Potensi Diri Manusia

Potensi Diri Manusia
(by : Ahmad Sopiani)

Agak lama merenung bertanya dalam hati, aku harus memulai dari mana menulis tentang potensi manusia ini ? Buka-buka halaman Wikipedia dapat sedikit pengertian tentang potensi diri sebagai : kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal. (Jadi ingat pelajaran di esde tentang energi potensial). Plus keterangan klasifikasinya pada Kemampuan Dasar, Etos Kerja dan Kepribadian. Jadi aku berkesimpulan, potensi diri manusia itu adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang dengan potensi itu manusia mampu untuk memaksimalkan kemanusiannya (etos kerja) dan tujuan penciptaan manusia (kepribadian).
Jadi kira-kira, ketika Allah menciptakan manusia dengan tujuan utama untuk menjadi pribadi-pribadi “’abdun/’abiid”, maka Allah melekatkan potensi-potensi agar manusia itu bisa berhasil menjadi “abdun” atau “abiid” alias hamba yang sebenarnya. Secara logis, kalau namanya hamba, maka tidak ada pilihan kecuali taat pada tuannya. Menjadi abdun itu diraih dengan modal dasar berupa potensi-potensi yang telah Allah lekatkan secara inklusif pada manusia dan jin. Tentu saja orang atheis darwinis tidak akan mau dengan pengertian ini. Tapi biarlah, itu urusan mereka dan tanggung jawab mereka.
AlQuran menyebut tujuan penciptaan manusia tersebut dalam Surat Adz-Dzaariyaat : 56 yang terjemahnya “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah/mengabdi kepada-Ku.”.
Konsekuensi dari keselarasan dengan tujuan penciptaan tersebut adalah janji Allah atas surgaNya. Dan itu dapat dicapai hanya dengan memaksimalkan penggunaan potensi-potensi yang lekat secara spiritual. Kalau saya tentu saja berharap semua manusia (dan jin) bisa berkumpul bareng di surga, biar meriah dan suasana menjadi hangat. Tetapi kenyataannya ternyata tidak demikian, kerena banyak manusia dan jin diberitakan oleh Allah akan menjadi penghuni tungku panas api neraka.
Kalau demikian pasti ada sesuatu yang salah pada manusia dan jinnya, karena tidak mungkin lah yang salah Allahnya. Apakah yang salah pada manusia dan jin itu sehingga banyak yang jadi penghuni neraka? Hal ini pun sudah diberitakan Allah dalam Al-Quran, Surat Al-A’raaf : 179 yang terjemahnya : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Jadi ternyata menurut Allah, kesalahan itu terletak pada manusia dan jin yang tidak menggunakan potensi yang lekat pada mereka secara maksimal dalam koridor spiritual. Yang salah itu jin dan manusianya yang tidak menggunakan hati untuk “memahami”, tidak menggunakan mata untuk “melihat” dan tidak menggunakan telinga untuk “mendengar”. Contohlah itu Abu Jahal atau Abu Lahab, yang seringkali mendengar lantunan ayat-ayat Al-Quran, melihat peri kehidupan Muhammad SAW setiap hari, tetapi hati tetap ingkar pada kebenaran Islam yang di bawa Rasulullah. Mereka itu melihat dan mendengar hanya sekadar melihat dan mendengar saja, tidak sampai pada ”mendengar dan melihat” secara spiritual. Hatinya sekeras batu. Bahkan batu tidak keras-keras amat.
Contoh yang masih hangat, yang membuat saya hampir titik air mata menyaksikannya adalah kemeriahan manusia-manusia yang diberitakan berkumpul, ribuan jumlahnya, bukan untuk istighosah, tetapi untuk meminta tuah pada batu yang digenggam si kecil Ponari. Ya Allah, Astaghfirullah, kemarin malah mungkin puncak kesedihan dan kemarahan hati, melihat orang-orang itu mengaduk-aduk got Ponari dan meminum air dari selokan itu. Sembuh kagak, tebese iya. Ini yang bodoh siapa? Rakyat jelata yang hidupnya sudah gak karu-karuan itu? Ataukah para pemimpin, ulama dan da’i yang tidak bisa memberi pencerahan dan kehidupan yang lebih baik? Pikir-pikir, terlepas dari unsur syiriknya, kalau betul si Ponari bisa menyembuhkan dengan air yang dicelup batu, mengapakah si Ponari itu tidak mencelupkan batu itu ke danau-danau dan sungai-sungai supaya orang-orang itu tidak perlu mati berdesakan atau tebese karena minum air comberan. Jadi siapa yang bodoh dan jahil? Rakyat jelata yang hidupnya sudah gak karu-karuan itu? Ataukah para pemimpin dan ulama serta para da’i yang tidak bisa memberi pencerahan dan membawa manusia-manusia itu pada kehidupan atau kematian yang lebih baik?
Sesal kemudian tidak berguna, maka tidak bergunalah penyesalan para penghuni neraka yang mengatakan “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Al-Mulk : 10).

