiri dan mendatangi dengan segala  kemuliaan yang dibawanya. Menaburkan segala macam harapan akan rahmat, ampunan dan pertolongan Allah dari siksa neraka. Bulan dimana amal shaleh menjadi berlipat ganda nilainya. Bulan ketika setan dibelenggu dan dijauhkan dari diri. Bulan manakala keindahan ibadah akan amat terasa syahdu. Bulan tatkala seorang mukmin panen pahala. Bulan diwaktu seorang mukmin menumpahkan kerinduan kepada Allah SWT.

Bagi seorang mukmin, puasa bagaikan permata paling berharga yang selalu dijaga dan diriksa agar tetap bercahaya. Agar nilainya tidak pudar dilindas dosa. Supaya ia dapat mengantarkannya lebih dekat kepada Sang Pencipta, yang berkata dalam sebuah hadits qudsi : “Semua amal anak Adam (manusia) untuk diri mereka sendiri, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untukKu, dan Aku yang akan membalasnya”.H.R. Bukahari-Muslim, dll.

Apakah Tuhan perlu pada puasa kita dan mengabil untung dari puasa kita dengan penegasan di atas. Tentu saja tidak. Itu adalah petunjuk kepada kita betapa Allah demikian besar perhatian dan kasih sayangnya terhadap orang-orang yang dengan ikhlas berpuasa.

Kewajiban puasa merupakan cara Allah untuk menunjukkan kepedulian dan kasih sayangnya. Karena ia amat peduli pada manusia yang beriman, maka Dia menunjukkan jalan kepada-Nya. Dengan kemuliaan di ujung tujuannya, dan pahala yang amat besar disisi-Nya pada proses pelaksanaannya.

Karena demikian besar perhatian-Nya pada orang-orang mukin, maka Allah SWT. mensabdakan firman-Nya : “Wahai manusia-manusia yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas manusia-manusia (yang beriman) sebelum kalian, agar kalian (dengan proses puasa itu menjadi manusia-manusia yang) bertaqwa”.Al-Baqarah:183.

Karena itu puasa adalah ibadah yang lintas zaman dan peristiwa. Puasa merupakan hadiah Allah bagi kekasih-kekasih-Nya, agar dapat senantiasa berkomunikasi dan bercengkerama tanpa ada batas antara Rabb dan hamba. Ia merupakan ikatan kasih sayang antara Khaliq dan makhluk yang paling disayanginya. Maka dengan alasan apakah seorang mukmin tidak berpuasa ?

Karena itu bagi manusia-manusia beriman yang amat dekat dengan Allah SWT., kata “diwajibkan” terasa demikian kasar. Bagi mereka, mungkin kata yang tepat adalah “dihadiahkan”. Sebuah pemberian yang amat bernilai dan berharga, yang amat rugi jika tidak menerima dan mengabaikannya.

Lalu, laku puasa seperti apakah yang akan dapat mempererat hubungan hamba dengan Pencipta itu? Puasa yang bagaimanakah yang dapat dimaknai sebagai permata yang amat berharga itu ? Shaum yang seperti apakah yang dapat membelenggu setan dan mendatangkan ampunan itu ? Nurani-nurani diri masing-masing akan dengan mudah mengetahui tingkatan hamba macam apa yang kita miliki dengan Shaum yang kita jalani.

Ketika malam hari, seseorang ber-niat untuk berpuasa, kemudian ia tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hal yang membatalkan tatkala fajar mulai menyingsing, hingga tenggelamnya sang surya, maka ia telah berpuasa, meski selama hari itu ia tidak shalat, tidak berhenti memaki, tidak berkedip memandang gadis tetangga yang (maaf) buka paha, tidak berhenti berbicara tentang noda-noda manusia lainnya, dan sebagainya dan sebagainya. Namun masing-masing diri bisa menilai puasa macam apa yang demikian itu.

Kesempurnaan puasa didapat dari ketulusan niat, keikhlasan hati, kesatuan tekad dan semangat untuk menggapai jalan kemuliaan menuju Sang Pencipta.  Kesuksesannya diraih bukan karena berhasil menahan tidak makan dan tidak minum serta tidak beraktivitas seksual, tetapi karena berhasil untuk tidak menurutkan “nafsu makan”, “nafsu minum”, atau “nafsu seksual”. Jadi fokusnya bukanlah makan atau minum atau nge-seksnya, melainkan nafsunya. Sebab itulah sejak dulu aktivitas puasa adalah perang melawan nafsu, karena kalau cuma tidak makan dan tidak minum, anak kelas tiga SD inprespun dapat melakukannya. Terserah pada masing-masing kita, apakah rela disamakan dengan anak SD inpres (tanpa pretensi untuk melecehkan anak SD inpres).

