Yang Layak Diperjuangkan

October 25, 2009 by sopian73

“Mereka terus bergerak maju tanpa kenal menyerah karena mereka memiliki keyakinan”.

“Apa yang mereka yakini”

“Mereka yakin ada kebaikan yang masih tersisa, dan itu layak diperjuangkan”.

(Samwise Gamgee & Frodo Baggins ; LOTR2; The Two Tower)

Kebaikan itu memang masih ada, dapat kita jumpai dalam geliat kehidupan sehari-hari, jadi ya, hidup ini masih layak diperjuangkan. Bukan sekadar hidup  bernafas dan beranak pinak, namun hidup yang bermakna. Hidup yang berguna, paling tidak hidup yang tidak membuat orang lain menjadi susah. Tidak menjadi beban orang lain dan mampu untuk, kalau bisa, membuat hidup orang lain menjadi lebih mudah.

Caranya bagaimana?

Mana saya taaau.. memangnya saya mama Loreng yang bisa “katanya” membantu “mengubah hidup anda”. caranya cari tahu saja masing-masing…

Dunia Penuh Gempa

October 1, 2009 by sopian73

Assalamu’alaikum wr.wb.

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi roojiuun…

Turut berduka yang sedalam-dalamnya untuk para korban bencana alam gempa bumi di Jawa Barat, Sumatera Barat dan Jambi.

Semoga Allah memberikan ketabahan hati untuk para korban dan memberi ganti yang lebih baik untuk harta mereka yang hancur dan memberikan tempat yang layak di sisiNya untuk keluarga yang meninggal dunia.

Tabahlah kawan… Allah tidak akan melupakanmu…

Jurus Gerak Kilat

September 24, 2009 by sopian73

38. Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

39. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

(Q.S. An-Naml : 38-40)

 

Orangpun datang dan akan kembali

Kehidupan kan jadi satu

Di kehidupan yang kedua

Akan menjadi lebih indah

 

Siapakah yang dapat melaksanakan

Sekarang berusaha mewujudkannya

 

Cahaya cinta perlahan menyilaukan

Itulah mimpi kehidupan kedua

Mimpi itu dari mana datangnya

 

Jawabnya ada di ujung langit

Kita kesana dengan seorang anak

Anak yang tangkas dan juga pemberani

 

Bertarunglah Dragon Ball

Dengan segala kemampuan yang ada

Bila kembali dari langit

Semoga hidup kan jadi lebih baik

 

Tugas yang berat dilaksanakan

Berjuang agar lebih baik

Siapa yang dapat melaksanakannya

Dan berusaha mewujudkan

Semua ini demi hidup yang baik

Hanya dia yang mampu melaksankannya.

 

(Dragon Ball Theme song-Indosiar)

 

Hidup adalah gerak, gerak adalah hidup, meski tidak semua yang bergerak adalah makhluk hidup, meski tidak semua makhluk hidup bisa bergerak. Hidup dan gerak seringkali disatukan dalam satu frase “gerak hidup” untuk menunjukkan saling keterkaitan yang erat antara keduanya.

Saya agak sulit memahami gerak ini, bukan karena saya bukan ahli fisika, bukan pula karena saya tidak bisa bergerak, tetapi ada demikian banyak gerak yang sepertinya mirip dalam hal berpindah dari satu titik ke titik lain, namun memiliki demikian banyak ragam dan variasi yang mencengangkan… seperti tercengangnya para penelusur jejak kehidupan melihat teramat banyaknya gerak kehidupan yang tiba-tiba meruyak pada era Kambrium, yang dikenal dengan “Ledakan Kambria”.

Contahlah gerak sel sperma yang tumpah di tuba fallopi, gerakannya gesit, cepat, dan pasti menuju satu titik dimana sel telur berada. Kalau dalam perjalanan banyak yang tidak tahan dan mati, itu adalah resiko perjuangan. Padahal sel sperma belum punya pikiran ataupun hasrat yang menuntunnya pada tugas membuahi sel telur. Gerak sel sperma sepertinya telah diatur demikian sejak design dan prototype pertamanya diciptakan. Gerak yang luar biasa mencengangkan mulai dari kecepatan, ketepatan sampai pada sisi aerodinamikanya, tanpa sel sperma tersebut tahu ia telah terikat pernikahan atau tidak. Pokoknya kalau sudah diluncurkan, lansung tancap gas saja menuju sasaran dengan kecepatan maksimal.

Contoh gerak yang lain adalah gerak gigitan semut Dacetine atau Semut Pemburu. Luar biasa hebat. Kecepatan kedipan mata kita sangat lambat jika dibandingkan dengan kecepatan gigitan semut ini ketika menjebak mangsanya. Kelopak mata kita membuka dan menutup dalam sepertiga detik; rahang semut Odontomachus bawi bekerja 100 kali lebih cepat. Gigitan tercepat yang teramati memakan waktu 0,33 milidetik (Harun Yahya, Keajaiban Semut).

                Tadinya saya pikir akan mudah saja menulis tentag gerak ini, tetapi setelah dilakoni, kenyataannya malah lebih banyak diam tak bergerak karena tidak terpikir apa yang akan membuat jari-jari ini bergerak mengetik. Bahkan bagaimana jari-jari bergerak dengan pas menurut keinginan hati (atau otak?) di atas tuts-tuts kibot pun tidak terpikir bagaimana prosesnya. Ternyata diri ini bodoh sekali, bahkan memahami gerakan tubuh sendiri pun tidak bisa.

                Kalau begini caranya, bagaimana bisa memahami bahwa ketika kita berjalan, bukan tubuh kita yang berpindah tempat, melainkan bumi di bawah kita yang kita pijaklah yang berpindah… Kalau begini caranya, bagaimana bisa memahami mengapa seekor bebek menyeberang jalan… padahal kata Jupe, bebek itu menyeberang jalan karena ada sang jantan di seberang sana…uuhh..tambah kacau…

                Intinya begini,… berdasarkan ayat 39 dan 40 Surat An-Naml yang saya kutip di atas, akhirnya saya yakin bahwa dalam kehidupan dunia yang dilingkupi ruang dan waktu ini, pada orang tertentu dan pada kondisi tertentu, ruang dan waktu itu dapat ditembus dan dimanipulir sedemikian rupa sehingga orang tersebut dapat terbebas dari kungkungan ruang dan waktu untuk melalukan sesuatu lalu ketika selesai kembali lagi ke lingkup ruang waktu tersebut. Jadi dari sisi manusia yang melakukannya, bisa jadi hal tersebut memerlukan waktu yang lama, namun dari sisi manusia yang menyaksikan disekitarnya hal tersebut hanya beberapa detik atau beberapa saat saja, bahkan tidak sampai sekedipan mata. Atau bisa pula sebaliknya, si pelaku merasa sebentar saja, sehari atau setengah hari, tetapi sesungguhnya itu berdurasi ratusan tahun (Check; Al-Baqarah : 259, Al-Kahfi : 19 & 25).

                Dengan keyakinan bahwa menembus ruang dan waktu adalah hal yang bisa terjadi, maka saya dapat memahami dan meyakini bahwa perjalanan Isra dan Mi’raj Rasulullah SAW dilakukan dengan jasad dan ruh beliau sekaligus, bukan hanya sekedar mimpi yang benar atau sekedar ruhnya saja. Masih mendingan Rasulullah yang tidak membawa benda apapun yang jadi beban ketika pulang, di banding anak buah Nabi Sulaiman as. yang pulangnya sambil memanggul Kursi Besar punya Ratu Bilqis. Tambahan lagi, tak mungkin hanya Abu Bakr yang mendapat gelar As-Shiddiq kalau hanya mempercayai mimpi Rasulullah.

                Yang menjadi pertanyaan saya kemudian adalah, dapatkan kondisi menembus ruang dan waktu itu dihadirkan kembali dengan mempelajarinya? Dapatkah kita, zaman sekarang ini bergerak dan berpindah, misalnya, dari Bekasi ke Bandung lalu kembali lagi ke Bekasi dalam hitungan nol koma sekian detik sambil bawa Peuyeum sebagai bukti baru balik dari Bandung? Atau dapatkah kita kembali ke seratus tahun lalu dan kembali ke mas kini tanpa menjadi tua? Dapatkah?