Pertanggungjawaban (Al-Mas’uliyyah)
Akhii, potensi-potensi dasar yang Allah berikan itu, berupa “pendengaran, penglihatan dan hati” tidak geratis. Tidak free. Itu harus kita bayar dengan cara melaksanakan amanat yang Allah berikan pada kita. Apakah amanat Allah itu? Tidak lain adalah “khilafah”. Setiap manusia yang tercipta, maka lekatlah dengannya amanat ke”khalifah”an untuk memakmurkan bumi ini sesuai dengan tuntunan dan tuntutan Allah. “Dan Ingatlah ketika Rabb mu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi..” (Q. S. Al-Baqarah : 30)
Amanat berupa “khilafah” dari Allah ini paling tidak memiliki tiga konsekuensi yang harus kita pahami dan kita laksanakan; pertama, kepemilikan yang ada pada kita bukanlah dalam arti yang sesungguhnya. Artinya, apapun yang kita miliki hakikatnya bukanlah milik kita. Semuanya hanya titipan dari Allah SWT. Apapun itu; rumah mewah, kuda gagah, kapal pesiar, hatta bulu-bulu dipermukaan kulit kita. Karena semuanya titipan, maka kita berkewajiban menjaganya. Itu sebabnya bunuh diri termasuk kejahatan besar yang dilarang, karena tubuh dan jiwa ini, serapuh dan sejelek apapun, bukan milik kita, tetapi titipan Allah SWT yang harus dijaga dan dipelihara. (jadi ingat yang merusak tubuh dengan asap… )
Konsekuensi kedua dari amanat khilafah adalah bahwa apapun yang kita lakukan haruslah sesuai dengan misi yang diamanatkan oleh pemberi khilafah. Mencari nafkah, harus cocok dengan ketentuan Allah. Menginfaqkan harta, harus sesuai pedoman dari Allah. Menjalani hidup harus sejalan dengan tuntunan Allah. Apapun itu, perkataan perbuatan, sudah ada ketentuan how nya dari Allah, dan Allah sudah memberikan uswah teladan untuk jadi standard/rujukan, yaitu perihidup Rasulullah SAW.
Karena semua yang kita miliki adalah titipan, karena segala yang kita lakukan harus sesuai dengan misi yang diberikan oleh pemberi khilafah, maka konsekuensi ketiga adanya amanat khilafah adalah bahwa kita tidak boleh menyimpang dari batasan-batasan, ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT. Batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan serta hukum-hukum itu Allah tetapkan bukan karena ingin mengekang manusia dalam kerangkeng, bukan karena Allah takut disaingi, tetapi karena kasih sayang Allah yang besar pada manusia. Contoh kecil, banyak orangtua yang membatasi anaknya main game di komputer, bukan apa-apa, itu karena orang tua sayang sama anak, takut mata anaknya rusak dan lagipula listrik kan mahal.
Begitupun, Allah memberi batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan serta hukum-hukum pada manusia adalah untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia itu sendiri, yang pada akhirnya manusia dapat menjadi khalifah di bumi ini sesuai dengan standard kekhalifahan dari Allah dan nanti di Hari Akhir bisa menikmati indah dan ni’matnya surga; ketika batasan-batasan, hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan tersebut dilanggar, jangan salahkan Allah jika di Hari Akhir nanti dapat jatah neraka karena; (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.(Q.S. An-Nisaa :13-14).