Meskipun Rasulullah SAW. Dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim pernah bersabda, bahwa salah satu kegembiraan orang yang berpuasa adalah ketika tiba waktu berbuka, disamping ketika bertemu Tuhannya, namun hal itu tidak serta merta mengabsahkan perilaku sebagian pelaku puasa, yang ketika disebutkan tentang nafsu makan misalnya, asosiasinya adalah makan, bukan nafsunya. Karena itu ketika istrinya ke pasar, yang dibeli terutama adalah pesanan-pesanan nafsu, bukan kapasitas kebutuhan makan yang diperlukan.

Kenyataan yang terjadi menunjukkan bahwa setiap pelaku puasa pasti pernah mengalami kecenderungan untuk menimbun dan menumpuk makanan dan minuman dan setelah waktu berbuka tiba ia baru sadar bahwa ternyata perutnya tidaklah memerlukan makanan dan minuman sebanyak dan semewah yang ia kumpulkan.

Pelajaran yang didapat dari pengalaman semacam itu seharusnya adalah kesanggupan untuk memilah antara dorongan nafsu dengan kebutuhan makan. Perilaku puasa pada akhirnya bukanlah bertempur melawan “tidak boleh makan” atau “tidak boleh minum”, melainkan  melawan nafsu itu sendiri yang menuntut pengadaan lebih dari sekedar makanan atau minuman.

Karena aktivitas mengendalikan nafsu itu absolut urusan tiap-tiap pribadi, maka wajarlah bahwa puasa adalah aktivitas  vertikal antara seorang hamba dengan Tuhannya. Puasanya menjadi alat komunikasi langsung antara seorang manusia dan penciptanya. Puasa atau tidaknya ia, hanya diketahui dirinya sendiri dan Rabb-nya. Puasa menjadi ujian kesetiaan seorang hamba untuk menjadi kekasih sejati-Nya dan Anda tahu persis puasa seperti apa untuk urusan sebesar itu.

Wallahu A’lam.

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Malu itu

August 20, 2008

Heranku tentang seragam siswa cowok di MTsN 1 Tangerang itu, membuahkan satu peristiwa yang tak bisa kulupa hingga kini, setelah 16 tahun berlalu. Mengapa sebuah Madrasah Tsanawiyah, yang nota bene adalah sebuah lembaga pendidikan Islam, mengharuskan murid-muridnya untuk membuka aurat?, bercelana pendek jauh di atas lutut? Tapi secara aku adalah anak kampung baru lulus SD yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..) jadi heranku itu aku simpan saja sendiri dalam hati. Bagi para ortu juga mungkin tidak masalah karena anak-anaknya tokh belum baligh sekalian buat berhemat juga. Celana panjang kan mahal…
Kelas tiga, ketika bulu-bulu disekujur tubuhku mulai merekah-rekah, aku sudah hampir tak tahan, berangkat dari rumah aku pakai celana panjang, di sekolah aku copot, masukkan tas. Ketika pulang aku pakai lagi… begitu setiap hari sambil menunggu ada keajaiban perubahan peraturan, tapi tak kunjung perubahan itu datang. Secara aku adalah anak kampung yang tidak banyak protes, yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..) aku diam saja soal tak datangnya perubahan peraturan itu…
Baru beberapa tahun kemudian aku menyadari betapa tak mungkinnya perubahan itu karena Endonesa ternyata negara sekuler, dan MTsN 1 itu adalah sebuah sekolah negeri yang harus mengikuti aturan sekularisme, sekalian buat menghemat kain dan sabun colek.
Di akhir kelas tiga, malu itu menerpa dahsyat. Ceritanya, setelah pengumuman kelulusan, dimana aku ternyata lulus dengan NEM tertinggi (gak bisa disebut narsis karena rata-ratanya hanya 6 sekian…hiks… bayangkan betapa… bagaimana yang lain…hiks..) aku otomatis mencari sekolah untuk melanjutkan belajar. Maka atas rekomendasi YOU KNOW WHO di cerita Aliran Kecil Hidup, aku dan Farid berangkat, menumpang Bis Pusaka dari Cikokol langsung menuju Ciputat. Sesampai di Pasar Ciputat, tanya punya tanya arah MAN 3 Jakarta, kami ditunjukkan satu arah, “dekat” katanya, “di Komp. IAIN” (apa juga itu IAIN, gak ngerti lah…) jadi aku dan Farid jalan kaki saja. Dekat kok, katanya…. Setelah berkeringat-keringat berjalan di panas terik selama 20 menitan, baru deh tuh terlihat plang MAN 3 Jakarta dan Madrasah Pembangunan. Masuk komplek yang asing itu, lalu sua MAN 3 itu, lalu daftar.. hanya aku yang daftar, Farid ingin tetap sekolah di Kotif Tangerang…
Selesai daftar kami beranjak, bermaksud shalat dzuhur. Tanya satpam di gerbang Komp. IAIN, kamipun menuju sebuah masjid. Sesampainya di masjid, (belakangan aku tahu namanya Masjid Fathullah) kami binun… Farid pakai celana pendek! seragam sialan itu! Farid memang body nya agak kecil dan tidak berbulu, jadi masih kelihatan belum baligh dan cocok sekali dengan celana pendek di atas lutut itu…. ”Duh, Rid, kamu sholatnya gimana? Gak ada yang kenal di sini yang bisa dipinjam sarungnya…!!” ”Ya kamu sholat duluan aja lah, nanti saya pinjam celana panjang kamu kalau kamu sudah selesai”. Oke deh kaka… Sholatlah aku… Sesaat kemudian tibalah GILIRAN Farid shalat… Aku buka gesperku…. Aku buka kancing kait celanaku….Aku turunkan ristleting celanaku… kupelorotkan celanaku… ketika sebatas lutut… seseorang menepuk pundakku….seraya berkata..”MAS, JANGAN BUKA CELANA DI SINI! BANYAK PEREMPUAN…” Towawwawwaw…, mukaku mungkin semerah udang rebus saat itu, cuma karena kulitku sawo kematengan sajalah merah wajahku tidak terlalu kentara… Suerr.. malu… mungkin aku bunuh diri saja kalau saat itu ada YOU KNOW WHO… malu karena kebodohan diri sendiri, buka-buka aurat berbulu di tengah masjid yang banyak jamaah perempuannya, yang belakangan aku tahu rata-rata mahasiswi… secara aku adalah anak kampung baru lulus MTsN yang lugu, polos dan pendiam (..ehhem..). Mudah-mudahan si YOU KNOW WHO tidak tahu cerita ini. 🙂

Aliran kecil hidup

August 8, 2008

Sekolah di SD biasa saja bagiku, tiada yang terlalu penting, jadi belajar juga biasa saja, seperti layaknya anak kampung yang hobinya main Gundu dan Layangan atau main Saraduan di malam-malam bulan Puasa. Karenanya, ketika lulus SD dengan nilai lumayan tinggi, aku heran juga. Aku ada diposisi 2 setelah Ghazali. Ghazali itu memang sangat cerdas, meski salah satu matanya tidak sempurna. Jujur aku pikir dia itu sudah dewasa, dalam batin kecilku pernah komentar betapa Ghazali itu mestinya sudah SMP, tetapi mengapa malah lulus SD bareng aku? Posisi 3 ditempati Dian, agak gemuk tapi cantik… dia memang anak perempuan satu-satunya yang aku tahu sangat pintar. Kalau dia ternyata cuma di posisi 3, itu lebih karena nasib saja.

Seingatku aku ingin masuk pesantren selulus SD, mungkin masih terpengaruh cita-cita, tetapi entah bagaimana Abah kemudian memasukkan aku ke MTsN 1 Tangerang di Cikokol. 14 kilometer pulang pergi ke sekolah dengan sepeda tadinya, sampai di kelas dua lalu memutuskan untuk naik nagkot saja.

Yang aku ingat di MTsN 1 adalah ucapan Pak Syarifuddin, guru Bahasa Indonesia, guru senior, yang juga adalah ayahnya Eroh temanku, bahwa “nanti, saat kalian besar, tantangan kehidupan jauh lebih sulit dari yang kini kami alami…” Nyatanya memang benar begitu. Hal lain yang kuingat adalah Pak Abu Sang Kepala Sekolah, Ibu Fatmawati guru Matematika yang menawan dengan jilbab besarnya yang suka digoda sama anak-anak cowok sampai lari menangis, dan Ilmiah Idrus…. Aah.. nama yang satu itu membuat jantung tidak berdetak secara teratur… nama terakhir itu yang suka dijadikan bahan oleh istriku untuk menggodaku… 🙂 Cinta kedua terlambat dikata…

Nama terakhir itu pula yang membuat aku hanyut ke Ciputat. Selulus MTsN dengan nilai NEM tertinggi, Ilmiah menyebut MAN 3 di Ciputat sebagai pilihan yang musti dipertimbangkan untuk melanjutkan sekolah, karena katanya dekat dengan IAIN. Tahu pun tidak apa itu IAIN, tetapi karena yang bicara Ilmiah Idrus, aku langsung minta rute ke MAN 3 Ciputat itu dan bersama kawanku Ahmad Farid (almarhum) mengunjunginya di suatu hari yang tak dapat kulupakan karena malu di hari pertama mengunjunginya.

Diri Ini

August 8, 2008

Selasa, 23 Maret 2004, Aku memulai babak baru samudera kehidupan ketika Allah yang Maha Mengetahui Semua Rahasia mendamparkan aku di sebuah Pulau Besar bernama LG Electronics. Tak pernah ku sangka tiada ku kira, nyatanya LG Electronics adalah sebuah Global Company yang subsidiary nya ada di hampir seluruh permukaan bumi. Alhamdulillah, ternyata kehidupan menghanyutkan aku ke sebuah pulau yang layak untuk kujadikan tempat berlabuh.

Yang aku ingat, ketika kecil dulu, ketika menuliskan cita-cita di Pengajian anak-anak di Musholla At-Taqwa, aku ingin menjadi Guru Besar Agama Islam… Cita-cita yang sangat biasa untuk seorang anak yang dibesarkan dilingkungan NU yang pagi sekolah SD, siang sekolah di MI dan malam Mengaji di Musholla. Karena cita-cita ini, atau mungkin karena hal lain, aku rajin sekali mengaji dan sekolah di MI meski kemudian MInya bangkrut kurang murid dan sisa muridnya dipindahkan ke MI lain, termasuk aku. Yang masih kuingat di MI itu hanya Bu Guru Yayah binti H. Kamil yang senyumnya membuat semua anak lupa pada korengnya masing-masing yang dikerubungi lalat.

Pergi sekolah pagi hari bertelanjang kaki, dengan satu buah buku diselipkan pada celana di punggungku tidak mengurangi semangatku untuk menuntut ilmu atau mungkin untuk berkumpul dengan kawan-kawan. Nyeker tak mengapa, karena saat itu yang sekolah pakai sepatu bisa dihitung. Sepatu dan buku bukan hal penting saat itu, banyak hal lain yang lebih penting, karena Kampung Jati di Desa Jatiuwung, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang pada tahun 1980 itu tidak banyak dihuni orang-orang kaya. Jadi Sepatu itu tidak penting, seperti juga tidak pentingnya mencatat dengan standar orang kota tanggal lahir dari anak-anak.

Aku ingat, ketika harus mengisi formulir tanggal lahir, Abah hanya ingat aku lahir tanggal 25 bulan Puasa tahun 1973. Akhirnya dikutak-katik kira-kira tanggal berapa jatuhnya 25 bulan puasa itu di kalender nasional. Ketemunya 25 September 1973. Jadilah itu tanggal lahir resmiku sampai sekarang, meski belakangan aku yakin, tanggal itu pastilah salah… 🙂

Entah karena cita-cita atau karena arus saja, selulus SD aku sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Tangerang di Cikokol, sekitar 7 kilometer dari tempat tinggalku. Saat itu ekonomi Abah sudah agak bagus, dan beliau sudah bisa membelikan aku sepeda mini. Dengan sepeda itu aku pergi sekolah hampir setiap hari. Kalau pas lagi apes, ban sepeda kempes dan dituntun pulang berkilo-kilometer. Yang sekarang terasa aneh sekolah di MTsN saat itu adalah karena murid laki-laki memakai seragam celana pendek jauh di atas lutut, yang dikemudian hari membuat aku menanggung malu pada hari pertama di Ciputat.

(To be continue…)

Berlomba Menjadi Wali

August 8, 2008

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”.

(QS. Al-Maaidah : 51)

Oleh : Ahmad Sopiani

Jika Anda seorang yang telah menikah dan memiliki anak, maka Anda lah yang menjadi wali anak Anda bila ia telah sekolah. Kita menyebutnya Wali Murid. Namun peran Wali Murid tidaklah terbatas pada orang tua kandung si anak saja, bisa pula peran wali ini dimainkan oleh orang lain yang mengambil fungsi wali dari orang tua dan menanggung beban dan kewajiban atas si anak. Ini bisa terjadi manakala si anak sudah tidak memiliki orang tua, orang tuanya terpisah jauh darinya, atau orang tuanya tidak mampu dan ada orang lain yang bersedia mengambil peran wali bagi si anak, entah sudah menikah ataupun belum. Jadi gerangan apakah wali itu ?

Meskipun sekilas wacana wali di atas merupakan hal kecil, namun dalam khazanah ke-Islam-an ia memiliki tempat tersendiri yang tidak kalah dengan tema-tema besar lain dalam Islam. Pada kesempatan ini kita akan membahas soal wali ini pada tataran yang sedikit lebih luas -meski dalam kesempatan yang terbatas- daripada sekadar Wali Murid an sich, meskipun pada hakikatnya fungsi dan tugas seorang wali murid merepresentasikan fungsi dan tugas wali pada umumnya.

Wali Dalam Al-Quran

Kata wali dalam Al-Quran dalam berbagai bentuknya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan antara lain; pemimpin, penolong dan pelindung. Arti pemimpin antara lain dapat ditemukan dalam Surat Al-Maaidah ayat 51 di atas, An-Nahl : 63, 100; dan Al-Kahfi : 50.

Arti Penolong dapat kita lihat dalam Surat ‘Ali Imraan : 122; “Ketika dua golongan daripadamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal”. Juga dapat kita temukan dalam Surat Al-Maaidah : 55; At-Taubah : 71; Huud : 20; Al-Israa : 111; Al-Kahfi : 102; Al-Hajj : 13; dan Al-Jaatsiyah : 19.

Arti pelindung merupakan arti yang paling banyak kita temukan dalam Al-Qur’an, yang biasanya selalu bergandengan dengan kata nashier (penolong). Ini isyarat bahwa kata wali dan kata nashier merupakan kata yang setingkat dan semakna. Lihat misalnya dalam Surat Al-Baqarah : 107; “Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. Lihat juga dalam Surat Al-Baqarah : 120, 257; Ali Imran : 68; An-Nisa : 75, 89, 119, 123; Al-An’aam : 14, 51, 70, 127; Al-A’raaf : 30; Al-Anfaal : 40, 73, dan banyak lagi.

Wali merujuk kepada apapun atau siapapun yang dijadikan sandaran tempat berlindung, dijadikan penolong dan pemimpin oleh manusia, apakah ia mu’min ataupun kafir. Bentuk wali inipun bisa mengejawantah dalam rupa apapun yang diyakini memiliki pengaruh dan kekuatan untuk memimpin, menolong dan melindungi, meskipun terkadang, bahkan seringkali hanya diyakini saja bisa melindungi dan menolong serta memimpin, padahal pada kenyataannya malah melemparkan para pemohon pertolongan dan perlindungan itu ke jurang terdalam kemanusiaan. Dan yang dimaksud jurang terdalam kemanusiaan itu tiada lain adalah ketika manusia tidak lagi ingat dan sadar akan kedudukannya sebagai seorang hamba di hadapan Allah SWT.

Orang-orang kafir menjadikan thagut dan setan sebagai wali mereka, karena itu mereka hanya mendapat pemimpin, pelindung dan penolong yang hanya membawa mereka semakin dalam di kubangan pasir apung kekafiran; ” …. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah : 257).

Bagi orang mu’min, Allah telah memberi pernyataan yang amat tegas dalam Al-Qur’an bahwa wali mereka adalah Allah. Maka Allah menjadi wali bagi orang-orang mukmin; “Allah pelindung (wali) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). (Al-Baqarah : 257). Lalu bagaimana pengertian Wali Allah atau Wali yang biasa dinisbahkan kepada orang-orang shaleh tertentu yang berlaku dalam masyarakat? (Sementara kalangan NU bahkan ada yang menyebut Gus Dur sebagai wali).