Memangnya, kalau bisa menembus ruang dan waktu mau ngapain?

                Hehehe… mau apa ya… supaya kalau punya mertua delapan gampang ngaturnya? Ah… gak juga, bukan itu.. Atau supaya bisa ngangkut emas di Port Knox ke Cibitung…? gak juga deh… atau supaya bisa ngacak-ngacak kekuasaan ratu beatrix dan ratu elisabeth…? bukan juga… paling-paling juga ingin kembali ke lima belas atau duapuluh tahun lalu, mengunjungi diriku sendiri, lalu aku tendang-tendangin dan gaplokin diriku di masa lalu itu supaya aktipitasnya tidak hanya tidur dan main-main saja…supaya dia banyak ibadah, kerja keras, belajar dengan tekun dan giat, banyak membaca dan menghapal Al-Quran dan berhenti dari segala macam kedunguan… hehehe…

                Sebenarnya sudah ada satu tokoh yang bisa melakukan itu di masa kini, dia bisa menembus ruang dan waktu dan bisa bergerak dengan kecepatan yang extraordinary sehingga bisa berpindah tempat bahkan berpindah antar planet dan antar galaksi hanya dalam hitungan kejapan mata, bahkan bisa sambil membawa barang atau orang lain bersamanya. Dia bisa melakukan itu karena mempelajarinya dengan tekun. Bahkan ilmu itu dia beri nama; Jurus Gerak Kilat. Dia adalah Son Go Ku, tokoh utama film animasi Dragon Ball yang theme songnya saya kutip di atas.

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.

Jadi, ilmu menembus ruang dan waktu dalam sekejap mata Insya Allah dapat dipelajari dan diaplikasikan jika kondisi yang sesuai dapat dihadirkan kembali dalam kehidupan kekinian. Orang dulu, zaman Nabi Sulaiman, yang belum ada teori quantum saja bisa, mengapa sekarang tidak?  Dan sekejap mata ya, bukan hanya mempersingkat waktu tempuh Bekasi-Bandung dari 4 jam menjadi 2 jam. Kalau mempersingkat waktu tempuh dari 4 jam menjadi 2 jam sih, PT. Jasa Marga juga bisa….

 

Bekasi, 24 September 2009/5 Syawwal 1430H.

Ahmad Sopiani

Back To Nature !

July 25, 2009 by sopian73

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. Q.S. Al-Mulk[67] : 15

Aku dan kawan-kawan Adventure Committee tengah fokus untuk mempersiapkan “R&D Media Tour 2009; Back to Nature” untuk Sabtu dan Ahad mendatang, 1~2 Agustus 2009 di Ranca Upas, Ciwidey, Bandung.Kami akan menikmati pemandangan di Kawah Putih, main air di Situ Patengan, Berkemah di Ranca Upas, Tracking di Leuweung Tengah, dan memetik Stroberi.

Ada kesibukan, ada kekhawatiran, ada harapan. Sibuk mempersiapkan segala hal, karena kami akan membawa lebih dari 160 jiwa dalam 4 Bis Besar. Ada kekhawatiran tentang kendala-kendala yang mungkin muncul, namun kami selalu berharap mendapat dukungan yang maksimal dari kawan-kawan Adventure Committee dan rekan-rekan peserta, dan berharap Allah akan melindungi kami sebelum, selama dan sesudah acara ini.

Bumi Allah demikian indah dan luas. terhampar sebagai ayat-ayat kauniyyah yang setiap saat dapat “dibaca” dan dimaknai. Aku berharap ”R&D Media Tour 2009; Back to Nature” ini dapat membawa kami kepada sebuah kesadaran bahwa kami ini kecil tak berarti di hadapan kuasa dan kebesaran Allah SWT.

Secara tour, kami juga berharap dapat memberikan kebahagiaan dan kegembiraan kepada semua peserta dan keluarganya, sehingga bisa mempererat rasa saling asih, asah dan asuh di keluarga besar R&D Media LG Electronics Indonesia. Juga agar dapat menguatkan motivasi untuk bekerja lebih cerdas, lebih giat dan lebih produktif untuk kelangsungan perusahaan tempat kami bekerja. Bagaimanapun juga, Allah telah memberikan rizkiNya pada kami melalui LG Electronics ini. Semoga LG Electronics Indonesia tetap eksis, jaya, maju, terdepan, profitable, dan menjadi jalan kesejahteraan bagi para pekerja, supplier, bos-bos, lingkungan sekitar, dan bagi Indonesia. Dan semoga orang-orang Koreanya masuk Islam semua.. :-)

Ciwidey…kami datang…!!

Like or Dislike

June 19, 2009 by sopian73

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)


Saya ingin mengajak anda untuk menyimak sebuah kisah yang sering diceritakan kembali, untuk mengingatkan kita akan pentingnya sifat syukur dan qana’ah dengan apa yang telah kita nikmati dan tentang bagaimana semestinya kita bersikap mengenai hal-hal yang mungkin tidak kita sukai.

Alkisah seorang Tukang Batu. Dahulu kala, di masa hati manusia relatif masih bersih, tatkala kehidupan manusia belum “semeriah” saat ini, hiduplah seorang Tukang Batu. Setiap hari selepas subuh, ia berangkat menuju sungai di kaki gunung. Dengan peralatan yang amat sederhana, ia mulai bekerja menghancurkan batu-batu gunung yang besar-besar, menjadi serpihan-serpihan sebesar kepala manusia atau lebih kecil lagi. Tanpa kenal lelah ia terus menekuni pekerjaannya hingga ketika bayangan kepalanya tepat ada di kakinya, ia memandang ke langit, menghirup nafas dalam-dalam dan meletakkan peralatannya. Ia kepal-kepalkan jari-jari tangannya yang kaku, sambil melirik hasil kerjanya. Lumayan banyak. Ia duduk di atas sebuah batu yang cukup besar dan datar, mencuci tangan dengan air sungai yang ada di bawah kakinya, lalu mulai membuka dan melahap bekal ala kadarnya yang ia bawa dari rumah tadi pagi.

Jika hasilnya sudah cukup banyak, biasanya akan ada orang yang akan datang untuk membelinya atau menukarnya dengan sesuatu sesuai kesepakatan mereka. Demikian ia menjalani profesinya itu dari hari kehari, dan mencukupkan hidupnya dengan hasil yang didapatkannya itu, hingga suatu hari……

Ia berpapasan dengan sebuah rombongan saudagar. Saudagar itu terlihat sangat hebat. Pakaian yang dikenakannya sangat bagus, dagangannya banyak diangkut dengan pedati-pedati besar, yang ditarik kuda-kuda pilihan. Pengawalnya berbadan tegap segi empat dan pelayannya banyak dan cekatan.

Sang Tukang Batu pun bertanya kiri – kanan tentang hal ihwal si saudagar, hingga iapun kemudian berkesimpulan bahwa saudagar itu lebih, bahkan jauh lebih hebat darinya. Dan dari kesimpulannya itu iapun melihat dirinya, terasa kecil. Iapun akhirnya menetapkan hati bahwa ia tidak ingin lagi menjadi Tukang Batu. Ia ingin menjadi saudagar yang hebat itu. Lebih hebat dari tukang batu.

Kun. Jadilah ia seorang saudagar. Ia berkeliling negeri membawa dan menjual komoditinya. Makin hari keuntungan yang diperolehnya semakin besar. Para pengawalnya siap melindunginya dari berbagai ancaman bahaya yang datang dari orang-orang yang ingin senang di atas penderitaan orang lain. Para pelayannya senantiasa bekerja dengan giat dan setia. Orang-orang yang bersua dan berpapasan dengannya membungkuk tanda hormat dan segan kepadanya. Hebat. “Kini aku lebih hebat daripada aku yang dahulu” pikirnya. Dan ia pun berpikir bahwa ialah orang paling hebat di dunia ini……… sampai kemudian……

Di suatu hari yang cerah, tatkala ia tengah menikmati hasil jerih payahnya, datanglah sepasukan tentara kerajaan mengawal seorang utusan raja untuk memungut pajak darinya. Utusan raja itu membacakan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang yang harus dibayarnya sebagai kewajibannya kepada raja yang telah memberinya keleluasaan untuk berbisnis di wilayah itu. Jumlahnya sangat besar bahkan untuk ukuran seorang saudagar kaya seperti dia. Jika ia menolak membayar, maka harta kekayaannya akan disita. Para pengawalnyapun tidak berdaya untuk melawan pasukan kerajaan yang jumlahnya lebih banyak, lebih sakti dan lebih lengkap persenjataannya. Maka dengan berat hati iapun membayar tagihan pajaknya tanpa perlu mengisi Surat Setoran Pajak.