Kawan, jika tiga konsekuensi amanat Allah di atas tidak kita laksanakan, itu artinya kita berdiri di hadapan Allah vis a vis dengan amanat tersebut, yang dapat kita sebut yang demikian itu khianat”. Tidak pandai menjaga dan melaksanakan amanat adalah khianat sudah menjadi bahasa kita sehari-hari. Orang yang ber-khianat itu diumpamakan:
Seperti Binatang ternak, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raaf : 179)
Seperti Anjing, “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al-A’raaf : 176)
Seperti Monyet alias Kera, “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”.(Q.S. Al-Baqarah : 65) dan “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina”. (Q.S. Al-A’raaf : 166).
Seperti Kayu yang tersandar, “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (Q.S. Al-Munaafiquun : 4)
Seperti Babi, “Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Q.S. Al-Maaidah : 60)
Seperti Batu, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Baqarah : 74)
Seperti Laba-laba, ”Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”.(Q.S. Al-’Ankabuut : 41)
Seperti Keledai, ”Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (Q.S. Luqman ; 19) dan “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim”. (Q.S. Al-Jumu’ah : 5).

Memang sulit kawan, menjadi abdun yang baik, yang mengerahkan seluruh potensinya untuk mengemban amanat dan tidak ber-khianat, tetapi itu bukan mustahil, itu bisa diusahakan, sedikit-demi sedikit, setetes dua tetes, yang penting kita mau berusaha berproses ke arah itu, biarlah Allah yang menilai hasil akhirnya. Contoh abdun yang paling sukses tentu saja Rasulullah SAW, tapi tentu level kita tidak akan pernah bisa se-level dengan Rasulullah, paling tidak kita berusaha ke arah itu. Semoga sukses!!
Wallaahu a’lam.

Wassalamu’alaikum wr.wb.
Bekasi, 15 Februari 2009.
Sopian, Ahmad Sopiani
(disarikan dari presentasi Al-Ustaadz Muhammad Zaenal Muttaqien, Lc)

Potensi diri
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Potensi diri merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal.
Klasifikasi
Secara umum, potensi dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
• Kemampuan dasar, seperti tingkat intelegensi, kemampuan abstraksi, logika dan daya tangkap.
• Etos kerja, seperti ketekunan, ketelitian, efisiensi kerja dan daya tahan terhadap tekanan.
• Kepribadian, yaitu pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan, serta kebiasaan seseorang, baik jasmaniah, rohaniah, emosional maupun sosial yang ditata dalam cara khas di bawah aneka pengaruh luar.
Menurut Howard Gardner, potensi yang terpenting adalah intelegensi, yaitu sebagai berikut.
1. Intelegensi linguistik, intelegensi yang menggunakan dan mengolah kata-kata, baik lisan maupun tulisan, secara efektif. Intelegensi ini antara lain dimiliki oleh para sastrawan, editor, dan jurnalis.
2. Intelegensi matematis-logis, kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan pada kepekaan pola logika dan perhitungan.
3. Intelegensi ruang, kemampuan yang berkenaan dengan kepekaan mengenal bentuk dan benda secara tepat serta kemampuan menangkap dunia visual secara cepat. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh para arsitek, dekorator dan pemburu.
4. Intelegensi kinestetik-badani, kemampuan menggunakan gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Kemampuan ini dimiliki leh aktor, penari, pemahat, atlet dan ahli bedah.
5. Intelegensi musikal, kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara. Kemampuan ini terdapat pada pencipta lagu dan penyanyi.
6. Intelegensi interpersonal, kemampuan seseorang untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, motivasi, dan watak temperamen orang lain seperti yang dimiliki oleh seserang motivator dan fasilitator.
7. Intelegensi intrapersonal, kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri. Kemampuan ini berkaitan dengan kemampuan berefleksi(merenung) dan keseimbangan diri.
8. Intelegensi naturalis, kemampuan seseorang untuk mengenal alam, flora dan fauna dengan baik.
9. Intelegensi eksistensial, kemampuan seseorang menyangkut kepekaan menjawab persoalan-persoalan terdalam keberadaan manusia, seperti apa makna hidup, mengapa manusia harus diciptakan dan mengapa kita hidup dan akhirnya mati.
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Potensi_diri”
Kategori: Artikel yang perlu dirapikan

About these ads

One Response to “Potensi Diri Manusia”

  1. husain Says:

    btul sahabat “jangan pernah menyediakan kuburan bagi sebuah kebenaran sebab kebenaran tak akan pernah mati sampai kapanpun….selamat berjuang….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: