Jenderal Hormat Pada Kopral

November 21, 2009 by sopian73

( oleh : Ahmad Sopiani )

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Innalhamda lillaah, shalli wa sallim ‘alaa rasuulillaah.

Tidak ada yang salah pada title tulisan ini. Memang demikianlah adanya. Seorang Jenderal sekalipun ada suatu waktu ketika ia harus hormat pada kopral atau bahkan kepada prajurit yang stratanya paling bawah sekalipun. Suatu waktu tersebut adalah ketika seorang kopral memberi hormat pada sang Jenderal… Peraturan Penghormatan Militer yang disingkat PPM, mengharuskan orang yang diberi hormat untuk membalas penghormatan tersebut. Jenderal yang baik sangat tahu peraturan ini dan dengan senang hati atau karena semata-mata kebiasaan sekalipun, ia pun akan angkat tangannya untuk menghormat balik pada sang kopral, atau minimal menganggukkan kepalanya… Jadilah Jenderal hormat pada Kopral.

Dalam istilah Al-Quran, penghormatan itu adalah “Tahiyyah”. Dan “Tahiyyah” direpresentasikan dengan ucapan “salaam”. ”Salaam” yang merupakan bahasa penghormatan penduduk surga, kemudian ditetapkan pula untuk diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari kaum muslim di buana panca tengah ini. Mungkin untuk simulasi kehidupan kaum muslim dalam surga di akhirat kelak…

“Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan pernghormatan mereka dalam syurga itu ialah “salaam”. (Q.S. Ibrahim [14] : 23).

“Do’a mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”. (Q.S. Yunus [10] : 10)

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan “salaam” di dalamnya”. (Q.S. Al-Furqaan [25] : 75).

“Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah “Salam”; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka”. (Q.S. Al-Ahzab [33] : 44).

Oleh sebab urusan penghormatan ini sepertinya penting sekali, karena merupakan salah satu watak dasar manusia untuk mendapatkan suatu penghormatan, maka Allah merasa perlu untuk memberi informasi dan petunjuk yang harus dilaksanakan ummat Islam dalam urusan yang satu ini. Dalam perkembangannya, wacana yang timbul adalah bahwa biarpun memberi penghormatan dalam bentuk “salaam” kepada orang lain hanya “Nadb” (anjuran) saja yang melahirkan hukum fiqh sunnah/sunat, tetapi membalas penghormatan itu menjadi “iijaab”(tuntutan) yang membuahkan hukum waajib dalam fiqh Islam..

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”. (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 86).

Ikhwan fillaah,..

Watak dasar manusia yang satu ini, yaitu keinginan untuk dihormati, betul-betul berlaku universal. Budaya dan bangsa yang non muslim sekalipun, yang atheis sekalipun, entah saya mendapatinya di media atau bersentuhan secara langsung, mengenal asas-asas penghormatan ini meski dengan tata laku yang berbeda. Ada yang dengan cara mengangkat tangan, ada yang dengan menundukkan kepala, ada yang secara badan dibungkukkan hingga hampir 90 derajat atau dengan ucapan semisal good pagi selamat morning. Bahkan ketika akan berantem adu jotos pun, ada diawali hormat terlebih dahulu.

Orang-orang Jepang dan Korea akan membungkukkan badan untuk menghormat, orang Eropah mungkin cukup menganggukkan kepalanya. Hitler dan tentaranya mungkin menghormat dengan mengangkat tangan kanan lurus kedepan naik 45 derajat dengan telapak tangan ke arah bawah, sementara para kawulo di Mojopait akan merapatkan dua telapak tangannya menjadi satu lalu meletakkannya di jidat naik sedikit… pokoknya macem-macemlah… Itu yang dalam bentuk gerakan. Kalau dalam bentuk ucapan beda-beda lagi sesuai bahasanya masing-masing. Kecuali untuk kaum muslim mungkin… bahasanya apapun, tahiyyahnya sudah dibakukakan dalam ucapan salaam; assalaamu’alaikum.

Sepertinya sederhana saja urusan penghormatan ini,… namun apa benar sesederhana itu? Rasanya tidak deh… Dari aslinya hanya urusan angkat-angkat atau angguk-angguk dan cuap-cuap, urusan penghormatan ini kemudian melesat lebih tinggi dan tinggi lagi dalam berbagai tataran budaya, bahkan pernah singgah ke istana Wakil Presiden Republik Indonesia, ketika ex Wapres JK menghitung ia pernah sampai 14 kali dihormati dalam sehari;

Tidak, urusan hormat ini tidak sederhana. Hormat mewakili banyak hal dalam kehidupan manusia. Ucapan atau gerak tahiyyah itu merepresentasikan sesuatu yang jauh lebih besar dan serius…dan hal itu lintas waktu, nilai, budaya dan negara. Hormat dalam pengertian tahiyyah atau greetings saja memiliki skala nilai yang tinggi dalm kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara karena ia menunjukkan tatanan moral kasih pada sesama, kerukunan hidup, kedekatan emosional, keramahan, kepedulian, dan lain sebagainya. Apatah lagi ”Hormat” dalam pengertian semantik dalam Bahasa Indonesia.

Kalau di Indonesia disebutkan ”Anak itu sangat hormat pada orangtuanya”, maka hal tersebut mengandung makna kepatuhan, rasa sayang, pengharapan, dan keberpihakan. Kalau disebutkan ”Siswa itu sangat hormat pada gurunya”, pun mengandung makna yang mendalam dalam kehidupan dan interaksi antara guru dan murid.

Ketika dikatakan ”Masyarakat Indonesia amat hormat pada hukum yang berlaku”, itu artinya tatanan masyarakat ideal telah terbentuk dan terbina, karena hormat pada hukum artinya adalah kepatuhan untuk bersama-sama menjaga tatanan sosial sesuai dengan hukum-hukum yang telah disepakati bersama, atau paling tidak disepakati oleh sebagian besar anggota masyarakat menurut system yang berlaku. Pun jika ada anggota masyarakat yang tidak patuh pada hukum, itu artinya menjadi kewajiban bagi anggota masyarakat yang lain untuk mengingatkan/mencegah orang tersebut, dan jika orang itu tetap membandel dan tetap melanggar hukum, maka para penegak hukum dapat memproses pelanggaran hukum tersebut dalam bingkai penghormatan pada hukum yang berlaku.

Tapi Kang Sop, hukum di Indonesia kan bukan hukum Islam, bukan hukum Allah, tapi hukum thagut, hukum yang dihasilkan manusia, hukum yang merupakan anak kandung sistem demokrasi yang mengakomodir mayoritas, bukan mengakomodir kebenaran dan keadilan, hukum yang bisa direkayasa, hukum yang bisa diperjualbelikan tergantung berapa banyak uang yang dimiliki? Apa hukum seperti itu yang harus kita hormati dan kita patuhi…? (Hehehee…. no komen lah.. biar yang ahli-ahli saja yang bahas…).

Saudaraku…

Kalau asas saling menghormati ini kita lakukan, katakanlah kita ucapkan tahiyyah salam seperti anjuran Rasuulullah SAW pada yang kita kenal ataupun tidak kita kenal, Insya Allah itu akan membuka jalan persaudaraan, akan melembutkan hati, akan mencairkan dan menghangatkan suasana, akan meredam amarah, akan mengakrabkan para pihak, dan lebih jauh akan membiasakan kita dengan suasana di surga.