Sepeninggal utusan raja penagih pajak dan pasukan kerajaan yang mengawalnya, sang saudagar termenung…. Ternyata  ada yang lebih hebat dariku….. selama ini aku pikir akulah yang paling hebat karena dengan uangku, aku bisa mendapat apapun yang aku mau, tetapi ternyata aku tidak berdaya berhadapan dengan tukang pajak yang membawa pasukan itu… Pastilah raja yang mengutusnya lebih hebat lagi…. Kalu demikian, alangkah hebatnya jika aku bisa menjadi raja. Tidak perlu kerja keras, cukup mengutus orang untuk datang memungut pajak, dan kekayaanpun mengalir  ke pundi-pundinya…. Ah, seandainya aku bisa menjadi raja……

Kun. Jadilah ia seorang raja. Caranya, katakan saja ia memenangkan sayembara untuk membuat putri raja bisa tertawa, terus jadi menantu raja, terus raja lama mati, terus ia jadi raja menggantikan raja lama karena raja lama hanya punya seorang puteri yang ia kawini itu, dan hukum di negeri itu tidak memungkinkan seorang putri untuk menjadi raja. Anggaplah begitu.

Ia memerintah di kerajaannya dengan bangga, gagah dan otoriter. Semua titah raja adalah hukum. Ia menerapkan pajak yang tinggi kepada rakyat. Ia berlaku seperti tuhan untuk menentukan seseorang boleh terus hidup dan yang lain cukup lama untuk tetap hidup. Ia menentukan benar atau salah menurut apa yang ia kehendaki benar atau salah. Kekuasaannya semakin lama semakin luas dan besar, meliputi hampir seperempat daratan yang ada di bumi. Kini ia merasa yakin, bahwa dialah satu-satunya yang paling hebat di dunia ini….. hingga…

Musim kemarau berkepanjangan tiba…. Matahari bersinar dengan tanpa henti memancarkan panas yang tak terhingga. Pohon-pohon mengering dan mati. Hewan-hewan merana dan menjemput ajalnya. Tanah menjadi kering, retak dan membumbungkan lapisan debu ke udara. Bahkan di kala malam pun rasanya panas sinar matahari tetap terasa. Karena kemarau yang teramat hebat ini, akhirnya kerajaannya bangkrut dan sang raja termenung seorang diri….

“Ternyata aku, raja besar ini… tak kuasa melawan terik matahari…. Aku pikir selama ini tidak ada yang lebih hebat dariku… ternyata matahari dengan sinarnya itu lebih hebat dariku… Ah… seandainya aku bisa jadi matahari…..

Kun. Jadilah ia matahari….

Dengan kekuatan sinarnya yang amat panas, ia memancarkan kehebatannya. Menghanguskan apa saja yang dilaluinya. Bukan saja bumi yang ia kuasai dengan sinarnya itu, tetapi juga planet-planet lain di tata surya kini tunduk kepadanya. Ia kini yakin bahwa ia makhluk paling hebat…sampai segumpal awan menghalangi sinarnya.

Sang matahari mengerahkan segenap energinya untuk menembus lapisan awan yang ringan melayang-layang itu. Tetapi sang awan sama sekali tidak bergeming. Sang awan tetap dalam kelembutannya yang misterius menghalangi sinar matahari menyinari bumi. Sang matahari tak berdaya lagi dan terpaksa harus mengakui kenyataan bahwa awan lebih hebat darinya… iapun ingin jadi awan.

Maka jadilah ia awan. Dengan senyum kepuasan ia melayang-layang bebas diudara menghalangi sinar matahari dengan kelembutannya. Iapun boleh bangga bahwa ia semakin lama semakin besar karena banyak awan-awan lain yang bergabung dengannya membentuk lapisan awan yang sangat besar dan tebal. Kemudian, setelah semakin besar dan menghitam, sang awan menumpahkan isi yang dikandungnya ke bumi. Ia mencurahkan dirinya menjadi air hujan yang amat lebat. Ia sirami seluruh permukaan bumi dengan segenap kekuatannya. Air hujan itu kemudian bergabung kembali dalam suatu aliran yang sangat deras, menjadi air bah. Ia hanyutkan setiap yang dilaluinya, apatah itu pohon, rumah bahkan orok yang sedang dimandikan di sisi sebuah sungai. (Sungai itu kemudian jadi sungai Bahorok ? air bah menghanyutkan orok ?). Pokoknya ia menghanyutkan apapun…. Kecuali sebuah batu gunung yang amat besar di sebuah sungai…..

Seluruh kekuatan alirannya ia hempaskan untuk menghanyutkan batu itu, tetapi sia-sia saja usahanya. Batu gunung itu bergemingpun tidak. Ia tetap nagen, ajeg dan kukuh pada posisinya. Bahkan sampai akhir tenaga yang dimiliki habis, batu gunung itu tak pernah sedikitpun terpengaaruh kekuatannya. Sang awan yang kemudian menjadi hujan dan air bah pun menyerah dan mengakui batu itu lebih hebat darinya…

Kalau begitu lebih baik aku menjadi batu gunung, karena lebih hebat dan perkasa….

Oke. Jadilah ia Batu Gunung yang besaaar. Dengan congkak ia berdiri  menantang. Tidak ada kekuatan seperti kekuatan yang ia miliki. Sinar matahari tidak memberikan pengaruh apapun padanya, malah panasnya ia serap sebagai pelengkap kehebatannya. Air bah juga tidak mampu menggeser posisinya. Akhir kata kini ia benar-benar yakin akan dirinya yang paling hebat di dunia ini….sampai kemudian datanglah seorang Tukang Batu…….

Anda lihat, betapa kenyataan menunjukkan bahwa boleh jadi kita tidak suka dengan pekerjaan kita saat ini. Tidak cukup puas dengan penghasilan kita sekarang dan benci setengah mati terhadap nasib yang menimpa kita, namun jika kita terima dengan penuh kesadaran, Allah akan menunjukkan yang terbaik untuk kita.

Saya tidak mengajak anda untuk jumud dan tidak mau berusaha untuk maju dan lebih baik, saya hanya ingin kita menyadari bahwa semua proses usaha yang kita lakukan hendaknya hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT. Sebagai penentu kebijakan akhir. Allah SWT. tahu mana yang lebih baik untuk kita. Karena …“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)

Walaupun secara khusus ayat ini berkenaan dengan kewajiban berperang di jalan Allah, namun mengingat kaidah ushulfiqh bahwa  “Al-’ibrah bi’umuumillafdzi, laa bikhusushissabab” maka potongan ayat ini dapat diterapkan dalam hal apapun menyangkut kehidupan ini..

Cerita di atas menyangkut kedudukan. Ada banyak hal lain yang juga bisa dijadikan contoh di kehidupan ini. Misalnya, ibu-ibu amat jijik dengan yang namanya cacing, namun kini sudah cukup banyak yang tahu bahwa beberapa jenis cacing merupakan campuran yang amat baik untuk kosmetika yang sangat disukai ibu-ibu. Malah yang namanya cacing kalung merupakan obat yang amat mujarab untuk sakit types atau gejala types.

Wallahu a’lam.

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Pergi Haji dengan Uang Rokok

June 19, 2009 by sopian73

“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. (Peringatan Pemerintah).

Masih hangat penyambutan jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Di desa saya ada tradisi untuk mengunjungi jamaah haji yang baru tiba, untuk mendengarkan secara langsung pengalaman mereka ketika beribadah haji, serta mengucapkan selamat datang kembali ke kampung halaman dengan tak kurang suatu apa, selain itu dapat bonus air zam-zam dan kurma. Belum pernah terdengar jamaah haji yang ceritanya seram tentang tanah suci. Semua cerita mereka membangkitkan emosi orang yang belum haji untuk bisa berangkat juga ke tanah suci, dan membangkitkan kenangan indah orang yang sudah pernah pergi haji untuk bisa kembali lagi beribadah di tanah haram. “Kapan saya bisa pergi haji…..”, demikian pikir yang berkunjung.

***

Dalam sebuah sesi ceramahnya, Aa Gym pernah secara berseloroh, tanpa kehilangan keseriusan, menghimbau agar para perokok, jika mau merokok di tempat umum, membawa plastik yang besar untuk menutup kepalanya, agar asap rokoknya  tidak terkena orang lain.

Himbauan semacam itu mungkin seperti bercanda dan  dianggap angin lalu bagi sebagian orang, namun bagi saya pribadi, apa yang dikatakan Aa Gym itu amat sangat sarat makna, karena rokok dan perokok merepresentasikan banyak hal dalam Islam. Entah itu yang disebutkan dalam Al-Quran ataupun banyak hal yang disebutkan dalam Sunnah.

Hampir seluruh kasus kecanduan rokok adalah “penyakit keturunan”. Seperti layaknya penyakit keturunan, adakalanya orang tua tidak menurunkan penyakitnya kepada anaknya, namun lebih sering yang menurunkan penyalit keturunan itu kepada anaknya. Artinya dalam hal ini adalah, orang tua yang perokok tidak dapat berharap banyak anaknya tidak kecanduan rokok.

Maka setiap orang tua dan calon orang tua berkepentingan untuk ikut serta dalam kampanye anti rokok demi mempersiapkan generasi muda yang lebih sehat dan bebas mulut berbau asbak.

Kandungan Rokok

Rokok adalah satu-satunya produk di dunia yang mengandung hampir semua jenis racun dan zat kimia berbahaya. Berpuluh jenis racun dan zat kimia berbahaya ada dalam rokok, semisal ; Carbon Monooxida, Carbon Dioxida, Timbal, Arsenik, Nicotine, Tar, dlsbg.

Kalau anda ingin keterangan yang lengkap tentang rokok, datanglah ke Palang Merah Indonesia, Puskesmas, Rumah Sakit dan banyak tempat lagi yang akan memberikan keterangan dengan cuma-cuma.

Dengan demikian banyaknya kandungan zat berbahaya dalam rokok, maka saya pikir tidak terlalu salah bila ayat 6 Surat At-Tahriem dalam Al-Quran ; “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…, juga ditujuan untuk hal yang satu ini, meskipun agak diluar konteks ayat.

Keuntungan Merokok

Saya tidak menutup mata, bahwa komoditas yang satu ini diminati banyak orang karena memberi keuntunggan bagi banyak pihak; pemerintah (cukai), masyarakat (penyerapan tenaga kerja), produsen, agen, penjual, bahkan pecandunya. Masing-masing punya sisi cerita yang berbeda dalam keterlibatannya, namun dalam lingkaran yang sama tentang air seni setan ini.

Maka agar cerita tentang rokok ini tidak terlalu tegang, saya akan mengutip tiga keuntungan merokok menurut Alm. Ayah dari isteri saya ;

1.  Rumahnya tidak akan dimasuki maling

Sebab tiap kali maling mau masuk, yang di dalam batuk, ohok..ohok… Si maling jadi mengurungkan niatnya untuk masuk, karena dia pikir yang punya rumah belum tidur. Biasanya maling menunggu yang punya rumah tidur baru masuk.

2.  Kain sarungnya selalu baru

Sebab tiap kali pakai sarung lalu merokok, bunga apinya kena kain, bolong. Kain bolong tidak sah untuk shalat, jadi beli lagi kain baru. Begitu terus. Jadi kain sarungnya baru terus.

3. Rambutnya tidak akan beruban

Soalnya, rambutnya belum beruban, ajal keburu datang. :-)

Kerugian Merokok

Masih menurut ayah mertua saya (yang ini serius);

Pertama, Dokter dan tenaga kesehatan manapun akan mengatakan bahwa rokok sangat merugikan kesehatan. Itu juga diakui pemerintah dengan kewajiban mencantumkan kalimat : “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin” di setiap bungkus rokok kepada produsennya.

Jadi bagi pecandu rokok, bersiaplah, mungkin suatu saat ia akan lebih banyak bercinta dengan rokok daripada dengan istrinya karena impotensi. Lagi pula para istri akan malas bercinta dengan suami yang mulutnya bau asbak. Begitupun sebaliknya, suami enggan dekat dengan istrinya yang ngebul terusss.

Kedua, Dari segi agama hukumnya paling tidak makruh. Makruh secara harfiah artinya dibenci. Dibenci oleh manusia dan dibenci oleh Allah. Jika satu batang rokok satu kali dibenci, maka jika sehari sepuluh batang rokok,  maka seorang perokok dibenci sepuluh kali sehari oleh Allah dan manusia. Dibenci pacar sehari satu kali saja susahnya bukan main, ini dibenci Allah sepuluh kali sehari, coba bayangkan susahnya. Itu jika hitungan perbatang. Bagaimana jika hitungannya dibenci Allah dan manusia setiap hisapan dan hembusan, hitung sendiri jumlahnya.

Kata siapa gitu, sebetulnya rokok tidak berbahaya kalau tidak ada korek apinya. :-)

Narkoba Berawal Dari Rokok

Pada banyak kasus kecanduan narkoba, terutama jenis ganja, yang saya ketahui, awalnya adalah kecanduan pada rokok. Karena ingin rokoknya lebih mantap atau alasan apapun, maka dicobalah “rokok lintingan” alias “nyimeng”. Jadi layak juga jika “GRANAT, Gerakan Nasional Anti Madat” mulai melirik jenis madat yang satu ini.

Bahaya Bagi Perokok Pasif

Perokok pasif adalah orang yang turut menghisap asap rokok dari orang yang merokok. Menurut para ahli kesehatan, perokok pasif menanggung bahaya yang amat lebih besar ketimbang penghisapnya. Ini berarti bahwa seorang yang menghisap rokok di dekat orang lain, maka ia telah berperan besar dalam menjerumuskan orang lain, bisa saja itu adalah keluarga terdekat yang dicintainya, ke dalam bahaya. Itu sebabnya jauh-jauh hari ketika “Rasulullah ditanya; apakah sifat seorang muslim yang paling baik, beliau menjawab: seseorang  yang menyelamatkan muslim lainnya dari lisannya dan perbuatan tangannya”. (H.R. Bukhari & Muslim, dari Abdullah bin Amr bin Ash)

Kita ta’wil-kan saja lisan sebagi penikmat rokok dan tangan yang memegangnya.

Hukum Merokok Dalam Islam

Sejak dulu hingga kini, apabila anda bertanya hukum merokok, maka anda akan mendapatkan jawaban makruh. Titik. Makruh itu jika ditinggalkan mendapat pahala, jika dilakukan tidak berdosa, tetapi dibenci.

Bagi saya sekarang rasanya itu tidak cukup. Dengan semakin banyaknya bahaya rokok yang dapat diketahui secara umum, mestinya hukum merokok ditingkatkan seiring peningkatan bahaya yang diketahui timbul darinya. Jika merokok di area publik diyakini mengancam kesehatan banyak orang, terutama perokok pasif, maka saya usulkan lewat tulisan ini agar MUI mengeluarkan fatwa haram merokok di tempat umum dan tempat tertentu, seperti di Angkot, Bis, RS, Sekolah, Kantor-kantor dsb.

***

Jika Anda setuju dengan apa yang saya tulis ini, alhamdulillah. Namun jika apa yang saya sampaikan ini tidak pembaca setujui, itu sepenuhnya hak anda yang layak saya hormati, namun paling tidak banyak orang yakin bahwa merokok termasuk tindakan tabziir, “dan janganlah bertindak mubazzir, karena sesunguhnya orang-orang yang berlaku mubazzir itu adalah saudara-saudara setan. Dan setan itu amat ingkar kepada Tuhannya.

(Q.S. Al-Israa : 26-27)

***

Kita sambung kembali ke awal tulisan. Jika Anda perokok dan dengan tulisan ini tergugah untuk berhenti, maka uang rokok Anda bisa untuk pergi haji. Begini ngitung-nya ;

Jika sehari anda habiskan sebungkus rokok, harganya katakanlah Rp. 5.000,- Jadi jika uang rokok dikumpulkan, dalam sebulan terkumpul kira-kira Rp. 150.000,- Dalam setahun terkumpul kira-kira Rp. 150.000 x 12 bulan = Rp. 1.800.000. Dalam Sepuluh tahun menjadi Rp. 18.000.000,- dan dalam 20 tahun menjadi 36.000.000,- (cukup untuk BPH, kurang-kurang dikit sih bisa cari tambahan).

Jika umur Anda sekarang 30 atau 35 tahun, maka anda bisa pergi haji dalam umur 50 atau 55 tahun. Umur 50 atau 55 adalah umur pada umumnya orang Indonesia pergi haji. Jangan bilang hal ini mustahil sebelum anda mencobanya, karena tidak ada yang mustahil jika Allah menghendaki. Jadi?? Mau pergi Haji?? Saya pribadi tidak bisa pergi haji dengan uang rokok karena saya tidak merokok.

Wallahu a’lam.

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Semangat Hijrah VS F B I

June 13, 2009 by sopian73

Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah SAW. bersabda : ”Tidak ada Hijrah selepas Fathu Makkah, yang masih ada ialah niat dan jihad. Apabila kamu diminta pergi berjihad, maka lakukanlah”.

(HR. Bukhari – Muslim).

Ketika tulisan ini sampai ke tangan pembaca, tahun baru Hijrah telah berjalan 13 hari. Maka menyambung tulisan yang lalu, saya ingin ikut berpartisipasi di sekitar wacana mengenai tahun baru Islam ini.

Penanggalan Islam dibuat bukanlah karena kebetulan, latah atau ikut-ikutan umat lain yang telah terlebih dahulu memiliki sistem penanggalan, melainkan dengan tujuan yang besar yang ingin dicapai para pencetus ide di masa Khalifah Umar Bin Khattab. Khalifah Umar Bin Khattab-lah yang membidani sistem Kalender Islam dengan momen Hijrah sebagai titik awal tahun baru. Pemilihan momen Hijrah dan bukan tanggal kelahiran Nabi sebagai tahun baru mengguratkan suatu kepastian dan keyakinan serta tekad bahwa Hijrahlah yang merupakan api semangat titik balik untuk merubah kelemahan dan ketertindasan menjadi kekuatan dan kejayaan.

Sebab, meskipun hijrah secara fisik tidak ada lagi, namun hijrah secara prinsip dapat terus hidup dan selayaknya tetap dihidupkan dalam masyarakat muslim dalam bentuk tekad dan semangat serta keikhlasan untuk berjihad dalam upaya menegakkan kalimat Allah SWT..

Mengingat Sabda Rasulullah SAW. di atas, ”Tidak ada lagi Hijrah selepas pembebasan Kota Mekkah, yang masih ada ialah niat dan jihad. Apabila kamu diminta pergi berjihad, maka lakukanlah”. Maka niat dan jihad adalah dua institusi penting yang menopang tegaknya Islam. Niat mewakili tekad dan semangat untuk mencapai suatu tujuan dan cita-cita mulia.

Segala hal baik dan utama dalam Islam mestilah diawali dengan niat yang benar pula. Niat yang baik dan benar akan melahirkan semangat dalam merengkuh segala yang diniatkan. Ia adalah tekad yang kokoh yang menjadi landasan dari segala aktivitas seorang muslim. Setelah tekadnya kokoh, barulah kemudian ia mengerahkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menggapai tujuan mulia tersebut dalam kerangka jihaad fii sabiilillaah.

Niat bukanlah sekedar bisikan hati yang kosong dari upaya dan usaha. Sebab menurut pengertiannya dalam bahasa arab, niat tidaklah dikatakan niat, kehendak ataupun keinginan jika tidak diiringi upaya nyata untuk terwujudnya niat tersebut.

Itu sebabnya Rasulullah SAW. mensejajarkan niat dan jihad dalam satu kesatuan yang utuh yang satu sama lain tidak layak dipisahkan, dalam wacana hijrah sekalipun.

Hijrah kini bermakna jauh lebih  luas dibanding ketika dahulu Rasulullah SAW dan para sahabatnya hijrah ke Yatsrib (Madinah)

Hijrah kini bisa berbentuk apapun dalam upaya penegakan dien Allah bagi tiap-tiap muslim. Ia dapat berbentuk peninggalan terhadap kungkungan kebodohan dengan terus belajar tanpa henti, bisa berwujud upaya dan kerja halal untuk mengeliminir kefakiran dan kemiskinan, ia dapat berupa kesungguhan untuk meninggalkan pola hidup yang tidak Islami dan terutama Hijrah dari akhlaq yang buruk dan jahat menuju akhlaq agung, akhlaqulkarimah, yang dicontohkan Rasulullah SAW. serta Hijrah meninggalkan segala macam bentuk kekafiran dan kemusyrikan menuju tauhid yang murni kepada Allah SWT.

Maka hijrah masa kini kemudian memerlukan dua hal pokok yang disebutkan Rasulullah SAW. : yaitu niat dan tekad yang diikuti semangat yang membara dalam upaya pencapaiannya, dan kedua, jihad dan kesungguhan untuk melaksanakan semua prosedur dan tindakan yang diperlukan.

Jihad di sini, tidaklah melulu mengangkat senjata melawan musuh di medan tempur, seperti yang diuraikan dalam MADANI edisi 188 bahwa jihad adalah ”pengerahan segenap kemampuan seorang mukmin dengan segala kesulitan dan pengorbanan dengan menghadapi berbagai ujian untuk mencapai tujuan dengan semata-mata karena Allah SWT.”.

Jihad dalam rangka hijrah, yang ditopang niat dan semangat untuk mewujudkannya telah merupakan dua hal yang tidak dapat ditawar lagi. Kesungguhan secara maksimal untuk meninggalkan segala bentuk kekafiran dan kebejatan moral menjadi suatu keniscayaan.

Di Amerika Serikat, semangat hijrah dan jihad di jalan Allah akan merupakan suatu tindakan yang melahirkan pertanyaan dan interogasi dari FBI (Federal Bureau Investigation/Biro Penyelidik Federal). Tidak mengapa, karena itu adalah resiko dari sebuah perjuangan menuju yang lebih baik, seperti dahulu Rasulullah SAW. dihadapkan pada penentangan kafir Quraisy dan sekutunya.

Di Indonesia, semangat hijrah untuk bersungguh-sungguh meninggalkan segala macam maksiat dan dekadensi moral juga harus berhadapan dengan FBI (Fans Berat Inul). Bahkan pada kenyataannya kemudian, suara para pembela (maaf) bokong terdengar jauh lebih keras dari pada pendukung kehormatan wanita.

***

Hijrah Menuju Keutamaan Akhlaq

Seperti banyak dikatakan para da’i, bahwa krisis morallah yang meluluhlantakkan bangsa ini, maka dalam lebarnya jarak antara harapan dan kenyataan saya mengingatkan kembali kepada kita, bahwa keutamaan akhlaq lah yang menjadi tujuan utama kerasulan Muhammad SAW., seperti sabda beliau: ”Sesungguhnya aku dibangkitakan untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia”.

Seperti apakah akhlaq yang mulia itu ? Jawabannya ada dalam perilaku Rasulullah SAW.. Bahkan Allah SWT. sendiri yang yang menegaskan bahwa contoh akhlaq dan perilaku hidup yang benar yang kita harus hijrah ke arah itu ada pada Rasulullah SAW..

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”. (QS. Al-Ahzab : 21)

”Dan, sesungguhnya kamu (hai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam : 4)

Keutamaan Rasulullah juga banyak diakui para pencari kebenaran non muslim, yang banyak dikutip oleh Ahmed Deedat, dalam bukunya The Choice atau Muhammad the Greatest, seperti Thomas Carlyle, Lamartine, Jules Masserman atau Michael H. Hart.

Karena itu maka hijrah harus dimulai dari diri-diri pribadi muslim menuju keutamaan akhlaq, yang merupakan kunci bahagia bagi pemecahan berbagai persoalan besar di sekitar kita.

Dan pada akhirnya, hijrah terbesar adalah semangat dalam niat dan kesungguhan dalam tekad dan upaya  untuk menegakkan kalimat Tauhid, seperti perkataan Nabi Ibrahim a.s. yang direkam Al-Quran :

”Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : ”Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS. Mumtahanah : 4)

Nabi Ibrahim a.s. telah menghadapi dan menjalani resiko dalam niat dan jihad. Nabi Muhammad SAW. telah menghadapi dan menjalani resiko dalam niat dan jihad. Bagaimana dengan kita?  Sudahkah semangat hijrah membawa kita pada niat dan jihad untuk keluar dari ketertindasan dan perbudakan nafsu ammarah?

Wallahu a’lam

Jakarta, 2005

Ahmad Sopiani

Mencintai Kematian

June 13, 2009 by sopian73

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.

(QS. Ali Imran : 169)

Salah satu fenomena yang meresahkan Zionis Israel pada khususnya dan musuh-musuh Islam pada umumnya, yang kini telah menjadi semacam tren jihad dengan senjata adalah keberanian para pemuda Islam di Timur Tengah khususnya untuk menjemput syahid, mati di medan laga, namun dengan membawa pula lebih banyak musuh untuk ikut mati dengan meledakkan diri di tengah musuh. Media Massa sekuler biasa menyebutnya dengan “Bom Bunuh Diri”.

Fenomena “Bom Bunuh Diri” amatlah menarik. Menarik karena metode perjuangan seperti ini beresiko tertinggi, yaitu kematian dan terhitung baru, mungkin diilhami oleh para penerbang jepang di masa Perang Dunia Kedua, dengan keberanian penuh mereka ber-kamikaze menab-rakkan pesawat tempur mereka ke obyek-obyek vital musuh. Juga amat menarik karena di saat ketika demikian banyak orang amat ketakutan bila memperbincangkan atau menghadapi maut, para syuhada ”Bom Bunuh Diri” justeru menjemput maut dengan amat sukacita dan penuh kebesaran jiwa.

Namun, sesungguhnya istilah “Bom Bunuh Diri” tidaklah terlalu tepat, karena istilah ini muncul bukan dari para pelakunya. Para Pelaku “Bom Bunuh Diri” dan para pendukung jihad pada umumnya yakin bahwa yang demikian itu adalah salah satu cara perjuangan untuk menghancurkan Zionis Israel dan para kolaborator dan sponsornya, karena itu sebutannya yang lebih tepat di kalangan mereka adalah “Bom Syahid”. Artinya dengan cara itu mereka yakin bahwa mereka mati dalam upaya Jihaad Fii Sabiilillaah, memerangi musuh Allah yang menindas dan memerangi kaum muslimin. Maka jika ajal menjemput, mereka Mati Syahid. Juga karena istilah Bom Bunuh Diri mengesankan bahwa mereka membunuh diri sendiri dan muslim manapun semestinya mafhum bahwa bunuh diri adalah perbuatan haram yang dilarang dengan tegas dalam  Al-Quran;

“Dan janganlah kamu bunuh dirimu, sesungguhnya Allah amat sayang kepadamu”.( QS An-Nisaa : 29)

Tentang Kematian

Kematian adalah sunnatullah yang merefleksikan kenyataan bahwa sebagai makhluk, kita tidak bisa sama dengan Pencipta. Adanya kematian disatu sisi mencerminkan adanya kehidupan di sisi lain. Ketika kita menyadari bahwa setiap makhluk pada akhirnya akan mati, haruslah disadari pula bahwa ada dzat yang maha hidup yang tidak akan pernah mati yang terus memberi kehidupan, yaitu Allah swt. Karena adanya kematian sudah merupakan ketetapan dari Allah swt. Dan kita tidak dapat menolaknya. “Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati…”(QS. Ali Imran : 185),  maka kini tinggallah bagaimana cara kita untuk menghadapinya.

Tiap orang mesti sadar, bahwa ia akan mati. Itu sudah satu kepastian. Kapan, dimana, dan bagaimana hanyalah persoalan waktu, tempat dan cara. Masalahnya  adalah bahwa setiap kita tidak ada yang tahu kapan kita akan menghadapi kematian. Dimana maut akan menjemput kita, dan bagaimana kita mati. Itu sebabnya, karena kita tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana kita mati, maka kita harus senantiasa siap untuk itu, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun. Ini kesadaran pertama.

Sesungguhnya, kesadaran ini saja cukup untuk membuat seorang muslim senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah swt. Bila ia sadar bahwa ia akan mati namun tidak tahu kapan dan dimana maut menjemput, maka tentu ia akan berusaha tetap dalam kondisi taqwa, sehingga tatkala ajal datang ia akan termasuk orang yang cerita hidupnya di dunia tamat dengan happy ending (khusnul khatimah );

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (QS. Ali Imran : 102).

Muslim artinya berserah diri kepada Allah, maka jika seseorang mati ketika ia bergantung atau berserah diri kepada selain Allah, dapatkah ia disebut muslim?

Kesadaran kedua adalah menyangkut keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Sebagai seorang mu’min, kita tidak akan beriman secara benar dan lengkap jika tidak memiliki keyakinan bahwa hari akhir, hari kiamat akan tiba dan tiap-tiap diri akan menerima akibat dari semua amal perbuatannya di dunia pada hari pembalasan. Orang mukmin yang shaleh akan mendapat keni’matan surga, orang mukmin yang kurang shaleh akan terlebih dahulu lama mendapat siksa neraka, dan orang-orang yang terjerumus dalam kekafiran akan kekal di dalam pedihnya adzab dan siksa neraka.

“…Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(QS. Ali Imran : 185)

Keyakinan tentang adanya akhirat ini mestinya menambah semangat seorang muslim untuk terus-menerus meningkatkan kadar keimanan dan etos kerja/amal shalehnya. Jika seorang mukmin tidak memiliki keyakinan adanya akhirat dan hari pembalasan, rasanya amat sulit untuk meminta ia meningkatkan taqwanya. Kesadaran seseorang akan tibanya hari pembalasan akan memacunya untuk selalu berusaha sekuat daya menegakkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan.

Indahnya Mati Syahid

Kesadaran tertinggi menyangkut kematian adalah keyakinan bahwa cara mati yang paling indah dan prospeknya bagus di akhirat adalah mati syahid, meskipun tubuh mungkin hancur berderai dan tak dapat dikenal lagi sebagai konsekuensinya.

Kesadaran macam inilah yang memicu semangat para martir Bom Syahid untuk tanpa ragu menjalani perjuangan membela Islam melawan Zionis Israel dan para sponsornya dengan resiko kematian yang pasti, namun juga dengan imbalan yang pasti pula yaitu surga jannatun na’im dan ia akan kekal di sisi Allah SWT.;

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki”. (QS. Ali Imran : 169).

Bagi kita di Indonesia, tidak perlu khawatir tidak dapat kesempatan mati syahid, mengingat bahwa orang yang mati syahid adalah orang yang berjihad fii sabiilillaah. Dan seperti sering kita bahas, bahwa jihad itu tidak melulu dengan menjadi satria di medan perang, cukup dengan sungguh-sungguh mengerahkan segenap potensi yang dimiliki untuk mencapai suatu tujuan dalam rangka menegakkan dien al-Islam.

Jika tiga kesadaran tentang kematian ini dapat menyatu dalam diri kita ; kesadaran bahwa tiap yang berjiwa pasti mati, kesadaran adanya kehidupan setelah kematian untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di dunia, dan kesadaran serta keyakinan bahwa mati syahid adalah cara kematian yang paling tinggi nilainya. Maka tentu kita tidak akan lagi takut mati, yang kata Rasulullah SAW. merupakan salah satu faktor kemunduran umat Islam, disamping hubbuddunya/cinta dunia. Sebaliknya kita akan menjemput kematian dengan bekal taqwa yang selalu siap dan pada akhirnya kita akan mencintai kematian sebagai suatu jalan untuk mendapat ridha Allah SWT.

Wallahu’a'lam.

Jakarta, Desember 2005

Ahmad Sopiani

REPRESENTASI SYUKUR

June 13, 2009 by sopian73

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur “(Q.S. As-Sajdah : 9)

Bahkan artis yang paling glamour pun dapat dengan mudah mengucapkan Syukur Alhamdulillah. Kendatipun ia  mengucapkan itu dengan fashion yang luar biasa minim dan dengan gaya hidup yang luar biasa western. Bagi yang nge-fans sama itu artis, ia akan tambah kagum karena artis kesayangannya tidak lupa Allah dan terkesan religius. Bagi yang mengerti ma’na Alhamdulillaah dalam kehidupan masyarakat muslim, akan mendapat kesan itu artis mencampurkan yang haq dengan yang bathil. Alhamdulillah itu haq,  sementara pakaian yang luar biasa minim adalah bathil. Cuma susahnya kesan yang terakhir ini kalau diomongin dibilang melanggar Hak Asasi Manusia alias HAM, kendati rasanya banyak juga pembela HAM sama sekali tidak mengerti Kewajiban Asasi Manusia (KAM).

Kata Alhamdulillaah adalah aktualisasi awal dari seseorang untuk menyatakan rasa syukurnya dari apa yang dianugerahkan oleh Allah atas dirinya. Dalam kasus artis tadi dapat kita pahami bahwa ia masih punya sedikit keyakinan bahwa juri terakhir untuk penghargaan yang diterimanya atau untuk segala rezeki yang dikantonginya adalah Allah SWT., terlepas dari kenyataan bahwa ia tidak sepenuhnya mema’nai kata Alhamdulillah dengan  pengertian yang utuh.

Sebagian terbesar kita mungkin baru teringat untuk mengucap Alhamdulillaah manakala datang kepada kita suatu ni’mat yang langsung terasa khasiatnya, sementara ni’mat yang inklusif ada pada kita sebagai muslim dan manusia seringkali terlupakan dan baru teringat kembali  ketika ada yang mengingatkan, dalam pengajian misalnya.

Ketika saya katakan di atas bahwa kata Alhamdulillaah adalah aktualisasi awal rasa syukur maka mestinya ada aktualisasi lain sebagai kelanjutan dari sekedar mengucap Alhamdulillaah tersebut. Kelanjutannya akan kita presentasikan dengan mengenal ma’na Alhamdulillaah secara lebih mendalam.

Kata Alhamdulillaah atau lengkapnya Alhamdulillaahi Rabbil’aalamiin, adalah ayat kedua Surat Al-Faatihah yang biasa diterjemahkan dengan : “Segala puji bagi Allah, Tuhan (rabb) semesta alam“.

***

Hamd artinya “pujian”. Sesuatu yang dipuji sehingga ia atau perbuatannya laik mendapat pujian mestilah memenuhi tiga hal; pertama, ia haruslah indah (baik), kedua, ia mesti berbuat secara sadar dan ketiga tidak terpaksa atau dipaksa. Penambahan al sebelum hamd berarti mencakup keseluruhan, bermakna segala. Al seperti ini disebut al lil-istighraaq.

Jika kita menggali Al-quran, akan kita dapati banyak ayat yang akan membawa kita pada kesimpulan bahwa Allah lah yang dengan sempurna memenuhi ketiga hal di atas;

“Dan itulah Dia Allah, Tuhan Pemeliharamu, pencipta segala sesuatu” (Ghaafir : 62).

“Dialah yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya” (As-Sajdah : 7).

“Mahasuci Allah, Dialah yang Mahaesa lagi Mahamampu (menjadi) Pemaksa Yang mengalahkan” (Az-Zumar : 4)

Karena itu maka segala perbuatan-Nya terpuji dan setiap yang terpuji merupakan perbuatan-Nya juga, sehingga “Segala puji tertuju dan hanya ditujukan pada Allah”. Alhamdu lillaah. Jika kita memuji seseorang karena kebaikannya atau kecantikannya, maka pujian itu pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah karena kebaikan dan kecantikan itu bersumber dari-Nya.

Maka tatkala mulut kita mengucap Alhamdu lillaah, semestinya hati kita turut memahatkan suatu keyakinan bahwa segala kebaikan yang kita terima pada hakikatnya adalah karunia Allah yang patut kita syukuri dengan cara mendayagunakan setiap hal yang kita terima sesuai dengan keinginan pemberinya. Ketika kita telah memiliki keyakinan bahwa segala hal yang ada pada kita adalah karunia Allah, maka semestinya kita mencari tahu apa yang diinginkan Allah untuk kita perbuat sehubungan dengan karunia-Nya itu, lalu berusaha keras untuk sejalan dengan kehendak-Nya. Dan sepantasnya kita malu jika apa yang telah diberikan Allah tidak kita gunakan sesuai tujuan yang digariskan oleh-Nya. Jika ada yang tidak mau mengikuti aturan Allah, silahkan, tetapi tolong jangan melakukan itu di bumi milik-Nya.

***

Kata Rabb memiliki ma’na antara lain ; pemelihara, pendidik, pencipta. Pengertian demikian memposisikan Allah sebagai satu-satunya dzat yang eksistensinya amat berkaitan dengan kelangsungan hidup seluruh alam semesta dan jagat raya. Ketika kata Allah menyiratkan suatu gambaran keseluruhan sifat-sifat Tuhan dalam benak kita, baik yang berkaitan dengan dzatnya maupun dengan makhluk-makhluknya (sifat perbuatan), maka kata rabb hanya menggambarkan Tuhan dengan segala sifat-sifat-Nya yang berkaitan dengan makhluk-Nya.

Mema’nai rabb dengan pemelihara artinya kita meyakini bahwa tanpa pemeliharaan dari Allah SWT, alam semesta ini tidaklah akan seteratur seperti yang kita saksikan. Kehidupan manusia akan penuh dengan kekacauan dan huru-hara yang memporak-porandakan sendi-sendi kemanusiaan, dan tugas pemelihara ini tidak pernah dan tidak akan pernah dapat dilakukan oleh selain-Nya. Diutusnya para rasul ke tengah kehidupan manusia ini juga adalah pemeliharaan dari Allah agar manusia tidak terlalu jauh menyimpang dari koridor yang digariskan oleh-Nya, dan agar manusia tetap eksis dengan nilai kemanusiaan yang seharusnya ada dalam dirinya.

Allah mendidik manusia secara khusus dan makhluknya secara umum agar kita senantiasa dapat dapat mengaktualisasikan diri di alam ini dengan nilai-nilai kehidupan yang selaras dan seimbang serta timbulnya kesadaran kehambaan secara penuh yang akan membawa manusia kepada nilai tertinggi kemanusiaannya, yaitu kesadaran setiap individu sebagai hamba di hadapan rabb-Nya.

Allah adalah rabb sang pencipta, dan ini berarti tidak ada manusia yang dapat mengklaim dengan bangga bahwa ia telah menciptakan sesuatu tanpa merusak tauhidnya. Setiap manusia hendaknya sadar bahwa pencipta itu hanya Allah. Apapun yang ia buat, betapapun bagusnya itu, hanya merupakan modifikasi dari apa yang telah Allah ciptakan. Dan modifikasi yang ia lakukan itupun menggunakan sarana yang bersumber dari Allah SWT. Ketika kita menggunakan anggota tubuh kita untuk membuat sesuatu, maka kita harus ingat bahwa anggota tubuh adalah karunia Allah. Tatkala kita mengerahkan daya akal kita untuk merekayasa sesuatu, maka akal yang kita gunakan itu adalah juga ciptaan Allah.

Kesadaran yang tinggi tentang ma’na rabb ini akan membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa Allah adalah satu-satunya dzat yang layak kita sembah tanpa perlu Allah repot-repot memerintahkan kita untuk menyembah-Nya. Dari sinilah akan lahir kesadaran akan adanya Tauhid Rububiyyah. Tauhid yang didasarkan pada kesadaran bahwa Allah adalah pencipta, pendidik dan pemelihara kita.