Peran dan Fungsi Wali

Peran dan fungsi wali tentu tidak terlepas dari tiga pengertian wali yang kita paparkan di atas. Maka paling tidak ada tiga fungsi wali yang bisa kita kemukakan;

Pertama, fungsi kepemimpinan. Pemimpin tidak sama dengan penguasa atau pemegang suatu wewenang. Seseorang dapat disebut pemimpin jika ada yang menjadi pengikutnya, ia membawa pengikutnya kepada suatu tujuan bersama, ia menyediakan dan mengusahakan sarana untuk mencapai tujuan tersebut, dan ia mampu mengorganisasikan potensi-potensi yang ada untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai bersama. Pemimpin juga harus menyediakan suatu landasan keyakinan dan pada akhirnya harus dapat memberi kesejahteraan lahir dan bathin kepada pengikutnya.

Kedua, fungsi perlindungan. Wali bertanggung jawab untuk melindungi umatnya dari berbagai kemungkinan dan potensi bahaya yang mungkin timbul, baik bahaya yang datang secara langsung ataupun bahaya yang tidak langsung. Bahaya yang sifatnya lahir semacam serangan musuh bersenjata ataupun bahaya ruhani yang datang melalui penetresi kultur asing yang mengancam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Ketiga, fungsi pertolongan. Wali juga harus bisa memberikan pertolongan yang tepat dan segera atas segala macam ancaman yang mengancam keselamatan kehidupan umatnya. Ancaman tidak hanya bahaya yang terlihat secara lahir, namun juga bisa dalam bentuk keadaan yang membuat orang tidak berdaya dan lemah, seumpama kebodohan dan kemiskinan serta kesesatan dan keruntuhan moral.

Berdasarkan ketiga fungsi tadi, maka tidak ada yang dapat memenuhinya secara total kecuali Allah yang maha sempurna. Namun karena manusia adalah makhluk Allah yang paling suka dan sedapat mungkin bisa meniru sifat-sifat penciptanya, maka Allah memberi kesempatan pada manusia, khususnya orang-orang mu’min untuk melekatkan ketiga fungsi wali itu pada dirinya. Maka jika ketiga fungsi tadi ada pada Gus Dur misalnya, maka barulah Gus Dur layak disebut wali. Dengan demikian, siapapun yang dapat mereaslisasikan ketiga fungsi wali tadi pada dirinya, bolehlah ia disebut wali.

Memilih Wali

Menghadapi pemilu 2004, maka setiap muslim dihadapkan pada berbagai pilihan, manusia dan organisasi/partai yang mengatakan bahwa mereka adalah wali-wali yang akan menjadi pemimpin, penolong dan pelindung rakyat/umat. Klaim mereka sebagian besar tidak dapat kita iyakan namun juga tidak dapat kita sanggah, hingga kita benar-benar mengenal dan melihat apa yang mereka perbuat untuk umat. Jika ketiga fungsi wali di atas ada pada mereka, atau paling tidak mendekati, bolehlah kita memilih mereka. Karena itu, kenalilah para calon wali itu. Dengan pengamatan yang seksama kita akan tahu layak tidaknya orang tersebut menjadi wali kita, dan jangan lupa standar Islam dalam memilih wali, yaitu seperti disebutkan dalam Surat Al-Maaidah Ayat 51 di atas; “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”.

Jadi bagi kita umat Islam, pilihlah calon wali yang mu’min, benar-benar mu’min, dan memiliki atau paling tidak mendekati tiga fungsi wali di atas. Inilah saatnya kaum muslimin di Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan dengan memilih pemimpin yang sesuai standar Islam. Jika ini dilakukan dan kalimat Tauhid dapat tegak dan berkumandang di bumi pertiwi, maka kita telah menolong agama Allah, dien al-Islam. Jika usaha ini berhasil dan dinilai bagus oleh Allah, maka kita telah menjadi “Wali Allah”.

Untuk para calon wali, saya ingin mengutip pesan Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Umar;

“Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan bertanggung jawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang penjabat adalah pemimpin manusia dan ia akan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka. Manakala seorang istri pemimpin rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dia akan bertanggung jawab terhadap mereka. Seorang hamba adalah penjaga harta tuannya dan dia juga akan bertanggung jawab terhadap apa yang dijaganya. Ingatlah, kamu semua adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab terhadap apa yang kamu pimpin.

Wallahu a’lam.

Catatan penulis 2008 : Pemilu 2004 sama sekali jauh dari harapan, dan sepertinya menggantungkan harapan pada pemilu memang sesuatu yang tak berpijak pada kenyataan 🙂

Atas Nama Waktu

August 8, 2008

Artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. dan orang-orang yang saling menasihati tentang/dengan Kebenaran dan orang-orang yang saling menasihati tentang/dengan kesabaran”

(QS. Al-’Ashr : 1-3)

Oleh : Ahmad Sopiani

Seakan sebuah keniscayaan bahwa segala sisi kehidupan manusia di seantero bumi ini selalu diukur dalam skala untung dan rugi. Segala hal dipikirkan dan ditimbang untung dan ruginya, tak peduli apakah dia seorang saudagar, politikus, negarawan, pengacara, pemutus perkara alias hakim, entertainer, ibu rumah tangga, pengedar narkoba, bahkan Pekerja Seks Komersial sekalipun. Seluruhnya berpikir tentang keuntungan dan berharap jangan sampai dia berada dalam posisi rugi atau dirugikan, hingga banyak yang tak peduli lagi kalaupun ia merugikan pihak lain.

Al-Qur’an merekam kenyataan yang kasat mata ini dengan pernyataan tegas yang diawali sumpah Allah SWT atas nama waktu, karena pertimbangan untung rugi sesosok manusia senantiasa terkait dengan waktu dan kepiawaian manusia tersebut dalam me-manage waktu dalam pentas kehidupannya. Hingga lahirlah sebuah slogan dari kulon; Time is money.

Kenyataan bahwa Allah SWT bersumpah atas nama waktu dan dilanjutkan dengan penegasan kerugian yang diderita manusia menunjukkan kepada kita betapa pentingnya peran dan posisi waktu dalam kehidupan manusia sehubungan dengan skala untung dan rugi yang dikemukakan di awal tadi. Dan sesungguhnya manusia itu senantiasa berada dalam kerugian. Siapapun ia, kapanpun ia melata di atas bumi, ia akan selalu mengeluhkan kerugian yang menderanya, termasuk di dalamnya umat Islam, dan Tuhan menyaksikan itu.

Terkadang, seseorang bahkan berbohong bahwa ia mengalami kerugian, padahal tidak, untuk memancing keuntungan yang lebih besar lagi, seperti perkataan seorang pedagang; “wah segitu sih saya rugi, neng ! Tambah lima ribu lagi deh ! Kerugian semu semacam ini, dengan mengorbankan kejujuran, adalah juga dalam skala menarik keuntungan dan menepis kerugian.

Namun Al-qur’an menegaskan bahwa manusia itu selalu dalam kerugian, kecuali; saya sering berkata kepada kawan bahwa segala sesuatu ada kecualinya, bahkan tuhan sekalipun, seperti perkataan kita : tidak ada tuhan kecuali Allah. (walau terjemah ini tidak tepat untuk kalimat tahlil).

Pengecualian kerugian dalam Al-Qur’an ini juga merupakan dorongan agar umat Islam tidak berada dalam kerugian dan senantiasa dalam posisi beruntung, yaitu :

1. Orang – orang yang beriman. Yaitu orang – orang yang teguh dalam keimanannya kepada Allah SWT, dan hal-hal yang wajib diimani. Tidak dicampur-baurkan dengan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan bahwa rejeki manusia dipengaruhi oleh jimat yang ia miliki, yang ia peroleh dari “mbah Peteng dari lembah Mongkleng”.

Orang-orang yang beriman tidak akan gundah menghadapi beratnya hidup. Orang-orang beriman tidak akan mudah menyerah dan berputus asa. Orang-orang beriman akan senantiasa giat, gigih dan ulet dalam menjalani peran hidupnya. Orang-orang beriman tidak akan menggantungkan hidupnya pada akar yang lapuk. Iman adalah landasan dalam hidup, karena itu orang-orang beriman akan menemukan jalan untuk tinggal landas sekaligus keluar dari kerugian.