Kalau semua orang sudah saling menghormati orang lain, sudah saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, sudah menghormati tata aturan yang berlaku, sudah saling menjaga kehormatan masing-masing, mungkin akan sampai pada keadaan ketika sang Jenderal hormat dengan setulus hati pada seorang Kopral….

Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Bekasi, 21 November 2009.

www.sopian73.wordpress.com

#%Ada Yang Mumet@#

November 13, 2009 by sopian73

Sekepal salju dilemparkan seorang pendaki di puncak everest…. hasilnya sungguh dahsyat..!

Sekepal salju itu terus bergulir menggelinding, makin lama kian besar… dan semakin besar, semakin banyak pula yang terlindas dan terlibas atau terserat oleh gelindingannya… luar biasa…

Gemuruhnya memekakkan telinga, orang yang melihatnya menganga lupa menutup mulutnya, yang tahu akan terlindas segera berkelit menghindar… namun apa lacur, bola itu sudah terlalu besar untuk dihindari.. lari darinya hanya kesia-sian saja…

Yang menyaksikan dari kejauhanlah yang pusing tujuh lingkaran melihat putaran bola salju yang kian besar itu… dan belum terlihat di mana akan berhenti dan apa serta siapa lagi yang akan terseret…

Aku dan beberapa kawan termasuk yang mumet menyaksikan gelindingan bola salju itu.. sumpah-sumpah sudah ditebar…ucap-ucap sudah dikatakan…dalih-dalih sudah dikeluarkan… semua yang terseret bicara aku paling benar entah siapa pula yang tidak benar… mumet boo…

Bagaimana kisah drama hukum di Endonesa ini akan berakhir… hepi endingkah? Akankah Bibit dan Chandra, Antasari, Susno, Bambang1, Anggodo, Bambang2, Ari, Ritonga, Boedi, dan artis2 lainnya menyelesaikan perannya…?

Mari kita saksikan saja kelanjutan kisahnya bersama Tina Talisa yang cerdas dan berwawasan serta sedaaaaaap dipandang…

Wassalam..!

Yang Layak Diperjuangkan

October 25, 2009 by sopian73

“Mereka terus bergerak maju tanpa kenal menyerah karena mereka memiliki keyakinan”.

“Apa yang mereka yakini”

“Mereka yakin ada kebaikan yang masih tersisa, dan itu layak diperjuangkan”.

(Samwise Gamgee & Frodo Baggins ; LOTR2; The Two Tower)

Kebaikan itu memang masih ada, dapat kita jumpai dalam geliat kehidupan sehari-hari, jadi ya, hidup ini masih layak diperjuangkan. Bukan sekadar hidup  bernafas dan beranak pinak, namun hidup yang bermakna. Hidup yang berguna, paling tidak hidup yang tidak membuat orang lain menjadi susah. Tidak menjadi beban orang lain dan mampu untuk, kalau bisa, membuat hidup orang lain menjadi lebih mudah.

Caranya bagaimana?

Mana saya taaau.. memangnya saya mama Loreng yang bisa “katanya” membantu “mengubah hidup anda”. caranya cari tahu saja masing-masing…

Dunia Penuh Gempa

October 1, 2009 by sopian73

Assalamu’alaikum wr.wb.

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi roojiuun…

Turut berduka yang sedalam-dalamnya untuk para korban bencana alam gempa bumi di Jawa Barat, Sumatera Barat dan Jambi.

Semoga Allah memberikan ketabahan hati untuk para korban dan memberi ganti yang lebih baik untuk harta mereka yang hancur dan memberikan tempat yang layak di sisiNya untuk keluarga yang meninggal dunia.

Tabahlah kawan… Allah tidak akan melupakanmu…

Jurus Gerak Kilat

September 24, 2009 by sopian73

38. Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

39. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

(Q.S. An-Naml : 38-40)

 

Orangpun datang dan akan kembali

Kehidupan kan jadi satu

Di kehidupan yang kedua

Akan menjadi lebih indah

 

Siapakah yang dapat melaksanakan

Sekarang berusaha mewujudkannya

 

Cahaya cinta perlahan menyilaukan

Itulah mimpi kehidupan kedua

Mimpi itu dari mana datangnya

 

Jawabnya ada di ujung langit

Kita kesana dengan seorang anak

Anak yang tangkas dan juga pemberani

 

Bertarunglah Dragon Ball

Dengan segala kemampuan yang ada

Bila kembali dari langit

Semoga hidup kan jadi lebih baik

 

Tugas yang berat dilaksanakan

Berjuang agar lebih baik

Siapa yang dapat melaksanakannya

Dan berusaha mewujudkan

Semua ini demi hidup yang baik

Hanya dia yang mampu melaksankannya.

 

(Dragon Ball Theme song-Indosiar)

 

Hidup adalah gerak, gerak adalah hidup, meski tidak semua yang bergerak adalah makhluk hidup, meski tidak semua makhluk hidup bisa bergerak. Hidup dan gerak seringkali disatukan dalam satu frase “gerak hidup” untuk menunjukkan saling keterkaitan yang erat antara keduanya.

Saya agak sulit memahami gerak ini, bukan karena saya bukan ahli fisika, bukan pula karena saya tidak bisa bergerak, tetapi ada demikian banyak gerak yang sepertinya mirip dalam hal berpindah dari satu titik ke titik lain, namun memiliki demikian banyak ragam dan variasi yang mencengangkan… seperti tercengangnya para penelusur jejak kehidupan melihat teramat banyaknya gerak kehidupan yang tiba-tiba meruyak pada era Kambrium, yang dikenal dengan “Ledakan Kambria”.

Contahlah gerak sel sperma yang tumpah di tuba fallopi, gerakannya gesit, cepat, dan pasti menuju satu titik dimana sel telur berada. Kalau dalam perjalanan banyak yang tidak tahan dan mati, itu adalah resiko perjuangan. Padahal sel sperma belum punya pikiran ataupun hasrat yang menuntunnya pada tugas membuahi sel telur. Gerak sel sperma sepertinya telah diatur demikian sejak design dan prototype pertamanya diciptakan. Gerak yang luar biasa mencengangkan mulai dari kecepatan, ketepatan sampai pada sisi aerodinamikanya, tanpa sel sperma tersebut tahu ia telah terikat pernikahan atau tidak. Pokoknya kalau sudah diluncurkan, lansung tancap gas saja menuju sasaran dengan kecepatan maksimal.

Contoh gerak yang lain adalah gerak gigitan semut Dacetine atau Semut Pemburu. Luar biasa hebat. Kecepatan kedipan mata kita sangat lambat jika dibandingkan dengan kecepatan gigitan semut ini ketika menjebak mangsanya. Kelopak mata kita membuka dan menutup dalam sepertiga detik; rahang semut Odontomachus bawi bekerja 100 kali lebih cepat. Gigitan tercepat yang teramati memakan waktu 0,33 milidetik (Harun Yahya, Keajaiban Semut).

                Tadinya saya pikir akan mudah saja menulis tentag gerak ini, tetapi setelah dilakoni, kenyataannya malah lebih banyak diam tak bergerak karena tidak terpikir apa yang akan membuat jari-jari ini bergerak mengetik. Bahkan bagaimana jari-jari bergerak dengan pas menurut keinginan hati (atau otak?) di atas tuts-tuts kibot pun tidak terpikir bagaimana prosesnya. Ternyata diri ini bodoh sekali, bahkan memahami gerakan tubuh sendiri pun tidak bisa.

                Kalau begini caranya, bagaimana bisa memahami bahwa ketika kita berjalan, bukan tubuh kita yang berpindah tempat, melainkan bumi di bawah kita yang kita pijaklah yang berpindah… Kalau begini caranya, bagaimana bisa memahami mengapa seekor bebek menyeberang jalan… padahal kata Jupe, bebek itu menyeberang jalan karena ada sang jantan di seberang sana…uuhh..tambah kacau…

                Intinya begini,… berdasarkan ayat 39 dan 40 Surat An-Naml yang saya kutip di atas, akhirnya saya yakin bahwa dalam kehidupan dunia yang dilingkupi ruang dan waktu ini, pada orang tertentu dan pada kondisi tertentu, ruang dan waktu itu dapat ditembus dan dimanipulir sedemikian rupa sehingga orang tersebut dapat terbebas dari kungkungan ruang dan waktu untuk melalukan sesuatu lalu ketika selesai kembali lagi ke lingkup ruang waktu tersebut. Jadi dari sisi manusia yang melakukannya, bisa jadi hal tersebut memerlukan waktu yang lama, namun dari sisi manusia yang menyaksikan disekitarnya hal tersebut hanya beberapa detik atau beberapa saat saja, bahkan tidak sampai sekedipan mata. Atau bisa pula sebaliknya, si pelaku merasa sebentar saja, sehari atau setengah hari, tetapi sesungguhnya itu berdurasi ratusan tahun (Check; Al-Baqarah : 259, Al-Kahfi : 19 & 25).

                Dengan keyakinan bahwa menembus ruang dan waktu adalah hal yang bisa terjadi, maka saya dapat memahami dan meyakini bahwa perjalanan Isra dan Mi’raj Rasulullah SAW dilakukan dengan jasad dan ruh beliau sekaligus, bukan hanya sekedar mimpi yang benar atau sekedar ruhnya saja. Masih mendingan Rasulullah yang tidak membawa benda apapun yang jadi beban ketika pulang, di banding anak buah Nabi Sulaiman as. yang pulangnya sambil memanggul Kursi Besar punya Ratu Bilqis. Tambahan lagi, tak mungkin hanya Abu Bakr yang mendapat gelar As-Shiddiq kalau hanya mempercayai mimpi Rasulullah.

                Yang menjadi pertanyaan saya kemudian adalah, dapatkan kondisi menembus ruang dan waktu itu dihadirkan kembali dengan mempelajarinya? Dapatkah kita, zaman sekarang ini bergerak dan berpindah, misalnya, dari Bekasi ke Bandung lalu kembali lagi ke Bekasi dalam hitungan nol koma sekian detik sambil bawa Peuyeum sebagai bukti baru balik dari Bandung? Atau dapatkah kita kembali ke seratus tahun lalu dan kembali ke mas kini tanpa menjadi tua? Dapatkah?

Memangnya, kalau bisa menembus ruang dan waktu mau ngapain?

                Hehehe… mau apa ya… supaya kalau punya mertua delapan gampang ngaturnya? Ah… gak juga, bukan itu.. Atau supaya bisa ngangkut emas di Port Knox ke Cibitung…? gak juga deh… atau supaya bisa ngacak-ngacak kekuasaan ratu beatrix dan ratu elisabeth…? bukan juga… paling-paling juga ingin kembali ke lima belas atau duapuluh tahun lalu, mengunjungi diriku sendiri, lalu aku tendang-tendangin dan gaplokin diriku di masa lalu itu supaya aktipitasnya tidak hanya tidur dan main-main saja…supaya dia banyak ibadah, kerja keras, belajar dengan tekun dan giat, banyak membaca dan menghapal Al-Quran dan berhenti dari segala macam kedunguan… hehehe…

                Sebenarnya sudah ada satu tokoh yang bisa melakukan itu di masa kini, dia bisa menembus ruang dan waktu dan bisa bergerak dengan kecepatan yang extraordinary sehingga bisa berpindah tempat bahkan berpindah antar planet dan antar galaksi hanya dalam hitungan kejapan mata, bahkan bisa sambil membawa barang atau orang lain bersamanya. Dia bisa melakukan itu karena mempelajarinya dengan tekun. Bahkan ilmu itu dia beri nama; Jurus Gerak Kilat. Dia adalah Son Go Ku, tokoh utama film animasi Dragon Ball yang theme songnya saya kutip di atas.

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.

Jadi, ilmu menembus ruang dan waktu dalam sekejap mata Insya Allah dapat dipelajari dan diaplikasikan jika kondisi yang sesuai dapat dihadirkan kembali dalam kehidupan kekinian. Orang dulu, zaman Nabi Sulaiman, yang belum ada teori quantum saja bisa, mengapa sekarang tidak?  Dan sekejap mata ya, bukan hanya mempersingkat waktu tempuh Bekasi-Bandung dari 4 jam menjadi 2 jam. Kalau mempersingkat waktu tempuh dari 4 jam menjadi 2 jam sih, PT. Jasa Marga juga bisa….

 

Bekasi, 24 September 2009/5 Syawwal 1430H.

Ahmad Sopiani

Back To Nature !

July 25, 2009 by sopian73

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. Q.S. Al-Mulk[67] : 15

Aku dan kawan-kawan Adventure Committee tengah fokus untuk mempersiapkan “R&D Media Tour 2009; Back to Nature” untuk Sabtu dan Ahad mendatang, 1~2 Agustus 2009 di Ranca Upas, Ciwidey, Bandung.Kami akan menikmati pemandangan di Kawah Putih, main air di Situ Patengan, Berkemah di Ranca Upas, Tracking di Leuweung Tengah, dan memetik Stroberi.

Ada kesibukan, ada kekhawatiran, ada harapan. Sibuk mempersiapkan segala hal, karena kami akan membawa lebih dari 160 jiwa dalam 4 Bis Besar. Ada kekhawatiran tentang kendala-kendala yang mungkin muncul, namun kami selalu berharap mendapat dukungan yang maksimal dari kawan-kawan Adventure Committee dan rekan-rekan peserta, dan berharap Allah akan melindungi kami sebelum, selama dan sesudah acara ini.

Bumi Allah demikian indah dan luas. terhampar sebagai ayat-ayat kauniyyah yang setiap saat dapat “dibaca” dan dimaknai. Aku berharap ”R&D Media Tour 2009; Back to Nature” ini dapat membawa kami kepada sebuah kesadaran bahwa kami ini kecil tak berarti di hadapan kuasa dan kebesaran Allah SWT.

Secara tour, kami juga berharap dapat memberikan kebahagiaan dan kegembiraan kepada semua peserta dan keluarganya, sehingga bisa mempererat rasa saling asih, asah dan asuh di keluarga besar R&D Media LG Electronics Indonesia. Juga agar dapat menguatkan motivasi untuk bekerja lebih cerdas, lebih giat dan lebih produktif untuk kelangsungan perusahaan tempat kami bekerja. Bagaimanapun juga, Allah telah memberikan rizkiNya pada kami melalui LG Electronics ini. Semoga LG Electronics Indonesia tetap eksis, jaya, maju, terdepan, profitable, dan menjadi jalan kesejahteraan bagi para pekerja, supplier, bos-bos, lingkungan sekitar, dan bagi Indonesia. Dan semoga orang-orang Koreanya masuk Islam semua.. :-)

Ciwidey…kami datang…!!

Like or Dislike

June 19, 2009 by sopian73

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)


Saya ingin mengajak anda untuk menyimak sebuah kisah yang sering diceritakan kembali, untuk mengingatkan kita akan pentingnya sifat syukur dan qana’ah dengan apa yang telah kita nikmati dan tentang bagaimana semestinya kita bersikap mengenai hal-hal yang mungkin tidak kita sukai.

Alkisah seorang Tukang Batu. Dahulu kala, di masa hati manusia relatif masih bersih, tatkala kehidupan manusia belum “semeriah” saat ini, hiduplah seorang Tukang Batu. Setiap hari selepas subuh, ia berangkat menuju sungai di kaki gunung. Dengan peralatan yang amat sederhana, ia mulai bekerja menghancurkan batu-batu gunung yang besar-besar, menjadi serpihan-serpihan sebesar kepala manusia atau lebih kecil lagi. Tanpa kenal lelah ia terus menekuni pekerjaannya hingga ketika bayangan kepalanya tepat ada di kakinya, ia memandang ke langit, menghirup nafas dalam-dalam dan meletakkan peralatannya. Ia kepal-kepalkan jari-jari tangannya yang kaku, sambil melirik hasil kerjanya. Lumayan banyak. Ia duduk di atas sebuah batu yang cukup besar dan datar, mencuci tangan dengan air sungai yang ada di bawah kakinya, lalu mulai membuka dan melahap bekal ala kadarnya yang ia bawa dari rumah tadi pagi.

Jika hasilnya sudah cukup banyak, biasanya akan ada orang yang akan datang untuk membelinya atau menukarnya dengan sesuatu sesuai kesepakatan mereka. Demikian ia menjalani profesinya itu dari hari kehari, dan mencukupkan hidupnya dengan hasil yang didapatkannya itu, hingga suatu hari……

Ia berpapasan dengan sebuah rombongan saudagar. Saudagar itu terlihat sangat hebat. Pakaian yang dikenakannya sangat bagus, dagangannya banyak diangkut dengan pedati-pedati besar, yang ditarik kuda-kuda pilihan. Pengawalnya berbadan tegap segi empat dan pelayannya banyak dan cekatan.

Sang Tukang Batu pun bertanya kiri – kanan tentang hal ihwal si saudagar, hingga iapun kemudian berkesimpulan bahwa saudagar itu lebih, bahkan jauh lebih hebat darinya. Dan dari kesimpulannya itu iapun melihat dirinya, terasa kecil. Iapun akhirnya menetapkan hati bahwa ia tidak ingin lagi menjadi Tukang Batu. Ia ingin menjadi saudagar yang hebat itu. Lebih hebat dari tukang batu.

Kun. Jadilah ia seorang saudagar. Ia berkeliling negeri membawa dan menjual komoditinya. Makin hari keuntungan yang diperolehnya semakin besar. Para pengawalnya siap melindunginya dari berbagai ancaman bahaya yang datang dari orang-orang yang ingin senang di atas penderitaan orang lain. Para pelayannya senantiasa bekerja dengan giat dan setia. Orang-orang yang bersua dan berpapasan dengannya membungkuk tanda hormat dan segan kepadanya. Hebat. “Kini aku lebih hebat daripada aku yang dahulu” pikirnya. Dan ia pun berpikir bahwa ialah orang paling hebat di dunia ini……… sampai kemudian……

Di suatu hari yang cerah, tatkala ia tengah menikmati hasil jerih payahnya, datanglah sepasukan tentara kerajaan mengawal seorang utusan raja untuk memungut pajak darinya. Utusan raja itu membacakan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang yang harus dibayarnya sebagai kewajibannya kepada raja yang telah memberinya keleluasaan untuk berbisnis di wilayah itu. Jumlahnya sangat besar bahkan untuk ukuran seorang saudagar kaya seperti dia. Jika ia menolak membayar, maka harta kekayaannya akan disita. Para pengawalnyapun tidak berdaya untuk melawan pasukan kerajaan yang jumlahnya lebih banyak, lebih sakti dan lebih lengkap persenjataannya. Maka dengan berat hati iapun membayar tagihan pajaknya tanpa perlu mengisi Surat Setoran Pajak.

Sepeninggal utusan raja penagih pajak dan pasukan kerajaan yang mengawalnya, sang saudagar termenung…. Ternyata  ada yang lebih hebat dariku….. selama ini aku pikir akulah yang paling hebat karena dengan uangku, aku bisa mendapat apapun yang aku mau, tetapi ternyata aku tidak berdaya berhadapan dengan tukang pajak yang membawa pasukan itu… Pastilah raja yang mengutusnya lebih hebat lagi…. Kalu demikian, alangkah hebatnya jika aku bisa menjadi raja. Tidak perlu kerja keras, cukup mengutus orang untuk datang memungut pajak, dan kekayaanpun mengalir  ke pundi-pundinya…. Ah, seandainya aku bisa menjadi raja……

Kun. Jadilah ia seorang raja. Caranya, katakan saja ia memenangkan sayembara untuk membuat putri raja bisa tertawa, terus jadi menantu raja, terus raja lama mati, terus ia jadi raja menggantikan raja lama karena raja lama hanya punya seorang puteri yang ia kawini itu, dan hukum di negeri itu tidak memungkinkan seorang putri untuk menjadi raja. Anggaplah begitu.

Ia memerintah di kerajaannya dengan bangga, gagah dan otoriter. Semua titah raja adalah hukum. Ia menerapkan pajak yang tinggi kepada rakyat. Ia berlaku seperti tuhan untuk menentukan seseorang boleh terus hidup dan yang lain cukup lama untuk tetap hidup. Ia menentukan benar atau salah menurut apa yang ia kehendaki benar atau salah. Kekuasaannya semakin lama semakin luas dan besar, meliputi hampir seperempat daratan yang ada di bumi. Kini ia merasa yakin, bahwa dialah satu-satunya yang paling hebat di dunia ini….. hingga…

Musim kemarau berkepanjangan tiba…. Matahari bersinar dengan tanpa henti memancarkan panas yang tak terhingga. Pohon-pohon mengering dan mati. Hewan-hewan merana dan menjemput ajalnya. Tanah menjadi kering, retak dan membumbungkan lapisan debu ke udara. Bahkan di kala malam pun rasanya panas sinar matahari tetap terasa. Karena kemarau yang teramat hebat ini, akhirnya kerajaannya bangkrut dan sang raja termenung seorang diri….

“Ternyata aku, raja besar ini… tak kuasa melawan terik matahari…. Aku pikir selama ini tidak ada yang lebih hebat dariku… ternyata matahari dengan sinarnya itu lebih hebat dariku… Ah… seandainya aku bisa jadi matahari…..

Kun. Jadilah ia matahari….

Dengan kekuatan sinarnya yang amat panas, ia memancarkan kehebatannya. Menghanguskan apa saja yang dilaluinya. Bukan saja bumi yang ia kuasai dengan sinarnya itu, tetapi juga planet-planet lain di tata surya kini tunduk kepadanya. Ia kini yakin bahwa ia makhluk paling hebat…sampai segumpal awan menghalangi sinarnya.