Dengan keyakinan dan kesadaran seperti itu akan timbul pula suatu kesadaran bahwa kita mesti mensyukuri demikian banyak karunia yang telah dilimpahkan Allah atas kita. Bersyukur artinya menggunakan segala sesuatu yang dianugerahkan Allah sesuai dengan tujuan penciptaan anugerah itu”. Jika demikian maka tiap-tiap diri mesti tahu dan mencari tahu untuk apa Allah menciptakan dan menganugerahkan sesuatu; untuk apa Allah menciptakan jin dan manusia; untuk apa Allah menganugerahkan mata, telinga, mulut, tubuh, akal dan hati; pencarian kesadaran seperti ini bisa dilakukan dengan menelaah dan merenungi petunjuk dari Allah yang disampaikan lewat rasulnya, dapat pula dicapai dengan perenungan yang mendalam mengenai alam ini. Alam yang makro dalam bentuk jagat raya, atau alam yang mikro dalam bentuk diri manusia.

Hasil tertinggi dari perenungan yang dilakukan akan sampai pada Tauhid Rububiyyah dan representasi pertama yang akan diaktualisasikan adalah ucapan Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Wallahu a’lam.

Jakarta, Desember 2005

Ahmad Sopiani

TATKALA KITA TERHEMPAS

June 13, 2009 by sopian73

”Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat).

Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.

Dan manusia bertanya : ”Mengapa bumi (jadi begini) ?”. (Q.S. Al-Zalzalah :1-3)

“Dan apabila lautan dijadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.

Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.”

(Q.S. Al-Infithaar : 3-5)

Ahad, 14 Dzulqa’dah 1425H, Minggu, 26 Desember 2004M, kita tiba-tiba saja terhenyak, tersentak, terhempas, terharu pilu, duka dan nestapa, bingung bertanya-tanya disusul air mata yang demikian deras mengalir dari detik ke detik. Kering sudah rasanya air mata kita menangisi tragedi yang terjadi, kepiluan yang menimpa, bencana yang melanda, sampai rasanya kita kehilangan kata-kata karena isak tangis yang kian keras. Kehilangan kata-kata karena kita tidak menemukan lagi kata-kata yang dapat menggambarkan nestapa yang mengiris-iris hati kita.

Meski yang terjadi jauh di ujung barat bumi persada tercinta, namun sebagai muslim dan manusia kita seakan ikut terhempas menyaksikan demikian banyak mayat bertaburan, sudah tak terkatakan lagi mirisnya hati dan jiwa kita, melihat demikian banyak anak-anak bergelimpangan kehilangan nyawa, apatah lagi bagi mereka yang benar-benar kehilangan anak-anak dan keluarganya hanya dalam hitungan detik. Pilu dan derita yang kita saksikan dan kita rasakan sudah amat demikian besar sehingga seluruh sisi kemanusiaan kita berguncang amat keras.

Amat sulit kita percaya, bagaimana demikian banyak peradaban, demikian banyak kota dan desa, demikian banyak jiwa-jiwa, tiba-tiba musnah, lenyap, rata dengan tanah. Hanya menyisakan onggokan puing dan mayat-mayat yang bergelimpangan dalam gelap dan kesunyian. Menyisakan tangis yang tiada henti dan duka yang kian mendalam.

Seorang kawan saya yang dari aceh, kehilangan hampir seluruh keluarganya, ia hanya bisa terdiam, menangis dan mengadu pada Allah tentang apa yang tengah terjadi. Kawan lain yang juga dari aceh bahkan belum bisa saya hubungi. Namun melihat Meulaboh, tempat kota kelahirannya yang porak poranda, hanya kuasa Allah jua lah yang dapat menyelamatkan anggota keluarganya.

Duka yang kita rasakan, tangis yang kita tumpahkan, bela sungkawa yang kita sampaikan, do’a-do’a dan harapan yang kita panjatkan, duka, derita dan nestapa yang kita saksikan dan segala macam perasaan, membalut seluruh rasa kemanusiaan kita dan rasa persaudaraan kita, kita sudah tidak dapat lagi membayangkan penderitaan saudara-saudara kita di aceh dan sumatra utara sana.

Semua orang berduka, semua orang meratapi, semua orang menangisi mayat-mayat yang berserakan. Semua orang bertanya apa dan mengapa ini terjadi? Telah terjadi ketentuan Allah atas bumi ini; ”Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.Dan manusia bertanya : ”Mengapa bumi (jadi begini) ?”. (Q.S. Al-Zalzalah :1-3) “Dan apabila lautan dijadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (Q.S. Al-Infithaar : 3-5)

Namun saudaraku, tangis kita tidak akan menghapus derita, duka kita tidak akan menghapus nestapa, pilu kita tidak akan mengubah bencana. Apa yang yang telah terjadi tidak mungkin kita hindari, kini kita menghadapi apa yang tengah terjadi dan mungkin akan terjadi jika kita hanya hanyut dalam kepedihan.

Cukup tangis itu, hapus air mata, singsingkan lengan, sisihkan rejeki yang diberikan Allah kepada kita, cepat, pasti tanpa ragu, sebesar mungkin kemampuan kita, bantu saudara-saudara kita yang dilanda bencana. Tidak ada kata cukup, tidak ada kata terlambat, saat ini juga kita turun harta, ulurkan tangan dan panjatkan do’a untuk memupuk kembali harapan bagi saudara-saudara kita yang tengah berduka, simaklah, pemulihan keadaan disana akan sangat lama dan perlu demikian banyak dana. Stop jajan kita, sumbangkan untuk mereka, stop ”dugem” kita, alihkan untuk membantu mereka. Stop segala macam potensi pemborosan kita, salurkan untuk saudara-saudara kita disana. Jangan ada kata sudah, jangan ada kata cukup, jangan berikan sisa, anggarkanlah secara serius, sesuai keadaan ekonomi kita masing-masing.

Allah Maha melihat isi hati kita dan segala amal kita. Allah-lah yang memberi kita status manusia, jika apa yang telah terjadi tidak mengusik rasa kemanusiaan kita, rasanya amat layak Allah mencabut status kita sebagai manusia.

Jangan takut sumbangsih kita tidak sampai di tujuan, jangan khawatir dana yang kita sisihkan akan disalahgunakan. Ketika kita memberikan kontribusi, titipkanlah itu kepada Allah untuk disampaikan kepada para korban bencana. Insya Allah , Dia akan menyampaikannya untuk mereka.

Apa yang kita berikan untuk para korban, adalah tabungan kita untuk masa depan. Berapapun besarnya yang kita sisihkan untuk disumbangkan, itu adalah investasi kita untuk menuai balasan yang amat besar yang Allah janjikan, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah : 261).

Menolong sesama adalah suatu kewajiban syariat yang tidak dapat kita berlepas tangan karenanya; ”…dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa…” (Q.S. Al-Maidah : 2)

Sebesar apapun yang kita berikan, Allah akan membalasnya; ”…dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”. (Q.S. An-Nisaa : 40). ”Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. (Q.S. Al-Zalzalah :7)

Jadikan petaka ini sebagai sarana jihad kita di jalan Allah, dengan mengerahkan segenap daya yang ada pada kita, saling bahu membahu mengatasi segala kesulitan dan penderitaan yang dialami para korban bencana dengan keimanan yang teguh dan niat ikhlas karena mengharap ridho Allah SWT.; Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. At-Taubah : 20).

Saudara-saudaraku, bencana ini adalah tetap sebuah musibah. Tidak perlu kita menambah penderitaan para korban dengan komentar yang menyudutkan para korban, dengan misalnya mengatakan; ”itulah akibatnya kalau orang aceh sering menjual ganja”, atau ”Ini akibat kesombongan manusia”, atau ”semua terjadi karena terlalu banyak orang yang melakukan dosa”. Itu seluruhnya tergantung pada masing-masing diri yang mengalaminya, tidak perlu kita memberi penilaian atas mereka. Bantu saja mereka, para korban bencana yang kini masih hidup dengan segenap kebersamaan kita dan segala daya yang ada pada kita, jangan sampai kita menambah jumlah yang mati akibat lambatnya uluran tangan dan bantuan dari kita saudaranya sebangsa dan seagama.

Untuk saudara-saudaraku yang tertimpa musibah, kami turut meraskan duka yang amat dalam dengan apa yang telah menimpa. Kendatipun tulisan ini tidak sampai kepada mereka, namun Allah akan menyampaikannya. Bersabarlah, pertolongan Allah pasti akan tiba; ”Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Q.S. Al-Baqarah : 155).

Wallahu a’lam.

Jakarta, Desember 2004

Ahmad Sopiani