2. Dan orang-orang yang beramal shaleh.

Amal shaleh tidaklah melulu dalam pemahaman ibadah yang bersifat rituil dan rohani. Tidak hanya sebatas perilaku-perilaku yang telah diatur tata-caranya dalam Islam. Bukan hanya shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah, dan dzikir. Amal shaleh lebih merupakan sebuah etos kerja. Islam mengistilahkan etos kerja dengan amal shaleh. Mungkin itu sebabnya sebuah organisasi ke-islam-an terbesar kedua di tanah air kita menamakan segala aktivitasnya dengan istilah amal-usaha.

Amal shaleh mencakup segala macam aktivitas, jasmani maupun rohani, yang membawa manfaat bagi hidup dan kehidupan dunia dan akhirat. Seorang yang tekun shalat, ia beramal shaleh. Seorang yang bekerja menafkahi keluarga, ia beramal shaleh. Seorang hakim memutus perkara dengan adil, ia beramal shaleh, seorang yang pergi haji karena Allah, ia beramal shaleh. Siapapun yang melaksanakan sesuatu yang membawa kemaslahatan bagi umat, maka ia beramal shaleh, baik itu berorientasi dunia ataupun akhirat.

3. Dan orang-orang yang saling menasihati dengan/tentang kebenaran.

Menasihati seorang pelaku kriminal tentang bagaimana cara agar tindak kriminalnya bermetode dan berhasil baik, tentu tidak termasuk pengecualian dari kerugian kategori ketiga ini, meskipun di dunia kejahatan ada umpamanya “cara merampok dengan benar”.

Saling menasihati lebih dititikberatkan pada sebuah interaksi sosial dalam sebuah masyarakat madani, yang pranata sosialnya telah mapan. Kata saling sangat ditekankan karena sebuah tatanan sosial yang baik harus terdiri dari individu-individu yang telah sadar akan hak dan kewajibannya sebagai seorang anggota komunitas.

Kebenaran dalam isi nasihat juga harus balance dengan cara memberi nasihat yang benar. Sering terjadi isi sebuah nasihat yang benar dan diakui kebenarannya menjadi sia-sia karena disampaikan dengan cara yang tidak benar. Kebenaran dimaksud juga tidaklah kebenaran subyektif menurut pola pikir orang yang menyampaikan atau dimintai nasihat saja, tetapi hendaklah memiliki standar mutu kebenaran. Dalam Islam, kebenaran itu datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah menjadi orang-orang yang ragu.

Itulah sebabnya, para ustadz senantiasa menyandarkan apa yang disampaikannya kepada Al-Qur’an sebagai standar mutu kebenaran dalam Islam plus Sunnah Rasul sebagai satu-satunya interpretasi yang diakui Al-Qur’an; “Demikianlah kami turunkan Al-Qur’an kepadamu agar kamu jelaskan kepada mereka”.

4. Dan orang-orang yang saling menasihati dengan/tentang kesabaran.

Dalam suatu komunitas sosial, menyampaikan kebenaran harus dengan sabar dan bijaksana. Bila dilakukan dengan emosi meluap dan tanpa kesabaran, maka bisa jadi kebenaran dimaksud malah tidak membumi.

Kesabaran orang ada batasnya, betul. Kesabaran dibatasi oleh maut. Artinya kesabaran seseorang telah sampai pada batasnya tatkala maut menjemput.

Ketika seseorang dikaruniai harta yang berlimpah, ia harus sabar untuk tidak berlaku sombong, sabar supaya tidak melecehkan orang lain dengan hartanya, sabar agar tidak menggunakan hartanya di jalan sesat. Kesabaran semacam ini amat berat, sehingga bila ia bertahan untuk sabar me-manage hartanya di jalan Allah hingga maut menjemput, maka ia dijanjikan pahala yang ratusan kali lipat di sisi Allah SWT.

Demikian pula sebaliknya, jika ada orang yang dirundung kemiskinan, namun ia tetap sabar menjalani garis hidupnya, sambil tetap sabar berusaha untuk mendapat kehidupan yang lebih baik tanpa menyimpang dari jalan Allah dengan jalan munjung atau muja misalnya, hingga kemudian ajal mendatanginya, maka ia akan mendapat pahala yang besar di sisi Allah SWT.

Pada akhirnya, atas nama waktu, orang yang paling banyak menjalani empat pengecualian inilah yang benar-benar akan beruntung dan keluar dari keniscayaan manusia yang selalu merugi. Dan sungguh beruntung umat Islam karena memiliki pedoman hidup yang tidak ada duanya di muka bumi ini, Al-Qur’an.

Wallahu “a’lam.