Sang matahari mengerahkan segenap energinya untuk menembus lapisan awan yang ringan melayang-layang itu. Tetapi sang awan sama sekali tidak bergeming. Sang awan tetap dalam kelembutannya yang misterius menghalangi sinar matahari menyinari bumi. Sang matahari tak berdaya lagi dan terpaksa harus mengakui kenyataan bahwa awan lebih hebat darinya… iapun ingin jadi awan.

Maka jadilah ia awan. Dengan senyum kepuasan ia melayang-layang bebas diudara menghalangi sinar matahari dengan kelembutannya. Iapun boleh bangga bahwa ia semakin lama semakin besar karena banyak awan-awan lain yang bergabung dengannya membentuk lapisan awan yang sangat besar dan tebal. Kemudian, setelah semakin besar dan menghitam, sang awan menumpahkan isi yang dikandungnya ke bumi. Ia mencurahkan dirinya menjadi air hujan yang amat lebat. Ia sirami seluruh permukaan bumi dengan segenap kekuatannya. Air hujan itu kemudian bergabung kembali dalam suatu aliran yang sangat deras, menjadi air bah. Ia hanyutkan setiap yang dilaluinya, apatah itu pohon, rumah bahkan orok yang sedang dimandikan di sisi sebuah sungai. (Sungai itu kemudian jadi sungai Bahorok ? air bah menghanyutkan orok ?). Pokoknya ia menghanyutkan apapun…. Kecuali sebuah batu gunung yang amat besar di sebuah sungai…..

Seluruh kekuatan alirannya ia hempaskan untuk menghanyutkan batu itu, tetapi sia-sia saja usahanya. Batu gunung itu bergemingpun tidak. Ia tetap nagen, ajeg dan kukuh pada posisinya. Bahkan sampai akhir tenaga yang dimiliki habis, batu gunung itu tak pernah sedikitpun terpengaaruh kekuatannya. Sang awan yang kemudian menjadi hujan dan air bah pun menyerah dan mengakui batu itu lebih hebat darinya…

Kalau begitu lebih baik aku menjadi batu gunung, karena lebih hebat dan perkasa….

Oke. Jadilah ia Batu Gunung yang besaaar. Dengan congkak ia berdiri  menantang. Tidak ada kekuatan seperti kekuatan yang ia miliki. Sinar matahari tidak memberikan pengaruh apapun padanya, malah panasnya ia serap sebagai pelengkap kehebatannya. Air bah juga tidak mampu menggeser posisinya. Akhir kata kini ia benar-benar yakin akan dirinya yang paling hebat di dunia ini….sampai kemudian datanglah seorang Tukang Batu…….

Anda lihat, betapa kenyataan menunjukkan bahwa boleh jadi kita tidak suka dengan pekerjaan kita saat ini. Tidak cukup puas dengan penghasilan kita sekarang dan benci setengah mati terhadap nasib yang menimpa kita, namun jika kita terima dengan penuh kesadaran, Allah akan menunjukkan yang terbaik untuk kita.

Saya tidak mengajak anda untuk jumud dan tidak mau berusaha untuk maju dan lebih baik, saya hanya ingin kita menyadari bahwa semua proses usaha yang kita lakukan hendaknya hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT. Sebagai penentu kebijakan akhir. Allah SWT. tahu mana yang lebih baik untuk kita. Karena …“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)

Walaupun secara khusus ayat ini berkenaan dengan kewajiban berperang di jalan Allah, namun mengingat kaidah ushulfiqh bahwa  “Al-’ibrah bi’umuumillafdzi, laa bikhusushissabab” maka potongan ayat ini dapat diterapkan dalam hal apapun menyangkut kehidupan ini..

Cerita di atas menyangkut kedudukan. Ada banyak hal lain yang juga bisa dijadikan contoh di kehidupan ini. Misalnya, ibu-ibu amat jijik dengan yang namanya cacing, namun kini sudah cukup banyak yang tahu bahwa beberapa jenis cacing merupakan campuran yang amat baik untuk kosmetika yang sangat disukai ibu-ibu. Malah yang namanya cacing kalung merupakan obat yang amat mujarab untuk sakit types atau gejala types.

Wallahu a’lam.

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Pergi Haji dengan Uang Rokok

June 19, 2009 by sopian73

“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. (Peringatan Pemerintah).

Masih hangat penyambutan jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Di desa saya ada tradisi untuk mengunjungi jamaah haji yang baru tiba, untuk mendengarkan secara langsung pengalaman mereka ketika beribadah haji, serta mengucapkan selamat datang kembali ke kampung halaman dengan tak kurang suatu apa, selain itu dapat bonus air zam-zam dan kurma. Belum pernah terdengar jamaah haji yang ceritanya seram tentang tanah suci. Semua cerita mereka membangkitkan emosi orang yang belum haji untuk bisa berangkat juga ke tanah suci, dan membangkitkan kenangan indah orang yang sudah pernah pergi haji untuk bisa kembali lagi beribadah di tanah haram. “Kapan saya bisa pergi haji…..”, demikian pikir yang berkunjung.

***

Dalam sebuah sesi ceramahnya, Aa Gym pernah secara berseloroh, tanpa kehilangan keseriusan, menghimbau agar para perokok, jika mau merokok di tempat umum, membawa plastik yang besar untuk menutup kepalanya, agar asap rokoknya  tidak terkena orang lain.

Himbauan semacam itu mungkin seperti bercanda dan  dianggap angin lalu bagi sebagian orang, namun bagi saya pribadi, apa yang dikatakan Aa Gym itu amat sangat sarat makna, karena rokok dan perokok merepresentasikan banyak hal dalam Islam. Entah itu yang disebutkan dalam Al-Quran ataupun banyak hal yang disebutkan dalam Sunnah.

Hampir seluruh kasus kecanduan rokok adalah “penyakit keturunan”. Seperti layaknya penyakit keturunan, adakalanya orang tua tidak menurunkan penyakitnya kepada anaknya, namun lebih sering yang menurunkan penyalit keturunan itu kepada anaknya. Artinya dalam hal ini adalah, orang tua yang perokok tidak dapat berharap banyak anaknya tidak kecanduan rokok.

Maka setiap orang tua dan calon orang tua berkepentingan untuk ikut serta dalam kampanye anti rokok demi mempersiapkan generasi muda yang lebih sehat dan bebas mulut berbau asbak.

Kandungan Rokok

Rokok adalah satu-satunya produk di dunia yang mengandung hampir semua jenis racun dan zat kimia berbahaya. Berpuluh jenis racun dan zat kimia berbahaya ada dalam rokok, semisal ; Carbon Monooxida, Carbon Dioxida, Timbal, Arsenik, Nicotine, Tar, dlsbg.

Kalau anda ingin keterangan yang lengkap tentang rokok, datanglah ke Palang Merah Indonesia, Puskesmas, Rumah Sakit dan banyak tempat lagi yang akan memberikan keterangan dengan cuma-cuma.

Dengan demikian banyaknya kandungan zat berbahaya dalam rokok, maka saya pikir tidak terlalu salah bila ayat 6 Surat At-Tahriem dalam Al-Quran ; “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…, juga ditujuan untuk hal yang satu ini, meskipun agak diluar konteks ayat.

Keuntungan Merokok

Saya tidak menutup mata, bahwa komoditas yang satu ini diminati banyak orang karena memberi keuntunggan bagi banyak pihak; pemerintah (cukai), masyarakat (penyerapan tenaga kerja), produsen, agen, penjual, bahkan pecandunya. Masing-masing punya sisi cerita yang berbeda dalam keterlibatannya, namun dalam lingkaran yang sama tentang air seni setan ini.

Maka agar cerita tentang rokok ini tidak terlalu tegang, saya akan mengutip tiga keuntungan merokok menurut Alm. Ayah dari isteri saya ;

1.  Rumahnya tidak akan dimasuki maling

Sebab tiap kali maling mau masuk, yang di dalam batuk, ohok..ohok… Si maling jadi mengurungkan niatnya untuk masuk, karena dia pikir yang punya rumah belum tidur. Biasanya maling menunggu yang punya rumah tidur baru masuk.

2.  Kain sarungnya selalu baru

Sebab tiap kali pakai sarung lalu merokok, bunga apinya kena kain, bolong. Kain bolong tidak sah untuk shalat, jadi beli lagi kain baru. Begitu terus. Jadi kain sarungnya baru terus.

3. Rambutnya tidak akan beruban

Soalnya, rambutnya belum beruban, ajal keburu datang. :-)

Kerugian Merokok

Masih menurut ayah mertua saya (yang ini serius);

Pertama, Dokter dan tenaga kesehatan manapun akan mengatakan bahwa rokok sangat merugikan kesehatan. Itu juga diakui pemerintah dengan kewajiban mencantumkan kalimat : “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin” di setiap bungkus rokok kepada produsennya.

Jadi bagi pecandu rokok, bersiaplah, mungkin suatu saat ia akan lebih banyak bercinta dengan rokok daripada dengan istrinya karena impotensi. Lagi pula para istri akan malas bercinta dengan suami yang mulutnya bau asbak. Begitupun sebaliknya, suami enggan dekat dengan istrinya yang ngebul terusss.

Kedua, Dari segi agama hukumnya paling tidak makruh. Makruh secara harfiah artinya dibenci. Dibenci oleh manusia dan dibenci oleh Allah. Jika satu batang rokok satu kali dibenci, maka jika sehari sepuluh batang rokok,  maka seorang perokok dibenci sepuluh kali sehari oleh Allah dan manusia. Dibenci pacar sehari satu kali saja susahnya bukan main, ini dibenci Allah sepuluh kali sehari, coba bayangkan susahnya. Itu jika hitungan perbatang. Bagaimana jika hitungannya dibenci Allah dan manusia setiap hisapan dan hembusan, hitung sendiri jumlahnya.

Kata siapa gitu, sebetulnya rokok tidak berbahaya kalau tidak ada korek apinya. :-)

Narkoba Berawal Dari Rokok

Pada banyak kasus kecanduan narkoba, terutama jenis ganja, yang saya ketahui, awalnya adalah kecanduan pada rokok. Karena ingin rokoknya lebih mantap atau alasan apapun, maka dicobalah “rokok lintingan” alias “nyimeng”. Jadi layak juga jika “GRANAT, Gerakan Nasional Anti Madat” mulai melirik jenis madat yang satu ini.

Bahaya Bagi Perokok Pasif

Perokok pasif adalah orang yang turut menghisap asap rokok dari orang yang merokok. Menurut para ahli kesehatan, perokok pasif menanggung bahaya yang amat lebih besar ketimbang penghisapnya. Ini berarti bahwa seorang yang menghisap rokok di dekat orang lain, maka ia telah berperan besar dalam menjerumuskan orang lain, bisa saja itu adalah keluarga terdekat yang dicintainya, ke dalam bahaya. Itu sebabnya jauh-jauh hari ketika “Rasulullah ditanya; apakah sifat seorang muslim yang paling baik, beliau menjawab: seseorang  yang menyelamatkan muslim lainnya dari lisannya dan perbuatan tangannya”. (H.R. Bukhari & Muslim, dari Abdullah bin Amr bin Ash)

Kita ta’wil-kan saja lisan sebagi penikmat rokok dan tangan yang memegangnya.

Hukum Merokok Dalam Islam

Sejak dulu hingga kini, apabila anda bertanya hukum merokok, maka anda akan mendapatkan jawaban makruh. Titik. Makruh itu jika ditinggalkan mendapat pahala, jika dilakukan tidak berdosa, tetapi dibenci.

Bagi saya sekarang rasanya itu tidak cukup. Dengan semakin banyaknya bahaya rokok yang dapat diketahui secara umum, mestinya hukum merokok ditingkatkan seiring peningkatan bahaya yang diketahui timbul darinya. Jika merokok di area publik diyakini mengancam kesehatan banyak orang, terutama perokok pasif, maka saya usulkan lewat tulisan ini agar MUI mengeluarkan fatwa haram merokok di tempat umum dan tempat tertentu, seperti di Angkot, Bis, RS, Sekolah, Kantor-kantor dsb.

***

Jika Anda setuju dengan apa yang saya tulis ini, alhamdulillah. Namun jika apa yang saya sampaikan ini tidak pembaca setujui, itu sepenuhnya hak anda yang layak saya hormati, namun paling tidak banyak orang yakin bahwa merokok termasuk tindakan tabziir, “dan janganlah bertindak mubazzir, karena sesunguhnya orang-orang yang berlaku mubazzir itu adalah saudara-saudara setan. Dan setan itu amat ingkar kepada Tuhannya.

(Q.S. Al-Israa : 26-27)

***

Kita sambung kembali ke awal tulisan. Jika Anda perokok dan dengan tulisan ini tergugah untuk berhenti, maka uang rokok Anda bisa untuk pergi haji. Begini ngitung-nya ;

Jika sehari anda habiskan sebungkus rokok, harganya katakanlah Rp. 5.000,- Jadi jika uang rokok dikumpulkan, dalam sebulan terkumpul kira-kira Rp. 150.000,- Dalam setahun terkumpul kira-kira Rp. 150.000 x 12 bulan = Rp. 1.800.000. Dalam Sepuluh tahun menjadi Rp. 18.000.000,- dan dalam 20 tahun menjadi 36.000.000,- (cukup untuk BPH, kurang-kurang dikit sih bisa cari tambahan).

Jika umur Anda sekarang 30 atau 35 tahun, maka anda bisa pergi haji dalam umur 50 atau 55 tahun. Umur 50 atau 55 adalah umur pada umumnya orang Indonesia pergi haji. Jangan bilang hal ini mustahil sebelum anda mencobanya, karena tidak ada yang mustahil jika Allah menghendaki. Jadi?? Mau pergi Haji?? Saya pribadi tidak bisa pergi haji dengan uang rokok karena saya tidak merokok.

Wallahu a’lam.

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Semangat Hijrah VS F B I

June 13, 2009 by sopian73

Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah SAW. bersabda : ”Tidak ada Hijrah selepas Fathu Makkah, yang masih ada ialah niat dan jihad. Apabila kamu diminta pergi berjihad, maka lakukanlah”.

(HR. Bukhari – Muslim).

Ketika tulisan ini sampai ke tangan pembaca, tahun baru Hijrah telah berjalan 13 hari. Maka menyambung tulisan yang lalu, saya ingin ikut berpartisipasi di sekitar wacana mengenai tahun baru Islam ini.

Penanggalan Islam dibuat bukanlah karena kebetulan, latah atau ikut-ikutan umat lain yang telah terlebih dahulu memiliki sistem penanggalan, melainkan dengan tujuan yang besar yang ingin dicapai para pencetus ide di masa Khalifah Umar Bin Khattab. Khalifah Umar Bin Khattab-lah yang membidani sistem Kalender Islam dengan momen Hijrah sebagai titik awal tahun baru. Pemilihan momen Hijrah dan bukan tanggal kelahiran Nabi sebagai tahun baru mengguratkan suatu kepastian dan keyakinan serta tekad bahwa Hijrahlah yang merupakan api semangat titik balik untuk merubah kelemahan dan ketertindasan menjadi kekuatan dan kejayaan.

Sebab, meskipun hijrah secara fisik tidak ada lagi, namun hijrah secara prinsip dapat terus hidup dan selayaknya tetap dihidupkan dalam masyarakat muslim dalam bentuk tekad dan semangat serta keikhlasan untuk berjihad dalam upaya menegakkan kalimat Allah SWT..

Mengingat Sabda Rasulullah SAW. di atas, ”Tidak ada lagi Hijrah selepas pembebasan Kota Mekkah, yang masih ada ialah niat dan jihad. Apabila kamu diminta pergi berjihad, maka lakukanlah”. Maka niat dan jihad adalah dua institusi penting yang menopang tegaknya Islam. Niat mewakili tekad dan semangat untuk mencapai suatu tujuan dan cita-cita mulia.

Segala hal baik dan utama dalam Islam mestilah diawali dengan niat yang benar pula. Niat yang baik dan benar akan melahirkan semangat dalam merengkuh segala yang diniatkan. Ia adalah tekad yang kokoh yang menjadi landasan dari segala aktivitas seorang muslim. Setelah tekadnya kokoh, barulah kemudian ia mengerahkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menggapai tujuan mulia tersebut dalam kerangka jihaad fii sabiilillaah.

Niat bukanlah sekedar bisikan hati yang kosong dari upaya dan usaha. Sebab menurut pengertiannya dalam bahasa arab, niat tidaklah dikatakan niat, kehendak ataupun keinginan jika tidak diiringi upaya nyata untuk terwujudnya niat tersebut.

Itu sebabnya Rasulullah SAW. mensejajarkan niat dan jihad dalam satu kesatuan yang utuh yang satu sama lain tidak layak dipisahkan, dalam wacana hijrah sekalipun.

Hijrah kini bermakna jauh lebih  luas dibanding ketika dahulu Rasulullah SAW dan para sahabatnya hijrah ke Yatsrib (Madinah)

Hijrah kini bisa berbentuk apapun dalam upaya penegakan dien Allah bagi tiap-tiap muslim. Ia dapat berbentuk peninggalan terhadap kungkungan kebodohan dengan terus belajar tanpa henti, bisa berwujud upaya dan kerja halal untuk mengeliminir kefakiran dan kemiskinan, ia dapat berupa kesungguhan untuk meninggalkan pola hidup yang tidak Islami dan terutama Hijrah dari akhlaq yang buruk dan jahat menuju akhlaq agung, akhlaqulkarimah, yang dicontohkan Rasulullah SAW. serta Hijrah meninggalkan segala macam bentuk kekafiran dan kemusyrikan menuju tauhid yang murni kepada Allah SWT.

Maka hijrah masa kini kemudian memerlukan dua hal pokok yang disebutkan Rasulullah SAW. : yaitu niat dan tekad yang diikuti semangat yang membara dalam upaya pencapaiannya, dan kedua, jihad dan kesungguhan untuk melaksanakan semua prosedur dan tindakan yang diperlukan.

Jihad di sini, tidaklah melulu mengangkat senjata melawan musuh di medan tempur, seperti yang diuraikan dalam MADANI edisi 188 bahwa jihad adalah ”pengerahan segenap kemampuan seorang mukmin dengan segala kesulitan dan pengorbanan dengan menghadapi berbagai ujian untuk mencapai tujuan dengan semata-mata karena Allah SWT.”.

Jihad dalam rangka hijrah, yang ditopang niat dan semangat untuk mewujudkannya telah merupakan dua hal yang tidak dapat ditawar lagi. Kesungguhan secara maksimal untuk meninggalkan segala bentuk kekafiran dan kebejatan moral menjadi suatu keniscayaan.

Di Amerika Serikat, semangat hijrah dan jihad di jalan Allah akan merupakan suatu tindakan yang melahirkan pertanyaan dan interogasi dari FBI (Federal Bureau Investigation/Biro Penyelidik Federal). Tidak mengapa, karena itu adalah resiko dari sebuah perjuangan menuju yang lebih baik, seperti dahulu Rasulullah SAW. dihadapkan pada penentangan kafir Quraisy dan sekutunya.

Di Indonesia, semangat hijrah untuk bersungguh-sungguh meninggalkan segala macam maksiat dan dekadensi moral juga harus berhadapan dengan FBI (Fans Berat Inul). Bahkan pada kenyataannya kemudian, suara para pembela (maaf) bokong terdengar jauh lebih keras dari pada pendukung kehormatan wanita.

***

Hijrah Menuju Keutamaan Akhlaq

Seperti banyak dikatakan para da’i, bahwa krisis morallah yang meluluhlantakkan bangsa ini, maka dalam lebarnya jarak antara harapan dan kenyataan saya mengingatkan kembali kepada kita, bahwa keutamaan akhlaq lah yang menjadi tujuan utama kerasulan Muhammad SAW., seperti sabda beliau: ”Sesungguhnya aku dibangkitakan untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia”.

Seperti apakah akhlaq yang mulia itu ? Jawabannya ada dalam perilaku Rasulullah SAW.. Bahkan Allah SWT. sendiri yang yang menegaskan bahwa contoh akhlaq dan perilaku hidup yang benar yang kita harus hijrah ke arah itu ada pada Rasulullah SAW..

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”. (QS. Al-Ahzab : 21)

”Dan, sesungguhnya kamu (hai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam : 4)

Keutamaan Rasulullah juga banyak diakui para pencari kebenaran non muslim, yang banyak dikutip oleh Ahmed Deedat, dalam bukunya The Choice atau Muhammad the Greatest, seperti Thomas Carlyle, Lamartine, Jules Masserman atau Michael H. Hart.

Karena itu maka hijrah harus dimulai dari diri-diri pribadi muslim menuju keutamaan akhlaq, yang merupakan kunci bahagia bagi pemecahan berbagai persoalan besar di sekitar kita.

Dan pada akhirnya, hijrah terbesar adalah semangat dalam niat dan kesungguhan dalam tekad dan upaya  untuk menegakkan kalimat Tauhid, seperti perkataan Nabi Ibrahim a.s. yang direkam Al-Quran :

”Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : ”Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS. Mumtahanah : 4)

Nabi Ibrahim a.s. telah menghadapi dan menjalani resiko dalam niat dan jihad. Nabi Muhammad SAW. telah menghadapi dan menjalani resiko dalam niat dan jihad. Bagaimana dengan kita?  Sudahkah semangat hijrah membawa kita pada niat dan jihad untuk keluar dari ketertindasan dan perbudakan nafsu ammarah?

Wallahu a’lam

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Mencintai Kematian

June 13, 2009 by sopian73

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.

(QS. Ali Imran : 169)

Salah satu fenomena yang meresahkan Zionis Israel pada khususnya dan musuh-musuh Islam pada umumnya, yang kini telah menjadi semacam tren jihad dengan senjata adalah keberanian para pemuda Islam di Timur Tengah khususnya untuk menjemput syahid, mati di medan laga, namun dengan membawa pula lebih banyak musuh untuk ikut mati dengan meledakkan diri di tengah musuh. Media Massa sekuler biasa menyebutnya dengan “Bom Bunuh Diri”.

Fenomena “Bom Bunuh Diri” amatlah menarik. Menarik karena metode perjuangan seperti ini beresiko tertinggi, yaitu kematian dan terhitung baru, mungkin diilhami oleh para penerbang jepang di masa Perang Dunia Kedua, dengan keberanian penuh mereka ber-kamikaze menab-rakkan pesawat tempur mereka ke obyek-obyek vital musuh. Juga amat menarik karena di saat ketika demikian banyak orang amat ketakutan bila memperbincangkan atau menghadapi maut, para syuhada ”Bom Bunuh Diri” justeru menjemput maut dengan amat sukacita dan penuh kebesaran jiwa.

Namun, sesungguhnya istilah “Bom Bunuh Diri” tidaklah terlalu tepat, karena istilah ini muncul bukan dari para pelakunya. Para Pelaku “Bom Bunuh Diri” dan para pendukung jihad pada umumnya yakin bahwa yang demikian itu adalah salah satu cara perjuangan untuk menghancurkan Zionis Israel dan para kolaborator dan sponsornya, karena itu sebutannya yang lebih tepat di kalangan mereka adalah “Bom Syahid”. Artinya dengan cara itu mereka yakin bahwa mereka mati dalam upaya Jihaad Fii Sabiilillaah, memerangi musuh Allah yang menindas dan memerangi kaum muslimin. Maka jika ajal menjemput, mereka Mati Syahid. Juga karena istilah Bom Bunuh Diri mengesankan bahwa mereka membunuh diri sendiri dan muslim manapun semestinya mafhum bahwa bunuh diri adalah perbuatan haram yang dilarang dengan tegas dalam  Al-Quran;

“Dan janganlah kamu bunuh dirimu, sesungguhnya Allah amat sayang kepadamu”.( QS An-Nisaa : 29)

Tentang Kematian

Kematian adalah sunnatullah yang merefleksikan kenyataan bahwa sebagai makhluk, kita tidak bisa sama dengan Pencipta. Adanya kematian disatu sisi mencerminkan adanya kehidupan di sisi lain. Ketika kita menyadari bahwa setiap makhluk pada akhirnya akan mati, haruslah disadari pula bahwa ada dzat yang maha hidup yang tidak akan pernah mati yang terus memberi kehidupan, yaitu Allah swt. Karena adanya kematian sudah merupakan ketetapan dari Allah swt. Dan kita tidak dapat menolaknya. “Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati…”(QS. Ali Imran : 185),  maka kini tinggallah bagaimana cara kita untuk menghadapinya.

Tiap orang mesti sadar, bahwa ia akan mati. Itu sudah satu kepastian. Kapan, dimana, dan bagaimana hanyalah persoalan waktu, tempat dan cara. Masalahnya  adalah bahwa setiap kita tidak ada yang tahu kapan kita akan menghadapi kematian. Dimana maut akan menjemput kita, dan bagaimana kita mati. Itu sebabnya, karena kita tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana kita mati, maka kita harus senantiasa siap untuk itu, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun. Ini kesadaran pertama.

Sesungguhnya, kesadaran ini saja cukup untuk membuat seorang muslim senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah swt. Bila ia sadar bahwa ia akan mati namun tidak tahu kapan dan dimana maut menjemput, maka tentu ia akan berusaha tetap dalam kondisi taqwa, sehingga tatkala ajal datang ia akan termasuk orang yang cerita hidupnya di dunia tamat dengan happy ending (khusnul khatimah );

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (QS. Ali Imran : 102).

Muslim artinya berserah diri kepada Allah, maka jika seseorang mati ketika ia bergantung atau berserah diri kepada selain Allah, dapatkah ia disebut muslim?

Kesadaran kedua adalah menyangkut keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Sebagai seorang mu’min, kita tidak akan beriman secara benar dan lengkap jika tidak memiliki keyakinan bahwa hari akhir, hari kiamat akan tiba dan tiap-tiap diri akan menerima akibat dari semua amal perbuatannya di dunia pada hari pembalasan. Orang mukmin yang shaleh akan mendapat keni’matan surga, orang mukmin yang kurang shaleh akan terlebih dahulu lama mendapat siksa neraka, dan orang-orang yang terjerumus dalam kekafiran akan kekal di dalam pedihnya adzab dan siksa neraka.

“…Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(QS. Ali Imran : 185)

Keyakinan tentang adanya akhirat ini mestinya menambah semangat seorang muslim untuk terus-menerus meningkatkan kadar keimanan dan etos kerja/amal shalehnya. Jika seorang mukmin tidak memiliki keyakinan adanya akhirat dan hari pembalasan, rasanya amat sulit untuk meminta ia meningkatkan taqwanya. Kesadaran seseorang akan tibanya hari pembalasan akan memacunya untuk selalu berusaha sekuat daya menegakkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan.

Indahnya Mati Syahid

Kesadaran tertinggi menyangkut kematian adalah keyakinan bahwa cara mati yang paling indah dan prospeknya bagus di akhirat adalah mati syahid, meskipun tubuh mungkin hancur berderai dan tak dapat dikenal lagi sebagai konsekuensinya.

Kesadaran macam inilah yang memicu semangat para martir Bom Syahid untuk tanpa ragu menjalani perjuangan membela Islam melawan Zionis Israel dan para sponsornya dengan resiko kematian yang pasti, namun juga dengan imbalan yang pasti pula yaitu surga jannatun na’im dan ia akan kekal di sisi Allah SWT.;

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki”. (QS. Ali Imran : 169).

Bagi kita di Indonesia, tidak perlu khawatir tidak dapat kesempatan mati syahid, mengingat bahwa orang yang mati syahid adalah orang yang berjihad fii sabiilillaah. Dan seperti sering kita bahas, bahwa jihad itu tidak melulu dengan menjadi satria di medan perang, cukup dengan sungguh-sungguh mengerahkan segenap potensi yang dimiliki untuk mencapai suatu tujuan dalam rangka menegakkan dien al-Islam.

Jika tiga kesadaran tentang kematian ini dapat menyatu dalam diri kita ; kesadaran bahwa tiap yang berjiwa pasti mati, kesadaran adanya kehidupan setelah kematian untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di dunia, dan kesadaran serta keyakinan bahwa mati syahid adalah cara kematian yang paling tinggi nilainya. Maka tentu kita tidak akan lagi takut mati, yang kata Rasulullah SAW. merupakan salah satu faktor kemunduran umat Islam, disamping hubbuddunya/cinta dunia. Sebaliknya kita akan menjemput kematian dengan bekal taqwa yang selalu siap dan pada akhirnya kita akan mencintai kematian sebagai suatu jalan untuk mendapat ridha Allah SWT.

Wallahu’a'lam.

Jakarta, Desember 2005

Ahmad Sopiani